Hai hai, Karin-chan datang untuk melanjutkan 4 dari Remember Me *pops confetti* #lebay Langsung disimak ya ;)

Disclaimer

Fairy Tail milik Hiro Mashima


Previous Story

Tetap dengan tangisanku aku berjalan menuju dapur. Nafsu makan sama sekali tak meliputi diriku. Aku hanya duduk di kursi makan. Aku melirik ke arah dimana ada peralatan memasak. Kurasa aku baru membeli pisau baru seminggu yang lalu...

Apa gunanya hidup bila orang yang kau cintai melupakanmu, bahkan tak mengenalmu?

Baru saja aku hendak berjalan menuju pisau itu...

"LUCY!"

.

Remember Me

.

Genre : Romance

.

Pair : NatsuXLucy

.

Maaf bila gaje, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya

.

[Lucy POV]

"LUCY!"

'Ah! Cora!'

"Lucy aku mohon hentikan niatmu ini."

Aku terdiam. Lucy baka. Kenapa kau begitu bodoh...

"Kau tidak bodoh Lucy..."

'T..terimakasih Cora... Ma..maafkan aku...' Aku kembali menangis, namun tak sendirian. Aku ingat ada Cora yang menemaniku. Walaupun wujudnya belum kuketahui.

"Sesama sahabat harus saling membantu kan?" Aku tersenyum. Walaupun aku belum bisa melihat wujud Cora, aku bisa merasakan ia sedang tersenyum hangat kepadaku.

"Lagipula Lucy-san, kau tidak boleh pergi hanya karena satu orang, masih banyak nakamamu yang lain yang sangat menyayangimu. Masih ada pula kami para spirit yang siap menemanimu dan melindungimu kapan pun dan dimana pun."

Kemudian aku menangis sejadi-jadinya. Cora benar. Walaupun Natsu melupakanku, masih banyak nakamaku yang ingat dan sayang padaku.

"Justru kau harus mendekati Natsu dan mengingatkannya tentang dirimu Lucy-san!"

'Ah ya, kau benar Cora. Maafkan aku karena hendak bertindak bodoh. Dan jika kau ingat, panggil saja aku Lucy hihihi.'

"Baiklah Lucy hihihi."

Aku segera menghentikan tangisanku. Dan menyunggingkan senyum terbaikku. Entah untuk siapa. Yang jelas aku tidak ingin terpuruk lagi. Ya, aku harus terus menjelaskan kepada Natsu tentangku.

Aku beranjak ke kamar mandi. Dan berendam disana selama satu jam penuh. Berendam dengan air hangat memang yang terbaik.

IOIOIOIOIOIOIOIOIOI

[Normal POV]

Keesokan harinya...

"Tadaimaaa!" Seorang gadis berambut biru bergelombang membuka pintu guild, diikuti oleh seorang pria berambut hitam berantakan, dan seekor exceed hitam di sampingnya.

"Okaeri, Levy. Bagaimana misimu?" Tanya Mira yang sedang mengelap gelas-gelas.

"Berjalan dengan baik Mira, hihihi. Ohya, dimana Lu-chan? Apa dia sudah kembali dari misinya?" Tanya Levy pada Mira. Memang belum terlihat Lucy dan anggota timnya. Lucy sih, memang absen hari ini.

"Ah, ano, Levy. Lucy tak akan datang ke guild hari ini. Ada sesuatu yang terjadi." Jawab Mira dengan nada sedikit ragu.

"Apa itu Mira? Kenapa sampai Lu-chan tidak datang, apa ia sakit?"

"Bukan itu... Ayo kita pergi ke perpus..."

Mira dan Levy pun berjalan ke perpustakaan guild yang sepi, karena masih pagi. Lagipula jarang sekali ada yang mampir ke perpustakaan. Setelah melihat keadaan sudah aman, Mira menjelaskan semuanya pada Levy.

"J.. jadi... Natsu amnesia?" Raut wajah Levy terlihat sangat kaget. Mira hanya mengangguk pelan. "Dan yang ia lupakan hanya... Lu-chan? Bagaimana ini bisa terjadi Mira?"

"Aku juga tidak tau Levy. Awalnya baik baik saja karena Natsu mengobrol denganku, Lisanna dan yang lainnya biasa saja. Tapi saat Lucy datang, ia tak mengenalnya."

"Baiklah Mira, kurasa aku akan pergi ke apartemen Lucy sekarang." Levy pun beranjak pergi ke apartemen Lucy.

"H..hey! Lev –" Belum sempat Mira memperingati Levy, script mage itu sudah berlari ke tempat sahabatnya.

IOIOIOIOIOIOIOI

Levy pun sampai di sebuah gedung kecil di Strawberry Street. Ia berdiri di depan pintunya. Kemudian mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu dengan pelan. "Lu-chan! Kau ada di rumah?"

"Aku tidak menerima tamu!" Sahut Lucy dari dalam rumah. Ia sudah memutuskan untuk tidak bicara dengan siapa pun di guild, hanya untuk hari ini.

"Ini aku Levy!"

"Ah! Levy-chan!" Lucy pun membuka pintu. Ia segera mempersilahkan Levy masuk dan langsung mengunci pintu kembali.

"W..wow. Apa yang terjadi pada rumah mu ini Lu-chan..." Levy berdiam diri di tempat. Ia kaget melihat rumah Lucy yang –tumben sekali– berantakan. Potongan tisu dimana-mana, plastik makanan kecil berserakan, dan piring-piring serta pakaian yang belum dicuci.

"L..Lu-chan..."

"Ah maaf Levy-chan. Rumahku berantakan sekali ya hehe. Biarkan aku membereskannya sebentar." Lucy pun membereskan segala sampah yang ada, dan membuangnya di kantong plastik besar. Sedikit menyapu karpet dan mempersilahkan Levy duduk di atas kasurnya.

Levy melihat wajah sahabatnya. Pucat, matanya merah, terdapat kantung mata yang cukup besar dan warnanya hampir menghitam. Sebelum Levy dapat mengucapkan satu patah kata pun, Lucy segera menghambur ke pelukan Levy dan menangis (untuk kesekian kalinya).

"Levy-chaan... hiks... bagaimana bisa... hiks..." Ucap Lucy disela isak tangisnya.

"Lu-chan, bersabarlah." Balas Levy menepuk-nepuk pundak sahabatnya, berusaha membuat Lucy merasa lebih tenang.

"T..ta..tapi aku... partnernya... hiks..."

Levy membiarkan Lucy menangis, siapa tau dengan itu pikirannya bisa tenang. Setelah Lucy berhenti menangis, Levy membuat sedikit permohonan agar sang celestial mage menjelaskan yang terjadi. Walaupun Mira sudah menjelaskannya, namun Levy tetap ingin mendengarnya dari saksi utama sekaligus korban.

Lucy menceritakan segalanya, mulai dari misi apa yang mereka ambil, pertarungannya bersama Natsu melawan Atra, Natsu tak mengenalnya, kemudian ia yang kabur dan menangis seharian semalaman.

"Mantra? Jadi saat kau membaca Urano Metria, dia juga melantunkan mantra? Apa kau ingat mantra itu Lu-chan?" Tanya Levy, berusaha menemukan penyebab ke-amnesia-an Natsu.

"Levy-chan, jika aku mengingat mantra itu mungkin aku akan mencarinya sampai aku menemukannya."

"Maafkan aku Lu-chan."

"Hey kenapa minta maaf, justru aku yang bodoh karena membiarkan Natsu terkena mantra itu. Ditambah Atra yang kabur. Seandainya aku bisa lebih kuat." Ucap Lucy kemudian melepas sebuah desahan.

"Ini bukan salahmu Lu-chan, ini... takdir." Lucy hanya mengangguk pasrah. "Lu-chan, kau tidak boleh sedih. Hari ini kamu mau ke guild tidak?"

"Dengan wajah seperti ini? Sepertinya tidak Levy-chan." Lucy menggeleng pelan, kemudian tersenyum tipis.

"Baiklah, biarkan sahabatmu ini menginap disini semalaman, boleh boleh?" Levy bertanya sambil memasang puppy eyes-nya.

"Tentu saja Levy-chan, kau memang sahabat yang terbaik!" Lucy menyunggingkan senyum manisnya dengan tulus.

IOIOIOIOIOIOIOIOI

Sementara itu di guild...

"Mira, apakah Lucy sudah datang?" Tanya Erza kepada barmaid cantik itu.

"Ah, Erza, dia tidak akan datang hari ini. Bukannya Lisanna sudah bilang kemarin?"

"Oh iya iya... Ngomong-ngomong, dimana Natsu? Dia juga belum datang?"

"Belum, Happy pun belum nongol seharian. Aku jadi khawatir."

Mereka berdua pun berbincang perihal Lucy dan Natsu. Sampai akhirnya yang diobrolin pun muncul di ambang pintu guild.

"Ohayo Minna!" Sahut sang dragon slayer api. Diikuti oleh Happy yang terbang di sampingnya.

"Ohayo Natsu, dan kau tau? Ini sudah siang tau." Balas Mira pada Natsu. Natsu hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

Natsu melihat ke sekeliling guild. Biasa saja. Erza yang menyuapi dirinya dengan strawberry cake favoritnya, Cana yang sedang minum bir langsung dari barrelnya, Elfman yang berbacot tentang kejantanannya, dan lain sebagainya. Namun Natsu merasakan sesuatu yang hilang. Sampai akhirnya ia sadar...

"Oy, Mira, Ice Princess belum datang?" (gubrak)

"Waah kalian sudah mulai akur ne?"

"T-tidak! Aku hanya ingin berantem saja dengan dia!" Natsu pun melayangkan beberapa tonjokan kecil ke angkasa, membayangkan ia sedang menonjok seorang ice mage.

"Ia sedang pergi bersama Juvia." Jawab Erza singkat, kemudiam mengunyah kue tercintanya itu lagi. "Dan jangan ganggu waktuku bersama kueku, Natsu." Erza melepaskan death glarenya pada Natsu. Yang di tatap hanya menelan ludah dan meresleting mulutnya.

"Kyaaaaaa~ Akhirnya ada pasangan baru di guild~ Kyaaa~ Aku senang sekali~" Ucap Mira dengan bahagia dan semangat sambil menari-nari nggak jelas. Erza dan Natsu hanya bersweatdrop melihat tingkah laku sang take over mage.

"Konnichiwa Minna!" Terdengar suara dua orang gadis dari depan pintu Fairy Tail.

"Ah konnichiwa Lucy! Levy!" Mira pun memberhentikan adegan menarinya dan menyambut kedua mage itu. Mereka berdua pun berjalan menuju bar. Tak menyadari adanya seorang lelaki berambut merah muda di samping Erza.

"Kau datang juga Lucy!" Sambut Mira kemudian tersenyum gembira.

"Kau tau Mira, sulit sekali membujuk Lu-chan untuk datang hari ini, ya kan Lu-chan?" Levy pun menyenggol-nyenggol bahu Lucy. Namun yang disenggol hanya diam saja. "Lu-chan?" Levy menengok ke arah sahabatnya. Sedang sahabatnya sedang beradu tatap dengan seseorang di belakang Erza.

[Lucy POV]

Beberapa menit sebelumnya...

"Ayolaaah Lu-chan! Kami sangat merindukanmuuuu!" Pinta Levy dengan puppy eyesnya lagi.

"Jadi kau kesini untuk menginap atau membawaku ke guild eh Levy-chan?" Tanyaku dengan nada menyelidik. Levy tidak menjawabnya, tetap memasang tatapan memelas pada kedua bola matanya. "Baiklah baiklah, tapi aku ke guild hanya untukmu Levy, bukan untuk bertemu Natsu."

Aku dan Levy berjalan santai menuju gedung Fairy Tail. Kita membincangkan berbagai macam hal. Termasuk misi terakhir Levy bersama Gajeel dan Lily tempo hari. Tentu saja aku menggoda Levy habis-habisan. Tak bisa membela diri, Levy hanya blushing hebat dan salting-salting gitu deh. #lah

Kami pun sampai di guild. Aku sempat berhenti sejenak di depan pintu. Namun Levy meyakinkanku dengan senyuman tulusnya. Kami akhirnya melangkah memasuki guild.

"Konnichiwa Minna!" Sahut kami berdua kepada seluruh isi guild.

"Ah konnichiwa Lucy! Levy!" Sahut Mira membalas sapaan kami. Aku dan Levy berjalan meunuju bar. "Kau datang juga Lucy!" Sambut Mira kemudian tersenyum gembira.

"Kau tau Mira, sulit sekali membujuk Lu-chan ..." Levy bersuara namun aku seperti tak mendengarnya. Aku menengok ke samping kanan. Dimana ada Erza, dan seorang dragon slayer berambut pink. Badanku membeku. Seolah tak ingin bergerak kemana pun, bukan tak ingin. Tentu aku ingin lari sekarang kemana pun aku bisa. Tapi aku tak bisa. Kakiku seperti telah ditancapkan paku besi yang super besar. Mulutku terkatup rapat, tak mampu mengeluarkan satu patah kata. Diam seribu bahasa. Dan... aku menatap mata onyxnya, yang lembut. Namun sekarang terlihat... hampa? Entah apa yang ada di pikirannya. Ia pun tetap diam di tempat. Tak tau kenapa, perasaanku tenang saat melihatnya baik-baik saja. Namun saluran air mataku memforsirku untuk mengeluarkan bulir bulir airnya. Aku menggigit bibir bawahku, agar bisa menahan tangisanku yang tak tau kapan akan tumpah.

"Lu-chan? Lu-chaaaan?" Levy menyenggol-nyenggol bahuku. Aku pun tersadar dari lamunan yang mencanggungkan itu.

"Ah ya Levy-chan?" Tanyaku singkat, aku tak tau suaraku sudah bergetar atau tidak.

"Lu-chan..." Levy menahan kalimatnya, ia menatap mataku namun mataku menatap yang lainnya. Bukan Natsu, tapi... entahlah. Tatapanku kosong. "Lu-chan, ayok kita ke perpus! Kau tau? Novel favorit kita sudah terbit dan sudah masuk perpustakaan guild. Ayo! Kami duluan ya Mira, Erza, Natsu!" Levy pun menggamit tanganku dan mengajakku berlari kecil menuju perpustakaan guild. Levy-chan, kau memang sangat mengerti aku...

IOIOIOIOIOIOIOI

[Normal POV]

"Kau benar-benar tidak merasakan sesuatu Natsu?" Tanya Erza pelan, kemudian masih menyuapi dirinya dengan strawberry cake yang kedua.

"Merasa apa Erza? Kau berbicara tentang Lucy?" Natsu malah balik bertanya. Mungkin otaknya lagi dilanda konslet hebat. (Karin: sebenernya otak Natsu emang udah konslet ya muahaha ._.V)

"Kau sudah mengingatnya?" Giliran Mira yang bertanya.

"Mengingatnya? Kami saja baru bertemu kemarin. Apa lagi yang harus kuingat?" Jawab Natsu setengah bertanya dengan nada yang polos. Well, dia memang benar-benar tidak mengingat apa pun tentang seorang gadis bernama Lucy Heartfilia.

Erza bangkit dari kursinya, strawberry cakenya telah habis, dan ia tak mau membantai Natsu yang 'lupa ingatan' itu karena termakan emosi. Mira hanya mendesah pelan. Kemudian hendak meninggalkan Natsu, pergi ke dapur.

"Tapi, aku merasa ada sesuatu yang hilang." Gumam Natsu pelan. Hatinya terasa hampa. Walaupun ada Happy, ia sedang pergi bersama Wendy dan Charle. Walaupun ada Gray, ia sedang pergi bersama Juvia. Walaupun ada Lisanna... entah, ia masih merasakan ada yang kurang.

Tanpa sepengetahuan Natsu, Mira mendengar keluhan Natsu. Namun ia tetap berjalan ke dapur. Dengan banyak pertanyaan menggantung di otaknya. Tentu ia tak akan bertanya sekarang, yang akan membuat Natsu pusing dan bingung.

IOIOIOIOIOIOIOI

[Natsu POV]

Apa yang akan kulakukan hari ini... Misi? Kurasa tidak. Semua orang pergi... Bahkan si pervert pergi bersama Juvia? Hah. Membosankan.

"Hey, Natsu!" Terdengar suara seorang gadis memanggilku.

"Oh Lisanna." Jawabku singkat.

"Kau tidak ada kerjaan ya?" Tanyanya dengan nada yang manja. Aku hanya mengangguk. "Mau pergi bersamaku ke taman? Kudengar nanti malam akan ada pesta lampion. Pasti akan sangat indah. Kau mau menemaniku?"

Pesta lampion? Entah kenapa aku tidak tertarik. Yah, daripada mati kebosanan di guild? Aku melukiskan cengiran khasku di wajahku. "Wah, kedengarannya menyenangkan! Tentu saja Lis!"

"Baiklah. Aku akan pulang sebentar untuk berganti baju. Kau tunggu disini ya!" Ucap Lisanna kemudian mengedipkan sebelah matanya. Wanita...

IOIOIOIOIOIOIOI

[Lucy POV]

Setelah aku bisa mengendalikan diriku, Levy berinisiatif untuk mencari mantra yang diucapkan Atra pada Natsu. Petunjuk kami satu-satunya hanyalah bahwa Atra seorang shadow mage. Kenapa aku begitu bodoh sehingga lupa akan mantra itu? Hih Lucy BODOH! BODOH BODOH!

"Lu-chan, ini semua buku mengenai shadow mage. Ini saja baru yang ada di guild kita, kau mau mencoba pergi ke perpustakaan sihir di kota?" Tanya Levy, ditangannya sudah ada tumpukkan buku-buku tebal. Saking banyaknya, buku-buku itu hampir menutupi penghilatannya.

"Levy-chan, biar aku bant–"

"Hey, kecil. Gadis pendek sepertimu tak boleh bawa buku seberat dan sebanyak ini." Tiba-tiba Gajeel muncul, memotong ucapanku, dan menculik buku-buku tebal itu dari tangan Levy. Terlihat semburat merah bermunculan di permukaan pipi Levy. Kyaaa~ Kawaii

"Hey jangan panggil aku kecil tau!" Ujar Levy sambil pura-pura memukul Gajeel.

"Kyaaa~ Kalian unyu sekalii... Gajeel, cepat lah nyatakan perasaanmu pada sahabatku ini..." Aku mulai menggoda pasangan imut itu.

"Lu-chan!" Levy menggembungkan pipinya, yang kini memerah sempurna. Gajeel hanya mendengus pelan namun pipinya juga memerah. Hihihi, betapa lucunya mereka. Seandainya... aku juga begitu... dengan... N... Ah Lucy! Dia saja melupakanmu! Bagaimana bisa kau mengingatnya...

"Hey, Lu-chan. Kau sedang memikirkan apa?"

"Ah tidak apa-apa Levy-chan. Ayo kita cari mantra itu. Siapa tau aku ingat sesuatu. Hey, Gajeel, kau mau membantu kita mencari?"

"Tentu saja tidak Bunny Girl. Aku payah dalam membaca."

"Neee, makanya kau harus pacaran dengan Levy-chan! Kan saling melengkapi!" Sahutku sambil menunjukkan kedua telunjukku, dan menyatukannya.

"A..ah! Sudah aku mau pergi saja!"

Akhirnya calon pacar Levy-chan pun pergi. Dan kami mulai mencari mantra-mantra milik shadow mage.

IOIOIOIOIOIOIOI

[Natsu POV]

"Natsu! Ayo pergi!" Lisanna memasuki guild, kemudian berlari kecil dan menggandeng tanganku. Aku hanya diam saja, mengikuti sang take over mage yang berjalan menuju taman kota.

Sejujurnya aku sedikit merasa kurang nyaman. Lisanna terus menggelendot manja di bahuku. Namun aku tak menghiraukannya. Kami terus berjalan ke taman kota. Banyak sekali orang lalu lalang, yang mengira kita adalah pasangan. Sejujurnya aku tak keberatan dengan anggapan oran-orang. Namun aku merasa ingin bersanding dengan orang lain... Tapi aku tak tahu dengan siapa...

IOIOIOIOIOIOIOI

[Lucy POV]

"Levy-chan! Levy-chan! Aku menemukannya!" Aku melambai-lambaikan buku yang berada di tanganku. Sudah tiga jam kami mencari mantra itu, tentu dengan bantuan kacamata yang bisa membaca super cepat. Aku tidak tau sudah berapa buku yang kubaca. "Sepertinya sih yang ini..."

"Benarkan Lu-chan?" Tanya Levy dengan wajah sumringah. Ia berlari menghampiriku. Dan kami pun membaca kalimat-kalimat yang ada di buku itu.

"Oh Deus tenebras...

Ut Demonstra mihi tenebras delebit.

Omne delere anima... Quod est in corde...

O Deus umbra... Demonstra mihi vestram tenebras!

Efek : Mantra ini dapat membuat pikiran yang terkenanya akan terkendali oleh pelantun mantra. Ia akan melupakan orang-orang dan hanya mengingat pelantun mantra ini."

"Melupakan orang-orang? Dia mengingat semua orang kecuali aku..." Gumamku pelan, sepertinya Levy dapat mendengarnya.

"Apa kau tidak salah dengar mantra Lu-chan?" Tanya Levy sambil terus membaca mantra mantra itu dalam hati.

"Ini tepat seperti yang kudengar. Walaupun aku lupa, tapi aku yakin betul ini mantra yang diucapkan di shadow mage itu." Sahutku meyakinkan Levy.

"Baiklah, aku percaya padamu. Lalu bagaimana cara memecahkan efek dari mantra ini?"

"Hah, aku juga bingung... Disini tak ada petunjuk mengenai cara menyembuhkannya."

"Tunggu Lu-chan! Tadinya Atra itu akan mengenaimu mantra ini kan?" Aku mengangguk pelan. "Jadi, sebenarnya ia mau mengendalikan pikiranmu!"

"Ah ya kau benar Levy-chan! B...bagaimana bisa..."

"Kau harus berhati-hati Lu-chan. Mungkin saja penyihir jahat itu masih ingin mengejarmu..."

"Kau benar Levy-chan..."

Suasana menjadi hening. Levy terus membaca buku lain, siapa tau ada solusi dari masalah lain. Sementara aku memikirkan Natsu dan Atra. Atra ingin mengendalikan pikiranku? Untuk apa? Aku kan lemah... Lalu kenapa Natsu hanya melupakanku? Ah! Pikirannya sudah dikendalikan Atra! Tapi mengendalikan pikiran bukan berarti bisa membuat Natsu melupakanku saja kan? Atau mungkin... Atra telah...

"Lu-chan." Panggil Levy. Aku hanya menengok ke arahnya. "Kau tau? Berjam-jam disini membuatku sumpek, mau ke taman kota? Kudengar ada pesta lampion malam ini. Sebentar lagi kan malam, mau temani aku kesana?"

"Tawaran yang bagus Levy-chan. Kurasa cahaya lampion yang indah bisa menghiburku dan menghilangkan penatku."

"Baiklah, aku pulang dulu ya. Mandilah dan berganti baju yang cantik! Kudengar seluruh guild akan pergi kesana." Sahut Levy bahagia, pipinya bersemu merah.

"Hey, bilang saja kau mau tampil cantik di depan Gajeel." Ucapku menyenggol-nyenggol bahu Levy.

"T-ti-tidak!"

"Baiklah baiklah~ Ayo pulang."

IOIOIOIOIOIOIOI

[Normal POV]

Lisanna dan Natsu berjalan-jalan di sekitar taman kota. Malam ini angin lumayan kencang, dan tentunya dingin. Daun-daun berguguran dengan indahnya, diikuti cahaya warna-warni dari lampion yang menggantung dimana-mana. Bintang-bintang bertebaran di langit, seolah bedak yang ditumpahkan ke lantai. Bulan bersanding dengan ratusan kilauan kecil dari bintang-bintang itu.

Selain lampion, disana juga banyak orang berjualan. Ada yang berjualan takoyaki, dorayaki, onde-onde (Karin : kalian tau onde-onde jepang?), es serut, wedang jahe(?), jamu(?), dan lain sebagainya. Ada juga yang menawarkan permainan kecil, bila bisa memenangkan permainan itu, akan mendapat hadiah.

"Ne, Natsu, ayo kita beli es serut. Aku ingin sekali makan itu sejak seminggu yang lalu."

"Kau yakin Lisanna? Malam ini cukup dingin loh."

"Hey, aku tak yakin seorang fire dragon slayer berkata seperti itu. Hahaha."

"Oh iya ya benar juga." Jawab Natsu polos. Lisanna semakin tertawa terbahak-bahak. 'Natsu tidak pernah berubah... Tetap menjadi orang yang... kucintai...' Batin Lisanna dalam hatinya. Mulutnya menyunggingkan sebuah senyum manis.

Mereka berjalan menuju stand es serut. Lisanna membeli es serut rasa strawberry, sementara Natsu tak membeli es serut. Kau tau? Natsu kan benci Gray...

"Aku lelah, mau duduk disana?" Lisanna berkata manja sambil menunjuk sebuah bangku taman di bawah pohon. Natsu hanya mengangguk dan berjalan menuju bangku itu.

Sementara di tempat lain...

"Waaa sugoiiii. Tempat ini menjadi indah sekali ne Lu-chan?"

"Uhm, kau benar sekali Levy-chan. Terimakasih sudah mengajakku kemari."

"Hey, itu biasa saja. Ayo berjalan lagi."

Kedua kutu buku itu berjalan-jalan mengelilingi taman kota yang sekarang sudah seperti pasar malam. Gemerlap lampion cukup untuk menerangi stand-stand para pedagang. Sampai akhirnya mereka berhenti di suatu tempat. Menikmati angin sepai sepoi menyetuh kulit mulus mereka.

"Hey Lu-chan itu kan Nat–" Levy menutup mulutnya, ia sepertinya salah bicara. Namun terlambat. Lucy menengok ke arah dimana ada Natsu dan Lisanna yang sedang duduk di bangku taman. Tampak Lisanna berbicara sesuatu pada Natsu. Kemudian Natsu tersenyum, dan wajahnya kian mendekati wajah Lisanna...

.

.

.


Taraaaaaa! Apa yang akan terjadi?! Simak kelanjutannya di chappie berikutnya! Hahaha, Karin jahat sekali. Ngomong-ngomong, aku ngebut bikin ini chapter jadi kalo rada jelek harap maklum. Soalnya mulai hari ini aku udah memulai rangkaian ospek. Hiks hiks hiks jadi selama 2 minggu kedepan mungkin Karin gak akan update... Maaf sekali ya para pembaca setiaakuuu #plak

Nah, jangan bersedih-sedih, mari kita membalas review!

Nnatsuki : Aku beneran gak mau nyiksa Lucy... Beneran kok... ciyuss #plak

Yodontknow : Haduh jangan nyesek dong entar Karin tanggung jawab(?)nya gimana hiks hiks...

Hana Hii-chan : Gakjadi bunuh diri kok. Dan yeaaayyyy! Tebakan hana-chan benarrrr! Dan yah, memang sekolah emang bikin super sibuk. Tapi sekarang Karin mau kuliah (uhuyy) dan tentu lebih sibuk lagi T-T tapi aku akan berusaha update secepat mungkin~

Ananda anfi : kapan-kapaaan~ haha becanda deng. Tenang aja Natsu bakal inget Lucy kok... tapi... tunggu tanggal mainnya! Hehehehe

Hanara VgRyuu : Wah, terimakasih. Ohiya aku gak merhatiin hal seperti itu hehehe, maafkan Karin ya... Mungkin Porlyusica yang ini Porlyusica super(?) hahahaha

Pidachan99 : Jeng jenggg tebakannya salah semua... sayang sekali yah... coba bisa nebak... entar... gak dikasih apa apa hohohoho...

Himiki-chan : Terimakasih himiki-chan! Ini sudah dilanjutkan~

Nshawol566 : Gakpapa mau pake akun apa ajah yang penting ada namanya hohoho. Kyaaa~ Kali ini juga ada Lisannanya... Hm, karin bingung mau bikin Lisanna baik atau jahat yaahhh... Tapi kalo jahat kasian entar konfliknya Lucy nambah lagi hiks hiks... tapi... lihat saja nanti hehehe... tenang, Lucy gak jadi bunuh diri kok :')

Azalya dragneel : Lucynya gak bakal mati kok tenang aja... Entar ficnya abis dong hihihi X)

Orange-chan : Iya Natsu kok tega ngelupain Lucy hihihi... Boleh panggil apa aja yang penting bukan Karin-sensei hahaha berasa tua dong ntar X(

Okey okey, terimakasih ya minna yang udah baca dan review! Kalian bikin Karin super semangat! Jangan lupa review lagi ya muehehehe

Ohiya, gomen sekali kalo Karin update agak lama... Ospek oh ospek... *mijet-mijet kaki sendiri* Doakan Karin agar bersenang-senang saat ospek yahhh :')

See you at the next chapter!