Entweihen Crothen's Basilisk
=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=
Mirror Knights
Story © Necro Antharez / Nekuro Yamikawa
Vocaloid © YAMAHA, Crypton Future Media & joined companies
UTAUloid © Vocaloid fan-made over there
Ragnarok Online Universe © GRAVITY / Lee Myung Jin
Genre : Fantasy / (Undetermined yet)
Rate : T
.
.
.
=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=
Hatsune Miku melenguh pelan. Bertumpu pada salah satu siku di atas bangku, sepasang mata emerald yang dipicingkan berputar ke sudut dan terhenti pada sosok bersurai biru yang menjadi teman duduknya. Dilihat dari sisi manapun, semua orang pasti mengira dia hanya bocah laki-laki biasa. Rambut sewarna langit cerah menaungi pucuk kepala disisir rapi. Gakuran dan… apapun yang dia kenakan sekarang ini tak kan jauh beda dengan semua remaja putra di sekelilingnya.
Tapi siapa sangka, jika seseorang yang sekarang memiliki nama Shion Kaito itu sebenarnya adalah…
'Thanatos, huh?' manik biru yang diam-diam dia amati berkedip satu kali. Lelaki itu tampak mencermati lautan kanji di hadapannya hingga tenggelam entah kemana.
Miku yakin itu, sebab dia sesekali menyentuh dagu atau juga mengernyit sambil membolak-balik halaman sebuah buku.
Mirror Knights.
"Keberadaan kami adalah untuk memenuhi tugas sebagai pelindung para pemilik Mirror Key."
Secuil penjelasan tersebut pasti lebih dari cukup untuk membuat seorang anak kecil yang polos terkesima. Sejenak melayangkan mereka dalam gemerlap dunia imajinasi yang masih belum terpercik beragam masalah semisal rumus trigonometri dan logaritma, lalu melebarkan kedua mata di wajah bulatnya yang menggemaskan.
Tapi kalimat tersebut tidaklah berpengaruh demikian pada dia, gadis remaja enam belas tahun yang merasa setiap jeda antar detik di kelasnya mampu membuat organ bernama otak merasa gerah, khususnya saat sensei muda berkaca mata sedang mengajar matematika saat ini.
"…"
Pemuda itu memberi satu lirikan balasan. Ia acuhkan untuk sementara buku tentang salah satu materi pelajaran yang barusan dia baca, sebelum meluruskan punggung dan memutar lehernya empat puluh lima derajat berlawanan arah jarum jam. "Apa ada yang anda inginkan, Hatsune san?"
Gadis itu mengerjap kaget. Memperbaiki penampilan tipikal 'pelajar malas yang biasa dijadikan referensi dalam beragam cerita humor anak sekolah jaman sekarang' seraya berdehem kecil. "Uhm… eh, tidak ada." Tatapannya beralih sejenak ke luar jendela.
=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=
:-x-0-x-:
"Berhenti memanggilku dengan sebutan ojou sama!" sepasang kuncir berayun mengikuti sentakan yang diberikan saat gadis itu berbalik dan membentak sang ksatria berbalut zirah. Thanatos tak memberi respon selain menambat kedua kaki selaras langkah Miku yang terhenti. Di mata gadis itu, dia hampir selalu tampak irit untuk mengakomodasi otot-otot wajahnya. Terlalu kalem hingga Miku berpikir dia semacam bongkahan es hidup berwajah manusia.
Untuk sekian detik, antara satu sama lain hanya berdiri berhadapan tanpa bertukar kata. Beberapa murid yang melintas di lorong sesekali mencuri pandang dan tidak sedikit juga memulai kegiatan saling berbisik,
"Ada apa dengan Hatsune san? Mengapa dia berbicara sendirian?"
Kurang lebih itulah garis besar kalimat yang berhasil mencari jalannya untuk mengirim pesan pada orang yang bersangkutan. Daun telinga Miku berkedut pelan. Iris hijau aqua yang tadi bersembunyi saat ia meluapkan rasa kesal kini kembali terbuka lebar dan secara otomatis menjalajahi setiap sudut. Apakah itu artinya hanya dia yang bisa melihat wujud lelaki ini? tidakkah itu menyeramkan?!
Semua siswa sih tak terlalu peduli, penyakit ego ─atau mungkin sok keren sudah lama menjangkiti mereka. Namun para siswi, semua kalimat di atas terpantul jelas pada ekspresi wajah mereka. 'Bagus sekali Miku, halaman depan majalah mingguan sekolah pasti akan dihiasi sosok manismu dengan tulisan ['Denpa onna' voca gakuen]'. Setelah sebersit pikiran tersebut mendobrak simulasi masa depannya di kemudian hari, Miku tak bisa mempertahankan ekspresi sebalnya lebih lama lagi. Gadis itu terpekur lesu lalu kembali memutar tumit dan melangkah menuju ruang kelasnya.
"Jadi, anda lebih suka dipanggil dengan sebutan Hatsune san?"
Satu lenguhan, "Bisakah kau menjauh dariku hanya untuk satu hari?"
"Hamb-" Miku segera menyumpal mulut lelaki itu dengan pelototan mata berapi-api ─atau kurang lebih begitu yang dia kira. Padahal, bukanlah hal demikian atau sejenisnya yang terpantul di permukaan bening bulatan azure wizard knight tersebut. Malahan sebaliknya, 'wajah seram di mana bayangan gelap jatuh menaungi mata sehingga menyebabkan efek dua buah bulatan merah menyala' di benak Miku tergantikan oleh sosok gadis manis bermuka sembab tengah menggembungkan pipi dengan lucu. Senyum tipis pun kembali terpuas di bibir Thanatos yang tak terlalu merah jambu.
"Jika memang itu yang anda inginkan." Ucap lelaki itu singkat. Mengangguk pelan. Tak lama berselang, tulisan-tulisan aneh bersusun melingkar mulai bermunculan di bawah pijakan kaki sang ksatria. Tuan putri memang masih belum terbiasa dengan fenomena ganjil yang mulai bermunculan dalam kehidupannya. Ekspresi ikan gembung di wajah manis tersebut mengempis secara instan.
"Ojou sama," Thanatos menunduk hormat, meraih tangan kanan Miku yang sekarang sejajar dengan matanya. Sontak saja, gadis itu terperanjat. Adegan klise dalam kisah dongeng antara ksatria dan tuan putri berputar di benaknya dalam kecepatan tinggi, selaras gerakan bibir mungil yang berkomat kamit sebelum mengeluarkan pekikan kecil akibat sikap lelaki itu yang tiba-tiba.
Ia hendak menarik kembali tangan tersebut seraya berkata, "A-apa yang ingin kamu laku-?!" namun hanya mendapati lelaki itu terlebih dahulu memproyeksikan bayangan yang tersimpan di balik sorot mata Miku menjadi nyata. Bibir itu mengecup jemarinya lembut. Membuat kedua iris emerald si gadis berkuncir dua terekspos jelas.
Jika mencoba untuk berpikir logis, apakah seorang remaja putri akan diam saja jika orang asing yang baru dikenalnya memperlakukan dia demikian? 'Miku memang berpikir seperti itu' ─dalam tanda petik.
Dia memang ingin berontak, bahkan sejak awal saat di mana lelaki asing yang mengaku bernama Thanatos ini mengantarnya hingga tujuan setelah insiden pagi hari dalam perjalanan menuju ke sekolah, terlebih lagi dengan cara tidak biasa. Tapi mengapa ia tidak berperilaku demikian? bahkan membiarkan dia bertindak semaunya.
Apa karena dia tampan dan gagah selayaknya seorang ksatria? ─wizard knight, apa yang lelaki itu klaim pada dirinya sendiri.
Miku adalah gadis normal dan tentu memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Daya pikat dari Wajah rupawan dan fisik atletis seorang anak laki-laki memberikan efek baginya adalah hal yang wajar. Tetapi hingga bisa meredam segala bentuk reaksi penolakan dalam dirinya di saat yang dia inginkan, apakah hal itu mungkin? Miku dengan tegas menyangkal. Hal itu tak terlalu memberi pengaruh kuat baginya. Ia mengakui beberapa fisik anak-anak lelaki di kelasnya memang cukup menggiurkan bagi teman sesamanya.
Sebut saja Len Kagamine, saudara kembar Rin Kagamine, serta Piko utatane. Mereka mungkin terlihat kecil dan lebih pendek darinya, berwajah bersih dan manis hingga siswi-siswi lain menyebut mereka shota. Tapi di balik gakuran dan kerutinan mereka menggunakan produk kosmetik khusus laki-laki tersebut, tersimpan rangkaian otot yang bisa membuatmu memalingkan muka karena memungkiri hal yang terlintas dalam kepalamu saat mendapat kesempatan untuk memperhatikannya. Tantangan mental, apakah ada seorang gadis di kelasnya cukup bernyali untuk mengatakan 'seksi' secara terang-terangan saat itu juga? Miku adalah orang yang akan pertama kali mengacungkan telapaknya sebagai ganti kalimat 'aku tak sanggup.'.
Kalau fisik bukan penyebab utama, lalu apa? Apa karena sikap sok ksatria? Tidak, itu juga bukan alasannya. Dia mengingat si otaku pengidap chuunibyou stadium akhir dari klub kendo yang tingkahnya bisa disetarakan dengan lelaki ini. Anak lelaki berbadan tinggi, berambut jingga berkuncir kuda, yang menganggap dirinya samurai dari masa depan.
Jika bukan karena kepribadiannya yang demikian, Miku berani bertaruh dia akan masuk daftar peringkat 10 besar dalam segmen absurd di media cetak sekolah, 'anak lelaki yang paling ingin kau jadikan pacar tahun 20XX-20XX'. Lebih parahnya lagi, dia juga seorang maniak dan tentunya mata keranjang. Gadis berambut hijau aqua ini pun tak habis pikir, bagaimana bisa dia mengombinasikan empat hal ─wajah tampan, fisik menarik, chuunibyou akut dan suka merayu perempuan─ dalam dirinya sehingga dia menjadi satu-satunya lelaki paling eksotis dalam sejarah masa SMA-nya?
Percaya atau tidak, bocah lelaki tersebut pun bisa menjadi vampir jika dia mau ─dalam arti kiasan tentunya. Miku adalah salah satu di antara sekian anak perempuan yang cukup sial untuk menjadi incaran 'makhluk malam legendaris' itu. Dia sangat agresif di balik kesan 'the cool and calm swordmaster'. Jika bukan karena tertolong oleh Megurine Luka dalam sebuah kejadian yang tak terduga, mungkin bibirnya yang ranum sudah 'dipetik' setelah semua perlawanan yang dia tunjukkan untuk mempertahankannya, diruntuhkan oleh sugesti berbisa dan tatapan bola mata keunguan yang penuh intimidasi. Satu-satunya bentuk keberadaan yang cukup mempesona namun berbahaya untuk didekati.
Baiklah, dua hal selain kepribadian yang membuat anak laki-laki berpotensi untuk melumpuhkan kinerja tubuhnya sudah terbantahkan. Jadi, apakah dia telah menunjukkan tanda-tanda jatuh…
TIDAK!
Gadis berkuncir dua ini menampar kesadarannya keras-keras. Miku tak percaya akan namanya cinta dalam pandangan pertama. Itu hanyalah mitos bagi sebagian para pemimpi.
"Apapun yang terjadi, jangan tanggalkan liontin yang anda kenakan." Tubuh kecil Miku berjengit. Entah berapa lama dia mencoba untuk mengobservasi tingkahnya yang tidak biasa seperti ini. Meski pandangan mata seolah terfokus pada siluet Thanatos di depannya, tapi reaksinya barusan jelas-jelas menunjukkan bahwa kesadaran gadis itu sempat terlepas dari badan.
"Hamba akan selalu ada saat anda membutuhkan." Dan sama halnya seperti ketika dia menampakkan diri, tubuh laki-laki itu akhirnya perlahan lenyap tenggelam dalam hisapan lubang hitam yang terbentuk di tempatnya berada. Miku terpaku untuk sejenak, mengamati serumpun jemari yang sebelumnya berseinggungan dengan dinginnya sarung tangan besi, serta kecupan lelaki itu sebelum pergi.
x-0-x
Here, Mirror had it own reality
x-0-x
Hatsune Miku, gadis enerjik yang selalu ceria dan mudah bergaul. Jika kau adalah salah seorang murid di sekolah yang sama dengannya, setidaknya kau sudah tidak asing dengan siluet turquoise yang hampir tak pernah tampak berjalan seorang diri. Ekskul musik dan seni adalah hal yang dia gemari, tetapi hanya dalam bidang olah vocal, piano dan drama.
Sebutlah dia ichiban o hime sama, sebab terkadang sikap childish dan manjanya bisa membuat hampir setiap anak laki-laki tak mampu menolak apa yang dia minta. Yah, begitulah kurang lebih gambaran umum setiap isi kepala beberapa mata yang diam-diam menaruh minat padanya, hanya sebuah konklusi dari delusi mereka saja setiap kali memperhatikan betapa ekspresif gadis berkuncir kembar tersebut.
"Hai Miku," satu senyuman dari gadis berpita unik mencoba memperbaiki harinya yang terusik. Ia beranjak jauh dari bangku duduknya untuk sekedar ingin berbincang dengan salah satu artis sekolah sekaligus kawan dekat sejak semasa SD tingkat lima.
"Ya…" Namun, tak memperoleh respon mengenakkan selain mendapat gumaman 'Ya…' seperti lenguhan panjang? Mata mendelik sudah pasti begitulah reaksinya kemudian.
Tak usah berbasa-basi lebih jauh untuk sekarang ini. Sekilas pandang sudah cukup bagi gadis itu, Rin Kagamine, memberikan anggapan konkrit bahwa 'Kedua lubang telinga gadis di hadapannya ini sedang terhubung antara kiri dan kanan. Sehingga segala bentuk pemasukan akan berbanding sangat sedikit dengan pengeluaran akibat kebocoran di tengah jalan.'. Sungguh, sebenarnya dia mengganggap Miku itu apa saat ini? Objek bedah lab? Indeks produksi? Atau kendaraan penyebab kemacetan?
Sedikit sebal dan terheran, ia amati tingkah ganjil si hijau aqua lebih teliti dari seharusnya. Mulai dari gestur malas-malasan, pakaian yang sedikit kacau dan… hei… bercak itu?! Rasanya ingin sekali Rin mengucek matanya saat itu juga ─dengan sabun cucian dan pelembut serta pengharum aneka merek kalau sekiranya diperlukan.
Sebab, tepat di area tulang pipi sang ichiban o hime sama, sebuah warna sedang mendominasi, mengambil alih kuasa pigmen putih di balik kulit. Satu warna yang memang terkenal mengundang kontroversi dan beragam artian emosi.
"Miku…" menjaga rasa gemelitik yang mulai meletup-letup, serta memastikan bibirnya takkan menghianati rencana kecilnya, Kagamine Rin memangkas jarak antara wajah mereka berdua. Mensejajarkan arah pandang meski sorot mata mereka jelas berbeda objek.
Miku terpaku pada kaca jendela, sementara Rin bersiap menjajal beberapa argumen pada lubang telinga yang entah siap atau tidak untuk merekam semuanya.
.
.
.
X-X-X
hints : Bagian awal adalah kejadian yang "sekarang", sedangkan setelah tanda [ :-x-0-x-: ] adalah kejadian yang berlalu sebelumnya.
A/N : Maaf jika cerita ini begitu lambat dalam update dan isinya kurang memuaskan. Author adalah orang yang moody dan mood itu mempengaruhi segenap kreasinya.
sekali lagi terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca. n_na.
