BLEACH -0- TITE KUBO
Unforgiven Angel
Part #16
.
.
Sebuah anak panah melesat mulus dari busur hingga menembus tepat pada titik sasaran.
Genggaman tangan Ichigo kembali mengambil sebuah anak panah kemudian membidik sasaran dengan level konsentrasi yang kian melemah. Telapak tangannya sudah kebas, begitu juga jemarinya yang lecet karena sudah lebih dari lima anak panah ia lesatkan semenjak tadi. Sayangnya, dia belum bisa menghentikan dirinya untuk terus memanah.
Hal yang bisa ia lakukan dikala hatinya segundah ini hanyalah olahraga favoritnya. Dojo pelatihan memanah sudah sepi sejak tiga jam lalu, tetapi tampaknya Ichigo berniat menginap di sana sendirian tanpa istirahat.
Jantungnya terus berdebar. Sementara napasnya bergerak tak teratur. Ichigo sebisa mungkin menahan rasa payah yang mulai memberatkan jari-jarinya yang lihai dan terus memanah dengan tenaga penuh.
Peluh telah membanjiri ubun-ubun menular sampai ke sekujur badan. Seolah-olah dirinya sedang bertempur di tengah medan perang, Ichigo terlalu serius melepaskan berbilah-bilah anak panah yang menancap kuat pada lingkaran spiral nan jauh di depan mata.
"Minumlah sebentar."
Serentak Ichigo menoleh pada sisi belakang. Dunianya yang sepi sesaat tadi, mendadak terdengar sapaan dari seseorang.
Ggio Vega muncul dengan membawa dua botol air putih, menyodorkan salah satunya kepada Ichigo. Seakan tak pernah melakukan dosa terhadap teman di depannya, Ggio membalas tatapan mengerikan dari Ichigo dengan seringai kecil.
"Sudah lama tidak bertemu, Ichigo."
Ichigo menyipitkan mata dengan pandangan menusuk pada Ggio. Disambutnya botol yang disodorkan Ggio, lantas tanpa peringatan lagi, Ichigo melempar botol tersebut hingga mengenai dada sang korban.
Akibat itu, Ggio meringis kesakitan dengan mata yang mengikuti kemana arah botol air putih tadi menggelinding.
"Berani sekali kau menemuiku!"
Ggio jatuh terjungkal, punggungnya terhempas membentur lantai. Belum habis rasa perih sudut bibirnya yang dipukuli Ichigo, kini pukulan kembali melayang ke kedua belah pipi Ggio.
Partarungan berlanjut tanpa perlawanan apapun dari Ggio yang pasrah dengan semua yang akan Ichigo lakukan pada wajahnya.
"Pukul saja, pukul aku sampai mati," di tengah pemukulan Ggio sempat meracau.
Melihat tak ada tempat lagi di wajah Ggio yang harus dipukul, Ichigo terenyuh memerhatikan permukaan kulit teman lamanya itu sudah babak belur. Setelah puas dengan amarahnya sesaat lalu, ia lekas menghempaskan punggungnya sendiri ke lantai di sebelah Ggio. Kedua pria itu akhirnya berbaring dengan perasaan yang sama-sama bersalah.
Terengah-engah karena lelah berperang dengan kegelisahan, Ichigo membaringkan diri seraya menutup sepasang kelopak matanya dengan lengan kanan, sedangkan lengan kirinya terkulai lemas di lantai dojo. Ggio melirik penuh simpati, meneliti lebih banyak kekuatan Ichigo yang kian memudar.
"Apalagi yang kaumau dariku, Ggio?"
Ggio terhenyak sejenak. Dia datang menemui Ichigo semata-mata karena Senna. Walau hubungannya dengan Senna tidak semulus yang dibayangkan, sering terjadi pertengkaran kecil, namun Ggio yang playboy kelas paus itu sungguh-sungguh mengharapkan wanita arogan itu. Sampai kemarin, Senna memutuskan hubungan mereka kemudian mengancam bahwa ia akan kembali pada Ichigo.
Tak pelak, Ggio menjadi resah. Ggio akhirnya punya alasan untuk memohon pada Ichigo agar tidak menerima perasaan Senna begitu saja. Selain itu, bukankah Ichigo masih mengharapkan Kuchiki Rukia?
Semula begitulah akalnya berpikiran egois, namun setiba di dojo ini, mendapati keadaan Ichigo yang kusut masai. Ggio benar-benar terhenyak pilu. Dia tulus bersimpati dengan semua yang dialami Ichigo saat ini, karena ia pun pernah mengalami hal yang sama bahkan hingga sekarang.
Ichigo, temannya itu tampak lebih kurus dan—berantakan. Kasihan sekali, Ggio berempati di dalam hati.
"Tentang Kuchiki Rukia, setulus apa kaumencintainya?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Ggio, Ichigo tertawa keras. Seperti orang gila.
"Entah kau percaya atau tidak, kurasa… Kuchiki juga mencintaimu."
"Apa ada alasan kenapa kau mengatakan ini padaku?"
Merasa taktiknya diketahui, Ggio menghela napas, "Senna. Kuharap kau tidak menerima perasaannya."
"Oh jadi itu yang menyebabkan kau repot-repot datang kemari dan bicara omong kosong."
Ggio menyerah, kemudian ia mencoba bangkit dan duduk di lantai. Sementara Ichigo di sebelahnya masih berbaring dengan tawa yang mulai reda.
"Aku sungguh-sungguh Ichigo, karena aku mencintai Senna. Aku tidak mau—"
"Apa kau baru merasakannya?" Ichigo menggeram rendah, telapak tangan yang semula menutupi matanya kini turun menyentuh dadanya yang terus berdebar kencang, "Menginginkan seseorang."
"Tentu saja. Aku mungkin bahkan lebih tahu daripada kau," tantang Ggio kemudian.
Sontak Ichigo bangkit, matanya beradu nyalang pada tatapan Ggio.
"Lalu kenapa waktu itu kaumembantu Ishida?! Kau tahu bagaimana rasanya disiksa oleh perasaan sialan ini, hah?!"
"Itu—karena Ishida lebih baik dari dirimu."
"Apa?" dahi Ichigo kini menukik tajam, meminta penjelasan.
Mereka duduk berdekatan, namun begitu Ggio tidak takut jika suatu waktu ia akan kembali dipukuli Ichigo. "Ishida juga menyukai Kuchiki, jauh sebelum dirimu menyadari keberadaan Kuchiki—dia sudah lebih dulu menaruh hati pada perempuan itu. Melihat kau membenci Kuchiki Rukia malah semakin membuat Ishida bersimpati padanya dan ketika perasaan itu tumbuh lebih besar, kau justru membawa dan menyimpan Kuchiki Rukia untuk dirimu sendiri. Tentu saja Ishida sakit hati, sampai-sampai ia rela mengerahkan seluruh tenaganya demi merebut Kuchiki Rukia darimu."
Ggio menghiraukan ketundukan Ichigo pada penjelasannya, "Lagipula wajar jika aku lebih mendukung Ishida untuk menjaga Kuchiki Rukia. Dibandingkan dirimu, saat itu kupikir—Ishida mengalami hal yang sama sepertiku. Kau merebut perempuan yang kami sukai begitu saja dengan cara yang mudah. Itu sangat menyakitkan."
"Malang sekali nasib kalian," dengus Ichigo.
"Kau tampak lebih malang dari kami. Mencintai perempuan yang dulu sangat kau benci. Apa kau ingat? Dulu kau pernah bilang akan membenci Kuchiki Rukia sampai kiamat, lalu sekarang," Ggio mendecakkan lidah, "Kau bersikap seolah-olah menjadi korban dari pengkhianatan teman-temanmu."
"Memang begitu, 'kan?"
"Tidak, bukan kau tetapi—Kuchiki, dialah yang menjadi korban di sini."
Ichigo mendelik seraya memusatkan matanya pada sorot tajam Ggio, "Dia sudah bahagia bersama Ishida. Apa menurutmu ada korban yang bisa berbahagia?"
"Kurasa, Rukia tidak bahagia."
"Katakan padaku apa yang kauketahui, Ggio."
"Walau Ishida merasa senang karena Kuchiki yang ia kagumi berada di sisinya, tetapi tidak dengan hati. Sekalipun Kuchiki tidak pernah membalas perasaan Ishida. Ishida bilang padaku bahwa Kuchiki memberikan pembalasan budi yang begitu besar, namun hati gadis itu sepertinya sudah dipanah oleh seseorang."
"Menurutmu, aku harus menghentikan pernikahan mereka. Merusak kesenangan orang-orang dan mempermalukan diriku sendiri?!"
"Kalau perlu, itulah yang harus kaulakukan sekarang."
Ichigo menggelengkan kepalanya dengan gusar lantas melepas sarung tangan memanahnya, "Kira-kira berapa persen usaha yang kulakukan berhasil, hn?"
"Entahlah," Ggio menjawab acuh. "Ini kesempatanmu, Ichigo. Kudengar dari Ishida, dia akan membawa Rukia ke Seiretei menemui sahabat lama gadis itu. Lalu menginap di salah satu hotel Seiretei untuk menghibur Rukia. Namun tidak begitu—Ishida, dugaanku dia sedang merencanakan sesuatu."
"Perjelas maksudmu itu, Sialan."
"Ketakutannya terlalu berlebihan. Dia takut, Rukia memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka jika bertemu denganmu. Karena itu, dia mengajak Rukia berlibur dan mungkin—akan melakukan sesuatu. Jika tidak bisa dengan cara lembut maka dia akan memaksa gadis itu—"
"Menyentuhnya sebelum hari pernikahan," gumam Ichigo dengan suara tajam.
"Itu hal lumrah di zaman sekarang, tetapi tidak bagi gadis semurni Rukia. Menurutmu apa yang terjadi jika Ishida berani memaksanya?"
Diabaikannya pertanyaan tersebut, Ichigo lantas berdiri dengan keyakinan yang meningkat.
"Kapan mereka pergi ke Seiretei?" tanyanya sembari berdiri dengan wajah yang tegas.
"Mungkin sekitar tiga jam lalu."
Jari-jari Ichigo mengepal, ia melempar tatapan pada sosok Ggio yang masih duduk di lantai dengan wajah mendongak. "Jadi ini kesempatan terakhirku," ucapnya lagi.
"Aku tidak tahu. Karena aku bukan Tuhan." Ggio ikut berdiri sembari meneruskan kalimatnya, "Tapi kalau kaubisa seyakin ini, kupikir kau bisa jadi Tuhan untuk dirimu sendiri."
"Soal Senna. Maaf, tadi pagi aku—mengusirnya dari rumahku."
"Terima kasih, Ichigo."
"Untuk apa?"
"Kau sudah memaafkanku, 'kan?"
"Siapa bilang kau kumaafkan?! Urusan kita belum selesai!"
Belum sempat menyela kata-kata Ichigo, Ggio tersentak ketika tiba-tiba saja Ichigo sudah berlari menjauh.
"Hei, kurasa kau membutuhkan ini!" Ggio melempar kunci motornya pada Ichigo sambil tersenyum mengejek, "Kau ini sungguh menggelikan, Kurosaki Ichigo."
Ichigo menggubris sindiran Ggio, tanpa banyak bicara lagi segera ia melangkah pergi.
Ggio benar-benar terpaku.
Punggung teman lama yang dulu ia khianati tengah berlari dengan bersemangat. Bahkan Tuhan, tidak akan mampu menghentikannya.
.
.
"Sebuah ciuman."
Rukia memperhatikan dengan seksama sorot kosong yang memancar redup dari bola mata biru Ishida. Lelaki itu mengharapkan sesuatu yang tidak bisa Rukia berikan selama mereka menjalin hubungan asmara.
Memang tidak adil untuk Ishida yang mampu melakukan apapun demi dirinya, namun Rukia juga tidak bisa. Ada hal yang mengganjal di relung hatinya setiap kali ia bertatapan dengan Ishida yang terlalu baik.
"Kalau begitu tidak usah kauceritakan," tolak Rukia seraya membuang muka ke arah langit yang bersinar oranye.
Penolakan secara halus dari Rukia membuat Ishida mendesah pasrah. Rukia terkesiap ketika tangan Ishida merambat hangat menggenggam jemari mungilnya. Mereka beradu pandang, menghantarkan debaran yang berbeda kala Ishida memandangi Rukia dengan tatapan mengemis.
"Apa yang kaurasakan padaku selama ini, Kuchiki?" Ishida menuntut sebuah jawaban agar hatinya menjadi lega dan tenang, lama pertanyaan itu ia simpan dan baru sekarang ia memberanikan diri mengungkapakan.
"Aku menyayangimu, Ishida."
"Jadi itu bukan cinta? Hanya rasa sayang."
Rukia menghela, "Cinta bukan hal penting untuk dibahas. Kau tahu, 'kan, bagiku hal semacam itu sangat merepotkan! Kalau aku bisa bahagia tanpa cinta, kenapa tidak kucoba—" Rukia mengerem kejujurannya ketika ia merasakan genggaman tangan Ishida mengerat, menyakiti jari-jarinya yang lebih kecil daripada Ishida.
"Menurutmu begitu ya?"
"I-Ishida," mendadak ketakutan muncul, Rukia merinding melihat ada seringai tipis yang tersampir dari sudut bibir sang kekasih.
Ishida melepaskan genggaman kemudian kembali menstrater mobil, sekian puluh menit menghentikan perjalanan, mereka akhirnya melaju kembali ke tempat tujuan. Rukia merasa aneh saat Ishida membelokkan laju mobil dari arah tujuan semula, dengan cemas ia melirik hati-hati pada raut wajah Ishida yang menggelap.
"Sepertinya ini bukan jalan menuju mansion Kasumioji. Seingatku—"
"Sudah sore, kita akan melanjutkan perjalanan sampai besok pagi. Jadi malam ini sebaiknya kita menginap."
"Menginap?"
"Iya, aku sudah memesan satu kamar di hotel Seiretei. Kita bisa sekalian berlibur sebentar."
"Tapi, Ishida…"
Kata-kata Rukia tersangkut ketika tiba-tiba saja Ishida mempercepat laju mobil mereka. Deburan angin menerpa keras melewati kaca jendela mobil yang terbuka lebar, membuat sekujur tubuh Rukia sedingin wajah Ishida.
.
.
Balkon yang berada tepat di atas tepi laut memancarkan gradasi biru menerpa kornea ungu Rukia. Pertama kalinya ia melihat sisi menakjubkan dari pemandangan Seiretei. Berbeda dengan Las Noches dan Karakura, landscape milik Seiretei lebih misterius, udara sejuk di sini membuatnya seperti kembali ke kampung halaman.
Pantas Rurichiyo menjadi sangat baik hati, mungkin karena gadis itu dilahirkan di tempat sebaik ini. Rukia menghela napas, menyadari jika dirinya belum bisa bercengkrama dengan teman kecil yang begitu ia rindukan. Gadis itu meneroboskan pandangan hingga ke penjuru langit yang nyaris menyatu dengan laut, larut dalam pikirannya sendiri ia menumpukkan kedua lengannya di atas pagar balkon kemudian menumpu dagunya di atas pagar berbahan kayu tersebut.
Tinggi pagar hanya sampai sebatas dada Rukia hingga membuatnya nyaman untuk memejamkan sejenak mata, membiarkan kepalanya jatuh tertahan di atas pagar balkon. Sesekali ia akan menghirup udara laut yang begitu harum berbaur dengan atmosfer di sekitarnya. Sembari menunggu Ishida yang tengah sibuk berurusan dengan pihak hotel kecil ini.
"Kau bisa jatuh ke laut kalau tidur di sini, Rukia," sebuah lengan membelit pinggang Rukia, darahnya berdesir karena terkejut. Lekas ia berbalik dan mendapati mata gelap Ishida tengah menatapnya. "Ada apa?" Ishida berkata lirih, suaranya terdengar berat.
"T-tidak apa-apa, kau mengejutkanku!"
Rukia menyentuh lengan Ishida yang berada di pinggangnya, berusaha melepaskan diri namun sepertinya Ishida tidak akan membiarkan Rukia lepas.
"Tetaplah di sini, hn?"
Sejenak gadis itu terpaku pada permintaan Ishida, ia segera memalingkan wajah—menghindari tatapan Ishida yang begitu intim mengebor jantung.
Tatapan seperti itu, justru mengingatkan dirinya pada sosok Kurosaki Ichigo.
Tidak boleh. Dia harus melarang dirinya agar tak mengingat nama pria lain. Untuk itu ia akan benar-benar akan melupakan segala urusannya dengan orang itu.
Perlahan tangan Rukia terangkat, melempar jauh-jauh cinta yang tak pernah ia akui pada Ichigo dan merangkul lebih rapat hati Ishida untuk berada dalam pelukan miliknya.
Bagai terpercik api, Ishida lebih kaget dengan balasan pelukan Rukia.
"Bagaimana bisa aku pergi? Kalau kau memelukku seerat ini, Ishida-kun," kata Rukia seraya menepuk-nepuk lengan kanan Ishida yang bertengger di pinggangnya.
Ingin rasanya Ishida berlama-lama bermain dengan gadis Kuchiki itu, namun ponselnya berdering dengan nada yang berbunyi semakin keras.
Terpaksa Ishida melepaskan waktu berharganya dengan Rukia. Ia melangkah masuk lalu menyambar ponsel yang tergeletak di sofa. Tertera nama dari pengirim pesan, Ggio Vega.
Dia sudah menyusul kalian. Sekarang giliranmu, sialan!
Ishida hampir melepaskan tawa ketika membaca pesan dari temannya itu. Rupanya skenario terakhir yang ia buat akan segera terjadi. Senyum kecilnya kali ini tampak tulus, seraya melirik Rukia yang masih berada di balkon, ia meletakkan kembali ponsel. Tatapannya tertuju pada pintu hotel yang tertutup rapat, seakan-akan dirinya tengah menunggu kedatangan seseorang.
"Kuharap kau tidak mengecewakanku, Ichigo," ujarnya terdengar sangat lega. Dan apa ini? Ichigo? Sejak kapan dirinya menjadi akrab dengan si sepupu.
Sebelum permainan benar-benar berakhir, Ishida ingin kembali menikmati sejenak kebersamaan dengan Rukia selagi ada waktu.
Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati Rukia. Punggung Rukia sedikit membungkuk, menempatkan dagunya di atas balkon sementara ujung jemari kakinya diketuk-ketukan. Terdengar dengungan halus dari suara gadis itu, ia sedang menyanyikan sesuatu dengan nadanya saja tanpa lirik.
"Rukia…"
"Hn?" Rukia menyahut singkat, ia tak membalas tatapan lelaki yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
"Sebelum menikah, aku akan mengabulkan satu permintaanmu. Katakan—apapun yang kau mau?"
Rukia mengernyit bingung. Tidak menyangka jika Ishida yang selalu memberikan apa yang ia mau, sekarang mau mengabulkan sebuah permintaan untuknya. Apapun. Penawaran yang ekstrim.
"Kebahagiaanmu. Itu saja. Berikan itu untukku." Seulas senyuman Rukia tunjukan, menyihir otak cemerlang Ishida hingga ia terpana pada kesungguhan yang tulus Rukia perlihatkan.
Sungguh—gadis ini sungguh berbahaya. Pikirnya miris pada kata-kata spontan yang terlontar dari bibir manis gadis itu.
.
.
Ichigo tidak punya banyak waktu untuk kembali ke apartemen dan memakai mobilnya. Oleh karena itu ia menerima penawaran Ggio dengan menggunakan motor besar. Lagipula mengendarai motor jauh lebih efisien.
Dia tidak punya keyakinan apapun tentang kenekatannya ini bisa membawa kembali Rukia ke sisinya atau tidak, tetapi larut dalam keputusasaan jauh membuatnya lebih tersiksa.
Sisi langit mulai mempelihatkan lembayung. Sekian puluh menit melaju kencang membuat tubuh Ichigo mati rasa. Ada segumpal rasa senang yang entah kenapa begitu lancang ia rasakan ketika dirinya membayangkan jika semua ini akan berakhir membahagiakan. Tetapi bagaimana jika sebaliknya? Jantung Ichigo terasa diremas, tatap matanya menyipit melawan arah angin.
Melewati perkebunan mawar yang dulu menjadi kenangan baiknya bersama Rukia, memaksa Ichigo untuk meliriknya sejenak. Waktu seakan bergerak melambat baginya untuk mengingat kembali masa dimana dirinya sangat membenci Rukia.
'Kuchiki Rukia. Empat belas Januari. Tinggi badan seratus empat puluh empat sentimeter. Bermata ungu gelap. Sangat menyukai mawar merah, mencintai kakak perempuannya yang sudah meninggal lebih dari apapun...'
Ciri demi ciri, hobi, kesukaan mengenai Rukia terus Ichigo dengungkan di hatinya di sepanjang jalan.
Sekarang, ia sudah tahu banyak hal tentang Rukia lebih dari siapapun.
Senyum gadis itu, kesedihan, nyanyian yang Rukia suka, cara tidur, kemarahan, hobi, segala yang ingin ia ketahui dari Rukia sudah ia simpan dalam ingatan.
Tidak seperti ketika dulu dirinya memalsukan hubungan mereka sebagai saudara di atas formulir rumah sakit, yang Ichigo tahu cuma nama gadis itu, selebihnya ia tak tahu apapun.
.
Tiba di sebuah hotel sederhana bergaya kuno dengan bangunan barbahan kayu, ia membaca papan nama yang terpasang di sisi dinding sebuah pondok.
"Apa ini hotel Seiretei?" ia menanyai salah seorang karyawan perempuan berpakaian kimono.
"Dari pada hotel, ini lebih pantas disebut tempat penginapan. Tapi jika Anda bertanya begitu, saya pikir ini satu-satunya tempat penginapan yang ada di Seiretei."
"Begitu ya. Maaf, dimana saya bisa menanyakan daftar nama tamu hotel?"
"Di sini, Tuan," karyawan tersebut menunjukkan papan bertuliskan 'resepsionis' yang terletak di atas meja sembari tersenyum lembut.
"Bisa bantu saya? Apa di sini ada tamu bernama Ishida Uryuu?"
"Oh! Maksudmu pria berkacamata yang datang bersama seorang gadis dengan…"
"Iya, itu orang yang kumaksud," segera Ichigo memotong ucapan si karyawan, "Berapa nomor kamarnya?"
"Dibanding kamar, kami menyebutnya pondok, Tuan. Dan—" karyawan tersebut menjelaskan dengan nada yang begitu menyebalkan di telinga Ichigo. Namun sekejap kemudian, si karyawan berteriak, "Ah, iya! Tuan itu menitipkan pesan bahwa jika ada yang mencarinya, katakan mereka sedang pergi ke pantai."
"Terima kasih."
Tanpa mempedulikan seruan karyawan tadi yang memanggil, Ichigo berlari menuju area pantai yang terletak tidak jauh dari pondok penginapan.
Tunggu!
Mata Ichigo menerawang jauh ke sudut pantai. Kalau Ishida menitipkan pesan pada karyawan itu, apakah artinya Ishida sudah tahu kalau ia akan menyusul mereka? Kembali ia merasa ditipu Ggio.
.
.
Langit perlahan muram tertelan warna senja. Lingkar matahari lambat laun menyatu dengan permukaan laut. Jejak kaki Ichigo tercetak di sepanjang tepi pantai, ia menginjak pepasiran dengan langkah resah.
Matanya bergerak gelisah mencari-cari sosok Rukia. Mulutnya terbungkam, ia hanya mengatup erat bibir, tidak berani memanggil nama gadis itu. Walaupun ia sangat ingin melakukan itu, berharap Rukia menyahut panggilannya, namun ia takut—kalau ia memanggil Rukia, gadis itu malah justru akan bersembunyi darinya.
Ichigo mulai frustasi karena tak menemukan sosok Rukia dimanapun. Sambil menerjang-nerjang pepasiran dengan pikiran paling kalut yang pernah dirasa, ia menekan kedua telapak tangannya ke wajah, menutupi warna emosi yang menghiasi seluruh sisi wajahnya yang tegang.
Sekilas dari celah jemari, Ichigo menangkap dua titik kecil yang berada di atas bebatuan karang di ujung pantai. Tidak ingin membuang waktu lebih lama, ia pun berlari demi memastikan sesuatu yang terlihat tadi.
Rambut oranyenya tertiup angin yang kini bergerak mengikuti arah Ichigo berlari. Dengan segenap keberanian yang tersisa, ia melepaskan keputusasaan juga rasa bersalahnya.
Disana!
Kuchiki Rukia berdiri menghadap ke Barat, menonton matahari tenggelam dengan begitu anggun. Sementara di belakangnya tampak Ishida sedang duduk di atas batu sembari memandangi Rukia yang seolah lebih menarik dibandingkan pemandangan matahari tenggelam.
Melihat itu membuat Ichigo mendengus, entah karena lega atau jengkel, perasaannya sudah bercampur aduk sejak tadi.
"Apa aku boleh bergabung?"
Ishida berbalik, menemukan sosok sang sepupu tengah menyeringai. Mata coklat Ichigo berkilat-kilat tertimpa bayangan matahari sore. Sedangkan Rukia tertegun di tempat tanpa mencari tahu suara milik siapa yang baru saja ia dengar.
"Kau sudah di sini rupanya," Ishida berdiri kemudian melangkah mendekati Ichigo. "Baiklah! Keputusan ada di tangan wanita ini. Aku sudah menggunakan kesempatanku selama empat tahun, sekarang, gunakan kesempatan empat puluh menitmu, Kurosaki. Bukankah ini sangat adil?" setelahnya, Ishida terus berjalan melewati pundak Ichigo.
Sebelum kedatangan Ichigo, Ishida sudah membicarakan semuanya pada Rukia. Terutama rencananya untuk mempertemukan Rukia dan si sepupu di tempat ini. Rukia mendesah pasrah, bibirnya ia gigit demi menahan gemetar di sudut bibir.
Di sana hanya ada mereka berdua. Ishida meninggalkan bebatuan karang itu tanpa beban atau menyesal karena telah mengundang Ichigo. Tidak ingin hatinya terpengaruh, lelaki itu memutuskan pergi menjauh dari tempat itu untuk beberapa saat.
.
"Lama tidak bertemu, Rukia."
Ichigo memperhatikan seluruh yang bisa ia lihat dari sosok Rukia. Tubuh mungil itu masih sama seperti dulu, tidak bertambah sesenti pun. Untuk sesaat Ichigo tersenyum. Rambut hitam Rukia tertiup halus oleh angin, masih dengan potongan pendek hingga memperlihatkan betapa rapuhnya punggung wanita muda itu.
Pandangan Ichigo bergulir pada kedua jemari Rukia yang terkepal. Kali ini ia tersenyum pahit. Kerinduannya membludak pada Rukia, namun tak setitik pun dirinya berani menyentuh gadis yang sejak tadi terus menghadapkan punggung saja.
Belum ada jawaban dari pertanyaannya tadi, sehingga Ichigo kembali menyapa, "Kau terlihat sangat sehat."
Lagi-lagi Rukia masih membisu. Ichigo menelan ludah menerima perlakuan tak bersahabat yang gadis itu tunjukkan, dahinya menukik tajam. Ia merasa seperti makhluk liliput yang tidak dilihat.
"Bicaralah padaku, Rukia…" Ichigo menggertakan gigi, suaranya bergetar, "Bisakah kau berbalik dan menghadapku?"
"Aku hanya perlu menyediakan mulut dan telingaku untuk bicara denganmu."
Mendengar alasan itu, Ichigo terkekeh, "Bagus, akhirnya kau mau juga bicara denganku."
"Kurosaki," Rukia mendesah tanpa berbalik pada Ichigo, ia berkata, "Kurasa tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Kita ini tidak punya hubungan apapun, kau dan aku—tidak pernah memulai apapun apalagi mengakhiri sesuatu."
"Itukah yang kaupikirkan?"
"Dengar—"
"Bahkan sedikitpun kau merasa kehidupanmu tidak pernah ada aku?"
"Bukan begitu," sontak Rukia berbalik, tubuhnya benar-benar berhadapan dengan Ichigo yang berjarak tiga langkah darinya. Setelah empat tahun tidak melihat mata coklat lelaki itu, membuat Rukia terpikat untuk sesaat, "Ki-kita, maksudku tidak pernah ada hubungan apapun antara kau dan aku. Jadi seharusnya kau tidak perlu—" ucapan Rukia terpotong ketika tiba-tiba saja Ichigo melangkah cepat mendekatinya.
Hampir saja Ichigo menyentuh bibir Rukia dengan bibirnya, selagi gadis itu mengatakan banyak hal menyakitkan padanya. Selama ini ia memikirkan gadis itu setiap waktu, sedangkan Rukia? Ya ampun, Ichigo sungguh frustasi.
"Sebenarnya apa kesalahanku, hn? Menjadikanmu adik palsuku atau sikapku yang buruk saat SMA?"
"Tidak ada. Kita bisa berteman setelah ini, kau dan Ishida juga bisa berbaikan."
"Begitu ya? Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Itu urusanmu!" tukas Rukia tajam, tanpa menyadari kekuatannya yang muncul, ia segera menepis kedua tangan Ichigo yang menggenggam pundaknya. "Kenapa kau harus bersikap lemah?! Apa susahnya mencari wanita lain untuk kau harapkan? Drama seperti ini sebaiknya kau akhiri dengan kebahagiaanmu sendiri, jangan melibatkanku! Kita sudah tidak punya urusan sejak aku keluar dari rumahmu!"
Mata Ichigo yang semula berkilat terang, perlahan meredup dengan mendung. Dia menyadari sikap Rukia yang tegas, gadis ini ternyata tidak punya perasaan apapun padanya. Selama ini rupanya dirinya hanya mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Padahal, ia begitu percaya diri saat datang kemari karena kata-kata Ggio di dojo.
"Maafkan aku," ucapan itu tercetus begitu saja dari Ichigo, matanya menghindari tatapan aneh dari Rukia.
"Apanya yang harus kumaafkan?"
"Rukia—" Ichigo sedikit menjaga jarak, "Aku minta maaf bukan karena menyesal ataupun merasa bersalah." Ia lantas menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum lemah. Nafasnya sudah memberat menahan kekecewaan yang ia dapatkan dari penolakan kejam gadis itu.
"Apapun alasanmu. Aku sudah memaafkanmu, Kurosaki."
"Kalau begitu pergilah."
Muncul perasaan tidak nyaman ketika Ichigo menyisihkan jalan, mempersilakan pergi seolah merestui hubungan gadis itu dengan Ishida. Ada kekecewaan yang merongrong dalam diri Rukia ketika pria itu menyuruhnya pergi begitu saja tanpa menatapnya, sebegitu mudahnya 'kah Ichigo menyerah? Apakah setelah lama tidak bertemu, Ichigo sudah membuang sikap egoisnya? Putra dari dokter penolongnya itu jauh terlihat lebih dewasa.
Langkah kaki Rukia memberat, ada rasa enggan meninggalkan Ichigo dan membuang pandangan dari punggung lebar pria itu.
Cinta yang ia miliki pada Ichigo begitu tipis, karena itu Rukia tidak berani menggagalkan rencana baiknya dengan Ishida hanya karena perasaannya yang masih dangkal. Baginya, cinta yang tipis itu tidak sebanding dengan kebaikan yang diberikan Ishida selama ini.
Tapi…
"Berulangkali aku memikirkannya, Kuchiki. Bahwa ini hanya obsesiku untuk mendapatkanmu, merebutmu dari Ichigo. Kalau benar ini cinta yang diharapkan banyak orang, aku berharap kau membalas perasaanku bukan karena balas budi. Walaupun kita sudah melewati empat kali musim semi, tapi hatimu masih dipenuhi salju."
"Aku sama sekali tidak bisa memasuki hatimu, meski sekeras apapun aku sudah berusaha. Ini kehidupanmu, setidaknya kau masih memiliki peluang untuk akhir yang bahagia. Kau mungkin tidak menyadari dan tidak mengakuinya. Beberapa kali, aku berharap kau menyebut namaku di dalam mimpi."
"Sayangnya, itu bukan namaku."
Rukia tersentak mengingat kata-kata Ishida sebelumnya. Tanpa ia sadari, air mata membasahi retinanya yang tersapu angin.
Byuuur!
Suara benda keras menghantam air laut tertangkap indera pendengaran gadis itu.
"Ichi—go?"
Kekagetan dibayangi ketakutan segenap menyusup ke suluruh tubuh Rukia, ketika dirinya berbalik, Kurosaki Ichigo tidak ada lagi di tempatnya.
.
Bersambung
.
Maaf sudah membuat teman-teman menunggu lama.
Part #17 akan jadi yang terakhir :)
