Minna! Yosh! Maaf beribu ribu kali karena Karin udah lamaaaa banget updatenya. Tapi ospeknya udah selesai kok! Alhamdulillah banget hahaha. Langsung disimak aja yah! Dan terimakasih buat para readers yang telah setia menunggu :3

Disclaimer

Fairy Tail milik Mashima-sensei ^^


Previous Story

Kedua kutu buku itu berjalan-jalan mengelilingi taman kota yang sekarang sudah seperti pasar malam. Gemerlap lampion cukup untuk menerangi stand-stand para pedagang. Sampai akhirnya mereka berhenti di suatu tempat. Menikmati angin sepai sepoi menyetuh kulit mulus mereka.

"Hey Lu-chan itu kan Nat–" Levy menutup mulutnya, ia sepertinya salah bicara. Namun terlambat. Lucy menengok ke arah dimana ada Natsu dan Lisanna yang sedang duduk di bangku taman. Tampak Lisanna berbicara sesuatu pada Natsu. Kemudian Natsu tersenyum, dan wajahnya kian mendekati wajah Lisanna...

.

Remember Me

.

Genre : Romance

.

Pair : NatsuXLucy

.

Maaf bila gaje, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya

.

[Normal POV]

Malam yang tak terlalu hening dan tak gelap pula. Taman kota Magnolia kini dipenuhi manusia dari segala kalangan, juga dipenuhi lampion berbagai bentuk memancarkan bermacam-macam warna yang indah.

Kini dua orang insan sedang duduk di kursi taman. Seorang gadis, dan seorang lelaki. Sang gadis sedang menikmati es serut dan sang lelaki hanya menatap lampion-lampion saja.

"Aduh, Natsu! Mataku kelilipan! Boleh tiupin gak?" Tanya gadis yang berambut silver pendek itu sambil mengedip-ngedipkan mata kanannya yang mulai perih.

"Hahaha, kau ini ada-ada saja Lis." Pria yang bernama Natsu itu pun tertawa konyol.

"Hey, cepatlah! Mulai perih tau!"

Natsu pun mendekati mata Lisanna. Belum sempat meniup mata Lisanna, mereka mendengar suara teriakan seorang gadis.

"LU-CHAN!" Ternyata itu adalah suara Levy. Dan terlihat Lucy yang sedang berlari ke luar taman. "Ah, Natsu, Lisanna, maafkan kami. Kami duluan ya." Levy pun undur diri dan mengejar Lucy.

IOIOIOIOIOIOI

Lucy berlari sekuat tenaga. Pun ia menahan bendungan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Lucy tak lagi melihat apa yang ada di depannya, ia menunduk, takut melihat apa yang baru saja ia lihat beberapa detik yang lalu.

BRUK!

"Ah Lucy, kau tidak apa-apa?" Tanya seorang gadis, yang tentu mengenal Lucy. Ia pun membantu Lucy bangun karena sebelumnya ia terjatuh, bertabrakan dengan gadis itu.

"Juvia! Sedang apa kau disini?" Lucy malah balik bertanya, kemudian menepuk-nepuk roknya yang terkena debu jalan.

"Tentu saja Juvia sedang pergi kencan bersama Gray-sama. Lucy sudah mau pulang?"

"Ah iya sepertinya begitu." Jawab Lucy singkat.

"Lu-chan!" Tampak Levy berlari sambil memanggil nama Lucy, tentunya sambil ngos-ngos-an. "Ah halo Juvia." Levy menyunggingkan sebuah senyum pada sang water mage.

"Halo Levy. Kalian tak mau datang ke festival lampion? Nanti akan Juvia traktir deh. Kan Juvia baru aja jadian sama Gray-sama!" Jelas Juvia, matanya kini sudah berubah bentuk menjadi hati berwarna merah muda, pipinya merona dan jelas Juvia tersenyum sangat lebar.

"Ah ti –"

"Juvia memaksa. Atau love rivalku tak setuju dengan hubungan Juvia dengan Gray-sama?!" Juvia melemparkan death glare-nya pada 'love rival'nya. Lucy pun menelan ludahnya dan tentu saja setuju dengan ajakan Juvia. Levy pun ikut bersama Lucy dan Juvia.

Ketiga gadis itu kembali berjalan menuju taman kota, dimana festival lampion diadakan. Ternyata disana Gray sudah menunggu. Saat melihat Gray, Juvia pun langsung berlari dan menggamit tangan ice mage itu, seakan takut Gray akan direbut oleh mantan love rivalnya yang berambut pirang.

"Aah kalian cocok sekali. Ya kan Lu-chan?" Sahut Levy melihat kedua pasangan itu sudah mulai bermesraan. Lucy hanya mengangguk, tentu saja ia senang Juvia sudah bersama Gray, agar ia tak mendapat julukan 'love rival' dari Juvia.

"Oh Flame Head! Kau pergi bersama Lisanna eh?" Ucap Gray pada seseorang, lebih tepatnya kepada satu orang lelaki dan seorang perempuan yang menggandeng tangan sang laki-laki.

"Yo Ice Cube! Juvia! Levy! Luigi!" Natsu pun mengabsen nakamanya yang ada dihadapannya satu-satu. Lisanna pun tersenyum menyambut semua yang ada disana.

"L..Luigi? Namaku Lucy tauk!" Sahut Lucy pada Natsu. Nadanya agak sedikit jengkel, namun dalam hatinya ia merasa lega, karena Natsu memanggilnya seperti dulu, waktu mereka pertama-tama berjumpa. Mungkinkah Natsu sudah mengingatnya?

Natsu memiringkan kepalanya. Tiba-tiba ia terjatuh. Kepalanya terasa begitu sakit. Matanya ia pejamkan, berusaha mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.

.

.

.

"Jadi, di kota lain kau dipanggil Salamander, Natsu?"

"Betul,sihirnya juga cocok sama panggilan itu."

"Jika Natsu adalah Salamander, aku mau jadi Catmander!" Sahut Happy riang, "iya kan? Iya kan?"

Tiba-tiba terdengar suara gadis, "Natsu! Lihatlah! Mira memberikanku stempel Fairy Tail!" Sahutnya sambil menunjukkan punggung tangannya yang terdapat cap Fairy Tail berwarna pink.

"Itu bagus, Luigi!"

"NAMAKU LUCY!"

.

.

.

"Natsu! Kau tidak apa-apa?" Tanya Lisanna yang berjongkok di samping Natsu. Natsu segera membuka matanya. Cukup kaget dengan apa yang ia lihat dalam 'pingsan' sejenaknya. 'A..apakah itu masa laluku bersama Lucy?' Tanya Natsu dalam hatinya. Tentu diikuti beberapa pertanyaan lain yang mulai membuatnya penasaran.

"Gomen, aku agak pusing sedikit. Sepertinya ada yang salah dengan otakku hahaha!" Natsu melepaskan sebuah tawa renyah. Diikuti tawa nakama-nakamanya. Namun dalam hati Lucy mulai muncul pertanyaan, '... Apa dia mulai mengingatku?'. Namun pikiran itu ia singkirkan, takut membuatnya diberikan harapan palsu, oleh pikirannya sendiri.

"Otakmu saja sudah kecil Flame Fart! Gimana kalo ada yang salah dengan otak udangmu itu? Hahahaha!" Gray memegang perutnya saking kuat tertawanya.

"Hey otakmu lebih kecil dari otakku Pervert!"

"Tidak! Kau lebih bodoh dariku Pinky!"

"Kau yang bodoh Ice Princess!"

"Natsu! Gray! Jangan bertengkar!" Terdengar suara seorang gadis berteriak ke arah mereka. Tentu Natsu dan Gray tahu benar pemilik suara garang itu. Siapa lagi kalau bukan Erza Scarlet.

"AYE!" Ucap Natsu dan Gray kompak, tiba-tiba saling berangkulan begitu mesranya.

Keempat gadis yang daritadi hanya menonton dan bersweat drop melihat pertengkaran Natsu dan Gray melihat ke arah Erza. Ternyata sang Titania datang bersama... Jellal!

"Oy Jellal!" Sahut Natsu pada Jellal. Jellal hanya membalasnya dengan seulas senyuman.

"Waah seperti triple date!" Juvia pun berkata dengan gembira sambil bertepuk tangan. Namun muncul aura gelap dari Levy dan Lucy yang... tentunya tidak datang bersama pasangannya.

"Hey shrimp!" Tiba-tiba seorang lelaki bertindik datang dan memanggil Levy. Levy pun marah-marah pada Gajeel karena memanggilnya dengan sebutan 'udang'. Lucy hanya tersenyum simpul. Sekarang hanya dia yang tak punya pasangan.

"Nah kwartet(?) date! Hihihi. Sayang sekali, biasanya kan Lucy bersama Natsu..." Juvia berkata dengan sangat jujur. Ia langsung menutup mulutnya saat menyadari suasana menjadi sangat, sangat, sangat canggung. Semuanya hening. Namun Lisanna malah menggandeng tangan Natsu semakin erat.

Melihat adegan itu, Lucy seperti dihantam petir. Ia menahan mulutnya untuk tak cemberut. Juga menahan airmata yang tadi tak jatuh tumpah. "Oahm... Sepertinya aku harus pulang sekarang! Jaa~" Lucy pura-pura menguap, berbalik badan dan mengangkat tangan kanannya untuk ber-dadah-dadah-ria. Tak sengaja Natsu melihat tangan Lucy, dan menemukan stempel Fairy Tail berwarna pink, tepat seperti dalam 'penglihatannya' beberapa menit yang lalu.

Lucy kemudian berlari ke rumahnya. Levy ingin mengejarnya namun ditahan oleh Gajeel dengan tatapan ia-butuh-waktu-sendiri. Levy pun cemberut, namun Gajeel menghiburnya. Dan mereka pun berpencar, tentu dengan pasangannya masing-masing.

"Natsu, kenapa kau diam saja?" Tanya Lisanna, yang sedari tadi memerhatikan 'pasangan'nya itu.

"Tidak Lis. Hanya memikirkan sesuatu saja."

"Eh? Sekarang kau memikirkan sesuatu? Apa kau Natsu yang aku kenal?" Lisanna pun melepas tawanya lagi.

"Hey kau mengejekku?" Canda Natsu sambil mengacak-ngacak rambut Lisanna.

"Aw aw kan rambutku jadi berantakan Natsu! Hahaha. Ngomong-ngomong, apa yang kau pikirkan kalau boleh aku tau?" Tanya Lisanna sambil menyisir rambut pendeknya dengan jemarinya.

"Hahaha, bukan hal penting. Ayo jalan lagi."

IOIOIOIOIOIOIOI

Gadis berambut pirang itu tampak sedang mencuci rambutnya, membasahi tubuhnya dengar air hangat. Pagi ini dia bangun sebelum matahari menampakkan dirinya. Ia ingin berubah, ia tak ingin menjadi gadis yang terus bersedih. Ia akan bertekad untuk menyembuhkan 'amnesia'nya Natsu.

Gadis yang bernama Lucy itu kemudian mengelap tubuhnya dengan handuk, mengenakan kaos lengan pendek berwarna merah muda dengan ornamen pita di bagian depan, rok mini berenda berwarna senada, dan juga sabuk kesayangannya. Ia juga memasukkan kunci-kunci roh bintangnya ke dalam tas mungil serta mencangklongkannya di sabuknya.

Lucy pun siap berangkat ke guild.

IOIOIOIOIOIOIOI

"Lucy!" Setelah dipanggil gadis pengendali roh bintang itu menengok ke arah suara, dan berjalan menuju sang pemilik suara itu. "Ada apa Mira?"

"Ini, kau baca saja." Gadis yang bernama Mira menyerahkan selembar kertas. Lucy pun membacanya. Matanya membulat sempurna, ia tak tahu harus berbicara apa. Menyunggingkan seulas senyumnya pada barmaid sekaligus model majalah itu dan kemudian melesat pergi, mencari seorang fire dragon slayer.

"NATSU!" Sahutnya memanggil seseorang. Orang yang bernama Natsu pun menoleh melihat gadis yang memanggilnya.

"Yo, Luigi!"

"Sudah kubilang namaku LUCY!" Lucy pun meninju pelan lengan Natsu. Dan Natsu pun pura-pura kesakitan yang dilebay-lebaykan. "Jangan berpura-pura Natsu. Dan kau tau? Dulu kita sering menjalankan misi bersama, kau mau pergi denganku? Aku menemukan misi yang sangat hebat!" Ia melambai-lambaikan sebuah kertas di depan muka Natsu. Natsu segera mengambil secarik kertas itu dan membacanya.

'Menyelamatkan putri dari keluarga bangsawan kaya di gunung hakobe.

Hadiah : 1 miliar jewel.'

"S.. sa... sa... SA – Hmpf!" Mulut Natsu pun dibekap oleh tangan mungil Lucy.

"Diamlah! Kau akan mengagetkan seisi guild! Mengangguk jika kau ingin melakukan misi ini denganku!" Bisik Lucy di dekat telinga Natsu, dan melihat sekeliling, memastikan tak ada yang memerhatikannya. Walaupun ia tau Mira sudah tersenyum-senyum melihat mereka berdua sedari tadi. Natsu pun mengangguk dengan napsunya. Kemudian Lucy melepaskan tangannya.

"Hah... hah... Tanganmu ternyata bisa juga membunuhku!" Ucap Natsu sambil ngos-ngosan. Hampir kehabisan napas atas aksi penculikan kecil dari Lucy.

'Maafkan aku Natsu, aku tak berniat untuk menyakitimu.' Batin Lucy dalam hati. Namun ia hanya tersenyum kecil sebagai tanda permintaan maafnya. Kemudian ia menarik tangan Natsu dan mengajaknya untuk pergi ke luar guild. Sekedar untuk mencari angin segar diantara terik matahari pagi yang menyinari kota Magnolia pagi ini.

Mereka berhenti di taman kota, tempat diadakannya festival lampion semalam. Lucy tak bisa melupakan apa yang ia lihat, mengenai Natsu dan Lisanna yang... entah apa yang mereka lakukan berdua. Namun Lucy berusaha menapisnya, kemudian mengajak Natsu duduk di bangku taman.

Keadaan menjadi hening dan tegang. Tak ada satu dari mereka yang ingin angkat bicara. Mulut mereka serasa terkunci. Pikiran mereka sibuk berdebat sendiri-sendiri. Lucy masih memikirkan kejadian semalam. Sedangkan Natsu memikirkan apa yang ia lihat saat ia jatuh kemarin malam.

"Hey Luce/Natsu." Kali ini kedua dari mereka berkata berbarengan. "Kau dulu!"

"Baiklah baiklah..." Akhirnya pun Natsu mau mengalah juga. "Mungkin kita sudah berkenalan dulu, tapi sekarang..." Natsu pun sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"Ah, aku mengerti. Namaku Lucy Heartfilia, salam kenal!" Ucap Lucy seraya menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman. Diikuti bibirnya yang membentuk sebuah senyum yang tulus.

"Aku Natsu Dragneel! Dan aku sedang mencari bapakku, Igneel!" Balas Natsu yang menggamit tangan Lucy, kemudian mengayunkannya ke atas dan ke bawah.

"Hey, kau juga bilang seperti itu ketika kita pertama bertemu!"

"Ohya? Hahaha. Kalau begitu, ceritakanlah apa yang terjadi saat kita pertama bertemu!"

"Hm, baiklah. Jadi begini, dulu sebelum aku menjadi mage Fairy Tail, aku sedang berjalan-jalan di sekitar kota Hargeon. Lalu aku melihat sebuah kerumunan orang, dan mereka berteriak 'salamander! Salamander!' Dan aku pun menghampiri kerumunan itu. Ternyata yang kuhampiri adalah Salamander palsu. Sayangnya aku belum mengetahui hal itu. Dia menggunakan sihir 'charm' untuk menarik perhatian semua wanita..."

"Menjijikkan." Gumam Natsu pelan.

"Memang begitu kenyataannya. Bahkan aku pun terkena charm itu kau tau? Tapi kau segera datang bagai pahlawan mematahkan charm itu padaku. Hihihi, kau mengira Salamander itu Igneel, tapi ternyata bukan." Lanjut Lucy lagi, pipinya mulai memerah ketika ia mengatakan bahwa Natsu adalah pahlawannya. Dan nampaknya Natsu tak menyadarinya. "Sebagai tanda terimakasih, aku mengajakmu dan Happy untuk makan siang di sebuah restoran. Dan percayalah, kau dan Happy makan sangat lahap. Disana aku bercerita tentang keinginanku menjadi seorang anggota guild. Dan kalian bilang aku itu banyak omong, sedikit mengesalkan. Tapi aku tak menghiraukannya. Kemudian kau bercerita tentang Igneel, ayah angkatmu. Aku sempat tak percaya dulu. Tapi tenang saja, sekarang aku percaya padamu." Lucy menyunggingkan senyumnya pada Natsu. "Dan setelah itu kita berpisah. Aku diundang untuk pesta di kapal Salamander palsu, nama aslinya adalah Bora. Dia mengaku bahwa dia adalah mage Fairy Tail. Dan aku sangat ingin bergabung dengan Fairy Tail. Tapi ternyata dia berniat jahat. Bora ingin wanita-wanita yang sudah ditawannya dan termasuk aku, menjadi budak-budaknya. Tentu saja aku melawan." Tatapan Lucy mulai menerawang ke atas langit. Bibirnya masih tersenyum. "Dan pada saat itu, kau datang dari atas langit. Tentunya kau dibawa Happy untuk bisa menerobos kapal dari atas. Sayangnya, kau itu mabuk kendaraan! Payah! Hahahaha..." Natsu pun melepas sebuah tawa, menemani sebuah suara bidadari yang juga sedang tertawa. "Aku dibawa Happy kabur dari kapal. Dan aku segera memanggil salah satu spiritku, Aquarius. Dan dia berhasil mentsunamikan(?) kapal ke darat. Disana kau sudah tidak mabuk lagi. Dan kau marah pada Bora itu. Karena sebenarnya kau adalah mage juga. Jujur aku sangat kaget dengan apa yang kulihat. Kau memakan api Bora. Dan aku tidak pernah lihat orang memakan api sebelumnya. Dan saat itu aku tau, bahwa kau adalah mage Fairy Tail." Hening sesaat meliputi Natsu dan Lucy. Seolah masih ada lanjutannya Natsu tetap diam dan menunggu cerita selanjutnya dari Lucy. "Setelah itu kau membawaku ke Fairy Tail. Dan aku pun bergabung dengan Fairy Tail." Lucy pun tersenyum kembali. Wajahnya menatap ke atas langit. Matanya tertutup. Dan angin berhembus, membelai lembut pipinya, menggoyangkan setiap helai rambut pirangnya.

Natsu memandang Lucy, dan dari sudut pandangnya, jelas sekali bahwa ia sedang melihat seorang bidadari. Cantik, anggun, manis... Namun Natsu dan bisa berkata-kata. Ia hanya melepaskan gumaman singkat yang bahkan Lucy tak bisa mendengarnya. "Aku menyukai..."

"Ohya!" Suara manis Lucy pun membuyarkan pikiran Natsu.

"Ya?"

"Setelah itu, aku mendapat stempel Fairy Tail! Stempel guild pertamaku! Dan semoga ini juga yang terakhir... Karena aku cinta Fairy Tail! Lihat lihat! Bagus kan?" Lucy memamer-mamerkan punggung tangan kanannya yang terdapat stempel Fairy Tail berwarna merah muda. Tak lupa ia menyunggingkan senyum terbaiknya.

Natsu malah bengong. Pikirannya kembali larut dengan kejadian yang ia lihat semalam. 'Apakah itu benar? Jadi itu benar masa laluku dengan Lucy?' Dan serentetan pertanyaan lainnya memenuhi otaknya.

"Natsu?" Lucy mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Natsu. Natsu tak menggubrisnya, ia masih memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang menggantung tak terjawab di otaknya. Sayangnya kapasitas otak Natsu tak cukup untuk menjawab dan menampun semua pertanyaan itu. Ia pun kembali tak sadarkan diri... di pangkuan Lucy.

IOIOIOIOIOIOIOIOI

[Lucy POV]

Sekarang aku berada di apartemenku. Untung saja tadi Happy sedang mencari Natsu, jadi dia segera membawa Natsu kemari. Tunggu, kenapa aku senang jika Happy membawa Natsu ke apartemenku? Bukankah biasanya aku kesal? Haduuuh apa yang terjadi dengankuuu?

Aku berjalan menghampiri meja tulisku, ingin menyampaikan salam pada mama. Aku tak tau berapa lama sudah aku tak menulis pada mama.

.

Dear mama,

Apa kabar mama disana? Semoga hari-hari mama menyenangkan, tidak seperti hari-hariku beberapa waktu ini.

Mama, kenapa ini harus terjadi padaku? Apa salahku sehingga harus menanggung beban seberat ini? Ataukah beban yang Natsu miliki lebih berat dariku? Tapi bukankah lebih sakit dilupakan orang yang kita cintai?

Ma, jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin sekali melindungi apa yang telah pergi. Melindungi mama, melindungi Natsu... Maafkan aku mama. Maafkan aku karena tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.

Tapi waktu tak bisa terulang, ma. Aku ingin agar aku bisa menjaga Natsu dengan baik. Sekarang dia sedang tertidur di kasurku. Apa mama keberatan dengan hal itu?

Ohiya, aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah memberikanku kunci Cora. Dia benar-benar gadis yang baik hati! Ia menyelamatkanku disaat aku hampir bunuh diri. Aku tau aku salah... Tapi dengan mati bukankah aku bisa bertemu dengan mama?

Dan... apakah mama melihat aku mengecup kening Natsu tadi? Mungkin saja dengan kecupan itu ia bisa mengingatku kembali... Mungkinkah?

Mungkin ini adalah jalan terbaik untukku ma. Agar aku bisa belajar mencintai seseorang dengan tulus. Dan tanpa keputus asaan. Sekarang aku mengerti apa yang mama bilang kepadaku. Tenang saja mama! Aku tak akan berhenti untuk mengingatkan Natsu tentangku.

Aku selalu sayang mama.

Dengan cinta,

Lucy Heartfilia.

.

Tanganku beralih ke depan bibirku. Aku telah mengecup kening Natsu... Apakah ia menyadarinya? Kuharap tidak.

Tadi setelah Happy pergi untuk menemui Charle, Natsu masih tertidur pulas di kasurku. Aku menatap wajahnya lekat. Helaian rambut merah mudanya yang berantakan. Mata onyxnya yang tertutup kedua kelopak matanya. Bibirnya yang sering tergoleskan grinsnya yang khas. Wajah dari seorang pria yang kucintai. Wajahku mendekati wajahnya. Sehingga jarak kami hanya sekitar sepuluh senti. Aku dapat merasakan napasnya yang hangat. Napasku seperti tertahan. Tak ada kata-kata yang bisa kuungkapkan untuk melukiskan betapa indah dan betapa kucintai orang yang ada dihadapanku.

Dan bibirku mendekati keningnya. Setelah memastikan bahwa Natsu benar-benar tertidur, aku... aku mengecup keningnya dengan lembut. Tak lama. Karena wajahku langsung kualihkan ke samping. Kemudian aku melepaskan sebuah desahan pelan. Aku takut. Aku takut kalau sebenarnya ini salah. Aku takut dia tak mencintaiku. Aku takut dia lebih mencintai orang lain dibandingkan dengan diriku...

IOIOIOIOIOIOI

Keesokan harinya...

[Normal POV]

"Natsu!" Terlihat seorang gadis meneriakan sesuatu, kedua tangannya seperti membentuk corong untuk memperkeras suaranya. Pun ia memoleskan senyum terbaiknya di pagi yang cerah ini. "Ayo kita segera berangkat! Entar keburu malem!"

"Hey, santai Luce. Dan kau tahu? Ini masih pagi tau! Aku udah bela-belain bangun pagi cuma buat kau!" Natsu ngedumel kecil, sembari tangannya ditarik-tarik oleh Lucy. Lucy pun menghentikan langkahnya. 'Ia bangun pagi hanya untukku? Manisnya...' Tak sadar ia melepas sebuah tawa kecil.

"Aneh." Natsu menggumam pelan. Disambut oleh jitakan yang mendarat di jidatnya, tentunya yang menjitak adalah Lucy.

"Ngomong-ngomong Happy mana? Bukankah ia akan ikut bersama kita?" Tanya Lucy pada Natsu.

"Sebentar lagi ia sampai, tunggu saja." Natsu hanya membalas santai. Kedua tangannya ia satukan di balik kepalanya, seolah menjadikannya sebuah sandaran.

"NATSUUUU! LUSSSYYYY!" Terdengar suara Happy, yang kini berterbangan(?) menuju kedua mage yang ia panggil.

Dan mereka pun berangkat dengan kereta kuda, tepat seperti ketika Natsu, Lucy dan Happy pergi menyelamatkan Macao di gunung Hakobe. Tapi kali ini, mereka akan pergi ke rumah klien dulu. Dan Natsu tidak mabok kendaraan. Ia telah meminta Troia dari Wendy, sehingga ia dapat menikmati perjalanannya bersama Lucy dan Happy.

"Kita sampaiiiii!" Natsu berteriak bangga karena walau ia tak mabok darat, akhirnya ia bisa turun dari sebuah kendaraan.

Kini mereka bertiga dihadapkan dengan sebuah mansion yang sangat besar. Mirip seperti rumah Lucy dulu. Dengan taman yang luas, pepohonan rimbun, semak-semak dipenuhi bunga bermekaran. Disana sudah terdapat seorang pelayan dengan seragamnya yang terpakai rapih.

"Kalian mage dari Fairy Tail?" Tanyanya sopan. Natsu, Lucy dan Happy dengan kompak mengangguk. Dan sang pelayan mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk dan bertemu kliennya.

IOIOIOIOIOIOIOI

"Luce, mereka beneran orang kaya. Masa misi belum dijalani kita udah dikasih DP*?" Tanya Natsu menunjuk sebuah amplop yang dipegang erat oleh Lucy. XD

"Justru itu kita harus senang. Artinya mereka udah percaya sama kita." Lucy pun memasukkan amplop tebal itu kedalam tas punggungnya. Dan bersiap-siap untuk menaikki kereta kuda lagi untuk menuju gunung Hakobe.

"APAH? KITA NAIK INI LAGI?" Natsu mulai panik karena efek pemakaian Troia kali ini hanya sebentar. Tak mau ambil pusing, Lucy menarik Natsu ke dalam kereta dan menonjoknya agar ia tertidur pulas. Happy hanya geleng-geleng kepala dan ikut masuk ke dalam kereta.

~skip time~

"Mbak, mas, cing(?), maap cuma bisa sampe sini..." Ucap sang supir kereta kuda. Lucy pun mendesah dan meminta bantuan Happy untuk membawa Natsu keluar.

"Makasih ya pak." Lucy memoleskan sebuah senyum pada pak supir. Kemudian kereta kuda itu langsung menghilang, tentu saja kembali ke mansion tadi.

"Happy, bangunkan Natsu." Lucy menatap Happy dengan death glare-nya. Entah apa yang merasuki tubuhnya. Mungkin efek dari servis kereta kuda yang kurang memuaskan. Happy pun sigap sekaligus takut, langsung membangunkan Natsu dengan segala cara. Sampai akhirnya Natsu terbangun. Dan mereka berjalan mencari jejak sang putri yang hilang.

IOIOIOIOIOIOI

""Sudah 5 jam kita berkeliling tapi gak menemukan apa-apa!" Dia berkata." Suara Horologium memecahkan keheningan. Tentu di dalamnya terdapat Lucy yang meringkuk karena kedinginan. Salju mulai menghujani tubuh mereka dengan deras. Natsu tentu tahan dingin karena suhu tubuhnya yang 'abnormal'. Sedang Lucy bukan seorang fire dragon slayer seperti Natsu.

"Apa kau akan terus berada di dalam jam tua itu Luce?" Tanya Natsu.

""Jangan panggil Horologium jam tua!" Dia berkata." Horologium pun mengangguk-ngangguk tanda setuju dengan ucapan masternya. ""Tidakkah kita sebaiknya bermalam dulu?" Dia berkata."

"Baiklah baiklah... Happy, coba lihat di dekat sini apakah ada gua atau tidak?" Happy pun terbang ke atas dan melihat sekeliling. Ia menemukan sebuah gua kecil. Kemudian mereka berempat, Natsu, Happy, Horologium dan Lucy berjalan menuju gua tersebut.

"Luce, tinggalah disini. Aku dan Happy akan mencari kayu." Natsu pun pergi besama Happy keluar gua.

"Bagaimana kau akan menemukan kayu di gunung salju seperti ini, baka?!" Desahan Lucy pun melengkapi penderitaannya malam ini. Dingin, sendirian (Horologium udah habis tenggat waktunya), lapar, dan lain-lain.

Sekitar satu jam sudah Natsu keluar untuk mencari kayu. Dan satu jam itu digunakan Lucy untuk merenung. Merenungkan kejadian-kejadian yang secara tiba-tiba menimpanya. Tiba-tiba ia ingat perkataan Levy, tentang bagaimana ia harus hati-hati bila Atra menyerangnya lagi.

Badan Lucy semakin tak kuat menahan dingin yang menusuk permukaan kulitnya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini ia sudah memakai pakaian tebal dan berlapis-lapis. Tentu tidak selebay seperti Gray di Edolas.

Giginya mulai gemeletuk, badannya menggigil, kulitnya memucat. Lucy memeluk kakinya, berharap dapat memproduksi kehangatan seperti Natsu. Ia terus menggumamkan sebuah lagu agar pikirannya tak kosong. Sampai ia mendengar sebuah langkah kaki... dan Lucy menjadi panik...

.

.

.

.

.

.

.

.


Huwaaaaw akhirnya chap. Ini selesai jugaaaaa ^o^ Susah juga nyeimbangin waktu nulis fic sama tugas kuliah hahaha :') Maaf kalo chap yang ini kurang puol sensasinya :" Dan Lucy mengecup kening Natsuuuuu wuooohhhh! Apakah Natsu menyadarinya? Kita lihat di chap berikutnya ;) Nah, mari kita membalas review para pembaca setia #plak

Reka amelia : Hohoho, tebakanmu benar! Apa alur pikiranku yang mudah tertebak yah? Hahaha X)

Yodontknow : Ayo segera ketik REG spasi blabla kirim ke 83492837489274 agar Lucy tidak sedih lagi haha #gaje

Nnatsuki : Lisanna emang nyebelin huh (loh?) Nana-chan akan semakin karin buat penasaraaaan hihihi

Justweirdo : aduuh jangan sedih dong :'( Aku gak berniat bikin readers nangis kok beneran...

Dinda loke leo : Tenang mbak, tenang... Natsu masih punya benih-benih rasa cintanya sama Lucy jadinya dia gak bakal nyium Lisanna... Eh ketauan deh :p

RyuuKazekawa : ._. Penulisanku kurang jelas ya... maksudku Natsu bakal ngelupain semua orang kecuali pembaca mantra... maaf kalo gak jelas hiks hiks...

Nshawol56 : muahahaha, aku beneran ngakak baca review dari bella-san. Gak bakal nyipok lisanna kok, aku juga gak rela Natsu ngelakuin itu apalagi di hadapan Lucy :'(

Hanara VgRyuu : Terimakasih terimakasih :')

Pidachan99 : tenang pida-chan, suatu saat nanti Natsu bakal inget Lucy kok... atau engga ya? Muehehe, tunggu saja kelanjutannya ;)

Hanariko Momoko : Kyaaa di favorite, terimakasih banyaakkk

Ananda anfi : Hayoo mau ngapain hayooo... jangan jangan apa hayoo... hihhihi, Cuma kelilipan kok~

Happy hitsugaya fernandes : akan karin usahakan update sekilat mungkin :') *liat jadwal kuliah*

Wirna : ayo berdoa bersama biar Natsu inget sama Lucy :')

Yaaaa terimakasih buat yang review dan yang baca juga! KALIAN LUAR BIASA! Sudah sabar menunggu dan menanti hiks hiks :')

*DP = aku lupa kepanjangannya yang jelas itu pembayaran awal hahaha X) Aku juga baru tau ada klien yang mau ngasih DP ke mage-nya X))

Tunggu chapter berikutnya yaaaa ^^/

Jaa~