BLEACH -0- TITE KUBO
Unforgiven Angel
Part #12
.
.
"Hrggh…"
Kurosaki Ichigo mengerang frustasi karena menatap lama layar ponsel miliknya.
Garis wajah dan senyum seterang matahari berkilauan di sekitar foto perempuan yang ia jadikan adiknya itu sudah membius Ichigo.
Dengan kesepuluh jemari yang saling bertautan, ia menahan dagunya di atas tautan tersebut. Sedangkan sikunya ia tumpu di permukaan meja. Ponsel yang menampilkan sosok Rukia yang sedang menyiram bonsai kerdil tergeletak di meja, menjadi barang yang sejak tadi Ichigo amati.
Lama tenggelam dengan kefrustasian yang ia ciptakan sendiri, Ichigo menghalau matanya untuk segera berhenti memuja senyum Rukia.
Sedikit kasar, ia menutup flap ponsel. Lalu seraya memindahkan tautan jemarinya ke leher bagian belakang, Ichigo bergumam kecil, "Sejak kapan aku jadi sinting seperti ini?" gerutunya terdengar letih. Beruntung kelas sudah sepi saat itu, sehingga ia tidak perlu memperlihatkan wajah kusutnya di depan Renji dan yang lainnya.
Matahari terik masih menggantung di langit Las Noches. Mata kuliah hari ini berakhir cepat, tidak seperti biasanya, Ichigo sedang tidak ingin cepat pulang. Di saat-saat seperti ini, Renji dan yang lainnya malah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Makanya, sekarang Ichigo meratapi kesendiriannya dengan melamun di kelas.
"Hai."
Sungguh pucuk dicinta ulam pun tiba. Di tengah keinginannya untuk menghabiskan waktu di luar, Nell datang di depannya menyuguhkan penawaran yang mungkin bisa menghibur.
"Kau mau berkencan denganku?" sambung Nell langsung. Ichigo terlihat tenang, namun sebetulnya ia sedikit syok dengan pertanyaan itu.
Ia memang pernah terpikirkan untuk mengajak gadis secantik Nell berkencan, apalagi dengan begitu ia bisa memancing kemarahan Grimmjow Jaegerjaques. Sebab setiap kali bertemu, selalu saja dirinya yang dibuat kesal oleh kehadiran Grimmjow.
"Kau terlalu cantik untuk ditolak, Nell. Memangnya kau ingin kuajak kemana, hn?" Segera Ichigo menyampirkan ransel di punggung kemudian mengajak Nell keluar dari kelas. "Oh, sial! Aku sedang tidak membawa kendaraan."
"Kita pakai mobilku saja."
Ichigo menyamai langkah Nell yang berada sedikit di belakang, "Baiklah. Kalau begitu biarkan aku yang menyetir."
"Ini," Nell memberikan kunci mobil miliknya pada Ichigo, kemudian berjalan sembari menggamit lengan lelaki di sebelahnya tersebut. "Ajak aku ke apartemenmu saja."
Mendengar ide itu, Ichigo berhenti melangkah.
"Itu ide yang buruk. Dan itu tidak bisa disebut dengan kencan."
Nell menyoroti mata Ichigo dengan serius, "Kenalkan aku pada adikmu. Aku ingin mengenal adikmu yang bisa membuat seorang Grimmjow merelakan dahinya diretakkan oleh seseorang."
"Dia pantas menerima itu! Tapi—baiklah."
Dalam hati Ichigo tersenyum sinis. Ini adalah kesempatan untuk memancing kemarahan Grimmjow yang selama ini menjadi pengganggu Rukia. Akan dibuatnya si Grimmjow kalah telak dan menanggung cemburu. "Omong-omong, apa pacarmu tidak akan marah?" Ichigo menyembunyikan niat buruknya dengan pertanyaan itu.
"Grimmjow sedang keluar kota, jadi aku bisa bebas."
Sialan! Ichigo mengutuk dirinya sendiri. Dengan begitu niat buruknya tentu saja tidak bisa dilakukan.
.
Hari berlalu begitu cepat, sampai-sampai Ichigo baru menyadari rambutnya sudah memanjang hingga ke pertengahan tengkuk. Ia mengacak bagian tengah rambut orenyenya, membuat helai-helaian berpigmen seperti jeruk itu menjadi berantakan. Dari cermin spion yang sama Nell mengintip dari sudut belakang tubuh Ichigo.
"Kau terlalu keren untuk jadi dokter. Kenapa tidak mencoba jadi model saja sepertiku?" komentar Nell sembari berjalan memutari kap depan mobil, lalu memasukinya.
Ichigo menyeringai kecil, "Tidakkah dengan begitu, kita akan jadi pasangan model paling serasi?"
Mereka sudah berada di dalam mobil dan Ichigo mulai menyalakan mesin mobil tersebut hingga suaranya menderum di tengah pelataran parkir kampus.
"Lalu aku harus melepaskan pria tampan dan mapan seperti Grimmjow demi bocah kampus sepertimu? Huh, jangan berharap."
"Akan kupastikan kau jatuh hati padaku, Nona Nelliel."
Sejenak Nell memperhatikan raut serius Ichigo, wanita cantik itu akhirnya melepaskan tawa.
Mobil melaju stabil menuju gedung apartemen Ichigo, dimana Grimmjow yang—menurut Nell sedang berada di luar kota—juga mendiami salah satu unit apartemen di sana. Pantas beberapa hari ini Ichigo merasa dunia aman, rupanya si biang keladi yang selalu mengangganggu jam makan malam mereka sedang tidak berada di kediaman.
Malangnya, Ichigo kehilangan kesempatan untuk membuat tetangga biru itu marah-marah di depan Rukia. Padahal pasti sangat seru melihat laki-laki itu merasakan apa yang dirasakannya selama ini, pikir Ichigo menyumpahi Grimmjow.
Tunggu, memang apa yang dirasakannya? Cemburu juga 'kah? Ichigo menggelengkan kepala, menjernihkan pemikiran ngelanturnya tentang Grimmjow dan Rukia. Lagipula hubungan dia dan Rukia tidak sedalam hubungan Grimmjow dan Nell, semua itu berhasil membuat Ichigo terombang-ambing dengan apa yang ia rasakan terhadap Kuchiki Rukia sekarang.
Jalanan aspal yang mulus benar-benar membuai kegiatan menyetir Ichigo ke apartemen. Di sela fokusnya mengendarai mobil, sesekali ia akan menyahut ataupun menimpali kata-kata Nell. Perlahan namun pasti keduanya mulai bersikap selayaknya teman baik.
Di waktu silam dia tidak seperti ini. Dahi Ichigo mengernyit ketika masa lalunya terlintas. Ichigo mengingat bagaimana dia tidak peduli dengan urusan perempuan apalagi berniat mempermainkan mereka. Terkecuali kehadiran Rukia dulu yang sering memancingnya berniat buruk. Ichigo mendengus mengingat-ingat betapa nama Kuchiki bagai spesies kuman yang harus dibasmi. Betapa dulu pula, dirinya setiap waktu melempar sumpah pada gadis selugu Rukia.
Pandangan mata Ichigo meredup, apalagi ketika di Karakura waktu itu ia bertemu Ishida dalam keadaan yang kurang baik—sepupunya tersebut terus-terusan mendesak Ichigo untuk memberikan Rukia padanya, karena merasa Rukia tidak akan membaik jika bersama pria yang dulu pernah membenci gadis itu. Tanpa sadar, Ichigo mengeratkan genggaman pada lingkaran setir mobil.
Ia seolah dikubur ke dalam perasaan yang tak terlihat. Gelap, tidak ada bayangan sama sekali. Ichigo merasa hatinya sedang tidak berada di tubuhnya.
Sesuatu yang kalut lambat laun berubah menjadi tambang yang melilit pinggangnya. Dia mulai merasa dicekik oleh keadaan ini, lalu dihimpit oleh bebatuan yang bernama Rukia.
"Awas!"
Pekikan Nell mengejutkan Ichigo yang terhempas dari lamunan. Lelaki itu meneguk ludah ketika dengan mendadak ia berhasil menghentikan mobilnya yang nyaris saja menabrak seseorang di depan sana.
"Hati-hati, Ichigo! Kau hampir mencelakai orang itu!"
"Ma-maaf," seraya kembali melanjutkan laju mobil, Ichigo bernapas lega. Bersyukur bahwa hari ini Kami-sama masih memberi keberuntungan untuknya.
Selain tatapan horror yang diberikan Nell, Ichigo juga mendapatkan omelan dari si pemilik mobil tersebut.
.
Ichigo tidak menemukan keberadaan Rukia di dalam rumah. Beginilah dampaknya jika ia sudah membebaskan gadis itu dari dunia luar. Entah kegiatan seperti apa yang sedang dilakukan Rukia di luar rumah, Ichigo berusaha untuk tidak peduli lagi.
Semua yang dikatakan Ishida waktu itu membuat Ichigo sebisa mungkin untuk tidak mengatur si gadis amnesia dengan sikap semena-mena.
Tertempel sebuah memo di pintu kulkas ketika Ichigo hendak mengambilkan Nell sekaleng softdrink.
"Aku sedang jalan-jalan di Sunflower Park. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku."
Singkat sekali. Wajah Ichigo mengerut, seraya menggenggam kertas kecil berwarna kuning itu hingga kusut di dalam genggaman lalu membuangnya di tempat sampah.
Berjalan-jalan ketika langit masih terik? Apa yang sedang dipikirkan gadis itu? Ichigo menengok pada hawa panas di luar kaca jendela, digelengkannya kepala berusaha tidak memikirkan apapun yang dilakukan Rukia tanpa dirinya.
"Hei, Ichigo! Kenapa tidak ada foto keluargamu yang dipajang?"
Seruan Nell dari arah ruang televisi menyentakkan Ichigo pada kenyataan bahwa ia sedang menerima tamu. Foto keluarga, huh, Ichigo mendesah letih. Otaknya sedang tidak berminat mencari kebohongan yang pas untuk pertanyaan yang diberikan Nell. Gadis bertubuh sintal itu belum layak untuk dijadikan tempat berkeluh kesah.
"Aku tidak suka memajang foto. Orang-orang bilang sebuah foto yang dipajang akan menjadi sarang para makhluk halus," jawab Ichigo asal. Tetapi efeknya malah tidak terduga sama sekali, sebab sekarang Nell sudah merapatkan posisi duduknya bersebelahan dengan Ichigo.
Wanita itu ketakutan.
"Ahh, kau ini membuatku takut saja sih!"
Ujung bibir Ichigo mau tidak mau membentuk senyuman kecil. Nelliel yang dari luar terlihat mandiri, keras kepala dan angkuh ternyata seorang penakut.
"Adikku sedang keluar rumah. Maaf ya kau tidak bisa melihatnya."
Nell menghela napas kemudian meminum sampai habis sekaleng softdrink yang disuguhkan. Diabaikannya fakta Ichigo barusan dengan berkata, "Pergi kemana dia memangnya?"
"Katanya tadi sedang jalan-jalan di Sunflower Park."
Mendapat jawaban tersebut sontak membuat Nell berdiri dari tempat duduknya semula.
"A-apa? Ayo kita cari dia di sana!"
"Untuk apa mencarinya?" Ichigo menggantung pertanyaan itu sebentar kemudian meneruskan. "Jangan bilang kalau kau curiga pada adikku. Bukankah tadi kaubilang Grimmjow sedang di luar kota?"
"Aku berbohong. Sudah beberapa kali dia kutelepon, tapi tidak diangkat. Dan aku mencurigai kalau dia sedang berselingkuh dengan seseorang. Ah, sialan! Satu-satunya yang membuatku curiga, cuma adikmu itu. Jujur saja, semenjak mereka berteman, Grimmjow mulai berubah padaku."
"Kau jangan menyalahkan Rukia. Pada dasarnya, kekasihmu itu yang menderita kelainan. Tidak mungkinkan dia melepaskan wanita secantik kau hanya demi seorang perempuan lugu seperti adikku." penjelasan itu sebetulnya berupa sindiran Ichigo pada Nell yang berlagak lebih sempurna daripada wanita lain.
"Harusnya kau cemas, Ichigo!"
"Tidak ada yang perlu kucemaskan lagipula—"
Sanggahan Ichigo terpotong ketika Nell berbalik ke pintu luar, "Lagipula apa, hn? ! Mereka pasti sedang berkencan!" prasangka Nell yang menggebu-gebu diterima Ichigo dengan helaan napas.
Kecemburuan Nell pada kekasihnya, membuat Ichigo benar-benar geram. Dia tidak pernah mendapatkan perhatian sebesar itu dari seorang perempuan.
Belum sempat Nell mencapai pintu, Ichigo segera mencegat langkah Nell dengan menarik pergelangan tangan wanita bermata hijau itu. Perasaan lelaki itu tak karuan, isi perutnya bergejolak akibat soda dari softdrink yang ia minum tadi.
Dalam waktu bersamaan Nell tidak bisa melawan gerakan Ichigo yang kini sudah mengurung tubuhnya diantara dinding dan dada kokoh pemuda itu. Mata bulat Nell membesar, seluruh indera gadis itu terkunci pada pesona Kurosaki Ichigo. Jiwanya seakan ditarik paksa oleh mata tajam Ichigo yang hangat.
"Kalau mereka berkencan—kenapa kita tidak berkencan juga, Nelliel?"
Sentuhan halus hinggap di bibir Nell. Ichigo mencium Nell dengan perasaan kacau. Merasakan dalam-dalam bagaimana rasanya bibir dari kekasih si Grimmjow sialan. Grimmjow Jaegerjaques yang sudah berani memasuki kehidupan Rukia tanpa izinnya—memikirkan itu membuat Ichigo kehilangan akal, apalagi Nell menyambut ciumannya dengan suka cita.
Ciuman itu berlangsung beberapa detik. Ketika untuk detik selanjutnya seseorang membuka pintu apartemen dari luar, menampilkan sosok Rukia yang sedang memeluk pot berisi tanaman bunga mawar.
Pandangan Rukia membeku. Jantungnya melonjak-lonjak oleh pemandangan erotis yang terpampang di hadapannya.
"Ma-maaf, sudah mengganggu kalian," hampir saja Rukia menjatuhkan pot mawar itu dari pelukan lengan. Ia melewati begitu saja Ichigo dan Nell yang kini sudah saling menjaga jarak.
Melalui sudut matanya, Ichigo memperhatikan Rukia yang berjalan keluar menuju balkon. Sampai ketika suara Nell mengalihkannya kembali.
"Apa kau benar-benar tertarik denganku?"
Ichigo tidak berani membalas tatapan Nell, ia mencari direksi lain untuk ditatap. "Begitulah, aku sudah bilang padamu 'kan."
"Akan kucari cara untuk putus dengan Grimmjow lebih dulu, baru menerima perasaanmu. Selagi itu, maukah kau menungguku?"
"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama," desis Ichigo sembari menatap Nell lekat-lekat.
Sebagai jawaban ambigu, Nell mengulas senyuman manis. Sekalipun Grimmjow sering menghadiahinya barang-barang berharga, tetapi bersama Ichigo, Nell merasa berbeda. Hatinya sungguh dipenuhi bunga musim semi.
.
Nell sudah membawa mobilnya pergi. Ichigo mengantar wanita itu hingga ke parkiran gedung apartemen. Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, barulah Ichigo mengusap wajahnya yang kusut sejak tadi.
Seolah dia belum bisa mencari tahu, sesuatu yang mendorongnya untuk mencium Nell beberapa saat lalu. Dan parahnya—Rukia melihat mereka berciuman.
Angin di musim itu berembus, melayangkan pandangan Ichigo pada sosok Rukia yang berdiri di atas balkon unit apartemen. Pada saat yang sama pula, Rukia memperhatikan Ichigo yang juga memandanginya dari bawah.
Mereka saling beradu pandang, sebelum akhirnya Rukia lekas berbalik meninggalkan balkon dan pot berisi tanaman mawar yang terletak bersebelahan dengan bonsai kerdil.
Beberapa saat kemudian, Ichigo sudah kembali ke apartemen. Decitan pintu membuat unit apartemen yang hening itu bergema karena suaranya.
"Tadi aku mampir ke minimarket membeli eskrim," tegur Rukia agak kikuk, bersikap wajar seolah tak terjadi apapun di ruangan itu. Padahal kejadian barusan, sudah membuat keduanya bersikap canggung. "Apa Nii-san mau kuambilkan eskrim?"
"Tidak usah."
Ichigo tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus diperlihatkan sekarang. Dia tidak berani menanyakan apapun pada gadis itu. Menanyakan dari mana saja Rukia tadi pergi? Atau apa yang dilakukan gadis itu di Sunflower Park sendirian? Sendirian? Benarkan Rukia pergi ke sana sendirian? Juga—darimana Rukia mendapatkan tanaman mawar?
Tidak tahan dengan segala macam praduga acaknya. Ichigo mengerang kecil, kesal dengan segala yang dilakukannya pada Nell tadi terjadi di depan mata Rukia. Daripada ia terpojok dengan kesenyapan yang muncul di ruang itu, Ichigo memutuskan merehatkan tubuh di kamar.
Sesampainya di dalam kamar, bukannya menjadi tenang, Ichigo justru tercekik pada skenario kekacauan yang ia ciptakan sendiri. Kepalanya berdenyut pening, pun hatinya yang masih diganjal dengan segala dugaan pada Rukia. Dadanya naik turun seperti atlet lempar lembing yang baru saja berlari dan melempar lembingnya.
Gelisah menyelubungi matanya yang menggelap. Ichigo mondar-mondar di kamar dengan gerakan syaraf otaknya yang buntu. Sembari mengusap-usap bibirnya yang baru saja ia gunakan untuk mencium wanita selain Rukia, Ichigo menggeram jika mengingat itu.
Lalu dengan kemarahan yang dipendam, Ichigo mengibaskan tangannya pada barang-barang di meja belajar hingga semua barang di atasnya jatuh berserakan, menimbulkan dentuman keras.
Belum puas dengan barang-barang di atas meja belajar, Ichigo yang tengah kalut mengibaskan semua barang yang terletak di meja tepi ranjang tidur. Bunyi dentingan dan benda-benda yang terjatuh lainnya meramaikan seisi ruangan kamar tersebut.
Dia sungguh berubah menjadi monster sekarang. Tenggelam ke dalam perasaannya yang tak mendasar.
Merasa sangat buruk karena mencium Nell, padahal ia sedang memikirkan Kuchiki Rukia? Gadis amnesia itu sungguh telah mengubahnya menjadi pria jahat. Oh ya ampun—kenapa malah Rukia yang ia salahkan? ! Sambil menghempaskan badannya yang kepayahan di atas kasur, Ichigo mencengkram rambut-rambut jingganya yang melembab.
.
.
.
Nyawa Ichigo kian hari seakan kian memendek. Bukan karena apapun, namun karena jantungnya yang berdebar kencang setiap kali Rukia ada di dekatnya. Siang itu di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas kuliah, Ichigo memaku tatapannya pada kegiatan Rukia yang sedang melakukan sesuatu di dapur.
Dengan kepala menoleh terus memperhatikan punggung kecil Rukia yang bergerak kesana kemari, Ichigo melupakan laptop miliknya yang menyala sejak tadi. Dia ingin menanyakan sesuatu yang sedang dimasak Rukia, tetapi mendadak lidahnya mengeras.
"Selesai!"
Mendengar teriakan Rukia, sontak Ichigo mengembalikan pandangan pada laptop yang sejak tadi ia hiraukan. Jari-jari Ichigo bergerak kembali di atas keyboard, bersikap sewajar mungkin. Tak lama dari situ, Rukia melangkah mendekati Ichigo dengan menunjukkan sesuatu.
"Cantik tidak, Nii?" tanya Rukia dengan mimik serius.
Bukan sesuatu yang ditunjukkan Rukia yang diamati Ichigo, namun apron dan wajah Rukia yang kotor karena dinodai tepung.
"Cantik. Memangnya kau membuat kue itu dalam rangka apa?"
"Ini kubuatkan untuk Grimmjow. Dia sering memberiku kejutan setiap kali bertemu," seraya berjalan kembali ke konter dapur, Rukia menerangkan lagi, "Kemarin saja dia memberiku boneka rillakuma. Karena aku tidak punya uang untuk membeli hadiah, jadi kubuatkan saja kue serba biru ini."
Satu-satunya hadiah yang pernah Ichigo berikan, hanya bonsai kerdil yang ada di balkon itu. Ichigo tersenyum miris. "Apa tanaman mawar di balkon itu juga pemberian dia?" Ichigo bertanya tanpa mengalihkan konsentrasinya pada layar laptop.
"Oh, bukan. Tanaman mawar itu kubeli sendiri di toko. Setiap hari merawat bonsai kerdil, sangatlah membosankan. Makanya aku mau merawat mawar merah saja, toh lebih cantik dan wangi."
"Rawatlah keduanya dengan baik, Rukia."
"Tanpa perlu kaubilang pun akan kulakukan. Tapi sepertinya aku harus lebih esktra memperhatikan tanaman mawar dibandingkan si bonsai kerdil yang menjenuhkan."
"Tidak boleh seperti itu!" Ichigo berniat memprotes, "Kau harus bersikap adil."
Ucapan Rukia barusan membuat Ichigo menyimpulkan analogi yang ia pahami. Tidakkah si bonsai menjenuhkan adalah Ichigo sendiri? Spekulasi tidak penting itu sudah menusuk-nusuk harga dirinya.
Kuchiki Rukia tidak boleh memberikan perhatian pada orang lain. Ichigo tidak mau jika seluruh waktu gadis itu dihabiskan hanya untuk memikirkan orang lain dan menghiraukan dirinya. Begitulah batinnya menggerutu.
"Aku mau memberikan kue ini dulu ya, Nii," Rukia telah memasukkan kue yang dipenuhi krim berwarna biru ke dalam sebuah kota plastik bening.
Penampilannya sungguh terlihat lezat.
"Biar kuantar."
"Tidak perlu. Setelah memberikan ini, aku akan kembali lagi."
"Aku percaya dengan ucapanmu, Rukia. Tapi aku tidak bisa percaya dengan orang itu."
Ichigo malas menambah bahan perdebatan. Ia memakai alasnya kemudian membuka pintu dengan diikuti Rukia yang berjalan di belakang. Selama perjalanan singkat itu, Rukia memulai percakapan yang sejak tadi mengganjal di hati. Berharap Ichigo tidak tersinggung dengan kata-katanya nanti.
"Apa—kau dan nona Nell sedang menjalin hubungan?"
Pertanyaan itu memukul genderang jantung Ichigo. Mau tidak mau ia mengingat kembali kejadian ciuman beberapa hari lalu.
"Belum," jawab lelaki itu seraya menghunus Rukia dengan tatapan tajam. "Kenapa, apa kau mengharapkan sesuatu jika orang sialan itu putus dengan Nell?"
"Tidak! Setidaknya kau tidak boleh merebut kekasih Grimmjow begitu saja. Nona Nell harus menjelaskannya jika dia memang ingin mengakhiri hubungan dengan Grimmjow. Kasihan Grimmjow jika kalian berdua bermain di belakangnya."
Tertohok dengan penjelasan Rukia membuat darah Ichigo memanas.
"Sepertinya kau sangat peduli dengan orang itu," komentar Ichigo tajam, dadanya memberat.
"Namanya Grimmjow Jaegerjaques. Berhenti menyebutnya dengan 'orang itu'."
Mereka sudah sampai di depan pintu ketika Rukia memperlihatkan ketidaksukaannya akan tingkah laku Ichigo selama ini pada Grimmjow. Gadis itu merasa prihatin pada Grimmjow dengan semua yang dilakukan Ichigo diam-diam pada kekasih lelaki biru itu. Kurosaki Ichigo memang selalu begitu, jika membenci seseorang, dia akan melakukan hal jahat dan licik tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Belum sempat Rukia menekan tombol interkom, Ichigo lebih dulu menekan tombol hijau itu berulang kali. Terus menekannya hingga dari dalam Grimmjow membukakan pintu.
"Bersikaplah lebih sopan, Kurosaki." Hanya itu kalimat salam Grimmjow, sebelum kemudian ia memfokuskan penglihatannya pada sosok gadis mungil di sebelah laki-laki berambut oranye, "Rukiaaa! Ayo masuk!"
Hampir saja tubuh Rukia terpeluk Grimmjow, jika saja Ichigo tidak menghalau gerakan Grimmjow dengan menarik tubuh Rukia agar berdiri di belakang perlindungannya.
"Dia cuma mau mengantarkan kue untukmu. Tidak bermaksud untuk bertamu."
"Huh, apa pedulimu. Paling tidak Rukia harus mencicipi teh di rumahku. Lagipula, kau bisa pulang. Nanti pasti akan kukembalikan Rukia ke rumah dalam keadaan baik."
Sebelum perdebatan berkembang menjadi pertengkaran, Rukia melerai keduanya.
"Grimmjow benar. Ayo kita masuk ke dalam sebentar, Nii."
Ajakan Rukia membuat kedua lelaki itu sewot. Grimmjow tidak senang dengan kehadiran Ichigo di dalam rumahnya, sedangkan Ichigo sendiri tidak rela menapaki kakinya ke tempat Grimmjow. Namun, mau bagaimana lagi, mereka harus meredam keakuannya demi Rukia yang terlanjur memasuki apartemen tersebut.
.
Selepas keluar dari apartemen Grimmjow yang menyesakkan karena dipenuhi canda tawa si pemilik rumah dan adiknya, Ichigo melangkah menuju apartemennya tanpa mempedulikan kehadiran Rukia yang berjalan di belakang. Hatinya menggerutu setiap kali keakraban antara Grimmjow dan Rukia berhasil membuat matanya iritasi.
Andai saja, di saat itu ada Nelliel, Ichigo bersumpah ia akan mengoyak-ngoyak harga diri Grimmjow dengan memanfaatkan Nelliel.
Setidaknya kau tidak boleh merebut kekasih Grimmjow begitu saja.
Kata-kata Rukia itu berdengung di otak Ichigo. Dia merasa dijebak oleh rencananya sendiri. Meskipun tutur nasihat Rukia tersebut begitu halus, namun Ichigo tersinggung. Memangnya dia tidak bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih sedap dipandang daripada kekasih Grimmjow itu! Ia melakukannya hanya untuk membuat orang itu jengkel dan agar Grimmjow mau menjauhi—
Ichigo membalik tubuhnya menghadap pada Rukia, hampir saja tubuh mereka saling bertabrakan. "Apa kau tidak malu berlagak manja di hadapan pria yang sudah punya kekasih?" tanyanya langsung tanpa jedah, matanya menatap Rukia, tampak begitu putus asa.
"Kami berteman baik. Benar-benar teman, kok, bukan teman selingkuh."
Sindiran Rukia berhasil menarik keluar syaraf mata Ichigo, "Kau mengejekku."
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya membenci pria pecundang sepertimu."
Rukia menutup mulutnya yang lancang. Ucapan itu murni karena kekesalannya saja, ia sungguh sudah kelepasan bicara. Gadis itu mengunci erat bibirnya ketika di hadapannya Ichigo tengah menunduk dalam—seolah tengah menyesali sesuatu.
"Pecundang?"
"Ma-maaf, Kuro—eh, Nii—"
Tidak sempat meneruskan permintaan maaf, mendadak Ichigo mencengkram kedua belah bahu Rukia seraya mengguncang tubuh mungil itu.
"Memangnya kaukira gara-gara siapa aku jadi seperti ini!"
Melihat mata cokelat jernih Ichigo yang berkobar, lagi-lagi ketakutan Rukia muncul. Begitupun Ichigo yang merasakan getaran kecil dari pundak adik palsunya itu.
Seolah menyentuh boneka berkekuatan listrik, Ichigo akhirnya mendesah pasrah. Dia tidak bisa terus seperti ini, dia harus melakukan sesuatu untuk membebaskan perasaannya yang kacau balau.
"Masuklah," suruh lelaki itu sembari mendorong perlahan punggung Rukia memasuki apartemen. Sedangkan dirinya tetap berada di luar, "Aku ingin keluar sebentar." Setelah memastikan Rukia masuk ke dalam, Ichigo menutup pintu tersebut lantas beranjak pergi dari sana.
Ia butuh menghirup udara segar, walaupun hari sudah mulai gelap, Ichigo ingin menenangkan pikiran. Paling tidak untuk saat ini saja.
Sambil mengeluarkan ponsel di saku celana panjangnya, Ichigo telah keluar dari lift yang menuju lantai dasar. Saat hendak menekan nomor milik Renji, tiba-tiba saja ada panggilan yang masuk. Dan rupanya, itu nomor milik sang ibu.
.
"Ibu—"
"Hallo, sepupu."
Ichigo tersentak ketika dari nomor ponsel sang ibu justru terdengar suara Ishida Uryuu.
"Ishida," lirihnya dengan dahi mengerut bingung.
"Susah sekali menghubungimu, jadi kupakai cara ini."
Memikirkan apa yang sedang dilakukan Ishida. Isi kepala Ichigo berputar lebih cepat, menebak apa saja yang akan dibicarakan si sepupu pada ibunya. "Jadi—kau mau mengancamku lagi dengan cara selicik ini."
"Besok mungkin aku akan ke Las Noches bersama ibumu. Tenang saja, Kurosaki, aku belum menceritakan apapun pada bibi Masaki. Biar nanti bibi sendiri yang mengetahui bagaimana tingkah lakumu di sana tanpa pengawasan beliau. Oh, iya! Aku harap kau tidak menyembunyikan Kuchiki-san lagi, karena aku sudah sangat rindu padanya."
"Banyak bicara—"
Ishida tidak menyisakan Ichigo membalas kata-katanya, ketika ia kembali mengancam. "Mungkin—nanti, aku akan mengambil Kuchiki-san," melalui sambungan seluler tersebut, Ichigo bisa merasakan ada seringai kecil dari balik ancaman Ishida.
"Tutup mulutmu, sialan!"
Tuut—makian Ichigo tidak lagi terselesaikan, karena Ishida sudah mematikan obrolan mereka secara sepihak.
Gara-gara ancaman Ishida, Ichigo kehilangan minatnya untuk keluar menemui Renji dan temannya yang lain. Putra sulung Masaki itu mengusap-usap wajahnya yang frustasi, kemudian ia memutuskan untuk kembali ke apartemen.
.
"Terima kasih untuk mawarmu kemarin ya? Ah, apa? Iya, aku juga merindukanmu."
Dari balik pintu, masih berdiri di luar apartemen dengan memegangi knop pintunya, Ichigo terpaku beberapa saat. Ia bisa mendengar dengan jelas sayup-sayup obrolan hangat Rukia dengan seseorang melalui telepon.
Pangkal hidung Ichigo mengerucut, menyatukan kedua alisnya yang telah bertautan.
Pada siapa gadis itu mengungkapkan kata rindu?
Kata-kata Ishida terlintas dalam ingatan Ichigo. Meminta untuk tidak menyembunyikan Rukia, karena Ishida sudah sangat merindukannya.
A-apa mungkin, Rukia tanpa sepengetahuan darinya telah berkomunikasi dengan Inoue atau yang paling memungkinkan adalah Ishida Uryuu.
Tidak, tidak mungkin.
Pegangan Ichigo pada knop pintu melemah, ia melupakan bagaimana benda canggih yang disebut telepon itu bisa menghubungkan Rukia pada siapapun. Ia lengah untuk sekedar memutuskan telepon rumahnya agar Rukia tidak bisa menggunakannya.
Lalu yang menjadi pikiran Ichigo sekarang, sampai dimana gadis itu mendapatkan informasi dari seseorang di luar sana. Tenggorokan lelaki itu tercekat oleh ludahnya sendiri.
Terperosok ke dalam prasangka, Ichigo tersentak kaget ketika dari dalam suara tawa Rukia menggelegar di ujung telinganya. Bukannya Ichigo tidak menyukai gelak tawa dari gadis itu, namun sesuatu ataupun seseorang yang sudah membuat gadisnya itu melepaskan tawa.
Gadisnya? Ya ampun, sejak kapan dia berharap Kuchiki Rukia menjadi gadis miliknya.
Pintu terbuka. Dan dalam sekejap Rukia berhenti tertawa, tampak wajah Rukia berubah membiru. Seakan-akan ia sedang melihat hantu muncul di depan matanya. Sambungan telepon segera terputus, Rukia bergerak mundur dari meja telepon yang terpasang tepat di sebelah peralatan interkom.
"Nii-san," dengan gugup Rukia membalas tatapan Ichigo.
"Kau bicara dengan siapa?"
"A-aku bicara dengan—"
"Sudahlah, lupakan pertanyaanku tadi." Ichigo berlalu dari hadapan Rukia, kemudian melangkah melewati ruangan depan. "Badanku lelah. Tolong buatkan aku teh hijau," perintah Ichigo dengan seenaknya sembari kembali melempar tatapan sinis, "Sekalian antarkan tehnya ke kamarku."
"Ya," sahut Rukia sembari mengembuskan napas lega. Dalam hati ia bersyukur, meski ia tidak tahu apakah tadi Kurosaki Ichigo mendengar obrolannya dengan Inoue atau tidak.
.
Ichigo melepaskan pakaian hingga yang tersisa hanya kaos dalam putihnya yang tak berlengan dan celana panjang hitamnya. Dengan gerakan malas, ia segera berbaring di kasur empuknya kemudian menerawangkan pandangan pada langit-langit kamar.
Sakit sekali.
Seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama di bagian organ—hati.
Di atas ranjang, Ichigo hanya bergerak-gerak gelisah. Matanya terpejam menyimpan gelisah, hingga tanpa sadar ia merintih. Perlahan butiran liquid turun dari ujung matanya yang tertutup.
Dalam keadaan setengah tidur ia menangkap suara langkah kaki seseorang menapaki lantai kamarnya.
Lantas selang detik berikutnya, suara benda yang ditaruh di atas meja kembali mengusik. Ahh, ia baru ingat jika tadi ia meminta Rukia untuk membuatkannya teh.
Sayup-sayup terdengar seruan Rukia yang memanggil, "Tehmu sudah kubuatkan, Nii. Minumlah selagi hangat."
Ichigo tidak bisa merespons panggilan itu. Kelopak matanya terlalu berat untuk terbuka, dan mulutnya terlalu sibuk membuang napas.
Di sela helaan napas, Ichigo merasakan sensasi hangat dari rambut kemudian turun ke dahi. Sepertinya itu telapak tangan Rukia yang tengah mendeteksi suhu badannya.
"Apa kau sakit?" ada nada khawatir yang meluncur dari pertanyaan Rukia, menimbulkan getaran-getaran yang menebal di dada Ichigo.
Sampai-sampai deru napas Ichigo yang semula kacau menjadi tenang.
Sentuhan lembut penuh perhatian itu sudah membakar kesadaran Ichigo.
Hingga dengan kekuatannya, Ichigo menarik pergelangan tangan si gadis yang bertengger di dahinya.
"Aakh!"
Rukia memekik, kejutan lain datang ketika dalam sekali tarik, dara cantik itu sudah terbaring di kasur dengan Ichigo yang berada di atas tubuh mungilnya. Lelaki bermata sehangat madu tersebut memenjarakan Rukia ke dalam kukungannya yang posesif.
.
Bersambung
.
Terima kasih banyak untuk review teman-teman selama ini. Sungguh vitamin yang luar biasa ampuh untuk meneruskan cerita. Hehe.
Ada yang bisa menebak part #13?
Sampai di sini dulu ya. Part selanjutnya ditunggu saja :)
