BLEACH -0- TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #11

.

.


Kotak jus dengan merk populer itu bergambar buah strawberry, murni seratus persen sari buah asli. Rukia menertawai nama buah yang sama dengan nama dari seseorang yang ia kenal. Ichigo… betapa dokter Isshin sangat pintar memberi nama putra kesayangannya. Tetapi tidak juga, Ichigo pernah bilang kalau namanya bukan diambil dari nama strawberry.

Rukia mendecakkan lidah, kenapa pula dia harus memikirkan asal nama dari Ichigo? Yang lebih menarik perhatian lagi, ada botol youghurt yang bergambar seekor makhluk chibi bertelinga panjang persis kartun kelinci bugs bunny. Gemas telah menemukan minuman bergambar lucu, Rukia memilih beberapa di antaranya untuk dibeli.

Dibandingkan menimbang-nimbang rasa minuman ataupun kualitas minuman, Rukia lebih terpikat dengan gambar-gambar yang terpampang pada lebel minuman. Belum puas dengan pencariannya, ia berjongkok mencoba mencari-cari di jejeran minuman bagian bawah. Jemarinya baru saja akan menyentuh botol minuman suplemen rasa jeruk, ketika dari belakang seseorang menyebutkan namanya—nama aslinya.

"Kuchiki-san…"

Beberapa paket minuman yang ia pegang di tangan kirinya tergenggam kuat, takut terlepas. Sedang gerakannya berhenti bagai patung. Kurosaki Ichigo 'kah? Rukia belum berani menjawab apalagi berbalik pada seseorang yang telah menyebutkan namanya dengan benar.

"Kuchiki-san," orang di belakang itu sudah menyentuh pundaknya hingga membuat Rukia terlonjak lalu berdiri memunggungi orang tadi. Sepertinya bukan Kurosaki, lalu siapa?

Rukia berbalik dan dengan perlahan ia mengubah ekspresi wajahnya yang semula gugup menjadi lebih kalem agar amnesianya terlihat sempurna. Namun, dalam sekejap ia terkejut hingga membuatnya mati rasa.

Orang ini… Rukia meneguk ludahnya. Matanya membulat sempurna lalu segera ia buang pandangannya pada direkasi yang lain. Tangannya tergenggam kuat sampai-sampai tiap ujung jemari kurusnya memutih. Susah payah gadis itu menahan lidahnya yang keluh juga bibirnya yang bergetar. Orang yang dulu sudah berbuat kurang ajar padanya sekarang berdiri di hadapannya dalam jarak yang sangat dekat.

Daripada itu, dimana Kurosaki? Kenapa lelaki itu tidak menjauhkannya dari Ggio Vega?

"Kau—siapa?" gadis itu belum bisa menjelaskan bahwa ia bukanlah 'Kuchiki' yang dimaksud si pria.

"Masa' kau sudah lupa padaku? Aku, Ggio Vega, temannya Ichigo. Yah, bisa dibilang teman SMA mu dulu." Beruntung Ggio tidak menangkap gelagat ketakutan yang terlihat samar di ujung bibir Rukia yang gemetar. "Tetapi kalau dipikir-pikir sih, sudah sepantasnya kau tidak ingat padaku. Karena dulu aku pernah bersikap buruk padamu."

"Maaf ya, aku tidak ingat sama sekali padamu."

Bahu Ggio merosot karena kecewa denga kata-kata dusta Rukia. "Tidak apa-apa, aku lebih suka kau tidak mengingatnya," sesal Ggio kemudian ia menoleh kesana kemari. "Kau kemari bersama siapa?" Ggio memperhatikan lengan Rukia yang sedang memeluk beberapa minuman jus di pelukan perutnya. Tidak ada keranjang dorong atau keranjang tangan yang seperti dibawa oleh para pengunjung supermarket.

Rukia tidak mampu mengendalikan gelombang ketakutan di matanya yang terus menunduk. Kakinya pun sangat sulit diperintah untuk berlari menghindar.

"Sepertinya Anda salah orang. Nama saya bukan Kuchiki."

"Ah, tidak mungkin. Jelas-jelas ini adalah kau."

Ggio seolah terus mendesaknya untuk berkata jujur. Rukia sungguh sudah terjebak dengan situasi ini. Di satu sisi ia tidak bisa berpura-pura amnesia karena ketakutannya muncul tanpa bisa dicegah, sementara di sisi lain ia harus berpura-pura tegar agar terlihat amnesia di depan Ggio ataupun Ichigo, tunggu, dimana Kurosaki Ichigo? Rukia mencoba berjinjit—karena tinggi badan Ggio menutupi pandangannya untuk bisa mengintip keberadaan Ichigo.

"A-aku," Rukia tergagap, ditambah lagi mata Ggio yang menatapinya begitu intens.

"Hei, jangan gugup begitu. Aku bukan monster kok."

Pikiran gadis itu melintasi waktu kurang lebih setahun silam. Bagaimana dulu, Ggio Vega mencium paksa dirinya di gudang sekolah. Mengingat itu sekujur tubuh Rukia merinding, perasaannya ngeri dan sialnya lagi, kakinya justru terpaku seperti melekat di tanah.

Keseluruhan tubuhnya kaku dan mati rasa. Pelan-pelan ketakutan yang mengerikan menguasai dirinya dan ia menegangkan setiap urat syaraf dan serat otot tubuhnya seakan-akan terlibat dalam pertempuran maut.

Melihat butiran keringat kecil turun dari dahi Rukia, Ggio berniat menyentuh butiran keringat itu dengan mengulurkan sapu tangan. Sayangnya Rukia refleks bergerak mundur menghindari sentuhan saputangan Ggio hingga tanpa sengaja gadis itu membentur rak tempat minuman kaleng dipajang. Sampai detik berikutnya, beberapa kaleng minuman terjatuh dari rak. Ia sudah tersudut di antara Ggio dan rak minuman.

Sama seperti waktu dirinya ingin meminta maaf setelah insiden ciuman, Ggio memaklumi sikap Rukia yang menjauhinya. "Dulu juga seperti ini, kau kabur begitu saja sebelum aku meminta maaf—" ucapan Ggio tersangkut di tenggorokan ketika tiba-tiba saja Ichigo menabrak bahunya dari belakang lalu mendekap tubuh Rukia.

Ichigo menyembunyikan tubuh gemetar Rukia dengan memeluknya. Sementara itu, Ggio tercengang di hadapan punggung lebar Ichigo yang sepertinya enggan menyisakan celah bagi Ggio untuk melihat wajah Kuchiki Rukia di balik badan tinggi Ichigo.

"Dia kemari bersamaku," Ichigo berkata masih dengan memunggungi Ggio.

Dan itu sungguh memberi kejutan listrik di otak tumpul Ggio Vega.

"Tidak mungkin. Kalian berdua—"

Tak ingin membiarkan Rukia mendengarkan komentar lain dari Ggio. Sambil mendorong keranjang besi dengan tangan kanannya, kemudian dengan tangannya yang kiri Ichigo segera menyeret lengan Rukia pergi dari hadapan Ggio yang masih syok.

"Sebaiknya kita pergi, Rukia."

Mereka meninggalkan keterpakuan Ggio dan beberapa keleng minuman yang jatuh berserakan.

"Bersama?" entah ia harus berperang dengan kesalahan di masa lalunya ataupun permintaa maaf yang belum diterima Kuchiki Rukia, Ggio hanya bisa tersenyum tipis. "Semoga saja ini bukan mimpi," pintanya dengan harapan yang bercabang. "Ishida, Ishida, kau pasti bertindak terlalu lambat. Makanya Ichigo berhasil merebut Kuchiki-mu," lelaki playboy itu tulus mengucapkannya. Sungguh, daripada bersama Ichigo, ia lebih suka Kuchiki Rukia bersama Ishida.

.

Rukia memandangi punggung Ichigo dengan tatapan terluka. Hampir saja buliran air di matanya terjatuh karena terlalu lelah membendung luka di hati. Kakinya sudah lemas ingin berhenti berjalan, mengingat bagaimana tadi ketakutannya muncul. Rasanya menyiksa sekali. Tidak punya keberanian melawan masa lalunya yang buruk, sudah membuat matanya buta akan masa depan.

Bibir kecilnya yang mengering ia gigit demi mengendalikan laju napasnya yang terhembus cepat sekali. Matanya kini bergulir pada kantong-kantong putih yang Ichigo bawa. Banyak sekali. Ichigo baru melepaskan rangkulannya pada bahu Rukia setelah mereka keluar dari supermarket dan memastikan kalau Ggio tidak mengikuti mereka. Rukia menghargai sikap protektif Ichigo, lelaki itu melindunginya dari masa lalunya yang buruk walaupun pada mulanya lelaki itulah yang membuat masa lalunya menjadi buruk.

Langkah Rukia menjadi semakin lambat. Iris matanya mengabur akibat syaraf otaknya yang tegang sejak tadi. Samar-samar tampak Ichigo meletakkan kantong-kantong belanjaan di mobil yang disewa dari rental mobil untuk kegiatan berbelanja hari ini. Lelaki itu kemudian membukakan pintu penumpang yang berada di sebelah kursi kemudi. Ditariknya pinggang Rukia agar segera masuk ke dalam mobil, sedangkan dirinya beralih ke bagian kursi pengemudi.

Dengan waspada dan hati-hati, Rukia melihat Ichigo lewat ekor matanya. Apakah ketakutannya pada Ggio tadi telah membuat si kakak palsunya itu curiga? Rukia menggenggam lututnya lalu membuang pandangannya pada pemandangan sore kota Las Noches. Apa masih ada cahaya yang bersedia masuk ke dalam ruang gelap hatinya? Pertanyaan itu muncul ketika matanya mulai lelah dengan ingatan masa lalu. Sehingga lambat laun, kelopak matanya yang terayun dalam suasana hening kini terpejam.

.

Pada petang khusus ini, Rukia dilempar kembali ke dunia nyata. Dunia yang membuat hari-harinya jenuh setiap waktu. Hidupnya sudah seperti ruangan hampa, tak ada kesenangan dan kebenaran yang membuat hatinya damai. Ia merasa hidupnya hanya cerita bohong yang dikarang Kami-sama. Bahkan oksigen yang hilir mudik di paru-paru pun seakan menjadi hal percuma. Dia seperti barang yang tidak bisa digunakan. Tak ada manfaat sama sekali. Hidupnya sudah menjadi opera sabun yang seakan tak layak lagi dilanjutkan.

Satu-satu yang dimilikinya bahkan diambil, kakak perempuannya pasti sudah berbahagia di surga. Jika bunuh diri bisa mengantarkannya melewati jembatan surga, mungkin ia akan mencari cara untuk melakukannya. Melamunkan itu semua membuat daya pikir Rukia melemah, ia tidak bisa memastikan dengan benar dimana dia berada sekarang.

Berkas sinar bergradasi jingga menerobos melalui kaca-kaca mobil.

Di dalam mobil yang tertutup rapat dan melalui kaca depannya, ia mendapati Ichigo tengah berdiri menyandari bagian kap depan mobil. Seraya menegakkan punggungnya yang terkulai di jok mobil, Rukia mengamati dalam diam leher Ichigo yang menekuk seperti orang yang tertidur duduk dengan lengan bersedekap di depan dada. Tampak di sudut tempat yang lain orang-orang sibuk dengan aktivitas sore mereka masing-masing.

Rukia beranjak keluar mobil, mencari tahu dimana mereka sekarang berada. Kepalanya celingukan mencari petunjuk yang bisa menjelaskan lokasi asing itu. Dasar! Rukia mengetuk kepalanya sendiri, gara-gara mata lelahnya ia baru menyadari kalau mereka sedang berada di Sunflower Park. Tempat ini biasa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk menikmati waktu sore termasuk menyaksikan anak-anak kecil bermain bola tangkap di tepi sungai.

Lalu mengapa mereka ada di sini? Untuk mendapatkan jawaban ia perlu membangunkan Ichigo yang sedang tertidur dengan posisi tidak nyaman.

Ia menarik tajam napas lalu membuangnya dengan kasar. 'Kurosaki Ichigo yang berhati sejahat iblis namun bersikap selembut malaikat, kenapa kau tidak tidur di rumah saja?' gerutu Rukia membatin.

"Nii-san," gadis itu mengguncang lengan Ichigo yang berotot. Astaga, apa lengan pria rata-rata sekeras ini? Terlihat kuat. Ichigo mungkin bisa menghancurkan benda apapun hanya dengan sekali pukul.

Puk!

Bagai tersengat aliran api di bahunya. Dan tanpa bisa menolak atau mendorong, tiba-tiba kepala Ichigo sudah tertunduk di bahu Rukia. Dahi Ichigo membentur bahu Rukia yang mungil. Terlihat sangat jelas bagaimana berbedanya ukuran tinggi kedua orang itu.

"Bau anggur."

Komentar Ichigo yang terlontar sembari mengendus wangi tubuh Rukia, membuat gadis itu terlonjak. Sebelum berhasil menjauhkan bahunya dari hidung Ichigo, laki-laki itu telah lebih dulu merangkum pinggang Rukia yang kecil dan rapuh. Membuat tubuh gadis itu seolah melayang karena sedikit terangkat.

Pelukan posesif dari Ichigo membuat Rukia tidak bisa berkutik. Walaupun ia mati-matian ingin membebaskan diri, namun kali ini sengatan yang ia terima menjadi berbeda. Bukan perasaan takut yang selama ini menghantuinya, tetapi justru perasaan aman yang melingkupi sekujur tubuh Rukia yang kaku.

Cukup lama menyandarkan kepalanya di bahu Rukia. Ichigo melepaskan tubuh gadis itu dari genggamannya. Mata letihnya menyoroti beberapa helai poni Rukia yang letaknya tepat di pertengahan kedua belah mata, terjulur hingga melewati hidung bangirnya.

Ichigo mempermainkan helaian poni itu lalu dengan suara rendah ia bertanya pada Rukia.

"Apa kau tidak ingat siapa laki-laki yang menegurmu di supermarket tadi?"

Rukia tersentak, sekilas ia melihat mata coklat Ichigo yang berkilat-kilat. Dan itu memancing keberanian Rukia untuk membalas tatapan Ichigo, berusaha bersikap wajar.

"Aku tidak ingat."

Kebohongan Rukia yang terkesan mantap dan yakin membuat Ichigo percaya sekaligus lega. Ichigo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu kembali menginterogasi gadis itu, "Lalu kenapa kau terlihat takut menghadapi laki-laki itu?"

"Entahlah. Aku refleks begitu saja, seolah ada sesuatu dari laki-laki itu yang membuatku takut."

Penjelasan singkat Rukia menarik Ichigo pada satu kesimpulan, "Iya—sudah sepantasnya kau merasa takut."

"Benarkah?" sungguh, sebetulnya Rukia tidak ingin mempertanyakan apapun tentang masalah itu namun ia terlanjur berkomentar.

"Sudahlah, aku tidak mau menceritakannya." Menghindari kebohongan yang terus berkembang, Ichigo tersenyum pahit. 'Jika kau mulai mengingatnya, mungkin kau akan membenciku.'

Dalam hati Rukia bersyukur, Ichigo tidak lagi membahas tentang kemunculan tiba-tiba Ggio Vega.

Matahari semakin turun menyembunyikan dirinya di belahan bumi yang lain. Senja berpencar bersama langit kebiruan yang berawan, pemandangan itu beradu dengan berpasang-pasang mata yang tak ingin ketinggalan menyaksikan matahari terbenam.

Ini seperti romansa drama yang berakhir membahagiakan, dimana kedua tokoh utamanya saling mengungkapkan cinta di hadapan mentari bersenja. Sayang, hal itu tidak berlaku bagi Ichigo dan Rukia. Mereka berbohong untuk membangun hubungan yang tidak bisa dijelaskan, menyulam perasaan yang perlahan-lahan akan mengikat kebohongan manis diantara mereka menjadi kebenaran yang pahit.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan kebersamaan antara ia dan Ichigo. Rukia merasakan kedamaian yang luar biasa melegakan. Ia mampu mengendalikan napasnya dengan sangat halus ketika beradu pandang dengan Ichigo.

Sentuhan, tatapan ataupun perkataan yang dulu Ichigo tunjukkan padanya sekarang jauh lebih berbeda. Pribadi lelaki itu persis dokter Isshin. Mata yang menghangatkan juga senyum yang memikat. Rukia tidak bisa menampung hatinya untuk tidak memuji Ichigo atas perlakuan lembut lelaki itu saat ini.

"Kemari!" Ichigo tidak lagi memegang lengan Rukia untuk menyeretnya, melainkan dengan menggenggam sela jemari gadis itu untuk mengikutinya.

Sebuah jalanan setapak yang masih tersiram oleh memoar jingga di permukaan menjadi tujuan Ichigo mengajak Rukia. Jalan itu memiliki landasan bebatuan kerikil yang membujur sepanjang dua puluh meter dari arah timur ke barat. Bebatuan kerikil tersebut sengaja dipasang untuk merileksasikan kaki-kaki para pengunjung Sunflower Park.

Banyak diantara pengunjung berkumpul di sana untuk memanjakan telapak kakinya dengan berjalan bertelanjang kaki dari pangkal jalan hingga ke ujungnya. Meskipun membuat kaki perih dan sakit karena ujung tumpul kerikil, namun efeknya sangat bagus untuk kesehatan.

Masih tersisa beberapa orang dewasa yang menikmati khasiat jalan berkerikil, dan diantaranya duduk-duduk bahkan berbaring merasakan kehangatan kerikil yang menembus kulit ari mereka.

"Lihat bagaimana aku berjalan kaki dari sini sampai ke ujung sana dengan bertelanjang kaki. Setelah aku sampai di sana, kau pun harus menyusulku."

Rukia meringis dengan permainan itu, "Sepertinya itu sangat menyakitkan, Nii-san. Aku tidak berani."

"Kau bisa, Rukia."

Setelah meyakinkan Rukia, Ichigo segera melepas sepatunya kemudian bersiap di tempat untuk melakukan injakan pertama pada bebatuan kerikil.

Orang-orang yang kebetulan berada di sana menonton Ichigo yang mulai berjalan selangkah demi selangkah. Beberapa di antara mereka bahkan menyoraki lelaki itu untuk bersemangat menyelesaikan misinya supaya sampai di ujung jalan.

Dari tempatnya berdiri, Rukia melamunkan betapa punggung lebar Ichigo yang begitu kuat mampu membawa beban tubuh beratnya melewati kerikil-kerikil ini.

Sesuatu yang paling dalam adalah hati manusia. Pun hati yang dimiliki Kurosaki Ichigo. Tidak bisa ditebak apa yang ada di dalam hati lelaki seperti Ichigo. Apa—hati seseorang bisa berubah secepat ini? Seperti makanan cepat saji?

Rukia menyipitkan mata memandangi Ichigo yang masih terus berusaha menuju ujung jalan. Tidakkah makanan cepat saji bisa merusak kesehatan? Di helanya napas, pikirannya malah melantur ke makanan cepat saji.

Selama beberapa bulan berada di sisi Kurosaki Ichigo. Sedikitnya, Rukia tahu bagaimana karakter Ichigo selama mereka tinggal serumah. Dia itu lelaki tempramen, mudah merasa bersalah, bertanggung jawab, dan juga—ehm, Ichigo itu bukan seseorang yang cerewet mengenai masakan. Jika masakan enak, dia akan makan tapi kalau tidak enak, tanpa berkomentar dia tidak akan menyentuh masakannya.

Perangainya saat berteman dengan orang lain sangat baik. Terbukti kalau dia punya banyak teman. Tidak suka mengurusi masalah orang lain. Meskipun pada dasarnya, dia seseorang yang penyendiri dan mudah kesepian. Hanya saja yang mengganjal, kenapa dia tidak bisa berteman baik dengan Grimmjow? Kening Rukia mulai mengerut.

Ichigo itu cendrung mengatakan apa yang tidak dia sukai secara langsung tanpa basa-basi, kecuali soal masakan. Dia selalu memakan apapun yang dimasakkan Rukia—yah, jika itu enak. Alangkah beruntungnya, wanita yang dicintai oleh seorang Kurosaki Ichigo. Memikirkan itu membuat Rukia menundukkan kepala, mendadak dadanya memberat membayangkan siapa perempuan yang bakal menjadi isteri Ichigo.

Tentu saja, Rukia tidak termasuk di list calon perempuan yang dicintai Kurosaki Ichigo. Lelaki itu mungkin masih membencinya. Hanya karena amnesia saja, Ichigo mau menolongnya dan mengajak tinggal bersama.

Rukia menggaruk-garuk dadanya yang memanas, kalau ketahuan berbohong—mungkin Ichigo bisa membunuhnya kapan saja. Seharusnya Ichigo tidak melakukan ini padanya? Merawat dan bersikap baik di saat dirinya kehilangan jati diri? Beban seperti apa yang membuat Ichigo harus berpura-pura menjadikannya sebagai saudara?

"Rukia!"

Gadis itu tersentak ketika dari ujung jalan, Ichigo memanggilnya sembari tersenyum lebar. Laki-laki itu seperti anak kecil menyerukan namanya dari seberang jalan sana.

"Cepat kemari!"

"Aku takut, Nii-san! Pasti sangat sakit!"

"Tidak sakit! Lihat!" Ichigo menunjukkan telapak kakinya pada Rukia, tampak sedikit kemerahan membuat Rukia tersenyum miris—itu pasti sakit sekali. Melihat mimik meringis dari Rukia yang belum mencoba berjalan, Ichigo melompat-lompat di tempat. "Sama sekali tidak sakit, Rukia! Aku bahkan masih bisa melompat!" Benar-benar seperti anak kecil si Ichigo itu. Sungguh kekanak-kanakan.

Rukia mengembuskan napasnya. Perlahan ia mulai menginjakkan jalanan dipenuhi kerikil yang menyembul tersebut. Sebagai permulaan ia menahan napasnya lalu terembus halus, perlahan selangkah demi selangkan, Rukia berjalan pelan seraya mengepalkan tangannya menahan nyeri yang mulai menyentuh.

Tampak Ichigo sedang menunggunya dengan wajah tegang. Laki-laki itu berjongkok, bersikap sesabar mungkin tanpa banyak bicara sembari memperhatikan kaki-kaki mungil Rukia menapaki jalan.

"Kau pasti bisa, Nona!" Suara sorakan terdengar dari arah kanan dan kiri. Rupanya orang-orang jauh lebih terlihat bersemangat dibandingkan dirinya yang melewati jalan ini.

Sebagai ucapan terima kasih, Rukia melayangkan senyum cerah.

Saat kembali memusatkan perhatiannya pada Ichigo. Rukia berhenti melangkah. Perjalanannya sudah di pertengahan jalan ketika dilihatnya Ichigo tengah mengulurkan kedua tangan dengan posisi berjongkok, seolah-olah hendak mengajak gadis itu masuk ke dalam pelukannya jika sudah sampai di garis finish.

Kerikil-kerikil ini sungguh membuat sekujur tubuhnya sakit. Rukia menggigit bibirnya kuat, berusaha menahan nyeri yang telah menjalar hingga ke syaraf kepala. Tanpa terkecuali hatinya yang seakan tertancap anak panah yang dulu pernah Ichigo lepaskan hingga melukai pipinya.

Mengingat kejadian menyakitkan itu membuat Rukia benar-benar berhenti berjalan. Ia menutup sejenak matanya yang nyaris menumpahkan sebutir air, kemudian bergerak ke samping dan keluar dari jalanan kerikil.

Suara-suara penuh kekecewaan meluncur dari orang-orang yang menyaksikannya. Biar saja, apa peduli Rukia pada mereka. Gadis itu kembali ke pangkal jalan untuk memakai sepatu yang ia lepaskan tadi. Wajahnya gusar menyimpan gelisah.

Ichigo terpaku sesaat seraya menghela napas, membuang rasa kecewanya. Segera ia berlari mendekati Rukia yang telah mengenakan kembali sepatu.

"Kenapa tidak kau selesaikan, Rukia? Kau sudah sampai di pertengahan," bujuk Ichigo dengan suara agak tinggi.

"Akan kuselesaikan, kok."

Usai mengatakan itu, Rukia berlari melewati jalanan kerikil dengan kaki bersepatu.

.

.

Kejadian tadi sore membuat Rukia menghindari kontak mata apalagi kontak fisik dengan Ichigo. Dia terus memikirkan, bagaimana seorang Ichigo terlihat sangat senang melihatnya kesakitan.

Tadi sore sudah menampar Rukia pada kenyataan bahwa dirinya harus menyadari kalau Ichigo tengah merawatnya sebagai seorang pasien amnesia. Ohh! Ichigo 'kan mahasiswa kedokteran yang mempelajari tentang syaraf, bukankah ia adalah seseorang yang pas untuk dijadikan pasien? Rukia mengusap-usap wajahnya di depan cermin wastafel dengan sabun muka.

Wastafel khusus menucuci muka dan tangan itu terletak di dapur, tepat di samping pintu menuju kamar mandi.

Ketika Rukia telah membilas wajahnya dengan air dan bercermin kembali, tiba-tiba dari dalam cermin muncul wajah Ichigo. Rukia segera menoleh, mendapati kakak palsunya itu sudah berdiri di belakang.

'Seperti hantu saja,' ia merutuk dalam hati, debaran jantungnya bertalu cepat.

"Kau belum tidur?" tanya Rukia, ia menoleh pada jarum jam yang menunjukkan pukul sembilan malam lebih, padahal jam segini Ichigo sudah tidur.

Tak ada respons apapun dari Ichigo

Tampil dengan kaos tanpa lengan membuat otot Ichigo terlihat jelas. Rukia meneguk ludah, gadis itu takut membayangkan kalau lengan itu memukulnya. Tubuhnya pasti bisa terpelanting jauh.

Rukia baru akan berlalu. Mempersilakan Ichigo yang sepertinya sedang ingin membasuh muka. Namun, langkahnya berhenti ketika Ichigo berhasil menggenggam otot lengan gadis itu. Astaga! Rukia terkejut, matanya terbelalak dengan hentakan kasar Ichigo yang berhasil menarik tubuh mungilnya berhenti mendadak.

"Ke-kenapa?"

"Apa kakimu sakit?" Ichigo terlihat cemas. Gara-gara kejadian tadi sore, ia merasa Rukia menyimpan marah padanya.

"Tentu saja," sahut Rukia berpura-pura marah. "Kakiku pegal dan nyeri, kerikil-kerikil itu sudah membuatku tidak bisa tidur."

Tanpa peringatan, Ichigo menarik lengan Rukia kemudian mendudukkan gadis itu di sofa panjang ruang televisi.

"Pantas sejak tadi kau menghindariku."

Ichigo tersenyum kisut, dia sungguh memikirkan sikap ganjil Rukia yang terus menghindar. Dan itu juga membuatnya sulit memejamkan mata.

Rukia tidak mengerti apa yang ingin Ichigo lakukan padanya. Lelaki itu menyuruhnya duduk di sofa, kemudian berlari ke kotak obat-obat yang tersimpan di dalam laci rak televisi dan kembali dengan membawa sebotol kecil minyak pijat.

Minyak pijat? Ja-jangan bilang—Rukia terkesiap ketika Ichigo mengangkat kakinya lalu menaruh kaki mungil gadis itu di atas pangkuannya sementara Ichigo sendiri berada di sisi lain sofa. Rukia berusaha menarik kakinya turun, namun Ichigo kembali menahan gerakan kakinya.

"Setelah ini tidurmu pasti jadi nyenyak."

"Apa yang Nii-san lakukan? Aku bisa memijat kakiku sendiri!"

Seraya mengoleskan minyak di telapak kaki Rukia, Ichigo menyoroti Rukia dengan tatapan membius. "Aku calon dokter, aku lebih tahu dimana titik-titik syaraf yang harus kupijat."

"Ini memalukan! Aku tidak mau!"

Lagi-lagi Rukia memaksa Ichigo untuk melepaskan kakinya.

"Apa salahnya? Ini tidak memalukan, Rukia. Kita tidak sedang berbuat yang aneh-aneh."

Pipi Rukia bersemu. Bukan itu yang gadis itu pikirkan, sungguh.

"Tetap saja. Ini tidak pantas…" jawaban itu membuat Ichigo terdiam. Entah apa yang membuat lelaki itu melemahkan pegangan lalu melepaskan kaki Rukia dari genggamannya.

Secepatnya Rukia beranjak dari sofa dan kembali ke kamar. Menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu menguncinya. Meninggalkan Ichigo yang duduk membeku di sofa.

Pintu kamar Rukia tutup, ia bahkan menguncinya. Jemarinya terkepal kuat, tubuh rileksnya lagi-lagi menegang karena perlakuan lembut Ichigo. Selalu saja, ketakutannya kambuh tanpa bisa disadari.

Entah Ichigo sedang bersikap buruk ataupun baik, semua terasa sama saja. Laki-laki itu tidak bisa ditebak maunya. Membuat Rukia harus terus berpikiran negatif mengenai segala hal ide yang muncul dari otak jenius Ichigo.

Gadis itu terduduk di tepi ranjang, matanya menerawang ke langit-langit kamar. Kepalanya mulai dibayangi wajah Ichigo yang bengis dan… yang manis, Rukia tersenyum miris, menyadari bahwa Ichigo pernah tersenyum manis padanya. Padahal dulu Ichigo tidak pernah seperti itu. Lelaki itu memang pernah memberi senyum, tetapi cuma senyum mengejek setiap kali dia menjahati Rukia.

Bunyi ketukan dari pintu mengejutkan Rukia. Ia terlonjak dari lamunan ketika suara Ichigo memanggilnya dari luar.

"Rukia! Tolong buka pintunya sebentar."

Ada apalagi ini? Rasanya frustasi bagi Rukia setiap kali didatangi perasaan takut.

"Ada apalagi, Nii-san? Aku mau tidur."

Pintu masih tertutup, Rukia harus bersikap sewaspada mungkin agar Ichigo tidak mencelakainya.

"Kau bilang mau memijat kakimu sendiri 'kan? Kalau begitu pakai minyak pijat ini," suara Ichigo merendah, terdengar berat dan—sedih?

Lekas gadis itu membuka pintu dan mendapati mata jernih Ichigo tengah menatapnya kecewa. Rukia tidak mengerti maksud tatapan itu, warna aura Ichigo terlihat suram.

"Terima kasih."

Tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Ichigo. Rukia kembali menutup pintu kamar seraya menggenggam sebotol kecil minyak pijat.

.

.

Bersambung

.

Terima kasih reviewnya teman-teman. Terima kasih atas pengertiannya kalau dalam beberapa kesempatan sy tidak membalas review. Maafkan untuk itu ya, demi upadate cepat, semoga teman-teman memaklumi kalau pertanyaannya tidak dijawab. Nanti di alur cerita, semua pertanyaan pasti terjawab sendiri.

Satu saja deh sy kasih keterangan, kalau Ichigo tidak menderita sakit apapun. Part kemarin, dia cuma pusing biasa. Ichigo itu salah satu dari sekian banyak orang yang suka bermimpi buruk sampai mengigau. Apa teman-teman suka adegan Rukia nepuk-nepuk kepala Ichigo biar bobo-nya jadi tenang? Kalau suka, nanti kita bikin lagi deh :)

Part #12 sedang disiapkan, ditunggu saja ya.