CHAPTER 4
Sampai hari keempat setelah Sungjae melahirkan, bahkan hingga Sungjae sudah hampir pulang dari rumah sakit Leo maupun kedua orang tuanya belum juga datang untuk sekedar menengok bayinya dan memberi selamat pada Sungjae.
Sementara Kwang appa sedang mengurus administrasi rumah sakit dan Min eomma menunggui cucunya yang sedang dimandikan untuk segera dibawa pualng, Sungjae duduk diatas tempat tidur dengan sebuah tas disampingnya, namja bertubuh jangkuk tersebut mengeluarkan smartphonenya dan menekan-nekan layar beberapa kali, mencoba menelpon seseorang.
"Yeoboseyo…," sapa orang diseberang.
Sungjae membulatkan matanya, tidak menyangka kalau teleponnya kali ini akan dijawab.
"Oh, hyung, maaf mengganggu, aku hanya mau memberitahu kalau…."
"Aku sudah tau, eommamu sudah menelpon eommaku dan aku sudah diberitahu," potong orang diseberang.
Sungjae terdiam, menggigit bibir bawahnya, menahan air matanya yang akan segera menetes.
"Aku sedang sibuk sekarang, aku akan menjenguk kalian nanti," ujar orang diseberang yang yang kemudian memutuskan hubungan telepon mereka secara sepihak.
Sungjae kembali memasukkan smartphonenya ke dalam saku.
.
.
.
"Leo… Aku ingin…, ah ani, naega aniya, uri aegya ingin makan pisang," rengkek Hakyeon sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
Leo memandang wajah istrinya dengan malas kemudian memutar kedua bola matanya bosan.
"Leo… Ayolah, uri aegya yang memintanya."
Akhirnya Leo yang memang tidak bisa menolak keinginan istrinya – yang sedang mengandung – akhir-akhir ini menuruti permintaan sang istri tercinta. "Tunggu." Ia bangkit kemudian meraih jaketnya dan bersiap untuk pergi.
"Hati-hati dijalan, segera kembali, dan jangan lupa pilihkan pisang yang paling manis," pesan Hakyeon sambil melambaikan tangan pada suaminya yang kini sudah menghilang di balik pintu.
Leo mengendarai mobilnya menuju ke toko buah yang diketahuinya menjual berbagai macam buah dengan kualitas terbaik. Ia ingin semua yang diberikannya pada Hakyeon dan aegyanya adalah yang terbaik.
Setelah keluar dari toko buah tersebut dengan membawa sebuah plastik berukuran sedang yang berisi satu lirang pisang yang terbaik Leo menoleh ke kanan, pandangannya tertuju pada sebuah rumah yang berada beberapa puluh meter tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Rumah Sungjae.
Awalnya sedikit ragu, tapi akhirnya Leo bisa memantapkan langkahnya untuk berjalan mendekati rumah itu, langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna coklat tua. Ia menggerakan tangannya menekan bel rumah tersebut.
Berselang beberapa detik kemudian pintu terbuka, menampilkan sosok seorang namja bertubuh pendek dengan sebuah topi hitam diatas kepalanya. "Oh, Leo, kau mau bertemu Sungjae dan anak kalian? Ayo masuk…"
Sungjae menuruti perintah namja yang ia ketahui sebagai appa Sungjae tersebut, mengikutinya masuk ke kamar Sungjae.
"Leo hyung," sapa Sungjae dengan senyuman indah terkembang di bibir sexy-nya.
Leo hanya terdiam, tidak membalas sapaan maupun senyuman namja yang telah melahirkan seorang anak baginya itu.
"Leo hyung, uri aegya sangat mirip denganmu, ia sangat tampan, lihatlah," ucap Sungjae bersemangat sambil memperhatikan aegyanya yang sedang tertidur di dalam sebuah box bayi berwarna putih dengan hiasan beberapa boneka berwarna-warni.
Leo melangkahkan kakinya mendekati anaknya yang baru berusia empat hari tersebut, perlahan tangannya terulur mengusap pipi chubby aegyanya dengan lembut. Perlahan sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman indah yang jarang sekali ia perlihatkan.
"Kapan kau akan mengantarkannya?" tanya Leo tanpa mengalihkan padangannya dari wajah aegyanya yang masih tertidur pulas.
"Mengantarkannya?"
"Ne, mengantarkannya ke apartmentku dan Hakyeon, sesuai perjanjian kita sebelumnya, aku dan Hakyeon yang akan merawatnya kan?"
Sungjae menunduk, saat ini hatinya tidak rela memberikan aegya yang telah berada di dalam perutnya selama sembilan bulan itu kepada Leo dan Hakyeon. "Tapi Hakyeon hyung juga sedang mengandung kan sekarang, dan kalian akan memiliki anak dalam waktu dekat, jadi biarkan dia bersamaku, aku yang akan merawatnya."
Leo menatap tajam ke arah Sungjae yang masih saja menunduk sambil meremas-remas selimut yang menutupi kaki jenjangnya.
"Kau bisa memiliki banyak anak lagi dari Hakyeon hyung, tapi aku setelah ini tidak bisa memiliki anak lagi, dia anakku satu-satunya," ucap Sungjae lirih, air matanya perlahan menetes membasahi punggung tangannya.
"Kau juga…"
"Aku tidak bisa! Kau memiliki seorang istri, tapi aku tidak. Tidak akan ada yeoja maupun namja yang mau menikah dengan seorang namja yang bisa bahkan pernah mengandung dan melahirkan, apalagi tanpa seorang suami. Jadi biarkan dia bersamaku, dia anakku satu-satunya, aku tidak bisa memiliki anak lagi setelah ini," sela Sungjae.
"Tapi kau tidak bisa membesarkannya seorang diri, kau harus memikirkannya juga. Apakah dia akan bahagia tumbuh besar tanpa kasih sayang dari seorang appa, hanya memiliki seorang eomma yang juga berjenis kelamin laki-laki, tidakkan dia akan malu?"
Ucapan Leo kali ini benar-benar membuat pertahanan Sungjae runtuh, ia menyembunyikan tubuhnya di balik selimut dan menangis sejadi-jadinya. "Hyung… Ba… bawalah dia… besarkan dia bersama Hakyeon hyung," ucap Sungjae di sela-sela tangisnya.
Entah apa yang ada di pikiran Leo saat ini, ia mengangkat aegyanya yang telah tertidur dan membawa bayi mungil tersebut dalam gendongannya sambil terus menenteng sebuah tas plastik berisi pisang yang diminta Hakyeon dan pergi begitu saja meninggalkan kamar kemudian rumah Sungjae.
.
.
.
Mendengar suara pintu terbuka Hakyeon yang sedang asyik nonton MV Ghost of the wind lewat laptopnya segera berlari kecil keluar kamar hendak menyambut suaminya yang baru saja pulang, namun langkahnya terhenti ketika melihat suami tercintanya tengah menggendong seorang aegya.
"Ini pisangmu," ucap Leo sambil meletakkan sebuah plastik berisi pisang di meja ruang tengah.
"Itu siapa?" tanya Hakyeon sambil berjinjit mengintip wajah aegya yang berada di dalam gendongan suaminya.
"Tentu saja anak kita," jawab Leo singkat kemudian berjalan melewati Hakyeon menuju ke kamarnya, meletakkan bayi itu di atas ranjangnya dan Hakyeon.
Sambil memakan pisang yang dimintanya Hakyeon berjalan mendekati Leo dan aegyanya, duduk di samping Leo yang masih tersenyum memandangi anak pertamanya itu.
"Siapa namanya?" tanya Hakyeon sambil membuang kulit pisang di tangannya kedalam tempat sampah berbentuk spongebob yang terletak di samping meja nakas.
Leo terlihat berpikir, kemudian ia menggeleng sebagai tanda tak tau.
"Bagaimana kalau kita memberinya nama…"
"Namanya Jung Hongbin," putus Leo yang masih memandangi aegyanya sambil tersenyum bahagia.
"Hongbin, bagus juga, Binnie…" Hakyeon terlihat setuju dengan nama yang diberikan Leo pada anak pertama mereka.
.
.
.
Sementara itu Sungjae di dalam kamarnya masih saja menyembunyikan diri di balik selimut dan menangis. Min eomma dan Kwang appa hanya bisa mengintip dari balik pintu kamar anak mereka yang kini sudah tumbuh dewasa tersebut.
TBC
Gomawo yang kemarin-kemarin sudah review, yang belum saya tunggu reviewnya….
yongchan = iya…
gothiclolita89 = saya juga kasian tapi mau gimana lagi T.T, Leo tetep sayang kok sama bayinya walaupun 'beda'WW
Guest = ya…
WhiteXX = Ne, gomawo… Semoga, saya juga berharapnya gitu…
PandaMYP = kamsahamnida….
