CHAPTER 2

Seperti kebanyakan ibu dan namja lain yang sedang mengandung Sungjae juga ingin perutnya dielus sayang oleh appa dari aegya di dalam perutnya, namun ia tak pernah punya keberanian untuk meminta Leo yang notabene dari aegyanya mengelus perutnya.

"Sungjae-ya!" sebuah teriakan membuyarkan lamunanku, sesaat kemudian seorang namja cantik berkulit tan menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Ia terlihat sangat bahagia. Ya, ia pasti sangat bahagia karena ia telah memiliki Leo sepenuhnya.

"Hakyeon hyung…" aku berusaha tersenyum dibalik kesedihanku.

Hakyeon hyung duduk di kursi yang berada di samping tempat tidurku. "Sungjae, aku membawakanmu susu dan jeruk. Oh ya, Jae, aku punya berita bagus," ucapnya dengan mata berbinar-binar.

Sungjae penasaran apa 'berita bagus' yang dibawa Hakyeon. "Apa berita bagusnya, hyung?"

Hakyeon tersenyum semakin lebar. "Aku hamil."

Sungjae sudah tidak bisa tersenyum lagi sebenarnya, tapi ia menarik paksa kedua sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah senyuman kaku. "Selamat, hyung…"

"Ne, gomawo, Jae, usia kandunganku saat ini delapan minggu atau dua bulan, usia kandunganmu delapan bulan, jadi jarak usia mereka hanya enam bulan."

Sungjae mengangguk. Ia tidak bisa ikut berbahagia bersama namja cantik di sampingnya, semakin mustahil baginya untuk bisa merebut hati Leo. Melepaskan Hakyeon menikah bersama Leo bukan berarti Sungjae melupakan Leo begitu saja, ia masih mencintai Leo dan berharap namja itu akan membalas cintanya.

.

.

.

~Sungjae pov~

Saat ini aku sedang berada di keluarga Jung, makan malam untuk merayakan kehamilan Hakyeon hyung.

"Mereka merayakannya? Bukankah aku juga sedang mengandung anak Leo, tapi kenapa yang dirayakan hanya kehamilan Hakyeon hyung? Lalu kenapa aku harus diundang?" aku merutuk dalam hati. Sungguh duduk disini bukanlah sesuatu yang kuinginkan, tapi aku tidak bisa menolaknya karena Ilhoon ahjumma datang ke rumah dan berbicara langsung pada Kwang appa dan Min eomma meminta kami untuk datang.

Hanya sekedar makan malam, jadi aku pikir tidak akan berlangsung lama, paling lama hanya satu jam, tapi ternyata satu jam disini begitu panjaaaaanggg….

Kuangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk memandangi perut buncitku, kulihat Ilhoon ahjumma sedang menyuapkan sepotong kue kepada menantunya. Sejak kapan Ilhoon ahjumma menyukai Hakyeon hyung sebagai menantunya? Sejak pernikahan itu? Tentu tidak, Ilhoon ahjumma membelikan mereka sebuah apartment karena tidak mau Hakyeon tinggal di rumahnya. Sejak kehamilannya? Mungkin saja…

Leo juga terlihat sangat bahagia, wajahnya yang biasanya sangat datar malam ini berubah seratus delapan puluh derajat, sedari tadi senyum bahagia menghiasi wajahnya, membuatnya terlihat semakin tampan. Ia tidak terlihat bahagia saat mengetahui kehamilanku, bahkan ia menolaknya….

"Sungjae! Itu sudah pasti, lihat saja status kalian, Hakyeon adalah istri sahnya, sedangkan aku saat itu hanya kekasih gelapnya," aku membentak diriku sendiri dalam hati.

Aku tak sanggup berada lebih lama disini, aku tak sanggup lebih lama melihat Leo mengelus perut Hakyeon yang masih rata dengan penuh kasih sayang. Aku iri pada Hakyeon hyung. Tidakkah Leo tau kalau aku juga menginginkannya?

"Eomma, bisakah kita segera pulang? Aku lelah, aku ingin beristirahat," bisikku pada Min eomma yang duduk si samping kananku. Aku ingin kami segera pulang, lagipula sebenarnya kami telah menyelesaikan makan malam kami, jadi tidak apa-apa kan kami pulang sekarang? Kan undangannya hanya untuk makan malam dalam rangka merayakan kehamilan Hakyeon, bukan untuk melihat kemesraan Le-Yeon couple.

"Pulanglah dahulu kalau Sungjae ingin beristirahat, kandungannya sudah semakin membesar, jadi ia pasti butuh banyak istirahat," ucap Ilhoon ahjumma yang ternyata mendengar aku berbisik pada Min eomma.

Setelah kami berpamitan pada Hyunsik ahjussi, Ilhoon ahjumma, Leo, dan Hakyeon kamipun pulang.

Saat berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Appa, eomma, aku baru ingat shampooku habis, bisa mampir ke supermarket sebentar?"

"Baiklah."

Kwang appa membelokkan mobil ke sebuah supermarket.

"Appa tunggu disini saja ya, eomma tertidur, kasihan kalau ditinggal sendirian."

Aku mengangguk. "Ne, appa, aku cuma beli shampoo aja terus kesini lagi kok, aku pasti langsung kembali kesini," ujarku sambil membuka pintu mobil dan segera melangkah masuk ke dalam supermarket.

Aku meraih sebuah keranjang belanja dan berjalan menuju ke lorong rak khusus shampoo.

Kurasakan seseorang menepuk pelan bahuku saat aku sedang sibuk mencari shampoo yang akan kubeli di rak.

Aku membalikkan tubuhku.

DEG!

Jantungku berhenti berdetak sesaat ketika melihat namja di belakangku. Namja yang saat itu bertemu denganku di rumah sakit.

"Kita bertemu lagi." Ia tersenyum padaku.

"Sangat tampan," batinku.

"Ne, ada apa kau disini?" tanyaku gugup.

"Aku? Tentu saja berbelanja," jawabnya sambil mengangkat sebuah keranjang yang telah terisi penuh di tangannya. "Kau sendiri?"

"Aku hanya mau membeli shampoo," jawabku sambil meraih sebotol shampoo yang sudah kutemukan tadi tapi belum sempat kuambil.

"Hanya itu?"

Aku mengangguk.

"Aku juga sudah selesai berbelanja, kalau begitu kita ke kasir bersama?"

Aku mengangguk lagi. Kami berjalan bersama menuju ke kasir.

"Kau sendirian?" tanya namja itu setelah selesai membayar dan berjalan keluar.

"Ani, aku bersama appa dan eomma, mereka menunggu di mobil."

"Owh… O ya, siapa namamu?"

"Oh ya, namaku Yook Sungjae, namamu?"

"Shin DongGeun."

Kami sudah berada di lapangan parkir, di belakang mobilku tepatnya. "Ini mobilku, aku duluan ya, annyeong." Aku melambaikan tanganku pada DongGeun yang juga melambaikan tangan padaku dan berjalan menjauh.

.

.

.

"Jadi, nama namja tampan itu adalah Shin DongGeun,"gumamku sambil memandangi langit-langit kamar. "Ah, Sungjae, kenapa kau melupakan kehamilanmu, kau sedang mengandung dan kau tidak bisa jatuh cinta pada namja itu."

Aku mematikan lampu kamar dan membaringkan tubuhku di ranjang, aku harus segera tidur agar tak terus-terusan memikirkannya. Aku tidak boleh memikirkannya kalau aku tidak mau sakit hati. Ia tidak mungkin menyukaiku, kami hanya kebetulan saja bertemu dua kali.

TBC