Chapter 3
~BAA-SAN CANTIK~
Sebelumnya…
"a-aku. Begini, maaf sebelumnya Naruto-kun. Aku tahu kau begitu mencintai ibu Naru, dan.."
"kau salah"
"maaf, tapi apa maksudmu?"
"ibu Naru.. aku tidak mencintainya. Dalam hidupku.. aku hanya mencintai 'seorang wanita' saja. Tapi sayang nya 'dia' pergi entah kemana, setelah sebelumnya 'dia' tidak datang saat ku minta bertemu di tempat yang sudah ku janjikan. Dan aku rasa kau tahu siapa 'wanita' yang ku maksud" Hinata tahu, Naruto tengah menyindir dirinya
"kau.. tidak mencintainya, tapi kau menikahinya."
"aku memiliki alasan untuk menikahinya. Bukankah 7 tahun yang lalu kau tidak mau mendengarkannya?"
"maaf, tapi apa yang terjadi 7 tahun yang lalu sulit untuk ku pahami"
"aku tahu itu"
Dan kesunyian pun melanda (?) keduannya terdiam tak mengeluarkan suara sedikit pun, hanya hembusan nafas yang dengan setia menemani kesunyian mereka (?)
"apa.. masih belum terlambat bagi ku untuk mengetahui alasannya?" akhirnya setelah kebisuan melanda, Hinata memberanikan diri bertanya (?)
Walau sempat kaget mendengar Hinata bertanya seperti itu, namun Naruto tersenyum karena pada akhirnya setelah 7 tahun Hinata baru menanyakan hal tersebut.
"Sakura.. dia mengalami depresi saat tahu kita berhubungan. Dan orang tuanya memintaku untuk menikahi Sakura agar Sakura bias sembuh. Dia mencintai ku. Andai saja 7 tahun yang lalu kau mau menemui ku maka…."
"apakah Sakura sembuh setelah kalian menikah?" dengan cepat Hinata memotong kalimat Naruto
"begitulah.."
~~flashback~~
Naruto berhenti di sebuah rumah bercat pink, setelah mengetuk pintu, Naruto disambut oleh wanita paruh baya yang diketahui _adalah_ ibunya Sakura
"kau ingin bertemu Sakura?"Naruto mengangguk sebagai jawaban
"masuklah,, Sakura ada didalam"
Dan disinilah Naruto sekarang, disebuah kamar milik teman masa kecilnya. Naruto masuk tanpa mengeuk pintu_wajar_mengeuk pintu pun percuma, tidak akan diindahkan si pemilik kamar_Sakura_
"Sakura.." panggil Naruto pada seseorang yang kini tengah terbaring diranjangnya, membelakangi Naruto sambil memeluk boneka rubah yang sempat diberikan Naruto padanya.
Mendengar ada suara yang memanggilnya, Sakura pun perlahan membalikan badannya, dilihatnya sosok yang tengah berdiri tegap sambil melihat ke arahnya.
"Naruto…" lirih Sakura sembari memandangi diri Naruto lekat lekat
"ya, ini aku Sakura, Naruto" dengan langkah perlahan Naruto mendekati Sakura
"tidak, tidak mungkin, Naruto tidak mungkin ada disini, dia pasti sedang bersama Hinata yang cantik, tidak seperti diriku yang jelek,, kau! Kau bohong! Kau bukan Naruto! Pergi sana! Pergi!" Sakura mulai bicara tak jelas, mengusir Naruto sambilsambil melempar boneka yang tadi ia peluk kearah Naruto
"tenanglah Sakura ini aku, Naruto. Lihat aku baik baik, aku tidak bohong padamu, percayalah Sakura" Naruto berusaha menenangkan Sakura, melangkah lebih dekat pada Sakura lalu memeluknya, memberikan ketenangan melalui pelukan (?)
"benar.. kau.. tidak bohong?"
"tidak. Sungguh ini aku, Naruto. Aku ada bersama mu, dan perlu kau tahu, Sakura. Kau cantik, tidak seorang pun di dunia ini yang mengatakan bahwa Sakura Haruno jelek. Mengerti?"
"hm!" Sakura pun mulai tenang dan betah di pelukan Naruto #saya_iriiii# yaaa siapa yang ga tenang coba dipeluk sekaligus di puji sama Naruto. Haaa….kenapa dicerita ini harus ada alur kaya begitu ya?
"tapii.. pasti setelah ini kau akan meninggalkan ku dan kembali bersama Hinata, iya kan?" Sakura melepaskan pelukannya #alhamdulillah#
"dengar Sakura, aku tidak akan meninggalkan mu"
"berjanjilah"
"aku janji. Maka dari itu cepatlah sembuh dan kita.. kita.. akan.."
"menikah? Benarkah itu? Aaaa…. Senangnya.. baiklah aku juga berjanji aku akan segera sembuh dan rajin minum obat. Horeee!"
Sakura merasa sangat senang akan hal ini. Sedangkan Naruto hanya menatap datar Sakura.
~BAA-SAN CANTIK~
"Naruto bagaimana menurut mu? Apa aku cantik dengan gaun ini?" Tanya Sakura dengan antusias setelah ia mencoba beberapa gaun pengantin yang akan ia kenakan saat upacara pernikahannya.
"ya" hanya jawaban 'ya' yang selalu terlontar dari mlut seorang Naruto
"dari tadi kau bilang ya terus. Apa kau terpaksa menemani ku kesini?"
"aku tidak terpaksa Sakura. Lalu, apa kau mau aku mengatakan kau tidak cantik? Tidakkan? Aku berbicara jujur Sakura, kau cantik memakai apapun"
"kau… jangan menggoda ku.." Sakura blushing #huuuuhh#
"errr.. apa kau sudah selesai? Sebenarnya aku ada urusan penting"
"pergilah… sebentar lagi Ino akan kesini jadi kau jangan khawatir"
"kalau begitu aku pergi, jaga dirimu" Naruto berlalu, namun baru 3 langkah Naruto melangkahkan kakinya Sakura kembali bersuara
"undangan pernikahan kita sudah disebarkan. Bahkan dijalan aku bertemu dengan Neji, lalu ku titipkan saja undangan untuk Hinata"
Mendengar hal tersebut cukup membuat Naruto membatu di tempat, namun dengan segera ia tersadar dan melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di dalam mobil Naruto termenung barang sebentar, alasannya pamit pada Sakura adalah memang untuk menemui Hinata yang seminggu lalu mereka gagal bertemu. Tapi mendengar perkataan Sakura tadi, Naruto ragu, apa Hinata masih mau menemuinya sedangkan besar kemungkinan undangan yang dibawa Neji telah sampai ke tangan Hinata.
Setelah termenung beberapa saat Naruto pun merogoh saku celananya dan mengambil handphone hendak menghubungi Hinata.
"moshi moshi Naruto-kun?" sapa Hinata lembut
Naruto tersenyum mendengarnya,
"apa… apa kau ada waktu? Kita bertemu di café biasa"
"baiklah… jaa Naruto-kun.."
Ternyata Hinata masih seramah biasanya,dan hatinya terasa tenang karena apa yang dikhawatirkannya tidak_belum_terjadi
Lama, lama Naruto menunggu kedatangan Hinata di tempat yang sudah dijanjikan, Naruto mencoba menghunumgi Hinata, namun tidak ada jawaban. Selalu dan selalu seperti itu. Dan Naruto pun mulai tersadar bahwa Hinata telah menerima undangannya.
~BAA-SAN CANTIK~
"NARUTO!" teriak Sakura kegirangan sambil memeluk tubuh Naruto erat
"ada apa Sakura~" Naruto tampak kelelahan, tentu saja dia baru pulang sehabis bekerja, pasti sangat cape.
"kau tahuu?"
"tidak!"
"ayolah Naruto serius sedikit, aku punya kabar gembira untuk mu"
"cepat bicara Sakura,,, aku benar benar lelah dan ingin istirahat"
"huuh kau ini. Kau dengar sayang, ayah mu bahkan tidak mempedulikanmu." Ucap Sakura sambil mengelus elus perutnya yang terlihat rata.
"apa maksud mu Sakura?"
"sudahlah.. bukannya tadi kau bilang lelah dan ingin segera beristirahat?"
"Sakura… kau.. hamil? Apa benar kau hamil?"
"tentu saja.. dan mana ucapan selamat dari mu?"
"selamat Sakura, kau akan jadi ibu"
"dank au akan jadi ayah"
~BAA-SAN CANTIK~
"bayi dalam kandunganmu sehat, dan aku sarankan, banyak banyak lah beristirahat Sakura, sebentar lagi kau akan melahirkan" ujar sang dokter setelah selesai memeriksa kondisi kandungan sakura.
"baiklahh,,,"
"dan untuk mu Naruto, jangan terlalu giat bekerja, perhatikan istrimu" petuah dokter yang ternyata bibi Naruto
"aku mengerti. Ayo pulang Sakura"
"Naruto. Ada yang ingin aku bicarakan padamu" bibi Naruto
"kalau begitu aku akan menunggu di mobil saja" Sakura
"perlu ku antar?" Tanya Naruto
"tidak usah, Baa-san ingin bicara padamu, dan aku bisa sendiri "
"hati hati"
Sakura berjalan keluar rumah sakit, dia tidak mau mengganggu bibi dan suaminya.
"Sakura? Kau sendirian?" tegur seseorang pada Sakura
"eh? Karin? Tidak, aku bersama dengan suamiku"
"baguslah kalau begitu. Emmm.. begini ada yang ingin ku katakan padamu"
"apa itu"
"apa kau tahu bagaimana rasanya melahirkan?"
"tidak"
"benarkah? Rupanya tidak ada yang memberi tahu mu ya?"
"memberi tahu apa?"
"dengar, aku hanya akan mengucapkannya sekali saja. Pada saat kau melahirkan nanti kau akan merasa tersiksa, karena rasa sakit yang luar biasa, saat itu kau berada diantara hidup dan mati, kau tahu? Taruhanya nyawa. Oouh sakura aku pernah mengalaminya, dan semua itu berjalan lancer karena aku TIDAK mempunyai kelainan jiwa. Tapii… mendengar dirimu yang sempat gila, oops maaf, apa kau yakin dapat melewati proses kelahiran bayi mu itu? Aku bahkan tidak yakin. Sudah ya Sakura, selamat menderitaa… ah salah, selamat melewati proses kelahiran yang akan membuat mu menderita jaaa …" Karin berlalu dengan sebuah seringaian yang nampak puas
Sepeninggalan Karin sakura masih terdiam mematung, otaknya kembali mencerna apa yang diucapkan Karin barusan. Sementara disisi lain, Karin tampak puas mentertawakan Sakura, dia tahu Sakura masih belum sembuh total, dan besar kemungkinan bahwa Sakura dapat kembali depresi. Dan Karin memanfaatkan kesempatan itu untuk balas dendam. Rasa sakit hati yang Karin alami karena Sakura, tidak akan ia lupakan sampai kapan pun. Mempermainkan hati Sasuke_yang sekarang jadi suami Karin_ hanya untuk membuat Naruto cemburu.
~BAA-SAN CANTIK~
"Naruto gawat! Sakura mengamuk didalam" Tsunade keluar dari ruang persalinan sakura sembari membawa bayi mungil di gendongannya yang tengah menangis
"apa yang terjadi Baa-san?"
"ASI Sakura tidak keluar dan dia mulai menyalahkan dirinya karena tidak bisa menyusui bayi ini. Apa lagi setelah mendengar bayi kalian menangis, Sakura semakin meracau" penjelasan itu cukup dapat Naruto mengerti bahwa Sakura kembali mengalami gangguan jiwa. Tanpa menunggu lama, Naruto pun memasuki ruangan Sakura, dan berusaha menenangkan Sakura yang tengah meracau. Naruto teringat akan akhir akhir ini Sakura yang sering terlihat murung dan susah makan, bahkan disaat tengah malam Sakura pernah menangis hingga keesokan paginya, Naruto tak tahu alasannya apa, karena Sakura tak pernah memberutahunya.
Khawatir dengan keadaan Sakura yang baru saja melahirkan, seorang suster menyuntikan cairan penenang dan Sakura pun terlelap. Naruto memandangi sosok dihadapannya, yang tampak kacau, dia tak pernah menyangka jika Sakura akan kembali gila, selepas melahirkan. Apalagi kini telah hadir sosok bayi mungil yang sangat memerlukan Sakura. Apa sakura bisa merawat dan membesarkan anak mereka dengan keasaan Sakura gila?
Bayi mungil yang baru saja dilahirkan Sakura pun ikut terlelap, dengan terpaksa bayi tersebut di beri susu formula, sehingga kini ia berhenti menangis karena kehausan
~flashback of~
"saat itu aku pikir bahwa dengan Sakura dirawat di rumah, dia akan kembali stabil dan mau merawat Naru, tapi jangankan merawat, hanya sekedar menyentuhnya saja Sakura enggan. Sampai sampai menganggap boneka sebagai anaknnya" Naruto mengakhiri ceritanya
Tbc
Maaf dikit sayanya lagi sakit pinggang wkwkwk
Thanks ya buat para senpai yang udah mau review ….. maaf ga bisa bales
