Akhirnya udah punya pulsa modeeem! Btw, sudah berapa lama Karin gak update hihihihi. Gomen ne...(padahal baru sebentar)... Langsung aja ya~
Disclaimer
Bukan Karin kok yang punya Fairy Tail, itu adalah milik Mashima-sensei...
Previous Story
"Ah Erza! Kau tau siapa gadis ini? Dia mengenalku. Dia bilang namanya Lucy. Apa kau kenal dia, ne, Erza?"
PRANG!
Aku menengok ke arah seseorang yang ternyata adalah Erza. Sebuah piring, kurasa, diatasnya terdapat strawberry cake kesukaan Erza, telah hancur, bersatu dengan pecahan piring yang mengalasinya. Wajah Erza terlihat sangat kaget. Ia melihat ke arahku. Dan tak kusadari bendungan air mataku telah pecah. Kemudian aku tak sadarkan diri.
.
Remember Me
.
Genre : Romance
.
Pair : NatsuXLucy
.
Maaf bila gaje, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya
.
[Natsu POV]
Gelap. Dimana aku? Argh. Rasa sakit menyelubungi tubuhku. Sial! Aku tak tau lagi si Atra jelek itu pergi kemana setelah menyerang Lucy dengan mantra jahat itu. Untung saja aku segera menyelamatkannya. Bagaimana dengan Lucy? Kuharap dia selamat.
Aku berusaha bangun dan melihat ke sekelilingku. Tak ada satupun tanda kehidupan. Semuanya gelap. A... a...apa aku sudah... mati?
"NATSU!" Ah! Itu suara Lucy!? Aku terus berlari ke segala arah. Namun yang kutemukan hanyalah gelap.
"ERZA! WENDY! GRAY! HAPPY! CHARLE!"
"NATSUUUU!"
"AKU DISINI LUCE!" Aku berusaha berteriak kencang. Namun sepertinya Lucy tak mendengar suaraku.
"Hiks... hiks.. hiks..." Suara tangisan?
"H...hey jangan menangis Luce!"
"NATSU! KAU ADA DIMANA?!"
"AKU DISINIIIII!" Aku berteriak kencang sekali lagi. Namun Lucy tak membalasku. Bahkan tak muncul lagi. Dimana dia?
"Hey, Salamander!" I..itu suara Atra!
"Dimana kau? Apa yang kau mau dariku?!" Tanyaku was was. Aku melihat ke sekelilingku, lagi lagi aku tak menemukan satu orang pun.
"Kau tak akan melihat ku, ne, bocah bodoh..."
"Apa yang kau mau?!"
"Huh, sayang sekali mantraku mengenaimu. Padahal aku ingin sekali gadis blondie itu yang kena..." Ucap Atra dengan nada manja yang dibuat buat. Cih.
"Kenapa kau menyerang Lucy dengan mantra itu?"
"Huh? Kau masih ingat blondie?"
"Tentu saja aku ingat!"
"Ara ara, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta disini..."
"M..maksudmu apa?!"
"Tak usah mengelak Salamander. Rasanya mantra ku kemarin tak kan berguna, cih."
Tiba-tiba ada sesuatu yang menyerangku dari belakang. "ARGH!" Aku terjatuh ke depan. Sial. Dimana wanita jelek itu?!
"Fire's Dragon Fist! ... Eh?!" A...api ku tak keluar? Bagaimana mungkin?!
"Sihirmu tak akan berguna disini bocah api..."
"Apa yang kau mau dari Lucy?!"
"Hmm... harus kah aku menjawabnya? Biar kupikir pikir dulu... Tentu saja aku mau merebut kekuatannya muahahahaha!" K.. kekuatan Lucy? "Tapi kau tau? Mantranya meleset padamu juga tidak masalah. Hm.. sayangnya... kau masih ingat dia ya bagaimana dong?"
"Untuk apa kau merebut kekuatan Lucy?!"
"Hm, kau tak tau tinggal dia dan gadis Sabertooth yang memiliki 12 kunci zodiak? Yukino adalah tugas mudah untukku. Sekarang tinggal Lucy, sayangnya ada bocah pinky yang menhalangi jalanku. Tapi tak apa, aku sudah punya rencana kedua, tentu saja kau yang akan menjadi rencanaku, sebagai tanggung jawabmu karena sudah menghancurkan rencana pertamaku. Shadows Wheel!" Ah! Serangannya muncul dari segala arah!
"Fire's Dragon Roar!" Tapi usahaku sia-sia...
"Sudah kubilang sihirmu tak akan berguna disini. Huh, kau ini ngeyel banget yah. Baiklah, sepertinya aku harus menjalankan rencanaku lebih cepat... Shadows Darkest Secret, Amneombra!"
"AAAAAAAAAAAAH!" Sa...sakit sekali kepalaku! Aku terjatuh dan menutup mataku erat erat. Tapi, aku harus bangkit. "Fire's Dragon Claw!" Aku berusaha bangun dan menyerang ke segala arah.
"Umm... kurasa aku harus pergi... Jaa~"
"Hey! Jangan pergi kau pengecut! ... ARGH!" Seperti ada ribuan pedang yang menusuk otakku. Aku berusaha keras melihat ke segala arah. Ah! Ada pintu. Aku harus kesana! Mungkin itu jalan keluar!
BRAK!
Berhasil! Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak melihat pintu itu ya? (Karin: baru sadar kau bodoh ne Natsu? -_-)
"ARGH!" Suara siapa itu? Sepertinya aku kenal suara itu.
"Hiks...hiks...hiks..." D...dia menangis?
Kemudian aku melihat seorang gadis berambut pirang yang sedang terkapar di lantai. Ia sepertinya menangis kesakitan... Sepertinya aku mengenal gadis itu. Aku mendekatinya dan, ternyata aku salah. Aku tidak mengenal gadis pirang itu.
"Hey, jangan menangis." Ucapku, berusaha menenangkan gadis itu.
"NATSUUUU!" Ia mengenalku? Sang gadis duduk dari posisi tidurnya. Mata kami bertemu. Mata coklatnya yang lembut. Sepertinya aku pernah melihat mata ini... tapi dimana? Sial. Aku tidak ingat.
Sebelum larut dengan pikiranku, ia menyunggingkan sebuah senyuman manis. Entah kenapa aku seperti merindukan senyuman itu. Ada perasaan tenang yang menyelimuti hatiku. "Nah, gitu dong. Jangan nangis lagi!" Sahutku bahagia, kemudian menunjukkan grins terbaikku.
Tak kusangka-sangka, ia langsung memelukku erat. "Natsuuu!" Siapa sebenernya gadis ini? Ia mengenalku tapi aku tak mengenalnya. Mungkin ... fans? #Plak
"Hey, santai... santai... Ngomong-ngomong namamu siapa?" Rasa penasaran tak bisa hilang dari otakku. Air muka gadis itu berubah, senyum manisnya memudar. Berganti dengan raut wajahnya yang kaget. Entah kenapa aku merasa salah menanyakan pertanyaan itu.
"Maksudmu?" Tanyanya dengan ragu.
"Iya, namamu siapa? Aku tak pernah liat kau sebelumnya." Jawabku.
"Hahaha, kau bercanda ya Natsu Baka!" Kemudian ia tertawa, yang bisa kubilang sepertinya ia tertawa paksa. Namun aku hanya terdiam, bingung, tak mengerti mengapa ia tertawa.
"K... ka...kau benar benar tidak tau... aku?" Sial! Kenapa suaranya bergetar! Rasanya hatiku tertusuk mendengar suaranya yang hampir seperti orang mau menangis. Namun, aku harus jujur menjawabnya.
"Tidak."
Sontak sang gadis menunduk. Dapat kulihat ia menggigit bibir bawahnya. Aku tau pasti ia sedang menahan tangisannya. Hatiku makin tertusuk, tiba-tiba air mataku keluar dari ujung mataku, tanpa kusadari.
"J... jangan menangis lagi aku mohon!" Aku menggenggam tangannya erat erat. Tangan mungilnya begitu dingin. Aku berusaha menghangatkan tangan itu. Aku melihat wajahnya yang masih tertunduk. Natsu bodoh! Kenapa kau membuat seorang gadis menangis?! Aku pun mengelap air mata sang gadis. Pipinya begitu lembut namun sedikit pucat. Ia akhirnya mendongak, menatap wajahku. Ia menatap ku dengan wajah heran.
"Ah maafkan aku." Aku mengelap air mataku. "Aku mohon jangan menangis lagi."
"Baiklah." Jawabnya lalu tersenyum datar. Baiklah, setidaknya ia sudah tidak menangis.
"Siapa namamu?" Tanyaku dengan semangat, menyunggingkan cengiranku. Kuharap dengan itu dia tak bersedih lagi.
"Lucy, Lucy Heartfilia." Jawabnya singkat.
"Lucy? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya." Ujarku. Namun tiba-tiba sosoknya menghilang. Dan kini tinggal aku sendirian.
"Hey! Kau dimana?!" Aku berlari ke segala arah. Aku tak dapat menemukan gadis itu, Lucy. Rasanya ada sesuatu dengan gadis itu. Tapi kurasa aku belum pernah menemuinya, atau bahkan mendengar namanya. Tatapan matanya begitu lembut. Pelukannya begitu hangat. Senyumannya yang manis. Suaranya, yang sepertinya sangat kurindukan. Tapi bagaimana bisa aku merindukan sesuatu yang belum pernah aku temui?
Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat lagi. Namun berbeda. Aku merasakan sihir. Aku menutup mataku. Sepertinya aku mendengar suara. Aku pun membuka mataku. Ah kepalaku rasanya pusing sekali.
.
.
.
"Ah! Natsu-san sudah bangun!" Terdengar suara gadis kecil yang kedengarannya sangat bahagia.
Aku melirik ke sampingku. Ada seorang gadis kecil berambut biru tua, rambutnya di kuncir dua. Sementara di samping kiriku ada seorang wanita tua, berambut merah muda, dengan tusuk bergambar bulan di sanggulnya. Sepertinya wanita yang bernama Porlyusica itu sedang mengobatiku.
"Natsu-san tidak apa-apa? Apa kau masih merasa sakit?"
"Ah tidak apa-apa Wendy. Kurasa kepalaku sedikit pusing. Dan badanku masih sakit-sakit. Tapi sudah lebih baik dari saat aku terjatuh tadi."
"Tadi? Natsu-san sudah tertidur selama satu hari tau."
"Wendy, ada yang harus kubicarakan denganmu." Porlyusica pun angkat bicara.
"Oh, baiklah. Natsu-san, aku pergi sebentar. Akan kupanggilkan Lisanna-san kemari untuk menemanimu."
"Terimakasih Wendy." Balasku singkat.
Wendy dan Porlyusica meninggalkan ruanganku. Lisanna kemudian masuk dan tersenyum padaku. Senyum yang manis sekali. Tapi rasanya aku ingin melihat senyum lain.
Lisanna menanyakan kabarku, dan memberitahu apa yang terjadi padaku saat aku tak sadarkan diri. Aku mengigau seperti dalam mimpiku. Ya, kurasa itu hanya mimpi. Bukan suatu pertanda. Tapi gadis blonde itu benar-benar membuatku penasaran. Mungkin Lisanna mengenalnya, namun kurasa aku tak akan bertanya sekarang.
"Sebentar ya Natsu, aku akan memberitahu orang-orang kau sudah bangun. Sebaiknya kau istirahat lagi ya." Aku hanya mengangguk. Masih memikirkan gadis itu. Namun semakin aku memikirkannya, semakin kepalaku terasa sakit. Shadow mage itu benar-benar gila! Seingatku dia menyerangku dengan mantra... mantra apa ya? Aku pikun sekali rasanya.
"Natsuuuuuuuuuuuuu!" Seekor exceed biru terbang memasukki ruanganku. Ia segera datang kepelukanku.
"Happy!"
"Natsu aku sangat merindukanmu!"
"Hah, bilang saja kau lapar dan segera ingin memancing denganku hahaha!"
IOIOIOIOIOIOIOIOI
Setelah Happy, kemudian Mira menjengukku. Namun lama-lama aku mulai mengantuk. Mungkin aku perlu beristirahat lagi. Ada seberkas rasa rindu, ingin memimpikan gadis manis itu lagi. Namun sayangnya, aku tak memimpikannya. Bahkan aku tak bermimpi apa-apa. Namun dalam tidurku, aku seperti mendengar suara perempuan yang sedang mengobrol. Tapi aku tak mendengar suara orang lain yang harusnya menjadi partner mengobrolnya. Mungkin hanya halusinasiku saja...
Dan ketika aku bangun, aku tidak menemukan siapa-siapa di ruanganku. Mungkin mereka tak ingin mengganggu tidur nyenyakku. Sampai kulihat seorang gadis dengan rambut pirang! T-tidak mungkin! Tidak mungkin dia gadis yang ada dalam mimpiku! Lalu... siapa dia? Sayangnya ia sedang tertidur dengan posisi menelungkupkan wajahnya dalam kedua tangan mungilnya, sehingga aku tak dapat melihat wajahnya. Tunggu, ia tertidur di sampingku... Apa dia... menungguiku?
Rasa penasaran tak dapat lagi kutahan. Aku menyenggol nyenggol bahunya. "Hey!"
Ia akhirnya bergerak. Mengucek-ngucek matanya, kemudian mendongak ke arahku. "Natsu! Kau sudah bangun! Kau tau, aku baru saja mau menjengukmu. Aku sudah susah payah berjalan kesini dibantu oleh Wendy. Taunya kau tertidur lagi. Dasar kebo!" Celotehnya panjang lebar. W..wajahnya sama persis seperti yang ada dalam mimpiku! Apa ini suatu pertanda? Tapi aku tak mengenalnya, dan ia tau namaku! Di sela-sela pertengakaranku dengan pikiranku sendiri, dari mata gadis itu meluncurkan beberapa bulir air mata.
"Hey, jangan menangis..."
"Maafkan aku..." Ia mengelap air matanya. Kemudian tersenyum dengan senyuman manisnya, seperti yang ia sunggingkan dalam mimpiku. Apa aku sedang bermimpi? Tanpa ia sadari aku mencubit punggung tanganku. Dan sepertinya aku tidak sedang bermimpi.
"Nah, gitu dong. Jangan nangis lagi!" Walaupun aku membalas senyuman manisnya, raut wajahnya nampak seperti... ketakutan?
"Natsu... kau tau siapa aku?" Tanyanya dengan nada seperti orang ketakutan. Namun ia masih memaksakan sebuah senyuman, yang jelas jelas adalah senyum paksaan. Tapi pertanyaannya... Apa ia dapat membaca pikiranku?
"Oh iya benar. Namamu siapa?" Tanyaku padanya. Namun sepertinya aku salah bertanya. Senyumnya langsung memudar. Raut ketakutannya sekarang ditambah dengan kekagetan.
"Maksudmu?" Kemudian ia menunduk, seperti hendak menyembunyikan sesuatu.
"Iya, namamu siapa? Aku tak pernah liat kau sebelumnya." Ia tak menjawab. "Kau mengenalku?" Tanyaku lagi. Ia hanya mengangguk. Dan masih menunduk.
"Maaf jika aku tak mengenalmu." Ucapku dengan sebersit rasa sedih dan kecewa. Namun aku tetap penasaran dengan gadis ini. Jika memang benar namanya seperti yang ada dalam mimpiku... "Kalau begitu, siapa namamu?"
"Lucy, Lucy Heartfilia." Hah! Benar! Ia gadis yang kutemui dalam mimpiku!
Namun aku malah melontarkan kalimat yang juga kuucapkan dalam mimpiku. "Lucy? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."
Dia tetap diam, tak mau menjawabku. Tapi aku memang tidak bertanya apa-apa. Kemudian aku melihat sosok wanita berambut merah panjang memasuki ruanganku, membawa sepotong kue strawberry, yang kurasa akan dia makan sendirian. Tunggu, mungkin ia tau gadis ini!
"Ah Erza! Kau tau siapa gadis ini? Dia mengenalku. Dia bilang namanya Lucy. Apa kau kenal dia, ne, Erza?"
PRANG!
Erza menjatuhkan kuenya. Tidak mungkin! Kenapa ia terlihat sangat kaget dengan pertanyaanku? Apa aku salah bertanya? Lebih sialnya lagi, ia akan membunuhku karena membuatnya menjatuhkan strawberry cake-nya! Matilah kau Natsu Dragneel!
Dan sang gadis pirang menengok ke arah Erza. Erza pun menengok ke arahnya. Kenapa tak ada yang menengok ke arah ku? #plak
Tiba-tiba gadis itu terjatuh dari kursinya, tak sadarkan diri.
"LUCY!" Erza berteriak memanggil nama gadis itu, jadi benar namanya Lucy...
[Normal POV]
Erza segera berlari ke arah Lucy. Ia menggendong Lucy ke pangkuannya, karena sebelumnya Lucy pingsan dengan posisi yang salah, tertiban kursi. Erza menggoyang-goyangkan kepala Lucy, berharap gadis itu segera bangun.
Mira berlari memasuki ruangan Natsu. Ia pun kaget dengan apa yang dilihatnya. Natsu yang sudah bangun namun pandangannya kosong, Erza yang sedang duduk dilantai dengan Lucy di pangkuannya dan Lucy yang tak sadarkan diri. Terlebih lagi ketika ia melihat piring pecah yang menimbulkan suara, yang membuatnya segera berlari ke ruang itu.
"Mira, bantu aku!" Erza memerintahkan Mira untuk membantunya membawa Lucy kembali ke klinik.
Setelah Lucy diletakkan di kasur klinik, Erza kembali ke ruangan Natsu, bersama Gray yang baru datang.
Erza memasukki ruangan Natsu dan melihat kue stoberinya yang sudah hancur lebur bersama pecahan piring. Gray juga melihatnya, namun dengan raut muka ketakutan karena sebentar lagi Erza akan membunuh seseorang yang membuat kuenya seperti itu. Namun Erza malah menghiraukannya, dan menyuruh Gray untuk membersihkan piring dan kuenya. Tentu saja Gray langsung sigap membersihkan pecahan kaca dan krim beserta kue berwarna pink itu, ketakutan bila tidak melakukannya, ia akan dibunuh oleh sang requip mage.
"Natsu!" Erza mengibas ngibaskan tangannya di depan muka Natsu. Natsu akhirnya sadar dari 'masa bengong'nya. Namun anehnya ia tak membalas panggilang Erza. "Heh! Natsu! Kau mau mati di tanganku ya?!" Erza pun melempar death glarenya ke arah Natsu.
"T-ti-dak Erza!"
"Ngomong-ngomong, apa yang kau maksud dengan pertanyaan tadi? Kau becanda ya?"
"Tentang gadis pirang itu kan?" Erza pun kaget dengan ucapan Natsu yang memanggil Lucy dengan sebutan 'gadis pirang'.
"Kau tidak mengenal Lucy?" Tanya Erza, berusaha kalem walaupun sebenarnya ia sangat shock.
"Kami baru berkenalan tadi. Hm, sebenarnya tidak. Ia mengenalku terlebih dahulu, aku tak tau darimana ia mengenalku. Tapi aku tak mengenalnya, maka dari itu aku bertanya namanya. Dan aku bertanya padamu apa kau mengenal gadis itu?"
Secara refleks Erza menjedotkan kepala Natsu ke tembok di belakangnya.
"AAW! Geez, apa yang kau lakukan Erza?" Ucap Natsu sambil mengusap kepalanya yang mulai benjol, padahal sudah dibalut perban karena lukanya yang sebelumnya.
"Menyadarkanmu dari candaanmu." Jawab Erza singkat. Masih menatap Natsu dengan tatapan mematikan.
"C..ca..candaan apa maksudmu? Aku benar benar tak kenal gadis itu!" Natsu pun menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Kita pergi melakukan misi dengannya, yang membuat semua badanmu sakit dan terluka! Kau menyerang Atra terakhir kali dengannya! D... dia... dia bersama denganmu dan menjagamu saat kau tak sadarkan diri sebelum aku datang!" Erza membentak Natsu dengan segala fakta yang ada. Wajah Natsu pun mengkaku, dia seperti memikirkan sesuatu.
"Bersamaku? Aku menyerang Atra sendirian, Erza!" Kali ini Natsu ngotot, tak mau kalah walaupun kali ini lawannya adalah seorang Erza Scarlet.
"Sendirian?" Erza mengulangi lagi kata-kata Natsu, tak yakin dengan kalimat sang dragon slayer. Sang dragon slayer hanya mengangguk dengan yakin.
PLAK! Erza menampar pipi Natsu. Yang ditampar hanya meringis, seperti tak berani mengucapkan satu kata pun.
"Bagaimana kau bisa lupakan partnermu, Bodoh!"
"P...pa...partner?"
"Hah! Sudahlah Natsu! Aku akan meninggalkanmu sebentar. Siapa tau otakmu akan membenarkan diri sendiri ketika aku pergi." Erza pun meninggalkan Natsu yang kesal karena sudah dibuat bingung. Sebenarnya Natsu juga telah membuat Erza bingung. Erza melihat Mira yang menunggu di luar ruangan. Di klinik sudah ada Lisanna yang menjaga Lucy, begitu kata Mira. Dan Erza menjelaskan semuanya pada Mira. Tentu pula Erza menjelaskannya pada master. Yang sekarang juga kebingungan akan apa yang terjadi.
IOIOIOIOIOIOIOIOI
Ckreek... Wendy memasuki ruangan Natsu membawa segelas cairan obat yang sudah ia ramu. Tentu dengan petunjuk dari Porlyusica. Wendy pun shock dengan apa yang ia dengan dari Mira, yang menjelaskan konflik antara Natsu dengan Lucy. Namun Wendy memasukki ruang Natsu dengan tenang. Ia menemui Natsu yang kembali memasang wajah bengongnya ditambah tatapannya yang kosong.
"Natsu-san?"
"Ah, ya Wendy?"
"Kau mau meminum obat ini? Aku sudah meramunya, resep langsung dari Porlyusica."
"Arigatou Wendy." Natsu pun menenggak segelas penuh larutan obat itu.
"Natsu-san? Boleh kah aku bertanya sesuatu padamu?" Wendy bertanya dengan nada yang ragu. Natsu hanya mengangguk kecil untuk membalas pertanyaan Wendy.
"Ini tentang misi terakhir kita kemarin... Kau menyerang Atra sendirian?"
"Hah... Rasanya aku sudah bosan ditanyai itu walaupun kau orang kedua yang menanyakannya padaku." Ucap Natsu dengan nada yang datar. Kali ini ia tak menatap Wendy, matanya menatap apapun yang ada di hadapannya, walaupun hanya sebuah tembok putih.
"K..kalau begitu aku tidak jadi –" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Natsu memotong Wendy.
"Ya, aku menyerangnya sendirian. Kau membawa Gray pergi bersama Happy dan Charle. Sedangkan Erza menyerang anak buah Atra yang menghadang kami sebelumnya. Aku benar kan?"
Wendy pun semakin gelisah, namun terus bertanya. "Apa Natsu-san ingat apa yang terjadi saat kalian bertarung?"
"Hm, itu hanya pertarungan biasa. Sayang sekali aku tak bisa mengalahkannya!"
"Apa yang terjadi terakhir kali sebelum Natsu-san pingsan?"
"Terakhir kali yang kuingat dia menyerangku dengan sebuah mantra... tapi aku tak bisa mengingat mantra itu."
"Terimakasih Natsu-san mau menjawab pertanyaanku. Kalau begitu, aku permisi dulu." Wendy pun memohon undur diri dari hadapan Natsu. "Ah ya, Natsu-san. Tadi aku sudah menitipkan obatmu pada Mira-san. Kata Porlyusica kau harus meminumnya lagi esok hari." Natsu hanya membalasnya dengan anggukan. Kemudian ia tertidur lagi, efek samping obat yang diberikan Wendy.
IOIOIOIOIOIOIOIOI
[Lucy POV]
Gelap? Aku berusaha membuka mataku. Kali ini terang. Dan sepertinya aku kembali berada di klinik guild. Apa yang terjadi? Kepalaku pusing sekali... Ah ya, Natsu... Mama... Apa ini yang mama takutkan padaku?
"Lucy!" Seorang gadis berambut putih pendek memanggil namaku.
"Lisanna..." Aku hanya membalasnya lemas, masih mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Syukurlah kau sudah bangun. Kau mau minum atau makan?" Tanyanya lembut.
"Tak usah Lis, kurasa aku ingin pulang saja." Jawabku memaksakan seulas senyum.
"Mau ku antar?"
"Tak perlu terimakasih, aku sudah merasa jauh lebih baik."
"Kau yakin? Aku hanya akan menemanimu berjalan sampai depan rumahmu."
"Baiklah jika kau memaksa."
Aku berjalan keluar klinik bersama Lisanna. Semua mata tertuju padaku. Aku melihat ke sekeliling. Tak ada pria bodoh berambut merah muda. Kurasa aku memang tak ingin bicara dengannya. Pintu ruangan tempatnya tertidur tadi juga tertutup. Terdengar suara seekor exceed di dalamnya, mungkin ada Happy disana. Syukurlah ada yang menjaganya.
Karena ada Lisanna, aku tak perlu memanggil Plue untuk menemaniku. Lagipula, aku juga sudah lemas. Di jalan kami tak mengobrol banyak. Lisanna hanya membincangkan misi yang dilaluinya bersama Mira dan Elfman tempo hari. Dia sama sekali tak membahas tentang Natsu. Aku juga tak mau bicara tentangnya.
"Ne, Lucy, kau banyak istirahat ya. Masih ada lukamu yang belum sembuh." Ucap Lisanna sebelum kami berpisah.
"Uhm, terimakasih Lisanna sudah mengantarku. Kurasa besok aku takkan pergi ke guild. Titip kan salamku untuk semuanya. Dan Lisanna,"
"Ya Lucy?"
"Aku mohon padamu, beritahukan pada Erza, Gray, Happy, atau siapapun, tolong jangan datang ke apartemenku sampai aku datang ke guild. Ini hanya satu permintaan kecil dan sederhana, aku mohon agar mereka menepatinya."
"Tentu saja. Aku mengerti Lucy. Kalau begitu aku pergi dulu. Cepat sembuh ya!" Balasnya dengan senyuman manisnya. Kemudian aku menunggu di depan pintu sampai sosoknya tak terlihat lagi.
Aku pun memasuki apartemenku, mengunci semua pintu, jendela, menutup gorden dan duduk di atas kasurku.
N... Natsu... Kenapa kau melupakanku? Dan kenapa hanya aku yang kau lupakan... Kenapa aku harus dilupakan oleh orang yang kucintai...
Air mata mulai membasahi pipiku. Namun mataku tetap kosong, menatap meja tulisku yang berada di hadapanku. Semakin lama tangisanku semakin deras. Namun tak menimbulkan suara.
Tanganku beralih ke depan dadaku. Sakit. Perih. Segalanya terasa campur aduk. Senang karena Natsu sudah sadar. Sedih karena ia melupakanku. Sakit, rasanya seperti dibuang, dicampakkan, tak ada gunanya.
Tetap dengan tangisanku aku berjalan menuju dapur. Nafsu makan sama sekali tak meliputi diriku. Aku hanya duduk di kursi makan. Aku melirik ke arah dimana ada peralatan memasak. Kurasa aku baru membeli pisau baru seminggu yang lalu...
Apa gunanya hidup bila orang yang kau cintai melupakanmu, bahkan tak mengenalmu?
Baru saja aku hendak berjalan menuju pisau itu...
"LUCY!"
.
.
.
Eng ing engg... kira kira siapa ya orang yang manggil Lucy? Semoga saja ia bisa menghentikan Lucy dari masak-memasak... Eh, bunuh diri maksudnya *dilempar sepatu*. Jangan ditiru ya apa yang Lucy pikirkan huhuhu... Istilahnya... Don't try this anywhere!
Gomen karena chappy ini rada sedikit pendek soalnya mengulang mimpi mereka berdua tapi dari sudut pandang Natsu~ Kalau begitu, mari kita membalas review~
Yodontknow : hihihi terimakasih ^^ Semoga chappie selanjutnya bisa lebih bagus lagi ;)
Santikafansnalu : Waah ada fans nalu disini, hihihi~ Bukan amnesia Santika-san... insomnia yang bener... *dijedotin ke tembok*
Reka amelia : Hihihi, serasa ibu peri... Berarti Reka-san masih punya 2 permintaan lagi~ #loh
Vanessa Synyster : Yang ditunggu tunggu sudah tibaaa~ (Sfx: jengjengjeng)
Pidachan99 : Pida-chan! *ikutan sksd* hihihi, kan bersedih-sedih dulu bersenang-senang kemudian. Berdoa saja semoga Natsu cepat ingat kembali tentang Lucy :'3 Huweee Pida-chan jangan sedih doong entar Karin juga ikutan sedih hiks hiks hiks... Nah, kalau begitu lain kali pida-chan yang beliin Karin pulsa modem #lah #abaikan
Nnatsuki : Kenalan dulu deh sama Natsu biar gak dilupain hihihi... Pengennya sih Natsu cepet-cepet inget, tapi entar ficnya juga cepet-cepet berakhir dong hihihiw
Ananda anfi : Terimakasih :3 Ini sudah diupdate secepat mungkin hihihihi
Nshawol56 : Kyaaah bella-san aku dipanggil jahat hikshikshiks... Jangan sedih dooong hikshikshiks *ngelap air mata* berdoa saja agar Natsu segera ingat Lucy hihihi :3
Terimakasihh bagi yang sudah membaca dan mereview. Sampai ketemu di chapter selanjutnyaaaaaa~
Jaa~
