Minna! Karin-chan memutuskan untuk melanjutkan fic ini hehehe. Terimakasih buat yang udah baca dan review hihihi~ Balesnya entar ya dibawah (?) Happy Reading ^^
Disclaimer
Fairy Tail milik Hiro Mashima
Previous Story
"N...natsu..." Ucap Lucy dengan suara yang sangat pelan. Pandangannya mulai kabur. "Ji... ka... kau... mati..." Ia bersusah payah melanjutkan kalimatnya. "Lalu... siapa... yang... akan... membuat...ku... ter... senyum..."
"A.. aku... mencintaimu... Natsu... Drag... neel..." Bisik Lucy di telinga Natsu. Ia tersenyum tulus, masih berharap Natsu membuka matanya. Namun pandangannya semakin tak jelas. Telinganya berdengung, napasnya sudah tak karuan.
"NATSU! LUCY!" Panggilan dari Erza adalah kalimat terakhir yang Lucy dengar, sebelum semuanya menghitam.
.
Remember Me
.
Genre : Romance
.
Pair : NatsuXLucy
.
Maaf bila gaje, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya
.
Normal POV
Lucy berusaha membuka matanya. Berat, pikirnya. Kepalanya pusing sekali. Saat ia melek seutuhnya, yang ia lihat hanyalah putih, bersih, dan menyilaukan. 'Dimana aku? A.. apa aku ada di surga?' Batinnya bertanya.
Dalam posisi berbaring di atas lantai yang juga putih dan bersih, Lucy berusaha bangun. Anehnya, ia tak merasakan sakit sama sekali. Mengingat ia telah habis-habisan bertarung dengan seorang shadow mage yang menjadi buronan itu. Ia melihat sekelilingnya, tak ada orang satupun. Ia seperti berada dalam ruangan, yang tak ada ujungnya.
"NATSU!" Lucy berteriak kencang, berharap partnernya itu segera datang di hadapannya.
"SU...SU..SU!" Hanya suara mungilnya yang menggema.
"ERZA! WENDY! GRAY! HAPPY! CHARLE!" Ia terus menyerukan nama anggota timnya. Namun tak ada balasan. Hanya suaranya yang terdengar kembali karena pantulan.
"NATSUUUUU!" Lucy berteriak lagi. Kali ini suaranya mulai bergetar. Ia mulai ketakutan dan... kesepian. 'Kenapa disini begitu sepi?' Pikirnya lagi. Ia jatuh terduduk. Air mata mulai menuruni pipi porselennya, yang kini bersih tanpa luka sedikit pun.
"Hiks... Di... dimana aku... hiks..." Suara pelan Lucy diiringi dengan isak tangisnya, yang makin lama bertambah deras.
"NATSU! KAU ADA DIMANA?!"
"Na... Na... Na..." Lagi-lagi suaranya yang bergema.
"Lucy sayang..." Tiba-tiba sebuah suara lembut seorang wanita terdengar di telinga Lucy. Ia kenal benar suara itu. Ia berusaha mengelap tangisannya, dan mencari sesosok wanita yang telah lama ia rindukan.
"Mama! Mama dimana?"
"Mama disini, sayang." Nampak seorang wanita berambut pirang, yang sangat mirip dengan Lucy. Ia menggunakan terusan panjang putih yang nyaris tak bernoda. Rambutnya tersanggul rapih dan dihiasi bulu-bulu putih. Wajahnya putih bersih, namun bibirnya pucat. Wanita itu menyunggingkan senyumnya yang tulus. Begitu rindu akan putri semata wayangnya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Layla Heartfilia, ibunda dari Lucy Heartfilia.
"MAMAAA!" Lucy berlari ke arah mamanya. Ingin memeluk mamanya, melepas rindu yang sudah terlanjur dalam.
Namun Lucy terjatuh, menabrak sebuah dinding yang tak terlihat. Sedang mamanya tetap berdiri di tempat ia berada.
"Mama! Kenapa aku tak bisa memeluk mama?" Lucy bertanya dengan nada yang sangat sedih. Air matanya terus mengalir.
"Mama tau, sayang. Mama rindu sekali denganmu. Namun kali ini kita hanya bisa bertatap muka." Jelas mamanya dengan nada yang sedih pula. Tapi Layla tidak menangis, justru ia sedang menahan tangisnya. Agar putrinya itu segera menghentikan tangisannya.
"Kenapa mama? Kenapa? Bukannya aku sudah mati?" Lucy bertanya lagi, berharap akan ada jawaban yang menyenangkan hatinya.
"Lucyku sayang, kamu masih hidup nak. Maka dari itu kita tak bisa bersentuhan." Jawab Layla lagi, kemudian tersenyum lagi dengan manisnya.
"Lalu aku ada dimana mama? Kenapa disini semuanya putih? Kenapa semua nakamaku menghilang? Apa... mereka sudah mati mama? Aku mohon jangan katakan mereka sudah mati mama... Aku mohon..." Tangisan Lucy menjadi semakin kencang. Bahunya bergetar hebat. Ia ingin sekali berada dalam pelukan mamanya. Lalu menangis sepuasnya, seperti ketika ia kecil dulu.
Hati Layla tersayat, melihat putrinya menangis begitu hebat. Air mata mulai membasahi pipinya. Ia tak bisa memeluk putrinya untuk menenangkannya. "Lucy sayang maafkan mama, nak. Maafkan mama." Kali ini Layla tak berani menatap mata coklat Lucy. Ia tak tega memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi.
"Mama... aku mohon... Ja...jangan katakan kalau mereka sudah..." Lucy tak sanggup meneruskan kalimatnya. "Biarkan saja aku yang mati mama! Aku akan korbankan nyawaku agar mereka selamat dan hidup kembali." Lucy menatap wajah mamanya, air matanya terus mengalir. Namun ia akan melakukan segala hal agar bisa menyelamatkan nakamanya tercinta.
Layla tersenyum melihat betapa putrinya sangat menyayangi nakamanya, rela mengorbankan segalanya, bahkan jika nyawa menjadi taruhannya. Namun ia tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Ia tak tega melihat putrinya yang sebentar lagi akan menghadapi keadaan yang sebenarnya.
"Lucy, maafkan mama, sayang. Mama harus pergi..."
"Mama jangan pergi... aku mohon... jangan tinggalkan aku lagi mama..."
"Mama mohon jangan menangis lagi Lucy sayang. Kelak nanti kita akan bertemu lagi sayang... Namun ada sesuatu yang mama berikan padamu."
"Apa itu mama?"
"Ini..." Layla memberikan sebuah kunci yang terbuat dari berlian. Terdapat gambar sayap di ujung kunci yang indah itu. "Kunci dari Coraussell, seorang bidadari cantik, ia akan menjagamu dari bayangan kegelapan. Bahkan menyerangnya. Masih banyak yang bisa ia lakukan tapi mama tidak bisa menjelaskan semuanya. Tapi ingat, gunakan kunci itu di saat yang benar-benar tepat. Jika tidak, ia akan menghilang dan tak kembali lagi. Kau tidak perlu membuat kontrak dengannya, jika ia bertemu dengan celestial mage yang tepat, hati kalian akan bersatu." Jelas Layla menatap Lucy yang sudah memegang kunci berlian itu.
"Bagaimana mama tau aku celestial mage yang tepat?"
"Karena mama percaya padamu, sayang." Ucap Layla kemudian tersenyum pada putrinya. "Satu lagi Lucy, teruslah berusaha menjelaskan sesuatu."
"Aku tidak mengerti mama. Maksudmu apa?"
"Jangan menyerah akan sesuatu, sayang. Mama akan selalu berdoa untukmu dan nakamamu." Layla tersenyum lembut. Lucy membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Layla berjalan kemudian menembus dinding yang tak terlihat itu. Ia memeluk putrinya, yang kini terisak lagi karena rasa rindunya yang membuncah. Lucy pun membalas pelukan mamanya tercinta, dengan pelukan yang sangat erat. Seolah tak ingin kehilangan mamanya untuk kedua kalinya.
"Sayang, berjanjilah pada mama agar selalu tersenyum dan jangan menyerah." Suara lembut Layla terdengar di telinga Lucy. Begitu halus dan begitu dekat. Lucy hanya mengangguk, sementara air matanya ia hapus. Kemudian Layla melepas pelukannya. Dan Lucy menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Anak mama memang paling hebat." Puji Layla. Kemudian sosoknya mulai menghilang, seperti debu yang ditiup angin. "Ingat janjimu pada mama?" Tanya Layla pada putrinya sebelum ia benar-benar menghilang.
"Ingat, mama." Lucy tersenyum tulus. Kemudian mamanya pun menghilang. 'Sekarang aku harus kemana?' Tanya Lucy dalam hatinya.
"AAAAAAAAAAAAAAARGH!" Tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menyelimuti tubuhnya. Lucy terjatuh dan menutup matanya rapat.
BRAK!
[Lucy POV]
Aku membuka mataku. Argh! Tubuhku masih terasa sakit luar biasa, seperti saat berperang tadi. Tunggu, sepertinya aku mendengar suara pintu yang dibuka secara paksa. Aku menengok ke sekeliling, berbeda dengan sebelumnya, kali ini yang kulihat hanya kegelapan.
Hatiku menangis lagi. Aku ada dimana lagi sekarang? Kenapa disini gelap? Mama, aku ada dimana?
Tiba-tiba aku melihat sebuah cahaya. Aku memicingkan mata dan melihat bahwa cahaya itu berasal dari api! 'API! Natsu pasti ada disini!' Pikirku bahagia. Aku berusaha untuk bangkit dengan susah payah.
"ARGH!" Tubuhku terjatuh lagi. Sial! Rasa sakit itu menyerang lagi bahkan sakitnya terasa dua kali lipat. Aku terus meringis kesakitan. Tak terasa air mataku turun dari pelupuk mata. Aku menangis semakin kencang, berharap ada orang yang mendengar tangisanku dan menolongku.
"Hey, jangan menangis..." Aku tak percaya! Itu... itu suara Natsu!
"NATSUUUU!" Aku berteriak memanggil namanya, ternyata ia sudah ada di hadapanku. Aku menatap mata onyxnya lekat-lekat, melihat rambut pinknya yang berantakan, melihat wajahnya, yang sudah tak terluka lagi. Kedua ujung bibirku tertarik ke atas, membuat seberkas senyum manis untuk orang yang kucintai ini.
"Nah, gitu dong. Jangan nangis lagi!" Natsu balas menyunggingkan cengiran bodohnya itu.
"Natsuuuu!" Aku langsung memeluknya erat. Aku tak akan kehilangannya!
"Hey, santai... santai... Ngomong-ngomong namamu siapa?"
EH? Na... namamu... siapa? Apa aku salah dengar? "Maksudmu?" Tanyaku ragu.
"Iya, namamu siapa? Aku tak pernah liat kau sebelumnya." Jawab Natsu polos.
BOHONG! Natsu pasti bercanda, iya, ia pasti bercanda. "Hahaha, kau bercanda ya Natsu Baka!" Balasku tertawa renyah, namun tawa itu memudar ketika aku melihat Natsu terdiam, dengan wajahnya yang terlihat bingung.
"K... ka...kau benar benar tidak tau... aku?" Suaraku kembali bergetar... Ayolah Natsu... Akui saja kalau kau hanya bergurau...
"Tidak." Jawab Natsu datar.
Hatiku seperti ditusuk ribuan pedang yang diasah jutaan kali. Perih. Aku menunduk, aku tau aku akan menangis sebentar lagi. Aku menggigit bibir bawahku. Berusaha keras menahan tangis.
"J... jangan menangis lagi aku mohon!" Natsu menggenggam tanganku erat. Genggaman hangat yang begitu aku rindukan. Kemudian tangan kekar itu menghapus air mataku yang sudah keluar.
Aku mendongak, menatap wajah Natsu yang 'tidak mengenal'ku. Anehnya, yang kulihat mata onyxnya itu mengeluarkan air mata.
"Ah maafkan aku." Natsu pun mengelap air matanya sendiri. "Aku mohon jangan menangis lagi."
"Baiklah." Jawabku tersenyum datar.
"Siapa namamu?" Tanya Natsu dengan nada yang riang. Kemudian menunjukkan grinnya yang khas.
"Lucy, Lucy Heartfilia."
"Lucy? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."
[Normal POV]
Tiba-tiba pandangan Lucy menggelap. Ia kembali merasakan sakit yang luar biasa. Ia ingin teriak namun tenggorokannya tercekat. Tubuhnya mengeluarkan keringat. Air matanya mengalir begitu deras, menandakan intensitas sakit yang ia rasakan.
"Lucy-san! Lucy-san! Bangunlah!"
Lucy berusaha membuka matanya. Yang ia lihat kali ini adalah langit-langit sebuah ruangan yang putih, klinik kecil Fairy Tail.
"Syukurlah Lucy-san sudah bangun!"
Lucy menengok ke samping kirinya. Ia melihat Wendy yang tersenyum manis, senang ketika nakamanya membuka matanya.
"Wendy, aku ada dimana?"
"Tentu saja di klinik guild Lucy-san. Kau telah tertidur selama 1 hari! Syukurlah kau membuka matamu segera. Aku sangat ketakutan tadi."
"Ketakukan? Memangnya aku kenapa?"
"Tadi Lucy-san menangis dalam tidur, badanmu basah dipenuhi keringat dingin, tubuhmu bergetar hebat."
"Terimakasih Wendy-chan sudah membangunkanku." Lucy pun tersenyum pada Wendy. Lucy berusaha untuk berdiri. Namun ia tak bisa, kepalanya pening sekali.
"Ah Lucy-san tenang saja. Walaupun misi yang kita jalani gagal, semuanya sudah kembali sehat." Ucap Wendy, seolah tau apa yang Lucy pikirkan.
"Lucy sudah bangun?" Ucap seseorang yang baru memasukki klinik.
"Ah Erza-san!" Ucap Wendy menengok ke arah pintu, lalu kembali melihat Lucy, "Lucy-san sudah merasa baikan?" Tanya Wendy pada Lucy. Lucy hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Kalau begitu, aku permisi dulu." Wendy kemudian pergi, meninggalkan Lucy bersama wanita berambut merah itu.
"Kau mau bertanya dimana Natsu, ne, Lucy?" Tanya Erza yang segera duduk di kursi yang tadi telah diduduki Wendy.
"Ano..." Lucy tampak salting karena pipinya sudah semerah rambut requip mage itu.
"Dia masih tertidur di ruang sebelah. Luka di tubuhnya sudah mulai sembuh, luka akibat tusukkan di perutnya juga perlahan mengering. Sekarang ia sedang ditunggui Lisanna. Tadi aku sedang menungguinya, lalu Lisanna masuk dan memberitahu bahwa sepertinya kau sudah bangun."
"Syukurlah..." Gumam Lucy pelan. Ia melihat ke arah kanan dan menemukan meja kecil, yang di atasnya terdapat segelas air mineral. Rasanya ia sangat haus sekali. Ia hendak mengambil gelas itu, namun tiba-tiba tangannya bergetar dan...
PRANG! Lucy menjatuhkan gelas itu. Seketika itu juga...
"MIRA-NEE! ERZA! WENDY-CHAN!" Terdengar suara Lisanna berteriak.
"Lucy, kau disini saja ya." Erza memerintahkan Lucy dan segera beranjak ke ruang sebelah, tempat dimana Natsu beristirahat. Sementara Lucy berharap Natsu tidak apa-apa.
IOIOIOIOIOIOIOIOIOIOI
"Ada apa Lisanna?" Suara Erza dan Mira berbarengan, memecah kekalutan Lisanna. Sementara Wendy menyusul dibelakangnya.
"Mira-nee! Erza! Wendy-chan! L...lihat Natsu!" Lisanna berbicara sambil menunjuk ke arah Natsu. Natsu memunculkan gejala, seperti yang Wendy takutkan pada Lucy. Badannya berguncang hebat. Baju yang ia kenakan basah karena keringat yang terus mengucur dari segala arah(?).
Mira dan Erza berlari ke samping tempat tidur yang di tiduri sang dragon slayer. Mira menyentuh kening Natsu.
"Kyaah! Panas sekali!" Sahut Mira mengipas-ngipasi tangannya.
Sedang Erza menyentuh kaki Natsu. "D..dingin sekali! Seperti es!"
"Bagaimana ini Mira nee, Erza, Wendy-chan?" Tanya Lisanna dengan suara yang semakin panik.
"Ini juga terjadi pada Lucy-san! Namun suhu tubuhnya normal saja." Wendy menjelaskan kejadian yang tadi. Kemudian ia menyentuh badan Natsu, dan mengucapkan mantra yang bisa meredamkan demam. Namun sebelum Wendy menyelesaikan mantranya, ia terjatuh ke belakang. Seolah ada energi sihir yang menolak sihir Wendy.
"Wendy! Kau tidak apa-apa?" Tanya Erza seraya membantu Wendy berdiri.
"Ah tidak apa-apa Erza-san!" Wendy pun berdiri, mendekati Natsu lagi. "Sepertinya ada sihir jahat yang menolak sihirku..."
"Apa sebaiknya kita memanggil Porlyusica?" Tanya Lisanna pada 3 gadis itu.
Sebelum semuanya menjawab, Natsu tiba-tiba mengeluarkan suara, yang sangat pelan. Hampir seperti berbisik.
"J...ja...ngan...men..nangis...la...gi...a...ku... mo..hon..." Suara Natsu terpotong-potong dan serak sekali. Seperti sudah tak minum air seharian. Keempat gadis itu pun mendekati Natsu mencoba mendengar apa yang ia bicarakan. Mereka melihat wajah Natsu terus mengeluarkan keringat. Matanya tetap terpejam.
Dan ajaibnya... seorang Natsu Dragneel menangis!
Tentu saja Lisanna, Mira, Wendy dan Erza shock melihat apa yang ada di hadapan mereka. Air mata Natsu mengalir dari mata kirinya, diikuti butiran air yang keluar dari mata kanannya. Sebelum ada yang mengelap air mata Natsu, bulir bulir air itu menguap, saking tingginya suhu tubuh, lebih tepatnya kepala Natsu.
"Aku akan memanggil Porlyusica!" Ucap Wendy, hendak berlari meninggalkan ruangan itu. Namun, Erza menghentikannya. "Biar aku saja yang pergi, kau tetap disini. Kalau kalau Natsu bereaksi lebih parah lagi."
"HAI!" Wendy mengangguk, menuruti perintah Erza. Sementara Erza berlari, meninggalkan guild, menuju hutan tempat Porlyusica tinggal.
"Wendy! Wendy! Kemarilah!" Panggil Mira. Wendy pun berlari ke tempatnya semula.
Napas Natsu terengah-engah seperti sedang dikejar-kejar setan. Wajahnya menampakkan kesedihan dan ketakutan. Dan tidak ada yang tau apa yang Natsu sedang alami, kecuali Natsu sendiri.
"ma... af... kan... a... ku... "
"Maaf? Kepada siapa ia minta maaf?" Celetuk Mira pelan. Disambut dengan 'ssst'-an dari Wendy dan Lisanna, menandakan Mira harus diam sebentar. Mira pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dan mendengarkan Natsu lagi dengan seksama.
"A... ku... mo... hon... ja... ngan... me... nangis... la... gi..." Suara Natsu yang pelan berburu dengan napasnya, yang makin lama makin sesak dan menyakitkan.
"Wendy! Lakukan sesuatu!" Perintah Lisanna, tak tega melihat Natsu yang terlihat sangat tersiksa.
Wendy mengucapkan mantra lagi, kali ini mantranya berbeda.
"AAW!" Wendy terpental jauh ke ujung ruangan. Mira berlari mengejar Wendy, dan membantunya berdiri.
"Terimakasih Mira-san!" Ucap Wendy sambil meringis kesakitan. 'Sihir apa yang melekat di tubuh Natsu-san?' Pikir Wendy. Dalam otaknya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa ia jawab. Dan ia tak tau apa pertanyaannya itu akan terjawab atau tidak.
Sekarang Natsu sudah terdiam lagi. Napasnya tidak tersengal namun ia masih tetap bernapas, kali ini dengan tenang. Namun suhu tubuhnya tidak berubah, keringat dingin juga tak berhenti mengalir dari pori-pori tubuhnya.
BRAK!
Pintu ruangan itu terbuka lebar. Disana ada Erza dan wanita tua berambut merah muda yang datang bersamanya.
"Grandine!" Sahut Wendy sedikit bahagia, berharap wanita itu bisa menyembuhkan Natsu.
"Aku sudah bilang kau tak boleh memanggilku begitu!" Ucap Porlyusica ketus. Wendy hanya mengangguk dan menunduk. "Mana yang sakit?" Lanjut Porlyusica, Erza pun membawanya mendekati Natsu yang terkapar di kasur.
Setelah Porlyusica memeriksa Natsu, ia menyuruh semuanya keluar. Kecuali Wendy, dan Natsu tentunya. (*Karin ditimpuk pake batu oleh readers*)
IOIOIOIOIOIOIOIOIOIOI
[Lucy POV]
Cekreeek! Aku mendengar suara pintu dibuka. Aku membuka mataku, yang kuistirahatkan sebentar. Namun aku tak bisa masuk ke alam mimpi. Aku takut Natsu akan kenapa-napa.
Ah! Ternyata itu Mira! Tadikan ia berada di ruang sebelah. Ia pasti tau ada apa dengan Natsu!
"Tenang Lucy, sekarang sudah ada Porlyusica disana. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Mira sebelum aku bertanya satu kalimat pun. Aku tersenyum tipis pada Mira. Ia bisa membaca pikiranku. Atau wajahku yang sangat mudah terbaca?
"Kau tidak apa-apa Lucy?" Tanya Mira. Ah ya, aku bahkan lupa aku ada disini karena habis bertarung.
"Ah aku tidak apa-apa Mira. Aku malah mengkhawatirkan Natsu."
"Aku tau itu!" Ucap Mira dengan nada menggoda. "Kau suka Natsu kan?"
"E..eh?! Maksud...ku... bukan..." Kurasa pipiku sudah memerah, kurasakan detak jantungku lebih kencang dari biasanya. Miraaa kenapa kau bertanya seperti ituuu?
"Ne, Lucy, tak perlu berbohong lagi. Aku sudah tau kau menyukainya."
Aku hanya terdiam. Kemudian tersenyum simpul.
"Ah, apa ini Lucy? Kau memecahkan gelas?" Tanya Mira pelan. Ia melihat ke bawah meja yang ada di samping tempat tidurku.
"Astaga! Benar Mira. Maafkan aku. Aku tak sengaja menjatuhkannya. Lalu Lisanna memanggil Erza, jadi belum sempat dibereskan."
"Santai saja Lucy. Kau malah harus istirahat. Kau belum beranjak dari tempat tidurmu kan?" Tanya Mira, wajahnya nampak khawatir. Aku hanya menggeleng padanya.
"Baiklah, aku akan membereskannya. Tunggu sebentar ya Lucy!" Mira pun keluar klinik. Dan kembali lagi dengan membawa sapu dan plastik.
Setelah membereskan pecahan-pecahan gelas itu, Mira pun duduk di sampingku. Lalu kami berbincang tentang berbagai hal. Tak lama pintu klinik terbuka lagi.
"Mira-nee! Natsu sudah bangun!" Gadis berambut putih pendek nampak di balik daun pintu.
"Ah Lucy, kau tidak apa-apa disini sendirian?" Tanya Mira lembut. Sebelum aku mengangguk, Lisanna menghampiriku.
"Ohiya, Lucy, nanti Porlyusica ingin bicara empat mata denganmu. Sepertinya ada yang ia tanyakan tentang Natsu." Jelas Lisanna padaku. Aku pun mengangguk. Sudah kuduga, karena hanya aku yang terakhir bersama Natsu sebelum ia diserang oleh penyihir jahat itu.
Setelah Mira dan Lisanna keluar, Porlyusica masuk dan berjalan ke arahku.
"Hey manusia. Kau bersama si pinky itu sebelum ia tak sadarkan diri?" Tanya Porlyusica padaku. Aku hanya bersweatdrop ketika ia memanggil Natsu dengan sebutan 'pinky', padahal rambutnya juga berwarna pink...
"Ya, dan sebelumnya ia diserang oleh seorang shadow mage, yang mengucapkan deretan mantra yang tidak ku mengerti." Jelasku sambil mengingat-ingat apa yang terjadi.
"Mantra apa itu?"
Ah. Lucy bodoh! Kenapa kau bisa lupa.
"Maafkan aku, aku lupa mantra itu."
"Hm, baiklah. Setelah dia terkena mantra itu lalu apa yang terjadi?"
"Ia terjatuh, badannya diselimuti bayangan yang gelap. Lalu tak sadarkan diri."
Wanita itu kemudian menulis sesuatu. Kebetulan Wendy melewati pintu klinik yang terbuka, lalu Porlyusica memanggil namanya.
"Ada apa Gra-ah-Porlyusica-san?" Tanya Wendy setengah gugup.
"Ini, kau cari bahan-bahan ini. Lalu minumkan pada si pinky itu. Aku pamit dulu." Porlyusica menyerahkan selembar kertas tadi pada Wendy. Kemudian ia berjalan, hendak pulang ke rumahnya.
"Terimakasih Porlyusica-san!" Ucapku dan Wendy berbarengan. Lalu Wendy angkat bicara lagi, "Gr-Porlyusica-san, mau aku antar pulang?"
"Tidak usah!" Jawab wanita tua itu singkat, padat, dan ketus, lalu berjalan cepat ke luar guild.
Wendy tertunduk lesu, "Lucy-san, bolehkah aku menemanimu lagi?"
"Tentu saja Wendy, aku sangat senang bila ada yang menemaniku. Ngomong-ngomong, dimana Levy-chan?" Tanyaku pada Wendy. Aku belum melihat sahabatku yang berambut biru itu masuk atau lalu lalang di luar klinik.
"Levy-san belum pulang dari misinya bersama Gajeel-san dan Phanterlily."
"Oh iya ya, mereka kan sedang pergi misi ya, kurasa mereka memang sengaja berlama-lama hihihihi." Kami tertawa kecil. Lalu Wendy nampak serius membaca kertas dari Porlyusica.
"Ah, apa kau masih merasa sakit Lucy-san?"
"Aku sudah baikkan Wendy-chan. Malah aku sudah merasa sehat kembali." Memang aku sudah merasa jauh lebih baik dari saat aku bangun tadi. Apalagi, sebelum Porlyusica memanggil Wendy, ia telah menggunakan sihirnya untuk mengurangi rasa sakitku.
"Syukurlah kalau begitu." Wendy memasang senyum manisnya.
"Wendy, maukah kau membantuku melihat Natsu?"
"Tentu saja Lucy-san! Mari aku bantu kau berdiri."
Aku bisa bangun sendiri dari posisi tidurku. Saat aku hendak berdiri, aku mendengar suara gemerincing dari kumpulan kunci roh bintangku. Aku melihat ada kunci yang berkilauan, terpantul sinar lampu. Ah benar saja, kunci itu terbuat dari berlian, dan ada lambang sayap di ujungnya. Ini kan kunci Coraussell, yang diberikan mama dalam mimpiku. Jadi... mimpi itu benar? A..apakah Natsu juga akan tidak ingat denganku...?
"Lucy-san kenapa?" Wendy nampaknya mengetahui aku sedang memikirkan sesuatu.
"Ah tidak apa-apa, ayo kita segera pergi ke sebelah." Jawabku kemudian menyunggingkan senyumku pada gadis kecil berambut biru di hadapanku.
Wendy pun membantuku berdiri. Syukurlah sihir Porlyusica benar-benar berfungsi. Kakiku sudah tak terasa begitu sakit lagi ketika berjalan. Walaupun luka-luka besar seperti yang ada di betisku, dan di lenganku, masih terasa sedikiiit perih.
IOIOIOIOIOIOIOIOIOIOI
"Ne, aku sangat tidak beruntung." Gumamku pelan. Aku melihat Natsu kembali tertidur pulas. Mungkin efek pengobatan dari Porlyusica tadi. Begitu kata Wendy.
Kali ini aku duduk di kursi di samping tempat tidur Natsu. Di ruangan kecil ini hanya tersisa aku dan Natsu. Mira langsung mengajak semuanya keluar saat tau aku ingin menjenguk Natsu. Dasar...
Aku melihat kunci berlian yang ada di tanganku sekarang. Kata mama, tidak perlu membuat kontrak. Dan harus memanggilnya di saat yang benar-benar genting. Lalu bagaimana aku bisa berteman dengannya?
"Lucy-san!" Sebuah suara wanita memanggilku. Lebih tepatnya, seperti suara gadis kecil. Aku kaget dan menengok ke sekelilingku. Lagi, tak ada orang selain aku dan Natsu.
"Lucy-san, ini aku Coraussell. Mulai sekarang aku adalah roh bintangmu."
"Kau ada dimana?" Bisikku pelan. Mungkin dia spirit yang tak terlihat.
"Hihihi, Lucy-san lucu sekali. Aku ada dalam pikiranmu Lucy-san, lebih tepatnya, hatimu. Jadi apa yang kau pikirkan akan terdengar olehku. Dan hanya kau yang bisa mendengar suaraku."
Aku tersenyum senang. Ah, Coraussell?
"Ya Lucy-san?"
Bolehkah aku memanggilmu Cora?
"Tentu saja Lucy-san, namaku memang sulit disebut. Hihihi"
Dan kau tak perlu memanggilku Lucy-san. Panggil aku Lucy, mulai sekarang aku sahabatmu.
"Benar apa kata mamamu dan spirit-spirit lainnya, kau master yang sangat baik hati, Lucy."
Kau berlebihan, Cora. Dan terimakasih, hihihi...
IOIOIOIOIOIOIOIOIOIOI
"Hey!" Aku membuka kedua kelopak mataku. Hoahmm. Ya, aku tertidur setelah membuat 'kontrak' dengan Cora. Dan... Natsu sudah bangun!
"Natsu! Kau sudah bangun! Kau tau, aku baru saja mau menjengukmu. Aku sudah susah payah berjalan kesini dibantu oleh Wendy. Taunya kau tertidur lagi. Dasar kebo!" Candaku pada Natsu. Ah, betapa aku merindukan suaranya. Tak kusadari air mata mengalir dari mataku. Tenang saja, ini adalah air mata bahagia.
"Hey, jangan menangis..."
"Maafkan aku..." Aku mengelap air mataku dengan punggung tanganku. Kemudian tersenyum dengan senyuman terbaikku pada Natsu, meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
"Nah, gitu dong. Jangan nangis lagi!" Natsu kemudian memamerkan grinsnya yang bodoh itu. Tunggu... aku rasa aku sudah pernah mengalami ini sebelumnya... jangan-jangan...
"Natsu... kau tau siapa aku?" Tanyaku agak sedikit ragu, dan takut. Takut akan mendapat jawaban seperti dalam mimpi burukku.
"Oh iya benar. Namamu siapa?"
JGER! Rasanya sebongkah petir besar menyambarku. Ti..tidak mungkin... Aku pasti salah dengar lagi. "Maksudmu?" Bodoh, kenapa aku mengulangi pertanyaanku persis seperti dalam mimpi. Ketakutan benar-benar menyelubungi otakku. Dapat kurasa kini mataku berkaca-kaca, aku segera menunduk untuk menyembunyikannya.
"Iya, namamu siapa? Aku tak pernah liat kau sebelumnya." Jawab Natsu polos. TEPAT seperti sebelumnya. "Kau mengenalku?" Tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk pasrah. Kemudian menunduk lagi, berusaha menahan tangisanku.
"Maaf jika aku tak mengenalmu." Ucapnya lagi dengan nada yang sedih, lebih tepatnya, kecewa. "Kalau begitu, siapa namamu?"
"Lucy, Lucy Heartfilia."
"Lucy? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."
Aku terdiam. Membeku dalam posisiku yang menunduk. Aku tak berani menatap matanya. Aku bahkan tak berani melihat wajahnya. Kenapa... kenapa ia melupakanku...
Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki memasukki ruangan.
"Ah Erza! Kau tau siapa gadis ini? Dia mengenalku. Dia bilang namanya Lucy. Apa kau kenal dia, ne, Erza?"
PRANG!
Aku menengok ke arah seseorang yang ternyata adalah Erza. Sebuah piring, kurasa, diatasnya terdapat strawberry cake kesukaan Erza, telah hancur, bersatu dengan pecahan piring yang mengalasinya. Wajah Erza terlihat sangat kaget. Ia melihat ke arahku. Dan tak kusadari bendungan air mataku telah pecah. Kemudian aku tak sadarkan diri.
.
.
.
Kenapa aku selalu membuat Lucy tak sadarkan diri hahaha. Gomen ne Lucy ._. Karin-chan ngebut banget ini, mengingat pulsa modemku bakal habis dan kantong lagi seret jadi... begitulah.
Karin-chan bakal bales review dulu yaaa
Reka Amelia : Baiklah, akan kupenuhi permintaanmu tring tring tring *muter muter tongkat ibu peri* Hihihi, sudah kilat kan? ;)
RyuuKazekawa : Terimakasih ^^ Iya nih kurang greget, Karin bukan spesialis adegan bertarung hahahaha~ Semoga chappie yang ini lebih bagus dari sebelumnya yaaa
Nshawol56 : Hihihi cucok bingit *dilempar sendal* Natsu gak mati kok :') Aku gak rela Lucy kehilangan soulmatenya hixhixhix
Hana Hii-chan : Hana-chan! Hihihi, ini udah dilanjutin kok. Terimakasih ihihihihi, kali ini Karin bikin penasaran lagi gak? Hohoho
Nnatsuki : Muahaha, terimakasih nana-chan ^^ Karin bener-bener berusaha buat adegan bertarungnya hihihihi...
Ananda anfi : haduh jangan sedih dong... Nanti Karin juga ikutan sedih Hehehe, ini udah dilanjutin kok~
Yodontknow : Aye! Ini sudah dilanjutkan hihihi...
Vanessa Synyster : Waah gak nyangka ada yang bilang berantemnya seru hihihi, terimakasih ya vany-chan! ^^
Terimakasih yang sudah mereview dan sudah membaca! Ditunggu reviewnya lagi muehehehe. Karena pulsa modem habis, Karin-chan gak tau mau update kapan... Tapi Karin akan usahakan beli pulsa modem secepatnya hihihihi
Jaa~
