Disclaimer

Fairy Tail milik Mashima-sensei


Previous Story

Kemudian bayangan lain dengan cepat menampar Lucy keras. Gadis itu dapat merasakan darah mulai mengalir dari ujung bibirnya.

"Apa mau mu?"

"Tentu saja kunci zodiakmu, dan juga..." suara Atra tertahan, "hidupmu."

.

Remember Me

.

Genre : Romance

.

Pair : NatsuXLucy

.

Maaf bila gaje, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya

.

[Lucy's POV, Flashback on]

Aku membuka sebuah buku yang berjudul 'Secret of Dark Mages'. Halaman pertama. Hanya judul. Halaman kedua. Ada daftar isi. Halaman ketiga. Tentang jenis-jenis dark mages. Dan entah kenapa aku langsung membuka halaman ke 13. Seolah ada yang memaksaku membuka halaman tersebut.

Aku pun membaca judul mantra yang tertera besar-besar.

"Amneombra. Hanya bisa dilakukan oleh shadow mage."

Shadow mage? Atra kan shadow mage. Rasa penasaranku memuncak.

"Efek : Membuat seseorang melupakan cinta sejatinya."

Mungkin kah ini mantra yang dikenakan pada Natsu? Maksudku, itu artinya aku... cinta sejatinya? Tapi, bisa saja. Maksudku bukan masalah cinta sejatinya. Bisa saja, Atra memang membaca spell yang panjang itu. Tetapi, itu akan mengendalikan pikiran Natsu. Berarti Atra ada di dalam pikiran Natsu, dan... ia bisa saja mengucapkan mantra ini pada Natsu. Aku melanjutkan membaca.

"Peringatan! Jika dalam 13 hari mantra ini tidak dipatahkan, korban akan mati."

N-Natsu?! Tidak! Tidak! Natsu tidak boleh mati! Kami-sama, kenapa mantra ini begitu kejam.

Rasanya aku ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi tenggorokanku tercekat. Hanya rasa pahit yang terkulum dalam seisi mulutku.

Aku melihat kalender yang memang tertempel di dekat pintu perpustakaan. Waktu itu, kami pergi misi tanggal sekian. Lalu... sekarang tanggal... Astaga! Waktunya tinggal satu hari lagi. Tidak. Natsu tidak boleh mati.

"Cara memecahkan mantra."

Ah! Aku harus bisa melakukannya. Apa pun itu.

"Pengucap mantra dibunuh oleh cinta sejati si korban, dan ..." aku menahas napasku. Astaga, Lucy, kau harus melakukan ini demi Natsu... "dan cinta sejatinya itu harus mati."

Air mataku kini meleleh. Mengapa mantra ini begitu kejam? Jika aku ingin menyelamatkan hidup Natsu, hidupku hanya akan berlangsung selama sembilan belas tahun? Aku berusaha tersenyum, pahit.

Kau harus melakukan ini Lucy. Natsu telah menyelamatkanmu puluhan kali, dan kau akan membiarkannya mati, hanya karena ia menyelamatkanmu lagi? Kali ini, aku harus berkorban.

Aku mengelap tangisanku. Dan emosi menyusup melalui setiap pori tubuhku. Aku harus menemukan Atra.

Aku kembali pulang ke apartemen. Sebelumnya, aku melihat Natsu dan Lisanna sedang mengobrol dan tertawa kecil. Aku menarik napasku, berat. Bukan saatnya memikirkan kecemburuanmu, Lucy. Jangan egois. Selamatkan Natsu.

Otakku terus berputar, mencari cara supaya bisa bertemu dengan Atra. Mataku tiba-tiba melirik ke arah meja. Terdapat surat, amplop dan kotak perhiasan yang sampai pagi tadi.

Mataku kini menangkap sebuah noda kehitaman aneh di pojok amplop. Aku mengambil amplop tersebut kemudian menerawangnya, dengan bantuan cahaya lampu. Ternyata ada sebuah tulisan!

"A... Atr... Atra... Ma... llo... ry... Atra Mallory. Atra Mallory!"

Astaga, ternyata yang mengirim surat ini Atra. Kau cukup bodoh untuk menjebakku, Atra. Tapi dengan ini, aku bisa bertemu dengannya.

Tiba-tiba salah satu kunciku bersinar. Dan aku bisa mendengar suara Cora memanggilku.

"Lucy!"

'Cora, ada apa?'

"Aku merasakan ada bahaya yang akan menghampirimu."

Aku tersenyum. 'Justru aku yang akan menghampiri bahaya itu.'

"Kau yakin, Lucy?"

'Uhm. Kalau tidak, Natsu akan mati. Ngomong-ngomong, kau... punya senjata?'

"Aku punya sebuah belati. Bagaimana?"

Aku tertawa kecil. 'Belati? Itu tidak buruk. Kapan aku bisa melihatmu? Maksudku, wujudmu?'

"Nanti, saat kau akan membunuh Atra. Aku siap menjadi pengawalmu."

Entah kenapa aku bisa merasakannya tersenyum. 'Terimakasih Cora.'

"Tidak, Lucy. Aku yang harusnya berterimakasih, karena kau sudah mempercayaiku."

Ucapan Cora membuatku terenyuh. Membuatku tak ingin meninggalkan dunia ini. Fuh. Lucy, kau kuat! Kau harus kuat!

[Flashback off, Normal POV]

'Kau harus kuat Lucy!'

Walaupun kini Lucy dibelenggu oleh bayangan gelap milik Atra. Ditampar sekian kali. 'Uh, rasanya mulai perih.' Tangan kanan Lucy berusaha ia gerakkan ke arah dompet kuncinya.

PATS!

Bayangan lain segera mengunci jemari Lucy, dan menarik dompet berisi kunci emas beserta peraknya.

"Tidak!" Lucy berteriak refleks. Ia berusaha menggerakan segala alat geraknya, namun bayangan itu begitu kuat mencengkramnya.

"Huff, sebenarnya aku tak mau menyakitimu." Atra kembali bersuara. "Tapi, melihatmu menderita sangat menyenangkan."

Sebuah banyangan kini menangkup kedua pipi Lucy, dan segera mencekeknya. Bayangan lain yang tadi mengunci anggota geraknya, melempar badan Lucy ke sana dan kemari.

Air mata Lucy kembali mengalir. Sakit. Perih. Kepahitan apa lagi yang harus ia tempuh? Tapi kalau begini caranya, bagaimana ia bisa membunuh Atra?

IOIOIOIOI

"Juvia, cepatlah!" Perintah Erza. Natsu sudah berlari jauh, namun masih berada dalam pandangan Erza. Gray berada di beberapa langkah lebih maju dari Erza. Sementara Juvia tertinggal beberapa langkah dari Erza.

"Yosh!"

Beberapa ratus meter setelah itu, tiba-tiba Natsu menghentikan langkahnya. Taman bunga? Yang bisa ia lihat kini hanya hamparan bunga berwarna-warni.

Dengan napas terengah-engah, Natsu meneriakkan nama Lucy. "LUUUUUCE!"

"Lucyyyyyyyyyyyyyyy!"

"Love Rivaaaaaaaal!"

Namun nihil. Mereka tak menemukan tanda-tanda Lucy. Natsu mencium udara sekitar. Ada sedikit bau vanilla yang sempat tercium, namun kenapa bau itu... menghilang?

IOIOIOIOI

Bayangan gelap itu kini membawa Lucy mendekati sebuah mesin, entah apa mesin itu. Yang jelas, kini Lucy gemetar ketakutan.

"Takut, ne? Tenang saja. Mesin itu tak akan melukaimu."

Lucy masih terdiam. Ia belum bisa melawan kekuatan bayangan itu.

"Dengan kau, gadis Sabertooth dan kedua belas kunci zodiak kalian, aku akan mendapatkan keabadian!" Jelas Atra, kemudian ia tertawa jahat.

Kini emosi kembali menguasai Lucy. Ia mengerjapkan kedua kelopak matanya, sosok Atra mulai muncul. Rambut hitamnya bergelombang menjuntai ke lantai yang hitam pula. Ia mengenakan sebuah terusan panjang berwarna hitam dan juga berenda dengan warna senada. Raut wajahnya menampakkan kelicikan dan kepuasan yang akan sebentar lagi ia dapatkan.

"Ohya, mesin itu tak akan melukaimu. Tapi, itu akan membunuhmu." Tambahnya.

Mata Lucy melebar. Ia memang harus mati, tapi ia harus membunuh Atra terlebih dahulu. Dan tentu saja ia tidak membiarkan Yukino juga menjadi korban.

Lucy berusaha meronta. Tapi usahanya tak membuahkan hasil.

Poof!

Tanpa perlu dipanggil, Virgo dan Loke muncul di hadapan Lucy. Hati Lucy mulai lega.

"Hukuman, Hime?"

"Tidak. Lepaskan Yukino! Loke, bebaskan aku!"

"Lion Brilliance!"

Dan dengan mudah bayangan itu musnah. Lucy pun terjatuh namun ia dengan cepat segera bangkit.

"Kyaa!" Virgo berteriak sebelum ditebas oleh Atra dengan bayangan gelapnya. Virgo pun kembali ke celestial realm.

Lucy langsung ngambil kuncinya. Yang terletak di sebelah mesin yang tadi.

"Taurus! Scorpion! Lakukan Unison Raid!"

Sebelum sempat melakukannya, kedua spirit itu langsung dihujam oleh Atra. Dan mereka pun kembali ke celestial realm. 'Sial, Atra semakin kuat.'

Loke berlari ke arah Atra. Dia menahan segala bayangan yang ingin menyiksa Lucy.

"Gemi! Mini!" Dengan singkat Gemi dan Mini berubah menjadi Lucy.

"Survey the Heaven, Open the Heaven... All the stars, far and wide... Show me thy appearance..."

"Urano Metria lagi? Sungguh? Kau tidak kreatif, Blondie." Ledek Atra. "Shadows Bashes!" Atra meluncurkan serangannya pada Gemi dan Mini. Mereka pun langsung menghilang, tidak melanjutkan Urano Metria. Lucy terdorong ke belakang.

"Sudah lelah?" Atra kembali meledek.

'Natsu, kau dimana?' Batin Lucy bertanya.

IOIOIOI

"Natsu!" Suara seekor exceed memanggil nama Natsu, yang kini tengah frustasi.

"Kalian!" Erza menyahut, melihat kedatangan Happy, Wendy, Charle, Gajeel, Lily dan Levy.

"Apa yang ada di tanganmu, Levy?" Gray bertanya, melihat sebuah sesuatu yang cukup besar.

"Ah, aku mau bertanya sesuatu pada Natsu." Levy pun membuka buku itu.

"Padaku?"

"Ini. Apa kau pernah mendengar mantra ini sebelumnya?" Levy menunjukkan halaman ke 13 dari buku tersebut.

"Amne...ombra? Oh! Ini mantranya Atra!"

"Ternyata benar. Ini mantra yang membuatmu melupakan Lu-chan!" Levy menjelaskan. "Bacalah lanjutannya."

Natsu, Erza, dan yang lainnya membaca secara seksama. "Aku... akan mati?" Natsu menggumam kecil.

"Tapi tidak jika Lu-chan membunuh Atra."

"Dan sekarang ia mungkin sedang berhadapan dengan Atra." Juvia melengkapi.

"Masalahnya," Levy menahan napasnya, air mata mulai menyeruak di pelupuk matanya. "Lu-chan membaca halaman yang salah, hiks..." Gajeel segera merangkul Levy.

"Maksudmu?"

"Halaman sebenarnya terobek, dan tertempel ke halaman sebelumnya. Yang Lu-chan baca adalah cara memecahkan mantra di halaman selanjutnya."

"Dan cara memecahkan mantra lain itu adalah..." Erza menahan ucapannya, membalik halaman selanjutnya, "ia harus membunuh Atra,"

"dan ia harus mati." Gray melanjutkan ucapan Erza.

Natsu segera membakar buku itu. Namun, usahanya sia-sia. Buku itu masih dalam keadaan utuh.

"Natsu!"

Amarah menguasai diri Natsu. Ia memporakporandakan taman tersebut. Ia yakin Lucy ada di sekitar sini. Karena Natsu mulai mencium bau vanilla.

Tiba-tiba, langit berganti menjadi mendung, dan makhluk seperti kelelawar berkelibat di sekeliling mereka.

"Kyaa!" Wendy berteriak kencang.

"Requip Heaven's Wheel Armor!"

"Ice make : Hammer!"

"Water Slicer!"

"Solid Script : Fire!"

"Iron Dragon's Fist!"

"Fire Dragon's Roar!"

Ditengah peperangan itu, tiba-tiba Natsu menghilang. Setelah itu semua kelelawar menghilang.

IOIOIOI

"AAAAARGH!" Natsu memegang kepalanya. Sakit itu kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ia mengingat lagi apa yang terjadi. Saat ia melawan puluhan kelelawar itu, tiba-tiba ia menginjak sesuatu yang ternyata adalah lubang. Ia terjatuh dan tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.

'Natsu, Luce tidak boleh mati. Kau harus melawan sakit ini.' Entah kenapa Natsu merasaka lebih baik dia yang mati daripada harus melihat Lucy mati.

"LUUUUCEE!" Natsu melempar apinya ke segala arah. Tapi yang ia lihat tetap gelap. Dan gelap.

IOIOIOIOI

"Sepertinya 'cinta tak sampaimu' ingin menyelamatkanmu." Lucy menoleh ke arah lacrima yang ditunjukkian Atra. Disana ia dapat melihat Natsu yang sedang kesakitan.

"Ia jatuh dalam lubang yang sama denganmu. Tapi sayangnya, tanpa kalung yang kuberikan padamu, lubang itu akan mengeluarkan racun yang berbahaya."

"Natsu!"

"Tidak ada gunanya memanggilnya, Blondie. Semua ruangan disini kedap suara. Tak ada yang dapat mendengar suaramu, dan suaranya."

Air mata Lucy sudah kering. Ia tak dapat menangis lagi. Loke sudah kembali ke celestial realm. Kekuatan sihirnya pun sudah hampir habis. Bayangan kembali mencengkram kuat setiap pergelangan kaki dan tangannya. Ia hampir putus asa.

Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya muncul dari sebuah kunci berlian. Ya, kunci itu memang Lucy simpan sebagai kalung. Jaga-jaga ketika kunci-kuncinya tidak berada di dekatnya.

Kemudian muncul sebuah sosok gadis, mungkin hanya beberapa tahun lebih muda dari Lucy.

Rambutnya bergelombang panjang menjuntai, berwarna biru muda. Matanya berkilauan dengan warna yang senada dengan rambutnya. Ia mengenakan sebuah lolita dress berwarna hijau dan coklat, serta bertebaran potongan berlian. Rambut indahnya dilengkapi dengan sebuah bando berwarna merah dan putih, seperti permen. Pun tak lupa ia memakai flat shoes berwarna coklat.

"C-Cora?" Lucy takjub dengan penampilan Cora yang tak ia duga. Suara kekanak-kanakan yang ia dengar selama ini, tak ia sangka kalau pemiliknya hampir seumuran dengannya, dan ia begitu cantik.

"Lucy!"

Cora segera memutuskan bayangan yang mengikat masternya. Lucy hampir terjatuh namun ia segera bangkit. Ia pun menyunggingkan senyum manisnya pada Cora.

"Maafkan aku, Cora." Ucap Lucy. Spirit itu hanya mengangguk, sepenuhnya mengerti maksud Lucy.

"Lucy, kau siap?"

Lucy mengangguk mantap.

"Spirit apa itu? Sepertinya menarik untuk dikoleksi hm..." Atra berbicara dengan nada meledek, sambil mengetuk-ngetukan telunjuknya pada dagunya.

"Merry Shine!" Cora meluncurkan kilatan cahaya ke segala arah. Dan dengan cepat, Atra bisa menghindar. Lebih tepatnya, membentengi dirinya sendiri.

Cora tiba-tiba menggenggam tangan Lucy. Kemudian membawanya terbang dengan cepat memutari Atra.

Shadow mage itu segera menyerang mereka ke segala arah. "Shadows wheel!"

Kali ini, usaha Atra sia-sia. Satu pun bayangan tak mengenai Cora dan Lucy. Kini mereka berhenti di sebuah titik, tepat di hadapan Atra.

Cora memeletkan lidahnya pada Atra. "Cih. Jadi ini penyihir bayangan yang jahat itu? Apanya yang jahat? Ngelawan Cora aja gak bisa." Kemudian ia tersenyum seperti anak kecil tersenyum.

Lucy yang terengah-engah kini tersenyum penuh kemenangan. Sebentar lagi, ia akan menyelamatkan Natsu.

Tangan kanan Cora masih menggenggam tangan Lucy, sementara tangan kirinya kini muncul kilatan cahaya. Yang kemudian memunculkan sebuah belati kecil.

Atra tertawa lebar, "serius? Kau mau bermain-main denganku?"

"Tidak." Cora dan Lucy menjawab dengan serempak.

"Shadows Gladio!" Atra memunculkan sebuah pedang besar yang diselimuti aura kegelapan. Lucy terdiam, ia ingat pedang itu. Pedang yang hampir membunuh Natsu. Ia menelan ludahnya. 'Mungkin aku bisa terbunuh dengan pedang itu.'

"Kau siap?" Cora bertanya pada Lucy. "Ready when you are." Lucy menjawab dengan mantap.

Wujud Cora mulai menghilang, lebih tepatnya, ia memasuki tubuh Lucy. Lucy masih Lucy yang sama, hanya dengan warna matanya yang kini berubah menjadi biru muda. Ia memegang belati Cora di tangan kanannya.

"Menantang, Blondie?"

"I'm all fired up!" Kalimat yang sering Natsu ucapkan. Lucy menggigit bibir bahwanya, namun Cora menenangkannya.

"Kau bisa, Lucy."

'Kita bisa, Cora.'

Dengan belatinya, Lucy berlari ke arah Atra. Dan Atra berlari ke arah Lucy, menghunuskan pedang besarnya.

IOIOIOIOI

"Fire Dragon's Fist!" Natsu menonjok sebuah pintu dengan penuh amarah. Dan, pintu itu runtuh seketika. Entah karena emosinya yang menguap-nguap atau karena pemilik pintu tersebut sudah tiada.

"AAARGH!" Teriakan Atra menggema, menyesaki udara ruangan itu. Ya, kini Natsu melihat Atra, yang sudah ditusuk Lucy oleh sebuah belati kecil. Tapi Natsu tidak bisa berkata-kata, ketika yang ia lihat adalah...

Pedang Atra menusuk tubuh Lucy.

"L-Luce! ARGH!"

Tiba-tiba kepalanya terasa amat pusing. Badannya terjatuh keras. Natsu menutup matanya erat-erat, berusaha mengurangi rasa pusing yang teramat sangat.

Ia seolah sedang menonton film. Semua kenangan yang ia lalui bersama Lucy berkelebat memenuhi otaknya.

'Kau mau gabung ke Fairy Tail kan? Ikut aku!'

'Itu bagus, Luigi!'

'Tak apa. Kita disini bersamamu!'

'Simpan air matamu untuk nanti, ketika kita menang.'

Natsu mengingat semuanya. Semuanya tentang Lucy. Semuanya tentang dia dan Lucy. Bahkan, sepucuk surat yang ia tulis sebelum pergi misi melawan Atra. Ia mengingat dengan betul setiap baris yang ia tulis. Bahkan baris terakhir.

"Aku mencintaimu, Luce."

Natsu membuka matanya lebar. Rasa sakit mulai memudar dari kepalanya. Namun rasa sakit kini menyesaki dadanya. Ia harus melihat Lucy, cinta sejatinya, mati, dengan mata kepalanya sendiri.

"LUUUUUUUUCEEE!"

Yang dipanggil menoleh pelan ke arah Natsu. Dengan sebuah pedang besar yang tertancap di dadanya, Lucy masih sempat tersenyum dengan manis pada Natsu. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang sudah terluka.

HUP!

Natsu berhasil menangkap Lucy yang tumbang. Air mata Natsu mulai menggumpal di pelupuk matanya.

"LUCE! KAU TIDAK BOLEH MATI!"

"K-kau... baik-baik saja... Natsu?" Natsu tertegun, Lucy masih sempat menanyakan dirinya ketika sebuah pedang menusuk dirinya. Natsu hanya bisa mengangguk, menunggu Lucy yang kembali membuka mulutnya.

"A-aku... berhasil... m-me-nyelamatkan... mu." Lucy berkata pelan, napasnya kian memberat. Darah mengucur hebat dari dadanya. Entah kekuatan apa yang membuatnya bisa menyampaikan pesan terakhirnya pada Natsu.

"TIDAK LUCE! JANGAN MATI!"

"K-kau... s-sudah... m-mengingatku... kan?"

Natsu mengangguk pelan. Air mata kian membanjiri matanya. Ia sudah pernah kehilangan Igneel. Kali ini ia menolak keras untuk kehilangan cintanya.

Lucy kembali tersenyum. Perasaannya sudah lega. Ia sudah membunuh Atra, memecahkan mantranya sekaligus menyelamatkan Natsu.

"N-Na-tsu... Aku... mencintaimu..."

"Aku juga mencintaimu, Luce."

Air mata mengalir deras dari mata Lucy. Kini rasa senang memenuhi dadanya, mengalahkan rasa sakit yang dialaminya.

"A-arigatou, Natsu..."

"T..tidak, Luce! Tidak!" Natsu semakin memeluk Lucy erat-erat.

"T-terimakasih... karena sudah... mengingatku..." Mata Lucy mulai menutup. Seluruh badannya mendingin. Tangannya yang tadi menggeggam erat tangan Natsu, terkulai tak berdaya. Bibirnya yang sudah pucat berhenti bergerak dalam sebuah senyuman. Senyuman terakhirnya untuk Natsu.

"LUUUUUUUUUUCE!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


~The End~

Karin : Hwah! Selesai! Endingnya... sedikit alay ya? Hiks hiks. Karin lagi pengen bikin sad ending. Soalnya fic yang lain kan udah ada yang happy ending #loh

Chapter terakhir tidak memuaskan yah? T-T Gomen ne. Di tengah liburan ini tiba-tiba Karin diberikan pekerjaan yang setumpuk (sebenarnya gak juga sih) hohoho. Yang jelas, itu harus diselesaikan.

Woh, malah curhat nih. Bales review dulu ye :

Ananda anfi : Natsu datang terlambaatt hiks hiks :"

Yodontknow : Gomen ne. Karin kemaren baru ada mood ngelanjutinnya kekeke :3 Ini sudah cukup cepat kan dibanding update-an chapter sebelumnya? Hihihi.

Hii-chan Dechiano : ... Sayangnya... ini sad ending :" Gomen ne. Kan emang Natsu idiot wkwk #ditendangNatsu. Kyaa. Maafkan Karin karena chappie ini pendek jugaaa T-T

Minakushi Uzunami : Waah, untuk apa ya? Asal untuk kebaikan (?), tidak plagiat, dan mencantumkan credit, tidak apa-apa kok :)

Reka amelia : Arigatou! Hihihi. Tetot. Atra harus dibunuh! Dia sudah jahat karena melemparkan mantra nista itu pada Natsu! Huwahahaha! #plak

Nacchandroid :Tidak apa-apa. Santai saja. Hihihi. Arigatou dibilang unyuuu #plak (bukan lo yang unyu, Karin. Fic lo.) Hohoho. Jambak saja Atra, tetapi dia sudah mati :') Silahkan di fav dan di follow hihihi. Salam kenal juga :)

LuNaLuNa : Hihi, iya nih sudah tamat :)

Azalya dragneel : Huweehehe. Sounds like fic ini discontinued ya? Gomen neeeee. Terimakasih sudah menunggu, Aza-chan *bow*

S4kur4miyuz4ki : Hehe, ini sudah dilanjut! :D Arigatou!

Karin : Terimakasih! Arigatou! Sankyu! Thankyou! Gomawo! Xie xie! Merci! Danke! Pokoknya beribu-ribu terimakasih buat para readers (termasuk yang silent readers), reviewers (kalian TOP bangeet), dan yang lain-lain (?). Kalian hebat! #Lah

Oke baiklah. Ini gaje sekali. Kalau begitu...

Levy : Karin, kamu gak ikut ke pemakaman Lu-chan? *sobs*

Karin : E-eh?

Lisanna : Ayo, kau akan terlambat.

Karin : B-baiklah...


~Epilog~


'Lucy Heartfilia lies here.' Begitulah tulisan yang terukir di sebuah batu nisan. Lucy dimakamkan di samping makam mamanya.

Terang. Hari itu begitu terang. Matahari bersinar terik. Seolah begitu bahagia dengan hari itu. Berlawanan dengan atmosfir yang melingkupi pemakaman tersebut.

Hampir semua anggota guild Fairy Tail menangisi kepergian salah satu nakama mereka tercinta. Seorang celestial mage berambut pirang, yang rela mengorbankan hidupnya demi cintanya, Natsu Dragneel. Lagi, semua orang menangis. Kecuali satu, Natsu.

"L-Lu-chan... hiks... Kau... sahabat terbaik yang pernah aku punya... hiks... Seandainya... aku bisa membaca novelmu sampai selesai... hiks..." Tangis Levy kian mengeras. Ia meletakkan setangkai bunga matahari di makam Lucy. Gajeel pun datang dan merangkul Levy dari belakang. Mencoba menenangkan gadis itu.

"Bunny girl, tarianmu keren. Terimakasih sudah menjadi sahabat yang baik untuk kecil." Tambah Gajeel.

"Lucy, kau sudah seperti adik kecilku. Kau selalu menyemangati kami dengan senyummu yang menghangatkan." Gray mengusap nisan Lucy. Air mata menyusupi pelupuk matanya.

"Lucy, kau adalah wanita yang kuat. Kau selalu ada untukku. Tapi aku tak pernah bisa berbuat apa-apa untukmu..." Suara Erza menyayat hati semua orang di pemakaman. Air matanya mengalir tanpa menimbulkan suara isak tangis.

Semua anggota guild memberikan pesan-pesan terakhirnya untuk Lucy.

"Lussyyyyyy... Huweee...Maafkan akuuu..." Happy menangis kencang di samping makam Lucy. Ia tak sanggup berkata-kata selain mengucapkan maaf dan terimakasih. Kini yang belum mengucapkan pesan pada Lucy hanya Natsu.

Ia terpaku di depan makam Lucy.

"Natsu?" Makarov berusaha menyadarkan Natsu dari periode 'diam'nya.

"L... Luce...LUCY BELUM MATI!"

"Natsu..." Erza memegang bahu Natsu, menahannya sebelum ia menghancurkan seisi makam.

"OMONG KOSONG APA INI?! LUCY TIDAK MUNGKIN MATI!"

"Flame head, tenanglah."

Kemurkaan Natsu malah meningkatkan intensitas kesedihan nakamanya. Lisanna berjalan perlahan, kemudian ia menggeggam kedua tangan Natsu.

"Natsu... ? Daijobu?"

Natsu menghela napasnya. Tiba-tiba tubuhnya mengkaku. Sebuah bau yang amat familier menelisik hidungnya. Menguak rindu yang terbungkam. Sebuah wangi vanilla.

"Luce?"

Natsu melepaskan genggaman Lisanna kemudian berlari menuju bau itu.

"Natsu!" Lisanna memanggil nama Natsu, namun Erza menahannya.

Levy mengusap tangisnya kemudian memberikan pandangan bertanya pada Gajeel. Begitu juga dengan Charle yang kini menatap Wendy.

Gajeel hanya mengedikkan bahunya dan merangkul Levy erat. Wendy mengelap air matanya, dan tersenyum kecil pada Charle. Mereka berdua pun tak yakin dengan bau yang mereka cium.

IOIOIOI

Natsu terus berlari, hingga ia sampai di taman mansion Heartfilia. Mata onyxnya melebar. Jemarinya ia gunakan untuk mengucek matanya, bahkan mencubit pipinya. Sakit. Apakah ini bukan mimpi? Apakah ini kenyataan? Lucy Heartfilia sedang duduk manis di kursi taman mansion sambil menatap air mancur.

Natsu tak tau apa yang ia rasakan dalam hatinya. Semuanya bercampur aduk. Ia melangkahkan kakinya pelan menuju Lucy. Sembari menahan napasnya, terlalu takut untuk kehilangan Lucy kembali.

Merasa ada seseorang yang mendekatinya, Lucy menengok ke arah Natsu.

"Hai, Natsu." Tak lupa Lucy menambahkan sebuah senyuman hangat pada Natsu. Sebuah senyuman yang amat Natsu rindukan.

"L-Lu-Luce?"

"Daijobu, Natsu? Wajahmu terlihat pucat." Ucap Lucy. Ada sepercik raut khawatir yang ia pancarkan.

Tangan Natsu perlahan hendak menyentuh wajah Lucy. "Kau... Luce?"

Lucy kembali tersenyum. "Ya, Natsu. Aku masih hidup."

Cup! Lucy menyentuhkan bibirnya pada pipi Natsu. Membuat pipi Lucy merona merah.

"LUCE!" Natsu reflek memeluk Lucy. Bibir Lucy membulat, kaget akan tindakan tiba-tiba dari partnernya. Namun dalam sekejap ia tersenyum, direngkuh dalam kehangatan seorang Fire Dragon Slayer.

"Luce, aku mencintaimu." Bisik Natsu. Entah kenapa air mata Lucy mulai muncul.

"Aku juga... mencintaimu, Natsu."

Beberapa detik kemudian, mereka melepaskan pelukannya. Kemudian wajah mereka mendekat. Mata mereka bertemu. Dan bibir mereka saling bersentuhan.

Selang beberapa lama, mereka pun melepaskan ciuman pertama mereka.

"Lalu, siapa yang dikubur?"

Lucy tersenyum kemudian menunjukkan sesuatu di ujung kalung yang ia kenakan. Sebuah kunci berlian. Kunci Cora.

"Cora. Ia mengorbankan dirinya untuk menggantikanku. Tepat sebelum Atra membunuhku, Cora memberitahukanku, bahwa aku tidak boleh mati."

Natsu menyimak cerita Lucy baik-baik. Namun fokusnya teralihkan oleh betapa cantiknya wanita dihadapannya.

"Cora menteleportasi nyawa dan tubuhku ke sini. Sementara ia menduplikasi tubuhku, yang kini sudah dikubur." Lucy menghela napasnya. "Kau tahu Natsu, melihat batu nisan bertuliskan namamu cukup menyedihkan." Lucy melepas tawanya ringan. Natsu malah meringis.

"Yang penting, kau masih ada disini, Luce."

Lucy tersenyum, kemudian menitikkan air matanya. "Cora. Coraussell. Artinya komidi putar. Kau tahu, Natsu? Cinta seperti komidi putar. Kau berusaha mencari kuda yang tepat. Yang kau merasa nyaman dengannya. Setelah itu kau berputar, dan berputar. Dan walaupun kau pergi, lalu kembali pada komidi putar itu. Kau akan ingat yang mana kuda kesayanganmu."

Tiba-tiba kalung yang Lucy kenakan memancarkan sinar terang, namun tidak menyilaukan.

Dan dihadapan mereka berdua, muncul seorang gadis berambut biru muda.

"CORA! Bagaimana kau bisa ada disini?"

"Sudah kubilang, Lucy. Aku akan selalu ada di hatimu."

"Mou... lalu dimana tempat untukku?" Natsu menyilangkan kedua tangannya. Pipinya ia gembungkan, seperti yang Lucy lakukan ketia ia sedang mengambek.

"Kita bisa berbagi." Ucap Cora sambil mengedikkan bahunya.

"Tidak mau huwee!"

Lucy bersweat drop atas sifat kekanak-kanakkan Natsu. Lucy memeluk Natsu dan menempelkan keningnya pada kening Natsu. Kini Natsu bisa merasakan napas Lucy.

"Cora akan selalu berada dalam diriku. Dan kau, Natsu, akan selalu berada dalam hatiku, dan ingatanku." Lucy tersenyum pada Natsu. Natsu pun membalasnya.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita. "Kyaaa! Aku tidak sabar melihat anak-anak berambut merah muda dan pirang di guild kitaaa!"

"Mira-nee! Tenanglah!"

"Gi hee, kau hebat Salamander!"

"Gray-sama! Apa Juvia ada dalam hati Gray-sama?"

"Minna!" Senyum Lucy merekah, dan pipinya merona merah.

"Lu-chan!"

"Lucy!"

"Lucy-san!"

Semua anggota guild memeluk Lucy erat. Entah bagaimana caranya, tapi Lucy merasa senang. Tapi yang membuatnya lebih senang adalah, ketika cinta sejatinya... mengingatnya kembali.


~THE END~

A/N : Hohoho. Yang ini the end beneran kok :) No troll lagi hohoho.

Sekali lagi, terimakasih banyak untuk semua orang yang terlibat dalam fic ini, readers, reviewers, dan semua yang menginspirasi Karin dalam pembuatan fic ini. Tanpa kalian fic ini akan hanya menjadi butiran debu #plak

Okey, okey. Sebelum bertambah gaje, Karin mau pamit. Sekalian minta reviewnya dan pendapatnya, Karin harus melanjutkan You Are My Destiny dulu, atau Fairy Tail in Fairy Tale dulu? It's your choice!

Arigatou! Jaa nee~

-karinalu-