Ritzter_Workshop, Presents…

Persona 3 : Iwatodai Rifleman

Summary : Dengan matanya yang tajam dan Squad yang siap tempur, ia siap membongkar semua misteri...

Genre : Action/Adventure, Friendship, Romance(diusahakan), Humor(diusahakan), Mystery, Drama, Supernatural

Rating : T, semi-M di chapter mendatang

WARNING! : OC, OOC, Typo, Gaje, rating pasang surut, lawakan super RENYAH/GARING!, Spoiler, ada penggunaan senjata api!

Disclaimer : Persona 3 FES milik ATLUS. Glock 21 milik Glock Firearms Co.

Author's Note : OYOYOY… HALO READERS! Mohon maaf ya klo cerita ini agak aneh dan stylenya jelek karena saya rada-rada Newbie. Kujelaskan nanti kenapa ada fic jelek kaya gini muncul di belantara …

P.S – HAVE A NICE READING, GUYS!


Iwatodai Station, Iwatodai

Late Night. April 7th,2009 [11.50PM]

[Di Toilet…]

Di toilet umum stasiun Iwatodai, seorang pemuda asing sedang terduduk dan terpaku dengan sebuah koper alumunium yang ada di pangkuannya. Entah apa isi kotak itu, Iris hijau gelapnya terkunci ke koper itu sambil menghentakkan jarinya ke koper itu. Kemudian, ponsel pemuda itu berdering…

She puts a make up on like graffiti on the walls of the heartland

She's got a little book of conspiracies right in her hand

She's a paranoid of enda-

"halo?"

"oy, Nak! Dah sampai nih?" si penelepon mengagetkan si pemuda asing.

"sudah, Yah" lapor si pemuda asing.

"Niko, kau tahu akan tinggal dimana?" Tanya sang Ayah.

"asrama Iwatodai" jawab sang anak singkat. "Yah, kenapa Ayah selalu ingin agar aku bisa disini?"

"Ayah pernah cerita 'kan kalau Ayah dulu pernah kerja disana?"

"oh… tahu" yakin Niko dengan nada lelah.

"nah, kalau kesana. Kau mau tidak mencari anak teman Ayah?" pinta sang Ayah.

Niko menautkan alis "hah? Siapa, Yah?"

"hahaha… aku yakin kau pasti akan menemukannya. Dia cantik, lho" goda sang Ayah.

"ah, walau aku berteman dengannya aku gak akan memacari dia" bantah sang anak "aku konsisten, Yah. Teman teman pacar pacar"

"sudah punya pacar belum?" Tanya sang Ayah.

"ermmm… sebenarnya, belum" sang Ayah tertawa dibalik telepon sedangkan wajah Niko memanas "jangan ketawa dong!"

Sang Ayah masih tertawa terbahak-bahak kemudian mulai bicara dengan normal "haha… iya. Kuharap kau bisa berteman baik dengannya. Karena Ayah sudah janji kalau kalian akan bersahabat"

"ya. Tradisi seorang Petrovich, tepati Janji! Walau hanya berasal dari cetusan janji candaan" Niko tertawa kecil "ngomong-ngomong, siapa namanya?"

"perjalanan hidupmu akan menemukan jawabannya… hahaha"

"…"

"maaf, Ikutsuki sialan… oke, rajin-rajinlah belajar dan hidup yang teratur. Dan bertemanlah dengannya jika kau menemukannya!" kata sang Ayah sambil mengecilkan suaranya di bagian 'Ikutsuki sialan'

"oke, da-"

Sang Ayah memotong "Nak, Iwatodai itu berbahaya. Kau harus membela dirimu khusunya dimalam hari. Dan kadang pistol adalah satu-satunya senjata pamungkas di kota itu untuk mengusir begundal disana"

"baiklah, yah. 'met malam"

"malam…" dan akhirnya Niko menutup sambungan teleponnya.

Sekarang, konsentrasi Niko kembali ke arah koper itu. Kali ini dia merasa malas tetap ada dalan keadaan ragu-ragu, jadi saatnya untuk mengambil resiko.

Niko buka koper itu…

"holy…shit!" Niko terkejut dengan isi koper itu. Bagaimana tidak, isi kotak itu bukan main-main… Sepucuk pistol Glock 21 dengan magasen terpasang, 3 magasen cadangan, dan sebuah peredam. Niko jawdrop karena merasa seperti seorang pembunuh bayaran muda yang menjalankan misinya di waktu liburan musim panas. Mata Niko kemudian beralih ke secarik kertas…

"Iwatodai itu berbahaya, lho. Beruntung kau punya pistol ringan dengan kaliber besar gratisan.

P.S : ingat kartu namaku? Hubungi nomor itu jika butuh amunisi. Harga murah, kualitas militer!

- T.K"

"dasar gila…!" umpat Niko dengan pelan. "mana mungkin orang tadi asal kasih senpi beginian…"

Niko mendapatkan koper itu 5 jam yang lalu ketika dia didatangi oleh seorang pria asing yang sedang membawa koper alumunium itu. Karena merasa sepi, Niko mengobrol dengan pria itu. Hingga akhirnya si pria berterima kasih padanya karena sudah menemaninya, lalu dia menyerahkan sebuah kartu nama dan menitipkan koper itu ke Niko dengan alasan ingin pergi ke toilet.

sudah 30 menit berlalu dan masih tidak ada tanda kemunculan pria itu dan pada waktu itu kereta Niko sudah datang. Niko berpikir untuk membawanya atau meninggalkannya disitu hingga orang itu datang. Karena takut ada apa-apa, dia bawa saja koper itu bersamanya ke Iwatodai. Untungnya di gerbong Niko duduk, sedikit sekali penumpang disitu. jadi hanya sedikit orang yang melihatnya

Lalu, Niko berpikir untuk apa yang akan dilakukannya dengan pistol itu. Antara membuangnya ke laut atau dia bawa? Selang beberapa menit akhirnya keputusan telah diambil…

"ku bawa saja… mungkin nanti pistol ini akan berguna"

Agar tidak mencolok, Niko ambil pistol dan perlengkapan lainnya ke tas selempang kosongnya. Lalu karena merasa ada sesuatu lagi di dasar koper itu, dia buka busa di dalamnya. 4 kotak peluru kaliber .45 ACP menunggu untuk dipindahkan. "sungguh gila… tanda terima kasih apa ini?" dan akhirnya dia pindahkan semua isi koper alumunium itu ke tas selempangnya. "lumayan berguna juga tas cadangan ini…" lalu dia tinggalkan kopernya di toilet dalam keadaan terbuka agar tidak dikira bom.


SETELAH KEDATANGAN KERETA TERAKHIR KE IWATODAI…

Late Night. April 7th, 2009 [11.59PM]

Jam gantung stasiun menunjukkan bahwa hari akan segera berganti. Dibawah jam itu melintas seorang pemuda laki-laki dengan rambut emo warna biru navy dan earphone clip-on berwarna abu-abu dengan santainya mendengarkan lagu 'Burn My Dread' dari Mp3 player

Baru saja keluar dari stasiun, Mp3 player miliknya mati. Tidak cuma itu, listrik padam, darah ada dimana-mana, bulan jadi warna kuning dan memancarkan cahaya hijau.

"baterainya mati, ya?" Tanya pemuda itu dalam hati "tapi, kok bisa?"

Ketika mendongakkan kepalanya, dia melihat pemandangan yang aneh dan mengerikan. Sekeliling kota dikelilingi oleh peti mati yang berdiri tegak. Sempat pemuda itu kaget lalu dia mendengus singkat dan tidak menghiraukan keadaan itu.


KEMBALI KEDALAM STASIUN…

Unknown, April 7th, 2009. [unknown]

"sialan, hapeku mati!" kutuk Niko karena hapenya yang mati tanpa sebab. Saking kesalnya dia injak genangan darah disitu tanpa dipedulikan olehnya. Dia sakukan ponsel W980 miliknya karena merasa tak ada yang perlu dilakukan dengan ponsel mati miliknya.

Dia keluarkan brosur tentang sekolah dan asrama yang akan ditempatinya. Dan tiba-tiba Niko merasakan sebuah kejanggalan…

"lho?" Niko bingung dengan sekelilingnya. Ada peti mati berdiri, listrik matian, bulan jadi kuning, sinar rembulannya hijau, dan darah dimana-mana. Niko merasa seperti orang yang melewatkan sebuah lelucon. "hehe… lelucon hebat" dan akhirnya terus berjalan sambil senyam-senyum sendiri "hehehe… sungguh aneh"


Di depan Asrama Iwatodai…

Setelah berjalan beberapa waktu akhirnya Niko tiba di tujuan awalnya. Bangunan asrama itu adalah satu-satunya bangunan yang listriknya nyala. Dan didepan asrama itu ada seorang anak berambut Emo sedang berdiri menatapi gedung klasik itu.

"um… hey!" Niko memanggil orang itu dari kejauhan.

"hm?" si pemuda Emo mendengar suara Niko.

"tinggal disini juga nanti, ya?" Tanya Niko.

"ya" jawab si Emo singkat.

"oh ya, namaku Niko Petrovich… aku dari Rusia" Niko menawarkan jabat tangan.

"Minato Arisato, salam kenal" Minato menerima tawaran jabat tangan itu.

"eh, kau mendengarkan musik?" Tanya Niko lagi.

"tidak"

"oh, baiklah…"

Dan akhirnya, mereka masuk kedalam asrama dengan Niko yang masuk kedalam duluan.


Iwatodai Dormitory, at the lounge…

Niko yang masuk duluan langsung menuju ke sofa terdekat, menjatuhkan tas-tasnya dan membaringkan badannya di sofa panjang "huwaaaah… capeknyaaa!" lalu Niko tersadar "mana orang-orang?".

Karena tidak ada seorang pun selain Niko dan Minato di situ. Ia memutuskan untuk tidur di sofa sebentar. Sebelum tidur dia sempat melihat Minato menanda tangani sesuatu, namun Niko tidak menghiraukannya. tak terasa listrik asramanya telah padam…

"SIAPA DISANA!" terdengar sebuah suara seorang gadis dari balik bayangan hitam.

"hah? Apa?" Niko terbangun dengan santainya.

Selang beberapa detik akhirnya figur gadis itu muncul… rambutnya berwarna coklat susu dan menggunakan choker hati di lehernya, menggunakan cardigan pink, menggunakan semacam pita lengan, dan yang membuat Niko dan Minato kaget adalah pistol yang ada di pahanya. Dan tangannya terlihat siap mencabut pistol…

"itu pistol, ya?" Tanya Minato dalam hati.

"WHADDA.." Niko terkaget dan mulai bergerak mundur hingga menekan punggung sofa hingga sampai batas keempukannya. "sial, pistolku di tas!"

Si gadis pinky itu mulai bergestur. Terdengar sebuah suara 'clek' dari holsternya dan Niko sudah pasang ancang-ancang untuk loncat dari sofa itu. Namun Minato dengan tenangnya masih berdiri dengan tegak tanpa gemetar.

"Takeba, tunggu!" terdengar suara perempuan yang lebih dewasa, tak lama kemudian listrik kembali menyala dan wujud si pemilik suara itu muncul. dia memiliki rambut merah gelap dan ber-iris merah yang lebih gelap dari rambutnya, menggunakan kemeja berpola garis, boots dan rok yang panjang. Seperti si 'pinky girl' itu, ia menggunakan pita lengan yang sama namun tak berpistol.

"aku tidak mengira kalian akan datang terlambat…" kata gadis elegan itu.

Niko dan Minato bertatapan sebentar, lalu memperhatikan gadis elegan itu lagi. "namaku Mitsuru Kirijo, saya adalah salah satu siswi yang tinggal di asrama ini"

"terima kasih tuhan, aku masih hidup untuk sekolah baruku…" syukur Niko dalam hati.

"siapa mereka?" Tanya si pinky girl.

"yang ber-earphone adalah murid pindahan, tapi yang berpin bendera Rusia adalah pelajar pertukaran. Mereka akan tinggal di asrama laki-laki" jelas Mitsuru.

"apa akan baik-baik saja jika mereka tinggal disini?" Tanya si pinky girl kali ini dengan nada meragukan.

"mungkin, lihat saja nanti…" Mitsuru menolehkan kepalanya ke pinky girl "ini Yukari Takeba, dia akan jadi junior di musim semi ini seperti kalian"

"eh…hai" salam Yukari dengan nada tidak percaya.

"hai juga" Niko membalas salam Yukari dengan singkat.

"senang bertemu denganmu" Minato ikutan membalas salam Yukari.

Ketika para laki-laki selesai, Yukari terlihat seperti sadar dari lamunan dan membungkukkan badannya "oh, ya… senang bertemu denganmu juga"

Pandangan Mitsuru beralih ke para siswa baru "ruangan kalian ada di lantai dua. Barang-barang kalian sudah ada disana"

"akan kutunjukkan jalannya" ajak Yukari "ikuti aku"

Para siswa baru mengangguk dan mengikutinya. Tapi tiba-tiba Mitsuru menghalangi jalan Niko.

"tunggu, aku ingin bicara dengan siswa ini" kata Mitsuru.

"hah?" Niko menautkan alisnya.

"eh… ada apa senpai?" Tanya Yukari.

"Takeba, kau ajak dia duluan. Nanti aku yang mengantar dia ke ruangannya" perintah Mitsuru.

Yukari dan Minato mulai meninggalkan Niko dan Mitsuru berdua. "maaf, ada apa ya?"

"apa benar kau dari keluarga Petrovich?" Tanya Mitsuru to the point.

"eeh… ya" jawab Niko ragu.

"tinggi juga kamu ya?" puji Mitsuru.

Tinggi badan Niko bisa dibilang tinggi. Tingginya sekitar 179 cm dan postur badan yang well-builded dan berpostur sedang. Karena postur tubuhnya itulah dia jadi merasa canggung diantara orang lain di Jepang. Di Tokyo, orang sering mengira kalau dia adalah tentara asing karena rambut coklat kemerahannya yang cepak saat itu. Oleh karena itu Niko mengganti hairstyle-nya dengan membiarkan rambut belakangnya menutupi tengkuknya.

"eh…hehehe" wajah Niko memerah.

"Niko Petrovich, benar?"

Niko terkaget "i-iya, senpai"

Mitsuru tersenyum "kau mirip ayahmu, ya"

"lho, senpai tahu Ayahku?" Niko masih terkaget.

"Anton Vladilenkov Petrovich. Beliau adalah salah satu profesor di Kirijo Group" Niko tercengang. "akan kujelaskan lebih lanjut jika ada waktu. Mari kuantar kau ke ruanganmu"

Niko masih tercengang tapi menuruti ajakan Mitsuru dengan bodohnya.


Iwatodai Dormitory, second floor…

Setelah menaiki beberapa anak tangga akhirnya Niko dan Mitsuru sampai di asrama laki-laki dan berada di depan pintu kamar baru Niko. Niko menguap sambil merentangkan tangannya kebelakang menandakan kalau dia amat kelelahan.

"huwaah… ngantuk, Senpai" keluh Niko "aku masuk, ya"

"silahkan… dan satu hal lagi"

"apa itu?" Niko mengarahkan pandangannya ke Mitsuru lagi. Terlihat ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

"dalam perjalanamu kesini bersama Arisato, apa ada sesuatu yang 'janggal' bagimu?" Tanya Mitsuru.

"biasa aja, ah"

Mitsuru menautkan alis "oh… ya sudah, selamat malam" lalu Mitsuru meninggalkan Niko.

"malam juga, senpai" Niko membalas salam Mitsuru dan memasuki ruangannya.

Mitsuru melihat sekilas ruangan Niko yang sudah tertutup, menyeringai "itu ya anak paman Petrov? *chuckle*"


AUTHOR'S NOTE

halo, READERS! Gimana ceritanya, GAK MUTU KAN? #sok ngrendah

alasan kenapa fic ini muncul karena jarang ada fic yang make senjata api kaya gini… dan mumpung dapet akal, gw bikin 'deh fic yang seperti ini.

buat yang pengen tahu sedikit tentang Niko, ini sepucuk bio nya…

Nama panjang/Nama kecil : Niko Alyosha Petrovich/Niko,Petrov

Tempat tanggal lahir : St. Petersburg, Rusia. 20 April 1992

Perawakan : berambut merah kecoklatan, ber-iris hijau gelap, tinggi dan berpostur sedang.

Tinggi/berat badan : 179cm/58kg

Itulah data Niko, Full Bio-nya nanti pas Chapter 2. Dan keahliannya nanti bukan Wild Card kaya Minato tapi Arcana Shift kaya Nyx, mau tahu kaya apa cara kerjanya... STAY TUNE AND REVIEW PLEASE!

P.S- segala bentuk review DITERIMA