Huehehe :3 Karin muncul lagi~ Tak mau berlama-lama... Happy Reading!

Disclaimer

Fairy Tail milik Mashima-sensei


Previous Story

"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEH?" Lucy teriak sambil menutup mulutnya. 'Natsu menyadari kalau aku mengecup keningnya?' Batin Lucy bergejolak. Diikuti pipinya yang merah merona. Pikiran Lucy yang berkecamuk dibantah oleh igauan Natsu yang berikutnya.

"aku..."

Jantung Lucy berdegup dengan kencang. Namun ia tetap membiarkan Natsu mengigau.

"aku... mencintai..."

Rasanya jantung Lucy akan meledak beberapa saat lagi.

.

Remember Me

.

Genre : Romance

.

Pair : NatsuXLucy

.

Maaf bila gaje, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya

.

Beberapa jam yang lalu...

[Natsu POV]

Ah, pukulan Lucy sakit sekali, batinku sambil mengusap-ngusap perutku. Kemudian, aku membuka mataku. Eh? Kok aku berada di gua es lagi? Apa aku sedang bermimpi? Dimana Lucy dan Happy?

"T-tunggu! Horologium! Jangan menghilang!" Sebuah suara gadis mengagetkanku. Luce? Kepalaku reflek menengok ke arah sumber suara tersebut. Ternyata benar itu Lucy. Kenapa ia duduk dan berselimut?

"Waktunya sudah habis. Sampai jumpa." Sebuah suara seperti menjawab perkataan Lucy.

"Perpanjangan! Aku butuh perpanjangan, please!" Sahut Lucy lagi. Ah! Ternyata ada Vulcan yang seperti ingin menerkamnya. Aku harus menyelamatkannya!

Eh? Kenapa kakiku seperti terkunci? Sihirku juga tak mau berfungsi! Aku ingin meneriakan nama Lucy namun tenggorokanku tercekat, bibirku terkatup rapat. Sebenarnya aku ada di dunia mana sih?

"Ooh! Akhirnya aku menangkapmu!" Seru sang vulcan dengan nada penuh napsu. Sial! Aku tak bisa membiarkan Lucy seperti ini. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa.

Terdengar suara derap langkah kaki yang menyerbu ke arah Lucy. Aku dan Lucy langsung menengok ke orang tersebut. Itu aku!

"NATSU!" Seru Lucy dengan bahagia. Ah, aku memang hebat! Tapi kenapa aku bisa melihat aku yang lain?

Namun, aku 'yang lain' terus berlari hingga kepleset, terguling, dan menabrak batu. Keren!

Kejadian itu terus berlanjut seperti saat aku menonton film. Sebenarnya apa ini? Sepertinya ini bukan kejadian yang tadi, ini berbeda dari yang tadi.

Aku terus menonton perkelahian itu. Sampai vulcan itu K.O dan... ia berubah jadi Macao! Macao? Tunggu, tunggu. Sepertinya dulu aku pernah melakukan ini sebelumnya...

.

.

.

YA! Aku pernah menyelamatkan Macao saat ia tidak pulang dari sebuah misi selama seminggu. Tapi, kurasa aku tidak pergi hanya berdua bersama Happy. Lalu, mungkinkah aku pergi bersama Lucy?!

Belum sempat aku berpikir lebih jauh lagi, semuanya menjadi gelap.

[Normal POV]

Kini Natsu berdiri di dalam sebuah rumah... rumahnya sendiri? Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya sendiri. Apa ia sudah pulang? Tapi kenapa begitu cepat? Apa ia masih bermimpi? Mungkin. Atau ini adalah bagian dari masa lalunya bersama Lucy?

Pikirannya berkecamuk. Begitu banyak pertanyaan menyeruak memenuhi otaknya yang kadang konslet itu.

Tiba-tiba kakinya berjalan menuju sebuah sudut di kamarnya. Natsu tampak takjub melihat apa yang dilihatnya.

Terdapat banyak kertas misi tertempel di papan kayu-seperti sebuah mading- yang tertempel di dinding kamarnya. Namun ada sebuah kertas misi yang menarik perhatiannya. Terdapat kertas kecil berisi tulisan yang menempel bersama kertas misi tersebut. 'Misi apa itu?' Tanya Natsu dalam hatinya. Natsu mendekati misi itu dan terkejut ketika membacanya.

Misi itu adalah misi untuk mengambil buku "Day Break".. Namun bukan itu yang mengagetkan Natsu. Yang mengejutkannya adalah tulisan yang tertempel pada kertas misi.

'Misi yang kulakukan bersama LUCY untuk pertama kalinya!'

"Misi pertamaku... dengan... Lucy?"

Sudah beberapa hari sejak insiden Natsu melupakan Lucy. Dan sudah beberapa hari Natsu tidur di rumahnya, tapi tak memperhatikan sudut kecil dari rumahnya itu. Natsu melihat-lihat lagi. Di mading tersebut terdapat sebuah papan kecil bertandatangankan 'Salamander' yang ditancapkan sebuah pisau kecil.

"Tanda tangan Salamander?" Ucap Natsu sambil memiringkan kepalanya. Ah dia ingat. Ketika Lucy bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Salamander 'palsu'. Mungkin ini ia dapat dari si Bora jelek itu.

Kini matanya beralih ke atas meja, ah, ada sebuah gelang dari potongan tulang-tulang. ! Natsu mengingatnya. Ini oleh-oleh dari misi S-class yang dicuri Happy. Seingatnya, ia pergi bertiga, ia, Happy... lalu siapa ya? Otak Natsu terus berputar namun ia tak bisa menemukan jawabannya.

Perhatian Natsu tertarik pada sebuah mannequin di ujung ruangan. Boneka berbentuk tubuh itu terbalut satu set pakaian maid untuk wanita, yang... seukuran Lucy.

"Kenapa aku punya pakaian ini?" Natsu menggumam lagi. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Ia teringat akan Lucy. Dan ia pun teringat kejadian di apartemen Lucy ketika Lucy membiarkannya tidur di apartemennya. Jemari besar Natsu menyentuh keningnya, yang telah di kecup sang spirit mage.

"Luce, kenapa keningku kau kecup?" Gumam Natsu pelan. Kini degup jantungnya malah makin kencang. Natsu dapat merasakan pipinya memanas. Ia menggelengkan kepalanya untuk melupakan apa yang ia pikirkan.

Manik onyxnya beralih ke meja lagi. Terdapat sebuah kertas. Nampaknya kertas itu adalah sebuah surat. Natsu membaca tanggalnya.

"Ini 2 hari sebelum kecelakaanku."

'Hello... Sedang apa kau sekarang? Sedang bingung untuk melanjutkan chapter novelmu? Sedang berendam dalam air hangat? Sedang menulis surat untuk mamamu?

Mungkin aneh bila aku menulis surat untukmu yah. Aku juga bingung aku sedang menulis apa.

Kau tahu?

Setiap kali aku bertemu denganmu, jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Kau tahu aku sakit apa?

Setiap kali aku mencium wangi Vanillamu, hatiku berdesir penuh hasrat. Kau tahu aku sakit apa?

Setiap kali aku melihat surai rambut pirangmu dari kejauhan, kupu-kupu seolah hidup berterbangan dalam perutku. Kau tahu aku sakit apa?

Setiap kali aku melihatmu menangis, tanganku terkepal kuat dan rasa amarah memenuhi jiwaku. Kau tahu aku sakit apa?

Dan setiap kali aku melihatmu tersenyum, batinku menenang, kedua sudut bibirku mengangkat dan menunjukkan gigi-gigi depanku. Dan ketika aku tahu alasan kau tersenyum adalah aku, rasanya seluruh hidupku akan baik-baik saja apa pun yang terjadi. Kau tahu aku sakit apa?

Kemarin aku bercerita pada Mira. Yah, kau pasti tahu seperti apa responnya.

Dan Mira tahu aku sakit apa. Kau tahu?

Aku... Aku mencintaimu, L...'

Belum sempat membaca surat itu sampai akhir, sebuah tangan menepuk pundak Natsu. Natsu menoleh pada orang yang menepuk pundaknya tersebut.

"Lisanna?"

IOIOIOIOIOIOIOIOIOI

"Li... lisanna?" Suara Lucy pelan mengulang perkataan Natsu. Tangan kanannya menutup mulutnya. Tak kuasa menahan segala emosi yang tumpah hanya karena satu kata yang Natsu ucapkan, ya, nama Lisanna.

Lucy tidak membenci Lisanna. Tentu saja tidak. Dia tidak mungkin membenci nakamanya tercinta. Namun, fakta bahwa Natsu mengucapkan cintanya untuk Lisanna, membuat hati Lucy tercabik-cabik.

Gadis berambut pirang itu menggigit bibir bawahnya. Mata karamel yang lembut itu kini tengah membendung cairan bening. Ia menatap keluar jendela. Hampa. Kosong. Walaupun banyak pemandangan cantik yang silih berganti, pikiran Lucy tak sanggup memproses pemandangan-pemandangan tersebut. Yang ada di otaknya kini hanya igauan Natsu.

'Mungkinkah itu hanya bohong? Mungkin Natsu hanya ngelantur? Atau mungkin itu memang isi hatinya?'

Lucy tak kuat berspekulasi lagi. Biarkan lah otaknya kosong untuk sementara. Setidaknya sampai Natsu bangun dan bertindak seperti tidak terjadi apa-apa.

.

.

.

"HUWAAH! Akhirnya sampai juga!" Teriak Natsu saat keluar dari kereta.

"Sampai! Sampai!" Giliran Happy mengulangi kata Natsu senang.

"Ne, Luce, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat." Natsu bertanya pada Lucy. Nampak Lucy tidak menyadari perkataan Natsu. Dengan tatapan kosong ia terus berjalan di samping Natsu dan Happy.

"Hey Luce!" Ucap Natsu berulang-ulang sambil mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Lucy. Happy pun ikut membantu. Tidak sabar, Natsu menggoyang-goyangkan pundak Lucy.

Tersentak, Lucy kembali ke dunia yang asli. "Ada apa Natsu?" Ucapnya pelan.

"Hiish... Kau kenapa sih Luce? Aku bertanya padamu apa kau baik-baik saja."

"Tentu saja aku baik-baik saja." Lucy menjawab dengan cepat, kemudian berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Natsu. "Happy, kau ingin makan apa sekarang?"

"IKAAAAN GOREEEEEEEEEEEEEEENG!"

"Baiklah! Ah, tapi aku tak punya ikan di rumah. Aku akan pergi ke pasar sebentar. Kaliann ke guild dulu saja ya! Daaah!" Lucy pun berlari ke arah yang berlawanan.

"Ayo Natsu!" Happy berkata sambil melayang-layang di udara.

"Yosh!" Natsu pun berlari ke guild, ditemani Happy yang terbang di atasnya.

IOIOIOIOIOIOIOI

Lucy berjalan menenteng plastik berisi ikan sambil bersenandung. Jujur, ia ingin melupakan kejadian di kereta tadi. Tapi kata-kata Natsu selalu terngiang-ngiang di otaknya.

Tanpa Lucy sadari, ia sudah berada di depan apartemennya. Ia merogoh kantongnya untuk mengambil kunci. Saat ia mendapatkannya...

"UUUMMPPH!"

Seorang pria berbadan besar berlari dan menyekap Lucy dengan kain beralkohol. Dan dalam sekejap, gadis itu telah tak sadarkan diri oleh pria tak dikenal tersebut. Pria itu pergi membawa Lucy diam-diam, untung saja tak ada orang di sekitar mereka. Dan mereka pergi, meninggalkan sebuah plastik berisi ikan di depan pintu apartemen Lucy.

IOIOIOIOIOIOIOI

"Ne, Natsu." Happy menyentuh pundak Natsu yang sedang duduk dan meletakkan kepalanya di meja bar. Ya, Natsu sedang lemas karena habis dibantai Erza. Kalian bisa tebak alasannya? Natsu dan Gray bertengkar? Ah, lebih dari itu. Api dan es itu bertengkar dan menyebabkan kue strawberry Erza, yang baru saja mau Erza makan, hancur lebur. Yah, kalian tau apa yang Erza lakukan pada mereka berdua.

"Kenapa Happy?" Gumam Natsu pelan.

"Apa kita tidak pergi ke apartemen Lucy? Sudah lebih dari satu jam. Seharusnya Lucy sudah selesai memasak."

"Baiklah."

Mereka pun sampai di depan apartemen Lucy. Natsu pun memasukki apartemen Lucy melalui jendela. Dia mencium udara di sekitarnya. Ada yang salah.

"Kenapa Lucy tidak ada disini?" Ucap Happy sambil mencari Lucy dimana-mana. Tentunya di dalam apartemen Lucy.

Natsu berjalan menuju pintu apartemen Lucy, dan membukanya. Happy pun membuntutinya.

"Hey, Natsu! Ini plastik berisi ikan! Kenapa Lucy meninggalkannya disini dan tidak memasaknya untuk kita?" Happy berucap kemudian cemberut, memikirkan bahwa Lucy tak mau memasak untuk mereka berdua.

Ah! Kini Natsu mencium wangi Vanilla milik Lucy! Namun memudar, oleh bau seseorang yang tidak ia kenal. Juga bau alkohol! Oke, oke. Pasti ada yang salah! Natsu dapat merasakan bahwa Lucy ada dalam bahaya!

IOIOIOIOIOIOIOI

Kini, pria berbadan besar dan berbaju hitam tengah berjalan di dalam hutan. Ia sudah pergi jauh dari kota Magnolia. Dan di tangannya, terdapat seorang gadis cantik yang tak berdaya, ia seret dengan malas. Hah, jahat sekali memang. Namun Lucy tak sadarkan diri juga. Sepertinya selain alkohol, terdapat obat tidur dalam sapu tangan yang pria jahat itu gunakan.

[Lucy POV]

Kepalaku pusing sekali... Aduh kenapa aku seperti diseret ya?

Aku membuka mataku perlahan. Rasanya seluruh inci tubuhku merasakan sakit yang teramat sangat. Eh? Kenapa aku ada disini? Aku ada dimana?

Aku melirik ke arah kakiku yang seperti digenggam monster besar yang tidak punya rasa belas kasihan. AH! Ada pria besar yang membawaku! Perasaanku sangat tidak enak.

Kunciku! Dimana kunciku? Kenapa mereka tidak ada di sabukku?

"Mencari kuncimu gadis manis?" Tanya pria itu seakan bisa membaca pikiranku. Dan walaupun dia memanggilku gadis manis, itu sangat menjijikkan.

Tidak menunggu dijawab –lagi pula aku tak mau menjawab pria ini–, pria jelek itu berkata lagi, "Sebentar lagi kita akan sampai. Nyonya akan sangat senang bertemu denganmu."

Nyonya? Nyonya siapa? Aku memutar otakku, berusaha mencari siapa nyonya yang dia maksud. ... Jangan-jangan... ATRA! Tidak, tidak, tidak. Aku harus segera kabur. Aku harus kabur dari sini!

Aku berusaha menendang pria jahat ini. Aku berusaha meronta-ronta, namun sepertinya usahaku sia-sia.

"Kau tidak bisa kabur, gadis manis." Ucapnya sambil terus berjalan dan mengencangkan genggamannya di pergelangan kaki kananku. Jujur, kakiku mungkin akan putus sebentar lagi.

Aku melirik ke kanan dan kekiriku. Ah! Ada pohon! Aku harus bisa meraih pohon itu. Jemariku akan sampai di pohon itu beberapa detik lagi dan...

DAPAT! Setelah mendapat kekuatan di tangan, kaki kiriku –yang tak dipegang oleh monyet besar ini– kutendangkan ke arah pantatnya dan... JACKPOT! Dia benar-benar kesakitan dan melepaskan genggamannya. Kaki kananku terjatuh dan aku berusaha berdiri.

Ah, aku hampir melupakan kunciku! Mereka berada di genggaman si monyet yang sebelah kiri. Sial! Bagaimana bisa aku mengambilnya?

Aku mempersiapkan kaki kiriku lagi, memberikan seluruh kekuatanku disana, dan... LUCY KICK! Yes! Aku berhasil menjatuhkan kunci-kunciku dari tangan jeleknya. Aku berlari mengambil kunci-kunci tersayangku dan berlari menjauh dari monyet besar itu sebelum ia berhasil mengejarku.

"MAU KEMANA KAU, DASAR GADIS BAU!" Teriak si monyet. Huh, dasar jelek. Ketika aku baru bangun kau memanggilku manis, ketika aku melukai 'harta'mu, kau panggil aku bau. Sebal!

Sialnya, larinya lebih cepat daripada yang aku duga. Suara tapak kakinya semakin mendekat dan mendekat. Apa yang harus aku lakukan?!

Aku memanjat pohon yang cukup tinggi di dekatku. Tak sia-sia aku belajar teknik ninja bersama Natsu dan Happy! Serius, ternyata ini sangat berguna.

Setelah aku mencapai dahan teratas, aku bernapas lega. Namun tidak lama, si monyet besar itu mengetahui keberadaanku. Kami-sama!

Ia mulai memanjat dengan cepat. Bagaimana ini? Aku merangkak pelan menuju ujung dahan. Monyet itu memang seperti monyet sesungguhnya! Memanjatnya amat cepat sehingga sekarang aku sudah berada di ujung dahan. Aku melirik ke bawahku. Pohon ini tinggi sekali! Bagaimana iniiii?

Aku menarik napasku pelan. Menutup mataku. Membiarkan monyet itu terus mendekat ke arahku dan... aku menjatuhkan badanku.

Aku menarik napas sekuat tenaga, "NATSUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!"

Aku masih melayang di udara didorong oleh gravitasi. Jujur, aku sangat amat berharap Natsu datang dan menyelamatkanku.

[Normal POV, beberapa detik sebelumnya]

"NATSUUUUUUUUUUUUUUUU!" Pria berambut merah muda sontak memejamkan matanya ketika mendengar suara itu. Namun kakinya terus berlari, mengikuti wangi Vanilla yang sangat ia sukai.

.

.

.

"NATSUUUUUUUUUUUUU!" Lucy menjatuhkan dirinya dari tower milik Phantom Lord. Di atas nampak Jose Porla, master Phantom Lord. Tower itu amat tinggi. Namun Lucy berani menjatuhkan dirinya.

Hup! Sedari tadi Natsu berlari ke arah Lucy dan tepat menangkapnya sehingga Lucy tak harus mati karena jatuh dari tower tersebut.

.

.

.

HUP! Natsu berhasil menangkap Lucy! Ya! Dia berhasil!

'Eh? Kenapa tidak sakit? Kenapa aku tidak mati?' Batin Lucy. Dia memejamkan matanya sejak ia menjatuhkan dirinya. Namun, ia merasakan hembusan napas yang sangat hangat, yang ia begitu yakin siapa pemiliknya. Dengan takut Lucy membuka kedua kelopak matanya dan...

DEG!

Wajahnya berada begitu dekat dengan pria yang sudah ia tunggu sedari tadi. Dan penantiannya tak sia-sia. Kini jantung Lucy berdebar seribu kali lebih cepat. Lucy menatap mata onyx Natsu yang memancarkan... kelegaan?

"Luce?"

"Eh ya?"

"Em, kurasa sebaiknya kau berdiri..."

"Ah! Maafkan aku!" Lucy pun langsung berdiri dan bangkit dari posisinya dan juga dari 'mimpi indah'nya yang sementara.

"Ne, pasangan ini manis sekaliiii~" Sahut pria besar yang menculik Lucy dengan nada yang menjijikkan.

Natsu berdiri dan melihat ke arah Lucy yang sudah mengumpat di belakang badannya yang kekar, seolah ketakutan akan pria besar itu. Ah, sekarang Natsu sadar. Pria ini yang memiliki bau yang ia cium di depan apartemen Lucy. Pria ini orang jahat!

Bak buk bak buk! (Karin:Apa ini)

Dengan kilat, Natsu meng-K.O-kan si monyet jahat! Sudah terduga bukan?

Dan Natsu segera membawa Lucy kabur. "Ayo kita pulang!" Sahut Natsu sambil berlari kemudian menengok ke belakang, ke arah Lucy.

"Uhm!" Lucy menggangguk lalu mempercepat larinya.

IOIOIOIOIOIOIOI

"Ohya, kau tidak pergi bersama Happy?" Lucy mengangkat suara di tengah heningnya perjalanan mereka kembali ke Magnolia.

Natsu langsung mengangkat dagunya yang tadi tertunduk. "Ah! HAPPY!"

Dan Lucy langsung menyadari kalau Natsu telah melupakan partnernya. (Karin : Dan Karin juga haha... | Happy : huuu Karin jahaat!)

"Natsu!"

Kepala Lucy dan Natsu kompak berputar kurang dari 180 derajat, menengok ke arah sumber suara yang memanggil Natsu. Setelah segera melihat siapa orang yang memanggilnya, Natsu langsung membalas, "Oy Lisanna!"

"Happy?" Giliran Lucy yang memanggil nama makhluk yang digendong Lisanna.

"Ah ya. Aku menemukan Happy pingsan di pinggir kota. Apa kau baru saja pergi bersamanya?" Entah kenapa, di telinga Lucy, perkataan Lisanna terdengar tidak enak.

"Gomen! Aku baru saja pergi menyelamatkan Lucy." Natsu berusaha menjelaskan. Dan memang iya Natsu baru saja menangkap Lucy dari atas langit.

"Menyelamatkan Lucy?" Lisanna berkata sambil memiringkan kepalanya.

"Ceritanya panjang. Ne, Luce, sebaiknya kau pulang. Kau pasti lelah hari ini." Natsu menoleh pada gadis berambut pirang disampingnya. Lucy pun mengangguk pelan.

"Lis, aku duluan ya." Ucap Lucy kemudian Lisanna tersenyum. Dan Lucy berjalan meninggalkan mereka berdua, ditambah Happy.

"Kurasa aku akan membawa Happy pulang." Natsu berkata pada Lisanna.

"Emm... Bolehkah aku ikut denganmu?" Lisanna meminta dengan puppy eyesnya.

"Tentu saja!" Ujar Natsu dengan nada yang berapi-api.

"Asyik! Kita bisa bermain 'House' seperti dulu lagi! Natsu jadi ayah, aku jadi ibu dan Happy jadi anak kita!" Lisanna tersenyum sambil menepukkan kedua telapak tangannya.

"Yosh!" Natsu pun gantian yang menggendong Happy. Dan mereka berjalan seperti... sebuah pasangan.

Dan tak mereka sadari, terdengar sebuah isak tangis seorang gadis. Ya, mereka sempat bertemu dengannya beberapa detik yang lalu. Gadis itu tidak pulang. Tak sengaja ia mendengarkan percakapan kedua namakanya. Dan kini, air mata tengah mengalir di pipinya, namun tak membuat suara apa-apa.

IOIOIOIOIOIOIOIOI

BRAK!

"DASAR MONYET GAK BECUS!" Suara seorang wanita ditambah suara gebrakan meja, membuat seisi ruangan terlompat kaget.

Seisi ruangan? Tunggu, di ruangan tersebut hanya ada wanita itu dan seorang pria besar, yang mungkin disebutnya 'monyet gak becus'.

"M-ma-maafkan a-aku Nyonya!" Ujar si pria membela diri, namun kepalanya masih menunduk. Tak berani menatap kemurkaan masternya.

"Hh. Baiklah, kali ini aku maafkan. Tapi lain kali, jika kau gagal..." Wanita itu menahan ucapannya. Sedangkan sang pria menahan napasnya, menunggu perkataan masternya yang membuat jantungnya hampir mau copot saking ketakutannya. Wanita itu mengarahkan tangannya pada sebuah apel di ujung meja, dan dengan cepat, apel itu hancur oleh kekuatan dark magicnya. "Kau... hancur." Si pria pun menelan ludahnya.

Hening seketika. Si pria menunggu titahan selanjutnya dari masternya. Sedang si wanita sedang memikirkan sesuatu.

"Aku punya ide yang lebih bagus lagi! Dan pasti akan berhasil!" Sahut sang wanita dengan senyum jahatnya. Kemudian melihat sebuah bola kaca yang berada tak jauh dari apel yang telah dihancurkannya. Terlihat seorang gadis berambut pirang, bersandar di samping sebuah gedung, sedang menangis tersedu-sedu.

.

.

.

.

.


Bersambung! Nah, nah. Chapter ini jelek sekaliiiiii T-T Alurnya makin gajeeee Huwaaa maafkan Karin! Udah updatenya lama, hasilnya jelek... Gomen! Gomen! Gomen! Hiks... Tugas kuliah begitu memusingkan sehingga kadang aku gak fokus pas nulis fic... Tapi kadang-kadang aku menulis saat istirahat hahaha. Baiklah, biarkan Karin membalas review para readers yang tercinta!

Jim : Gomenne gakbisa update kilat. Hiks...

RyuuKazekawa : Natsu emang so sweeet Kyaaahhh #plak Tenang aja, Karin juga jomblo menemani Lucy #curcol *

Reka Amelia : Eng ing eng... Salahhhh! Natsu gak bilang "mu". Karin juga pengennya sih Natsu bilang begitu... Dasar Lisanna jahat! #lah Dan gomenne updatenya lama sekali...

Santika widya : hehe, ini sudah Karin update :D

XxRedSky-DragneelxX : Ya! Anda benaaar! Tapi jangan bunuh Natsuku #Plak Huweeeee

Otakugirl321 : Wuehehe, betul banget. Kayaknya Natsu gak tidur deh, Cuma pura-pura tidur hahahaaha

Nshawol56 : Hehehe, fangirlingnya batal soalnya Natsu gak jadi ngomong "kamu"~ Gomen gak bisa update cepet hiks

Nnatsuki : nah, nah. Tolong jangan cincang Natsu nana-chan, entar siapa yang jadi pasangannya Lucy? Hiks hiks :3

Azalya dragneel : Tenang saja, Lucy pasti kuat menghadapinya. Atau tidak? Lihat saja nanti hihihihi

Nervous : Ini sudah dilanjut terus :D

Terimakasih untuk yang sudah membaca dan mereview, apalagi yang setia menunggu fic ini update #plak. Gomen gomen gomen, Karin pengennya sih selalu cepet update hiks hiks.

Kalau begitu, sampai ketemu di chapter selanjutnya! Jaa~