BLEACH TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #07

.

.

Krim kue di pucuk bibir Rukia bersih tanpa bekas hanya dengan sekali cecap. Ichigo merasakan kelembutan juga kegetiran dalam kecupannya. Ketidaksengajaan yang membuat hubungan mereka kembali menjadi canggung.

"Rukia, maafkan—" Ichigo segera memelas, berharap gadis yang tengah syok itu mau memaafkan kecupan tiba-tiba yang dilakukannya secara spontan.

Rukia menutupi bibirnya dengan punggung tangan. Matanya tertunduk malu sekaligus marah, kemudian dengan hati-hati ia melirik ke arah Grimmjow dan Nell yang terpana pada insiden yang baru saja terjadi. Dia tidak mau menanggung malu lebih lama lagi di kafe itu, hingga seraya mengacuhkan permintaan maaf kakaknya, Rukia bangkit kemudian meninggalkan Ichigo yang terpaku diam.

Jantungnya berdebar kencang. Bergemuruh bagai balon berisi air yang bisa pecah kapan saja. Perasaan ini salah, sungguh sangat salah. Kurosaki Ichigo tidak boleh bersikap seperti itu padanya, tidak sepantasnya seorang kakak mencium adiknya sendiri di depan umum. Jika ada yang mengenali mereka, maka fitnah sudah pasti akan menyebar.

Walaupun ini idenya agar mendapatkan perhatian dari wanita bernama Nell. Namun, Ichigo tak seharusnya bersikap senekat tadi. Rukia merasa bibirnya mengering karena—ia seolah pernah mengalami ciuman pertama dengan seseorang. Bibirnya seakan pernah dijejaki oleh sentuhan seseorang yang—argh! Rukia memejamkan kelopak matanya yang gemetar, mendadak dadanya terasa sakit.

"Rukia!"

Setelah meninggalkan beberapa lembar uang di meja kafe, Ichigo berlari menyusul langkah Rukia yang sudah berada di luar kafe. Mengabaikan tatapan bingung dari Nell dan kekasihnya.

"Rukia, tunggu!"

Ichigo memelankan langkah ketika jaraknya sudah berada di belakang punggung Rukia yang terus berjalan tanpa mempedulikannya. Gadis itu sama sekali tidak menyahut panggilannya. Ichigo merasa diabaikan, tidak dipedulikan oleh wanita yang selama ini memperhatikannya. Aneh, ia tersinggung dengan sikap Rukia yang acuh padanya.

Segera Ichigo menarik siku Rukia agar tubuh mungil gadis itu berbalik menghadap padanya. Di tengah keramaian itu ia melupakan segalanya demi mengalihkan perhatian Rukia. Membawa tatapan gadis itu tertuju padanya.

"Kenapa kau marah? Bukankah tadi kita berpura-pura jadi kekasih? Karena itu kita perlu meyakinkan mereka," jelas Ichigo dengan begitu serius. Ada sorot ketakutan dalam mata coklatnya, kecemasan yang membuatnya frustasi.

"Nii-san, tolong lepaskan tanganmu."

Penolakan dari Rukia semakin mengintimidasi Ichigo. Menenggelamkan pemuda yang haus perhatian itu pada ketakutan yang tak beralasan. Baru kali ini, Rukia menolaknya.

Ragu-ragu, Ichigo melepaskan siku Rukia yang ia tahan. Tidak. Dadanya berubah nyeri. Ini sangat aneh. Ucapan dingin dari gadis bermata teduh itu seakan mampu menyihirnya menjadi seonggok patung es.

Tidak, Ichigo tidak mau melepaskan gadis ini. Lantas dengan segala kesombongannya, Ichigo kembali menarik siku Rukia. Kali ini ia sedikit memaksa. Menuntut perhatian adik palsunya.

"Tidak setelah kau memaafkanku," Ichigo mengancam sembari menarik lengan Rukia untuk mengikuti langkahnya menuju halte.

.

"Kecupan di bibir sudah lumrah dilakukan oleh seorang kakak yang menyayangi adiknya. Sama saja seperti aku mengecup pipimu."

Rukia tertegun. Kecewa dengan cara berpikir sang kakak yang terdengar begitu bebas. Namun, ada benarnya juga. Mereka bersaudara, hanya itu pemicu yang membuat Rukia tidak bisa menerima.

Di luar kamar, Ichigo masih berusaha menjelaskan. Memperkeras suaranya agar bisa didengar oleh Rukia yang berada di dalam kamar.

Selama perjalanan pulang tadi, Rukia hanya diam membisu. Setelah pulang pun begitu, ia langsung masuk ke dalam kamar menghindari kontak mata dengan si kakak kemudian mengunci dirinya di dalam kamar dengan duduk di balik pintu yang membatasi antara ia dan Ichigo.

Ia menyembunyikan dirinya dari kenyataan bahwa ia memiliki suatu perasaan lebih dari sekedar saudara pada lelaki di balik pintu itu.

"Aku tidak menyalahkanmu, Nii-san. Kau memperlakukanku seperti itu karena ingin meyakinkan gadis tadi bahwa kita sepasang kekasih. Bisa kumaklumi. Tetapi sejujurnya aku merasa buruk—" Rukia bagai menelan pil pahit saat menuturkan perasaannya yang salah. "Saat kau mengecupku tadi. Aku merasa asing. Kau seperti bukan kakakku."

Ichigo mengusap wajahnya kasar. Apalagi yang harus ia perjelas!

Lelaki itu jengah dengan kebohongan besarnya. Ia bosan menghadapi gadis amnesia yang tengah kehilangan jati diri dan terus-terusan merasa bersalah. Seraya mengambil posisi nyaman dengan duduk di lantai kemudian bersandar di pintu, ia mengistirahatkan sejenak otaknya.

"Sama, aku juga merasa begitu. Saat kau menepis tanganku tadi, kau seperti bukan Rukia yang kukenal. Aku tidak tahu kalau ditolak seseorang menjadi sangat menyakitkan." Waktu dulu, hal yang sama juga pernah ia lakukan pada Rukia. Ketika Rukia hendak menjelaskan sesuatu mengenai kalung dan permintaan maaf, ia menolak keras bahkan mendorong tubuh Rukia hingga membentur tanah. "Tidak diizinkan untuk menjelaskan sesuatu yang sangat ingin dijelaskan. Dibebani rasa bersalah dan penyesalan. Berharap bisa terlepas dari maaf tapi justru tertekan oleh kebencian. Semua yang ingin kita lakukan jadi membuat kita serbah salah."

"Nii-san..."

"Hn?"

"Apa dulu aku punya kekasih?"

Terkesiap pada pertanyaan itu, membuat punggung Ichigo tertegak dari sandaran. Suara halus Rukia terdengar lantang di balik pintu.

Dia tidak tahu apapun tentang kehidupan Rukia.

"Tidak ada," ia kebingungan harus menjawab apa. Hatinya gusar akibat kebohongan baru.

"Ini aneh. Kenapa aku merasa pernah dicium seseorang?"dengan semburat merah dan kerutan dahi yang menjurang, Rukia memastikan lagi. "Ciuman pertama yang mengerikan, bibirku mengingatnya, Nii."

Hati Ichigo mencelos. Mungkinkah, kejadian antara Rukia dan Ggio dulu yang diingat. Jadi—itu ciuman pertama Rukia. Seolah diserang panah di organ hatinya, Ichigo menggeram marah. Hatinya meraung-raung ingin mengamuk. Ingatan yang sudah sekian lama mengabur kini terputar kembali.

Kini hubungan keduanya sama sekali tidak bisa disimbolkan.

Bukan saudara. Bukan teman. Bukan kekasih. Bukan pula musuh.

Mendadak segala hal yang mengelilingi mereka hanya kepalsuan.

Ichigo berdecak lidah lalu mengakhiri pembicaraan menyebalkan ini. "Dulu kau pernah dicium temanku. Karena marah, aku langsung memukul bibirnya dan menghajarnya sampai babak belur. Mungkin itulah mengapa kau merasa ngeri."

Penjelasan palsu yang mengandung kebenaran, Ichigo tersenyum miris.

"Bagaimana bisa aku membiarkannya menciumku?"

"Hentikan pembicaraan ini, Rukia. Keluarlah dari kamarmu dan memasaklah untuk makan malam."

Dipaksanya Rukia agar berhenti membuang-buang waktu dengan pembicaraan cium mencium yang membosankan itu. Ichigo beranjak dari depan kamar Rukia kemudian menuju kamarnya sendiri yang letaknya bersebrangan.

.

.

.

Grimmjow Jaegerjaques berhasil membeli satu unit apartemen yang berada di kawasan pinggiran kota Las Noches. Lelaki sukses berusia dua puluh delapan tahun itu sengaja memilih unit apartemen yang jaraknya memang cukup dekat dengan cabang perusahaan miliknya. Dia bisa berjalan kaki atau hanya dengan menggunakan sepeda untuk mencapai kantor.

Pria blasteran Jepang-Italia itu mengaggumkan. Ia membangun kerajaan bisnisnya dengan usahanya sendiri. Melakukan banyak kerjasama dengan banyak perusahaan property demi mengembangkan usahanya.

Dia tampan dan mapan. Banyak wanita yang tertarik pada pria bermata sebiru langit itu termasuk Nell, wanita muda yang kecantikannya dipuja para lelaki. Grimmjow jatuh hati pada Nell karena bukan hanya cantik, gadis itu mahasiswi ekonomi yang pintar. Perangkat handal untuk dijadikan pasangan sekaligus karyawan perusahaan. Sekali dayung, dua-tiga pulau bisa terlampaui, begitu taktiknya.

Kotak beludru biru yang ia genggam menyimpan sebuah cincin berlian yang baru saja dibeli. Itu perhiasan dari J-Maple yang ia janjikan pada Nell beberapa hari lalu. Setelah memperhatikan kotak cantik itu, Grimmjow mengembalikan si kotak ke dalam saku jasnya.

Oh, sebetulnya ia termasuk ke dalam golongan pria-pria irit. Ia cukup pelit untuk mengeluarkan lembaran uangnya. Namun, demi menggaet sang pujaan hati yang matrelialistis, ia rela melakukan apapun.

Grimmjow memarkir mobilnya di pelataran parkir, kemudian keluar dari benda bermesin itu. Setelah yakin mobilnya terkunci, ia berjalan gontai menyebrangi pelataran parkir menuju gedung apartemen.

Di saat melewati unit-unit apartemen yang bertingkat, ia menemukan seseorang yang dulu pernah dilihatnya di sebuah kafe. Dari jauh ia memperjelas pandangan, matanya yang biru memicing mencoba menyoroti bentuk utuh perempuan yang sedang menyirami bonsai kerdil berpot kecil di sebuah balkon apartemen.

Kepalanya mendongak. Batinnya berteriak penasaran, sebelum akhirnya ia tersenyum samar mengingat kejadian ketika perempuan itu keluar kafe dalam keadaan marah sehabis dicium oleh prianya.

"Hei, kau!"

Bonsai kerdil kesayangan Rukia tertimpa cahaya sore. Pohon mungil yang cantik.

"Kau! Kau yang sedang menyiram bonsai!"

Telinga Rukia bergerak-gerak, merasa ada seseorang yang sedang menyinggung aktivitasnya. Alisnya menukik tajam dengan mata mengarah pada pria tinggi berambut biru yang melambai-lambaikan tangan padanya.

"Dia,"—blush! Rona merah jambu memenuhi pipi Rukia. Laki-laki yang bersama gadis bernama Nell itu.

"Oi, Nona Kecil!"

Grimmjow kembali memanggil ketika gadis yang ia panggil tak kunjung membalas seruannya.

.

.

"Nii-san!"

Secepat angin Rukia masuk ke dalam rumah tanpa membalas panggil lelaki itu. Ia buru-buru mendekati Ichigo yang sedang mengerjakan tugas kuliah. Seraya duduk di sebelah Ichigo, Rukia mengatakan pada Ichigo siapa yang baru saja ia lihat.

"Ini gawat, Nii! Kekasih dari calon kekasihmu itu ada di sini! Dia melihatku!"

Kekasih dari calon kekasih? Ichigo tidak mengerti.

"Bicara yang jelas, Rukia."

"Aduh! Itu—pria biru yang bersama Nell di kafe. Dia ada di sini!"

Ichigo menghela napas. Masalah mereka datang lagi.

"Bukan masalah dia ada di sini. Kenapa kita harus cemas?"

"Dia akan tahu kalau kita bersaudara, Nii. Dan gadis bernama Nell akan tahu kalau kau berbohong."

"Tidak apa-apa," Ichigo menjawab enteng, matanya fokus pada laptop di hadapannya. "Aku sudah tidak menyukai Nell lagi," lalu melanjutkan pekerjaan tanpa mempedulikan kekhawatiran Rukia akan kehadiran lelaki biru tersebut.

Di sela keheningan yang menyergap, bell berbunyi keras memanggil pemilik rumah untuk membukakan pintu. Rukia terperanjat, ia berlarian kecil menuju pintu dan melalui interkom gadis itu mendapati seorang pria berambut biru dengan kemeja sedikit berantakan sedang berdiri di depan pintu demi menunggu pintu terbuka.

"Astaga," ia menutup mulutnya, jantungnya berdebar kencang dan Rukia mulai mondar-mandir di depan Ichigo seperti setrika. "Aduh! Bagaimana ini? Kenapa dia malah bertamu kemari? Ayo Nii, kau harus bersembunyi!"

Eh? Ichigo menoleh dengan rahang mengeras. Bersembunyi dari siapa? Penagih hutang?

Rukia yang ceroboh, mode ini akan muncul setiap kali gadis Kuchiki itu panik. Entah ide dari mana, ia seperti wanita yang tertangkap basah berselingkuh dengan pria lain, lagipula, "Kenapa harus aku yang bersembunyi?" Ichigo memprotes, meski matanya tak bergerak dari layar laptop.

"Karena tadi dia melihatku lebih dulu!"

Bell terus berbunyi. Sementara Ichigo dan Rukia mulai berdebat mengenai siapa yang harus bersembunyi.

"Tidak mau. Kau saja yang bersembunyi," terang Ichigo keras kepala. Lelaki itu lekas beranjak menuju pintu demi memuaskan keinginan si tamu tak diundang.

Sontak Kuchiki Rukia yang kini berstatus Kurosaki Rukia menjadi kalang kabut sendiri.

Setidaknya ia masih bisa menahan suaranya dari teriakan ketika Ichigo telah membuka lebar pintu apartemen mereka dan dalam sekejap menampilkan sosok pria asing bertubuh tinggi.

"Ada yang bisa saya bantu?" Ichigo bersedekap di hadapan Grimmjow dengan tatapan medusa. Dia benci orang asing yang seenaknya mengganggu kegiatan belajarnya hanya karena urusan tidak penting.

"Hai! Kau—oh! Kau juga ada di sini?"

Grimmjow bersikap sok kenal. Ia tersenyum ramah pada Ichigo, sementara matanya berkeliaran ke seisi apartemen yang terlihat. Tak menemukan seseorang yang ia cari-cari, Grimmjow terkekeh seraya mencoba menerobos tubuh Ichigo agar bisa memasuki kediaman.

"Ini rumahku, tentu saja aku di sini."

"Ha? Maaf. Aku kemari karena mau menemui pacar kecilmu itu, di mana dia?"

"Pergilah. Dia tidak mau bertemu orang asing apalagi pria sepertimu." Sambil menutup kembali pintu apartemen, Ichigo kembali mencibir, "Orang sinting."

Karena tak bisa berkata apapun, Grimmjow mendengus. Pria itu benar. Apa urusannya datang kemari? Hanya untuk bertemu gadis itu? Yang benar saja, mereka bahkan tak saling mengenal. Sama-sama asing.

Grimmjow tersenyum hambar. Jauh di dalam relung hatinya, ada perasaan 'ingin' yang tiba-tiba mendorongnya untuk mengenal gadis berambut hitam yang punya mata seungu lavender.

Dia terlalu gegabah. Terlalu bersemangat pada wanita mungil yang bahkan bentuk badannya saja tidak jelas, sekali lagi ia tertawa garing seraya melangkah ke lift. Orang-orang yang melihatnya tersenyum-senyum sendiri menjadi ngeri. Dia benar-benar seperti orang sinting.

.

.

.

Pagi cerah berlangit biru bersih dengan sedikit kemunculan awan, Rukia berinisiatif membuang sekarung sampah yang ia endap beberapa hari ini.

Gara-gara kecupan tak sengaja beberapa waktu lalu makanya akhir-akhir ini Rukia malas melakukan aktivitas di luar rumah meski hanya membuang sampah di depan halaman gedung apartemen. Ditambah lagi kehadiran tiba-tiba si pria biru yang heboh.

"Jadi kalian tinggal bersama?"

Rukia terkesiap. Nyawanya berkumpul di atas ubun-ubun ketika memutar kepalanya seperti burung hantu, ia menemukan pria biru itu tengah tersenyum kecut padanya.

"Ka-kau," Rukia merutuki jantungnya yang berdetak keras.

"Atau kalian sudah menikah?" dengan nada menuntut, Grimmjow menginterogasi gadis yang terpana pada sikapnya. "Jelas-jelas waktu itu aku memanggilmu, kau malah langsung masuk ke dalam apartemen," suaranya sedikit merendah, entah mengapa ia jadi kecewa.

"Oh-tidak! Itu—maaf, kenapa kau harus mengurusi urusan orang lain."

Grimmjow mengatup bibirnya rapat. Untuk kesekian kalinya dia bersikap gegabah, melemparkan pertanyaan seakan-akan mereka bersahabat lama. Kheh, kau dibuat gila, Grimmjow.

"Namaku Grimmjow Jaegerjaques, tetangga barumu."

Mata Rukia menyipit dengan dahi mengkerut. "Kurosaki Rukia," lalu tersadar ketika senyum tulus terukir di bibir pria bernama Grimmjow tersebut, mereka pun berjabat tangan. Dia punya teman baru, itu 'kan hal bagus.

"Kehadiranmu di balkon kemarin mengejutkanku ugh—Rukia, boleh kupanggil begitu?"

Rukia mengangguk, "Tentu saja, Grimmjow."

Dan dalam waktu singkat mereka menjadi teman. Bahkan bertambah akrab ketika dengan antusiasnya, Rukia menceritakan semua mengenai dirinya termasuk sandiwaranya dan Ichigo ketika dulu di kafe.

Semua terbongkar hanya dalam perjalanan dari lantai dasar hingga ke unit apartemen Rukia. Kecuali, amnesia—Rukia tidak mungkin mengatakan rahasia besar itu pada si teman baru.

Bisa terlihat jelas dari tingkah laku Grimmjow, kalau lelaki dewasa itu sangat tertarik pada Rukia. Ini mungkin terjadi untuk pertama kali dalam hidupnya. Grimmjow enggan mengalihkan pandangannya pada wajah manis gadis itu, matanya bagai maghnet yang terus mengikuti gerakan Rukia.

Hingga Rukia telah menutup pintu apartemen, Grimmjow masih tertegun. Berdiri di koridor apartemen dalam keadaan hati yang, ahh bahagia. Rasanya sungguh menyenangkan.

Dia merasa aneh pada sikapnya sendiri yang nekat menunda meeting hari ini hanya demi menangkap basah gadis bernama Rukia dan berkenalan.

.

.

Kurosaki Ichigo membuka flap ponselnya ketika dering ponsel berbunyi di sela kegiatan salah satu mata kuliahnya.

Ibunya menelepon. Mereka berbicara seadanya. Saling menanyakan kabar kesibukan dan kesehatan. Kegiatan lumrah yang sering orang lakukan sebelum memulai topik utama.

"Ibu mau minta tolong, sayang."

Masaki akhirnya mengatakan tujuan sebenarnya menelepon. Ichigo mengiyakan, membisikkan jawaban yang ibunya inginkan.

"Besok, tolong kaukunjungi toko kita di Karakura. Sudah lama ibu ingin ke sana tapi belum sempat."

"Karakura," Ichigo berpikir sejenak, diam menguasai percakapan itu. "Aku tidak bisa Bu, besok, aku punya mata kuliah yang tidak bisa kutinggalkan."

"Ayolah, Ichigo-kun. Hanya kau yang bisa ibu andalkan."

Hati Ichigo mencelos. Suara parau ibunya sungguh sangat mengganggu. Hanya dia yang bisa diandalkan? Ah, ibu yang malang. Bekerja keras sendirian sampai tidak sempat pulang. Bekerja menghidupi anak-anaknya agar hidup layak dan dia… hanya disuruh mengunjungi cabang toko saja tidak mau.

Napas Ichigo memberat, "Baiklah. Akan kulakukan asalkan ibu menjaga kesehatan di sana. Jangan terlalu keras bekerja, Bu. Kau itu 'kan sudah tua."

"Bocah nakal! Sudah tua bagaimana?" Masaki tidak suka dibilang tua, biasalah, ibu-ibu memang selalu begitu. "Lagipula, kalau ibu tidak bekerja, siapa yang akan membiayai sekolah kalian."

Tanpa sadar, Ichigo menggenggam erat ponselnya. Ibunya yang malang.

"Ibu benar."

"Bantu ibu, Ichigo. Dan—kuliah lah yang rajin, agar apa yang ibu lakukan untuk kalian tidak jadi sia-sia. Mengerti?"

"Ya."

"Kalau begitu sampai jumpa ya, sayang."

"Iya. Sampai jumpa, Bu."

Percakapan berakhir. Sebetulnya, ia tidak punya jadwal kuliah. Itu alasan agar ia tidak harus dipaksa mengunjungi toko dan berlagak seperti direktur yang memimpin sebuah perusahaan besar.

Dia tidak akan mengenakan kemeja dan jas seperti yang ia lakukan tahun lalu, uhh memalukan sekali. Biar saja, besok dia akan memeriksa toko dengan pakaian kasual seperti biasanya. Terserah jika ia menjadi buah bibir di kalangan karyawan. Ia tidak peduli lagi.

.

.

Usai memasukkan password pintu yang cuma diketahui olehnya dan Rukia, Ichigo melangkah masuk ke apartemen dengan punggung membungkuk. Ia kelelahan, hari ini tenaganya diporsir habis untuk tugas menumpuk yang ia selesaikan di perspustakaan.

"Aku pulang."

Dahinya mengerut. Tidak ada suara perempuan yang biasanya membalas salamnya. Kemana gadis itu, "Rukia!"

Kosong, Rukia benar-benar tidak ada di apartemen. "Gadis itu, sudah kubilang jangan keluar rumah sendirian," gerutunya sedikit getir. Lekas ia melepaskan ransel kemudian kembali keluar apartemen, mencoba mencari Rukia yang mungkin saja berada di sekitar gedung.

.

"Tidak perlu mengantarku, Grimm. Apartemenku 'kan ada di lantai atas."

"Jangan sungkan begitu. Aku belum mau berpisah denganmu," Grimmjow tersenyum kecil seraya terus berjalan di sebelah Rukia menuju lift. "Terima kasih ya, kau mau berkunjung ke apartemenku."

Rukia mendecakkan lidah, "Kau bicara seolah apartemen kita berjauhan. Dasar paman-paman."

"Paman-paman? ! Hei, usia kita cuma beda delapan tahun. Dan—penampilanku tidak seperti paman-paman. Aku masih muda, Rukia," rutuknya dengan senyum masam. Astaga, dia memang seperti pria pedofil jika sedang mengobrol dengan gadis kecil ini.

Melihat Grimmjow bermuka masam, Rukia tertawa hingga gigi-giginya terlihat mengintip dari kedua belah bibirnya. Rasanya… baru kali ini ia tertawa bebas.

Mereka telah keluar lift, ketika Rukia menyadari kehadiran kakaknya yang berdiri tepat di muka lift yang terbuka. Saat itu dia masih tertawa, entah kakaknya itu melihat atau tidak, tetapi dalam sekejap tawanya berhenti.

.

Ichigo menunggu lift terbuka dengan cemas yang menyusup perlahan. Namun sekejap saja kecemasannya menghilang, ketika lift terbuka sudah membawa Kuchiki Rukia ke hadapannya dalam keadaan baik-baik saja juga… tertawa.

Ichigo sesaat terpana, baru kali itu ia melihat Rukia tertawa, bebas tanpa beban.

Lalu rasa leganya berubah buruk. Hatinya menciut melihat seseorang yang berdiri di sebelah adik palsunya itu, seorang pria yang berhasil membuat Kuchiki Rukia tertawa.

"Nii-san," sebut Rukia dengan senyum sumringah dan entah apa yang Ichigo rasakan, senyum itu seakan sedang menertawai dirinya.

Grimmjow dan Rukia sudah keluar lift. "Hei jadi kalian bersaudara," Grimmjow dengan riang hendak menyalami Ichigo sebagai perkenalan. Namun sedikitpun ia tak mendapatkan perhatian dari Ichigo.

"Dari mana saja kau? Aku mencarimu sejak tadi," Ichigo melirik sekilas pada Grimmjow sebelum kemudian ia menarik lengan Rukia untuk berpindah ke sisinya dan membawa gadis itu kembali ke apartemen mereka.

Tidak ada kesempatan bagi Grimmjow untuk mengucapkan salam berpisah, karena kakak gadis itu sudah membawa pergi Rukia.

Beberap detik kemudian, Grimmjow tersenyum cerah saat Rukia berseru, "Sampai bertemu lagi ya, Paman Grimmjow!" Senyum cerah menghiasi ketersinggungannya ketika Rukia menyebutkan namanya dengan menggunakan kata paman. Ahh, setidaknya aku tampan 'kan? Pujinya pada diri sendiri, lalu kembali ke dalam lift.

.

"Kenapa kau bicara dengannya?" Ichigo bertanya dalam geraman. Dia tidak suka Rukia bicara dengan orang asing, terlebih lagi seorang pria.

"Kami berteman, Nii. Dia tetangga baru di sini."

"Bukan dia yang kutanyakan, tapi kau! Harusnya kau bisa menjaga diri dan tingkah lakumu, Rukia."

Rukia terperangah. Apa yang salah pada tingkah lakunya? "Apa maksud Nii-san? Memangnya tingkah laku seperti apa yang harus kujaga?"

"Berlagak manis di depan orang lain dan apalagi—oh! Mengumbar tawa, astaga, kau seperti gadis SMA yang sedang menjual diri pada pria eksekutif."

Sekejap hati Rukia merasa diiris-iris. Kakaknya berprasangka negatif, ia bisa memaklumi. Tapi Rukia tidak habis pikir jika kakaknya berpikiran sejauh itu, bagaimana dia bisa berpikiran sehina itu mengenai dirinya? Melemparkan kata-kata menyakitkan seraya memandanginya dengan tatapan merendah.

"Nii-san," bisik Rukia dengan tenggorokan tercekat. "Kenapa kauberpikir seperti itu?"

Ichigo seakan-akan dicekik oleh kata-katanya sendiri. Tidak—dia tidak bermaksud mengatakan hal buruk seperti tadi. Dia hanya—"Aku lelah. Besok kau harus menemaniku pergi ke luar kota," ucapnya seraya meninggalkan Rukia yang terpekur.

Benarkah ia harus mengajak Rukia ke Karakura? Ichigo belum bisa berpikir jernih, hatinya kecewa dan kepalanya pening.

Di dalam kamar, Ichigo berulangkali menggeram pada diri sendiri sembari mencengkram kedua kepalanya yang dipenuhi tawa Rukia.

Sungguh bukan tawa Rukia yang mengganggunya, melainkan tawa Rukia di hadapan pria lain yang membuatnya sulit menenangkan diri.

Dia merasa aneh. Gadis itu tidak pernah sekalipun memperlihatkan tawa bebasnya pada Ichigo, sama sekali tidak pernah… Ichigo membanting punggungnya di atas tempat tidur. Pikirannya mulai melayang pada masa-masa dulu, masa dimana hatinya yang terus berseteru dengan logikanya.

Masa dimana ia sangat membenci gadis yang pernah ia sukai. Perasaan suka yang dulu getas sekarang perlahan kembali tersambung. Rasa itu terbit menerangi rasa bersalahnya selama ini.

"Kuchiki Rukia…"

Ichigo menggumamkan nama Rukia ketika matanya akan terpejam. Bagaikan kutukan, nama itu seakan memantrainya untuk mati dalam tidur.

.

Bersambung

.

Terima kasih banyak untuk riviewers part-6:

Zircon-mercon, Azura Kuchiki, Izumi Kagawa, Ichirukilover30, KeyKeiko, Shinichi-kudosaki, Summer Chii, Jessi, Unanimous, darries, raracchi, Mr. Krabs, nifa, aeni hibiki, En'z, Always Ichiruki, Namikaze Resta, Widya, males log in, gembok tanpa kunci. (Semoga sudah disebutin semua:) )

Ditunggu riviewnya ya minna-san, selagi saya bikin part#08 :D