BLEACH -0- TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #13

.

.

'Sudah kubilang bahkan berulangkali kusematkan—bahwa, aku tidak bisa membencimu. Bahwa aku tidak bisa untuk tidak memaafkanmu. Sekarang bahkan engkau menghukumku dengan tatapan selembut itu. Dimana kebencian yang selama ini kau tunjukkan padaku? Guratan di dalam syaraf matamu begitu kosong, ada kesenyapan di dalam hujaman sinar matamu—menembus sampai rusuk jantungku bergetar seperti tersengat jarum lebah madu. Menyakitkan sekaligus manis.'

'Kurosaki Ichigo, apa sebetulnya yang ingin kau lakukan padaku?'

Nyali Kuchiki Rukia mengecil, segumpal nyawanya seolah tersedot habis oleh mata coklat Ichigo yang berubah kelam dan menusuk. Rukia belum bisa mengakui bahwa ia mulai mencintai Ichigo. Kenyataan itu belum bisa Rukia terima dengan mudah. Karena posisinya sekarang hanya sebagai wanita amnesia yang disembunyikan Kurosaki Ichigo sebagai tanggung jawab.

Lagipula, Ichigo tidak mungkin mencintainya, meskipun sorotan mata lelaki itu seolah mendambakan dirinya. Untuk alasan yang membingungkan, Ichigo mungkin hanya tertarik padanya karena kedekatan mereka selama ini.

Rambut Rukia tergerai di atas kasur bagai lelehan lava hitam. Di atas seprai keabuan, kulit gadis itu tampak berkilauan memucat dengan sorot mata ungunya berbinar gelap. Rukia menikmati keheningan di antara mereka, ada kelegaan setiap kali ia memandangi postur tegap yang menjadi tempat berlindungnya.

Lengan yang merengkuh sekujur tubuhnya membelenggu bagai rantai besi. Otot baja yang ia kira mampu memukul mati musuh hanya dengan sekali pukul, kini memeluknya dengan sentuhan seringan salju. Tidak menyakiti sama sekali. Hanya saja, mata berdaun maple itu berapi-api seakan mampu membakar apapun di sekelilingnya.

Detik masih berlanjut dengan tubuh Ichigo yang masih betah berada di atas tubuh mungil Rukia. Gadis itu menatap lekat-lekat wajah Ichigo, mencoba memahami sesuatu yang ingin lelaki itu lakukan padanya.

Alis pria ini menaungi sepasang mata yang terkesan semakin dalam, meski tetap dangkal laksana warna jernih dari bebatuan amber.

Ia suka dengan bentuk hidung Ichigo, juga rahang hingga dagu yang mencerminkan keteguhan yang tak tergoyahkan. Sungguh meluluhkan hati setiap wanita yang menyentuhnya—Rukia tersentuh, pada tatapan mengiba pria itu. Walaupun ia tidak tahu, apa yang diharapkan Ichigo padanya.

Berlama-lama dengan posisi itu semakin menghanyutkan pikiran Rukia. Memikirkan betapa ia sangat menyukai penampilan acak-acakan maskulin rambut terang Ichigo, betapa ia selalu kalah dengan sikap angkuh dan pongahnya, dan betapa ia mencintai—terseret pada pesona Ichigo, menyentakkan Rukia pada fakta, bahwa ini hanya mimpi singkat mereka.

"Izinkan aku mengakui sesuatu," Ichigo akhirnya bersuara.

Benar-benar membukakan mata Rukia selebar mungkin ketika tanpa peringatan lagi, lelaki di atasnya mengangkat tangan kanan Rukia yang semula terkulai karena ditahan, mengangkat tangan itu hingga menyentuh bibir dingin Ichigo. Rukia terkesiap, ingin memberontak, namun tubuhnya tertahan oleh gelora panas yang lelaki itu hantarkan setiap kali ia hendak melawan.

Ichigo mencium telapak tangan Rukia, mengusap bibirnya di atas kulit tangan Rukia dengan sedemikian intim dan berhasrat. Sampai-sampai Rukia merasakan lilitan di perutnya.

"Aku tidak mengerti, Rukia. Aku tidak mengerti, kenapa aku sangat menginginkanmu?"

Pertanyaan ataupun penjelasan itu membuat Rukia meneguk ludahnya. Kesepuluh jemarinya terkepal erat, menghindari rayuan Ichigo semampu yang ia bisa. Kelopak mata Ichigo turun, bergulir hingga ke rahang dekat cuping telinga Rukia. Dimana luka akibat serangan para bandit kelas teri membekas di sana. Ichigo menempelkan bibirnya kuat-kuat di atas luka tersebut.

"Aku yang melukaimu," gumamnya kembali, memindahkan bibirnya ke bekas goresan luka panah yang dulu pernah Ichigo torehkan ketika mereka duduk di bangku SMA. Ketika dulu kebencian begitu menguasai hidupnya. "Juga—aku yang menyakitimu," bibir dingin Ichigo turun ke bagian dagu tirus Rukia, dan bibir pucat pria itu berhenti tepat di ujung bibir tipis Rukia.

"Bisakah kita benar-benar saling memaafkan?"

Laki-laki itu terlihat sangat tersiksa dengan rasa bersalah. Dia lelah dengan tanggung jawabnya untuk mengembalikan ingatan Rukia.

Namun sepertinya, Rukia tidak diizinkan untuk memprotes atau menjawab pengakuan Ichigo. Sebab kakak palsunya tersebut telah menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Rukia yang pasrah. Seolah mengundangnya untuk semakin menekan tubuh hingga saling menempel dengan begitu intim satu sama lain.

Alih-alih menjauh dari bukti maskulin seorang Kurosaki Ichigo, Kuchiki Rukia malah dengan terang-terangan menyambut ciuman mendesak itu dengan menyurukkan tubuhnya semakin rapat ke tubuh Ichigo yang memanas.

Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka. Mereka bukan saudara.

Tanpa ada yang bisa mengira, kalau mata mereka sama-sama menantikan sebuah ciuman yang jauh lebih dalam.

Maka saat ibu jari Ichigo membelai di sepanjang rahang Rukia, ia yang tenggelam dalam keranuman indera pengecap sang putri, perlahan melepaskan diri. Bukan karena dirinya merasa puas, tetapi justru karena ia merasa belum cukup untuk menyesap seluruh tekstur lembut dari bibir merekah Rukia.

Lalu kembali—lidah Ichigo dengan santai menjelajahi rongga mulut gadis di bawahnya. Membuai, memaksa, dan liar.

Sesaat kemudian, Ichigo menjauhkan tubuhnya sedikit hanya untuk menyesap ujung bibir Rukia yang mengalirkan cairan mulut mereka yang tumpah. Hanya sementara hal itu dilakukan, Ichigo kembali menguasai mulut Rukia dengan lidahnya yang menggeliat bagai belut.

Lagi dan lagi, laki-laki bermarga Kurosaki itu mencium dengan kebuasan yang semakin meningkat dan membuat seluruh hormon kelelakiannya membengkak. Lengan Ichigo merantai gerakan Rukia, tak mengizinkan gadis itu menjauh dari jangkauannya seinci pun.

Terus saja Ichigo merapatkan tubuh Rukia ke tubuhnya, menghancurkan tubuh mereka bagaikan lelehan lilin yang terbakar api. Menghanguskan Ichigo ke dalam luapan gairah, keangkuhan menghilang, takluk tertelan begitu saja di lekuk tubuh feminin Rukia yang hangat. Hingga tangan lelaki itu menyelinap ke balik pinggul Rukia, memijat perlahan dan—!

Bruuk!

Rukia mendorong tubuh tegap Ichigo. Hingga laki-laki itu mengantisipasi dirinya dengan bergerak mundur menjauhi tatapan mengerikan Rukia.

"Begini caramu memperlakukan perempuan?!" Rukia tersadar dari keterlenaan akan ciuman Ichigo. "Buruk sekali," ia menggertakan gigi-giginya sembari menahan lelehan liquid menjejaki ujung matanya yang mengerut.

Terduduk dengan tubuh meringkuk, Rukia akhirnya menangis. Ia menyesal—tentu saja ini bukan cuma kesalahan Ichigo. Ia menutup wajahnya dengan menangkupkan kedua tangannya di wajah hingga laki-laki yang memandanginya tidak bisa melihat mata sembabnya.

"I-inikah yang ingin kaulakukan padaku?" Tubuh Rukia terguncang, ia syok dengan luapan gairah yang hampir membuncah ketika Ichigo menciumnya tadi. Sungguh memalukan, dan ia tidak bisa menerima—kalau dirinya pun menikmati itu.

"Rukia."

"Menjauh dariku!"

Sayang sekali, Ichigo yang angkuh mana mau menuruti perintah Rukia.

"Kau menyukai ciuman tadi, 'kan?" Ichigo beringsut, berusaha mengulurkan tangan demi bisa menyentuh tekstur lunak bibir Rukia yang mulai memucat. Ini semua membuatnya gila, sungguh sangat gila.

Tidak sempat menyentuh sang bibir tipis, Rukia buru-buru menepis lengan kokoh Ichigo dengan tenaga yang berkumpul di ujung jemarinya yang gemetar.

"Tidak!" seperti lolongan anjing kecil yang diserang srigala buas, Rukia menjerit.

Ichigo tertegun, biasanya ia akan menyesal dan langsung meminta maaf jika pengendalian dirinya yang terbebas membuat seseorang marah, namun kali ini tidak—ia bahkan menginginkan bibir gadis itu kembali ia lumat.

Ichigo mengutuk dirinya, sepenuh hati menahan keinginan labilnya supaya Rukia bisa tenang. Paling tidak dengan berkata baik-baik, sayangnya Ichigo tidak bisa melakukan itu.

Dia berharap mata Rukia bersinar dalam ciumannya, bukan digenangi air mata seperti ini. Karena bagaimana ketika tadi ciuman dimulai, seolah sebuah anak panah kenikmatan meluncur kencang menembus jauh ke dalam dirinya dari titik sasaran ke pusat gairah maskulin, dan menusuk hingga terbuka kantong emosi yang Ichigo tidak pernah tahu tersimpan di sana.

Sensasi itu terasa begitu baru, begitu meluluhlantakkan jiwa, sehingga dengan percaya diri, ia meyakini jika Rukia pun merasakan hal yang sama dengannya.

"Jelas-jelas tadi kau menyambut ciumanku, Rukia. Kenapa masih menyangkal?"

"Apa kau tidak ingat posisimu? Kau cuma kakakku! Kita ini saudara—" bentakan itu merendah ketika Rukia bersitatap dengan Ichigo, mata lelaki itu memerah hendak menahan tangis. Tidak bisa dipercaya. Kurosaki Ichigo yang temperamental dan keras kepala, bisa menjadi sensitif. "Seharusnya kau mengingat itu, Nii-san," sambungnya lagi dengan menekankan panggilan 'Nii-san' pada Ichigo. Hal itu berhasil membuat Ichigo menundukkan pandangan, seolah menyesali sesuatu. Mungkin, Rukia bisa menebak sesuatu yang tengah lelaki itu sesali.

Memperkecil resiko yang lebih parah jika bergelut dengan pikirannya sendiri dan menerbitkan kemarahan yang lain. Rukia segera beranjak, dia tidak mau tinggal lebih lama dengan Ichigo apalagi berada dalam satu ranjang seperti ini.

Satu lagi, dengan begini setidaknya ia punya motivasi untuk secepatnya meninggalkan Kurosaki Ichigo, karena besok—Ishida Uryuu sudah berjanji akan menjemputnya dan mengeluarkannya dari apartemen Ichigo.

Gadis itu tidak lagi berbicara, dibiarkannya saja Ichigo terduduk di ranjang dengan wajah nelangsa. Tidak bisa dimengerti, tidak mungkin Ichigo tertarik padanya apalagi sampai jatuh cinta—

Tap!

Baru beberapa langkah dari tempat tidur, Ichigo dengan kasar kembali meraih pinggang Rukia. Dilingkarkan satu tangannya pada pinggang kecil Rukia, sementara tangan yang lainnya menahan dagu Rukia hingga memaksa gadis itu mendongakkan wajah.

Ichigo mengambil sebuah ciuman lagi dari sepasang bibir Rukia, dan itu jauh lebih memaksa dari sebelumnya. Mencium dengan rakus dan lidahnya menjelajah dengan serakah.

Hawa panas menyergap sekujur tubuh Rukia yang sama sekali tidak bisa bergerak. Jantungnya seakan-akan melongsor dari rusuk dada, dan napasnya tertelan habis oleh ciuman sepihak Ichigo. Rukia berusaha melawan, ia memberontak walaupun sepertinya kadar usahanya itu hanya berada pada titik nol.

Ciuman semakin Ichigo perdalam, matanya terpejam erat. Daripada tersiksa dengan tatapan penuh penolakan gadis yang disayanginya, ia lebih baik menutup kedua matanya sembari terus menghujani ciuman pada Rukia yang terjebak.

Genggaman tangan Ichigo perlahan berpindah ke belakang kepala Rukia, selagi itu ia pun mendorong Rukia hingga punggung gadis itu terbentur dan tertahan oleh dinding-dinding yang membisu. Terus mencium dengan tempo yang sama sekali tidak mampu Rukia imbangi.

Kian buas dengan hasratnya, Ichigo tidak peduli lagi ketakutan Rukia yang menjadi-jadi. Ia merasa tubuh Rukia melemas dalam rengkuhannya lalu ketika dirinya memberanikan diri mengintip dari ujung mata, cepat Ichigo melepaskan ciuman.

Rukia pingsan. Wajah gelap Ichigo berubah memucat,"Ru-Rukia."

Matanya menatapi gadis dalam rengkuhannya dengan binar kecemasan yang meluas di wajah paniknya.

Seiring menjauhkan bibirnya dari Rukia, Ichigo memperketat pelukan kemudian mengangkat tubuh Rukia dan dibaringkan di atas tempat tidurnya.

.

.

Sama sekali tak terbayangkan, jika dirinya akan memimpikan gadis itu…

Perempuan kecil yang dulu menjadi pasien ayahnya. Perempuan kecil yang menjauhkannya dari sosok seorang ayah. Gadis yang pernah ia jadikan teman, meski hanya beberapa jam sebelum kejadian tragis itu terjadi dalam hidupnya hingga menyeretnya pada kebencian.

Dulu, kegelapan telah membutakan dan kini—jalan terang justru menyakitkan matanya. Kenapa ia tidak bisa meraih sebuah titik di ujung jalan padahal jalannya sudah sangat terang? Ichigo tertidur dengan kening yang mengerut sejak tadi.

Kepalanya berdengung seolah ingin mengeluarkan semua isinya. Emosinya meraung-raung ingin minta dibebaskan. Namun dengan sisa kekuatan, ia mampu menahan diri dalam naungan khayal di bawah alam sadar.

Semakin menelusuri emosinya yang rumit di dalam sihir mimpi, semakin erat pula Ichigo menggenggam jemari Rukia yang terbaring nyenyak di sampingnya. Di atas ranjangnya. Mereka tertidur di tempat yang sama, tentu saja. Daya mimpinya dipengaruhi oleh fakta manis, bahwa Kuchiki Rukia sekarang sedang berada dalam genggamannnya.

Tu-tunggu dulu.

Genggaman Ichigo mulai terasa hampa. Seakan tengah menggenggam udara, ia pun tersadar dari mimpi. Mata coklatnya mengabur, penuh kilatan kelabu yang menyiksa. Seraya menatap nanar tempat kosong di sisi kanan, Ichigo duduk bangkit berusaha meredam gelisah.

Rukia sudah tidak lagi tertidur di dekatnya? Pergi kemana dia? Dengan langkah gontai dan bersikap seakan tak terjadi apapun tadi malam, lelaki Kurosaki itu melangkah keluar kamar. Ia ingin meneriakan nama Rukia, sayang, mulutnya masih enggan terbuka.

Sambil berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju kamar Rukia, Ichigo berusaha menormalkan kesadaran. Malas-malasan dirinya membuka pintu kamar Rukia, lalu bukannya bertemu gadis yang ia cari, Ichigo malah menemukan ruangan kosong yang sangat bersih. Bahkan terlalu bersih.

Seketika dengan mata melebar, dijelajahinya isi kamar yang enam bulan ini ditempati Rukia. Dinding-dinding kamar bercat krim yang biasanya ditempeli poster-poster film, taplak meja, seprai juga beberapa benda hias seperti vas bunga sudah tidak ada lagi menghiasi isi kamar tersebut. Termasuk kosmetik-kosmetik milik Rukia pun hilang entah kemana.

Takut-takut Ichigo membuka laci meja rias, dan itu membuatnya bernapas lega. Rupanya, gadis itu tidak memajang kosmetiknya di meja rias—tapi kenapa? Ichigo pindah ke lemari pakaian Rukia yang tak terkunci, tampak beberapa pakaian yang biasa tergantung di hanger dan berbaris di dalam lemari kini justru terlipat rapi.

Lelah berdebat dengan pikirannya sendiri. Ichigo melebarkan langkah seraya memanggil nama Rukia.

"Rukia!"

Tak sulit memanggil gadis itu, sebab Rukia lekas menyahut. "Aku di sini," Rukia berdiri di balkon ketika Ichigo hampir melewatkan sisi balkon.

Sambil menikmati pelukan hangat matahari pagi, Rukia melakukan kebiasannya dengan menyirami pot kecil berisi mawar pemberian Ishida, lelaki baik itu menghadiahinya si bunga mawar dengan cara menitipkannya pada Inoue.

Dari sisi ruang yang berbeda, di batasi pintu kaca balkon, Ichigo mulai melangkah melewati batas pintu balkon hingga dia telah berada di dekat punggung Rukia.

"Ada apa dengan kamarmu? Kenapa poster-poster yang terpasang kaulepas? Lalu, tidak biasanya kau melipat rapi gaun-gaun dan menyimpan kosmetikmu di dalam laci—"

"Itu semua dibeli dengan uangmu."

"Ya, tentu saja. Aku membelikannya untukmu, kau memang harus merawat dan mempergunakannya. Tetapi tidak perlu dengan menghilangkannya dari kamar. Lagipula untuk apa kau melepaskan semua poster film kesukaanmu?"

Wajah Ichigo berubah panik. Ia tidak bisa berhenti mempertanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, hingga menumpulkan insting.

"Aku ingin mengatakan sesuatu," seberani yang ia bisa, Rukia menghentikan kegiatannya menyirami si mawar kemudian berbalik menghadap Ichigo. Mata mereka bertemu, saling menyulut kekuatan untuk membongkar rahasia yang lama tersimpan dalam otak masing-masing.

"Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu kau boleh menyampaikan yang ingin kaukatakan."

Rukia mendengus, dahinya mengerut dalam meski tak sedalam kerutan di dahi Ichigo.

"Sama saja. Perkataanku ini akan menjawab semuanya—Kurosaki Ichigo."

"Apa?" Ichigo tidak tahu kenapa ia bersikap seperti orang dungu, Rukia menyebutkan namanya tanpa gelar 'nii-san' yang selama ini selalu gadis itu elu-elukan.

"Amnesia sialan ini sudah sembuh."

Detik itu bayang-bayang waktu seolah berhenti memutar.

Ichigo tertegun. Bagai mati rasa, ia tak menyadari jika ujung bibirnya gemetar.

Seakan-akan tidak peduli dengan keterkejutan yang ditunjukkan Ichigo. Rukia berbalik, kembali menyelesaikan kegiatan menyiramnya yang sempat tertunda.

"Jadi, apa yang kauingat? Itukah yang ingin kaukatakan?" pertanyaan Ichigo mengandung intimidasi, tidak terima dengan pandangan Rukia yang meremehkannya. "Kau sudah ingat tentang kematian ayahku? Apa kau ingat betapa dulu aku sangat membencimu? Ingat, bahwa kau terjatuh dari tangga kemudian mengalami gegar otak dan menderita amnesia. Jadi—kau sudah mengingat semuanya, lantas berpura-pura amnesia sebagai amunisi untuk memperbudakku?" Ichigo menggeram, perlahan namun pasti, emosinya menumpuk di daun telinganya yang memerah, "Sejak kapan ingatanmu sembuh? Oh! Apa sejak bandit-bandit yang nyaris menistakan keperawananmu itu menghantamkan botol bir di kepala idiotmu?" pertanyaan terus berlipat-lipat seiring kepalan tangan Ichigo yang kian menguat.

"Benar."

"Penipu," gertakan gigi Ichigo memukul jantung Rukia yang berdegup kencang.

"Maaf, kalau kau mengira—"

"Perempuan pembohong! Berani sekali kau mempermainkanku!" Sekali itu Ichigo mencengkram kuat-kuat kedua bahu kecil Rukia, napasnya memburu dengan kemarahan yang meluap. Sampai-sampai punggung gadis itu menabrak pembatas alumunium balkon.

"Seperti orang konyol, aku menyatakan kebimbangan dan kau! Apa kau menikmati kekonyolanku selama ini, hah?! Jadi selama ini kau menertawakan semua usaha yang kulakukan untukmu!"

Sembari mengguncang tubuh Rukia yang membeku, Ichigo melampiaskan kemarahan pada pot berisi mawar.

Praaang!

Isi pot berhamburan di lantai, Ichigo menggeram tiada henti. Dadanya turun naik melepaskan kemarahannya yang kian meninggi.

"Kuchiki Rukia? Kuchiki Rukia! Kau sungguh lancang!"

Bruk.

Selepas menjatuhkan pot tadi, kini Ichigo mendorong bahu Rukia hingga membuat gadis itu jatuh terjerembab. Terduduk bersama tanah dan pecahan-pecahan pot yang berserakan di lantai, juga—sang mawar merah yang jatuh terhina.

"Apa kau tahu? Hidupku kacau berkat leluconmu. Perempuan Pembohong!"

Kemarahan benar-benar sudah tidak terbendung lagi di hati pria temperamental itu.

Namun, Ichigo berhenti ketika Rukia mengambil segenggam tanah. Sambil menahan lututnya yang lemas, gadis itu berdiri menantang Ichigo. Lantas melempar tanah berwarna kemerahan digenggamannya ke dada lelaki itu.

"Kalau kau menyebutku pembohong atau penipu?" desis Rukia tajam, "Lalu kau sebut apa dirimu!" dan kemarahan juga memuncak dalam diri Rukia, baginya ini terlalu menyakitkan.

"Aku—"

"Kenapa dulu kau tidak meninggalkanku di rumah sakit saja, hn? Kenapa kau malah membawaku bersamu, dan merasa perlu bertanggung jawab dengan kesembuhanku?! Kenapa tidak kau titipkan saja si Kuchiki Rukia ini di panti asuhan, dan mengarang cerita yang lain?! Kenapa kau tidak menghubungi Inoue agar bisa membawaku pergi darimu?!"

Air mata Rukia melesat keluar. Tenggorokannya yang kering malah membantunya meluncurkan pertanyaan-pertanyaan dengan membabi buta.

"Kenapa Kurosaki Ichigo perlu bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpa Kuchiki Rukia? Kenapa kau yang membenciku malah menyembunyikanku di sini? Kenapa, Kurosaki?!"

Pandangan Ichigo sama sekali tak beralih dari amukan Rukia yang jauh lebih mengerikan darinya. Sekarang, keduanya sama-sama kacau. Ichigo tidak menyalahkan prasangka Rukia sebab pertanyaan-pertanyaan itu juga muncul dalam benaknya.

"Arrgh!" isakan dan jeritan kecil bergema di apartemen itu, beruntung unit apartemen Ichigo berada di lantai yang cukup tinggi sehingga orang-orang di bawah sana tidak bisa mendengar jeritan kefrustasiannya. Menyadari jika ia dan Ichigo berada di balkon, Rukia melirik jalanan yang berada jauh di bawah sana. "Kenapa kau tidak membunuhku saja?" desak Rukia dengan pertanyaan yang mengancam, "Apa lagi yang kau tunggu? Cepat jatuhkan tubuhku ke bawah sana!"

Mendengar itu, sungguh melukai harga diri Ichigo, "Kau kira dengan membunuhmu, dosamu diampuni?"

"Ya, setidaknya dengan begitu kau akan menanggung dosa yang sama besar denganku."

"Lupakan saja!"

"Kalau kau tidak rela mengotori tanganmu dengan darahku. Baik! Biar aku yang melakukannya sendiri."

Seketika itu, Rukia beranjak hendak menaiki pagar balkon, namun dalam hitungan kilat, lengan kokoh Ichigo sudah melingkar erat di pinggangnya.

Dalam waktu singkat, mereka sudah berada di dalam apartemen dan Ichigo menutup pintu kaca balkon lalu menguncinya.

Selesai sudah.

Ichigo benar-benar terkena batunya. Semua perasaan yang rumit berkecamuk dalam hatinya yang meradang sejak tadi.

"Hentikan sandiwaramu," Ichigo melangkah, berniat memupus jaraknya dengan Rukia yang menunduk. Namun seolah keberadaan Ichigo menjelma menjadi badai, Rukia refleks memundurkan posisi.

"Benar, akan kuhentikan. Karena itulah aku harus pergi dari sini."

"Tidak!"

"Apa maksudmu?"

"Kau tidak akan pergi kemanapun! Tidak kuizinkan kau pergi dari sini meski hanya sejengkal tanah!"

"Konyol sekali. Karena kau tidak mau membunuhku, jadi inikah caramu yang lain?"

Kata-kata membunuh berhasil mengiris hati Ichigo, hingga pandangannya menusuk Rukia dengan tatapan penuh luka. "Benar, terserah bagaimana pendapatmu," Ichigo bergerak kaku melewati bahu Rukia.

"Aku tetap akan pergi, Ishida-kun sudah berjanji akan menjemputku dan membawaku pergi dari sini."

Dan yang jauh lebih mengiris hati, adalah nama Ishida. Ichigo mendadak berhenti—'Ishida menjemputnya?' gejolak amarah lagi-lagi terbit, kemudian tanpa belas kasih, lelaki itu mencengkeram lengan Rukia. Ia menyeret tubuh mungil gadis itu ke dalam kamarnya.

"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku, Kurosaki! Lepaskan!"

Kejadian semalam berkelebat dalam ingatan Rukia. Dimana Ichigo menciuminya di atas ranjang dan memancing gairahnya, mengusik ketakutan Rukia semakin deras. Tidak lagi, tidak akan terjadi lagi. Pikirnya panik bukan main. Dia lebih baik mati dari pada—

Bruk.

Sekejap Ichigo menjatuhkan tubuh Rukia ke ranjang.

"Tetaplah di sini dan nikmati hari-harimu di kamarku."

Detik selanjutnya tak terjadi apapun. Ichigo sudah berada di luar kamar kemudian menutup pintu kamar itu hingga terdengar suara pintu terbanting dan gerakan kunci yang memutar.

Ichigo mengurungnya.

"A-ah," sadar dari syok, Rukia berlarian mendekati pintu yang telah terkunci dari luar. "Kurosaki! Apa yang kaulakukan?! Buka pintunya! Kau tidak berhak menahanku seperti ini, heiii!"

"Satu-satunya orang yang berhak melakukan ini padamu adalah aku!"

"Kumohon buka pintu ini, biarkan aku pergi."

"Tidak akan pernah!" Ichigo memekik, menegaskan keegoisan dan kegilaannya.

"Kita impas, Kurosaki. Aku membohongimu dan kau juga begitu, kan? Dosa kita akan sama-sama diampuni kalau kau mau mengakhirnya dengan melepaskanku. Kumohon, a-aku tidak mau dikurung di sini!"

"Diamlah!"

Benteng palsu yang dibangun diantara keduanya kini hancur lebur. Yang tersisa cuma kebohongan besar sampai-sampai kejujuran kecil di hati kedua orang itu tak mampu dilihat.

Ichigo terengah-engah, nuraninya berbenturan keras dengan ego-nya yang kian meningkat. Bukannya ia tidak mau mengakui kebohongan yang ia ciptakan selama ini, tetapi, gadis itu… tidak boleh meninggalkan dirinya dalam keadaan seperti ini.

Sekalipun ia mengaku salah, apa untungnya jika Rukia tetap akan pergi dari hidupnya. Meninggalkannya bersama kenangan singkat yang getas.

Ichigo menjauhi pintu kamar, telinganya menjadi tuli berusaha untuk tidak mendengarkan keluh kesah dari perempuan yang kini mendekam di dalam kamar miliknya.

Dia tidak akan kalah dari kalimat-kalimat mengiba Kuchiki Rukia. Tidak akan! Ichigo menyeringai, sudut bibirnya menyimpul penuh luapan asa.

"Kita sama-sama bersalah dalam hal ini. Tidak bisakah kita saling memaafkan saja?" penjelasan Rukia kembali terdengar, menguak sedikit tabir kenangan buruk mungkin bisa membantu. "Waktu itu kau bilang sudah memaafkanku, 'kan. Sebenarnya, aku tidak berencana untuk mempermainkanmu. Hanya karena ingin mengetahui alasan kenapa kau menjadikanku sebagai adik, aku—sampai berbohong. Kukira kau akan membunuhku jika tiba-tiba saja aku mengaku bahwa ingatanku sudah kembali."

Membunuh?

Terdengar begitu keji. Ichigo bersandar di tepi meja makan yang letaknya tepat bersebrangan dengan pintu kamarnya.

Matanya menyipit, menatap penuh luka pada warna keemasan daun pintu. Jadi, itukah yang dipikirkan selama ini oleh gadis itu? Perhatian yang selama ini ia curahkan ternyata dianggap barang palsu, tak berharga sama sekali. Dengan kedua lengan yang masih bersedekap, Ichigo berjalan mendekati pintu kamar yang sejak tadi hanya mampu ia pandangi.

"Apa—kau ingin kita berdamai, Rukia?"

"Ya, itulah yang kuinginkan."

Jawaban itu tanpa sadar menerbitkan senyum lega di bibir Ichigo. "Kalau begitu hiduplah bersamaku," imbuhnya begitu yakin.

"Tidak! Aku tidak mau!"

Sontak dalam hitungan detik, air muka Ichigo berubah drastis. Kemarahan jelas-jelas berkumpul di urat wajahnya yang seakan nyaris putus.

Saat akan melanjutkan perkataan atau yang lebih tepatnya kalimat perintah, Ichigo dikagetkan oleh bunyi bel apartemen.

Dadanya bergemuruh, menebak-nebak seseorang yang tengah berada di luar.

Suasana pagi ini sungguh membuat hatinya semakin buruk. Mungkin tamu yang muncul kali ini bisa-bisa menjadi imbas kekesalannya.

Apakah si Jaegerjeques yang sedang menekan bel untuk mengajak Rukia sarapan—!

"Ibu?!"

Dari dalam layar berukuran kecil dan suara yang terdengar melalui interkom, sangat jelas jika tamu pagi itu adalah ibunya sendiri.

.

Bersambung

.