CHAPTER 5

"Leo! Leo! Cepat! Binnie menangis terus," teriak Hakyeon sambil menutup kedua telinganya mendengar Hongbin terus menangis sedari tadi.

Beberapa saat kemudian Leo datang dengan membawa sebuah botol susu bayi ditangannya, ia memberikannya pada Hongbin, namun aegyanya itu terus menangis dan sama sekali tidak mau meminum susu yang telah dibuatnya.

"Minumlah, chagi, kau lapar kan? Minumlah supaya kau cepat besar," bujuk Leo pada Hongbin yang masih terus menangis dan menolak susu formula itu.

"Sudahlah, Leo, kembalikan saja Hongbin pada eommanya, mungkin ia mau minum air susu eommanya," usul Hakyeon sambil menatap Hongbin dengan wajah tak bersahabat.

Tanpa menjawab Hakyeon Leo segera menggendong aegyanya yang masih saja menangis dan membawanya pergi, ke rumah Sungjae tentunya.

.

.

.

Sungjae sedang duduk diatas ranjangnya sambil menatap keluar jendela saat seseorang masuk begitu saja ke dalam kamarnya tanpa permisi.

"Leo hyung…" Sungjae tampak kaget melihat siapa orang yang datang.

"Hongbin terus menangis dan menolak susu formula yang kubuatkan, mungkin ia hanya mau minum ASI," ucap Leo sambil memberikan bayi mungil itu kepada eommanya.

Sungjae sudah hendak menyusui aegyanya ketika ia teringat akan sesuatu. "Leo, aku ini namja, aku tidak mempunyai ASI, dan aku tidak bisa menyusuinya."

Leo memandang Sungjae dengan wajah O_O

"Tunggu sebentar, eomma akan buatkan susu," ucap Min eomma yang kebetulan lewat dan mendengarnya.

Sungjae dan Leo mengangguk bersamaan. Kini Hongbin sudah tidak lagi menangis, tapi ia terlihat menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah karena lapar – mungkin.

"Leo hyung, tadi kau menyebutnya siapa?" tanya Sungjae yang teringat akan sebuah nama yang tadi sempat disebut oleh Leo.

"Hongbin. Namanya Jung Hongbin," jawab Leo sambil membelai rambut aegyanya yang menurutnya (dan menurut author juga) sangat tampan.

"Nama yang bagus."

"Ini susunya," ucap Min eomma yang datang dengan membawa sebuah botol susu di tangannya.

"Kamsahamnida, eomma." Sungjae menerima dan menyusukannya pada Hongbin. Berbeda dengan saat Leo yang memberikannya tadi, Hongbin meminumnya dengan semangat, membuat appa dan eommanya tersenyum bahagia.

.

.

.

Leo masih setia menemani Hongbin dan Sungjae yang telah terlelap disampingnya, stand by jika sewaktu-waktu aegyanya bangun karena haus atau buang air hingga akhirnya ia pun mulai mengantuk, perlahan tanpa disadarinya Leo tertidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala berada di atas ranjang yang tengah ditempati oleh Sungjae dan Hongbin saat ini.

Diam-diam Kwang appa dan Min eomma mengintip dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.

"Yeobo, semoga Leo sadar dan kembali pada Sungjae. Aku kasihan pada Sungjae dan Hongbin," ucap Min eomma lirih.

"Nado, yeobo. Tapi bagaimanapun Leo sudah menikah dengan Hakyeon, dan mereka juga akan memiliki anak sebentar lagi, jadi aku harap Sungjae akan bertemu dengan namja atau yeoja lain yang lebih baik dari Leo, yang bisa menyayangi Sungjae dan Hongbin dengan segenap hatinya," ujar Kwang appa sambil menggandeng tangan istrinya menuju ke kamar mereka.

.

.

.

"Leo….!" teriakan seorang namja membawan Leo, Sungjae, dan Hongbin kembali dari alam mimpi. Namja itu adalah Hakyeon, istri Leo yang terlihat sangat marah karena semalam suaminya tidak pulang ke rumah.

"Leo, apa yang kau lakukan disini? Istrimu sedang hamil dan kau malah tidur di rumah namja lain," omel Hakyeon sembari mendekati Leo yang masih setengah sadar.

"Mian, aku ketiduran," jawab Leo sekenanya. "Hongbin, tunggu sebentar ne, appa buatkan susu untukmu," ucapnya pada Hongbin yang masih menangis karena kaget mendengar teriakan Hakyeon tadi.

Sungjae mencoba menenangkannya dengan mengelus punggungnya dan lumayan berhasil, tangisannya sedikit mereda.

"Sungjae, urus saja anakmu sendiri, dan jangan ganggu suamiku lagi," ucap Hakyeon ketus.

Sungjae terdiam sambil terus memandangi aegya dalam dekapannya.

"Tidak bisa, Hongbin anakku, dan ia butuh aku, dia tidak bisa hanya bersama Sungjae," sela Leo yang sudah kembali dengan membawa sebuah botol susu untuk anaknya.

"Leo, tapi…"

"Setelah ini aku akan tetap membawanya pulang ke apartment kita, aku akan mengurusnya."

Hakyeon hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan suaminya.

.

.

.

~Sungjae pov~

Pagi ini aku harus kembali ke rumah sakit untuk check up dan aku memutuskan untuk pergi sendiri saja, aku tidak mau merepotkan eomma dan appa lagi.

Aku terus melangkahkan kakiku menuju ke halte bus, entah kenapa aku lebih ingin naik bus ketimbang naik taksi.

"Sungjae," panggil seseorang, suara yang kukenal.

Aku segera membalikkan tubuhku. "Shin DongGeun!" seruku bahagia. "Kita bertemu lagi?"

Ia mengangguk dan juga tersenyum sepertiku. "Kebetulan sekali. Kau mau kemana?"

"Aku sedang menunggu bus, ke rumah sakit."

Ia memperhatikan perutku yang telah mengecil – walaupun belum kembali rata – sejenak. "Ah, kau sudah…"

Aku segera menghentikan ucapannya dengan menempelkan jari telunjukku di bibirnya. "Hush... Jangan keras-keras, aku tidak mau semua orang tau."

"Araseo, mianhae…" DongGeun memasang tampang bersalah yang tetap terlihat polos dan lucu – menurutku.

Aku mengangguk. "Kau mau kemana?"

"Ke tempat kerjaku, aku baru saja mendapatkan pekerjaan baru. Ah, bagaimana kalau aku mentraktirmu untuk merayakannya?"

Aku mengangguk setuju.

"Oke, kalau begitu aku tunggu di BlueMoon café jam delapan nanti. Annyeong." Ia berlari kecil memasuki bus yang ditunggunya, kemudian melambaikan tangan padaku saat sudah berada di dalam bus tersebut.

.

.

.

Aku berjalan cepat menuju ke BlueMoon café yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku, aku melongok ke dalam, DongGeun sudah menunggu disana. Aku berjalan mendekatinya, dan duduk di hadapannya.

"Maaf membuatmu menunggu lama," ucapku memulai pembicaraan.

"Ah, ani, kamu tidak terlambat, ini masih jam delapan kurang enam belas menit, aku yang datang terlalu awal," ucapnya sambil menunjuk jam dinding berbentuk bintang yang menempel pada dinding bercat biru di sebelah kanan kami.

Kuperlihatkan senyum manisku padanya sekali lagi.

"Kau mau pesan apa?" tanya DongGeun sambil menyodorkan buku menu padaku.

Aku membolak-balik menu, bingung mau pesan apa. Sebaiknya aku menunggu DongGeun saja, aku mengikutiya saja.

"Saya pesan hot cappuccino satu," kata DongGeun pada seorang pelayan yang entah sejak kapan sudah berada di samping meja kami.

"Saya juga mau hot cappuccino satu," aku mengikuti pesanan DongGeun.

"Jadi hot cappuccino nya dua ya?"

Kami menangguk bersamaan.

"Sungjae," panggilnya, membuatku mendongak dari menu yang masih saja kubaca. "Dimana anakmu?" tanyanya dengan suara lirih yang masih bisa kudengar.

"Bersama appanya, kenapa tiba-tiba menanyakannya?"

"Ani, aku hanya ingin melihatnya, boleh aku mampir ke rumahmu nanti?"

Aku menggigit-gigit bibir bawahku dengan gelisah, mana mungkin aku mengajak DongGeun ke apartment Hakyeon dan Leo kan, mengajaknya ke rumahku juga tidak mungkin karena Hongbin tidak ada disana.

"Kalau tidak boleh tidak apa-apa kok." Sepertinya DongGeun menyadari perubahan raut wajahku.

Aku buru-buru menggeleng, aku tidak mau dia salah paham. "Ani, boleh kok, tapi mungkin tidak sekarang. Lain waktu aku pasti akan mengenalkannya padamu. Aku berjanji."

Dia tersenyum. Sangat tampan.

Pelayan yang tadi mencatat pesanan kami kembali datang dengan membawakan pesanan kami.

Sekitar satu jam kami berada di café ini, membicarakan banyak hal yang menurut kami menarik sambil menikmati segelas hot cappuccino yang telah kami pesan.

KRINGGG! KRINGGG!

Smartphone di dalam saku jaketku berbunyi, menandakan ada panggilan masuk.

"Jawab dulu saja teleponnya," DongGeun mempersilahkanku mengangkat teleponku terlebih dahulu.

Aku menekan lingkaran hijau di layar, menerima panggilan tersebut.

"Yeoboseyo…"

"Sungjae, cepatlah kesini, Hongbin terus menangis sedari tadi, ia tidak mau minum susu dan juga tidak mau tidur," ucap orang diseberang yang kuketahui sebaagi Hakyeon.

"Ne, aku akan segera kesana."

Aku memutuskan sambungan telepon.

"Mian, DongGeun, aku harus pergi sekarang," pamitku sebelum berdiri dan hendak pergi meninggalkannya.

DongGeun ikut bangkit dan menyusul di belakangku. "Aku akan ikut denganmu."

Kuhentikan langkahku dan berbalik memandangnya yang masih saja tersenyum dengan wajah polosnya. "Ini sudah malam, sudah jam sembilan, jadi lebih baik kita pergi berdua."

Benar juga sih apa kata DongGeun, tapi untuk membiarkannya mengetahui yang sebenarnya aku belum siap. "Aku tidak apa-apa, aku sudah biasa pergi sendiri," aku menolaknya secara halus.

"Tapi aku akan tetap menemanimu, dan mengantarmu sampai ke rumahmu."

DongGeun terus membuntutiku sampai kami berada di depan pintu apartment Leo dan Hakyeon.

"Ini rumahmu?" tanya DongGeun.

Aku menggeleng, kemudian memencet bel yang terletak samping kanan pintu. Namja tampan di belakangku tersenyum – lagi. Aku tidak mengerti kenapa dia terus tersenyum, apa dia salah minum obat?

Tak berapa lama kemudian pintu di hadapan kami terbuka, menampilkan Leo dengan wajah suntuknya yang tetap tampan. Ia memimpin kami menuju ke kamarnya, tempat dimana Hongbin telah menangis, aku dapat mendengar tangisannya sejak pintu terbuka. Aku segera menghampiri aegyaku dan membawanya ke dalam dekapanku, ia berhenti menangis.

"Leo, Hongbin ingin bersama eommanya, lihat, sekarang ia sudah tidak menangis karena ada Sungjae. Biarkan saja Hongbin tinggal bersama Sungjae, kau kan masih bisa menjenguknya," Hakyeon merayu Leo untuk mengembalikan Hongbin padaku.

Aku tidak tau harus berada di pihak Leo atau Hakyeon. Hati kecilku ingin berpihak pada Hakyeon, aku ingin Hongbin bersamaku. Tapi mengingat ucapan Leo saat itu membuatku tidak tega membawa Hongbin kembali padaku, ia membutuhkan appa dan eomma, bukan hanya seorang eomma saja. Ia berhak memiliki keluarga yang utuh seperti anak lainnya.

~Sungjae pov end~

Tanpa mereka sadari seorang namja menyaksikan dan mendengar semuanya. Ia masih berusaha mencerna apa yang sedang mereka bicarakan.

TBC