=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=
Entweihen Crothen's Basilisk
=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=
Mirror Knights
Story © Necro Antharez / Nekuro Yamikawa
Vocaloid © YAMAHA, Crypton Future Media & another joined companies
Ragnarok Online Universe © GRAVITY / Lee Myung Jin
Genre : Fantasy / (Undetermined yet)
Rate : T
.
.
.
=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=
"Rin?" saudara kembar si gadis pirang menelengkan kepala keheranan. Salah satu alisnya naik berkedut-kedut, begitu juga dengan ujung bibirnya ─melengkung tak simetri.
Alasan? Cukup sederhana.
Itu karena Rin Kagamine terkikik berulang kali. Lebih tepatnya untuk setiap jeda tiga sampai lima menit sekali. Bocah itu paham bahwa tugas dari sekolah mereka bisa dikatakan terlalu membebani. Tapi hingga bisa membuat saudarinya seperti ini, proses pencucian otak macam apa yang tersembunyi di balik setiap pelajaran materi?
"Rin? Kamu tidak apa-apa, kan?" Len Kagamine mencoba membetulkan proses kinerja transaksi elektris saraf yang kacau balau di kepala Rin lewat kata-kata. Usaha itu memang membuahkan hasil untuk sementara. Tawa gadis cantik berpita unik itu mereda. Sekilas, dia melirik saudara lelakinya, menggeleng pelan seraya mengibaskan tangan. Namun,
"Hmft… Hmft… Hmft… Hi Hi Hi!" setelah tubuhnya mengalami vibrasi tak terkendali, tawa memprihatinkan itu melengking kembali. Lama kelamaan Len pun mulai merinding ngeri. Imajinasi liarnya tak ayal melayang ke sana kemari. Rin, apa yang terjadi dengannya? Apa para guru melakukan eksperimen padanya? Atau dia kerasukan salah satu makhlus halus penghuni tujuh keanehan di sekolah, yang konon di antaranya berada di toilet perempuan?
"Len~? Hi… hi… hi hi hi…" tiba-tiba gadis itu telah menoleh pada bocah berambut sewarna madu tersebut, dan entah itu sebuah fatamorgana atau bukan, bayangan seorang wanita dengan poni menggantung menutupi wajah seolah menggantikan paras manis Rin di matanya.
"Hwaaa!" demi kami sama, dia berani bertaruh hampir mencapai nirwana. Beberapa detik barusan dia bahkan bisa melihat para bidadari dalam balutan pakaian putih memberikan senyum menggoda padanya. Sebelum pantat yang mencium mesra batako jalanan membuatnya sadar bahwa dia telah kembali turun ke dunia.
Kikikan Rin spontan berganti tawa membahana. "Bwa Ha Ha Ha!"
"Sungguh! Apa kau berniat membunuhku dengan kekehanmu?!" atau mungkin dia akan memutuskan untuk bunuh diri sekalian?
Coba bayangkan jika kau menghabiskan malam harimu nanti dengan suara tawa terkikik seorang perempuan yang sesekali terdengar bahkan hingga lewat tengah malam. Jika kau masih bisa tidur pulas, kau pasti seorang pemilik indera ke enam yang tak kan terkejut sekalipun jika sampai menemukan sebuah kepala berwajah tersenyum tanpa badan dengan darah masih berceceran bergelinding mengikutimu kemanapun kau pergi.
"Ah ha ha ha, maaf Len," anak perempuan itu membungkuk menjulurkan tangan. Len mendengus, tak menghiraukan niat baik tersebut dan lebih memilih bangkit dengan tenaganya sendiri. "jadi kau memang menganggapku tidak waras, ya?" sambung Rin kemudian. Dia paham, Len pasti berpikir demikian. Tapi mau bagaimana lagi? kejadian pagi tadi cukup lucu meski diulang berkali-kali.
"Setahuku, kau memang terlahir tidak waras." Sungut Len tak peduli. Gadis itu mendesah setelah suara tawanya kembali merendah. Bulatan azure jernih menyipit, menunjukkan bahwa pemiliknya merasa tak suka.
"Jika kau berkata begitu, berarti kau juga sama. Kita kan kembar identik." Rin Kagamine kembali melenggangkan kakinya secara acuh.
"Identik?" tubuh Len terasa kaku tanpa sebab mendengar kata tersebut keluar dari mulut kakaknya. Yang benar saja?
"Aku berbeda denganmu. Aku anak laki-laki, kau perempuan." Ayolah Len, selama enam belas tahun tumbuh bersama kau masih mempermasalahkan itu? gadis belahan diri bocah itu sedikit menolehkan kepala, garis tawa tersungging manis di bibirnya.
"Setidaknya kau memiliki wajah secantik aku. Berterima kasihlah." Suara sabetan pisau katana membelah korbannya dengan sadis menjadi dua terdengar entah darimana. Kesan dramatis adegan berdarah tersebut semakin kentara dengan langit sore yang membentangkan warna tembaga. Selanjutnya, yang tersisa dari Len hanyalah sosok tergolek di tanah. Lemah tak berdaya seolah kehidupan dicabut paksa dari raga.
Dan setelah beberapa detik berselimut keheningan yang absurd…
"Mengapa selalu aku yang teraniaya, oh, Kami sama!" Anak lelaki itu pun menjerit sembari menengadah ke langit. Kedua kakinya tertekuk ─bersimpuh di tanah, membuat sebuah pose yang mana lebih cocok untuk adegan di saat karakter protagonis dalam sebuah cerita laga mendapati orang terdekatnya meninggal di pangkuannya.
"Ayo Len, kita tak mau sampai di rumah larut malam, bukan?" tetapi bagi Rin, itu hanya sisi konyol Len yang selalu memanjakan mata.
=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=
:-x-0-x-:
"Miku…" gadis berambut sewarna madu ini berkata pelan, hati-hati dan menggoda. Baris giginya telah menampakkan diri, bersiap melepas tawa yang terkekang di baliknya. "Kamu sedang melamunin siapa, hayo?"
"H~ha-hah?!" seperti pencuri terpergok dalam menjalankan aksi, si hijau aqua secepat kilat memutar kepala. Bibir kecil bergerak terbuka dan terkatup berulang kali tanpa suara. Bola mata mengerjab-ngerjab mencari tempat sembunyi. Dan seperti sebuah lukisan wajah seorang wanita yang ditambahkan beberapa arsiran oleh sang seniman, perlahan-lahan warna merah muda menjalar di antara kedua seberang hidung mungilnya. Alhasil, wajah itu kini sungguh sangat unik, antik dan artistik bagi seorang Miku Hatsune. Para bocah di sekolah ini pasti akan mau membayar berapapun untuk selembar foto. Sayang sekali Rin tidak sedang membawa ponselnya sekarang ini.
"Kok kamu tiba-tiba ngomong begitu sih?" sepasang alis menjorok turun ketengah di wajah si gadis yang sudah terlanjur kecolongan tengah mengalami fase disorientasi dalam menilai sebuah relasi. Melamun, apa benar dia sedang melamun? Yang dia tahu hanya, hari ini lebih gila dari tiga ulangan harian mendadak yang pernah menjadi pengalaman paling memilukan bagi deretan nilai-nilai berwarna hijau ranum di buku raportnya.
"Tidak usah malu-malu, ojou sama." Rin Kagamine si gadis berpita mengedipkan sebelah mata, mendekatkan diri hingga Miku bisa mendengar dan merasakan hirupan napas Rin menggelitik daun telinga. "Siapa pun orang itu, aku tidak akan membocorkannya pada siapapun." lalu menarik diri dan terpejam, mengaitkan kesepuluh jemari satu sama lain serta melebarkan senyum seolah sinar surga menyapu setiap inci wajahnya.
Hanya untuk mendapati sebuah sampul binder diperbesar secara bertahap dalam gerak lambat ketika kembali membuka mata. Mulai dari satu hingga sepuluh kali lipat pembesaran, sebelum semua menjadi gelap gulita diikuti suara "Thud!" dan ledakan bima sakti yang bersemi menjadi jutaan bintang nan luar biasa indah.
x-0-x
Here, Mirror isn't about your own reflection
x-0-x
"nee…" gadis berpita putih yang membuatnya tampak seperti manusia kelinci imitasi tersebut melangkah satu jengkal di depan Miku. Memutar badan sehingga mereka saling berhadapan. Tawa usil di bibirnya masih belum hilang, dan hal itu membuat jemari dengan kuku bermanikur warna hijau aqua begitu gatal untuk…
"A-ampun." Mencubit pipi empuk teman dekatnya. Rin mengaduh kecil seketika, lalu memasang wajah anak anjing yang terlantar di tepi jalan raya begitu telunjuk dan jempol Miku meninggalkan bekas merah. Dia mengusap perlahan luka kecil itu, diikuti bibir yang manyun sejauh lima senti. Begitu juga dengan sang pelaku sendiri. Hanya saja, Miku melipat kedua tangan dan mempercepat laju kaki-kakinya menuju salah satu destinasi pasti bagi sebagian warga sekolah setelah bel istirahat berbunyi.
Perpustakaan.
Mengapa bukan kantin? Salahkan makhluk berkepala kuning yang menempel seperti ikan remora tetapi bermulut kakak tua. Tempat itu adalah lokasi paling ampuh untuk meredam celotehan Rin yang semakin mengusik batin dan mempertuli gendang telinga. Sebab di sana bersemayam salah satu sosok paling disegani dan bahkan mungkin dikeramatkan semenjak voca gakuen didirikan.
"Tapi, aku ingin tahu siapa dia." Rengek Rin kemudian.
"Sudah aku bilang, aku ga mikirin siapa-siapa!" Miku membantah sengit.
"Benarkah?"
"Benar, Rin."
"Benarkah?"
"Sungguh!"
"Benarkah? Benarkah? Benarkah?"
Apakah gadis bermarga Kagamine ini masih satu genus dengan makhluk kotak berstruktur tubuh dari gabus yang hidup di lautan dan selalu tayang di televisi setiap pagi hari? Si pemilik mahkota turquoise sempat berpikir demikian sepanjang lorong yang dilalui seraya mengurut kening. Ah, mungkin koleksi buku-buku dokumenter tentang flora dan fauna sekolah mereka bisa memberi jawaban dari salah satu tujuh misteri di dunia SMA Miku saat ini. Dan dia berharap akan menemukan cara lain yang lebih efektif untuk mengatasi gangguan makhluk tersebut setelah buku binder-nya gagal untuk memberikan hasil yang dia inginkan.
Untuk sekarang ini, cukup memasuki sarang pak Ueki. Selaku penjaga 'dunia buku' yang kegarangannya tersohor hingga ke telinga para bancho yang notabene hampir selalu raib dari absensi. Kakek itu mungkin berusia lebih dari setengah abad dan selalu tampak ramah tamah dengan mata sipit yang melengkung bahagia. Namun siapa sangka, jika penampilan seperti orang tua yang rabun dan lemah itu ternyata menyembunyikan kengerian dari seekor Cerberus bersenjata taring dan kuku api neraka.
Sekali kau mengikat "kontrak" dengan menuliskan namamu di daftar peminjam. Maka itu berarti kau telah menggadaikan jiwa dan ragamu padanya. Buku harus di jaga baik-baik karena mereka adalah jendela dunia, siapapun berani menodai idealis pak tua tersebut jangan harap bisa hidup dengan keadaan utuh. Setidaknya hal itu pernah dialami oleh Rin satu kali ketika dia lupa mengembalikan sebuah buku, senyum gadis itu sampai luntur hingga butuh waktu seminggu untuk bisa memoles yang baru.
=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=
:-x-0-x-:
"Entah aku harus tertawa atau kasihan padamu, Rin." Bocah berambut pirang itu mendesah lirih sementara saudarinya bercerita penuh tawa. Gadis itu menggerakkan kedua tangan serta memasang seratus satu ekspresi wajah sepanjang kisah yang menjadi alasan kenapa rasa menggelitik diperutnya tidak bisa hilang. Garis besarnya adalah, sepanjang hari ini dia mengekor pada Miku dan memaksanya menceritakan hal yang sama sekali tidak ingin dibicarakan oleh si gadis berkuncir dua. Meski sebagai konsekuensinya, dia harus merasakan beragam kekerasan fisik dan mental.
"Tapi semua itu setimpal, Len. Aku berani bertaruh kau takkan sanggup bertahan dan menjeritkan kata 'Kawaii!' di dalam hatimu seumpama aku menunjukkan betapa imut dan lucu sikapnya." Len tidak menghiraukan celotehan gadis itu lagi dan lebih fokus pada camilan yang dia pungut dari dapur, seraya membaca sebuah manga di ruang tamu kediaman mereka. Sungguh, sejak kapan gadis itu menjadi seorang Masochist?
Sesekali bocah berkuncir itu memutar malas bola matanya. Dari menit ke menit, Rin di sebelahnya terus berbicara tak mengenal lelah, koma ataupun jeda. Jika dia merekamnya menggunakan sebuah kamera dan memutarnya dalam kecepatan tinggi, dia pasti bisa membuat sebuah video berisi cicitan chipmunk berdurasi tiga menit.
"munyi-munyi-munyi... munyi-munyi... munyi-munyi-munyi-munyi-munyi... nya-nya-nya!"
Yah, kurang lebih begitulah isinya. Selebihnya bayangkan saja sendiri. Yang pasti, sekedar memikirkan hal tersebut cukup membuat lambung Len melilit menahan geli. Itu belum termasuk pose kilat yang berlangsung sepanjang video.
"Oh ya, Len. Kapan hari yang lalu aku mendapatkan cincin ini dari sebuah toko aksesori." secara tiba-tiba topik pembicaraan si gadis berganti, secara otomatis pula Len memalingkan wajah padanya. Kedua manik azure bocah itu lalu tertuju pada sepasang cincin di telapak Rin yang barusan dia ambil dari saku kanan celana. Satu di antara dua benda tersebut memiliki hiasan berbentuk bunga mawar merah, sedangkan yang lain tengkorak manusia. Untuk cincin bunga mawar, bocah itu bisa menebak kalau saudari kembarnya tertarik dengan benda tersebut. Namun untuk cincin tengkorak,
Seolah terdapat jembatan yang menghubungkan isi pikirannya, Rin menjawab, "Sebenarnya aku hanya ingin memiliki scarlet rose," Len mengangkat sebelah alis, lalu mengangguk pelan. Itu nama cincin yang sekarang tengah gadis itu sematkan di jari manis tangan kirinya dan sedang dia amati keindahan perhiasan sederhana tersebut setelah melingkar manis di sana. "Tetapi, cincin ini harus dibeli sepasang." kali ini Rin kembali berujar seraya menyodorkan cincin yang lain.
Gadis itu kemudian melipat tangan setelah bocah itu menerimanya. "Aneh juga ya. Bukankah cincin sepasang umumnya memiliki pola yang serupa satu sama lain, atau setidaknya berpola sama." Len mengernyit dan menggaruk dagu. Memang benar, sejauh yang dia ketahui, ucapan Rin sepenuhnya benar. Kedua cincin ini sama sekali tidak memiliki kemiripan. Jikalau bisa dikatakan mirip, mungkin dari betapa detail dan rapi teknik yang digunakan untuk membuat kedua hiasan cincin tersebut. Khususnya scarlet rose yang Rin kenakan saat ini. Sekilas pandang kau akan mengira jika bunga itu suatu saat akan layu, namun begitu kau perhatikan lebih teliti, kau akan sadar bahwa tidak akan ada sehelai pun kelopak dari mawar tersebut akan terpisah dari rumpun mahkotanya.
"Apakah ini artinya kau memberikan cincin ini padaku?" gadis itu mengangguk. Tertawa riang setelah Len bertanya demikian.
"Tentu saja, apa kau pikir gadis manis sepertiku pantas mengenakan aksesori menyeramkan. Bisa-bisa aku dikira anggota berandalan." Untuk bagian 'anggota berandalan', Len bisa memaklumi. Tetapi bagian 'Gadis manis'? Ayolah, bahkan aku sama sekali tidak mengakui kau pantas menyandang predikat tersebut, begitulah pikirnya.
Sejenak, bocah lelaki itu mengamati cincin yang berada di antara ujung jempol dan telunjuknya.
"Ayo pakai, hitung-hitung untuk mengurangi tingkat daya tarik penampilan shota-mu yang jauh diatas rata-rata." Bocah itu melotot menanggapi permintaan sekaligus sindiran dari saudara kembarnya. Sambil menggerutu, dia pun segera mengenakan cincin itu di jari yang sama.
"Nih! Kau puas sekarang, huh?!" bocah itu bersungut, menunjukkan kepalan tangan di mana cincin tersebut sekarang berada. Tetapi sejenak kemudian...
.
.
.
A/N : Sebenarnya chapter ini telah ditulis sejak lama. Namun keterbatasan ide membuat proses penulisannya menjadi terhambat. Bahkan sempat dibuat versi kedua. Hingga akhirnya Author memutuskan untuk menggabungkan kedua versi dan menambahkan beberapa paragraf untuk melengkapi fanfiksi ini.
Bagi siapapun yang telah membaca fic terlantar ini, Author sampaikan terima kasih.
m(_ _)m
