BLEACH -0- TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #15

.

.

Cuaca terik menyentuh kulit Rukia. Pertengahan Juli menenggelamkannya pada—pelupuk matanya terpejam, ingatan itu—cuma sebatas kisah lalu. Sebut saja begitu. Hingar bingar dan kedamaian Amerika telah menjadikan hari-hari gadis Asia tersebut jauh lebih menyenangkan.

Senang? Bernarkah?

Astaga, ia bahkan tidak bisa berbohong pada langit, ketika sekelebat bayangan almarhumah kakaknya menyapu pemandangan biru di atas sana. Kerinduan membludak dari sanubari yang selama ini tertimbun oleh kemeriahan New York.

Duduk di tengah keramaian orang-orang yang berbeda kebudayaan telah memperlihatkan perbedaan yang mencolok saat dirinya berbaur dengan mereka. Mulai dari tinggi badan, cara bicara, pigmen kulit maupun rambut. Apalagi, karakter fisiknya termasuk mungil.

Ia bahkan disangka remaja belasan tahun ketika pakaian kaos dan celana selutut membungkus tubuhnya. Menyinggung masalah itu setidaknya mampu menghibur Rukia, sesekali dia bisa berpura-pura menjadi remaja polos jika suatu waktu tersesat di kota asing ini. Mengingat bahwa dirinya seorang yang buta arah.

Termasuk arah dalam hidupnya sekarang.

Walaupun angin New York selalu menerbangkannya pada impian yang indah, namun di sini ia merasa harapannya tak akan bisa terpenuhi.

Rumah hijau yang dipenuhi bibit-bibit bunga itu satu-satunya tempat yang bisa ia gunakan untuk melepaskan jenuh. Berhari-hari bekerja di restaurant—pilihan Ishida, membawanya pada rutinitas yang normal.

Normal… tentu saja, hidupnya sekarang sudah normal. Bekerja sekaligus bersosialisasi dengan orang lain.

Juga berkencan dengan seseorang.

Hubungannya dan Ishida Uryuu sudah berjalan empat tahun lebih.

Semenjak mereka tinggal bersama di New York, dan sekarang, Ishida telah bergelar dokter.

Apakah—'dia' juga sama? Jujur saja, menanyakan itu, rasa rindu kembali menyusup ke hati. Bagian tergelap di dalam organ tersebut seakan-akan mengintip untuk minta dibebaskan.

Menunggu Ishida menjemput sungguh menyebalkan.

Karena setiap kali ia menunggu, maka kenangan-kenangan yang hampir ia buang akan menyerbu masuk lalu mengusik ketenangan yang selama ini ia bangun.

Sebuah patung dewa cupid berdiri di tengah kolam ikan, lagi-lagi melayangkan ingatannya pada kalung berbandul dewa cupid. Kalung yang ia anggap sebagai sumber malapetaka pemberian malaikat penyelamatnya. Mustahilkan, ia membuang ingatan tentang orang yang menyelamatkan hidupnya? Sekalipun ingatan demi ingatan itu akan diikuti oleh sosok lelaki yang sempat mengacaukan garis normal hidupnya.

Rukia menghadapkan matanya pada ukiran berbentuk dewa cupid tersebut. Tatapannya lurus, menyihir waktu di sekitarnya pada detik yang mampu mengosongkan pikiran.

"Apa yang sedang kaupikirkan?"

Terkejut dengan kehadiran Ishida Uryuu di depan mata, Rukia segera mengalihkan fokus pada mata biru Ishida.

"Patung itu membuatku teringat sesuatu," Rukia beralasan, tampak jujur dan polos, namun hatinya terang saja berdusta—'lebih tepatnya teringat pada seseorang'.

"Astaga! Jangan bilang kalau kaumemikirkan bagian bawah—"

Dicubitnya lengan Ishida yang berdiri di dekatnya sebelum pria itu melontarkan perkataan kejam yang lain. "Enak saja! Tidak seperti yang sedang kaupikirkan, Tuan dokter. Itu 'kan bukan patung David," serta merta Rukia menggigit bibir agar berhenti bicara, pipinya bersemu manis mendapati wajah bodoh Ishida yang memandanginya dengan tatapan curiga.

"Tidak kusangka-sangka."

Salah tingkah tampak dari sikap malu-malu Rukia yang menggemaskan. "Apa-apa'an sih?! Jangan memancing keributan denganku ya, Ishida!"

Merasa lucu dengan sikap Kuchiki-nya, Ishida menahan langkah Rukia yang hendak menghindar. Lantas dalam sekejap, bagai sang pesulap, lelaki muda itu menyodorkan sebuket bunga mawar merah dan sebuah eskrim coklat.

"Ada apa?"

Tangan kanan Ishida yang memegangi mawar merah sedikit goyah ketika Rukia bertanya. Mungkin lebih terlihat gemetar.

"Aku mendapat tawaran bekerja di Las Noches."

"Lalu," Rukia tidak berani berspekulasi, karena sekalipun berspekulasi, semua keputusan akan selalu berada di tangan lelaki yang mencintainya sepenuh hati ini.

"Kita akan kembali ke Jepang. Sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu padamu, Rukia."

Kembali…

"Memastikan apa?"

"Menikahlah denganku."

Ada banyak perasaan yang menguap, namun bersamaan dengan itu ada pula perasaan lain yang mengendap tanpa diundang. Semua yang Rukia rasakan saat ini tak bisa lagi ia definisikan.

"Terima aku dengan mengambil mawar ini," Ishida meringis ketika matanya bergulir pada eskrim di tangan kirinya, "Dan ambil eskrim ini, jika kaumenolakku."

Tawaran terbaik yang pernah ia dapatkan selalu saja dari pria baik itu. Dia bisa berbahagia dengan limpahan materi dan perhatian seorang Ishida Uryuu.

Hanya saja, dunianya—mustahil bisa semenakjubkan ini. Empat tahun ia menghabiskan hidupnya yang baik berkat keberadaan Ishida, lantas bagaimana mungkin ia menghancurkan semua kebaikan lelaki itu hanya dalam empat detik? Ia akan memastikan perasaannya mulai sekarang.

.

.

.

Cermin memantulkan refleksi Kurosaki Ichigo yang berantakan. Gara-gara pesta dadakan yang dilakukan keluarga dan sahabat-sahabatnya, penampilannya menjadi kotor. Ichigo yang dulu tidak ingin merayakan hari lahirnya kini mau tidak mau harus menerima lemparan kue tart. Usianya sudah sampai seperempat abad, dan sebentar lagi ia akan meneruskan cita-cita sang ayah dengan berprofesi sebagai dokter.

Ichigo mengusap wajah dengan air, memperlihatkan rahang tirusnya yang jauh lebih kokoh daripada tahun-tahun sebelumnya. Tidak terlalu banyak yang berubah dari wajahnya yang tampan. Ichigo patut bangga pada semua yang diwariskan kedua orangtuanya.

Setelah membersihkan muka, Ichigo menyambar handuk kecil yang terlipat rapi di sudut westafel. Ia melirik pada jam dinding, malam mulai larut menunjukkan pukul delapan malam lebih.

Pantas punggung dan matanya mulai terasa letih. Ketika melewati kamar tamu yang bersebrangan dengan kamar pribadinya, sosok gadis mungil itu akan kembali mengintai tidurnya yang nyenyak. Tidak apa-apa, karena dengan begitu ia bisa melihat wajah Rukia sekalipun cuma dalam mimpi.

Dia benar-benar menyedihkan. Walaupun dirinya tahu dimana keberadaan gadis itu dan dengan siapa gadis itu hidup, tetapi—ia hanya berusaha tidak peduli.

Dia, dia, dia hanya perlu sekuat ibunya.

Benarkan? Bohong.

Ichigo tidak sekuat itu, hatinya sampai sekarang masih berada dalam genggaman Kuchiki Rukia. Benteng yang ia bangun untuk menutupi rasa sepi dan kerinduan pada gadis itu mendadak hancur, merobohkan tubuhnya yang dewasa hingga terhempas di atas ranjang. Dadanya turun naik merasa dilahap habis oleh bayang-bayang pigmen ungu dari mata Rukia, dan hatinya kembali remuk.

Perlahan siluet cantik itu memasuki alam mimpi.

.

.

.

.

Kebiasaan yang tak pernah ia lewatkan beberapa tahun terakhir ini ialah merawat tanaman mawar merah.

Orang-orang kebanyakan menilai bahwa dokter Kurosaki Ichigo, satu diantara banyak pria yang mempunyai daya romantisme yang tinggi. Padahal tidak begitu. Ichigo memelihara mawar karena berharap dengan melakukan itu, kelak Kuchiki Rukia mau kembali bersamanya dan memahami kesungguhannya melalui sepot mawar merah yang tumbuh segar.

Memikirkan itu, ia tersenyum kecil. Sejauh mana dirinya mengharapkan hal yang absurd? Faktanya hingga sekarang gadis itu tak pernah lagi muncul, jika pun ia bisa menemuinya, itu hanya akan semakin membuat sakit hatinya bertambah.

Akhir tahun lalu, Ichigo pernah memberanikan diri untuk menemui Rukia di New York. Namun niatnya terhalang. Ketika dari tempatnya berdiri, gadis itu tengah berada dalam pelukan seseorang.

Dia tidak bisa marah, kemarahan yang ia simpan berganti dengan perasaan merana yang jauh lebih menyakitkan. Hatinya nelangsa, hancur berkeping-keping. Bahkan untuk menyapa saja, keberanian sekejap pupus. Ishida Uryuu berhasil memberikan semua yang Rukia inginkan. Mungkin saja begitu? Jauh berbeda dengan semua yang ia lakukan padanya selama ini.

Oleh sebab itu, Ichigo merasa tidak berhak untuk menuntut apapun lagi terhadap perasaan Rukia. Dia hanya perlu berusaha menyembuhkan hati sedikit demi sedikit. Sayangnya, usaha yang Ichigo coba sama sekali tak ada hasil. Sebaliknya, melupakan perasaannya pada gadis itu malah menciptakan neraka bagi dirinya sendiri. Benar-benar menyiksa.

"Kau bisa mengikis tanahnya kalau disiram terus begitu," komentar Abarai Renji, rekan sesama dokter yang kini berjalan mendekati Ichigo. Ruang kerja khusus sang dokter Kurosaki tersebut pun berubah cerah, dimana warna rambut oranye dan merah berpadu terang dengan cat putih dinding rumah sakit.

"Perlu apa kau kemari?"

"Astaga! Kasihan sekali pasien-pasien yang mendapatkan dokter ketus semacam dirimu."

Ichigo menghentikan kegiatan menyiram, lantas menjauhi Renji dengan duduk di kursi kerja. Tanpa mempedulikan kehadiran temannya, Ichigo beralih pada kegiatan memeriksa data kesehatan para pasien.

Merasa kehadirannya tidak dihargai, Renji segera mengeluarkan dua lembar tiket menonton film.

"Aku tidak punya minat berkencan dengan pria, Renji."

Renji tersenyum masam seraya menjelaskan tujuannya sebelum nanti Ichigo berpikir yang bukan-bukan mengenai hubungan mereka. "Kau kira aku ini abnormal! Ini tiket dari wanita yang kautolak ajakan kencan butanya kemarin," jelas Renji kemudian.

"O-oh maaf. Apa kau sudah sampaikan alasanku pada wanita itu?"

"Sudah! Kubilang padanya kalau pria sepertimu tidak menyukai wanita cantik, tapi menyukai pria cantik. Kau senang?"

Sontak Ichigo tertawa lepas. Alasan yang sungguh hebat, kawan.

"Terima kasih. Ibuku itu benar-benar pantang menyerah."

"Ichigo, mau sampai kapan kaulajang? Kau tahu, Yuzu dan ibu mengkhawatirkanmu."

Tak!

Dengan kejam, Ichigo memukul kepala Renji menggunakan pulpen yang ia pegang. "Sejak kapan aku mengizinkanmu memanggil ibu pada ibuku, hah?!"

"Kenapa kau bilang begitu? Aku dan Yuzu sudah pacaran, suatu saat beliau akan jadi ibuku juga, Bodoh!"

"Mati saja kau!"

"Nii-san," rengek Renji penuh kepura-puraan memanggil Ichigo dengan sebutan 'Nii-san'. "Cepat atau lambat kau akan jadi kakak iparku, wajarkan—" taaak! Sekali lagi Ichigo berhasil menyambar kepala Renji dengan pulpen.

"Adikku masih SMA. Dia tidak akan kuizinkan menikah muda apalagi denganmu!"

"Ahh teganya kau, Ichigooo."

Ruangan itu sejenak menjadi ramai oleh gurauan keduanya. Ichigo mengenal Renji, dia pria baik yang tertarik pada adiknya. Sebetulnya, ia sama sekali tak melarang hubungan sang adik dengan temannya itu. Karena dewa cupid mampu memanah siapapun yang diinginkannya.

.

.

"Uryuu juga akan bekerja di sini."

Mendengar kabar mengejutkan itu, Ichigo menatap pamannya dengan raut tanpa ekspresi. Seakan-akan darah di wajahnya raib.

"Dia akan kembali ke Jepang bersama seseorang."

Otak Ichigo sulit mencerna penjelasan itu, tetapi ia sedikit mengerti arah pembicaraan sang paman.

"Baguslah," cicit Ichigo dengan berat hati.

"Setelah kembali ke sini. Mereka juga akan menikah."

Iringan waktu seolah berhenti bersama detak jantung Ichigo.

Atap gedung Rumah Sakit Las Noches terlihat berkilauan tertelan sinar senja. Deru angin yang lembut berubah bagai deburan badai yang menerpa tubuh kekarnya. Wajah dewasanya dalam kilatan oranye mendadak menjadi gelap. Auranya menghitam. Dia kini bermuram durja.

"Berita yang bagus," komentarnya lagi, bergumam layaknya orang yang baru saja dirampok.

"Paman terpaksa mengatakan ini agar kau bisa mengendalikan diri. Dan Paman mohon, Ichigo. Biarkan mereka berbahagia dengan pilihan mereka sendiri. Kau silakan saja memakiku karena sudah membela putraku, asalkan kau mau berbesar hati untuk kegembiraan putraku. Kumohon, Ichigo."

Ada banyak kata yang hendak ia ucapkan, namun semua bagai tersangkut di tenggorokan.

"Ichigo, tolong hargai kami sebagai bagian keluargamu."

Sejurus kemudian tatapan Ichigo jatuh ke ujung mata pamannya yang menatapnya penuh harap.

"Aku mengerti," imbuhnya kembali susah payah melewatkan sebait kata dusta.

Kesuraman menelusup hingga kelap-kelip hidup seorang Kurosaki Ichigo berubah mendung.

Selepas paman Ryuuken meninggalkannya sendirian di atap gedung rumah sakit, Ichigo menghela napas keras.

Berulangkali dirinya menghela, namun hatinya tak kunjung terasa lega. Dengan kasar pemuda Kurosaki tersebut mengusap-usap mukanya yang meringis seakan-akan ada banyak luka menganga di sekujur tubuh.

Rasanya perih—sungguh perih. Ichigo menggertakan gigi, berusaha membendung desah kesakitan di akar jantung.

Tuhan, tidakkah ini terlalu kejam? Seketika seraya menekan telapak tangan ke kedua pelupuk mata, ia jatuh terduduk.

.

.

Waktu makan dokter muda itu terganggu ketika ponselnya berdering. Itu dari sang ibu.

"Ya, Bu?"

"Susah payah ibu mencarikanmu jodoh, kenapa ditolak lagi anakku sayaaang?"

"Maaf."

"Si Renji itu! Mau-maunya dia membantu dengan berbohong kalau kau—"

"Itu bukan salah Renji, Bu. Aku yang menyuruhnya."

"Anak ini?!"

"Ibu—" kemarahan Masaki lenyap ketika Ichigo memanggilnya dengan suara menyesal, "Aku benar-benar tidak bisa."

"Baiklah. Untuk saat ini ibu masih menerima tekadmu melajang seumur hidup karena usiamu masih termasuk muda. Tetapi, Ichigo—kelak ketika kau menginjak usia tiga puluh atau bahkan empat puluh, ibu mungkin sudah tidak ada. Yuzu dan Karin tidak mungkin mengurusmu sampai tua. Dan yang akan menjadi beban ibu dan ayahmu nanti di alam sana adalah kesendirianmu."

Rasa-rasanya pembicaraan tersebut tidak pantas dibicarakan melalui telepon, namun mau bagaimana lagi. Kekhawatiran Masaki yang berlebihan tidak bisa dianggap remeh, sebab bukan hanya secara pola hidup Ichigo yang sembarangan tetapi juga kondisi mental.

Sekalipun Ichigo lebih memahami apa itu depresi, frustasi atau sejenisnya tetap saja Masaki tidak ingin putranya larut dalam kepura-puraan bahwa dirinya baik-baik saja.

Anaknya itu masih mengharapkan seseorang. Padahal—

"Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, sebaiknya ibu menutup telepon."

"Apa paman Ryuuken sudah mengabarkan padamu?"

"Iya."

"Apa kau baik-baik saja, sayang?"

"Tidak. Rasanya aku ingin mati, Bu."

"Ichigo…" hela ibunya terdengar parau, "Bersikaplah dewasa. Kau bukan lagi Ichigo yang mengalami depresi akut hanya karena ditinggal pergi perempuan yang tidak mencintaimu."

Kasar sekali, Ichigo tersenyum pahit. "Aku tahu. Dan aku benar-benar akan mati jika ibu terus memaksaku menikah," ancam Ichigo mulai kesal.

"Dasar bocah!"

Lekas Ichigo mematikan ponsel sebelum mendengarkan lebih lanjut makian dari ibunda tersayangnya. Diletakkannya ponsel dengan kasar, kemudian ia menyandarkan punggung yang tegang seraya memijit pelipisnya yang berdenyut pening.

Selera makannya perlahan menghilang.

Bosan berada di dalam ruang kerja, Ichigo beranjak dari kursi untuk keluar sejenak melihat-lihat keadaan di sekitar rumah sakit. Orang-orang berlalu lalang ketika ia telah melewati koridor ruang rawat.

Langkahnya gontai, dengan dahi mengernyit ia tampak berwajah serius. Hal itu justru menarik perhatian beberapa gadis-gadis muda termasuk di kalangan para perawat.

Raut muka serius ala dokter Kurosaki Ichigo rupanya memperlihatkan kharisma terpendam hingga memikat kaum hawa untuk enggan melepaskan pandangan ke arahnya. Apalagi status lajang yang disandang Ichigo. Hanya saja si pemilik hati pria itu tidak ada di antara mereka.

"Lho, Nell?"

Neil Jaegerjaques, atau lebih tepatnya Nyonya Jaegerjaques kini duduk manis di bangku panjang dengan perut membuncit. Dia tengah menunggu giliran pemeriksaan kesehatan bersama seseorang. Siapa lagi, kalau bukan pria maniak berambut biru di sampingnya.

"Ichigo."

Ichigo menyeringai geli, "Pe-perutmu?" sontak ia terkikik.

"Hei! Apa maksud tawamu itu?!"

Cepat Ichigo menutup mulutnya ketika pria biru itu memperingatkan.

"Kukira kau tidak bisa memaksa seorang Nell memiliki perut sebesar ini. Jujur saja, ini sangat hebat!"

"Wah wah, anak ini benar-benar mau mencari masalah denganku," Grimmjow memelotot sebelum akhirnya sang isteri menahannya kembali.

"Sudahlah, Grimm. Ichigo benar. Aku ini seorang model dengan karir yang gemilang, tidak seharusnya aku punya badan gendut jika saja kau tidak kelepasan—"

"Jadi kau menyesal? Oh ya ampun, yang benar saja!"

"Apa gunanya menyesal setelah aku membawa bayimu selama enam bulan, Idiot."

"Bayi kita, Nell. Bayi kita."

Nell mencibir dengan bibir mengerucut, ia lagi-lagi mengomel. Sembari mengisyaratkan Ichigo untuk segera pergi sebelum nanti Grimmjow memulai debat yang tak berguna dengannya. Diam-diam Ichigo tersenyum kecil, kemudian menjauhi sepasang kekasih itu.

Seandainya dulu Grimmjow mau melepaskan Nell hanya untuk menjadi pacar Ichigo, mungkin pasangan itu tidak akan sebahagia tadi. Apakah Grimmjow masih mengingat tentang adik palsunya? Huh, sepertinya itu sudah tidak lagi penting.

.

.

Kuchiki Rukia kembali menginjak tanah kelahirannya. Kerinduan menguap tatkala hirup pikuk bandara dengan dialog-dialog warga asli menerjang masuk ke pendengaran. Selama di pesawat ia memang sudah mendengar bahasa ibunya namun tidak sekental saat dirinya sudah berada di tengah-tengah orang sebangsa.

"Ayo!"

Ishida Uryuu menggamit lengan Rukia, menyadarkan gadis itu dari keterpanaan.

"Ishida! Kuchiki-san!"

Serta merta perhatian Ishida dan Rukia tersita oleh sosok Inoue Orihime yang melompat-lompat di tempat seraya melambaikan tangan. Lalu sebuah pelukan mengukung tubuh mungil Rukia.

"I-Inoue," gumam Rukia ketika gadis bertubuh sintal itu memeluknya terlalu erat.

"Calon istriku bisa kehabisan napas kalau kau peluk begitu, Inoue-san."

Peringatan Ishida akhirnya menyentakkan Inoue, "Ma-maafkan aku."

"Siapa dia?" Ishida memperhatikan postur tubuh dari seorang pria muda yang datang bersama Inoue.

Seorang lelaki berambut hitam kemudian memberikan salam pada Rukia dan Ishida secara bergantian.

"Dia kekasihku. Kami akan menikah segera setelah kalian menikah," senyum cerah menghiasi sepasang bibir ranum Inoue, pipinya bersemu hangat.

"Halo. Aku, Ulquiorra."

"O-oh tunggu, apa dia bersekolah di SMA yang sama dengan kita?" selidik Ishida, menggulirkan matanya pada Inoue. Dia merasa pernah melihat Ulquiorra.

"Tidak," Ulquiorra menjawab lalu membalas tatapan Rukia yang sejak tadi memperhatikannya dengan dahi mengernyit. "Tapi dulu aku dan Kuchiki-san pernah berkenalan."

"Sungguh? Maaf aku tidak ingat. Rasanya dulu aku memang pernah melihatmu."

Tidak butuh waktu lama bagi Inoue untuk menghancurkan suasana perkenalan, karena ia sudah menarik lengan Rukia untuk lekas pergi dan melanjutkan pertemuan mereka di tempat yang lebih tenang. Yang jelas bukan di tengah-tengah keramaian seperti ini.

.

"Menginaplah di sini untuk beberapa hari, Kuchiki-san? Kita sudah sangat lama tidak bertemu." Inoue merayu sembari meletakkan empat cangkir teh di meja persegi ruang tamu.

"Rencanaku memang begitu, kok. Bukan hanya beberapa hari, mungkin—aku akan menginap hingga hari pernikahanku dan Ishida digelar."

"Benarkah?! Ide bagus!"

Pekikan Inoue menambah kehangatan reuni di antara mereka. Ishida menanggapi ide Rukia dengan gerakan matanya yang menunduk, mengizinkan apapun yang ingin calon isterinya lakukan sebelum hari bahagia mereka tiba.

Di sampingnya, Ulquiorra mulai menyesap teh buatan Inoue. Sama seperti Ishida, Ulquiorra sepertinya tidak berminat ikut campur dengan segala macam hal yang dibicarakan pacarnya dan Rukia.

Sampai sebaris pesan singkat muncul di layar ponsel, Ulquiorra mengalihkan perhatian pada pesan tersebut.

Ternyata pesannya berasal dari atasannya sekaligus teman baiknya di tempat ia bekerja.

Sembari mendekati tempat duduk Ulquiorra, Inoue bertanya, "Dari siapa?" dahinya menukik tajam, tampak penasaran.

"Dari Pak Tua Grimmjow."

"Oh."

Mendengar nama yang pernah menyapa kehidupannya, Rukia terkesiap. Pangkal hidungnya mengerut, menyimpan tanya, "Grimmjow, maksud kalian, Grimmjow Jaegerjaques?"

"Ya, itu namanya. Kau kenal dia?"

"Tentu, dia—" sejenak Rukia berpikir keras, sudut matanya terpaku pada Ishida, "tetanggaku dulu. Orang yang sangat baik."

"Kudengar isterinya sedang hamil," Inoue menimpali.

"Isteri? Astaga, isterinya pasti cantik."

"Uhm ya, isterinya seorang model."

Ishida menyela pembicaraan, berusaha menarik perhatian Rukia, "Kau harus mengundang temanmu itu di pernikahan kita, Kuchiki."

"Pasti, kita bisa menitipkan undangannya pada Ulquiorra."

.

.

.

Udara pagi menerpa wajah lelah Ichigo. Dia tidak bisa tidur, pelupuk matanya masih terlihat sedang menahan kantuk. Bukan insomnia yang melanda namun bayangan Kuchiki Rukia terus menari-nari dalam benaknya setiap kali mata terpejam.

Bahkan di saat matanya terbuka, sosok gadis itu akan menjadi imajinasi surga yang paling cantik. Ichigo mendecakkan lidah lalu tersenyum miris.

Definisi surga dalam hidupnya yang sepi adalah keberadaan Rukia di sisinya. Kendati kebersamaan mereka hanya beberapa bulan ketika amnesia si gadis, namun itu semua seakan mengakar terlampau kuat di otak.

Ia mulai menatap hampa pada kuncup mawar yang tumbuh baik di pot.

"Dia akan menikah," lirihnya dengan lidah yang begitu lesu.

Rupanya itulah alasan kenapa dirinya tidak bisa tidur.

Gadis itu sudah kembali sejak kemarin.

Mengingat kepulangan Rukia, hatinya lagi-lagi resah. Berbeda ketika Rukia berada jauh dari tempatnya, ia bisa mecegah keinginan untuk menemui gadis itu. Sementara saat ini, jaraknya dan Rukia begitu dekat, mereka berada di kota yang sama. Dan keinginan agar bisa menemui gadis itu memuncak sampai rasanya ia ingin mati.

Mati.

Mungkin dengan kematian, Rukia mau datang ke sisinya.

Pikiran buruknya buyar di saat suara bel apartemen berbunyi.

Pagi begini siapa yang begitu usil mengganggu harinya yang kacau.

Layar interkom menampilkan sesosok perempuan berwajah cantik. Tampak anggun dengan dress silver selutut. Warna matanya terang seperti bebatuan amber. Ichigo tersentak kaget ketika ingatannya kembali ke masa-masa dulu, itu—gadis yang dulu juga pernah mencuri hatinya dan menghancurkan hatinya waktu SMA.

"Senna."

Dengan garis wajah dewasa, pipi Senna merona manis. Ia menyapa lelaki bermarga Kurosaki di hadapannya dengan senyum berkilauan. Cantik sekali. Ichigo terbengong, bertahun-tahun tidak bertemu, kenapa Senna malah berdiri di depan pintu apartemennya.

"Senna?" selidik Ichigo lagi dengan tatapan tak percaya.

"Lama tidak berjumpa, Ichigo."

"Benar kau—Senna?"

Senna mengangguk kecil, "Boleh aku masuk?"

Tanpa menunggu persetujuan si pemilik rumah, Senna melewati pintu lantas melangkah masuk. Seperti tak ada beban masa lalu yang memberatkan langkahnya untuk mendekati pria itu, Senna mengelilingi setiap ruangan yang ada di apartemen Ichigo. Memperhatikan betapa terampilnya seorang pria berusia dua puluh lima tahun dalam mengurus rumah.

"Bersih sekali," Senna justru mengeluh mendapati ruangan demi ruangan begitu bersih.

"Apa?"

Dihiraukannya saja pertanyaan Ichigo, Senna lalu beranjak ke bagian dapur.

"Ahh! Sebaiknya aku memasakkanmu sesuatu. Kau ingin kumasakkan apa?"

"Jangan melakukan apapun pada rumahku. Jelaskan dulu, kenapa kau bisa kemari?"

Mantan pacar Ichigo itu menghela napas, "Kau menolakku sebelum kita bertemu. Sebagai seorang wanita yang diinginkan banyak pria, mau ditaruh dimana harga diriku ini."

Jadi, perempuan yang kemarin ia tolak karena proses perjodohan sang ibu adalah Senna?

"Pasti ini ulah ibuku, 'kan?"

"Ini bukan ulah ibumu, ini sepenuhnya adalah keinginanku."

Ichigo mendesis lantas menarik handle pintu, "Pergilah. Aku sedang tidak membutuhkan pembantu."

"Ayolah, Ichigo. Bersikap baiklah pada tamumu."

"Pergiii!"

Senna terperanjat. Spatula yang baru ia pegang kini jatuh terhempas menimbulkan dentingan keras. Tak ingin memperparah kemarahan Ichigo, ia segera meninggalkan dapur kemudian keluar dengan membawa perasaan kecewa.

Susah payah pria temperamental itu mengendalikan diri. Ia mengunci pintu setelah kepergian Senna. Kemudian meraup ponsel miliknya yang tergeletak di samping televisi.

Nomor tujuan yang ia tekan tidak lain adalah ibunya.

"Hallo, sayang."

"Ibu!" kesabaran Ichigo seakan-akan musnah karena kehadiran Senna yang tak terduga.

"Hei—ada apa denganmu?"

"Tidak bisakah ibu membiarkanku hidup tenang?! Ibu bekerja sampai-sampai tulang ibu akan patah, membiarkan aku dan putri-putri ibu hidup tanpa perhatian ibu setiap waktu, ibu yang membebaskan Rukia dan membiarkan gadis itu dibawa pergi oleh sepupuku sampai aku menjadi pria paling menyedihkan! Dan sekarang ibu malah mau menjodohkanku dengan perempuan yang pernah membuat hatiku hancur! Apa yang ingin ibu lakukan pada hidupku?!"

Masaki yang tengah berada di China sana terdiam. Putra yang begitu ia jaga dari amarahnya sendiri, yang sangat ingin ia bahagiakan sekarang tengah memakinya. Hati Masaki berdenyut sakit.

"Ichigo," ratap ibunya terdengar parau.

"Kumohon, Bu. Biarkan aku hidup tenang, sendirian," seketika Ichigo menggeram halus, dia sudah tidak tahan dengan acara paksa memaksa sang ibu apalagi kemunculan mendadak Senna.

"Kalau kau bisa membenci Senna karena pernah menyakitimu. Kenapa kau juga tidak bisa mencoba membenci Rukia?"

"Ibu!" Ichigo membentak.

Sebelum kekurangajarannya berlanjut, ia segera memutus sambungan telepon dengan gelora emosi yang masih berapi-api.

Ponsel digenggaman tanpa sadar ia banting ke meja.

Pelampiasan emosi tersebut ia alihkan pada ponsel hitamnya hingga meretakkan layar. Dan untuk kesekian kali pula ia melukai hati sang ibu.

Kendati empat tahun berlalu, ia tidak bisa melupakan Kuchiki Rukia semudah membalikkan telapak tangan. Tidak bisakah ibunya memahami bagaimana rasanya mencintai seseorang? Tidak bisakah ibunya merasakan bagaimana rasanya tidak bisa memiliki orang yang sungguh-sungguh ia inginkan?

.

.

"Kalau tidak salah mansion Kasumioji melewati jalan ini, ah sial! Aku lupa!"

"Hentikan kebiasanmu memukul-mukul kepala sendiri begitu, Kuchiki-san. Kau bisa kena amnesia lagi nanti."

Rukia menarik napasnya dalam lalu berkata, "Ishida-kun, harusnya kita sudah saling terbiasa memanggil nama kecil." Protes Rukia memperhatikan betapa hati-hatinya Ishida mengemudikan mobil mereka melewati kawasan Seiretei.

"Umm, baiklah, Ru—kia."

Ketika namanya dieja dengan kegugupan yang tergambar jelas di rona muka Ishida, Rukia terkekeh. Pria itu lucu sekali ditambah lagi ada guratan merah muda tampak berkilatan di pipi Ishida. Terlihat menggemaskan.

"Memangnya itu lucu, gadis ini benar-benar," Ishida menggerutu, seraya berusaha menghilangkan rona di wajah, ia kembali berkomentar, "Lagipula aku tidak akan memanggilmu Kuchiki lagi. Sebab—kau akan menjadi Nyonya Ishida," pria tampan itu berucap bangga dan bahagia, tentu saja.

Tujuan mereka ke Karakura untuk menemui Rurichiyo. Sahabat kecil yang dulu pernah menjadi pelipur lara Rukia.

Sudah sangat lama ia ingin menemui gadis kecil berambut pirang itu, tetapi ia tidak punya cukup banyak waktu. Kali ini kedatangannya mungkin akan mengagetkan si putri bangsawan kalau tahu bahwa kunjungannya adalah untuk mengundang Rurichiyo ke acara pernikahannya dengan seorang pemuda bermarga Ishida.

Mobil melaju stabil, dalam perjalanan, mata ungu Rukia terpaku pada sekelebat warna kemerahan dari perkebunan mawar yang mereka lalui.

Dia merasa kedamaiannya terusik.

Perkebunan itu terang saja membuatnya terkenang pada seseorang.

Baginya, Kurosaki Ichigo itu adalah simbol si mawar merah. Bukan bonsai kerdil.

Ichigo terlihat kuat dengan duri-duri yang mengelilingi hidupnya, tetapi sekali disentuh oleh angin maka kelopak-kelopak merahnya akan berhamburan tanpa di duga.

Berbeda dengan bonsai kerdil, yang tampak tak ada perlindungan sama sekali tetapi faktanya, bonsai memiliki akar yang kokoh. Seperti Uryuu Ishida, lelaki itu diam-diam merencakan segalanya dengan rapi dan mulus. Sebuah pertanyaan muncul di hati Rukia mengenai apa yang dilakukan Ishida sampai-sampai ibu Ichigo bisa tahu mengenai dirinya dan semua yang dilakukan Ichigo padanya.

"Ishida…"

"Hn?"

"Sudah lama aku penasaran," sesekali deru mobil di belakang mereka menyalip hingga suara Rukia terdengar seperti gumaman.

"Tentang apa?"

"Caramu menceritakan semua yang terjadi, antara aku dan Kurosaki pada—Nyonya Kurosaki."

Itu memancing rasa geli Ishida, hingga dia mendengus, "Apa itu masih penting?"

"Tidak," Rukia menggeleng sembari membuang muka ke luar jendela mobil, "Aku hanya penasaran."

Mobil berhenti. Ishida mengerem mobil secara mendadak, sehingga kepala gadis Kuchiki itu hampir menyentuh dasbor. Sontak Rukia terbelalak, mengalihkan pandangannya pada Ishida.

"Jika kuceritakan, apa kau mau memberiku hadiah?"

"Ah-hadiah—"

"Sebuah ciuman."

Rukia tak bereaksi. Ishida mengatakan permintaan itupun sama sekali tak memandang ke arahnya. Entah pria itu serius atau tidak, Rukia tidak tahu.

.

.

Bersambung

.

,

Sabar ya, fanfiksi ini pasti akan berakhir, kok.

Terima kasih setulus-tulusnya buat kalian yang aktif mereview. Saya sungguh merasa dihargai atas waktu luang yang teman-teman sediakan untuk fiksi sejelek ini :(

Kita bertemu di part selanjutnya ya :D