Ichiban No Takaramono (Chapter 1)

Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto

Story By. : San Naru ©

Warning. : Gender Bend, OOC,Typo(s), No Flame,

Rated : T

Pairing : Ita(Fem)Kyuu

.

.

.

Hal yang paling berharga memang tidak akan pernah di lupakan. Sekecil apapun itu, sudah memberikan pelajaran untuk berlangsungnya kehidupan di masa depan nanti. Hal yang paling berharga tidak pernah berada jauh dari mu, cukup percaya, sesuatu yang berharga selalu berada tak jauh dari mu. Persahabatan...

Cinta...

Kasih sayang...

Penantian...

Pengorbanan..

Semua adalah hal yang paling berharga yang tak pernah ku rasakan sebelumnya..

.

.

.

.

Kyuubi Namikaze namanya, gadis berusia 16 tahun ini terlihat tidak begitu bersemangat dipagi ini, padahal hari ini adalah pertama ia bersekolah di sekolah barunya. Dia cantik, sayangnya Kyuubi jarang sekali berbicara. Kyuubi adalah seorang putri pertama dari seorang dokter umum bernama Minato Namikaze yang sudah menduda dikarenakan istrinya meninggal 6 tahun yang lalu, saat melahirkan putri bungsu mereka, yang saat ini baru duduk dikelas 1 SD.

Kyuubi hanya berharap jika disekolah barunya, ia tak lagi menjadi korban bully teman-temannya seperti saat ia bersekolah di Suna. Gadis cantik itu segera memakai kacamata ber-frame tebal miliknya. Wajahnya yang cantik tertutup sudah dengan gaya kutu buku yang terkesan nerd itu. Tetapi gadis seperti Kyuubi tetap cuek saja dan masa bodo dengan style nya itu.

Menjadi orang cantik itu merepotkan, begitulah pikirnya. Kyuubi memang bukan tipe gadis yang suka membuat dirinya kerepotan dengan gaya ataupun fashion para gadis-gadis remaja sebayanya yang notabene mengikuti perkembangan zaman. Lihat! Kyuubi cantik kini menjelma bak seorang kutu buku yang sering terlihat di perpustakaan.

Setelah yakin tak ada lagi barang yang tertinggal, Kyuubi langsung bergegas turun ke bawah (kama Kyuubi memang berada di lantai atas) menemui sang ayah yang sudah siap dengan mobilnya. Kyuubi memang sering diantar-jemput oleh Minato. Selaku seorang ayah yang begitu complex pada kedua putrinya, Minato memang selalu menyempatkan diri untuk mengantar bahkan menjemput Kyuubi dan juga putri bungsunya, Naruto.

"Sudah yakin tak ada yang tertinggal lagi, Kyuu-chan?" Tanya Minato. "Ya" jawab Kyuubi singkat. Minato tersenyum dan menoleh ke jok belakang, dimana Naruto tengah menikmati roti rasa ramen kesukaannya. "Sudah siap, Naru-chan?" Minato bertanya pada si bungsu. Naruto mengangguk pelan dan masih terfokuskan dengan roti miliknya.

.

.

.

.

*SkipTime*

Kyuubi memandang ragu sang ayah saat mereka sudah berada di depan gerbang sebuah sekolah menengah atas yang memiliki kwalitas yang cukup bagus di kota Konoha. Baru kali ini Kyuubi merasakan takut bercampur grogi yang teramat sangat. Mengerti dengan tatapan putri sulungnya, Minato mengangguk pelan berusaha memberikan semangat untuk Kyuubi.

Baru saja hendak melangkahkan kakinya memasuki gerbang, tiba-tiba saja Kyuubi menahan pergelangan tangan ayahnya. Ketakutan tampak jelas di kedua iris rubby miliknya. Lembut, Minato mengusap pelan surai merah yang diikat dua milik Kyuubi. "Jangan takut! Kau pasti bisa memiliki teman" Minato menyemangati putri pertamanya.

Takut-takut, akhirnya Kyuubi berjalan disamping sang ayah. Banyak yang memperhatikan dirinya saat sedang berjalan menuju kantor kepala sekolah. Kyuubi menunduk dalam saat ia bertemu pandang dengan seorang gadis bersurai blonde yang memiliki kulit putih susu dan mata biru sebiru lautan.

"Apa yang kau lihat, Dei-chan?" Tanya seorang gadis bersurai merah jambu kepada sang gadis blonde. "Dia anak baru ya? Sebenarnya dia cantik, hanya saja dia pemalu, un" Kata gadis bersurai blonde. Kyuubi yakin, Deidara memuji dirinya. 'Gadis secantik itu memuji ku? Aku tidak mimpi kan' batin Kyuubi. Sulung Namikaze itu terus berjalan disamping ayahnya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah gadis itu benar memuji dirinya? Atau malah ia salah dengar? Pasalnya, ini kali pertama untuk Kyuubi mendapatkan pujian dari orang lain yang bukan keluarganya.

« San Naru »

.

.

"Perkenalkan diri mu, Namikaze-san" Seru seorang guru berwajah ramah dengan goresan tepat di hidungnya, Pria bernama lengkap Umino Iruka itulah wali kelasnya. Guru yang terlihat ramah itu mengulas senyum pada Kyuubi. Sepertinya, Iruka tahu jika Kyuubi adalah anak yang sulit bergaul.

"Kyuubi, Namikaze Kyuubi" Kyuubi mulai memperkenalkan dirinya di depan teman-temannya. Tak berani menatap teman-temannya terlalu lama, akhirnya Kyuubi menundukan kepalanya dalam-dalam. Lantas saja, semua teman-temannya kebingungan dengan sikap Kyuubi.

"Apa kau baik-baik saja, un?" Tanya seorang gadis kepadanya. Kyuubi menoleh dan mendapati seorang gadis blonde yang memujinya saat ia sedang menuju kantor kepala sekolah. Gadis itu tersenyum ramah kepadanya. Kyuubi hendak tersenyum, akan tetapi wajah tanpa ekpresinya lah yang ia tunjukan kepada gadis blonde itu.

"Sombong sekali dia" terdengar bisikan-bisikan pelan dari seorang siswa yang berbisik kepada teman sebangkunya.

Lagi-lagi, Kyuubi harus menahan air matanya mendengar kata-kata pemuda itu. Dia tidak pernah mengkehendaki dirinya seperti ini. Ia juga tidak mau jika lagi-lagi ia gagal mendapatkan seorang teman. Malu rasanya, Kyuubi benar-benar malu ketika satu kelas membicarakan kesombongannya. Untunglah gadis blonde tadi menghentikan suasana ricuh di dalam kelas. Ia ingin mengucapkan terimakasih, akan tetapi Iruka-sensei sudah lebih dulu memintanya duduk di bangku yang masih kosong.

"Nama ku Deidara, Yamana-"

"Kau tak perlu mengenalkan diri mu di hadapan ku" Kyuubi segera menyela kata-kata yang hendak dikatakan oleh teman barunya. Gadis blonde bernama, Deidara itu terlihat menggigit bibir bawahnya. Mata birunya terlihat berkaca-kaca saat Kyuubi menatap sinis dirinya. Rasa bersalah hinggap dihati Kyuubi. Jujur, baru kali ini ada seorang yang baru ia kenal menangis karena dirinya.

"Hey, Dei-chan kan hanya ingin berkenalan dengan mu" Protes gadis bersurai merah jambu yang duduk di samping Deidara. Suara gadis bubble gum itu berhasil mengundang perhatian para siswa dan siswi. Mereka kemudian menatap sinis Kyuubi. Kyuubi sendiri hanya diam, berpikir, apa salahnya? Dia kan tidak salah, kenapa teman-temannya menatap sinis dirinya?

"Dasar tak tahu diri" Cibir seorang gadis bersurai purple dengan jepit mawar di atas kepalanya. "Sudahlah..Kyuubi-san tidak salah, aku yang salah, un" Bela gadis bersurai blonde itu. "Dei-chan-"

"Sakura-chan, tidak baik mengganggu orang lain. Aku tadi menganggu Kyuubi-san, un" Deidara memotong kalimat, Sakura. Sakura si gadis bubble gum itu merenggut tak suka. Bagaimana tidak? Sahabat baiknya, dimarahi oleh orang yang bahkan belum 1 jam mereka kenal seluk beluknya.

"Maaf ya Kyuubi-san..Dei tidak tahu kalau kamu sedang sibuk, un" Ucap Deidara.

.

.

.

.

Kyuu's Pov

Aku menatap teman-teman baru ku yang tengah berbincang-bincang di dua meja yang sengaja digabungkan. Mereka tampak asyik sekali, semua tampak berkumpul dan mengerumuni gadis bersurai blonde tadi. Gadis itu sepertinya terkenal, buktinya sedari tadi ada anak yang bukan dari kelas ini datang dan mengunjunginya. Setelah ku tahu, Deidara adalah seorang wakil ketua osis. Pantas saja ia terlihat begitu terkenal.

Dia cocok sih, wajahnya cantik, cara bicaranya sopan, dan mungkin juga dia adalah gadis yang paling baik di sekolah ini. Aku tidak tahu kenapa aku tadi begitu ketus padanya. Padahal, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Bahkan, dia membela ku saat semua anak-anak mencaci maki diri ku.

Kenapa gadis itu mau membela ku? Apa yang perlu dibela dari ku? Aku memang egois, aku memang buruk rupa, aku memang tak tahu diri. Mengapa ia membela ku? Apa yang ia lihat dari ku? Belas kasihan kah? Cih, langsung saja rasa kagum ku hilang saat mengingat hal itu.

Aku tidak suka ada orang lain yang mengasihani ku. Seperti biasanya, jam istirahat ini, aku memang tidak pergi ke kantin. Untuk apa? Bertemu dengan orang-orang yang nantinya akan mengejek ku? Tidak, terimakasih ku ucapkan.

"Kyuubi-san, kenapa tidak bergabung bersama kita, un?" Tanya Deidara kepada ku.

Ku dongakkan kepala ku, dan mendapati gadis bernama Deidara itu sudah berada di samping kiri ku. Wajahnya cantik, bahkan cantik sekali. Ah, apa aku pantas berteman dengan gadis seperti dia? Ku rasa tidak.

"Bermain bersama anak-anak merepotkan seperti kalian? Tidak berguna" Kata ku.. Sial, kenapa harus kata-kata pedas ini lagi yang keluar? Memalukan. Deidara tercekat dengan perkataan ku. Dia mau menangis, dia menangis! Aku tidak salah lihat, Deidara meneteskan air matanya. Aku memang brengsek!

"Kau apakan Dei-chan?" Tanya Gadis bersurai pink itu setengah berteriak. "Hey, kamu itu kalau tidak buat masalah sekali saja, bisa tidak sih?" Sekarang gadis bersurai purple lah yang bertanya. Kedua gadis itu menatap nyalang diri ku. "Sudah.. Kalian jangan marah dulu, un" sergah Deidara. Ku tatap dirinya, air matanya seakan mengering saat membela ku. Getaran hangat ku rasakan saat ku tatap kedua iris azure miliknya. "Jika, bukan karena Dei-chan.. Kau tidak akan pernah ku maafkan" Ujar gadis bersurai Norak (pink), seraya menahan marah.

Kedua gadis itu pun bergegas meninggalkan kami berdua dikelas. Mereka benar-benar marah, terdengar dari suara pintu yang ditendang oleh gadis bersurai ungu, yang ku ketahui bernama Konan.

"Maaf" Ucap ku.

"Eh"

Ku tatap wajah Deidara yang terlihat heran dengan sikap ku itu. "U..untuk?" Tanya Deidara. "Dasar bodoh! Tentu saja untuk sikap ku tadi" Kata ku. Deidara terkekeh pelan saat mendengar aku mengatainya bodoh. Cih, apa dia tidak mengerti dengan sikap polosnya itu? Heh, anatomi orang seperti dia memang berbeda dari ku.

"Kau kenapa?" Tanya ku. "Aku? Kamu lucu, makanya aku tertawa. Kamu" jelasnya. "Kau terlalu baik" kata ku-sambil menidurkan kepalaku ke atas meja. "Aku? Baik? Tidak juga, un" Sangkal nya. "Hm" Timpal ku.

Hening..

Suasana kembali hening saat kami berdua saling diam. Tapi tak lama kemudian, seorang pemuda tampan bersurai raven ikat kuda berjalan ke arah kami. Aku memandang heran saat Deidara berdiri dan mempersilahkan pemuda itu duduk disamping kiri ku. "Kyuubi-san, ini Itachi, Dia yang menempati tempat ini sebelum kamu" Deidara memperkenalkannya pada ku.

Heheheh, keriput ini? Baru masuk saat jam istirahat? Kemana saja dia? Sebenarnya, pemuda keriput ini niat sekolah tidak sih. "Kenapa tidak minta izin dulu duduk di tempat ku?" Tanya pemuda itu. "Tempat mu? Kayaknya tidak ada 'label' yang mengatas namakan diri mu tuh" ketus ku.

"Memang tidak! Tapi kenapa kau begitu lancang duduk disini?"

"Aku? Lancang? Hey, aku akan pindah jika kau memaksa!" Bentak ku-seraya memakai tas gendong bermotif kupu-kupu milk ku. "Seperti ada yang bersedia duduk dengan mu saja" gumam si keriput.

Eh, baru ku sadar kalau kata-kata si keriput yang barusan tadi itu benar adanya. Sepertinya memang tidak akan ada yang bersedia duduk dengan ku. "Lalu aku harus apa?" Tanya ku, tak kalah ketus. "Kerjakan tugas ku!" Seru pemuda keriput itu. "Ehh? Enak saja, memangnya kau tak punya tangan?eh, dasar keriput!" Omel ku.

End Of Kyuu's Pov

Deidara hanya memperhatikan dua orang yang tengah beradu mulut di hadapannya. Baru kali ini ia melihat, Uchiha Itachi (nama pemuda itu) mau mengobrol apalagi berargumentasi dengan seorang gadis yang baru ia kenal. "Ah, kau itu menyebalkan" kata Kyuubi. "Kau cerewet, aku pusing mendengarnya" balas Itachi. "S..sudah, kalian kan bisa duduk berdua, un" usul Deidara-sekaligus menengahi keduanya.

Kyuubi merenggut sebal saat ia berpikir Deidara membela Itachi dibanding dirinya. "Kamu itu malah membela dia dibanding aku" Ujar Kyuubi. "Eh, Dei kan cuma menengahi, un". "Sudah..percuma saja kau bicara dengan gadis Himedere seperti dia! Tidak akan ada gunanya" Itachi memijat pelan pelipisnya, pusing karena sedari tadi ia beradu mulut dengan gadis bersurai mencolok itu.

"Apa kau bilang? Siapa yang Himedere? Kalau tidak mengerti aku jangan 'sok' mengerti"

"Kamu tidak mau dimengerti?" Tanya Itachi.

"Untuk apa? Tidak ada gunanya" Sahut Kyuubi.

"Sulit bagi mu mengerti diri mu, maka dari itu kamu tidak membiarkan orang lain mengerti diri mu" Kata Itachi, seraya mendudukan dirinya di bangku kosong yang berada tepat disamping Kyuubi.

Degg..

Kyuubi tercekat saat mendengar perkataan Itachi. Benar adanya seperti itu. Kyuubi tidak mengerti diri nya sendiri, sulit baginya untuk membuka hatinya dan mulai mencoba jujur akan perasaannya sendiri. Mungkin munafik, tapi itulah Kyuubi. Seorang gadis 16 tahun, yang tidak pernah memiliki seorang teman, apalagi seorang pacar. Kedua iris rubby milik Kyuubi menatap lekat iris Onyx milik Itachi.

Onyx dan Rubby saling berjumpa..

Onyx menawan milik Itachi seperti sebuah black hole yang gelap dan begitu misterius, sehingga Kyuubi penasaran dengan sosok pemuda menawan ini. Tak ada suara, tak ada blushing, tak ada malu, tak ada yang dirasakan Kyuubi. Hanya rasa penasarannya lah yang membuat dirinya terus menatap iris Onyx milik Itachi.

"Apa aku tampan?" Tiba-tiba Itachi bertanya kepada Kyuubi.

"Iya, jika saja aku buta..kau pasti akan terlihat tampan" Jawab Kyuubi.

"Jujur saja" Itachi mencolek pelan dagu Kyuubi.

"Cih" Kyuubi hanya berdecih pelan seraya menghempaskan jari Itachi dari dagu nya.

.

.

.

.

"Apa lihat-lihat?" Tanya Kyuubi, Kyuubi benar-benar kesal. Hari pertamanya sekolah di sekolah barunya harus ia rasakan bersama pemuda menyebalkan seperti Itachi. Jam pelajaran terakhir kali ini tidak ada satu pun guru yang bagus. Jadi, sudah menjadi kejadian yang wajar jika kelas terlihat riuh layaknya pasar. "Siapa yang melihat mu? Aku melihat pulpen mu" Tukas Itachi. Padahal, diam-diam Itachi memperhatikan Kyuubi. Jelas-jelas Kyuubi melihat, tapi Itachi masih saja mengelak, dasar semua pria sama saja.

"Kau itu bisa tidak sih bicara yang pelan? Seorang gadis itu tidak boleh bicara-"

"Kalau kau mau bertindak seperti ibu ku, pakailah lipstick di bibir mu terlebih dahulu" sela Kyuubi, sambil meneruskan membaca buku Ilmiah tebal miliknya. "Padahal dia pakai earphone, apa suara ku ke-". "Berisik" Lagi-lagi Kyuubi menyela kalimat Itachi.

"Ehh" Kyuubi memekik saat tiba-tiba saja earphone yang ia kenakan di sebelah kirinya di lepas dari telinganya oleh Itachi. Kyuubi menatap nyalang Itachi, siapa yang tak kesal? Siapa? "Tidak baik mendengarkan musik dengan volume yang keras" Ujar Itachi-sambil memasang earphone Kyuubi ke telinganya.

"Kau menyebalkan" Protes Kyuubi, Itachi sendiri sih hanya manggut-manggut sambil bersenandung mengikuti alunan musik melalui iPod milik Kyuubi. "Lain kali, ajak-ajak aku kalau mau mendengarkan lagu" Gumam Itachi. "Penting sekali sih" sahut Kyuubi.

"Ku pikir kau kuudere, ternyata kau hanya seorang Tsundere yang kesepian ya" Kata Itachi, seraya mengunyah permen karet. "Bukan urusan mu" Timpal Kyuubi. "Tentu saja itu urusan ku! Kau duduk disamping ku, jadi kau adalah teman sebangku ku" Ujar Itachi.

"Teman? Kau bilang teman?"

"Apa ada masalah dengan itu?" Itachi mengangkat satu alisnya.

"Aku tidak butuh teman" Kata Kyuubi.

"Apa alasan mu bicara begitu? Kau itu makhluk sosial bodoh"

"Karena berteman itu menyakitkan" Kyuubi menundukan kepalanya dalam-dalam.

"Dengar, kau tidak butuh teman itu bukan urusan ku. Tapi karena kau adalah teman sebangku ku, jangan harap kau bisa memakai cara berpikir mu itu! Aku tidak suka pemikiran kolot seperti mu" Itachi beranjak dari duduknya, dan meninggalkan Kyuubi yang diam mematung di bangku nya.

Dalam diam Kyuubi berusaha mengolah, apa yang barusan Itachi katakan. Apa benar ia seperti itu? Kyuubi terus bertanya-tanya. Belum pernah sebelumnya ada yang berkata demikian kepadanya. Hanya Itachi yang pertama kali mengatakan hal itu padanya. Kyuubi memandang punggung Itachi yang berjalan menuju pintu keluar. Kyuubi tak tahu hendak kemana pemuda itu. Itachi benar-benar misterius, sifatnya pun membuat nya pusing tujuh keliling. Sebenarnya, sifatnya Itachi yang sesungguhnya itu seperti apa? Begitulah yang kini tengah dipikirkan oleh Kyuubi.

"Kyuubi-san" Sebuah tepukan pelan dirasakan tepat dibahu Kyuubi. Kyuubi segera menoleh dan mendapati Deidara tengah berada disampingnya. Gadis bersurai blonde itu tersenyum ramah kepadanya. Kyuubi heran dengan senyuman yang tak pernah pudar dari Deidara. Apa Deidara tak pernah merasakan yang namanya kesedihan? Kenapa wajahnya terlihat ceria sekali.

"Mau permen?" Deidara menawari sebuah permen lollipop rasa jeruk pada Kyuubi. Kyuubi sendiri hanya menatap permen tersebut. Ia malu untuk menerimanya, meskipun di wajahnya menunjukan sebuah tatapan 'Aku-tidak-suka-permen-'. "Kyuubi-san tidak suka permen ya?" Tanya Deidara. "Tidak juga" Jawab Kyuubi. "Lalu kenapa tidak diterima, un". "Apa kau berniat membuat gigi ku sakit" ketus Kyuubi.

"Eh, enggak kok. Dei, gak bermaksud seperti itu, un" Kata Deidara, mengulas senyum pada Kyuubi. "Kenapa kau selalu tersenyum?" Tanya Kyuubi. "Karena aku ingin tersenyum, dan melihat orang lain juga tersenyum, un" Jelas Deidara. "Kau bohong, buktinya aku tidak tersenyum" Kata Kyuubi-sambil mengemut permen lollipop yang diberikan Deidara padanya.

"Sebenarnya kamu yang bohong, kamu pernah tersenyum meskipun kamu tidak menyadarinya" Timpal Deidara. "Sok tahu sekali kau" Cibir Kyuubi. "Aku tidak sok tahu, tapi aku yakin Kyuubi-san adalah orang baik. Orang baik selalu tersenyum saat melihat orang lain tersenyum ramah kepadanya" Ujar Deidara.

"Kau munafik" Kyuubi memasang earphone nya kembali.

"Aku tak pernah menyembunyikan perasaan ku, berpura-pura tidak tahu dan tidak mau peduli dengan sekitar ku. Jika aku begitu, itulah yang dikatakan munafik, un" Jelas Deidara.

Deidara pun bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Kyuubi. Kyuubi sendiri lagi-lagi dibuat bingung dengan sikap kedua teman barunya itu. Baru kali ini, ada orang yang mau mengajaknya bicara. Deidara dan Itachi, keduanya mengajak dirinya berbicara panjang lebar. Apalagi Itachi, pemuda bersurai raven itu selalu saja membuatnya berbicara panjang lebar, meskipun lebih sering marah-marah dibanding mengobrol.

.

.

.

.

Itachi's Pov

Aku berjalan menuju atap sekolah. Jujur saja, aku bosan menasehati gadis keras kepala seperti Kyuumi, Kyuuwi, Kyuu..Kyuu..ahh, Kyuu, siapa sih namanya, menyebalkan sekali. Dia bilang dia tidak butuh teman. Cih, munafik!

Memangnya dia hidup di dunia ini sendirian apa? Kenapa bisa ada gadis yang memiliki kepribadian seperti dia sih? Dia cantik, manis, tapi sikapnya itu terlalu jutek dan ketus. Jadi, ku rasa kesan manis nya itu akan menghilang karena tidak seimbang dengan sikap jutek nan ketusnya itu.

Drrtt..

Hah, siapa lagi ini.

Ku tatap layar ponsel qwerty milik ku. Shion, ya dia adalah kekasih ku. Seorang gadis yang sudah 3 tahun lamanya menjadi kekasih hati ku. Dia memang sangat rajin menelpon ku saat aku tengah sekolah. Kenapa? Katanya sih, biar aku tidak sering membolos dari jam mata pelajaran.

Aku bolos juga ada alasannya!

Lagipula, nilai ku tidak pernah anjlok kan. Awalnya sih aku biasa-biasa saja, tapi lama kelamaan, aku risih jika harus di telpon olehnya. Memangnya aku anak kecil? Ibu ku saja tidak seperti ini, Berlebihan memang.

"Moshi..Moshi"

'Itachi-kun, apa kau membolos lagi?'

"Hn"

'Eh? Hah, kau ini'

"Aku pusing"

*Pip*

Ku putus sambungan sepihak, kenapa dia menelpon ku? Tak tahukah dia, kalau aku sedang lelah, dan tidak mau diganggu? Apa semua wanita begitu manja dengan kekasihnya seperti Shion? Heh, menyusahkan sekali.

Cklek..

Aku menoleh ke arah pintu, dimana sosok gadis bersurai merah menyembul dari luar. Aku menghela napas panjang saat gadis itu hendak berbalik karena melihat keberadaan ku. "Jadi, kau juga suka bolos?" Tanya ku. "Begitulah" jawab gadis itu.

"Boleh aku duduk?" Tanya si merah. Aku mengangguk pelan dan membiarkan si merah itu duduk disamping ku. Jarang-jarang ada seorang gadis yang mau bolos, apalagi jika hari ini adalah hari dimana pertama kali ia bersekolah. Ku rasa hanya gadis ini yang nekad.

Hening..

Kami tak bicara satu sama lain. Berada disebuah ruangan dengan orang yang sudah kau kenal, rasanya tak enak kan kalau tidak bicara. "Kau tidak bela-"

"Kau dulu" Ucap ku,

"Tidak, kau dulu"

"Kau.."

"Kau saja"

"Kau"

"Kau"

"Kau"

"Jadi bicara tidak?" Tanya ku.

"Tidak" jawab gadis itu.

Aku hanya tak menyangka jika kami mengucapkannya bersamaan. Mungkin ini biasa saja, tapi bagi ku ini suatu hal yang sangat aneh. Yang aku sendiri juga tak mengerti, mengapa begitu. "Eh, tadi siapa nama mu?" Tanya ku. "Kyuubi" jawab gadis bernama Kyuubi itu.

"Kyuubi" beo Ku.

"Kau siapa?"

"Aku? Yakin kau tak tahu aku?" Tanya ku.

"Tentu saja aku tidak tahu..kenapa aku harus tahu kau"

"Jika kau tidak harus tahu, kenapa kau bertanya?" Aku balik bertanya.

"Karena kau teman ku"

"Kau sudah berubah pikiran? Baguslah" Kata ku.

"Cih"

Eh, lagi-lagi gadis itu berdecih. Kapan sih gadis Tsundere itu berhenti berdecih?

End Of Itachi's Pov

.

.

.

.

Bel tanda pelajaran usai pun berbunyi, tapi tak ada salah satu diantara mereka yang berniat untuk kembali ke kelas. Sepertinya mereka lebih suka berada di atap, dibanding pergi ke kelas dan mebereskan barang-barang mereka. Semilir angin berhembus pelan menerpa pipi halus Kyuubi. Gadis bersurai merah mencolok itu menutup matanya merasakan angin menerpa wajahnya.

"Mau sampai kapan kau di sini?" Tanya Itachi.

Kyuubi membuka matanya dan menoleh ke arah Itachi. Kyuubi memutar matanya bosan. "Entahlah" jawab Kyuubi. "Gerbang akan ditutup, jika kita di sini kita bisa tidak pulang sampai besok" Ujar Itachi. Kyuubi pun segera beranjak dari duduknya, baru saja hendak berjalan, Itachi menahan pelan pergelangan tangannya.

"Apa?" Tanya Kyuubi.

"Mau kemana?" Itachi balik bertanya.

"Tentu saja pulang" jawab Kyuubi.

"Bersama" Kata Itachi, tanpa sadar mereka berdua berjalan sambil berpegangan tangan. Mereka tampak menikmati hal itu. Tak ada salah satu diantara mereka yang berniat untuk melepaskan tangan mereka. Mereka tetap berjalan hingga mereka tiba di kelas.

~ San Naru

Kyuubi tampak keheranan dengan keberadaan Itachi, mereka memang keluar gerbang bersamaan, tapi kenapa pemuda keriput ini terus bersamanya. "Dimana rumah mu?" Tanya Kyuubi. "Apa aku harus menjawab?" Itachi malah balik bertanya, dengan raut wajah yang menyebalkan-Menurut Kyuubi-. Kyuubi membuang muka dan terus berjalan tanpa bicara sepatah kata pun.

Singkat cerita, akhirnya keduanya tiba di depan pagar rumah Kyuubi. Kyuubi benar-benar heran, karena Itachi juga ikut berhenti tepat di depan rumahnya. Setelah Kyuubi masuk ke rumahnya tanpa pamit, Itachi segera berbalik ke arah yang berlawanan dari perumahan dimana Kyuubi tinggal. Kyuubi yang melihat dari dalam rumah keheranan dibuatnya. "Sebenarnya keriput itu rumahnya dimana sih" gumam Kyuubi.

Tanpa mengulur waktu, Kyuubi pun bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Rumah tampak sepi, karena hanya ada dia, Naruto, dan pengasuh mereka, sedangkan ayahnya belum pulang dari rumah sakit tempat sang ayah bekerja sebagai dokter umum.

Kyuubi menyalakan saklar lampu di kamarnya. Lampu pun menyala, kamar ber-cat putih dengan hiasan-hiasan kupu-kupu tampak begitu indah. Kyuubi pun lekas mengambil baju santainya dan berjalan ke kamar mandi.

.

.

.

.

Pagi hari pun tiba, ini adalah hari kedua Kyuubi bersekolah. Selepas mencium kening sang ayah, Kyuubi segera keluar dari mobil milik ayahnya dan berjalan memasuki sekolahnya. Gadis itu terus berjalan tanpa mempedulikan tatapan-tatapan aneh siswa dan siswi lain akan dirinya. Sudah biasa, begitulah menurutnya.

"Kau baru datang?" Itachi menyapa dirinya, saat ia sudah tiba di kelas. Kelas sudah terlihat lumayan ramai, semua sibuk mengobrol bersama yang lain. Mungkin, hanya Itachi yang malah menyendiri di belakang kelas (karena memang mereka duduk dibangku yang paling belakang). "Hm" kata Kyuubi.

"Eh, Itachi kau tidak bolos lagi?" Seorang pemuda bersurai merah maroon yang baru masuk itu menyapa sang raven. "Hn" jawab Itachi kalem. "Dan kamu anak baru ya? Kenalkan, aku Haruno Sasori" Sasori mengulurkan tangannya (hendak berjabat tangan). Sedangkan, Kyuubi hanya menatap tangan Sasori. Itachi sendiri hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Kau tidak tahu cara berkenalan dengan baik ya" Itachi menarik paksa pergelangan tangan Kyuubi, dan menjabatkannya dengan telapak tangan Sasori.

"Katakan nama mu" Titah Itachi.

"Kyuu..Kyuubi, Namikaze Kyuubi" ragu-ragu Kyuubi memperkenalkan dirinya.

"Jadi, Sasori ini kakak kembarnya Sakura, ku rasa kau sudah kenal Sakura" Kata Itachi. Kyuubi mengangguk pelan, merasa matanya gatal. Kyuubi segera melepaskan kacamatanya, dan mengerjapkan kedua matanya berkali-kali.

Melihat Kyuubi yang melepas kacamatanya Sasori terkejut. Wajah Kyuubi benar-benar terlihat cantik dari sebelumnya. Akan tetapi, Itachi terlihat biasa-biasa saja, dan meminta Kyuubi untuk memakai kembali kacamata tebal miliknya. "Cepat pakai" pinta Itachi.

.

.

.

.

Atap sekolah

Bel istirahat berbunyi, Itachi segera bergegas menuju tempat favoritnya. Hanya butuh 5 menit, untuk tiba di tempat kesukaannya itu. Hari ini adalah suatu keajaiban untuk dirinya, kenapa? Karena baru kali ini Itachi bisa hadir di jam pelajaran tanpa harus membolos. Banyak guru-guru yang bertanya kepadanya, bahkan ada yang mengira jika Itachi sedang dirasuki oleh makhluk halus, sehingga ia tidak membolos seperti biasanya.

Itachi sendiri juga tak tahu kenapa, hanya saja hatinya tidak menginginkan jika ia pergi untuk membolos. Pemuda bersurai raven itu menatap lurus pada suatu titik dimana seorang gadis bersurai merah sedang berjalan disamping seorang gadis bersurai pirang. Tanpa sadar ia tersenyum, saat gadis bersurai merah itu menanggapi si gadis blonde yang berbicara padanya.

"Dasar rubah merah" gumam Itachi, lagi-lagi ia tersenyum tanpa disadari.

~San Naru

Kyuubi menghela napas saat lagi-lagi Deidara mengajak berbicara dirinya. Padahal, dia sedang malas diajak bicara. Seolah tak pernah kehabisan kata-kata, Deidara terus saja berbicara panjang lebar. Bahkan Deidara tidak merasa kesal saat Kyuubi lagi-lagi hanya menanggapi singkat kata-katanya.

Mengingatkan Kyuubi dengan sang ibu dan adik kecilnya, Naruto. Kyuubi heran, kenapa harus ada orang yang tak lelah berbicara panjang lebar di sekelilingnya. Apa tidak membosankan? Kyuubi saja bosan mendengarkannya terus, tidak! Mungkin Kyuubi lelah, ya Kyuubi lelah mendengar Ocehan-Ocehan yang menurutnya tidak penting itu.

"Kyuu-chan pernah pacaran, un?" Tanya Deidara.

"Belum" jawab Kyuubi, singkat.

"Kenapa belum, un?"

"Kau itu banyak tanya" Protes Kyuubi.

"Aku kan cuma mau-"

"Dengar! Aku tak pernah pacaran dan sebangsanya atau apalah itu! Jadi, jangan tanya lagi!" Potong Kyuubi.

Gadis bersurai merah itu segera berjalan mendahului sang blonde. Tak dipedulikan berapa kali Deidara memanggil namanya, Kyuubi terus berjalan. Sebal? Tentu saja, seandainya saja Deidara tahu. Bila, tidak ada pemuda-pemuda yang mau mendekati dirinya saat di Suna. Tak tahu apa alasan mereka, tidak mau mendekati Kyuubi. Hanya saja, Kyuubi menjadi tidak terbuka dengan teman-temannya ketika di Suna dulu.

"Kyuu-chan itu cepat sekali tersinggung" Ujar Seorang pemuda. Deidara menoleh dan mendapati Sasori sudah berada tepat di belakangnya. Pemuda bersurai merah maroon itu mengulas senyum charming kepadanya. "Mungkin pertanyaan ku memang berlebihan, un" Tukas Deidara. "Huumm, sabar ya! Apa kau lihat Sakura-chan?" Tanya Sasori. "Dia ada di perpustakaan, un" jawab Deidara.

.

.

.

.

* Sepulang Sekolah *

Kyuubi menunjukan raut wajah juteknya, ketika lagi-lagi Itachi mengikuti dirinya sepulang sekolah. Entah, apa yang diinginkan oleh sang raven itu. "Mau mu itu apa?" Tanya Kyuubi. Kyuubi menghentikan langkahnya, dan membiarkan Itachi berjalan beberapa langkah di depannya. Kyuubi kesal karena Itachi lagi-lagi tidak menjawab pertanyaannya.

Gadis bermarga Namikaze itu pun mengambil batu kecil dan melemparkannya tepat ke kepala sang Raven.

"Aduuhh" pekik Itachi. Itachi menoleh dan menatap Kyuubi yang menunjukan raut wajah kesal padanya. "Apa?" Akhirnya Itachi mengalah dan berjalan mendekati Kyuubi. "Kamu itu mau kemana?" Tanya Kyuubi. "Tentu saja pulang" Jawab Itachi-menaikan satu alisnya.

"Rumah mu kan bukan ke arah sini" Kata Kyuubi.

"Tapi rumah mu ke arah sini, ayo jalan!" Ajak Itachi, Itachi menarik pergelangan tangan Kyuubi, dan memaksanya untuk berjalan mengikuti langkah kakinya. Kyuubi terkejut dengan apa yang Itachi lakukan padanya. Apa Itachi berniat mengantarnya pulang? Jika iya, atas dasar apa Itachi mau mengantarnya pulang ke rumah?

~San Naru

Tak butuh waktu lama, akhirnya kedua nya tiba di depan pagar rumah Kyuubi. "Sudah sampai" kata Itachi, pemuda bermarga Uchiha itu segera berbalik badan dan hendak berlalu meninggalkan sang gadis Namikaze itu. "Kau mau kemana?" Tanya Kyuubi. "Tentu saja pulang" jawab Itachi-sambil berjalan mundur. "Kok kesana?" Tanya Kyuubi. "Rumah ku berada 2 blok dari sini, sudah malam cepatlah masuk!" Itachi pun segera memutar tubuhnya dan berjalan normal kembali.

Kyuubi memandangi punggung Itachi yang memang belum begitu jauh dari nya. "Hati-hati" Ucap Kyuubi. Mendengar Kyuubi yang mengatakan terimakasih padanya, Itachi hanya mengangkat tangan kanannya, pertanda jika ia akan berhati-hati dan mengingat nasihat dari Kyuubi.

Kyuubi merasakan pipinya memerah, jantungnya berdebar-debar tak karuan jika ia mengingat sikap Itachi. Apakah ia jatuh cinta? Tidak kah itu terlalu cepat untuk dirinya? Haruskah ia jatuh cinta pada seorang pemuda yang sudah berbaik hati menjadi temannya? Mungkinkah begitu?

Kyuubi menggelengkan kepalanya pelan, tidak mungkin jika ia harus jatuh cinta pada Itachi...

.

.

.

.

TBC

FF spesial for Megumi Denzo, yang sering banget memutar lagu Ichiban No Takaramono di iPod punya Author. Minna, bagaimana dengan FF nya? Aneh kah? Kalau aneh, saya tidak akan melanjutkan FF ini.

Oh, iya..

Sebenarnya tadinya Fict ini bakalan dijadiin Fict Yaoi, tapi tadi ada yang bilang kalau Yaoi mending Sasunaru aja, ya akhirnya dia ngasih saran dan nyuruh saya mencoba, Pairing Ita(fem)Kyuu. Maaf kalau lagi-lagi Fict ini kurang memuaskan, saya juga masih butuh belajar untuk membuat Fict yang lebih memuaskan para pembacanya...

Sekian, dan terimakasih..

.

.

.

.

So, Mind To Review?