BLEACH TITE KUBO
Unforgiven Angel
Part #09
.
.
Riuh rendah suara orang-orang menyusup di pendengaran. Aroma mint juga obat-obatan berbaur bersama udara yang dihirup, embusan napas mengalun halus dari lubang penciuman. Jantung telah bergerak normal bekerja memompa desiran darah yang mengalir pelan di pembuluh bersama detakan nadi. Kehidupan kembali berjalan untuknya.
Untuk—Kuchiki Rukia.
Namun, bagaimana dengan ingatan yang tersesat?
Kelopak mata yang bergetar menandakan jika ia yang sudah dua hari ini terbaring akan melihat lagi dunia nyatanya dan terbangun dari dunia mimpinya. Nyata ataupun mimpi, bagi Rukia keduanya sama saja. Sama-sama suram.
Korneanya berfungsi, ungu di bola matanya berpencar—berusaha mencari bayangan benda atau apapun, memastikan jika dirinya masih memiliki nyawa. Ketika matanya menemukan sosok lelaki berambut oranye duduk di sampingnya sambil menggenggam jemari mungilnya, sekujur tubuhnya menghangat. Menular sampai ke rusuk jantungnya.
Kurosaki Ichigo.
Dia mengenal lelaki itu. Lelaki yang kini tertidur menyembunyikan wajah di tepi kasur hingga yang terlihat hanya helaian pigmen oranye. Siapa lelaki ini baginya? Rukia berusaha mencerna semua yang menjadi tanda tanya di pikirannya, seluruh butiran memori yang membuat hidupnya tersesat. Perlahan awan kelabu di hatinya menyingkir dan menyisakan cahaya yang menyakitkan daya lihat juga daya ingatnya.
"Hrrgh," Rukia mengerang ketika ia berusaha mengangkat kepalanya yang sudah tertutup perban di lingkar kepalanya yang terluka. Tujuh jahitan bersarang di kulit ubun-ubunya.
Sentakan dari tangan Rukia yang refleks tertarik dari genggaman Ichigo telah mengagetkan lelaki itu. Ichigo terkesiap, dan langsung merangkum tangan Rukia yang masih mencengkram kepalanya yang diperban.
"Rukia, Rukia," panggil Ichigo berulangkali. Dahinya menukik dalam frustasi. "Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja, heii," Ichigo mulai gila karena cemas.
"Sa-sakit sekali."
"Dokter! Suster!"
Pekikan dari Ichigo bergema di tengah hari.
.
.
"Bagaimana, Paman?"
Seseorang yang dipanggil itu bernama Ishida Ryuuken, ayahnya Ishida Uryuu. Paman Ryuuken belum bisa memastikan bagaimana kondisi ingatan Rukia, sebab sejak siuman gadis itu masih menutup rapat mulutnya. Tidak ada respons berarti yang bisa menjadi petunjuk.
Ichigo sudah menceritakan semua yang terjadi pada Rukia, semuanya, termasuk amnesia yang dialaminya selama ini. Dia berani menceritakan semua itu karena desakan paniknya, lagipula Paman Ryuuken bukanlah orang lain.
Paman Ryuuken adalah kerabat sekaligus orang yang merawat Rukia—ahh, Ishida Uryuu juga sudah tahu semua rahasia yang ia sembunyikan selama enam bulan ini. Sebagai akibatnya, ia menerima pukulan dan makian dari Uryuu segera setelah Rukia di dalam ruang operasi. Dan itu menyebabkan luka robek di ujung bibir Ichigo yang dingin.
"Belum bisa dipastikan. Sebaiknya kau jaga dia dulu, mungkin kehadiranmu bisa membantunya."
Penjelasan itu mengundang satu pertanyaan besar di benak Ichigo.
Apa ingatan Rukia sudah kembali?
Ichigo memejamkan matanya seraya menghela napas. Matanya memandang diam punggung Paman Ryuuken yang sudah jauh.
Berdasarkan hasil rontgen, botol yang menghantam kepala Rukia tidak mengenai organ otaknya. Bisa dipastikan kalau gadis itu baik-baik saja, hanya yang belum bisa dipastikan, apakah benturan dari botol berhasil mengembalikan ingatan gadis itu? Ichigo tidak tahu harus berekspresi seperti apa di depan Rukia nanti. Hatinya sudah terlalu ribut untuk menciumi mata Rukia yang kembali terbuka, luar biasa lega dan senang. Tetapi ia tidak bisa melakukan itu.
Akhirnya Ichigo memutuskan kembali ke ruang rawat Rukia.
Di ranjang, Rukia sudah duduk bersandar di kepala ranjang dengan piyama rumah sakit dan selimut putih. Gadis itu diam mematung, ia bahkan tak berekasi pada kehadiran Ichigo yang sudah berada di dekatnya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?"
Pertanyaan Ichigo tak dijawab. Merasa kehadirannya seperti benda gaib, Ichigo mendesah pasrah. Ia memilih menelepon pengacara ibunya kemudian berdiri di tepi jendela ruangan.
"Bagaimana prosesnya, Nemu-san?"
Ichigo berbicara di telepon genggam. Sesekali angin deras menerjang tubuhnya hingga rambutnya bergoyang melawan arah. Tirai jendela melayang-layang di sekitarnya yang sibuk berbicara dengan seseorang di seberang sana berkaitan dengan proses hukum yang harus didapatkan oleh tiga orang bandit yang sudah mencelakai Rukia. Wajahnya serius seiring umpatan demi umpatan ia luncurkan lewat handphone-nya yang ia genggam terlalu erat.
.
.
Kaos hitam berlengan panjang juga jeans longgar yang dipakai lelaki itu sangat serasi. Rukia mengalihkan fokus matanya pada punggung lelaki yang sedang berbicara di tepi jendela. Dia mengenal lelaki itu—dia hampir mengingat semuanya, termasuk kejadian terakhir sebelum dirinya terbaring di sini.
Dia terjatuh dari tangga? Tidak, Rukia memutar kembali otaknya. Bukan karena itu dia berada di sini, tetapi karena ia nyaris menjadi korban asusila bandit-bandit gang. Lalu lelaki itu menyelamatkannya dan sebaliknya, Rukia juga menolong lelaki itu dari—iya, dari sebuah botol bir. Itulah yang menyebabkan kepalanya dijahit dan diperban.
Rukia membisu dalam keheningan, namun isi kepalanya terus berdengung membayangkan semua yang terjadi sebelum dan sesudah dirinya amnesia. Bagai layar bioskop yang diputar di depan mata, Rukia mengurutkan satu demi satu memorinya yang terlupakan.
Kurosaki Ichigo…
Apa yang sudah direncanakan lelaki itu padanya? Kenapa dia menipunya dengan membangun kenyataan-kenyataan yang tidak pernah terjadi di antara mereka? Rukia merutuk dalam diam. Otaknya berkontraksi pada masa dimana Ichigo sering menyakitinya dan perlakuan semena-semena lelaki itu ketika ia terpuruk dalam amnesia.
Mungkinkah Ichigo mencoba membalas dendam padanya? Mungkinkah lelaki itu berencana menghabisi dirinya suatu hari nanti? Makanya dia berbohong, dan mendekatinya selagi ingatannya terganggu. Rukia ingin mencari tahunya sendiri. Alasan kenapa Kurosaki Ichigo yang membencinya itu menyembunyikan dirinya dari semua orang yang ia kenal dan merusak identitas seorang Kuchiki Rukia.
Tubuhnya yang perlahan mengumpulkan tenaga berhasil menopangnya untuk turun dari ranjang. Kemudian langkah demi langkah yang ringan, Rukia mendekati Ichigo yang masih sibuk bertelepon.
Punggung lelaki itu terlihat tegang saat makian meluncur dari mulutnya. Kata-katanya begitu tajam mengusik pendengaran Rukia. Persis ketika mereka saling berhadapan, Ichigo selalu berbicara kasar.
Namun Ichigo berubah, ketika dia mengaku sebagai kakaknya waktu itu. Dan saat dirinya terbangun dari pingsan tadi pun, mata coklat yang sering dipenuhi kebencian padanya mendadak melembut dan hangat.
'Mengapa kau melakukan semua itu padaku?'
"Nii-san…"
Ichigo terkejut ketika sepasang lengan memeluk perutnya dari belakang.
"Rukia."
"Ya?"
Tidak mampu berkata apapun. Mulut Ichigo terkunci, napasnya memberat ketika di punggungnya ia merasakan kepala gadis itu bersandar nyaman di sana. Rukia memanggilnya 'Nii-san'? Mungkinkah, ingatannya belum kembali.
Ichigo membiarkan gadis itu memeluknya dari belakang untuk beberapa lama.
'Andai saja, aku bisa mendengar isi hati seseorang. Aku pasti akan tahu semua niat jahatmu padaku, Kurosaki. Karena jantungmu berada sangat dekat dengan telingaku.'
"Syukurlah kau baik-baik saja, Rukia."
Mendengar itu Rukia tersenyum sinis. Tak disangka lelaki ini sangat pintar berpura-pura.
"Nii-san, kenapa jantungmu berisik. Debarannya terlalu lantang di telingaku," ujar Rukia—ia lalu menyindir di dalam hati. 'Itu pasti karena niat jahat yang sedang kaususun untukku 'kan, Kurosaki.'
"Berbaringlah di ranjang. Kau masih butuh istirahat."
'Iblis!' Rukia menjerit di dalam benak, walaupun ia tidak bisa melihat wajah Ichigo, lelaki itu pasti sedang tersenyum jahat padanya.
Konsentrasi Rukia hilang, ketika tiba-tiba saja Ichigo berbalik kemudian dalam satu kali gerakan telah mengangkat tubuh Rukia ke dalam gendongan. "Jangan membantah lagi. Aku tidak ingin memarahi orang yang sedang sakit."
Hampir saja perempuan mungil itu mengumpat, meneriaki ketidaksukaannya. Ia harus terus bersikap waspada. Jika dia mengatakan bahwa ingatannya sudah kembali, mungkin saja, Ichigo akan membuang tubuh mungilnya ke luar jendela saat itu juga.
.
"Dugaanku semula kemungkinan ingatannya sudah kembali karena benturan. Tetapi melihat kondisinya yang masih menganggapmu sebagai kakak dan tidak mengingat jati dirinya secara benar, berarti amnesianya belum sembuh. Dokter bukan Tuhan, Ichigo. Kami tidak bisa memastikan seratus persen bagaimana kondisi ingatannya."
"Aku mengerti."
"Kesehatannya sudah membaik. Kau bisa membawanya pulang."
"Iya," jawaban singkat itu membuat Paman Ryuuken menatap prihatin pada Ichigo. "Paman, apa yang akan kulakukan jika suatu hari nanti ingatannya sudah kembali?"
"Mengembalikan dia pada keluarganya, tentu saja."
"Dia tidak punya keluarga."
Batin paman Ryuuken terenyuh—gadis yatim piatu. "Jadikan dia keluargamu, itu mudah," sang Paman tersenyum bijak lalu menepuk bahu keponakannya.
Mendengar saran paman Ryuuken, Ichigo tertawa kecil. "Menjadikannya saudara angkatku?"
"Bukan. Buat gadis itu menjadi istrimu."
Ichigo terbeliak. Gelenyar asing mengobrak-abrik otot perutnya. Dia seperti ditembak mati oleh kata-kata paman Ryuuken yang sungguh di luar perkiraan.
Menikahi seseorang karena merasa kasihan atau karena merasa bertanggung jawab, itu bukan pilihan yang tepat.
.
.
Bersama Inoue dan Ishida di tiap sisinya, Rukia mengobrol bersama dua orang yang mengaku sebagai teman lama. Tentu saja itu kebenaran. Tetapi, untuk sementara ini Rukia perlu berbohong terutama pada sepupu Kurosaki Ichigo yang sejak tadi memperhatikannya.
Mereka duduk di bangku panjang halaman rumah sakit. Menghirup udara pagi yang menyegarkan tiap persendian.
Inoue terlihat lelah, matanya menunduk sedih sejak bicara dengan Rukia. Dia hanya bicara seperlunya saja, tidak mau mengetahui lebih banyak bahwa Kuchiki-san yang disayanginya melupakannya dengan begitu mudah.
"Apa kita dulu bersahabat baik?" Rukia bertanya dengan raut antusias, tangannya menggenggam jemari Inoue yang terkepal di pangkuannya. "Aku senang sekali! Setidaknya aku punya kenangan bagus yang harus kuingat, Inoue-san."
"Kau punya banyak kenangan bagus. Kami bisa membantumu," Ishida menginterupsi celotehan Rukia kemudian berkata kembali. "Tetapi kau harus berada di dekat kami, Kuchiki-san. Kau bisa tinggal bersama Inoue atau aku," lanjutnya dengan nada protektif. Inoue mengangguk-angguk setuju, ia mencemaskan semua yang terjadi pada Kuchiki-san saat tinggal bersama Kurosaki-kun.
"Itu tidak mungkin. Nii-san akan memarahiku."
"Aku bisa meminta izin padanya," pungkas Ishida optimis seraya berdiri di tempatnya. Kuchiki Rukia akan aman jika dia yang menjaga, lagipula ayahnya seorang dokter yang bisa membantunya sembuh. Kalau bersama Ichigo, apa yang bisa di hasilkan lelaki yang dipenuhi kebencian itu? Bisa dipastikan Rukia tidak bisa mengingat apapun.
"Tidak kuizinkan."
Ketiganya menyoroti kehadiran Ichigo yang sudah berada tepat di belakang punggung Ishida. Ichigo tidak mempedulikan amarah kecil yang muncul dari mata biru Ishida, ia cendrung menganggap sepupunya itu hanya serangga yang terus menempeli Rukia.
"Bagaimana kabarmu, Inoue?"
Terbersit perasaan takut di hati Inoue ketika lelaki yang dulu sempat membuatnya tertarik itu hendak menyalaminya. "Kurosaki-kun," lirihnya dengan suara rendah ia meneruskan, "Aku baik-baik saja."
"Kita harus bicara sebentar, Kurosaki."
Persaingan terlihat di antara sepupu berbeda marga itu. Keduanya saling memandang penuh ancaman.
"Ishida, Rukia adalah adikku. Cam 'kan itu untuk saat ini. Dan aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu." Memang begitulah jawaban yang harus diterima oleh Ishida.
Ichigo tahu apa yang diinginkan Ishida sejak dulu. Kuchiki Rukia. Ia baru bisa menyambungkan semua yang terjadi ketika bagaimana dulu Ishida diam-diam mengobrol dengan Rukia dan melindunginya.
"Ayo, Rukia. Dokter sudah memperbolehkanmu pulang."
"Benarkah? !"
Inoue tersenyum sedih memandangi wajah riang Rukia yang tak pernah ia lihat, "Maaf Kuchiki-san. Aku tidak bisa membantumu."
"Tidak apa-apa. Uhm—boleh kuminta nomor handphonemu?"
"Tentu!" segera Inoue mengeluarkan secarik kertas kemudian menuliskan nomor handphonenya pada Rukia.
.
"Tidak mau membebaskan mangsamu ya, Kurosaki?" Rukia mendesis tajam, suaranya terlalu kecil untuk didengar Ichigo yang berjalan di depannya seraya menarik genggamannya pada gadis itu.
Setelah berjalan cukup jauh dari Ishida dan Inoue. Rukia menoleh ke belakang, memperhatikan dari kejauhan wajah suram Inoue. Rukia menyiratkan ungkapan maaf lewat tatapan matanya, berbekal nomor handphone Inoue, ia bisa menghubungi temannya itu kapan saja.
Dia perlu mengetahui rencana busuk apa yang Kurosaki Ichigo susun untuknya. Balasan seperti apa yang lelaki itu akan berikan pada seseorang yang ia anggap sebagai dalang kematian ayahnya.
Prasangka buruk terus berkeliaran di otak Rukia yang baru saja sembuh. Kecurigaannya akan sikap Ichigo saat ini menimbulkan rasa penasaran, dengan berada di dekat lelaki ini juga lah ia bisa menghilangkan trauma. Mendadak sekujur tubuh Rukia gemetar, ketika matanya menatap lekat pada Ichigo.
Dikendalikan getarannya yang muncul dengan memeluk dirinya sendiri. Dahinya menukik tajam, saat di hadapan mereka ada tangga menuju ke tingkat dua rumah sakit. Kepalanya lagi-lagi berbuat ulah, rasa sakit menusuk-nusuk di organ cerebrumnya.
Ichigo berhenti, menyadari tangan Rukia yang berada di genggamannya sedikit tertarik ke belakang. "Ada apa?" tanyanya lembut. Ichigo menarik kembali genggaman tangan Rukia yang sempat terlepas.
"Aku tidak mau naik tangga."
Beberapa saat lalu, Rukia tidak bersikap seperti ini. Dia bisa naik turun tangga dengan bebas tanpa ketakutan, lalu sekarang—"Kenapa, bukankah tadi kau bisa menuruni tangga?"
Dalam hati, Rukia mengutuk Ichigo yang berlagak lembut di depannya. Gara-gara Ichigo dia menjadi gila seperti ini! Bahkan sebuah tangga pun bisa berubah menjadi jembatan ke neraka.
Ditelisiknya wajah cemas Rukia yang menggelap. Dia benar-benar ketakutan. Ahh, ini sungguh konyol. Ichigo merasa bersalah lagi, bukan tanpa alasan jika Rukia tiba-tiba saja tidak mau menggunakan tangga. Itu efek dari pristiwa yang menyebabkan dirinya menderita amnesia.
Ichigo kemudian membawa tubuh Rukia ke dalam gendongannya untuk kedua kali ini. Menggendongnya untuk menaiki tangga.
Wajah gelap Rukia berganti panik, "Tidak! Turunkan aku!" teriaknya memburu. Ia takut jika lelaki itu menggulingkan tubuhnya dari atas tangga hingga ke bawah, jika mereka sudah berada di puncak.
Mereka berhasil menarik perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit.
"Kita bisa jatuh terguling kalau kau terus memberontak, Rukia. Jadi kumohon diamlah."
"Kau tidak akan mencelakaiku 'kan?"
Pertanyaan Rukia sontak membuat Ichigo terpukul. "Apa maksudmu?" selidiknya dengan mata menyipit.
"Ma-maksudku nii-san harus berhati-hati, atau kita bisa celaka!"
"Aku tahu!"
Dibawanya tubuh Rukia dengan hati-hati. Menaiki satu per satu undakan tangga tersebut. Ichigo merasa denyut jantungnya berubah nol, ia ingin waktu berhenti di saat itu juga.
Berat badan Rukia sama sekali tidak mempersulitnya untuk terus melangkah. Lalu tenggorokannya seolah tercekik ketika dari dekat ia bisa melihat wajah Rukia yang membeku bagai patung es. Patung es yang cantik. Jujur saja, Ichigo mulai menganggumi wajah gadis ini.
Kulit wajah Rukia putih, kontras dengan bibirnya yang semerah ceri. Samar-samar Ichigo tersenyum. Diam-diam sembari terus menggendong Rukia sampai ke kamar rawat, ia mengendus bau tubuh Rukia.
Sekali lagi ia ingin tersenyum menyadari kalau gadis dalam gendongannya belum membersihkan diri. Rukia belum mandi sejak siuman. Pantas badannya jadi bau.
"Kau bau sekali," cibirnya seraya menutup pintu rawat menggunakan kakinya yang jenjang.
"Kuanggap itu pujian, Nii-san."
Ichigo mengernyitkan dahi. Rukia tersenyum padanya setelah diejek. Aneh? Persepsi buruk yang mendadak muncul membuat Ichigo segera menurunkan tubuh Rukia.
"Selagi aku mengemasi barang," Ichigo mengambil sesetel baju untuk Rukia lalu memberikannya, "Kau ganti dulu pakaianmu dengan ini."
"Baik."
Diperhatikannya punggung Rukia yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Dia sedikit merasa sangsi dengan amnesia gadis itu.
Sembari menunggu Rukia berganti pakaian di dalam kamar mandi, Ichigo duduk di tepi kusen jendela. Memperhatikan langit Karakura yang berhiaskan awan.
Dia membayangkan awan-awan itu membentuk wajah ayahnya. Tidakkah ayahnya bangga dengan apa yang ia lakukan sekarang? Membohongi keluarganya demi tanggung jawabnya pada gadis yang dulu dibenci.
Ayah…
Dia tidak bisa berpikir jernih. Selain daripada melanjutkan kebohongan ini, tidak ada ide lain yang bisa ia pikirkan. Tetapi, lambat laun hatinya tidak bisa berbohong lagi.
Jauh di sudut hatinya yang gelap, Rukia telah memikat tujuan hidupnya yang semula biasa-biasa saja.
Pikirannya menerawang kemana-mana sampai ketika sepasang mata bulat berada tepat di hadapannya, Ichigo terkejut seraya berdiri dari kusen yang sejak tadi ia duduki.
"Kau melamun," Rukia mengulum senyum kecil kemudian berkata lagi. "Apa yang sedang kaulamunkan? Alismu sampai hampir menyatu saking seriusnya."
"Tidak ada. Ayo kita turun!"
Perintah Ichigo dipatuhi Rukia. Gadis itu mengikuti langkah Ichigo yang berjalan menuju keluar. Mereka sudah menyelesaikan urusan adiministrasi, tidak sulit berkat bantuan paman Ryuuken.
Baru saja menutup pintu ruang rawat, Ishida muncul dari arah koridor kanan. Laki-laki berkacamata itu berjalan cepat ke tempat Ichigo dan Rukia yang tengah bersiap pergi.
"Kita harus bicara," paksa Ishida, dengan dahi tegang ia menatap tajam pada Ichigo, menghiraukan kehadiran Rukia di sana.
"Tunggu di sini sebentar Rukia. Pria ini ingin menyelesaikan sesuatu denganku."
Rukia tidak menjawab, tidak pula mengangguk. Dia diam saja lalu berbalik menjauhi kedua pria itu, "Bicaralah. Aku menunggu di bangku sana."
Ichigo mengamati tingkah Rukia dengan ekor matanya yang sipit. Sikap Rukia membuatnya mengkhawatirkan sesuatu yang—huh, Ichigo bahkan tidak mengerti kenapa dia harus khawatir.
Perhatiannya kembali pada Ishida yang berdiri di depannya dengan kedua tangan di dalam saku celana, wajah angkuhnya sungguh mengesalkan Ichigo.
"Apalagi yang ingin kaubicarakan?"
"Berikan Rukia padaku."
Ichigo mendengus, lalu sebuah seringai tersampir di ujung bibirnya. "Bermimpi saja. Memangnya dia itu barang," rutuk Ichigo sedikit jengkel dengan sikap Ishida yang belum menyerah.
"Kau membencinya, Kurosaki. Kau tidak akan membuat ingatannya kembali karena kalian tidak punya ikatan apapun sebelum ini. Tapi, jika aku yang menjaganya, paling tidak, ada Inoue yang membantuku di sini, di Karakura. Lagipula ayahku seorang dokter, dia bisa menyembuhkan Rukia."
Rukia? Ishida menyebutkan nama kecil Rukia? Kheh, sungguh terdengar mesra.
"Aku tidak lagi membencinya dan dulu—ayahku juga seorang dokter."
"Tidak lagi membencinya? Cih! Apa kau lupa bagaimana dulu kau memperlakukan Rukia? Berhenti berbohong padanya dan ayahmu—sudah mati. Bukankah karena itu kau membenci Kuchiki Rukia?" Ishida harus menarik pelatuk lalu menembak Ichigo dengan kenyataan yang dulu pernah terjadi antara Rukia dan Ichigo. "Aku tidak percaya jika kebencianmu padanya hilang dengan mudah. Kau—apa kau merencakan sesuatu?"
"Persetan dengan semua pikiranmu."
Setelah mengatakan itu, Ichigo hendak menjauh, namun lagi-lagi Ishida menahannya. "Akan kuceritakan semuanya pada Rukia, termasuk saat dulu kau sering menjahatinya sampai-sampai dia trauma—hei, Kurosaki!" Ishida tidak lagi melanjutkan ancaman ketika Ichigo sudah menjauh dan membawa Rukia pergi.
.
.
Mobil yang disewa Ichigo bergerak melewati perbatasan kota Karakura. Mereka akan melewati Seiretei sebelum sampai ke Las Noches. Ichigo mengunci semua jendela mobil dan memencet kendali AC mobil, ia sama sekali tak mengizinkan Rukia melihat pemandangan di Seiretei. Biarlah semua terlihat mendung di balik kaca mobil itu, ia tidak ingin Rukia mengingat apapun.
Tidak ada protes dari Rukia. Gadis itu tak seriang saat beberapa hari sebelumnya ia diajak pergi ke Karakura.
Di dalam mobil dengan duduk bersandar di jok, Rukia hanya memandang lurus ke depan jalanan aspal. Dia seperti sedang memikirkan banyak hal yang tidak bisa Ichigo tebak sama sekali.
Diliriknya luka Rukia yang juga membekas di dahi kanan, sedikit berdekatan dengan telinga. Masih tampak jelas bekas jahitannya. Ichigo menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Jika saja Rukia tidak menolongnya waktu itu, mungkin botol bir itu akan melukai kepalanya.
"Terima kasih sudah menolongku," ujarnya seraya membuka kejadian yang berhasil membuat jadwal kuliahnya terganggu.
"Tidak perlu, Nii. Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah diperkosa dan masuk rumah sakit jiwa."
Mendengar penjelasan itu, sontak Ichigo mengeratkan pegangannya pada lingkar setir. Giginya menggeram, ingin membebaskan kemarahan yang membayangi otaknya saat ini. Sementara Rukia, tetap memandang lurus ke depan, tak dilihatnya wajah Ichigo yang menyimpan amarah.
"Tidak seharusnya kau bicara seperti itu, Rukia."
Rukia menganggap enteng nasihat Ichigo. Ia menggidikkan bahu sebagai isyarat jika ia sudah tidak peduli dengan pristiwa itu, karena berkat itulah, ingatannya bisa kembali.
Beberapa menit berikutnya mobil mereka sudah bergerak stabil memasuki wilayah Las Noches.
Langit di kota itu jauh terlihat lebih terang, mungkin disebabkan daerahnya yang gersang jadi cuaca terasa lebih terik. Ichigo mempercepat laju mobil, berharap segera sampai ke apartemen lalu beristirahat.
Kunjungan ke Karakura kali ini sungguh melelahkan.
.
Sesampainya di apartemen, Ichigo mengunci rapat pintu. Ia melempar kunci mobil di sebelah meja televisi kemudian masuk ke dalam kamar. Rukia yang merasa ganjil dengan kemarahan Ichigo, hanya memandang sinis di belakangnya.
Mata gadis itu lekas berubah teduh ketika tiba-tiba saja Ichigo menyembulkan kepala dari balik pintu kamar. "Jangan biarkan tamu manapun mengganggu. Kau juga sebaiknya mandilah dulu sebelum beristirahat."
Pintu kamar lelaki itu tertutup kembali.
Rukia membuang raut cerahnya. Dipandanginya isi apartemen yang enam bulan ini menjadi rumahnya dengan Kurosaki Ichigo. Hatinya terasa tak nyaman sama sekali, berbeda ketika dulu ia menderita amnesia.
Aroma asing mengembuskannya pada kenyataan pahit bahwa dia berada di dekat seseorang yang berbahaya, namun dengan alasan 'ingin mengetahui rencana busuk dari Kurosaki' ia masih berada di sini.
Hanya saja, yang mengganggu pikiran gadis itu ialah mata cokelat si Kurosaki yang tidak sebenci dulu.
Jauh lebih hangat dari sebelum-sebelumnya. 'Tidak,' Rukia menggelengkan kepala, berusaha menjernihkan pikiran yang berkelebat karena mata hangat pria itu.
'Itu cuma sandiwara, pasti begitu. Srigala berbulu domba.' Batinnya mengelak untuk mengakui betapa pria jahat itu telah bersikap baik padanya.
Kerongkongannya kering, ia butuh air untuk menyiram rasa haus. Rukia menuju kulkas yang berada di dekat konter dapur.
Terlihat lembaran-lembaran memo, catatan resep memasak yang ia tempelkan di pintu kulkas. Ia ingat untuk apa dirinya melakukan itu? Agar si kakak palsunya bisa mencoba memasak sendiri jika suatu waktu Rukia tidak di rumah.
"Konyol sekali," Rukia menyadari betapa catatan-catatan yang ditulisnya ini hanya barang sia-sia, toh, ia tak pernah pergi jauh dari apartemen. Ichigo selalu mengurungnya di sini. Memasak dan membersihkan rumah, persis pembantu rumah tangga.
Ingin rasanya gadis itu merobek memo-memo itu lalu membuangnya, tetapi ia tidak mau lelaki itu curiga. Terlalu cepat kebohongannya akan terbongkar.
Segelas air es telah diteguk beberapa kali. Membuat sekujur tubuhnya segar dan lega. Dia belum mau tertidur di hari menjelang sore seperti ini. Ada banyak hal yang bisa ia lakukan sebelum malam tiba, termasuk menonton televisi.
Kartun yang muncul di televisi sama sekali tidak menghibur Rukia. Ia tenggelam dengan segala pikiran buruk yang membelenggu. Sampai akhirnya janjinya untuk tidak tidur sebelum malam tiba dilanggar, karena ia sudah jatuh tertidur di depan benda visual tersebut.
Tak lama ia terlelap dalam tidur. Dara berusia sembilan belas tahun itu merasakan tubuhnya diangkat oleh seseorang.
Sangat hangat sampai membuatnya meringkuk, membenamkan kepalanya ke dada seseorang yang berhasil membawa tubuh mungilnya masuk ke dalam ruangan yang lebih hangat.
Rukia ingin melihat siapa yang menggendongnya, namun kelopak matanya tak mampu lagi terbuka. Ia terlalu nyenyak, lalu detik berikutnya ia merasa telah terbaring di atas sesuatu yang empuk.
Walaupun ia merasa tidak lagi melayang di udara, namun Rukia merasakan sentuhan kecil hinggap di lukanya.
Sensasi yang menghilangkan rasa nyeri pada jahitan di dahinya, juga rasa geli menyentuh di ujung daun telinganya yang terbuka. Sekali lagi, ia belum mampu memaksa matanya untuk melihat orang yang memperlakukan lukanya sebegitu lembut.
Sehingga pada akhirnya sang putri tidur benar-benar tenggelam dalam lautan mimpi.
.
Bau harum masakan berkuah mengundang perut lapar Rukia. Dalam sekejap matanya terbuka. Ia mengerjap-ngerjapkan mata memastikan dengan benar bahwa saat ini ia tidak lagi berada di depan televisi yang ditonton sebelum dirinya jatuh tertidur.
Ini… aroma sup daging.
"Nee-san?" mengingat ini adalah sup kesukaannya dan saudara perempuannya, gadis itu lekas menyibakkan selimut kemudian berlari keluar menuju dapur.
Dia hampir meneriakkan nama nee-san yang dirindunya. Nyaris melupakan bahwa saudara perempuan yang dicintai sudah meninggal dunia. Rukia tersadar, kelopak matanya menurun—meredup, ketika sosok Ichigo tengah berdiri di depan kompor.
Apa yang sedang dilakukan lelaki itu? Memasak? Yang benar saja. Seraya mengubah raut kelam di wajahnya, Rukia mendekati Ichigo yang kini tampak sedang mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.
"Harusnya kaubangunkan aku untuk memasak ini," ucapnya sembari melongok ke dalam isi panci hasil masakan Ichigo.
'Aku tidak mau kaumemasukkan racun di dalam masakan yang akan kumakan.' Cibir gadis itu lagi di dalam hati.
"Kau sedang sakit. Lagipula aku bisa memasaknya karena ini juga sup kesukaanku."
Rukia terhenyak. Sama seperti Hisana-nee, pria ini juga menyukai sup daging. "Tapi aku tidak tahu kalau nii-san bisa memasak sup daging."
"Ada kau yang selalu memasaknya untukku. Jadi yah—aku tinggal makan saja."
"Sini biar kubantu!"
"Jangan," Ichigo menolak tangan Rukia yang hendak menggantikannya mengaduk sup. "Kau duduk saja, aku tidak mau luka di dahimu menjadi parah," sikapnya kemudian melunak ketika mata keunguan dari gadis itu menatapinya penuh tekad.
Bunyi bel apartemen menggaung. Ichigo dan Rukia tersentak, mereka sama-sama menoleh ke arah pintu depan. Menebak seseorang di luar sana yang bertamu di jam makan malam seperti ini.
"Biar aku yang membukanya."
Rukia berbalik menjauh menuju ruang depan. Sayang lengannya dibelenggu Ichigo dan untuk kesekian kali pula lelaki itu melarangnya untuk melakukan pekerjaan, padahal—hanya membuka pintu.
"Aku saja yang membuka pintu. Kau tetap di sini." Ichigo mematikan kompor kemudian meninggalkan Rukia yang terpaku di tengah dapur.
Menanggapi sikap lelaki si pengatur itu, Rukia cuma bisa menghela napas. Sampai kapan ia harus melakukan kebodohan ini? Keluhnya dengan pertanyaan yang tersangkut di tenggorokan, pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Ditengoknya jarum jam yang menunjukkan pukul tujuh malam lebih. Oh, sial. Pantas perutnya sangat lapar.
.
Bersambung
.
Saya pikir, Rukia itu bukan karakter cewek yang bisa memperlihatkan rasa bencinya dengan terang-terangan. Dia cendrung diam—menyimpan sendiri masalahnya, selagi mampu. Dia bahkan tidak pernah terlihat nangis—kecuali sewaktu Kaien mati dan ending di Movie 3 Bleach. Pribadinya tertutup, tapi di suatu waktu dia bisa jadi kekanak-kanakan. Kalau sifak kekanak-kanakannya muncul, ihh, pasti jadi manis. Begitu gak sih? Penggemar Rukia pasti jauh lebih paham sifatnya ya.
Sekali lagi maaf untuk pengerusakan karakter-karakter Anda, Kubo-sensei :(
Part #10-nya di tunggu saja. Terima kasih banyak untuk reviewer part kemarin:)
