BLEACH -0- TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #14

.

.

Suara bel berbunyi terus menerus diiringi panggilan dari sang ibu. Namun, Ichigo masih terpaku di hadapan mesin interkom. Otaknya berputar mencari cara sementara panggilan lainnya dari dalam kamar ikut mengusik otak cerdasnya yang mendadak beku.

Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Ichigo menghela napas pasrah, satu-satunya yang bisa dijadikan taktik hanyalah rasa bersalah Kuchiki Rukia.

Desakan dari luar apartemen masih bergema, meminta Ichigo untuk segera membukakan pintu. Sebelum menggenapkan kalimat-kalimat yang akan ia katakan pada Rukia, Ichigo berusaha membuat dirinya bersikap tenang.

"Ibuku ada di sini, Rukia…"

Aliran waktu bergerak pada situasi yang di hadapi Rukia. Gadis itu hanya bisa mematung di depan pintu kamar, kelopak matanya meredup seiring otaknya yang mencoba mencerna perkataan Ichigo barusan.

Ibu… Ibu dari Kurosaki Ichigo. Istri dari dokter Isshin, Nyonya Kurosaki yang hidup menjanda karena kesalahan kakak dan dirinya. Refleks, bibir Rukia terkunci, ia melangkah mundur dengan bahu yang semula tegak kini merosot.

Sudah sangat lama ia ingin meminta maaf pada anggota keluarga Kurosaki lainnya termasuk wanita tegar itu. Tetapi, saat ini, sepertinya waktu sedang tidak berpihak padanya.

Entah kenapa ia malah menjadi pengecut. Bagaimana jika Ichigo mengatakan semua kebohongan mereka selama ini? Tidakkah sebagai seorang ibu, Nyonya Kurosaki akan membela putranya.

"Jika kau tidak ingin membuat ibuku murka sebaiknya kau duduk diam di dalam kamarku."

Ancaman Ichigo berhasil, seperti anjing kecil penurut, Rukia berjalan cepat menyembunyikan dirinya di balik tempat tidur Ichigo bahkan dengan sedikit usaha ia tidak menimbulkan suara dari gerak tubuhnya. Kalaupun mampu, Rukia ingin menahan paru-parunya agar berhenti bernapas.

Tubuh mungilnya meringkuk di lantai sementara punggungnya tertahan pada tepi ranjang, seolah-olah ia sedang bermain petak umpet dengan masa lalunya yang buruk.

Menangis bukan pilihan yang baik. Karena ia tidak ingin suaranya meluncur dari pita suaranya yang melilit kuat. Dalam keadaan senyap di tempatnya, Rukia cuma bisa melepaskan genangan air yang terbendung di ujung bola matanya yang telah basah.

Selang beberapa saat kemudian, terdengar decitan pintu. Sontak Rukia menunduk lebih dalam, menyimpan kepalanya di antara kedua lututnya yang gemetar. Beruntung, itu suara pintu yang berasal dari pintu depan apartemen, bukan pintu kamar Ichigo.

Hatinya terus memantrai kamar Ichigo, seolah-olah dengan begitu ia bisa membuat keberadaan kamar ini menghilang dari pandangan Nyonya Kurosaki.

.

"Kenapa ibu datanga kemari?"

Bukan salam hangat yang didapatkannya dari putra yang ia rindu. Namun pertanyaan yang mengundang perasaan kecewa dari hati sang ibu. Huh, putranya itu benar-benar! Masaki tidak bisa memarahi Ichigo, ketika yang ia dapatkan hanya tubuh tinggi putranya yang tampak lebih kurus dengan mata terang yang berkabut juga –"Oh, Putraku. Wajahmu pucat sekali, apa kau sakit?"

"Ti-tidak, Bu. Aku sehat, kok."

"Syukurlah. Tapi ekspresimu itu sungguh mengejutkan ibu. Seharusnya kau peluk ibumu, bukan bertanya seperti tadi dengan muka panik."

"Maaf," seraya memeluk ibunya, Ichigo mendapatkan punggungnya yang sejak tadi tegang menjadi tenang. Tepukan halus dari ibunya sungguh mendamaikan, "Aku merindukan ibu."

"Ibu tahu, sayang. Ibu tahu."

Selepas membebaskan kerinduan dengan memeluk hangat putranya. Masaki melepaskan pelukan, kemudian melangkah, memasuki lebih dalam kediaman sederhana dari putra sulungnya tersebut. Jauh lebih bersih dan berserakan… mata Masaki tersorot pada pot kecil berisi mawar yang jatuh berantakan di lantai balkon, hasil dari pertengkaran Ichigo dan Rukia tadi.

Dalam diam, Masaki melirik pada putranya yang masih berdiri diam memunggunginya. Ia memandang penuh prihatin pada si mawar yang tergeletak juga sandiwara Ichigo.

"Dimana gadis itu, Ichigo?"

Nadi Ichigo seperti disulut listrik berkekuatan tinggi sampai-sampai matanya terbelalak, berbalik langsung menatap pada wajah ibunya. "Apa maksud ibu?" kendalinya lagi, dengan senyum pura-pura.

"Jangan lagi berpura-pura, sayang. Uryuu sudah menceritakan semuanya pada ibu, begitu juga Paman Ryuuken."

"Mereka—" ucapan Ichigo menggantung di udara, tenggorokannya tercekat menyimpan gejolak emosi yang jelas-jelas mencuat di urat biru wajahnya. "Ibu jangan menelan bulat-bulat ucapan ayah dan anak itu, Bu. Tidak ada yang kusembunyikan, gadis yang mereka maksudkan itu hanya temanku, lagipula dia sudah kembali ke kampungnya."

Masaki membawa langkahnya pada tiap ruangan, sementara matanya menjelajah ke sekeliling unit apartemen, "Kau tidak bisa berbohong." Dengan senyum keibuan, Masaki memungut sandal berukuruan kecil berwarna putih yang tergeletak di bawah konter dapur. "Ini bukan sandal Karin dan Yuzu, apalagi sandalmu, 'kan?"

Tak mendapat respon berarti dari keterpakuan putranya, Masaki akhirnya mengakhiri pencariannya di depan pintu kamar Ichigo yang tertutup rapat. Belum seujung kuku menyentuh handle pintu, Ichigo memekik dengan suara yang nyaris tertahan.

"Ibu!"

Sesaat Masaki melempar tatapan kecewa, menanggapi pekikan Ichigo.

"Sudah lama tidak bertemu, sekarang kau sangat pintar membentak ibumu ya, Kurosaki."

Jelas-jelas itu bukan perkataan ibunya yang hanya terdiam karena teriakannya, serentak baik Ichigo maupun ibunya menoleh pada sosok Ishida Uryuu yang sudah berdiri menjulang memasuki apartemen.

Pintu apartemennya tak terkunci gara-gara kedatangan sang ibu sebelumnya sehingga dengan langkah gontai pemuda berkacamata itu bisa menjangkau wilayah yang selama ini Ichigo batasi, rasa takut.

Tanpa sadar Ichigo mencegah langkah Ishida yang semakin jauh melewati ruang tamu.

Bukan hanya sebatas itu, tiba-tiba saja keramaian menyerbu pendengaran Ichigo tatkala dua orang gadis belia berhamburan masuk kemudian memeluk Ichigo dengan keriangan dan kerinduan yang hangat.

"Nii-chan! Kami merindukanmu!" panggilan sayang tersebut meluncur dari pita suara Kurosaki Yuzu, sementara Kurosaki Karin ikut mengulum senyum, membalas tatapan terkejut sang kakak.

Lutut Ichigo melemas, ketika dalam waktu yang singkat dua pria yang tak asing lagi menyusul masuk dari balik pintu yang selama ini selalu ia jaga dari orang lain.

"Paman," lirihnya dengan suara serak, lalu emosinya kembali membakar matanya kala seringai kecil singgah di bibir sahabat lamanya, "Ggio, kau juga ada di sini."

"Ishida mengajakku untuk menjemput seseorang, Ichigo. Maaf membuatmu terkejut."

Dengan tawa yang mengerikan, Ichigo menoleh pada sosok Ishida.

"Hebat sekali. Kenapa tidak sekalian saja kau membawa polisi kemari, Ishida?!"

Yuzu melangkah mundur, gadis kecil itu tidak mengerti kenapa kakaknya yang penyayang mendadak memarahi saudara sepupu mereka. Pun Karin yang tidak mengerti, ia menarik Yuzu untuk berada di dekatnya sedangkan matanya menyoroti tubuh sang ibu yang memandangi kakaknya dengan gesture setegas Dewi Athena.

"Ini di luar rencanaku, Kurosaki. Bagaimana mungkin kami tidak mengajak Yuzu dan Karin yang sudah sangat merindukanmu? Jamu kami dengan semua yang kaupunya di sini," layaknya tokoh antagonis, Ishida ternyum puas sebelum kemudian ia mengusap rambut kedua adik kembar Ichigo yang memandangi kakak mereka dengan wajah pias.

Ryuuken melerai kedua pemuda kesayangannya tersebut dengan berdiri di tengah-tengah. Ia sungguh merasa tidak enak hati dengan sikap tidak terpuji yang ditunjukkan Ishida pada Ichigo.

Sebetulnya, dengan janji yang ia berikan pada Ichigo ketika kecelakaan Rukia di Karakura dulu, Ryuuken tidak ingin terlibat dengan masalah yang dirahasiakan Ichigo. Tetapi karena desakan anaknya dan Masaki, terpaksa ia meluangkan waktu untuk berkunjung.

Selain itu sebagai seorang dokter, Ryuuken sangat ingin mengetahui perkembangan dari gadis yang dulu dibawa Ichigo ke Karakura dalam keadaan kulit kepala yang terkoyak.

"Cepat buka pintu kamarmu," perintah ibunya hingga Ichigo sebisa mungkin menunda perdebatannya dengan Ishida.

"Aku kehilangan kunci kamarku."

"Bisakah kau tidak memancing kemarahan ibu?"

"Ibu," Ichigo memelas, berusaha supaya ibunya itu tidak mendesaknya lagi. "Sudah kubilang tidak ada apapun di kamarku. Daripada itu sebaiknya para tamu sekalian duduk," berpura-pura nyaman dengan kondisi tersebut, Ichigo akhirnya bersikap formal. "Kalian semua silakan duduk. Ayo Yuzu, Karin! Bantu nii-chan menyiapkan minuman."

"Kita dobrak saja pintunya, Bi."

Saran dari Ishida disambut dengan anggukan oleh ibunda Ichigo. Dalam kepanikannya, Ichigo berlari lantas segera menyentuh bahu Ishida.

Usahanya untuk menghalangi si sepupu agar tak melakukan apapun pada kamarnya sama sekali tidak didukung sang ibu. Ibunya tidak mempercayai semua alasan yang Ichigo berikan, terpaksa ia harus mengusir Ishida beserta Ggio untuk meninggalkan apartemen ini.

"Berhentilah berbuat onar, Ishida. Kau tidak berhak melakukan apapun pada kamarku."

Masaki menghela napas, wanita cantik itu mulai jengah dengan tingkah putranya. "Dobraklah, Ishida. Jangan hiraukan kata-kata bocah ini," sekali itu Masaki membungkam segala ucapan yang ingin dilontarkan Ichigo. Baginya, tidak ada yang lebih mengecewakan daripada sikap ibunya yang lebih membela orang lain.

"Ibu," sudut bibir Ichigo menekuk ke bawah, dengan tatapan kosong tersorot pada keseriusan ibunya. Yang bisa ia lakukan hanya terpaku dengan kepala tertunduk. Dibiarkannya saja Ishida bersama Ggio yang kini mulai mendobrak pintu kamar itu.

"Masaki, mungkin ucapan Ichigo benar. Tidak ada apapun di dalam kamarnya—"

Braak!

Ishida Ryuuken menghentikan nasihatnya, ketika pintu kamar tersebut berhasil dibuka paksa.

Ichigo melirik pada sosok Ishida, Ggio serta ibunya yang melangkah memasuki kamar. Kesepuluh jemarinya mengepal membentuk tinju, sementara tenggorokannya tercekat oleh napasnya sendiri yang menggumpal di paru-paru. Keringat dingin mulai menyembul di sekitar kulit ubun-ubun Ichigo, dan itu semua telah membuat mata terangnya menjadi kelabu.

Yuzu dan Karin yang tidak tahu apapun menjadi penasaran, mereka hendak mengikuti jejak ibunya untuk memasuki kamar sunyi sang kakak, namun langkah mereka segera dicegah oleh Paman Ryuuken. Dengan senyum bijak, ia membatasi garis yang seharusnya tidak dilewati oleh Karin dan Yuzu.

Masalah seperti ini sebaiknya tidak melibatkan mereka. Menyadari hal itu, Ryuuken sungguh sangat ingin memarahi putranya yang dengan seenaknya mengajak Yuzu dan Karin ikut terlibat.

"Kalian di sini saja, siapkan ibu kalian secangkir teh hijau."

Setelah mengatakan itu, Ryuuken mendekati sosok Ichigo yang mematung.

"Kuchiki-san!"

Mendengar namanya dipanggil, Rukia menoleh pada direksi dimana pintu kamar telah terbuka sempurna. Ishida Uryuu menyergap masuk kemudian berlari kecil mendekati dirinya yang duduk meringkuk.

Sorot mata biru Ishida terlihat lega dan berbinar, bibirnya melengkung memperlihatkan betapa cerahnnya senyum yang ia tunjukkan untuk gadis cinta pertamanya itu.

"Kuchiki-san, aku menjemputmu," Ishida duduk menyamai posisinya dengan Rukia. Tangannya terangkat demi memberikan sinyal pada gadis malang itu bahwa kedatangannya tidak akan sia-sia. Sembari membelai rambut hitam Rukia, ia kembali membujuk, "Ayo, kita pergi dari sini."

Tirai jendela masih tertutup. Kamar putranya itu terasa pengap dan berantakan. Mungkin hal itu menjadi analogi yang pas untuk hidup yang dialami putranya selama ini.

Dia sungguh merasa menjadi ibu yang buruk, Masaki mengalihkan matanya pada raut wajah mungil Rukia. Tatapannya nanar, memperhatikan penampilan gadis yang selama ini disembunyikan Ichigo. Satu-satunya rahasia yang Ichigo simpan sendiri.

Rukia mengangkat wajah ketika Ishida berhasil memapah dirinya.

Mata ungu itu akhirnya bertemu dengan sosok wanita yang ditinggalkan dokter Isshin. Darahnya berdesir menahan takut, ketakutan itu terus berlipat-lipat kala tubuhnya berhadapan langsung dengan Masaki.

"Kuchiki Rukia, jadi itu namamu," tidak ada emosi apapun yang terlihat dari raut wajah Masaki. Ia menanggapi ketakutan Rukia dengan sikap tenangnya.

"Iya."

"Kau 'kah gadis kecil yang dulu diselamatkan suamiku?"

Embusan napas meluncur bersamaan jawabannya, "Ya, itu aku."

"Maafkan atas sikap putraku selama ini. Putraku bukan orang yang jahat, Rukia."

Tutur kalimat itu sontak mengguncang dada Rukia, tangisannya meluap begitu saja tanpa bisa dibendung lagi.

"Akulah yang seharusnya minta maaf, Bi. A-aku dan kakakku yang sudah—" mulut Rukia ternganga tak mampu mengucapkan apapun lagi ketika pelukan lembut ia terima dari kedua lengan Masaki, seperti sayap-sayap malaikat, lengan wanita itu mendekapnya begitu hangat dan halus.

"Itu sudah sangat lama. Mengenangnya bukanlah sesuatu yang bisa membuat waktu kembali seperti semula." Masaki menepuk punggung mungil Rukia yang bergetar lantas menasihati gadis itu lagi, "Maafkan putraku dengan begitu kami juga akan memaafkan kalian." Dibalasnya mata sedih Rukia dengan senyum melegakan, lalu Masaki menggulir pandangannya pada Ishida, "Dan berterima kasihlah pada Uryuu, dia sudah menceritakan semuanya padaku."

"Iya… hya, terima kasih. Terima kasih banyak," kata-kata terima kasih terus bergumam di bibir Rukia, waktu seakan-akan kembali pada titik yang ia dambakan sejak lama.

Permohonan maafnya sudah disambut oleh dokter Isshin dan seluruh keluarga Kurosaki termasuk—

—Kurosaki Ichigo, pandangan Rukia beralih pada tubuh kurus Ichigo yang berdiri diam di luar kamar bersama dokter yang dulu merawatnya di Karakura.

"Kau—mencintai putraku?" Rukia melemparkan pandangan pada Masaki yang menanyakan hal tabu itu. Kosa kata paling tolol, ketika perpisahan sudah di ujung mata. Kenapa dirinya harus memikirkan urusan asmara? Di saat ia mendapatkan jalan mulus agar bisa pergi menjauhi pria yang berdiri di sana.

Demi menarik Rukia dari kebimbangan, Ishida hendak menyela pertanyaan Masaki. Namun Rukia lebih dulu menjawab dengan dustanya yang entah mengapa terasa lebih indah, "Tidak, Bi. Mungkin aku menyukainya, tetapi kurasa itu bukan cinta."

"Aku mengerti. Kalau begitu pergilah."

Ishida menunduk hormat, dengan hati-hati ia memapah tubuh Rukia keluar. Diikuti Ggio yang memberi salam hormat. Ishida mengisyaratkan Ggio supaya tak berkontak langsung dengan Rukia.

Asal tahu saja, sengaja ia mengajak Ggio untuk membantu jika suatu waktu Ichigo mengamuk dan beresi keras mempertahankan Kuchiki-nya. Kehadiran ayahnya pun begitu, Ishida memanfaatkan mereka untuk berjaga-jaga jika usahanya untuk membawa Rukia pergi digagalkan Ichigo.

Selama berhubungan via telepon, Ishida telah merencanakan semuanya secara matang. Rencananya tentu saja tidak lepas dari bantuan Inoue. Berkat teman perempuannya yang baik hati itu, Rukia mau mempercayainya dan mengatakan semua yang dilakukan Ichigo pada hidup gadis itu. Dan pada puncaknya adalah hari ini. Kuchiki Rukia mendapatkan maaf, dan dirinya pun akan mendapatkan apa yang ia inginkan sejak dulu.

Sudah sangat jelas apa yang diinginkannya adalah gadis Kuchiki itu. Setelah ini, Kuchiki Rukia akan segera menjadi miliknya. Ishida menyeringai puas.

"Rukia tidak akan pergi kemanapun."

Ichigo menghalangi langkah Ishida dan Rukia. Ia berdiri tegak sembari mencoba meraih pundak Rukia, sayangnya Ishida tidak kalah cepat untuk menepis tangan Ichigo.

"Kau tidak berhak memutuskan apapun mengenai Kuchiki," Ishida mengumpat tajam seolah ancaman Ichigo cuma batu kerikil yang bisa ia singkirkan begitu saja.

"Kalau begitu tidak ada cara lain."

Segenap dengan kekuatannya, Ichigo memukul kesombongan Ishida. Ia melayangkan tinju tepat mengenai rahang Ishida, hingga berhasil memukul jatuh tubuh pria berkacamata tersebut.

Tubuh Rukia pun tak luput dari sikap emosional Ichigo, sampai-sampai dirinya nyaris terjungkal jika saja Ichigo tak cepat menarik lengan Rukia ke arahnya.

Ggio menghampiri Ishida yang terduduk dengan memegangi rahangnya yang perlahan membiru. "Kau tidak apa-apa?" sungguh pertanyaan konyol, sudah jelas giginya hampir patah karena pukulan. Ishida menepis bantuan dari Ggio, ia bangkit sembari mengambil aba-aba untuk membalas pukulan Ichigo tadi.

Amarah pria berkepribadian tenang tersebut tak bisa lagi ditahan, tinjunya hendak menyentuh wajah Ichigo sebelum kemudian Ryuuken menahan gerakan putra sematawayangnya itu.

"Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Kau dan Ichigo itu saudara sepupu, kalian bukan lagi remaja belasan tahun, Ishida. Kalian ini adalah calon dokter. Apa kau tidak lihat bagaimana kondisi Kuchiki-san mu, hn? Dia—" Ryuuken memperhatikan mata lelah Rukia, "Ketakutakan."

"Itu karena Ichigo di dekatnya, Yah!"

Semakin dipojokkan dengan kata-kata Ishida, semakin kuat pula Ichigo mencengkram pundak Rukia agar tetap berada dalam dekapannya. Mata coklatnya tidak bisa memandang ke arah lain, ia tidak bisa melihat apapun termasuk kecemasan ibundanya, fokusnya hanya pada Rukia.

"Ishida!"

Drama berlanjut ketika Ryuuken mulai kehabisan akal dalam menenangkan anaknya. Kesabarannya benar-benar terkikis oleh obsesi Ishida pada Kuchiki Rukia.

"Ryuu, jangan menyalahkan putramu." Masaki menekan pelipisnya yang mengerut karena ulah Ichigo yang telah memukul sepupunya, "Biarkan Rukia pergi, Ichigo. Semua tidak akan selesai kalau kau bertingkah seperti ini."

Mereka bicara saling membujuk. Sayangnya bujukan demi bujukan malah ditolak Ichigo.

"Katakan pada kami, Rukia. Kau—ingin tetap di sini bersama putraku, atau kau ingin pergi?"

"Ibu!"

"Diamlah, Ichigo! Atau kau ingin ibu mati di depanmu sekarang juga?!"

Sontak Ichigo bungkam dalam keterpanaan.

Perlahan, Rukia menegaskan tekadnya. Gadis itu sekuat tenaga mendorong tubuhnya hingga menjauh dari dekapan Ichigo yang membelenggu. Dengan ototnya yang pasrah, Ichigo mau tidak mau membiarkan tubuh mungil itu terlepas.

"Tentu saja aku ingin pergi."

Alhasil dengan mudah Rukia terlepas dari kekangan Ichigo. Cepat-cepat Ishida mencapai kulit lengan Rukia, kemudian mengekori langkah mundur gadis itu. Diabaikannya begitu saja peringatan ayahnya dan dengan langkah pasti ia membawa Rukia pergi dari sana.

Melihat Rukia akan meninggalkan apartemen, kontan Ichigo bergegas melayangkan pukulan kembali pada Ishida.

Malangnya, apa yang baru saja akan ia lakukan dihalangi oleh Ggio dengan memiting kedua lengan Ichigo.

"Apa yang kau lakukan sialan?! Lepaskan aku!"

"Maaf, Ichigo. Aku tidak ingin ikut campur, hanya saja—"

"Tidak! Rukia! Kau tidak boleh pergi!" Ichigo tidak menggubris penjelasan apapun dari Ggio, ia berteriak-teriak minta dilepaskan dan berharap Rukia mendengarkan perintahnya.

Khawatir dengan apa yang akan terjadi, Paman Ryuuken terpaksa membantu Ggio dengan menahan tubuh Ichigo. Setidaknya sampai putranya dan Kuchiki Rukia benar-benar menghilang dari pandangan anak sulung Kurosaki tersebut.

"Pa-paman," tertegun dengan yang dilakukan sang paman, Ichigo kian menghujani ruangan itu dengan teriakan yang lebih tajam. "Kenapa kau membantunya?! Lepaskan aku, Paman! Ishidaaa! Dia milikku! Kau tidak bisa membawanya pergi! Akan kubunuh kau Ishida—!"

Sebuah tamparan mendarat di pipi Ichigo. Ibunya memandangi Ichigo dengan tatapan terluka.

"Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu, hn? Ya Tuhan, Ichigo. Ibu tidak pernah mendidikmu menjadi gila seperti ini." Dahi Masaki mengernyit dalam, sementara usia tuanya telah membuat napasnya terengah-engah karena emosi.

Perlakuan Masaki pada putranya, tidak luput dari tontonan kedua putrinya yang kini tertegun di sebelah konter dapur. Baru kali itu mereka menyaksikan kemarahan besar tergambar jelas di wajah cantik sang ibu.

"Kumohon cegah Ishida, Bu. Jangan biarkan dia membawa Rukia," rengekan Ichigo melukai hati Masaki. Putra kebanggaannya itu sekalipun belum pernah memohon pada dirinya dengan wajah memelas seperti ini. "Rukia! Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini! Rukia!"

"Kurung pria gila ini di dalam kamarnya," permintaan Masaki tersebut seperti titah yang dengan mudah dipatuhi Paman Ryuuken dan Ggio.

"Lepaskan aku! Lancang sekali kalian melakukan ini padaku! Paman! Ggio!"

Ichigo meronta-ronta sembari terus memaki dengan suara lantang. Melihat keadaan putranya, terang saja membuat Masaki hampir goyah dan jatuh terhempas di lantai kalau saja tak ada kedua putrinya yang berdiri terpaku menatap cemas pada kakak mereka.

Cepat-cepat Paman Ryuuken yang dibantu Ggio membebaskan Ichigo.

Lantas memeriksa kantong celana Ichigo, benar saja! Di situ terdapat kunci kamar Ichigo yang sengaja ia sembunyikan.

Karena pemuda yang tengah gila itu tidak bisa dilayani dengan sikap lembut, terpaksa mereka melempar tubuh Ichigo kemudian lekas meninggalkannya sendiri dan mengunci pintu kamar.

Dewi Keberuntungan memang sedang tidak berpihak pada Ichigo, sebab sekalipun pintu kamarnya telah didobrak—faktanya tak ada yang rusak dari tiap bagian pintu termasuk handle pintu yang berhasil dikunci.

"Ibu! Kenapa kau harus mengurungku?! Ibuuu!"

Masaki menarik napasnya dalam-dalam lalu dihelanya dengan kasar. Paru-parunya telah memberat sejak tadi. Dia benar-benar syok dengan apa yang terjadi pada Ichigo, dan itu membuat migrannya kambuh kembali.

"Apa ini tidak berlebihan? Tidak semestinya kita memperlakukan Ichigo seperti itu."

Ditatapnya Ryuuken dengan tatapan lurus, "Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan putraku dan putramu baku hantam sampai mati hanya demi seorang perempuan." Masaki mendecakkan lidah, lantas membawa langkahnya menuju konter dapur, "Sebaiknya kita minum teh." Ketika matanya menangkap sosok Ggio, Masaki meneruskan ajakannya, "Kau juga, setidaknya minumlah dulu sebelum pergi. Terima kasih atas bantuanmu, Ggio-san."

"Tidak perlu sungkan, Bi. Saya harus segera menyusul Ishida."

"Ya, baiklah. Kau—tampak lebih setia pada Ishida."

Ggio tersenyum. Lantas memberi salam pada Paman Ryuuken, "Saya permisi, Paman."

Saat Ggio melangkah pergi, masih terdengar suara lantang Ichigo. Hal itu membuat mata Ggio melirik penuh simpati pada daun pintu di sana. Pada akhirnya, ia bisa membalas rasa sakit hatinya dulu, saat dimana Senna yang ia cintai mencampakkannya hanya demi Ichigo. Lalu dengan kesalahapahaman yang membabi buta, Ichigo menuduhnya sebagai perebut pacar orang? Cih! Ggio tersenyum hambar sebelum kemudian ia benar-benar keluar dari apartemen.

.

.

.

Rukia berada dalam pelukan Inoue. Mereka masih enggan untuk saling melepaskan.

"Syukurlah, kau baik-baik saja, Kuchiki-san."

"Ya…" dibandingkan perasaan lega, Rukia cendrung merasa ada yang terganjal dalam sudut hatinya. Entah apa yang begitu memberatkan hatinya saat dirinya sudah berada sangat jauh dari Kurosaki Ichigo.

"Ada yang ingin kami bicarakan, Inoue. Tolong bawakan kami dua gelas cokelat hangat."

Permintaan Ishida disambut Inoue dengan anggukan antusias. Pemuda itu menarik lengan Rukia untuk dipersilakan duduk di salah satu bangku.

"Apa sekarang kau lega?"

"A-ah, a-apa?" Rukia tergagap saat pertanyaan itu menariknya dari lamunan.

"Apa—sekarang kau lega?"

"Iya."

"Kuharap bukan cuma lega, tetapi kau juga merasa gembira, Kuchiki-san."

"Aku sangat gembira, Ishida-kun. Aku bahkan ingin melompat-lompat saking gembiranya."

"Jangan dulu melompat sebelum aku memberimu kejutan yang lain," senyum tipis terbit di bibir Ishida, seraya memperbaiki letak kacamatanya yang bergeser ke bawah, ia menerangkan dengan mata birunya yang tampak cerah. "Paspormu sudah selesai, dan dengan dua tiket ke New York—kita akan segera meninggalkan Jepang."

Rencana mengejutkan itu sungguh hebat, sampai-sampai Rukia terperangah dengan bola matanya yang melebar, memandang pada Ishida yang terlihat serius dengan segala rencana rapinya.

"Meninggalkan negara ini adalah satu-satunya cara yang kupikirkan agar kaubisa melupakan semua yang kaualami selama ini bersama Ichigo. Kebetulan aku kuliah di sana, jadi aku bisa hidup tenang dengan menjagamu tanpa harus meninggalkan kuliah."

"Ishida-kun," Rukia terpekur menatapi jemarinya yang berkaitan di atas meja. "Kau tidak perlu melakukan semua itu. Aku bisa tinggal bersama Inoue di sini."

"Ichigo akan mengejarmu! Dia pasti akan menemukanmu lalu—"

"Hei, hei! Pelankan suaramu, Ishida," Inoue datang dengan dua cangkir cokelat hangat, ia menyela di tengah pembicaraan Ishida yang ketus, "Izinkan aku membujuk Kuchiki-mu ini agar tidak keras kepala."

"Yah, kuharap itu berhasil," ujar Ishida seraya menggaruk kepalanya, jengkel.

"Uhm, Kuchiki-san. Kau—sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, dan aku sangat senang kalau kau mau tinggal bersamaku. Hanya saja belum waktunya. Kau harus pergi jauh untuk beberapa lama dari jangkauan Kurosaki-kun, karena jika kau masih di sini, itu berarti kau memberikan harapan pada Kurosaki-kun untuk mendapatkanmu lagi."

Ishida mengangguk-angguk kecil sembari bersedekap ia menyandarkan punggungnya di kursi.

"Setelah keadaan di sini menjadi tenang dan psikismu membaik," dengan sedikit meringis, Inoue memperhatikan sekujur tubuh Rukia yang layu, "Ishida pasti akan mengembalikanmu ke sini, dan jika saat itu tiba—hiduplah dengan bahagia. Uhm, hidup bahagia bersama seseorang." Setelah mengatakan itu, Inoue mengedipkan sebelah matanya pada Ishida. Seseorang yang ia maksudkan.

Sontak kedua belah pipi Ishida bersemu, sedikit menutupi lebam di rahang Ishida akibat pukulan Ichigo sebelumnya. "Ah, ya ampun! Ada apa dengan rahangmu?" seraya menyentuh rahang Ishida yang membiru, Inoue menoleh pada Rukia, "Apa Ishida dipukuli Kurosaki-kun?"

Rukia menghela napas. Mengiyakan pertanyaan Inoue dengan pandangan penuh sesal.

Bersamaan asap dari secangkir cokelat hangat yang mengepul, Rukia membayangkan rona mata Ichigo pada genangan cairan cokelat di dalamnya.

.

.

.

Setengah jam lebih menunggu waktu keberangkatan, akhirnya giliran pesawat tujuan New York pun tiba.

Dua koper. Satu tas ransel. Ishida memeriksa barang bawaannya dengan teliti. Tangan kanannya memegang dua lembar tiket tujuan New York, sementara tangannya yang lain tengah menggenggam jemari Rukia.

Usai menyerahkan tiket dan melewati tahap pemeriksaan barang, dengan dibantu oleh petugas bandara, keduanya melewati pintu menuju lapangan bandara untuk segera lepas landas.

Ishida Uryuu menuntun Rukia, lantas mempersilakan gadis itu agar lekas duduk di kursi yang letaknya di pinggir jendela sehingga ia bisa melihat sisi luar dengan lebih leluasa.

"Apa kau takut naik pesawat?"

Rukia tersenyum kecil seraya menggelengkan kepala, "Tidak. Meskipun belum pernah naik pesawat, setidaknya aku tidak takut ketinggian."

Mengatakannya, membawa Rukia pada ingataan ketika dirinya bertengkar hebat dengan Ichigo di balkon, lalu mengancam pria itu dengan menaiki pagar balkon. Berkat itu, baginya ketinggian hanya ketakutan kecil yang tak berarti sama sekali.

"Baguslah."

Mendadak ponsel Ishida berdering.

Di layarnya tertera nama sang ayah.

"Ya, Ayah."

"Kenapa tidak memberi tahuku kalau kau berangkat hari ini?"

"Maaf. Aku tidak sempat."

"Bahkan dengan cara menelepon, kau tidak sempat? Dasar Putra durhaka."

Bukannya kesal, Ishida malah tertawa renyah. Itu efek dari hatinya yang masih berbunga-bunga.

"Kau mengajak Kuchiki bersamamu?"

"Tentu saja."

Sejenak ada jeda saat ayahnya ingin melanjutkan obrolan, "Keadaan Ichigo menjadi buruk. Tidak bisakah kau membujuk Kuchiki untuk menemuinya?"

"Bukannya tidak bisa. Tapi aku tidak mau."

"Paling tidak kau harus memikirkan bibi Masaki, Nak—"

Sayang, kata-kata ayahnya terputus oleh peringatan salah seorang pramugari.

"Mohon matikan ponsel Anda, Tuan. Pesawat akan segera lepas landas."

"O-oh, ya baiklah. Sudah dulu, Yah. Kami akan lepas landas, kita bicara lagi setelah kami sampai di New York."

Komunikasi itu pun berakhir. Menyisakan kebisingan dari suara mesin pesawat.

.

Terpuruk dalam perasaan merana, sama sekali tak pernah terbayangkan dalam otak cemerlang Ichigo. Hatinya keras karena terbiasa hidup dalam keteraturan. Dunia yang dijalaninya selama ini tampak rasional dan biasa saja. Tetapi sekarang, ia justru terjebak pada perasaan yang begitu cengeng dan picisan.

Tidak ada yang memihaknya, bahkan ibu tersayangnya pun membiarkan dirinya duduk meringkuk dalam kondisi yang menyedihkan. Persis seperti bocah yang mainanya dirampas, Ichigo duduk dengan punggung lunglai bersandar di ujung ranjang.

Sorot matanya kosong, seolah-olah separuh nyawanya dibawa pergi oleh Kuchiki Rukia.

Ini sudah hari kedua Ichigo diam membisu begitu. Setelah ia berteriak habis-habisan minta dibebaskan, dan menghancurkan segala yang ada di dalam kamarnya, ia pun duduk menghempaskan diri di lantai sembari meredam emosi.

Semua berlalu. Tidak ada gunanya jika dirinya menginginkan waktu kembali ketika ia masih bisa merasakan napas Rukia berada di dekatnya.

Mungkin, dulu ia bisa mengubah tabiat buruknya dengan memperlakukan Rukia lebih baik dan pantas.

Sekarang gadis itu pergi, menjauhinya.

Decitan pintu mengalihkan perhatian Ichigo pada sosok paruh baya ibunya yang masuk dan mendekat.

"Kau melupakan kuliahmu, Ichigo."

Mulut Ichigo tetap terkunci. Berat rasanya mengucapkan apapun pada senyum pahit sang ibu.

"Hati ibu terluka melihatmu kacau seperti ini, sayang. Apa kau lebih mencintai gadis itu daripada ibumu sendiri dan adik perempuanmu?"

Pertanyaan tersebut sontak memukul kesadaran Ichigo. Dia tidak bermaksud membandingkan cinta keluarganya dengan sosok Kuchiki Rukia. Hanya saja—perasaannya sekarang sungguh membuatnya tersiksa.

"Ibu—tolong masakkan aku sup daging."

Sekejap raut murung Masaki berubah cerah.

.

Bersambung

.

Sekitar dua atau tiga part lagi, fanfiksi ini akan berakhir. Bersabar untuk itu ya, readers. Haduh, rasanya saya mau mengganti tokoh Ichigo dan Rukia menjadi Original Character deih, kelewatan sekali OoC-nya haha. Maafin saya yaaa, Kubo-sensei.

Terima kasih banyak untuk yang meninggalkan review!

Dan ini jawaban dari beberapa pertanyaan para reviewers: Di sini sudah sangat jelas 'kan tentang perasaan dan reaksi Masaki ke Rukia, dia sama sekali tidak dendam. Uhm! Soal Ishida yang tahu tentang keberadaan Rukia, silakan baca part #08 :)

Ditunggu saja part selanjutnya:D