BLEACH TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #08

.

.

Kurosaki Ichigo bercermin. Mematut penampilannya yang tampak seperti pria eksekutif muda. Setelan jas dan kemeja dengan merk berkelas, tanpa dasi, ia jauh lebih segar dan tidak kaku. Daripada pria dewasa berambut biru yang membuat Rukia tertawa kemarin, dia sekarang tidak kalah tampan. Seraya menggosok rambutnya yang disemir rapi dengan telapak tangan, Ichigo mencoba tersenyum. Persiapan selesai, setelah mengambil kunci mobil yang ia sewa dari rental mobil, Ichigo melangkah keluar kamar.

Hari ini bersama Rukia, ia akan mengunjungi toko perhiasan ibunya yang berada di Karakura. Untuk kesekian kali pula Ichigo berdusta pada gadis amnesia itu, mengatakan kalau toko yang akan dikunjungi adalah toko temannya.

Kebohongan kecil yang menumpuk, akan menjadi kebohongan besar yang lain. Tapi Ichigo tidak peduli. Sampai ketika Kuchiki Rukia pulih, ia baru akan melepaskan gadis yang diam-diam telah mengganggu tidurnya beberapa hari ini. Baru ia akan bercerita jujur dan dengan pikiran optimis, ia yakin, Rukia akan berterima kasih dengan semua yang ia lakukan.

Rukia sudah berdandan cantik. Ia mengenakan kaos yang dibalut dengan rompi biru, lalu rok sepanjang lutut. Namun pagi itu wajahnya tak secerah biasanya.

Ichigo menyadari sikapnya yang keterlaluan kemarin sore, tetapi wajar saja jika ia marah, gadis itu bukan sekali dua kali ini melanggar peraturan. Terlebih lagi, kemarin sore ia terlalu lelah untuk bisa mengendalikan diri.

"Kau sudah siap?" Ichigo berkata lembut, matanya yang coklat mencoba meneliti kesiapan Rukia yang kini tengah berjalan menuju meja makan.

"Kita sarapan dulu, baru pergi."

Ichigo mendesah, ia sungguh malas memulai pertengkaran. "Baiklah," segera ia menyusul ke meja makan yang sudah tersaji nasi dan telur gulung. Ya Tuhan, apa jadinya jika tidak ada Rukia di rumah ini? Mungkin ia hanya akan makan mie instan setiap waktu.

.

"Mobil siapa ini?"

Kuchiki Rukia—Kurosaki Rukia, menelisik perlengkapan mobil berjenis sedan yang ia tumpangi. Lalu kepalanya beralih menghadap Ichigo yang mulai memutar kunci mobil.

"Aku menyewanya di rental mobil. Lebih praktis kalau kita menggunakan kendaraan pribadi."

"Kau sempurna, Nii. Bisa segalanya. Pintar, tampan dan bisa menyetir." Rukia memuji dengan nada menyindir, "Sedangkan aku tidak bisa apapun. Kita sama sekali tidak mirip ya?"

"Kau pandai memasak, Rukia," Ichigo berkata tulus tanpa mengalihkan kesibukannya yang sedang menghidupkan mesin mobil. Pun perhatian Rukia yang terpaku pada wajah gusar kakaknya, entahlah, ia merasa tak seberuntung orang lain. Sikap kakaknya terlalu dingin dan serius.

"Kita mau kemana?"

"Temanku meminta tolong untuk memeriksa cabang tokonya di Karakura."

"Karakura."

Diliriknya Rukia dengan hati-hati, memperhatikan reaksi bingung yang gadis itu tunjukkan. Apakah, ada yang diingatnya? Ichigo membatin.

Mobil mereka melaju stabil, menelusuri jalanan lengang. Masih terlalu pagi oleh karena itu jalan di sudut kota Las Noches itu masih sepi. Seiring laju mobil bergerak, perlahan sinar matahari menyingsing di ufuk Timur. Rukia membuka kaca mobil di sisinya, meloloskan cercahan-cercahan sinar menerpa wajahnya yang murung.

Kata-kata Ichigo sore kemarin meninggalkan rasa sakit yang belum hilang, pria kasar itu sama sekali tidak tahu bagaimana terlukanya Rukia karena prasangka negatif yang ia cecarkan seenak perut padanya. Rukia merasa familiar dengan tatapan merendah Ichigo, ia seolah sering mengalaminya setiap kali beradu pandang dengan sang kakak. Tapi kenapa—ia tidak bisa mengingat apapun? Dada Rukia memberat, kepalanya mendadak pening.

"Kau baik-baik saja?" Ichigo melirik Rukia yang tengah menahan kepala dengan jemari.

"Aku baik-baik saja, menyetirlah dengan benar, Nii."

Ichigo kemudian mengalihkan pandangannya pada jalanan di depan, berkonsentrasi pada alat kemudinya.

Mereka hampir melewati perbatasan kota.

Masih butuh waktu satu jam lagi untuk sampai ke Karakura dengan melewati jalan pintas. "Harusnya aku tidak usah mengajakmu tadi?" sesal Ichigo ketika dirinya mulai jengah dengan kebisuan Rukia.

"Kau pasti lebih suka di rumah lalu diam-diam keluar rumah menemui tetangga barumu itu. Tidak di sini, berada di dalam mobil bersama seseorang yang membosankan sepertiku."

"Nii-san bicara apa, sih?" Rukia menghelas napasnya, kerutan di dahinya semakin menjurang. Menyimpan kesal.

"Kau mengerti maksudku, Rukia."

Kalau begitu sekalian saja dia berterus terang. Rukia menatap sinis Ichigo yang sedang serius menyetir, "Aku tidak mengerti maksudmu. Kau—biasanya menahanku di rumah, mengurungku jika setiap kali kau pergi jauh, selama ini aku menuruti kata-katamu. Dan yang menjadi pikiranku, kenapa sekarang Nii-san yang berdandan rapi ini mau repot-repot mengajak adiknya yang amnesia berjalan jauh? Dan jangan bilang kalau kau cemburu karena aku berteman dengan Grimmjow."

"Cemburu?" Ichigo tersenyum mengejek, memangnya atas dasar apa ia punya perasaan semacam itu, "Kau adikku. Aku hanya mencemaskanmu. Bukan cemburu."

"Terserah bagaimana perasaanmu. Tetapi kau tidak punya hak mempermalukanku di depan orang lain, dan—mengucapkan kata-kata seburuk kemarin."

"Kalau begitu maafkan aku," Ichigo bergumam, matanya terus menatap ke jalanan di depannya tanpa memperhatikan raut terluka yang Rukia tunjukkan.

"Selalu saja begitu. Maaf, maaf, dan maaf setelah itu semuanya selesai." Rukia mengoceh, ia sungguh tidak bisa menahan diri lagi atas perlakuan Ichigo yang menurutnya begitu lalim. "Kau berbuat salah lalu menyesal dan minta maaf lagi—"

"Lalu apa maumu, hn? Sebuket mawar lagi, sebongkah berlian, atau apa? Akan kuberikan selama tidak menguras uang tabunganku?"

Sungguh, Rukia terhenyak. Ia merasa harga dirinya menguap dengan kata-kata Ichigo.

"Bukan itu. Aku hanya ingin Nii-san lebih menghargaiku," suaranya bergetar, menawan mata Ichigo yang terfokus pada setir mobil.

"Kalau kau ingin dihargai, sebaiknya kau menghargai orang lain dulu, Rukia."

"Apa maksud Nii-san? Apa yang tidak kuhargai dari ketidakpedulianmu? Sebagai manusia kau cukup baik, tapi sebagai kakak, kau sangat buruk."

"Bisa kau berhenti bicara? !"

Sekali itu Ichigo menggeram kemudian detik selanjutnya ia mengerem mobil mereka secara mendadak.

Decitan mobil terdengar, dan dalam waktu bersamaan suara benturan dari kap mobil belakang juga terdengar. Diiringi bunyi klakson keras, menarik perhatian Ichigo dan Rukia untuk menoleh ke belakang—melihat dengan jelas kalau kap depan sebuah mobil sport telah menabrak kap belakang mobil sewaan Ichigo.

Sesegera mungkin Ichigo keluar dari mobil, memastikan mobil sewanya itu dalam keadaan baik. Begitu pula seseorang yang mengemudikan mobil sport tadi, buru-buru keluar dari mobil dalam keadaan emosi memuncak.

"Sial! Lihat apa yang sudah kaulakukan pada mobilku? !" teriaknya memaki Ichigo yang terpaku pada kap depan mobil sport yang tergores. "Ya, ampun! Kau harus memperbaiki ini, sialan!" wanita yang usianya sepertinya sudah berkepala tiga tersebut mengumpat tidak jelas di tengah jalanan yang masih lengang.

Rukia beranjak keluar mobil. Menyaksikan sang kakak dimaki seperti itu, membuat darahnya memanas. Dia berlarian kecil seraya memeriksa asal suara benturan tadi. Astaga, ini sih memang kesalahan Ichigo yang berhenti mendadak sehingga menyebabkan kendaraan di belakang mereka ikut berhenti dan tabrakan bisa dipastikan akan terjadi.

Tetapi, wanita itu tidak berhak mengumpat terus begitu. Tidak ada solusi sama sekali, Rukia diam memperhatikan si wanita berambut pirang keoranyean tersebut mondar-mandir tengah berusaha menelepon seseorang.

"Maafkan kami, Nona. Kalau Anda tidak keberatan, saya bisa mengganti kerusakan mobil Anda ini?" Ichigo berujar, memandangi mata biru wanita itu dengan serius. Dengan uang, semua pasti bisa diselesaikan.

Wanita itu mencibir. Kata-kata Ichigo telah menelan kepanikannya akan insiden yang baru saja terjadi. Namun untuk menjawab pertanyaan si pelaku, wanita itu perlu bertanya pada lelaki yang tertidur di dalam mobil sebagai si pemilik mobil sport berlapis warna putih.

"Gin! Dasar, tukang tidur. Cepat bangun sebentar!"

Lelaki bernama Gin membuka mata sipitnya, "Ada apa, Rangiku?"

"Mobilmu dirusak, tuh! Lihat dulu sana!"

Pasangan itu mendekati Ichigo dan Rukia.

"Wah, sial sekali. Kau tahu ini mobil sport mahal, Bocah," gerutu Gin sambil menyentuh kap mobilnya yang lecet.

Melihat sikap Gin dan Rangiku yang berlebihan menghadapi luka gores di mobil membuat emosi Rukia bergejolak. Ia tak tahan untuk tidak berkomentar, "Itu hanya tergores, Tuan. Anda lihat mobil kami jauh lebih parah."

Pria bernama Gin berdiri lalu memandangi Ichigo dan Rukia secara bergantian.

"Siapa di sini yang salah, Ran? Kita atau mereka?" tanyanya menoleh pada Rangiku, karena wanita itu yang menyetir mobilnya.

"Tentu saja mereka! Mereka ini berhenti mendadak, makanya aku yang mengemudi di belakang tidak tahu dan kau, lihat! Apa yang terjadi sekarang? !" Penjelasan dari wanita itu benar. Membuat Ichigo dan Rukia terpaku. "Mereka mau mengganti kerugiannya, Gin. Katakan saja berapa harga memperbaiki ini?" si wanita akhirnya mulai lelah berdiri di jalanan yang mulai terik tersiram matahari pagi.

"Lima juta," Gin menyeringai menunjukkan kelima jarinya di depan wajah Ichigo.

Sontak Rukia yang merasa harga ganti rugi tak sebanding dengan kerusakan segera memprotes.

"Itu pemerasan namanya! Bagaimana bisa harganya semahal itu?"

Ichigo berdehem, "Tidak apa-apa, Rukia. Kita bisa menggantinya." Jawab Ichigo tenang sembari mengeluarkan dompetnya yang hanya berisi beberapa lembar uang, ia hanya punya ATM sedangkan cek miliknya tak pernah ia bawa. "Bisa Anda berikan nomor rekening Anda, saya tidak membawa uang tunai."

"Nii-san! Kau jangan mau ditipu, orang-orang ini—"

"Sudahlah, Rukia. Ini memang kesalahan kita, yang pasti kesalahanmu," diliriknya Rukia dengan pandangan sinis, mengancam gadis itu agar berhenti bicara.

Rangiku, si kekasih lelaki berambut perak tersebut terkekeh. Tersenyum mengejek, "Sombong sekali. Kau tidak punya uang tunai atau tidak sanggup membayarnya?"

"Bukan begitu, Nona. Ganti rugi ini tidak adil—" Rukia menatap horror pada wanita yang jauh lebih tinggi darinya. Mengabaikan ancaman Ichigo yang menyuruhnya untuk berhenti memprotes. "Lagipula kami tidak sekaya itu," lanjutnya dengan suara sedikit rendah.

Lelaki bernama Gin menghampiri Rukia yang masih ngotot membela diri.

"Kalau salah mengaku saja, Adik Kecil. Jangan sok benar," ujar Gin sembari hendak menyentuh pipi Rukia yang memerah karena malu.

Belum sampai pipi Rukia disentuh lelaki asing bernama Gin, tangan lelaki itu sudah keburu dihalau Ichigo. "Tolong kaujaga tanganmu, Tuan," tekannya pada Gin dengan tatapan mematikan. Ia menghalangi pandangan mesum pria itu dari tubuh Rukia yang kini sudah berada di belakangnya. "Sebutkan saja berapa nomor rekeningmu, atau aku tidak akan menggantinya sama sekali."

"Oh-oke. Kaumenang. Berikan nomor rekeningmu saja, Ran."

Gin berbalik, kembali ke dalam mobil. Sedangkan Rangiku menyebutkan nomor rekeningnya pada Ichigo yang menuliskannya di dalam ponsel untuk disimpan.

.

Rukia membanting pintu mobil, kemudian menghempaskan punggungnya untuk bersandar di jok mobil. Matanya memelototi jalan di depan seraya mengambil posisi duduk dengan bersedekap.

Dia sama sekali tidak menoleh pada Ichigo yang juga diam di sebelahnya sambil memutar kembali kendali mobil. Hawa dingin menyergap di antara kedua orang itu.

Kenapa yang dilakukannya selalu tidak benar di mata si kakak? Rukia meragukan perasaan Ichigo padanya. Kakaknya itu tak pernah memperlakukannya sebagai adik yang disayangi. Jelas-jelas dia tadi berusaha untuk membela, tapi Ichigo malah membentaknya.

Gadis berperawakan kecil itu mengalihkan pandangan ke samping jendela mobil, benar-benar enggan berinteraksi bahkan melakukan kontak mata pada kakaknya. Dia merajuk. Kesal pada kakaknya, pada dirinya sendiri dan pada amnesia sialan ini! Tak sedikitpun apa yang ia lakukan bersama Ichigo membuatnya teringat sesuatu, ah… dia lupa kejadian di kafe waktu itu. Cuma kecupan yang mengerikan, dan ia berusaha untuk melupakan bayangan tersebut.

Tidak tahan dengan suasana yang hening ketika menyetir, Ichigo menyalakan perangkat musik di mobil. Dalam sekejap, Rukia menolehkan kepala ke arah Ichigo yang tengah memasang musik bergenre rock dengan volume keras. Dan hanya dengusan payah yang meluncur dari bibirnya.

Kali ini Rukia tidak berani memprotes. Ia kembali membuang pandangannya pada tepi-tepi jalan yang dihiasi pepohonan dan…

Perkebunan mawar?

Dari jarak pandangnya, Rukia mendapati sekumpulan warna merah yang menumpuk di satu sudut, entahlah, terlihat cukup jauh. Mungkin beberapa meter dari jalan raya itu. Gadis itu sangat suka bunga mawar, mawar merah.

Ichigo menangkap wajah murung Rukia dari ekor matanya. Ini wilayah Seiretei, perlintasan yang akan membawa mereka ke Karakura. Dulu ia pernah tersesat di sini setelah dirampok orang, lalu kebetulan konyol pun terjadi, ia bertemu Kuchiki Rukia di sana. Di perkebunan itu.

"Apa kauhaus?" Ichigo berbasa-basi, menyentakkan kemurungan yang menutupi wajah Rukia.

Rukia menggelengkan kepala. Matanya masih terpukau pada perkebunan mawar nun jauh di sana, yang perlahan mengecil lalu menghilang sepenuhnya dari pandangan.

"Aku pernah melihatnya, aku merasa pernah pergi ke sana."

"Kemana?"

"Perkebunan mawar…"

"Kau menyukai mawar. Makanya kau merasa seperti itu."

Seraya menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya, Rukia kembali menenangkan diri. Mungkin ucapan kakaknya itu benar, dia hanya menyukai bunga beraroma harum itu.

"Oh ya, Rukia," panggil Ichigo, mencoba mengalihkan perhatian Rukia dari perkebunan mawar. "Nanti saat di toko, kau jangan memanggilku nii-san."

"Apa?" lagi-lagi ia dibuat tidak mengerti.

"Panggil saja aku, Kurosaki-kun, Ichigo-kun atau yang lainnya. Aku bilang akan berkunjung ke toko bersama teman. Jadi, yakinkan kalau kau bukan adikku."

Rukia menggigit bibirnya, "Bagaimana kalau karyawan-karyawan di sana mengenaliku?"

"Tidak mungkin," Ichigo berkata mantap. Lelaki itu ingin tertawa. Bagaimana mungkin orang-orang di sana mengenalimu? Ejeknya dalam hati.

"Kenapa tidak berkata jujur saja? Katakan kalau aku adikmu."

"Jangan membantah, Rukia. Ikuti saja kata-kataku," sembari mempercepat laju mobil, Ichigo kembali menjelaskan. "Mengalahlah untuk kali ini," pungkasnya lagi.

Sebetulnya alasan Ichigo sederhana saja, bukan? Bagaimana mungkin dia mengatakan pada karyawan-karyawan ibunya kalau gadis ini adalah adiknya? Sedangkan mereka semua mengenal Karin dan Yuzu.

"Jadi kau mau balas dendam padaku?"

Kata-kata Rukia tentang dendam sontak membuat mata takut Ichigo teralihkan pada mata ungunya. "A-apa kau bilang?" dahinya mengkerut.

"Nii-san mau kita berpura-pura jadi sepasang kekasih seperti di kafe waktu itu 'kan?"

Dan ucapan Rukia ini membuatnya bernapas lega, "Bukan… aku hanya ingin kita berteman. Berperanlah sebagai temanku yang baik."

Sekilas Rukia melihat senyum tipis di bibir Ichigo. Senyum beku yang manis.

"Baik," gadis itu menyerah, senyum kakaknya sudah menghipnotisnya untuk pasrah dan menuruti perintah. "Akan kulakukan, I-chi-go," cibirnya sembari mengeja nama Ichigo dengan gigi bergemelutuk. "Tapi, aku tidak mau ada insiden kecupan seperti kemarin," gerutunya kemudian.

Pipi Ichigo merona, wajah dingin Ichigo yang menghangat itu akhirnya tertangkap mata kamera Rukia.

.

J-Maple, toko perhiasan milik keluarga besar Kurosaki. Dari sanalah Kurosaki Masaki membangun kerajaan bisnisnya dan menjual hasil desainnya yang indah ke seluruh dunia. Toko itu bisa jadi penopang hidup Ichigo dan adik-adiknya setelah ayahnya wafat.

Interior toko tampak sederhana dibandingkan dengan nama besarnya. Dipoles dengan warna oranye—seperti daun maple yang berjatuhan di musim gugur, biru dan motif Kristal salju menambah keserasian gradasi toko yang elegan.

Rukia berdecak kagum ketika kakinya terus melangkah mengikuti Ichigo.

Saking terpesona dengan semua yang ada di dalam toko, gadis itu tidak tahu kalau saat mereka berjalan tadi beberapa karyawan menunduk hormat—terutama pada kehadiran Kurosaki Ichigo yang berjalan gontai melewati mereka.

"Dimana manager?" Ichigo langsung bertanya ketika salah seorang karyawan toko menghampirinya.

"Akan saya panggilkan, Kurosaki-sama."

Ichigo lekas meletakkan telunjuknya di depan bibir, "Jangan memanggilku Kurosaki-sama, Kurosaki-san saja, oke." Ia menoleh pada Rukia yang sibuk memperhatikan jejeran perhiasan yang berkilau di dalam etalase.

Memang sudah naluri. Dimana-mana wanita memang seperti itu, sekalipun ia mengalami amnesia, gadis itu tidak akan lupa tentang perhiasan-perhiasan mahal.

"Baik, saya mengerti. Silakan tunggu di sini, Kurosaki-san."

"Tidak usah. Biar aku saja yang menemui manager," elak Ichigo sembari mendekati Rukia sebentar, ia memperingatkan gadis yang matanya tengah berbinar-binar karena melihat permata itu. "Ada yang harus kuurus sebentar. Kau di sini saja, ya. Pilih mana yang kaumau. Akan kubelikan satu untukmu."

"E-eh?"

"Itu sebagai balasan terima kasih dari temanku, tenang saja."

Rukia masih menganga ketika Ichigo telah berjalan menjauhinya. Perhiasan-perhiasan di sini mahal. Semuanya aksesoris mewah, bagaimana mungkin dijadikan sebagai 'hadiah terima kasih'. Ah, teman kakaknya itu pasti orang kaya yang berhati baik. Rukia tersenyum-senyum sendiri, ia suka barang gratis apalagi perhiasan gratis, "Bisa tolong kauperlihatkan cincin ini?"

Karyawan yang dimintai tolong tersebut segera mengambilkan cincin yang Rukia maksudkan. Tanpa sadar Rukia menggigit bibirnya, memperhatikan betapa mahalnya harga cincin yang ia inginkan. Tidak—tidak boleh, sebaiknya ia memilih perhiasan yang agak murah saja. Ta-tapi, di sini mana ada yang murah!

.

"Oh, Kurosaki-san! Bagaimana kabarmu?"

Seorang pria paruh baya berpenampilan kuno dengan pakaian hijaunya segera menyalami Ichigo.

"Kau bisa lihat sendiri keadaanku, Urahara-san."

Urahara Kisuke tersenyum kecil. Lelaki yang sudah lama bekerja dengan keluarga Kurosaki itu sudah mengenal dengan baik perangai putra dari Masaki ini. Tidak suka berbasa-basi.

"Ibu menyuruhku untuk mengunjungi toko."

"Hanya mengunjungi?"

"Tidak," Ichigo mendekati tepian jendela kaca dari ruangan khusus manager tersebut. Mata coklatnya beradu langsung dengan warna langit di luar sana. "Sekalian memeriksa hasil penjualan di sini dan mungkin—ada beberapa hal yang dibutuhkan?"

"Oke! Kau mau mulai darimana? Melihat-lihat desain baru ibumu?"

"Mulai dari laporan grafik hasil penjualan," jawab Ichigo sambil mengambil posisi duduk di kursi kerja Urahara-san, ia membuka beberapa map yang telah disiapkan si manager.

"Apa kau datang kemari sendirian?"

"Aku kemari bersama teman," sahut lelaki muda itu, matanya tetap fokus pada dokumen-dokumen yang dibaca.

"Aihh! Teman atau kekasih? Sekali-sekali bawalah kekasihmu kemari, Kurosaki-san."

"Aku tidak punya kekasih."

Urahara-san tergelak, matanya menyipit menahan tawanya yang akan meledak. "Jadi gadis yang kauajak kemari tadi itu temanmu, hn? Aaah, sayang sekali. Aku belum bisa memberikan kabar gembira pada Masaki."

"Kau—tahu darimana aku membawa gadis?"

"Aku melihatnya dari jendela," Urahara mengedipkan satu matanya pada Ichigo, kemudian ia beranjak menuju pintu hendak menemui gadis yang Ichigo bawa. Namun belum sempat langkahnya mencapai pintu, Ichigo segera mencegahnya.

"Kau tidak boleh kemanapun sebelum aku menyelesaikan ini, Urahara-san."

"Ayolah, Kurosaki-san. Kau periksa saja sendiri, aku akan menjamu tamuku dulu."

"Tidak bisa!"

Helaan napas terluncur dari Urahara. Ia mengalah, dan dengan pasrah ia pun kembali duduk di sofa menunggu hingga Ichigo menyelesaikan pekerjaannya.

.

Urahara Kisuke bercerita banyak pada Ichigo mengenai perkembangan bisnis mereka. Sungguh, toko mereka tak pernah sepi pelanggan. Setiap hari meski tak seramai hari-hari spesial, J-Maple selalu didatangi pengunjung lokal bahkan luar negeri. Dedaunan maple milik keluarga Kurosaki berterbangan hingga ke mancanegara. Tidak bisa dipungkiri, jika itu semua hasil kerja keras sang ibu dan pegawai-pegawai setia mereka. Sedangkan, Ichigo belum pernah mau terjun ke binis ini, itu bukan profesi yang ia inginkan.

Sekali-sekali dia hanya akan membantu hal-hal kecil seperti ini saja—memeriksa grafik penjualan atau menghadiri acara yang diselenggarakan ibunya dan kolega-kolega perusahaan—dia berharap bisa meneruskan cita-cita ayahnya. Ibunya juga tak pernah melarang atau memerintahnya untuk bekerja sebagai apa. Toh, masih ada Yuzu yang mewarisi bakat sang ibu. Kalau Karin, sih… tidak, adiknya yang satu itu jangan diharap bisa berbisnis, apalagi perhiasan? Memakai kalung dan cincin saja membuat sekujur tubuhnya gatal.

Laporan yang disusun Urahara-san begitu rapi dan detil. Ichigo tidak merasa susah saat memeriksanya, meskipun ia bukan dari jurusan ekonomi. Namun karena terbiasa dengan laporan akurat sang manager, ia bisa dengan jeli memeriksanya.

Ichigo menutup map terakhir, kemudian menepuknya satu kali.

"Selesai! Terima kasih untuk laporanmu, Urahara-san. Kau selalu bisa diandalkan."

"Sama-sama. Senang bisa membantumu."

Sambil berdiri lalu mendekati Urahara yang tengah menyesap teh hijaunya. Ichigo duduk di samping sahabat ibunya itu, "Bagaimana kabar Yoruichi-san?"

"Ah, wanita itu semakin gila kerja."

"Bercermin dulu baru mengejek istrimu. Kau sendiri juga begitu."

Urahara-san menyeringai, seraya mengerutkan matanya pada Ichigo. "Wajar kalau pria gila kerja, kalau pria pemalas bagaimana bisa menghidupi keluarganya. Lagipula, ini semua salah ibumu?"

"Apa maksudmu?"

"Yoruichi selalu bilang 'aku harus sukses seperti Masaki!' makanya dia jadi melupakan suaminya," Urahara mengerem mulutnya, ujung matanya memperhatikan senyum Ichigo yang hambar. "Yah, dia juga bilang, 'kita harus punya putra seperti Ichigo!' ahh—dasar, seharusnya dia mensyukuri apa yang dia miliki saat ini. Menghargai semua yang diberikan untuknya, termasuk aku."

Kalimat terakhir membuat Ichigo mengingat sesuatu. Menghargai?

"Menghargai selagi aku ada. Kalau aku sudah tidak ada baru wanita itu menyesal."

"Hei, Pak Tua! Harusnya kau langsung bicara dengannya. Memangnya aku ini isterimu," Ichigo mendesis. "Untuk apa punya ponsel, kalau tidak kaupakai untuk bicara dengan Yoruichi-san. Apa dia masih di Inggris?"

"Dia ada di Indonesia. Kedutaan mengirimnya ke sana."

"Wahwah, berarti sudah sangat lama kalian tidak—" Ichigo tidak melanjutkan kata-katanya ketika seseorang mengetuk pintu ruangan manager tersebut, bunyinya terlalu berisik hingga buru-buru Urahara-san berdiri membukakan pintu.

"Ada, apa Haruka-san?"

"Ma-maaf Urahara-san mengganggu Anda berdua. Gadis yang Kurosaki-sama ajak tadi tiba-tiba berlari keluar," ucap wanita tinggi itu getir.

Segera Ichigo berjalan cepat ke toko diikuti oleh Urahara-san dan pegawai tadi.

"Memangnya apa yang terjadi? Apa maksud kalian temanku itu mencuri sesuatu lalu kabur?"

"Tidak, Kurosaki-sama! Bukan begitu," seorang pegawai toko yang lain terperanjat, lalu menjelaskan pada Ichigo yang masih berdiri menjulang di hadapan mereka semua. "Teman Anda tadi meminta saya menunjukkan kalung ini," sebuah kalung berbandul malaikat cupid ditunjukkan oleh si pegawai toko dengan tangan gemetar. "Saya tidak tahu apa yang terjadi pada nona itu. Tiba-tiba saja dia memegangi kepala—seperti kesakitan, saya membantunya ta-tapi," terangnya tersendat-sendat dengan wajah tertunduk, "dia berlari keluar toko begitu saja."

Kalung. Berleontin malaikat kecil bersayap sedang memanah. Karya pertama ibunya. Desain paling populer di J-Maple. Ichigo berpikir keras, otaknya berputar terlalu lambat—memikirkan sesuatu yang membuat gadis itu berlari keluar? Kenapa?

"Anak Bodoh! Cepat cari nona itu!"

Bentakkan Urahara menampar kesadaran Ichigo.

"Pergi ke arah mana dia?" Mata coklatnya berpendar gelisah, kemudian setelah ditunjukkan oleh si pegawai arah Rukia pergi maka dalam hitungan detik selanjutnya Ichigo melesat keluar.

.

.

"Ishida-kun, apa kau sakit?"

Inoue Orihime meletakkan sepoci kopi hangat pesanan Ishida. Ia memandang cemas pada muka pucat Ishida dan mata birunya yang memandang kosong keluar kaca jendela kafe. Tak ada respons dari si lelaki, Ishida terdiam seolah tidak mendengar apa yang baru saja ditanyakan temannya.

"Kau pasti sangat rindu padanya ya?" Inoue mengeluh, ia menatap iba pada lelaki kurus yang terpekur menatap udara hampa. "Oh, Kuchiki-san!" pekiknya seolah-olah yang dipanggil memang ada.

Sontak Ishida menoleh, mencari-cari seseorang yang dipanggil Inoue. Tidak ada siapapun. Sebagai ganti kekecewaannya, ia menggeram marah.

"Jangan mempermainkanku, Inoue-san."

Kafe penyedia variasi kopi itu tempat Inoue bekerja.

Jendela kaca kafe tersebut tampak buram ditempeli debu-debu yang tertiup angin, lalu ketika tanpa sengaja mata Inoue menembus kaca jendela, ia melihat seorang wanita muda berperawakan kecil dengan rambut hitam potongan sependek leher sedang berlari melewati trotoar.

Demi meyakinkan apa yang ia lihat. Inoue bergegas memfokuskan penglihatannya pada punggung wanita yang ia kenal itu dengan pupil mata yang menyipit.

"Benarkah dia?" gumamnya seakan tak percaya pada wanita muda yang melewati kafenya itu telah menjauh, "Kuchiki-san…"

"Jangan main-main lagi, Inoue-san. Kau—" karena dilihatnya Inoue memasang mimik serius, tak pelak Ishida langsung memandang ke direksi yang gadis itu juga lihat. Sayang, kemunculan Rukia luput dari perhatian Ishida.

"Di sana, Ishida-kun!"

Sudah menghilang. Sosok Rukia hilang, tak terlihat lagi dari pandangan Inoue, sementara Ishida sama sekali tidak sempat melihatnya. Laki-laki berkacamata itu menghela napas dan lebih memilih duduk kembali, menyesap kopi yang kini tinggal setengah poci, lelah dengan guyonan Inoue.

Lagi-lagi waktu istirahatnya terusik. Sudut matanya menangkap kemunculan orang lain. Sepupunya yang sudah lama tidak ditemuinya. Kurosaki Ichigo sedang berlari melewati trotoar. Tepat di depan mata. Pandangannya mengikuti langkah cepat yang—entahlah, sepertinya Ichigo terburu-buru.

Pikirannya mulai mengoperasi sesuatu yang ia lihat dan juga yang Inoue lihat. Mungkinkah? Ishida berdiri dari kursi, kemudian tatapannya bergulir pada Inoue yang menekuk wajahnya. Dan tatapannya pun disambut oleh Inoue yang mengernyitkan dahi. Mereka terdiam, tengah berpikir keras, menyambungkan dugaan yang mendadak muncul di otak keduanya.

"Tidak mungkin, Kuchiki-san…" ujar Inoue seraya menggigit bibirnya yang bergetar. "Bersama Kurosaki-kun," tutupnya bersuara rendah.

Kenyataan itu bisa saja benar. Karena Ichigo dan Rukia muncul di hadapan mereka pada waktu yang hampir bersamaan.

"Akan kupastikan sendiri."

Usai mengatakannya, Ishida Uryuu segera keluar kafe meninggalkan Inoue.

.

.

Iris mata Rukia sudah basah. Tanpa sadar ia berurai air mata sejak menemukan sebuah kalung di toko teman kakaknya tadi. Ingatannya memang terganggu, namun hati dan otaknya mendebatkan sesuatu yang tak bisa ia mengerti. Dadanya berdebar kencang, dan itu sangat menyakitkan. Kepalanya pening tak terhankan, ia tersiksa dengan penyakit bernama amnesia ini!

Lalu refleks, Rukia pergi dari toko tersebut. Seakan-akan dia dikejar oleh sesuatu yang membuat hidupnya menderita, tetapi—ia tidak tahu, apa yang membuatnya berlari ketakutan? Kalung itu bagai jimat yang siap membunuhnya kapan saja? Rukia panik, kakinya terus belari tanpa tahu arah tujuan yang ingin ia datangi.

Napasnya memberat, begitu pula jantungnya yang seolah dibebani berton-ton kantong darah. Sedangkan kepalanya sama sekali tak bisa memikirkan apapun. Rukia tersesat dalam ingatannya sendiri. Wajah putihnya telah memerah akibat menangis. Berulangkali ia menyeka hidungnya yang dijejaki warna merah. Perhatian orang-orang yang ia lewati terus mengarah padanya yang berjalan timpang, dia seperti orang linglung. Menelusuri trotoar di sepanjang Karakura.

Sampai ketika akhirnya ia menemukan gang sempit dan sialnya, Rukia dihadang tiga orang tak dikenal. Mereka bandit-bandit kelas teri yang menghabiskan waktu dengan bermabuk-mabukan.

"Hei, anak manis, kenapa kaumenangis?" salah seorang bandit bergerak maju hingga menggiring Rukia ke gang buntu yang hanya dikelilingi tembok-tembok.

"Wah, apa kau habis diputusin pacara ya?"

"Bagaimana kalau jadi pacarku saja?"

Ketiganya menyeringai. Melihat wajah cantik Rukia yang kepayahan dan berderai air mata, sungguh membangkitkan selera mereka untuk menyentuh si mangsa.

Rukia terdiam. Tubuhnya yang mungil gemetar, tak mampu bergerak apalagi melarikan diri. Sekarang dia sudah terperangkap. Tidak ada kekuatan baginya untuk melawan tiga bandit tersebut.

"Pergi!" Pekik Rukia berusaha mengusir ketiga bandit berbadan tinggi itu, sayang, tidak sedikitpun dari mereka menjadi gentar.

"Kecil-kecil tapi suaramu besar juga. Kami tidak akan menyakitimu kok, ayo sini, paman peluk."

Ketika tangan kasar pria berwajah jelek itu menyentuh kepala Rukia. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, sekujur tubuhnya lemas, ketakutan sudah mengurungnya dari segala penjuru. Rukia menutupi mukanya dengan kedua belah tangannya dari tatapan lapar ketiga bandit yang mengepungnya.

Sekarang, tidak ada siapapun yang bisa menolong.

"Ayo, Anak Manis, kami tidak bisa menciummu kalau kau menutupi wajah begitu."

Baru saja si bandit jelek dan kedua temannya memaksa Rukia memperlihatkan wajahnya, seseorang telah menarik baju dari salah satu kawanan bandit.

"Menjauh darinya, sialan!"

Bruuuk.

Badan kurus bandit tadi terpental hingga membentur tembok gang. Sementara kedua temannya segera berdiri, kemudian menyerang balik si pelaku yang berhasil menghajar salah satu teman mereka.

Kekuatan Ichigo menumpuk di kedua belah tinjunya. Matanya beradu nyalang pada mereka yang berani menyentuh Rukia. Kebenciannya menguak begitu saja, dia benar-benar akan mengamuk sekarang.

Saling serang masih terjadi.

Pemuda itu dikeroyok, namun tak satupun luka lecet tergores di kulitnya. Baku hantam seolah hanya perwayangan yang terjadi antara ketiga bandit tadi. Mereka sudah babak belur.

Yakin jika ketiga bandit sialan itu terkapar tak berdaya, Ichigo lekas mengalihkan perhatian pada Rukia yang diam meringkuk dengan wajah tertutupi telapak tangan.

"Kau baik-baik saja, Rukia?" Tidak ada respons dari Rukia yang masih menangis, "Rukia, Rukia, buka wajahmu. Ini aku, Ichigo—" Ichigo berusaha menarik tangan Rukia yang sangat erat mencengkram muka mungilnya.

"Nii-san," rengek gadis itu, wajahnya telah terlihat tetapi ia masih menunduk, menyembunyikan matanya di balik poni jarumnya.

"Tenanglah. Aku di sini."

Hati Ichigo tulus mengatakan itu. Dadanya turun naik, kepanikannya luntur setelah ia berhasil menghancurkan wajah-wajah orang yang berani menggoda gadis itu.

Beberapa detik berikutnya mata Rukia mendongak, menatap lekat wajah cemas kakaknya. Itu—wajah yang tidak pernah ditunjukkan Ichigo. Mata coklat jernih yang perlahan menggelap, menyesali sesuatu yang tidak bisa Rukia jelaskan.

Namun, mata cantik Rukia yang memelas berubah tegang.

"Nii-san!"

Entah kekuatan darimana yang muncul, Rukia bergerak membalik tubuh Ichigo sehingga—botol bir yang semula akan menghantam kepala Ichigo justru mengenai kepalanya. Rupanya salah satu kawanan bandit sejak tadi berusaha berdiri dan menjalankan rencana jahatnya dengan memukul kepala Ichigo, sayangnya, dengan lincah Rukia menghalangi niat buruk mereka.

Dan—yang terjadi, Rukia jatuh terkapar dengan kepala mengucurkan darah.

"Rukia! Rukia!"

Rukia tenggelam dalam kegelapan. Rambutnya yang hitam kini memerah.

Kesadarannya menghilang. Tertelan dalam labirin ingatannya yang menyiksa.

Menyadari kesalahan yang barus saja mereka lakukan, ketiga bandit tadi berusaha kabur. Malangnya, di saat akan menjauhi tempat kejadian, mereka malah dihadang seorang laki-laki berkacamata.

Uryuu Ishida muncul dengan keahlian karatenya, "Mau kemana kalian?" desisnya, kemudian dalam beberapa gerakan ia berhasil membekukan ketiga orang tersebut.

Penjara sudah menanti ketiga bandit kelas teri itu.

.

Bersambung

.

Terima kasih untuk yang sudah membaca part ini. Teristimewa untuk yang mereview part kemarin:

15widyawati, Azura Kuchiki, homey home, Izumi Kagawa, Sana Uchiga, RikaKhairana, Kyoumo no SkipBeat, ichirukilover30, DabelyuPhi.

rucika (terima kasih ya sudah suka, ini sudah diupdate)/ nanda teefa (iya, Ichigo bersabar saja. Nanda pasti akan terus mendukung lewat kotak review, hehe:) terima kasih ya Nan sudah direview)/ Nematoda (terima kasih untuk niat baiknya mereview, nematoda! Saya sudah ingatkan dari awal kalau cerita ini klice-klice'an :) tapi saya tidak tahu apa kelanjutan part ini tidak lagi menjadi selera Nema. Maaf, kalau membuat Nema kecewa berat:() /raracchi (Grimmjow yang badannya ketinggian, Ra, ehh?:) tapi porsinya cuma jadi penyayang Rukia. Terima kasih reviewnya!)/ Always Ichiruki (Part-6 kemarin memang ada masalah, entahlah. Rukia akan inget lagi, caranya gampang kok. Tinggal dipukul pake botol, balik deh ingetannya! Tapi betul sekali! Yang dia ingat cuma traumanya pada Ichigo)/ darries (IYAAAA, Ichigo cemburu tapi gengsi –teteeep- author sama reader sama-sama senang melihat Ichigo menderita haha. Sudah diupdate part 08-nya Darrrrr)/ jessi (lihat saja nanti ya, jess. Terima kasih sudah direview)/ aeni hibiki (Oke, ditunggu juga riviewnya yaaa aeni:))/ nailil-teefa (nailil dan nanda? Orang yang sama 'kan? Hehe)/ Guest (Ini sayang, sudah diupadate)/ En'z (Dia bakal merayu Ichigo nanti, tapi cuma agar Grimmjow cemburu. Terima kasih reviewnya ya En'z)/

Uft… akhirnya selesai juga menjawab review.

.

Terima kasih banyak semuanya, saya sudah melanjutkan part #09, nanti dibaca lagi ya :)