BLEACH -0- TITE KUBO
Unforgiven Angel
Part #17
.
.
.
Tinggi bebatuan karang menyentuh dasar laut memang tidak terlampau dalam. Semula gadis itu menduga Ichigo akan baik-baik saja, namun melihat detik terus berjalan dan tubuh Ichigo tak kunjung muncul ke permukaan, tanpa menunggu lebih lama, ia terjun ke laut mencoba menyelamatkan lelaki itu.
.
Ichigo…
Kau bisa bermain dengan Rukia-chan.
Ayah.
Ingatan kecil itu meskipun buram dan getas, Ichigo masih terkenang. Pertama kalinya mereka berkenalan. Pasien ayahnya yang dirawat karena keracunan makanan. Gadis kecil yang memperkenalkan Ichigo pada rasa benci.
Seharusnya kenangan buruk tidak boleh ia ingat sampai kiamat. Seandainya waktu bisa kembali, ia ingin benar-benar berteman baik dengan Rukia.
Andai saja, hatinya rela menerima kenyataan pahit. Andai saja, saat itu, Kuchiki Rukia bukan pasien ayahnya dan mereka tidak pernah berkenalan. Mungkin dia tidak akan tahu seperti apa wajah orang yang mencelakai sang ayah dan ia juga tidak akan membenci gadis itu. Gadis yang sekarang justru ia cintai.
Ichigo menenggelamkan dirinya ke dalam laut. Hanya desingan suara air yang bisa didengar. Pria itu ingin melepaskan semuanya, melupakan apapun yang menjadikan perasaannya begitu rumit. Untuk sementara, dia membutuhkan waktu gila seperti ini.
Lidah Ichigo sempat tercecap rasa asin air laut, seluruh bagian tubuhnya larut bagai gula. Meskipun ini tampak konyol, namun ia menikmati rasa sakitnya. Dengan melakukan ini, ia berharap, ia akan kembali menjadi Kurosaki Ichigo yang diharapkan ibu dan adik-adiknya.
Kurosaki Ichigo yang mencintai Kuchiki Rukia akan segera mati. Tenggelam di laut yang dingin.
'Ayah jangan khawatir, setelah aku cukup puas menenggelamkan diri. Aku akan kembali ke permukaan, kembali pada ibu, Yuzu dan Karin. Aku pasti—' paru-paru Ichigo sudah memberat, dengan ucapan yang tersendat, ia membuka mata.
Waktu seolah berhenti ketika yang ia lihat bukan hanya tubuhnya saja yang melayang di dalam air, namun sesosok raga mungil yang melaju kencang ke arahnya.
'Rukia.'
Sadar ia menyebutkan nama itu di dalam hati, debaran jantung Ichigo malah kian melemah. Niatnya untuk kembali ke permukaan dan meneruskan hidup tanpa kenangan Rukia perlahan pupus.
Matanya kembali tertutup lantas dalam sekejap ia merasakan seseorang tengah merangkum tubuhnya yang membeku.
.
.
Kekuatan menumpuk di kedua lengan Rukia yang merangkum tubuh Ichigo. Usaha kerasnya berhasil ketika dengan susah payah ia membawa tubuh lelaki itu ke permukaan laut. Beruntung dirinya bisa berenang, kalau tidak, astaga—mereka berdua bisa mati tenggelam.
Mati?!
Kata itu adalah takdir yang tidak bisa dihindarkan. Tetapi tidak dengan cara ini?! Cukup dokter Isshin yang tewas tertelan api, bagaimana bisa ia membiarkan putra dokter Isshin ikut-ikutan tewas tertelan kepungan air?!
Rukia merasa otot-ototnya dipenuhi tenaga yang besar, sampai-sampai ia berhasil menarik Ichigo ke tepi pantai. Terengah-engah perempuan mungil itu menyeret badan Ichigo. Lantas membaringkannya di atas pepasiran yang kini sudah tertimpa bayangan langit gelap.
"Ichigo, Kurosaki Ichigo, hei?" Sembari memanggil-manggil, Rukia menepuk-nepuk kedua pipi Ichigo, berharap pria itu mau membuka mata dan bernapas dengan normal. Rukia meraba jantung Ichigo—syukurlah jantung itu masih berdetak meski terdengar lemah.
Tidak sanggup menahan cemas, mata ungunya memerah. Bukan cuma karena air laut yang menggores kornea halusnya, namun juga kekhawatiran yang tidak bisa ia bendung lagi.
Rukia merangkak ke atas tubuh pingsan Ichigo mencoba melakukan CPR, berulangkali dirinya menempelkan mulutnya pada bibir Ichigo yang membiru—menghembuskan oksigen miliknya ke dalam saluran pernapasan Ichigo yang berfungsi kaku, sayangnya lelaki yang tengah tak sadarkan diri itu masih membatu.
Dimana Ishida? Pergi kemana lelaki itu?! Mata Rukia bergulir ke segala arah, berusaha menemukan orang lain.
Matahari sudah menghilang sepenuhnya—tak ada siapapun di sini. Dia hanya memandangi wajah pucat Ichigo dalam kebisuan yang membunuh. Bibirnya terbungkam, sulit meneriakkan nama seseorang agar mau menolong. Begitupun tungkai kakinya yang sudah kehilangan tenaga.
Kedua ekor matanya perlahan menitikkan air. Setitik, dua titik, ia akhirnya menangis. Lengannya bergetar, rasa takut dalam sekejap membungkus tiap indera miliknya.
"Ba-bangun, Ichigo. Kumohon sadarlah."
Diguncangnya tubuh Ichigo sekali lagi sembari terus menyebutkan nama lelaki itu dengan suara parau. Usahanya belum berefek apapun. Kesal karena gagal menyadarkan Ichigo, Rukia memukul pelan dada Ichigo kemudian berganti menekan-nekan perutnya, sayangnya tak ada hasil yang ia dapatkan.
"Tidak," ia meracau lantas melakukan CPR sekali lagi, "Kau tidak boleh mati. Kau tidak bisa menghukumku dengan cara seperti ini," ucapnya terbata-bata, meminta Ichigo mau merespons kata-katanya. "Aku bisa gila kalau kau tidak bangun—Kurosaki—" dada Rukia turun naik melepaskan sesak, ia terus merengek seraya menggoyang-goyangkan kedua bahu Ichigo yang kokoh, "—Kurosaki Ichigo, sadarlah!"
"Maaf. Maafkan aku."
Situasi yang semakin memburuk membuat Rukia tanpa sadar melontarkan permintaan maaf.
"U-huuk!"
Beberapa kali Rukia mengucapkan maaf, akhirnya Ichigo bereaksi. Kesadaran lelaki itu kembali tatkala ia mengeluarkan air dari mulutnya sampai terbatuk-batuk.
Kelopak mata milik Ichigo terbuka. Hal itu menerbitkan kelegaan luar biasa bagi Rukia.
Mereka berpandangan, keduanya sama-sama terlihat lelah. Namun, tak lama menunjukkan kesadarannya, Ichigo lagi-lagi memejamkan mata.
"Kuchiki!"
Rukia menghela napas, merasa sangat lega.
Dari jauh, Ishida berlari cepat mendekati Rukia. "Apa yang terjadi dengan kalian?!" Ia duduk menghampiri tubuh Ichigo yang pingsan, "Kenapa dengannya?" Dan Ishida tidak lagi melanjutkan perkataan, ketika tiba-tiba saja Rukia tumbang di atas tubuh Ichigo.
.
.
"Bagaimana keadaan mereka?"
Klinik yang berada di sekitar penginapan membantu Ishida untuk menyelamatkan Ichigo dan Rukia yang sama-sama tak sadarkan diri. Meski ia mengerti bagaimana kondisi kedua orang itu, namun ia butuh penjelasan dari dokter yang memeriksa mereka.
"Mereka baik-baik saja, hanya tertidur sebentar karena kelelahan," seorang dokter bergaya nyentrik—dengan kacamata dan berambut merah muda—ia kemudian bertanya pada Ishida, "sepertinya aku mengenal kedua orang itu? Apa kalian berasal dari Karakura?"
"Ya," jawab Ishida acuh.
"Mereka mirip teman adikku yang dulu—"
"Permisi, Dokter. Saya ingin melihat keadaan mereka."
Gara-gara ucapannya dipotong, dokter itu membalas Ishida. "Pasien sedang tertidur, Anda bisa menemui mereka besok pagi," larangnya seraya tersenyum kecil lalu meninggalkan Ishida di muka pintu ruang rawat.
Mengerti dengan peraturan yang diberikan si dokter, Ishida mengangguk patuh. Tidak seharusnya ia membesuk pasien yang tengah istirahat—ia lupa akan kode etik di sebuah rumah sakit, padahal dia seorang dokter.
Dia memutuskan untuk kembali ke penginapan lantas mengabarkan semua yang terjadi pada bibi Masaki.
.
.
.
Di tengah malam, Rukia terbangun. Kelopak matanya menyipit demi beradaptasi pada sinar temaram yang memancar dari sebuah lampu bohlam ruangan tersebut. Ia menyadari jika dirinya sedang berada di dalam ruangan yang identik dengan warna putih.
Tangannya terangkat seakan mencoba meraih sinar yang memancar dari lampu bohlam. Tempat ini terlalu kecil untuk disebut rumah sakit.
Rukia berusaha meregangkan ototnya yang beberapa saat lalu kaku karena tertidur, seraya menegakkan punggung agar bisa duduk bersandar pada kepala ranjang, perhatian gadis itu beralih pada tirai putih yang membatasi tempat tidur para pasien.
Ada seseorang yang berbaring di salah satu tempat tidur ini selain dirinya. Tertegun dengan dugaannya, Rukia segera menggeser letak tirai hingga dirinya bisa mengintip.
Pria itu sedang berbaring nyaman. Ichigo masih menikmati tidur pulasnya di atas seprai putih klinik dengan wajah yang tampak damai. Melihat itu, senyum tipis terbit di ujung bibir Rukia.
Walaupun ada sedikit kekhawatiran ketika melihat kepala Ichigo harus diperban, Rukia tetap harus bernapas lega mendapati putera dari dokter Isshin tersebut baik-baik saja.
Kelabu di hatinya lambat laun menghilang saat hatinya yang mendung telah dipenuhi dengan wajah tidur Ichigo. "Dia sangat manis kalau sedang tidur seperti ini," gumam Rukia tanpa sadar, ia menutup mulutnya sendiri lalu dengan langkah hati-hati gadis Kuchiki itu duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang.
"Kuharap kau tulus dengan semua ucapanmu," ujarnya lagi seraya meneliti lebih banyak keberadaan Ichigo di depan matanya. Sampai-sampai dirinya kembali tertidur dengan kepala terkulai di tepi ranjang yang ditempati Ichigo.
Wajahnya muram, tertekuk di balik bayangan lengan Ichigo yang tertimpa sinar lampu. Kalau diingat—dulu kulit lelaki itu tidak secoklat ini. Ada timbunan otot yang membentuk ukuran bahu Ichigo yang lebar. Rukia memperhatikan jemari Ichigo yang diam, jari-jarinya panjang dengan telapak tangan yang luas, persis seperti dulu, hanya saja ada beberapa luka dan kulit yang menebal di sekitar jari jempol.
Tangan ini beberapa saat lalu begitu kuat menahan pundaknya. Tetapi sekarang malah tak bergerak sama sekali. Pria itu sangat ceroboh! Terjun ke laut hanya karena cinta ditolak, "Itu tidak seperti dirimu, Ichigo." Rukia tersenyum pahit, lantas dengan gugup, ia menyentuh kepala Ichigo—membelai warna oranye yang mengintip dari balik perban putih.
Menit berlalu hingga membuat Rukia kembali memejamkan mata.
.
.
"Kau mengecewakan, Ichigo. Ibu sungguh tidak habis pikir dengan yang terjadi padamu, kelakuanmu ini sangat tidak masuk akal."
"Maafkan aku."
"Bagaimana kalau kau mati, Nak?" rutukan kecil terdengar lagi, "Apa yang akan ibu lakukan kalau tidak ada kau? Adik-adikmu—astaga, Ichigo—kalau begini terus, ibumu yang tua ini bisa cepat mati." Tangisan Masaki masih belum reda, matanya basah sembari terus memarahi putranya.
"Jangan salah paham, Bu. Aku terjun ke laut bukan untuk bunuh diri, kok."
Masaki memukul punggung anaknya keras-keras setelah menerima jawaban acuh Ichigo. "Lalu untuk apa kaumencelakai dirimu sendiri?! Sampai membuat kepalamu koyak begini, hah?!"
"Aku—"
"Anak durhaka! Kau ini hanya bisa memikirkan dirimu sendiri!"
"Ibu harus mendengarkanku dulu baru marah-marah," kali ini Ichigo menggeram, berusaha menahan amarah yang dari tadi dilontarkan sang ibu.
"Apa—hah, apa yang mau kaukatakan lagi? Jangan bilang kalau kau sangat ingin mati gara-gara perempuan!"
Ichigo menghela napas, lelah juga menghadapi ibu-ibu yang sedang marah begini. Lebih sulit dibandingkan dirinya mendengarkan keluhan para pasien.
.
Rukia membuka mata, memperjelas penglihatannya yang semula gelap ketika indera pendengarannya menangkap suara berisik yang berasal dari balik tirai. Sembari berusaha duduk dan bersandar di kepala ranjang, gadis itu berpikir sejenak, sebelum kemudian ia menegakkan punggung saat mengingat apa yang dilakukannya tadi malam.
Namun, ia merasa lega setelah memastikan dirinya berada di atas ranjang yang benar—bukan tempat dimana Ichigo berbaring—lho? Rukia tertegun, bukankah semalam ia duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Ichigo dengan kepala tergeletak sambil memandangi lengan kokoh lelaki itu…
.
"Aku cuma ingin menenggalamkan semuanya. Perasaanku untuk Rukia juga kenangan yang terus terngiang—aku ingin menghilangkan semua itu, Bu. Kukira dengan membuang diriku ke laut yang dingin dan dalam itu, aku bisa membuang perasaanku pada Rukia."
Lalu terdengar gertakan gelisah dari seberang tirai, "Tidak dengan mencelakai dirimu sendiri, Anakku."
Itu suara milik Nyonya Kurosaki, Rukia mengingat bagaimana suara merdu wanita itu pernah membalut luka hatinya.
"Tapi ini berhasil," Ichigo menghela napas, "Oh, ibu, aku ini bisa berenang! Aku bahkan bisa menyebrangi lautan kalau aku mau!"
"Anak bodoh! Kalau kau bisa berenang, kepalamu tidak akan terluka seperti ini!" dengan kejam Masaki menjitak kepala Ichigo, di ruangan yang sama meski dibatasi tirai putih, Rukia mendengar suara kesakitan Ichigo. Gadis itu ingin melihat keadaan Ichigo yang sudah sadarkan diri, namun ia belum berani tampil di hadapan lelaki yang hampir saja ia celakai.
"Lantas bagaimana? Benarkah kau sudah melupakan Kuchiki Rukia, membuang jauh-jauh hatimu untuk dia sampai ke dasar laut?" sang ibu menuntut jawaban pasti dengan tatapan mengejek, masih dengan nada mengutuk pada tingkah konyol putranya yang keras kepala.
"Ya! Ketika tenggelam, yang muncul di otakku adalah wajah ibu, Karin dan Yuzu—tak ada lagi ruang yang bisa gadis itu masuki."
"Jadi, kau lebih mencintai keluargamu?"
Ichigo sungguh sudah berhasil meluluhkan api kemarahan sang ibu, karena hal yang bisa dilakukan ibunya hanyalah memeluk putranya sembari tersenyum lega. Di dunia ini tidak ada yang lebih berharga daripada kehidupan Ichigo-nya. Masaki bahkan berani menukar segala yang ia miliki, termasuk jiwanya sendiri demi ketiga anaknya.
.
Mendengar cerita yang meluncur dari penuturan Ichigo membuat Rukia terpaksa memejamkan kembali mata. Menghindari perasaannya yang sesaat lalu hancur. Kepalanya mendadak nyeri bagai dikerumuni ribuan lebah, berdenging seolah telinganya dimasuki lebah-lebah yang mampu menyengat hatinya tanpa ampun.
Gadis itu menggigit bibir, sebisa mungkin menahan riak kecil di ujung retina yang mulai memanas. Dia bingung—nalurinya bergejolak melawan keinginannya untuk meminta penjelasan atas semua yang lelaki itu katakan. Dia, dalam sekejap akan dilupakan oleh Kurosaki Ichigo. Apa setiap pria bisa mengganti perasaannya dengan mudah? Ah tidak, yang dilakukan Ichigo adalah hal yang paling benar. Rukia menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme jantungnya agar berdetak normal.
.
.
"Ibu sudah selesai mengurus semuanya. Sebaiknya kita pulang sekarang, adik-adikmu khawatir sekali saat ibu bilang kalau kakaknya hampir tewas tenggelam."
Masaki telah mengemasi pakaian kotor Ichigo, lantas mengajak putra semata wayangnya tersebut untuk segera keluar kamar.
"Bagaimana dengan Rukia?" sergah Ichigo seraya melirik ke arah tirai di sampingnya.
"Ada Uryuu—calon suaminya itu jauh lebih bisa diandalkan."
Sebagai jawaban singkat, Ichigo berdiri tegak sembari bergumam, "Oh."
Ibu dan anak itu meninggalkan ruang perawatan. Langkah Ichigo begitu mantap menjauhi ranjang tidur Rukia, meski begitu ekor matanya belum mampu melepaskan pandangannya dari sosok gadis Kuchiki yang masih terbaring lemah.
Ia mengepalkan tangannya yang berada di kedua saku celana, menyembunyikan keputusasaan yang mungkin akan membayangi kehidupan hambarnya nanti. Dadanya terasa berat. Hatinya sekarang benar-benar menjadi kosong.
Pintu ruangan yang telah ditinggalkan Ichigo kini tertutup. Lelaki itu mengikuti langkah ibunya yang berjalan menuju bagian teras dari klinik. Kekhawatiran sempat menyapa Ichigo ketika dirinya tak melihat sosok Ishida dimanapun, padahal Rukia sedang sendirian di dalam kamar rawat.
Matanya terus bergulir menyimpan gelisah. 'Pergi kemana pria itu?!' makinya di dalam hati, kepalanya terus celingukan ke arah depan kemudian berbalik mengawasi kamar rawat dari kejauhan.
Sontak hal itu membuatnya tanpa sadar menabrak punggung ibunya yang berjalan di depan.
"Kenapa denganmu, Ichigo? Apa kau meninggalkan matamu di pintu rawat itu?" sindir ibunya dengan nada meninggi.
"Ti-tidak apa-apa, Bu."
Masaki tidak bisa meneruskan omelan saat melihat putranya tersenyum masam.
Cinta mungkin memang seperti ini. Indah seperti mawar merah kesukaan Rukia jika sudah terlepas dari duri-duri. Namun, yang ia peroleh hanya durinya saja. Kalau diingat-ingat hubungannya dengan Rukia memang berawal dari benang kusut, bahkan sampai sekarang pun tidak ada jenis nama yang cocok untuk hubungan mereka. Semua memang terlihat tidak jelas.
Ichigo telah berada di teras klinik, ketika sang ibu menghentikan langkah mereka.
"Oh ya, sayang. Ibu lupa harus menemui seseorang dulu sebelum pergi."
"Siapa?"
"Dia sahabat ayahmu. Kebetulan dia pemilik klinik ini, ayo ibu perkenalkan!"
"Aku malas, Bu. Ibu saja yang menemuinya, aku menunggu di sini saja."
Seraya mencibir tingkah tidak hormat anaknya pada teman lama orang tuanya, Masaki menyuruh Ichigo untuk menunggu di mobil kemudian berlalu pergi. Ichigo memperhatikan punggung tegar ibunya yang perlahan menghilang di balik koridor.
Sejenak ia menghirup udara pagi lalu menghembuskannya dengan rileks.
Ichigo berjalan menuju tempat dimana sang ibu memarkirkan kendaraan roda empat mereka. Baru saja akan melangkah turun dari perbatasan teras klinik, Ichigo menemukan sebuah benda berwarna perak berkilauan di atas tanah.
Bola matanya membesar kala menyadari benda tersebut bukan berjenis perak melainkan emas putih. Ia berjongkok lalu memungutnya, nyaris tak mempercayai apa yang baru saja ia temukan.
Perhiasan kalung berbandul malaikat cupid.
Apakah ibunya yang menjatuhkan ini? Ichigo berbalik mencari-cari sosok ibunya yang masih belum muncul dari balik koridor untuk menemui si teman tadi.
"Astaga! Syukurlah kau menemukannya!"
Seorang pria berseragam dokter dengan rambut nyentrik bagai gulali berlari ke arah Ichigo. Kacamata pria itu sedikit melorot ketika dirinya sudah sampai di hadapan Ichigo, "Terima kasih banyak. Kalung itu punyaku."
Ichigo melongo, ia masih menggenggam erat perhiasan berantai itu.
"Punyamu?"
Entah apa yang membuat pria asing itu meringis, ia mengangguk pada Ichigo. "Yah, bisa dibilang begitu. Aku bisa dibunuh adikku kalau benda itu sampai hilang."
Ichigo ragu. Dia sepertinya mengenali pria berambut gulali ini.
.
Rukia menggertakan gigi dengan mata masih terpejam. Kesepuluh jemarinya mencengkeram seprei putih tempatnya berbaring. Jantungnya berdenyut ngilu, perasaan kecewa membungkus organ vitalnya tersebut terlampau kuat sampai-sampai gadis itu kesulitan membuka mata.
Kamar rawat yang ia tempati kini menyisakan dirinya sendiri. Sendirian, kesepian, kesunyian—itu semua kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Seolah di dunia ini hanya tinggal dirinya, tanpa keberadaan seseorang yang mencemaskannya.
Beruntung sekali Kurosaki Ichigo itu. Sungguh beruntung. Pria itu dikelilingi keluarga yang memperhatikan hidupnya, dia memiliki alasan yang benar untuk bertahan hidup. Sedangkan dirinya, Rukia menarik napasnya yang sesak, mengingat bahwa ia tak memiliki seorang ibu ataupun keluarga yang akan memarahinya dan menceramahinya setelah kejadian buruk terlewati.
"Nee-san," sekarang ia tidak kuasa lagi membendung rengekannya dengan suara meredam, karena percuma saja—sekalipun harus berteriak meminta belas kasihan, tidak akan ada seorangpun yang bisa ia jadikan sebagai sandaran. Sejak dulu ia tidak terbiasa mengadukan rasa sakitnya pada sang kakak, namun sekarang, ia sungguh ingin menumpahkan segalanya tanpa bersisa.
Dada gadis itu turun naik melepaskan kepayahan.
Dia menginginkan kebahagiaan, bukan sekedar permintaan maaf. Bisakah Kurosaki Ichigo memberinya kesempatan satu kali? Dia ingin kegembiraan kecil yang terus tumbuh setiap harinya bersama seseorang—dan orang itu bukan Ishida Uryuu, bukan pula sahabatnya Inoue Orihime melainkan—
Kurosaki Ichigo.
Dorongan kuat muncul di benak gadis itu membuat punggungnya mampu berdiri tegak dengan mata cantiknya yang terbuka lebar. Dia harus mengejar Ichigo sekarang juga, berlari menyusul lelaki itu sebelum benar-benar pergi menjauh.
Bunyi gaduh mengisi keheningan di sepanjang koridor kecil klinik. Seiring kaki Rukia yang melangkah tanpa alas. Setiba di teras klinik, kepala mungilnya celingukan mencari sesosok pria berambut oranye yang mungkin saja masih berada di tempat yang sama dengannya. Rukia belum menemukan Ichigo, segala usahanya seakan menjadi tak berarti sama sekali.
Cuaca cerah pagi itu tidak menghibur hati Rukia yang mendung sepanjang malam. Napasnya yang tersengal-sengal masih terus ia paksa untuk berjalan, gadis itu tertatih-tatih menginjakkan kakinya ke tanah yang lembab hingga dinginnya mampu menembus telapak kakinya yang telanjang.
Putus asa dengan keterlambatannya menyusul kepergian Ichigo, Rukia duduk berjongkok dengan kepala menunduk dalam.
Pada akhirnya, kenyamanan dalam dirinya tidak akan pernah berlangsung lama. Gadis itu memeluk sendiri kedua lengannya yang gemetar.
Menyadari betapa dia sangat menginginkan sesuatu yang disebut dengan cinta, sayangnya ia tidak mempunyai seorangpun yang bisa dicintai. Kurosaki Ichigo—walaupun perasaannya sangat tipis pada lelaki itu, tetapi dengan harapan tipis itu, Rukia berharap ia bisa memiliki tujuan untuk bertahan hidup.
Nama lelaki itu tersimpan di sudut ruang hatinya yang kosong. Diam-diam berada di sana hanya agar dirinya tidak merasa sendirian. Benarkah, Rukia baru memahami perasannya sendiri selama ini? Dia menyeka matanya yang basah, menyesali betapa ia sudah sangat terlambat dan tidak lagi bisa kembali.
"Rukia."
Sontak ia menoleh, suara yang menyebutkan namanya tersebut bagai sihir hitam yang membungkus penglihatannya yang berkabut. Di sana Ichigo memperlihatkan diri di balik dinding yang menutupi separuh tubuhnya, dengan dahi mengerut laki-laki itu memandang seluruh indera yang dimiliki Rukia.
Posisi juga mata cantik Rukia yang berkabut keunguan. Bagai maghnet.
Mereka saling menatap. Rukia masih dengan posisinya yang tengah duduk berjongkok menoleh pada gesture tegap Ichigo yang sudah berdiri di dekatnya dalam jarak pandang sekitar lima langkah.
Ichigo masih di sini? Dia belum pergi. Sebagai respon, Rukia serentak berdiri menghadapkan tubuh mungilnya di depan pria jangkung itu.
"Ada apa?" alis Ichigo terangkat, bertanya pada gadis yang terlihat kebingungan.
Senyum lega terukir di bibir Rukia. Dan Ichigo bersumpah, akan melakukan apapun demi membayar senyuman mahal itu. Rukia—tersenyum padanya. Gadis itu jauh lebih bercahaya dengan wajah cantiknya yang memucat. Tatapannya lurus ke mata ungu Rukia, tidak berani menggeser pandangan ke arah manapun.
Rukia lekas menghapus jejak basah di pipinya. Malu kalau sampai Ichigo mengetahui betapa cengeng dirinya sekarang ini. Namun rona merah sehabis menangis di wajah Rukia tentu saja tidak luput dari perhatian Ichigo yang semakin intens.
"Kemarin adalah kesalahanku. Hari ini aku juga merasa bersalah, dan mungkin besok atau seterusnya aku akan melakukan banyak kesalahan. Tetapi, Ichigo—" napas Rukia yang memberat sempat menghentikan gadis itu melanjutkan kata-kata. Ichigo sendiri terkejut mendengar namanya dipanggil akrab oleh Rukia, "Kau juga salah," gerutunya dengan muka memberengut. "Kenapa kau tidak berusaha lebih keras lagi?!" Rukia bersungut-sungut dengan bentakan yang belum bisa dicerna Ichigo.
"Aku tidak mengerti maksudmu."
Jawaban Ichigo terdengar dingin, memancing Rukia untuk mengatakan kembali semua yang mengganggu pikirannya. "Bagaimana kalau aku jadi menyukaimu?" gumam gadis itu ragu-ragu.
Rasanya aneh. Ichigo mencoba menahan diri agar tak tersenyum.
"Maaf," gadis itu berkata lagi.
Dengan alis mata yang bertautan, Ichigo menumpu pandangannya pada puncak kepala Rukia yang tertunduk meminta maaf.
"Ini memang terdengar lancang dan bodoh."
"Apa yang terdengar lancang dan bodoh?"
"Aku—aku ingin bersamamu, Ichigo. Aku ingin bersamamu."
Isi kepala Ichigo seolah dipenuhi letusan kembang api. Gadis itu bilang, ingin bersamanya! Ichigo berwajah konyol ketika dirinya tersenyum dengan mulut menganga, ia sadar—ia pasti akan mengkhianati janjinya pada sang ibu. Meski begitu, toh, air mukanya tetap berubah seterang matahari.
.
"Uryuu, kau sudah datang—" Masaki mengerem ucapan ketika matanya ikut melihat sesuatu yang menjadi pusat perhatian keponakannya tersebut.
Lima menit lalu, Ishida Uryuu berdiri di sana memperhatikan dari kejauhan pembicaraan antara calon isterinya bersama sang sepupu.
Masaki mengembuskan napasnya, lelah. Di sebelah Uryuu, ia melihat putranya tengah merangkum kepala mungil Rukia dengan kedua telapak tangannya yang lebar. Menggegam kepala dara cantik itu seperti bola Kristal berharga yang mudah pecah.
"Akan kuhentikan tingkah aneh anakku itu."
"Jangan, Bi. Biarkan saja."
Ishida menahan sikap bibinya yang hendak menjauhkan Ichigo dari Rukia. Dengan wajah tenang, Ishida menyeringai kecil, "Bersama, sudah menjadi takdir mereka sejak dulu. Aku senang sekali."
Wanita paruh baya tersebut menelan semua ucapannya. Memandangi mata Ichigo yang berbinar ceria layaknya anak kecil yang sedang mendapat hadiah kejutan. Ia tidak mungkin melarang putranya untuk tersenyum seperti itu, 'kan? Senyum cerah.
.
"Nii-sama!"
Semua perhatian tertuju pada sosok gadis remaja yang berlarian kecil mendekati sosok lain yang sejak tadi menontoni kebersamaan Ichigo dan Rukia. Tanpa terkecuali Ichigo dan Rukia yang mengalihkan fokus mereka kepada perempuan muda berambut pirang di sana.
"Szayel-nii menyebalkan! Cepat antar aku pulang, Nii!"
Gadis remaja tersebut belum menyadari jika ia tengah diperhatikan oleh sepasang mata ungu kelabu Rukia, ia menggenggam siku kakaknya sebelum kemudian namanya dipanggil.
"Rurichiyo?" Putri dari bangsawan Kasumioji tersebut akhirnya menoleh pada Rukia. Lalu reuni kecil pun terjadi kala Rurichiyo memekik kegirangan.
"Rukia-chan! Oaah, Rukiaaa!"
Rurichiyo berlari cepat lantas memeluk gemas tubuh Rukia. Sekarang tinggi mereka sudah sama.
Dan suasana menjadi ramai gara-gara lengkingan suara Rurichiyo yang belum reda.
.
.
.
Kebun mawar yang beberapa tahun silam ia lihat dari dekat ketika berlibur bersama Rurichiyo atau beberapa waktu lalu sering ia lihat dari kejauhan kini tampak lebih lebat dari sebelumnya. Keluarga bangsawan Kasumioji memang terkenal dengan kebun botani mawarnya yang menakjubkan. Rukia kagum ketika matanya tak jenuh memandangi corak mawar yang tersiram lautan sinar. Apalagi angin sepoi-sepoi menambah rasa tentram di saat permukaan kulitnya dibelai udara sejuk.
Rurichiyo melirik pada Rukia yang berjalan di sampingnya, penuh perhatian meneliti satu per satu batang mawar yang berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri jalanan setapak perkebunan.
"Rukia-chan, tentang Hisana-nee. Maaf," gadis remaja berambut pirang tersebut mendesah, "Aku baru tahu beberapa bulan setelah kematiannya."
"Ya—kau tahu? Itu saat-saat dimana aku sangat membutuhkan teman."
"Maafkan aku. Waktu itu aku sedang berlibur ke luar negri. Ketika kembali, aku pergi ke Karakura ingin memberimu oleh-oleh, sayangnya…" bibir Rurichiyo menekuk, terlihat menyesal, "Tidak ada yang tersisa. Kaumenghilang dan aku tidak bisa menemukanmu di tiap sudut Karakura."
"Saat itu aku pindah ke Las Noches."
"Kenapa kau tidak mengabariku?!" Rurichiyo bertanya dengan matanya yang berkobar.
Rukia hanya tersenyum simpul, "Maaf, aku terlalu sibuk untuk mampir ke Seiretei. Dan lagi, nomor ponselmu ikut terbakar bersama ponselku."
"Rukia-chan."
Terdengar rengekan dari Rurichiyo. Sulit membendung perasaan iba, Rurichiyo pun memeluk bahu Rukia dengan erat. Begitu juga Rukia yang mengelus punggung Rurichiyo ikut tertular getaran yang ditimbulkan oleh gadis Kasumioji itu.
"Sekarang apa rencanamu?" Rurichiyo melepaskan pelukan, menatap Rukia penuh simpati.
"Entahlah."
"Bagaimana kalau kau tinggal bersamaku?"
Pertanyaan itu berhasil menarik ingatan Rukia mundur pada beberapa jam lalu.
Aku—aku ingin bersamamu, Ichigo. Aku ingin bersamamu.
Sontak kedua pipi Rukia bersemu. "I-itu, uhm…" dia tergagap, memalingkan matanya dari tatapan heran Rurichiyo.
"Ah," seolah mengerti, sang pemilik kebun mawar itu menyeringai kecil, "Sepertinya kau sudah punya rencana."
"A-apa? Belum kok. Huh, entahlah, aku belum mendapatkan kepastian apapun."
"Kepastian?"
"I-itu," ada kegugupan dalam kata-kata Rukia. Dia malu. Tampak seperti remaja SMA yang baru saja jatuh cinta.
"Kepastian dari si pembencimu?"
Tidak mampu mengelak lagi, Rukia hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Kalian berjodoh. Entah karena drama cinta ataupun tumpukan kebencian, kalian selalu terhubung."
Rukia terkikik. "Kau pasti terlalu banyak nonton drama tivi," komentar Rukia sembari merangkul bahu Rurichiyo. Mencoba untuk tidak terlalu serius dengan percakapan mereka.
.
"Rukia!"
Kedua gadis yang asyik mengobrol sejak tadi berbalik, menemukan Kurosaki Ichigo tengah membungkuk kepayahan. Lelaki itu menarik napasnya yang tersengal-sengal, merebut udara sebanyak yang ia hembuskan ketika berlari tadi.
Demi mawar kesukaannya! Tanpa bisa dikendalikan, pipi Rukia merona semerah mawar.
Reaksi Rurichiyo berbeda, ia bersedekap lantas berdiri memunggungi Rukia sementara matanya lurus memandang sinis pada Ichigo. Tak nyaman dengan sikap antipati teman kecil Rukia, Ichigo mendengus kemudian berjalan mendekat.
"Bisa tinggalkan kami sebentar, Kasumioji-san?" pinta Ichigo dengan sudut matanya yang mengerut.
"Tentu saja. Asalkan kau tidak berniat buruk pada Rukia."
Dalam detik berikutnya Ichigo menggenggam bahu kanan Rurichiyo berusaha meyakinkan kalau ia tidak akan berniat buruk pada Rukia, pun Rukia yang menggenggam bahu kiri Rurichiyo dari sisi belakang. "Oke, oke. Aku akan pergi," pucuk bibir Rurichiyo mengerucut sebal menyadari kehadirannya yang mungkin akan mengganggu.
Tanpa dijelaskan pun gadis berusia dua puluh tahun itu mengerti bahwa Ichigo dan Rukia memang membutuhkan waktu untuk bicara, sebelum semuanya hanya menjadi pembicaraan basi.
Beberapa menit setelah Rurichiyo menjauh. Ichigo dan Rukia masih dalam kebisuan. Tak seorang pun dari mereka yang mau mulai bicara. Helaian rambut Ichigo tertiup melawan arah angin berembus, sedangkan Rukia harus menahan rambut hitamnya yang berkobar searah embusan angin.
Sampai akhirnya Ichigo mengulurkan tangan kanannya yang tengah menggenggam sesuatu tepat di depan wajah Rukia yang mengerut karena penasaran.
Hitungan detik selanjutnya, lelaki Kurosaki itu membuka genggaman sehingga terlihat apa yang sejak tadi ia sembunyikan.
Cling!
Rukia mendongak, matanya yang berkabut ungu itu berbinar-binar.
Kalung berbandul malaikat.
Sambil tetap memegang rantai kalung, Ichigo menggantung bandul malaikat cupid tersebut di depan mata Rukia. Berkilauan dengan pantulan emas putinya yang anggun.
"Kalung itu—"
Ichigo memotong perkataan Rukia. "Ini milik ayahku," ujarnya seraya menyeringai bangga.
"Bagaimana bisa ada padamu?"
"Sudah kuminta kembali dari Kasumioji-san. Kau hanya menitipkan ini padanya 'kan?"
Rukia mengangguk samar, matanya menatapi kalung itu penuh rasa rindu. Sudah lama sekali. "Aku memang menitipkannya, tapi—sebenarnya, aku tidak berniat untuk mengambilnya lagi." Rukia memalingkan tatapan, membawa pandangannya tepat ke titik retina Ichigo yang tampak mendung.
"Kau tidak suka aku meminta kalung ini kembali?"
Untuk kesekian kali pula Rukia mengangguk dalam, jauh lebih tegas dari sebelumnya.
"Jangan seperti itu Rukia. Tidak seharusnya kau mengingat masa lalu buruk itu lagi?"
"Setiap kali aku melihat matamu, Ichigo. Aku seolah ditarik lagi ke masa laluku yang buruk."
Mulut Ichigo terbungkam. Arah pandangannya menekuri corak tanah yang mulai tertimpa warna senja. "Aku benci masa laluku. Aku benci mengingat saat-saat dimana aku bersikap buruk padamu," dahi Ichigo berkerut, ia menggertakan giginya mencoba menahan rintihan agar tak lolos dari suaranya yang serak.
"Itu ganjaran yang pas untukmu," ucap Rukia berusaha bersikap kuat.
Gadis itu kemudian berbalik memunggungi Ichigo. Ia menaruh pandangannya pada langit sore yang bergaris oranye. Menyembunyikan senyum kecilnya dari pria di belakangnya.
"Kau benar. Orang yang kukira akan kubenci sampai kiamat," Ichigo memajukan langkah, mendekati punggung Rukia yang tengah berdiri penuh percaya diri. Lalu tanpa Rukia sadari, Ichigo melingkari pundak Rukia dengan lengannya sembari memasangkan kalung berbandul malaikat itu ke leher putih si gadis.
Sikap agresif Ichigo terang saja mengejutkan Rukia. Perempuan mungil itu sontak mengangkat dagungnya agar kalung tersebut benar-benar terpasang, rambut di sekitar tengkuknya merinding karena embusan napas hangat Ichigo yang nyaris menyentuh kulit leher belakangnya.
Ichigo mencari lubang pengait kalung sehingga ia perlu mendekatkan matanya pada leher Rukia yang menegang. Mengetahui reaksi Rukia yang salah tingkah, Ichigo menyeringai.
Kemudian setelah memastikan kalung itu terpasang dengan kuat—cup! Laki-laki itu dengan jahil mengecup kulit leher belakang Rukia.
"Ayo—kita menikah, Rukia?"
Refleks Rukia berbalik menghadap pada sosok Ichigo yang sejak tadi ia punggungi, dan kejutan lain dilancarkan kembali oleh pria tinggi itu. Cup! Kecupan lain kini hinggap di pucuk bibir Rukia yang merekah.
"Ichigo!"
Walaupun gadis itu seakan ingin marah, namun Ichigo tahu, Rukia juga menikmati itu. Ichigo ingin tersenyum tetapi masih ada ketakutan lain ketika mata ungu itu menembus masuk ke rongga dadanya.
Entahlah, itu sungguh membuat napasnya sesak.
"Maaf," sesal Ichigo untuk kesekian kalinya.
"Apa kau pikir hanya dengan merayuku seperti itu, kemarahanku terhapus?! Kau tahu, aku sangat ingin menamparmu, Kurosaki."
Ichigo terbelalak. Sial! Lagi-lagi dia mengundang kemarahan gadis itu. Kenapa dia tidak bisa mengendalikan dirinya?! Ichigo tercenung, ia tertunduk memperhatikan bandul malaikat yang kini sudah terpasang sempurna di leher Rukia.
"Tidak apa-apa. Kalau kau mau, kau bisa menamparku," bahu Ichigo merosot. Suaranya terdengar lesu.
Bibir Ichigo yang tebal terkatup rapat. Memberengut seperti anak cengeng yang dimarahi ibunya karena bersikap nakal. Ichigo menoyorongkan pipi pada Rukia dengan sedikit membungkuk agar gadis itu tak kesulitan saat menamparnya.
Dan melihat itu, malah membuat Rukia mengganti marahnya dengan seringai kecil.
Dia butuh waktu lama untuk memperhatikan betapa tampannya pria yang melamarnya ini. Perasaannya melambung, ia akan bersikap sombong pada semua wanita di dunia. Membuat para wanita iri hanya dengan menerima lengan Ichigo untuk ia gandeng di setiap perjalanan.
Dia dokter muda. Mapan. Pintar. Dari keluarga yang baik. Apa pantas—tidak—Rukia tidak ingin memikirkan kekurangannya di saat ada pria sempurna yang mau memeluknya dan mengharapkan cinta darinya. Dan dengan dikeliling mawar-mawar, dia—akan memulai hidupnya yang baru bersama Kurosaki Ichigo.
Rukia berjinjit, seraya merangkul bahu Ichigo.
Lantas—cup! Bukan sekedar kecupan ringan seperti yang Ichigo lakukan, Rukia mendaratkan ciuman lembutnya pada bibir Ichigo yang hampir terbuka karena kaget.
Ichigo membuka mata lalu menarik pinggang Rukia lebih rapat ke sisinya. Laki-laki itu tidak ingin penjelasan apapun, ia akan menanyakan alasan 'mengganti tamparan dengan ciuman ini' nanti saja setelah mereka puas berciuman.
Sekarang, jarak antara Ichigo dan Rukia sudah benar-benar terhapus.
Hilang tersapu angin di sore itu.
Sementara kalung berbandul malaikat itu harus menerima hukumannya—berada di antara Ichigo dan Rukia, menyaksikan ciuman kiamat mereka yang belum kunjung usai.
.
.
Selesai.
.
.
Finally, I finish this fanfiction! Terima kasih untuk dukungan IchiRuki Fans selama ini! Saya tidak menyangka IchiRuki punya fans yang banyak.
Awalnya saya sangat ingin IchiRuki di cerita ini berakhir sedih, tapi yeah mungkin lain kali deh. Karena jujur saja, chemistry IchiRuki itu cocok sekali untuk genre angst. Kontras ya, padahal mereka itu karakter komedi-roman. Anyway, part ini banyak kata 'maaf' ya? Eheh. Tentang kelanjutan hidup tokoh yang lain, maaf, saya tidak bisa meneruskan untuk mereka. Biar saja ini berakhir sampai di ciuman kiamat IchiRuki tadi :D
Mungkin saya tidak bisa membalas apapun dari dukungan teman-teman. Bahkan, untuk membalas review. Maaf :( You all, make me comfortable here. Meskipun saya di sini cuma author baru yang pemalas. Hehe.
Untuk yang menambahkan fanfiksi buruk ini di list favorit dan follow, saya ucapkan terima kasih!
