Halooo! Ini fic jaman kapan ya, kok baru diupdate X)) Gomen, gomen. Karin baru dapet mood buat ngelanjutin ini fic. Hehe, enjoy!

Disclaimer

Fairy Tail milik Mashima-sensei


Previous Story

"Aku punya ide yang lebih bagus lagi! Dan pasti akan berhasil!" Sahut sang wanita dengan senyum jahatnya. Kemudian melihat sebuah bola kaca yang berada tak jauh dari apel yang telah dihancurkannya. Terlihat seorang gadis berambut pirang, bersandar di samping sebuah gedung, sedang menangis tersedu-sedu.

.

Remember Me

.

Genre : Romance

.

Pair : NatsuXLucy

.

Maaf bila gaje, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya

.

[Normal POV]

Lucy menatap kalender di kamarnya. Besok adalah hari ulang tahunnya. Tahun lalu ulang tahunnya dirayakan dengan meriah. Tapi, bagaimana dengan tahun ini?

Partnernya saja amnesia. Kalau dipikir-pikir, apa Natsu tahu ulang tahunnya setelah kejadian itu? Lucy tidak tahu.

Tok tok tok!

Lucy mengerutkan keningnya, 'tumben sekali ada yang mengetuk pintu.' Ia pun beranjak dari kursinya, dan membuka pintu. Terdapat sebuah kotak kecil dan sebuah amplop.

Lucy pun masuk lagi ke kamarnya dan membuka kotak yang seperti kotak perhiasan itu.

Lucy tersenyum manis. Isi dari kotak itu adalah sebuah liontin, yang berbentuk kunci. Tak perlu berlama-lama menatapnya, Lucy segera membuka isi surat dalam amplop tersebut.

'Dear putri mama tersayang,dan putri papa tercinta

Bila kau sedang membaca ini, berarti umurmu akan bertambah menjadi 19 tahun.

Mama dan papa ingin memberikan sesuatu padamu di umur yang sudah dewasa ini. Walaupun mama dan papa tidak bisa bertemu denganmu secara langsung.

Datang lah ke taman XOXO saat hari ulang tahunmu pukul 10 pagi. Pakai lah kalung pemberian mama dan papa. Nanti akan ada seseorang yang memberikanmu hadiah.

Love & Lucky,

Layla & Jude Heartfilia.'

Tanpa sadar, Lucy meneteskan air matanya. Setiap tahun selama 7 tahun, papanya selalu memberikanku hadiah. Kini mamanya pun ikut andil. 'Surat ini sepertinya sudah tua. Jadi ini ditulis sebelum mama meninggal? Berarti mama dan papa tau kalau... mereka tak akan melihatku tumbuh dewasa?'

Tangisan Lucy semakin kencang. Ia begitu merindukan kedua orang tuanya. Gadis berambut pirang itu membiarkan dirinya terlelap dalam tangisnya.

Ia kembali terbangun pada sore harinya, dan memutuskan untuk pergi ke guild. Tiba-tiba ia ingin sekali membaca buku di perpustakaan.

IOIOIOIOI

Beberapa jam sebelumnya...

[Levy's POV]

Belakangan ini Lu-chan jarang datang ke guild. Ada masalah apa ya? Padahal kan besok ulang tahunnya. Oh astaga Levy! Besok ulang tahun Lu-chan!

Pagi ini Lu-chan juga tidak ada. Tapi, tidak apa-apa lah. Kini aku bisa memberitahukan seisi guild untuk membuat pesta kejutan.

"Minna! Besok Lu-chan akan berulang tahun!" Sahutku.

Kulihat Mira melirik kalender di dinding kemudian tersenyum, "kau benar Levy. Kita harus membuat pesta kejutan."

"Yosh! Aku akan membeli kuenya!" Erza langsung pergi ke luar guild. Aku bersweatdrop. Sepertinya sebentar lagi akan datang strawberry cake 3 tingkat.

"Aku akan membuat dekorasinya!" Wendy dan Lisanna menyahut bersamaan. Mereka pun tertawa kecil.

Aku ikut tertawa. Lu-chan, kau mempunyai nakama yang amat menyayangimu.

IOIOIOIOI

[Normal POV]

"Hey, Natsu. Kenapa diam saja?" Lisanna menghampiri Natsu, setelah pekerjaannya membuat dekorasi usai.

"Aku bingung harus memberikan hadiah apa untuk Lucy."

Lisanna mendesah pelan. Ia pun segera tersenyum, "Natsu, mau kan ikut aku sebentar ke luar?"

"Ada apa Lis?"

"Sudah ikut saja."

IOIOIOIOI

[Lucy POV]

Aku berjalan menuju guild. Tunggu, sepertinya ada orang di samping guild. Siapa?

"Natsu, kau menyukaiku?" Terdengar suara seorang gadis. Lisanna!

"Tentu saja Lis!..." Uh, aku tidak sanggup mendengarkan lebih lanjut. Aku segera kabur ke dalam guild. Kenapa guild begitu sepi? Huff. Semuanya sibuk. Termasuk Natsu dan Lisanna. Argh, Lucy. Apa yang kau pikirkan? Lebih baik membaca buku di perpustakaan.

Aku membuka buku fiksi. Tapi moodku sama sekali tidak bagus untuk membaca ini. Tumben sekali.

Mataku justru tertarik pada sebuah buku tebal berwarna hitam yang tak berjudul. Aku mengambil buku itu dan membaca judulnya.

'Secret of Dark Mages'

Hm. Sepertinya aku dan Levy belum sempat membuka buku ini. Aku terus membaca halaman demi halaman. Dan... rasanya aku ingin sekali membunuh Atra.

IOIOIOIOI

[Normal POV]

"Natsu, kau menyukaiku?" Lisanna bertanya pada Natsu.

"Tentu saja, Lis! Kau kan nakamaku!" Natsu pun menyengir.

Lisanna membuang napasnya pelan. Ia sudah tau jawaban teman masa kecilnya ini.

"Natsu, apa kau menyukai Lucy?"

"Tentu saja Lis! Dia kan juga nakamaku!"

"Aku tau itu. Maksudku, apa kau menyukainya lebih dari sekedar nakama?"

"Aku tidak mengerti maksudmu."

"Apa yang kau rasakan ketika berada di dekat Lucy?"

Tiba-tiba Natsu mengingat sesuatu dalam mimpinya. Sebuah surat yang sepertinya ia tulis... untuk Lucy?

Tanpa sadar, Natsu menggumamkan isi surat itu, "Setiap kali aku bertemu dengannya, jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Setiap kali aku mencium wangi Vanillanya, hatiku berdesir penuh hasrat. Setiap kali aku melihat surai rambut pirangnya dari kejauhan, kupu-kupu seolah hidup berterbangan dalam perutku. Setiap kali aku melihatnya menangis, tanganku terkepal kuat dan rasa amarah memenuhi jiwaku. Dan setiap kali aku melihatnya tersenyum, batinku menenang, kedua sudut bibirku mengangkat dan menunjukkan gigi-gigi depanku. Dan ketika aku tahu alasannya tersenyum adalah aku, rasanya seluruh hidupku akan baik-baik saja apa pun yang terjadi. Kau tahu aku sakit apa?"

Lisanna mendengarkan Natsu baik-baik. Setelah ucapan Natsu berhenti, Lisanna tersenyum tulus. "Kau tidak sakit Natsu. Kau jatuh cinta pada Lucy."

"B-benarkah?"

"Yup. Selamat! Onii-chanku sudah dewasa yah! Hahaha!"

"Arigatou Lis." Natsu memberikan cengirannya pada Lisanna.

Lisanna pun menatap mata Natsu, "sama-sama, Natsu."

IOIOIOIOI

~Keesokan harinya~

"Kenapa Lucy belum datang ke guild?" Mira bertanya sambil mengelap gelas-gelas. Tentu saja hari ini gelas-gelas akan lebih banyak dipakai.

Seisi ruangan telah dihias setelah Lucy pulang dari guild. Semua orang saling bahu membahu mendekorasi dan mempersiapkan makanan. Kue strawberry super besar pun sudah bersembunyi di dapur pagi ini.

Namun celestial mage yang mereka tunggu belum juga datang.

"Sudah jam setengah 11, Lu-chan seharusnya sudah bangun dari pagi." Ucap Levy sambil menidurkan kepalanya di meja bar.

"Natsu, bagaimana kalau kita menjemput Lucy?" Erza bertanya.

"Aku ikut!" Gray menyahut.

"Kalau Gray-sama ikut, Juvia juga ikut!"

"Yosh!"

Natsu, Erza, Gray, Juvia, dan tentunya Happy segera beranjak menuju apartemen Lucy. Pria berambut merah muda itu memasuki kamar Lucy melalu jendela. Sementara, Erza membuka kenop pintu Lucy dengan mudah. Karena tidak dikunci.

"Hey, Luce tidak ada di kamarnya." Natsu menyahut.

"Dia juga tidak ada di dapur." Gray menambahkan.

"Love rival juga tidak ada di kamar mandi." Kita tentu tahu siapa yang berbicara seperti itu.

"Natsuuu! Aku menemukan sesuatu." Happy menyahut saat Natsu baru saja mau ke ruang tengah.

Ia menunjuk pada sebuah surat yang tergeletak di meja tulis Lucy.

Erza pun membacanya lantang-lantang.

"Lucy pasti pergi ke tempat ini." Ucap Gray.

"Kau benar. Ia pasti sangat merindukan orang tuanya. Apa sebaiknya kita tunggu sampai ia pulang?" Erza bertanya pada mereka.

Semuanya menggangguk, terkecuali Juvia.

"Tunggu!"

"Ada apa Juvia?"

"Coba lihat sebuah noda di amplop ini." Juvia memberikan amplop yang juga tergeletak di meja.

Erza melihatnya, "ini hanya noda biasa Juvia."

"Tunggu. Coba aku lihat." Gray mengambil amplop itu dan mengusap-ngusap noda. Kemudian muncul sebuah tulisan. "Atra Mallory."

BRAK!

Natsu langsung lompat dari jendela. Dan berlari ke taman itu.

"Natsu!" Happy menyahut.

"Tunggu Happy. Kami akan mengejar Natsu, kau beritahu orang-orang di guild." Perintah Erza.

"Aye!"

IOIOIOIOIOI

Guild masih dalam keadaan normal. Pesta tidak akan dimulai sampai seorang gadis berambut pirang datang bersama timnya. Gajeel yang sedari tadi terdiam, kini berjalan menuju Levy.

"Hey, kecil. Sepertinya kemarin Bunny Girl terlihat aneh."

"Hah? Kemarin? Maksudmu apa?"

"Kau benar Gajeel, aku juga merasa ada yang aneh dengan Lucy." Mira ikut menyahut.

"Maksud kalian, saat Lu-chan keluar dari perpustakaan?"

"Yep. Moodnya seperti langsung berubah, berbeda dengan saat ia memasuki perpustakaan."

"Aku akan ke perpustakaan sebentar."

Levy pun berlari kecil menuju perpustakaan.

Mata Levy langsung mendelik melihat sebuah buku tebal yang terbuka. 'Sepertinya ini buku yang Lu-chan baca. Tumben sekali ia tidak menutupnya dan mengembalikan di raknya.'

Levy pun membaca tulisan di halaman yang terbuka.

"Nama mantra : Amneombra.

Efek : Membuat seseorang melupakan cinta sejatinya."

Levy berhenti membaca. Ia berpikir, 'apa ini mantra yang mengenai Natsu? Berarti, Lu-chan adalah cinta sejatinya? Tentu saja Levy! Apa yang kau pikirkan? Tapi apa tujuan Atra mengenai mantra ini pada Natsu? Apa ia ingin membuat Lu-chan menderita?' Levy menyimpan pertanyaannya dan melanjutkan membaca.

"Jika dalam 13 hari mantra ini tidak dipatahkan, korban akan mati." Levy menutup mulutnya yang menganga. Jantungnya berdegup kencang, ia terlalu takut untuk membaca kalimat selanjutnya. 'Kalau tidak salah sudah 12 hari setelah tim Natsu pulang dari misi mereka. Berarti, tinggal satu hari! Tinggal satu hari sebelum mantranya akan membunuh Natsu!'

"Mantra ini dapat dipatahkan jika : Pengucap mantra dibunuh oleh cinta sejati si korban, dan ..." Levy tak sanggup membaca kelanjutan dari tulisan tersebut.

Ia baru saja mau beranjak dari kursinya ketika ia mendengar suara pintu guild dibuka lebar.

"Lucy dijebak Atra!" Sahut Happy.

"Siapa Atra?" Gajeel bertanya dengan polos.

"Mage jahat yang membuat Natsu amnesia!"

"Lu-chan!" Levy berteriak keluar dari perpustakaan. Air mata mulai mengalir dari matanya.

"Hey, ada apa kecil?"

"G-Ga-Gajeel! Kita harus menyusul Lu-chan!"

"Happy, kau tau dimana Lucy sekarang?"

"Mungkin di taman... XOXO?"

"Ayo, kecil! Wendy, kau ikut tidak?"

"Hai! Ayo Charle!"

IOIOIOIOI

Lucy berdiri, sendirian di taman itu. Ia melirik jam tangannya. Tepat jam 10. Dimana orang yang dijanjikan itu?

Lucy kembali melihat liontin yang diberikan mamanya. Atau ia harus bilang... liontin pemberian Atra? Yah, Lucy sudah mengetahuinya. Ia sudah tahu bahwa Atra menjebaknya. Tapi, ia harus menuruti permintaan Atra. Lucy harus bertemu Atra. Kalau tidak, bagaimana ia bisa menyelamatkan Natsu?

Lucy berjalan ke sana kemari. Yang ia lihat hanyalah hamparan bunga yang indah dan berwarna warni. Tiba-tiba mata Lucy menangkap sesuatu yang berkilauan di antara bunga-bunga itu.

Baru saja Lucy melangkah mendekati benda itu. Dan yang Lucy injak adalah lubang!

"KYAAAAAAAAAAAAA!"

Gelap. Yang bisa ia lihat hanya gelap. Entah kenapa lubang yang seharusnya memancarkan cahaya dari luar, kini tertutup sempurna. 'Atra benar-benar disini.'

Lucy seperti melihat sebuah pintu. Ia pun berjalan ke arahnya, dan membuka pintu tersebut. Terkunci. Tiba-tiba kalungnya bersinar, namun yang muncul adalah cahaya kegelapan. Lucy menggunakan 'kunci' itu untuk membuka pintu tersebut.

Dan betapa kagetnya ia melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.

"Y-Yukino? Yukino!"

Lucy berlari menuju sebuah tabung (A/N : Tabungnya seperti milik Tartaros), yang didalamnya terdapat Yukino Aguaria, celestial mage dari Sabertooth, yang juga memiliki kunci emas. Gadis yang mirip Lisanna itu terperangkap dengan borgol yang diikat di ujung tabung. Wajahnya penuh luka. Dan ia pun tak sadarkan diri.

"KYAAH!" Sebuah bayangan tiba-tiba menarik kedua kaki Lucy, tidak membiarkannya mendekati Yukino. Lucy meringis, cengkraman bayangan itu cukup kuat.

"Kau datang juga, gadis bodoh." Suara Atra menggema dalam ruangan. Namun wujudnya tak tampak.

"Pengecut! Tunjukkan dirimu!" Lucy berteriak. Emosinya sudah menaik. Apa yang sebenarnya Atra inginkan? Kekuatannya? Kunci zodiaknya? Itu dia! Atra pasti menginginkan kuncinya. Lucy harus melindunginya dengan baik.

"Nah, nah. Mentang-mentang kau menerima tantanganku, kau menjulukiku dengan sebutan 'pengecut'? Beraninya!" Masih tak berwujud, Atra melepaskan bayangannya untuk mengikat kedua tangan Lucy.

Kemudian bayangan lain dengan cepat menampar Lucy keras. Gadis itu dapat merasakan darah mulai mengalir dari ujung bibirnya.

"Apa mau mu?"

"Tentu saja kunci zodiakmu, dan juga..." suara Atra tertahan, "hidupmu."

.

.

.

.

.

.

.

.


BERSAMBUNG! Lagi-lagi cliffhanger kekeke :3 Kira-kira cara apa yang harus mereka tempuh buat menyelamatkan Natsu selain membunuh Atra? Dan apakah Natsu dan kawan-kawan bisa menyusul Lucy? Dan apakah Levy bisa menyusul Natsu dan kawan-kawan? Kenapa ini saling susul menyusul yah? Hahaha. Tunggu di chapter berikutnya!

Yah, Karin tau, chapter ini pendek sekali T-T Karin sudah mentok nih huhuhu. Karena adegan paling serunya bakal ada di chapter selanjutnya. Dan mungkin... chapter 9 adalah chapter terakhir hiks :"

Nah, mau bales review dulu ya ;)

Reka Amalia : hihi, tidak apa-apa :D Apa Natsu bisa membahagiakan Lucy? Lihat di chapter selanjutnya kekeke :3

Red-sky-dragneel : Lisanna gak jadi pengganggu lagi kok! ;) Kyaa gomen gak bisa update kilat :"

Yodontknow : hoho, sama-sama ;)

Guest : Lisanna merelakan kok ;)

Nnatsuki : Hohohoho, Lisanna kampret emang X)) Tapi dia sudah menyerah :') Nana-chan jangan hiatus T-T, Karin udah gak hiatus kok (padahal ini fic udah 2 bulan kagak diapdet X))

Azalya dragneel : Sepertinya mereka mulai menyadari nih kekeke :3 Ini endingnya... sudah lihat saja nanti kekeke :3

S4kur4miyuz4ki : Gomen karena chapter ini juga menggantung :"

Ananda andi : Arigatou! :D Gomen updatenya gak bisa cepet

Kyaa! Terimakasih semuanya, yang membaca, yang mereview, dan yang sudah menunggu! :') Semoga kalian masih mau tetep menunggu hihihi. Karena ini tinggal 1 chapter lagi, Karin usahakan update cepet. Arigatou!

Jaa~