BLEACH © TITE KUBO
Unforgiven Angel
Part #06
.
.
Senja murung menghilang dari wajah Rukia, memberikan tempat bagi cahaya fajar kemerah-merahan yang memikat. Matanya berbinar seraya menarik seulas senyum cerah. Memandang kagum pada sosok Kurosaki Ichigo yang berdiri di ujung ranjang rawatnya.
"Nii-san…" sebutnya lirih, penuh kelegaan.
Bagai tersiram lautan cahaya, Ichigo tercenung.
Kilauan ungu di mata gadis itu seolah menumpahkan begitu banyak emosi yang tersembunyi. Ia berjalan, mengeliminasi jaraknya dengan Rukia. Menerobos batas yang selama ini ia ukir sendiri ketika berhadapan dengan gadis yang ia anggap sebagai penyebab kematian sang ayah. Tidak pernah sekalipun, ia berpikir akan menjadi akrab dengan gadis itu.
"Benar, kau tidak ingat apapun?"
"Maaf, Nii-san," dengan kepala tertunduk, wajah polos Rukia menjadi murung. "Aku tidak bisa mengingat apapun," keluhnya sembari mendongak, membalas tatapan iba lelaki yang ia sangka adalah kakaknya. Lalu sebagai pelampiasan, Rukia memukul keras kepalanya, "Otak bodoh! Kenapa kau tidak bisa ingat apapun."
Ichigo tersenyum getir. "Kalau kau tidak bisa mengingat apapun, kenapa—kau memanggilku nii-san?" masih terasa ganjil.
Bibir Rukia yang tidak pernah menyebutkan namanya dengan begitu manis, kini memanggilnya dengan sebutan 'nii-san', panggilan itu bahkan jauh lebih intim dari yang pernah ia dengar.
Bukan dari kata 'nii-san' yang mengumbar kehangatan, namun, orang yang menyebutkannya itulah yang membuat Ichigo harus berpikir ulang mengenai rencananya untuk menjadikan gadis itu sebagai adiknya.
"Perawat tadi bilang, bahwa pria muda berambut oranye yang sudah merawatku adalah kakakku."
"Oh," jawab Ichigo singkat.
Rukia mengerjapkan satu kali mata besarnya pada raut melamun Ichigo. Memandangi wajah tampan lelaki yang ia anggap sebagai saudaranya tersebut dengan tatapan kagum.
Andai, perawat tadi tidak mengatakan siapa lelaki berambut oranye ini, mungkin, Rukia akan mengira dia adalah kekasihnya. Soalnya, kakaknya itu tampan sekali. Sayang kalau cuma dijadikan saudara. Gadis itu mulai berpikir ngelantur. Kini suasana hatinya berbeda dari beberapa hari sebelumnya, hatinya sangat berbeda dengan apa yang dirasakan Ichigo sekarang.
Gadis belia yang kini tak bermarga Kuchiki lagi tersebut bagai burung yang terlahir kembali.
.
.
.
Enam bulan kemudian.
.
"Nii-san! Ayo bangun! Nanti kau terlambat kuliah!"
Las Noches, ini sudah minggu terakhir bulan Januari. Musim dingin menerjang sendi-sendi tulang Kurosaki Ichigo yang masih bergelung di dalam selimut hangat. Badannya terlalu berat untuk sekedar bangkit menikmati udara pagi. Dia tidak peduli jika terlambat masuk kuliah.
Mahasiswa semester pertama jurusan kedokteran itu menguap, lalu menggeliat, merenggangkan persendiannya yang semalaman tak difungsikan.
Mata coklatnya memicing, memperhatikan dalam diam gerak-gerik perempuan mungil yang sejak tadi sudah berisik. Kuchiki Rukia—nama itu sudah mengusik mimpi-mimpinya terlalu lama, telah enam bulan berlalu. Namun ia belum memiliki keberanian untuk menceritakan semua yang terjadi pada gadis amnesia itu.
Tidak ada seseorang pun yang bisa diajaknya berbagi cerita.
Ichigo terkesiap ketika tiba-tiba saja sinar matahari menerpa lensa matanya. Rukia membuka seluas mungkin tirai kamar si kakak, memaksa kakaknya yang tampan itu agar segera bangun dari kemalasan.
Ruang privasi Ichigo yang awalnya berantakan kini lebih rapi. Rukia sudah membersihkannya dari benda-benda kotor selagi Ichigo tidur, menjaga kebersihan kamar kakaknya sudah jadi tugas yang paling Rukia sukai.
Seraya menepuk-nepuk telapak tangan, Rukia kembali menegaskan. "Cepatlah bangun, Nii-san! Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ujarnya dengan senyum cerah.
Akhirnya suara berisik adik palsunya itu berhasil mengganggu ketenangan Ichigo. Ia segera duduk di ranjang, terdiam untuk beberapa saat mengamati isi kamarnya yang sudah tertata rapi. Kemudian bangkit menuju kamar mandi. Setelahnya, akan lebih menyegarkan jika ia segera berangkat kuliah daripada berlama-lama meladeni kecerewetan Kuchiki Rukia.
Ponsel Ichigo berdering ketika si pemiliknya tengah membersihkan diri.
Karena mendengar dering ponsel yang tak kunjung berhenti, Rukia memberanikan diri untuk mengangkatnya. Walaupun Ichigo pernah memperingatkannya untuk tak sembarangan mengangkat ponsel miliknya.
Nell Calling…
Nell? Ah, gadis cantik yang fotonya dipasang di wallpaper kakaknya.
"Hallo—"
Rukia baru mengatakan salam, sebelum tangan Ichigo segera merebut ponsel tersebut sembari memberi tatapan tajam pada gadis itu.
"Sudah kubilang jangan sembarangan mengangkat ponselku," Ichigo menggeram dalam bisikan. Tatapannya sukses mengintimidasi Rukia yang kini mendelik dengan bibir mengerucut.
Lekas Ichigo menerima panggilan dari Nell sembari berjalan menjauhi Rukia yang menahan jengkel.
Suite apartemen dengan fasilitas kelas ekslusif tersebut mereka tinggali hanya berdua saja. Terkadang Rukia merasa kesepian jika kakaknya yang keren itu pergi kuliah kemudian pulang ketika malam tiba.
Dia tak memiliki aktivitas apapun kecuali di dalam rumah mengurusi pekerjaan rumah tangga. Ichigo melarangnya jika ia pergi keluar sendirian, kakaknya bilang kalau ia seorang buta arah, kalau sampai tersesat seluruh polisi Las Noches nanti bisa kerepotan.
Apalagi, dia adalah penderita amnesia. Kakaknya juga bilang, kalau penderita amnesia, kadang-kadang disaat penyakitnya kambuh, ia akan menjadi orang sinting yang suka mempermalukan diri sendiri di tengah keramaian.
Karena itu, Rukia berusaha membetahkan diri untuk berlama-lama tinggal di suite apartemen sekalipun kejenuhan sering membuat kepalanya mendadak pusing.
Namun, lama kelamaan, semuanya terasa menyiksa. Ia merasa dikekang oleh kakaknya yang sibuk beraktivitas di luar. Entah di perkuliahan ataupun bersenang-senang di tempat lain. Sementara dirinya, terkukung dalam sangkar apartemen dan memori yang hilang.
Rukia melamun sambil menyirami bonsai kerdil yang potnya ia letakkan di atas konter dapur. Makin lama, bukannya semakin mengingat masa sebelum amnesia, ia malah kehilangan kepercayaan diri untuk bisa sembuh.
Kakaknya itu tak pernah berusaha untuk membantunya mengingat kembali kenangan-kenangan silam yang hilang. Rukia merasa mereka bukan saudara yang saling menyayangi, laki-laki yang di sampingnya saat ini terasa sangat asing dalam ingatan.
Atau memang tak pernah ada kenangan di antara mereka?
Ah, entahlah, Rukia belum pernah merasakan kehangatan dari Ichigo, selayaknya seorang kakak pada adik. Lelaki itu sepertinya canggung ketika berhadapan dengan sifat manja Rukia yang terkadang muncul.
"Aku berangkat dulu," suara Ichigo menghancurkan lamunan Rukia yang kini berbalik memandangi gerakan sang kakak yang sibuk memasukkan laptop ke dalam ranselnya.
"Bagaimana dengan sarapannya?"
Ichigo menoleh sebentar, matanya bergulir pada meja makan. Sajian sandwich lezat dengan segelas susu sudah tersedia di sana. Sayang, Ichigo menjawab pertanyaan Rukia dengan komentar dingin, "Nell sudah membuatkanku bekal yang lebih bergizi. Kau saja yang memakannya."
"Nell, kekasih nii-san?"
"Calon kekasih. Akan kuberitahu padamu kalau dia sudah menerimaku."
Ada yang salah dalam dirinya. Rukia mengakui dengan benar kenyataan itu. Perasaan merana setiap kali kakaknya itu membicarakan gadis lain. Mereka itu saudara, tetapi kenapa Rukia mempunyai perasaan cemburu. Rasanya tak pantas ia mengalaminya.
.
Mereka sudah terpisah oleh dinding. Pintu tertutup ketika Ichigo telah berdiri di luar dengan perasaan yang tak karuan. Segala perasaannya seolah tercampur aduk.
Kebenciannya perlahan dipupus karena kehadiran Rukia setiap waktu di sisinya, namun, ia masih meragukannya. Benarkah kebenciannya selama ini bisa hilang dengan begitu mudah? Ichigo mengernyitkan dahinya begitu dalam, mencoba menumbuhkan keyakinannya bahwa ia benar-benar sudah melupakan dendamnya.
Bukan hal gampang membentengi dirinya dari rona sendu Rukia. Ichigo tahu, gadis itu seolah menjaga jarak dengan dirinya. Hubungan saudara mereka terasa sangat canggung. Terasa aneh.
Tidak adil kalau ia bersikap baik di depan gadis yang tengah menderita amnesia itu. Bersikap seolah-olah mereka saling menyayangi, padahal selama ini hanya ada kebencian yang disulut olehnya.
Membangun image bagai malaikat penyelamat padahal ia hanya iblis yang tengah bertanggung jawab dengan semua yang menimpa gadis itu. Ichigo bukannya merasa gengsi untuk mengakui kesalahan, namun ia takut, jika sebuah pengakuan bisa membawanya pada obsesi yang tidak masuk akal.
Dia tak berani mempertaruhkan apapun pada Rukia. Termasuk perasaannya yang harus ia perlihara setiap waktu dari urusan cinta. Ia tidak ingin menambah masalahnya dengan membangun hubungan yang jauh lebih manis dari saudara. Sebab setelah amnesia gadis itu pulih, mungkin, mereka hanya akan jadi orang asing yang menjalani kehidupan masing-masing.
Ichigo menyeret langkahnya menuju lift. Saat ini ia harus memikirkan bagaimana ia harus menyelesaikan kuliahnya dengan nilai bagus dan membuat keluarganya bangga.
Ibunya sempat memprotes alasan Ichigo dulu mengurungkan niatnya melanjutkan pendidikan di Seiretei dan memupus cita-cita ibunya untuk melihat putranya bergelar master bisnis, lalu lebih memilih gelar kedokteran di bidang saraf dan tinggal di Las Noches. Untuk itulah, Ichigo tidak ingin mengecewakan wanita yang paling ia cintai itu hanya karena kesalahannya pada orang lain.
Usia telah membentuk Kurosaki Ichigo menjadi lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab. Setidaknya setelah banyak kebohongan yang ia ciptakan pada Kuchiki Rukia, ia tampak lebih bijaksana, persis mediang ayahnya.
.
.
"Apa? !"
Ichigo menutup satu telinganya yang baru saja disembur Abarai Renji. Teman satu kelasnya itu berperawakan tinggi dengan rambut merah menyala, ia sangat suka menyeringai genit jika melihat wanita yang cantik-cantik.
"Jadi kaumenggunakan nama 'Nell' untuk nomor ponselku? !"
Ihh, Ichigo mendelik. Memang salahnya menceritakan hal kecil ini pada Renji. Sebetulnya 'Nell' itu hanya model cantik yang kuliah di jurusan yang berbeda dengan mereka. Ichigo sama sekali tidak mengenal Nell apalagi akan menjadikannya sebagai kekasih. Itu hanya kamuflase yang dimanfaatkannya agar ia bisa menunjukkan pada Rukia bahwa ia punya kekasih.
Cuma yang belum ia tahu, mengapa ia harus melakukan itu? Bersikap seolah ia punya gadis yang ia cintai, untuk apa? Apa yang ingin ia tunjukkan pada Rukia? Ah, ternyata dia masih seorang Ichigo yang angkuh di hadapan Kuchiki Rukia.
Amat mudah bagi Ichigo untuk menjadikan seorang wanita sebagai kekasih. Tetapi, ia masih trauma dengan kejadian-kejadian dulu. Butuh waktu lama agar kepercayaan dirinya tumbuh kembali.
"Ini," Ichigo memberikan buku tugasnya pada Renji, "Kuberikan kaujawaban nomor tiga dan empat, jadi diamlah dan berhenti mengoceh."
Renji tertegun sejenak, hingga otaknya bisa mencerna kata-kata temannya dengan antusias. Hanya dengan bermodalkan nomor ponsel ia bisa mendapatkan contekan gratis dari si pintar Kurosaki, yah lumayanlah.
Kemudian dalam konsentrasi tingkat tinggi, mahasiswa yang nyaris ditolak enam wanita sekaligus dalam seminggu tersebut menyalin jawaban yang dikerjakan Ichigo. Ia menulis serapi mungkin sebelum dosen memulai jam kuliah. Kegiatan Renji terhenti, ketika ia tanpa sengaja menemukan sebuah gambar wortel di bagian belakang buku tugas bersampul coklat itu.
"Wah wah, oranye. Persis rambutmu, Ichigo."
Eh? Ichigo melirik, ekor matanya tertumbuk pada gambar wortel yang ditunjukkan Renji padanya dengan senyum mengejek.
Ichigo merasa tak pernah menggambarnya. Lalu, siapa? Mengingat ada seseorang lagi yang tinggal di apartemennya, pasti tidak salah lagi.
"Oh! Ichigo, lihat! Di buku ini juga ada. Coba yang ini—" dengan seenaknya Renji membuka tanpa izin beberapa buku yang lainnya milik Ichigo. "Jadi kaumenandai buku-bukumu dengan wortel?" Renji terlihat senang dengan gurauannya, "Ada-ada saja kau ini."
"Bukan aku yang menggambarnya."
"Tidak usah mengelak? Kalau bukan kau, siapa lagi?"
"Adikku," sahut Ichigo cuek. Matanya acuh tak acuh menatap serius pada buku yang ia baca tanpa menggubris rasa penasaran dari Renji.
Renji tahu kalau Ichigo punya adik. Tapi temannya itu tidak tahu jika ia menyembunyikan seorang adik berstatus palsu.
.
.
Usai mengakhiri jam perkuliahan, Ichigo dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang berdiri dengan punggung bersandar di batang cemara yang tumbuh di tepi halaman kampus.
"Rukia…"
Bisikan Ichigo masih terdengar di telinga Renji. Bersamaan Ichigo, ia pun melihat pada direksi yang sudah memunculkan wajah gusar Ichigo.
Seorang perempuan bertubuh kecil mengenakan celana panjang denim dengan kaos biru tertutupi bolero keabuan. Rambutnya hitam dengan potongan pendek bergerak tertiup hembusan angin di siang hari.
Imut sekali, manis pula. Renji hendak mengomentari sosok yang dilihat Ichigo, namun Ichigo ternyata sudah tak ada lagi di kelas.
Ichigo mempercepat langkah saat menuruni tangga kampus. Kehadiran Rukia tiba-tiba di kampusnya sudah memancing kemarahan.
"Kenapa kau ada di sini?"
Rukia mendongak, senyum tersungging manis ketika ia mendapati mata coklat Ichigo.
"Aku bosan di rumah saja. Jadi kugunakan uang belanja agar bisa datang kemari."
Tidak suka dengan jawaban dingin Rukia, Ichigo segera menyeret lengan gadis itu menuju gerbang kampus. "Pulanglah, dan jangan ulangi sikapmu ini. Kau tidak seharusnya berada di luar rumah," tanpa sadar Ichigo mencengkram pergelangan tangan Rukia terlalu kuat.
"Nii-san, kaumenyakitiku."
"Maaf," menyadari kesalahannya, Ichigo lekas melepaskan Rukia.
"Apa kau malu aku ada di sini? Kau malu punya adik yang menderita amnesia, yang akan menjadil gila jika penyakitnya kambuh, hn?"
"Bukan begitu, Rukia. Kita bicarakan setelah aku pulang."
"Aku hanya ingin memastikan bahwa aku memang buta arah. Nyatanya, tidak." Rukia lalu mengeluarkan buku catatat kuliah Ichigo, di situ tertera alamat kampus Ichigo dengan detil, "Aku bisa menemukan alamat kampusmu dengan benar. Kau bohong, Nii-san. Aku juga bisa menahan diri agar tidak menjadi sinting di depan umum, agar aku juga bisa berjalan-jalan bebas mencari kesenangan di luar rumah. Kenapa kau melarangku keluar rumah? Kenapa kau tidak pernah berusaha membantu menyembuhkan amnesiaku? Kenapa kau membuatku seperti patung di rumahmu? Aku tidak mengerti, kenapa Nii-san seperti itu? !"
Merasa tertampar dengan kebenaran itu. Ichigo menggeram, menyembunyikan kemarahan dalam hati.
"Ini tidak seperti yang kaupikirkan."
Rukia menghela napas. Lega rasanya mengatakan semua yang ia tahan selama ini, "Kalau kau masih ingin melihatku berada di rumah, sebaiknya kau pulang tepat waktu."
Tanpa rasa bersalah dan dengan perasaan yang lebih ringan, gadis itu berlalu meninggalkan Ichigo yang tercenung.
"Ka-kau, jangan suka mempermainkanku, Rukia!"
"Terserah!" Rukia berbalik menantang Ichigo dengan berkacak pinggang, dari jauh ia menunjukkan ekspresi puas karena berhasil melihat wajah syok kakaknya. "Nii-san tidak bisa mengurungku! Aku juga mau mencari kekasih! Memangnya kau saja yang bisa!" seraya menjulurkan lidah, Rukia menunjukkan jempolnya kemudian membalikkan jempol tersebut ke bawah hingga berhasil membuat Ichigo malu sendiri.
Ia baru tersadar jika ia sudah berteriak-teriak di tempat umum.
Rukia sudah menghilang dari pandangan, meninggalkan ketidakpercayaan dalam diri Ichigo. Itu tadi? Rukia 'kah? Rasa-rasanya, gadis itu tak pernah seberani tadi.
"Ichigo!"
Ichigo terkesiap ketika Renji berlarian ke arahnya. "Siapa gadis manis tadi?" tanyanya terburu-buru.
"Adikku."
Sambil mengekori Ichigo yang kembali ke gedung kampus, Renji memburu Ichigo lagi dengan pertanyaan yang berbeda, "Masa' sih, kalian terlihat tidak mirip."
"Dia lebih mirip ayahku."
Ekspresi dan sikap Rukia tadi sudah mencekik pertahanan Ichigo selama ini. Sekejap, dalam beberapa detik, ia bisa melepaskan diri dari sikap dinginnya.
.
.
"Aku pulang!"
Aroma lezat berseliweran di suite apartemen Ichigo. Rupanya, Rukia mempersiapkan makan malam dengan hidangan enak.
Mereka seperti pasangan suami isteri.
Ichigo segera menjernihkan pikirannya ketika melihat adik palsunya itu memakai apron seraya meletakkan sepanci sup hangat di atas meja makan. Gadis itu amnesia, kehilangan semua memori hidupnya yang silam, tetapi ia sama sekali tak kehilangan keahliannya dalam memasak.
"Nii-san mandi dulu, ya. Baru setelah itu kita makan bersama."
"Ya," Ichigo melewati ruang dapur, mematuhi permintaan gadis itu sebelum nanti ia harus mendengarkan kemarahan Rukia lebih banyak dari yang sebelumnya.
Ohh! Ichigo melupakan sesuatu. Lelaki berambut oranye itu membuka tasnya, kemudian mengeluarkan sebuket mawar merah yang ia paksa agar bisa disimpan di dalam ranselnya.
"Karena malu dilihat orang makanya kusimpan di dalam tas. Maaf—kalau selama ini kau merasa tertekan dengan sikapku." Ichigo memalingkan wajahnya dari keterpanaan Rukia, ia tidak tahu harus melakukan apalagi agar hati gadis itu tidak merasa disakiti. Berkat usul Renji, ia terpaksa membeli buket mawar ini sebagai permintaan maaf. "Itu sudah sifatku, aku tidak bisa mengubahnya. Kita harus berusaha bersama agar kau bisa sembuh," akunya lagi dengan ekor mata yang mencoba memperhatikan reaksi Rukia yang seolah tersihir oleh benda merah di tangannya.
Mawar merah.
Senyum tipis tersampir di bibir Rukia. Perasaan bahagia menumpuk di batinnya secara tiba-tiba. Mawar ini… mengingatkan dia pada sesuatu, meski masih begitu kabur, tapi hatinya sangat ingat. Dia menyukai mawar. Sampai sekarang pun dia meyukai bunga mawar.
Sebuket mawar merah diberikan oleh seseorang untuknya.
"Terima kasih, Nii-san," ucapnya tulus dengan senyum yang masih mengembang.
Rona merah juga tak mampu lagi disembunyikan Ichigo dari balik kulit pipinya yang tegang.
.
.
.
Kesepakatan diberikan Rukia jika Ichigo tidak mau melihat gadis itu berkeliaran di luar rumah sendiri. Rukia akan mematuhi aturan itu asalkan Ichigo mau menemaninya kemanapun yang ia inginkan. Tidak perlu berpikir lama, Ichigo menyutujui kesepakatan tersebut. Ia menyadari betapapun ia membatasi diri dengan gadis itu, menjaga jarak di antara mereka, tetap saja tidak bisa.
Mereka tinggal bersama, dan yang perlu ia batasi hanyalah egonya sendiri. Dia tidak punya kemampuan untuk mengembalikan memori Rukia bukan karena ia tidak mau, melainkan karena dia tidak punya kenangan apapun dengan Rukia. Kecuali kebencian yang dulu membumbung tinggi pada gadis itu, Ichigo tak tahu apapun segala sesuatu tentang Rukia.
Jadi sekarang, ia mencoba berbaik hati pada Kuchiki Rukia, ia akan berdamai dengan masa lalunya yang buruk. Cuma dengan cara itu ia bisa hidup tenang.
Ichigo memakai busana kasual hari ini. Sabtu siang ia sediakan sebagai waktu luang untuk menuruti permintaan adik palsunya. Rukia sudah berpakaian rapi, menyusul langkah kaki Ichigo yang lebar—tak sebanding dengan kakinya yang pendek, ia butuh sedikit usaha agar bisa berjalan seirama dengan langkah lelaki itu.
"Kudengar toko buku itu sedang memasang diskon. Nanti belikan aku beberapa buku ya, Nii." Pintanya dengan tatapan memohon, membuat Ichigo merinding. Ia tidak suka senyum Rukia, dari pada sebuah senyuman membujuk, senyum itu lebih terlihat senyuman mengancam.
"Jangan suka boros, Rukia. Kita perlu berhemat."
Rukia memberengut, "Aku mengerti. Sekali-sekali bisakah kau tidak menggunakan kata 'jangan' saat menasihatiku. Kau seperti sedang melarang anak kecil untuk melakukan hal yang disukai."
"Kau memang masih anak kecil," sindir Ichigo dengan mata melotot, "lagipula, hal disukai? Ow, jadi kau suka berboros, hn? Makanya kau tidak suka kunasehati seperti itu."
"Sudah, ah! Percuma bicara denganmu."
Mereka melangkah beriringan. Sampai ketika perjalanan keduanya berakhir di depan sebuah toko buku yang letaknya di tepi jalan raya.
Hubungan itu mulai terjalin. Tanpa disadari dan tanpa bisa dikendalikan, Ichigo perlahan mengubah hatinya yang semula sekeras es menjadi titik-titik embun. Ia mengikuti langkah riang Rukia melewati pintu toko. Mengamati seisi toko yang dipenuhi dengan rak-rak buku.
Dalam benaknya, Ichigo penasaran akan sesuatu. Buku seperti apa yang Rukia ingin baca? Cerita seperti apa yang gadis itu sukai? Dia ingin mengetahuinya, sebanyak apapun mengenai kesukaan Rukia, dia akan mencari tahu.
Wortel. Kesimpulan pertama yang ia dapatkan ketika Renji menemukan gambar-gambar wortel di belakang bukunya. Rukia pasti menyukai sayuran berwarna oranye itu. Lalu mawar merah, ia ingat waktu kemarin, wajah senang Rukia terlihat jelas ketika sekumpulan mawar berwarna merah hadir di depan matanya. Dan—apalagi, yang Rukia sukai.
Dari sebelah Rukia, Ichigo memperhatikan keseriusan Rukia yang sedang membaca sebuah buku berkulit hijau tua. Meskipun hilang ingatan, ternyata seseorang bisa juga tidak kehilangan kepintarannya. Buktinya, Rukia terlihat lapar kalau di hadapannya ada banyak buku… resep masakan.
"Dream Shortcake," eja Ichigo seraya mengangkat sekilas buku yang dipegang Rukia.
"Nanti akan kumasakkan kau kue yang enak, Nii-san."
Ichigo tersenyum miring. "Kau memang sangat suka memasak," pujinya, ia mengembalikan fokus matanya pada buku yang ia pegang. Berpura-pura tidak peduli pada wajah Rukia yang berubah cantik setiap kali membicarakan tentang masak memasak.
Tahu bahwa Rukia tidak akan mempedulikannya jika sedang serius membaca. Ichigo memilih untuk mencari-cari buku kuliah yang ia butuhkan selagi di toko tersebut masih memasang diskon.
Romeo and Juliet.
Judul novel karangan William Shakespare tersebut menyita perhatian Ichigo.
Dulu ia punya buku ini, salah satu buku kesukaannya. Drama Percintaan melankolis yang menjadi makanan sehari-hari para penikmat drama teatrikal. Mungkin, kalau ada waktu dan kesempatan, ia akan mengajak Rukia untuk menonton bersama. Sebelum itu, ia akan meberikan buku ini pada Rukia dulu sebagai hadiah kecil.
Tapi, akan lebih baik kalau hadiah diberikan pada saat dia ulang tahun. Huh—Ichigo menggelengkan kepala, sampai sekarang ia belum mengetahui hari ulang tahun Rukia.
Di jejeran buku-buku resep, Rukia masih berdiri di sana. Ia belum puas membaca satu per satu judul buku yang ingin dibeli. Tidak mungkin ia membeli semua buku itu—walaupun ia sangat ingin melakukannya—jadi, ia harus lebih selektif membeli buku-buku di sini.
Dinding toko buku yang berupa kaca berhasil menggiring mata Rukia hingga menembus ke seberang jalan raya.
Di seberang jalan ada sebuah kafe yang dikunjungi beberapa pelanggan. Bukan karena interior kafe yang tampak elegan yang menarik perhatian Rukia, tetapi karena dua orang pelanggan yang saling duduk berhadapan disana.
Seorang lelaki berambut biru sedang bercakap mesra dengan seorang perempuan berambut hijau.
Pasangan serasi, memang.
Hanya saja yang mengganjal adalah perempuan itu! Dia 'kan perempuan cantik yang disukai kakaknya, perempuan yang Ichigo bilang akan dijadikan kekasih!
"Nii-san," Rukia menahan suaranya agar tidak memekik. Lalu menggaet lengan Ichigo sedikit kasar seraya mendekati dinding kaca. "Itu, bukankah dia gadis yang akan kau jadikan kekasih? Berani sekali dia bermesraan dengan pria lain!"
O-oh, Rukia menganga ketika dari jauh mereka melihat lelaki asing berambut biru tersebut tengah menyeka bibir tipis perempuan di hadapannya yang kotor karena krim cappuccino yang ia hirup.
Melihat kegusaran di mata Rukia, sontak Ichigo merasa akan terjadi sesuatu yang buruk.
"Temui dia, Nii-san! Kau jangan diam saja di sini!"
Gara-gara tidak bisa menahan diri dari berteriak, Rukia mendapatkan tatapan mengerikan dari orang-orang di sekelilingnya.
"Sudahlah, Rukia," Ichigo berpura-pura menenangkan adik palsunya itu. Gawat, dia terjebak dengan kebohongan yang bangun sendiri. "Kami belum jadi sepasang kekasih. Dia berhak berhubungan dekat dengan siapapun," kilahnya lagi dengan wajah bersemu.
"Tidak bisa. Gadis itu harus mengerti perasaanmu."
Aduuuh. Ichigo menggaruk kepalanya yang mulai terasa gatal.
"Kalau begitu kita lakukan sesuatu," Rukia berbisik dengan gigi bergemelutuk.
"Apa?"
"Apa gadis itu tahu kalau aku adik Nii-san?"
Ichigo terkesiap, suaranya mulai terbata-bata. "Sepertinya tidak, aku juga—" Ichigo tidak sempat meneruskan dustanya ketika secara mendadak Rukia menariknya keluar toko buku kemudian menyebarangi jalan menuju kafe.
"Baguslah! Kita berpura-pura jadi sepasang kekasih di depannya," usul Rukia dengan sorot mata berapi-api. "Kemudian kita cari tahu bagaimana reaksinya nanti. Kalau dia terlihat cemburu berarti dia menyukaimu, tapi kalau dia terlihat biasa saja," Rukia menghela napas seraya menepuk lengan atas Ichigo, ia berkata lagi. "Nii-san harus menyerah, dan carilah gadis yang lebih baik dari dia," sambil merapikan penampilan rambutnya, Rukia bersiap-siap untuk bersandiwara.
Rukia berpikir cepat lalu bergerak bagai petir di siang bolong. Ichigo tidak bisa mencegah ide yang muncul dari otak amnesia adik palsunya itu. Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
.
Sesampainya di kafe tersebut, Rukia segera memesan strawberry shortcake andalan kafe di sana. Hati-hati ia menarik pergelangan tangan Ichigo untuk duduk di bangku yang berada dekat di sekitar pasangan tadi.
Kebetulan bangku di belakang lelaki berambut biru ternyata kosong. Mereka duduk di sana sembari mencuri dengar percakapan keduanya—terutama Rukia yang terlihat antusias dan geram dengan sikap si perempuan berambut hijau.
"Grimmjow! Pokoknya kau harus menemaniku pergi ke sana!"
"Itu membosankan, Nell! Aku tidak mau duduk diam di sana menyaksikan kalian berlenggok-lenggok seperti cacing."
"Ayolah, sayang. Itu fashion show internasional pertamaku. Apa kau tidak mau melihatku mengenakan gaun pengantin? Kau hanya perlu datang sambil membawakan bunga untukku."
"Tidak mau. Kau tidak bisa memaksaku, Cantik."
"Grimmjow!" Gadis bernama Nell itu akhirnya memukul keras lengan pria di depannya. Mereka sama-sama tidak mau kalah.
"Akan kubelikan kau perhiasan desain J-Maple, asalkan aku tidak dipaksa untuk ke acaramu. Bagaimana?"
Kontan saja, penawaran tersebut mampu mengganti wajah murung Nell menjadi cerah ceria.
"Ka-kau tidak bohongkan? Benar kau mau membelikan satu untukku? !"
"Iya."
Rukia yang berada tak jauh dari mereka terus merutuki sikap Nell yang terlihat seperti seorang gadis mata duitan.
Dalam hati, ia menggerutui Kurosaki Ichigo yang bisa dengan mudahnya tergoda akan kemolekan gadis penggila fashion seperti itu, huh bukan cuma rambutnya yang hijau, tapi matanya juga hijau.
"Dasar," makinya dengan suara rendah.
Masa' kakaknya tertarik dengan gadis seperti itu, sih?
"Silakan dinikmati kue Anda."
Ichigo membalas sambutan si pelayan yang sudah menghidangkan sepotong strawberry shortcake pesanan Rukia dengan senyum tersimpul.
Sedangkan Rukia, sibuk dengan penilaiannya pada Nell—gadis yang jadikan Ichigo sebagai kamuflase calon kekasih. Ichigo salah tingkah, ia tidak bisa mencegah rasa keingintahuan Rukia tentang sosok Nell.
"Rukia… ini kue yang kaupesan tadi."
Panggilan Ichigo sama sekali tak digubris Rukia. Tak lama dari itu, Ichigo dikagetkan dengan sikap manja Rukia yang kini tengah memotong kuenya dengan garpu.
"Wah! Kelihatannya enak. Ayo, Ichigo, biar kusuapi!"
Ichigo? Terdengar sangat aneh, saat Kuchiki Rukia menyebutkan nama kecilnya.
Sungguh memalukan. Semburat merah muda muncul di kedua belah pipi Ichigo ketika perhatian orang-orang di kafe—tanpa terkecuali pasangan tadi—tertuju pada Rukia yang menyodorkan potongan kue ke depan mulutnya. Dengan sengaja Rukia mengeraskan suara, agar terdengar pasangan tadi.
Ragi-ragu Ichigo membuka mulutnya dengan pasrah. Sudah sepantasnya ia menerima malu karena perbuatan sendiri.
Kue dikunyah Ichigo. Mengecap tekstur lembut nan manis kue suapan dari Rukia itu.
"Adak rim di mulutmu, sayang," tidak peduli dengan kegugupan yang terpancar di mata kakaknya, Rukia terus saja bersandiwara dengan menghapus secuil krim yang menempel di pucuk bibir Ichigo.
Ibu jari Rukia menyentuh pucuk bibir Ichigo. Terasa lembut dan halus, Ichigo bisa merasakan sentuhan itu telah memanjakan bibirnya yang membeku karena perlakuan tiba-tiba sang adik palsu.
Bang! Sandiwara Rukia sukses menarik perhatian target mereka. Mata cantik Nell tak pelak mengarah pada Rukia yang sibuk bermanis-manis pada Ichigo.
Sayang, hasinyal tak sesuai harapan Rukia. Nell hanya melihatnya sekilas, dan tampak tak begitu mengenali kehadiran Ichigo—yang merupakan teman dekatnya. Dahi Rukia mengernyit dalam, tidak suka dengan sikap acuh wanita berbadan sintal itu.
"Ke-kenapa dia mengacuhkanmu, Nii-san?" tanyanya kebingungan bercampur jengkel.
"Mungkin karena ada lelaki biru itu. Sudahlah, sebaiknya kita—"
"Tidak bisa!" Rukia menggeram, kesal sendiri dengan rencananya yang tak berhasil. Sembari memakan kuenya dengan lahap hingga krim di mulutnya tertempel seperti salju, Rukia mengomel, "Kita harus memberi pelajaran pada gadis itu."
Dengan emosi meluap-luap, Rukia berdiri dari kursinya hendak mendekati meja Nell dan lelaki bernama Grimmjow.
Lagi-lagi niatnya dicegah Ichigo, "Kumohon hentikan, Rukia," Ichigo menggertakan giginya. Dia tidak boleh membiarkan Rukia mempermalukan dirinya di depan pasangan itu, "Kami belum punya hubungan apapun," namun ia masih enggan mengakui kalau ia sudah berbohong tentang Nell.
Rukia sudah berdiri ketika tiba-tiba saja Ichigo menahan bahu kecil gadis itu agar tetap duduk bersabar.
.
Merasa tak mengenal dan tak memiliki kesalahan apapun, namun dipelototi sejak tadi oleh mata bulat keunguan Rukia, Nell akhirnya menjadi terganggu.
"Apa ada yang salah denganku, Grimm? Kenapa gadis itu sedari tadi melotot padaku?"
Grimmjow berbalik. Melihat pada seorang lelaki berambut oranye yang kini tengah bicara pada gadis kecil yang duduk di sebelahnya.
"Tidak ada. Ah! Mungkin dia iri pada tubuhmu. Biasa saja, Nell. Tidak usah dipedulikan."
Mendengar sindiran tersebut, sontak Rukia marah. Iri? Apa maksud pria biru itu?
Brak!
Sembari memukul kasar meja di dekatnya, Rukia mulai bangkit dan menatap Nell dengan intensitas kejengkelan yang melangit. Menyadari kalau Rukia akan menghampiri Nell, segera saja, tanpa peringatan lagi, Ichigo menghalau langkah Rukia dengan menahan pinggang gadis itu agar terduduk kembali di kursi kemudian…
Mengecup pucuk bibir Rukia yang dinodai krim kue.
.
Bersambung
.
Iyak! Hampir sebagian pemikiran readers mengarah pada plot klise yang saya inginkan! Persis seperti itu. Tapi, mungkin slot-slot untuk menuju klimaks dan endinglah yang bakal sedikit beda. Terima kasih banyak ya untuk komentar-komentarnya, minna-san :) Maaf tak bisa menanggapi semua pertanyaan minna-san dan sekali lagi pada Tite Kubo, maaf untuk pengerusakan karakter-karakternya:(
