Ore wa Zombie!
Disclaimer :
Inazuma Eleven & Inazuma Eleven GO © Level-5
Pairing :
(Tebak sendiri xDD)
Rate :
T
(kemungkinan bisa berubah)
Warning :
Sho-ai/yaoi, OOC, AU, typo(s), alur melompat-lompat(?), abal, gaje, aneh, ngebosenin, pendiskripsian kurang, etc.
Don't like please don't read!
.
.
Chapter 3
Seorang pria bermata merah terlihat menyalang di dalam kegelapan. Bibirnya menyunggingkan seringaian. Di hadapannya terdapat gambar lingkaran diagram bintang enam dengan bertuliskaan huruf-huruf kuno. Di setiap ujung bintang itu terdapat enam batang lilin merah yang terbakar api pada ujungnya. Dan di tengah-tengah diagram itu terdapat sesosok pemuda yang berbaring dengan beralasan tempat tidur layaknya peti mati. Pria itu mendekatinya perlahan.
"Sudah seribu tahun lamanya kau tertidur..." bisiknya entah kepada siapa sambil mengelus pipi pemuda itu.
Dingin...
Pria itu merasakan dingin ketika setiap kali ia menyentuhnya seperti menyentuh balok es di kutup utara. Tak ada reaksi apa-apa dari si pemuda itu. Ia hanya diam... matanya tetap terpejam dan tak ada hembusan napas dari hidungnya. Biarpun orang berkata sekeras apapun ia tidak akan mendengarnya. Ia hanya sesosok jazad tanpa roh –jiwa– yang berbaring lemah dan tak berdaya.
Mati...
Ya... Tak ada tanda-tanda kehidupan dari pemuda itu. Pemuda itu hanya mayat yang diawetkan. Namun pria yang sekarang dihadapannya itu beranggapan ia hanya tertidur. Tidur yang sangat panjang dan lama... Ia percaya bahwa suatu hari pemuda yang berbaring itu, akan bangun dan membuka kedua matanya yang mana memiliki sepasang mata onyx yang berkilauan layaknya permata. Menampakkan wajah manis dan cantiknya walaupun ia seorang pria. Senyumannya, kehangatannya, dan segala hal yang berhubungan dengannya. Pria itu, rindu teramat rindu dengan pemuda yang sekarang ini terbaring dihadapannya. Pria itu memejamkan mata dan memegang pergelangan tangan pemuda itu. Bibirnya mulai berguman sesuatu...
"Sebentar lagi... kau akan bangun ..."
"AXEL..."
.
.
.
Slush.
"Eh...?!
Langkah Shuuya terhenti karena ia merasakan ada yang memanggilnya. Ia menegok ke belakang dan berbalik. Mencari siapa yang memanggilnya itu. Tak ia perdulikan langkah Yuuto yang mulai meninggalkannya. Mata onyx-nya mulai mencari sosok tersebut. Namun nihil. Tak ada siapa-siapapun.
'Apa mungkin perasaanku saja...' pikir Shuuya resah namun ia yakin tadi benar ada seseorang yang memanggilnya. Shuuya menggeleng cepat dibuang jauh-jauh rasa penasarannya itu. "Hhh...," Shuuya menghela nafas. "Iya, mungkin hanya perasaanku saja ," bisiknya lemah. Shuuya menegakkan kepalanya kembali dan berbalik. Tapi, baru 2 langkah, Shuuya berhenti –lagi. Ia sadar kalau Yuuto sudah meninggalkannya.
.
.
.
"Ini kantor guru, sebelahnya UKS sekaligus ruang B-" Yuuto tidak meneruskan perkataannya setelah dirasakannya Shuuya sudah tidak mengikutinya dari belakang. "EH!? Gouenji! Lho dimana dia," ucap Yuuto kebingungan. Ia mulai berjalan menuju lorong utama dimana tempat terakhir yang ia masih merasakan hawa~?~ kehidupan Shuuya.
"Hoii! Gouenji dimana loe!," teriak Yuuto entah sejak kapan memakai bahasa gue-loe. Tak lama kemudian sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahu Yuuto.
PUK!
"AH! EMAK! Copottt ehh copot...anumu copot!" kaget Yuuto hingga penyakit –aib– nya kambuh. Latah?!.
"Kidou kau darimana saja. Aku dari tadi mencarimu," si pelaku pengkagetan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Shuuya sendiri.
"AKH! Gouenji! Bikin jantungan saja. Ha...ah..Ah! Seharusnya aku yang bertanya kamu darimana saja. Bukannya mengikutiku malah keluyuran. Kalau kamu hilang bagaimana," omel Yuuto.
"Em.. sumimasen Kidou, aku tadi sedikit melamun dan tidak sadar kalau aku sudah tertinggal," Shuuya menunduk sambil minta maaf telah membuat teman goggle-nya itu khawatir.
"Ya sudah aku maafkan. Sepertinya kamu sedikit kelelahan sebaiknya kita kembali ke kelas saja bel akan segera berbunyi. Lagipula tour kita sudah cukup sampai disini. Setelah lorong ini hanya ada gudang. Tak usah kita kunjungi juga," terang Yuuto sambil melangkah menuju kelasnya –mereka. Shuuya hanya mengangguk dan mengikutinya (lagi) dari belakang.
.
.
.
Pelajaran terakhir kelas 2-A adalah sejarah dengan guru mungil mereka –Nishizono Shinsuke. (A/N: saya buat Shinsuke jadi guru, soalnya yang pantes jadi peran~?~ guru mapel sejarah menurutku Shinsuke hehe... Maunya sih Seigou-san tapi ya beliau udah terlanjur saya jadiin murid~?~ akibat salah obat yang diberi sama Katsuya-san –bokapnya Shuuya– membuat Seigou-san menyusut layaknya anak SMU. Tak jauh bedalah sama nasibnya Shinichi Kudou di anime Detective Conan XD).
Back to story~
Tak seperti pelajaran sejarah-sejarah pada umumnya yang mana selalu membosankan dan membuat para siswa tertidur pulas dikelas –seperti didongengin– cara mengajar Nishizono-sensei berbeda. Daripada membaca buku sejarah yang tebal seperti kamus bahasa Indonesia~?~ tidak tahu mengerti atau tidak tentang sejarah itu sendiri. Mending langsung saja ke tempatnya –tempat-tempat bersejarah–. Dan disinilah anak-anak kelas 2-A heboh akan rencana dari Nishizono-sensei. "Study Tour ke musium dinosaurus". Sesuai dengan materi hari ini sejarah tentang kehidupan purbakala.
"Ke mu-musium dinosaurus?!" ulang para murid tak percaya.
"Yupp! Saya rasa bukan ide buruk juga kan? Sekalian bisa berlibur, menghabiskan waktu liburan musim panas yang akan diadakan satu minggu kedepan," jelas Nishizono-sensei.
"EHHHH! Liburan...! Menghabiskan libur musim panas!" para murid masih cengo plus bingung dengan rencana dari sensei mereka. Cuma ke musium saja kok sampai mengabiskan waktu liburan. Memang musiumnya dimana? Di belahan bumi?
"Memangnya kita mau ke musium mana sensei?" Natsumi mulai angkat bicara.
"Pertanyaan bagus Natsumi-chan. Sebenarnya dikatakan musium bukan juga, ya seperti replika kehidupan purbakala yang didefisinikan asli seperti nyata. Jurassic Park kalian pernah nonton film itu kan?" Murid-murid mengangguk sebagian menggeleng.
"Selama saya mengajar disini, belum pernah mengadakan study tour ke luar negeri jadi-," kata-kata Nishizono-sensei terpotong karena teriak murid-murid.
"KELUAR NEGERI!"
"Aku tidak salah dengar, nih?" sambung Jousuke tidak percaya.
"Kita ke luar negeri..?" Ryouma ikutan histeris.
"Sepertinya menarik sensei. Saya setuju!" semangat Kinako.
"AKU JUGA!" sahut Fey
"Me too."
"SAYA! SAYA! JUGAA!"
Dan berbondong-bondong pernyataan persetujuan akan rencana Nishizono-sensei terlontar dari mulut anak-anak 2-A.
Shinsuke tersenyum. "Sepertinya semua setuju. Kebetulan saya sudah dapat izin dari kepala sekolah untuk mengadakan study tour. Jadi..." kata-kata Nishizono-sensei terhenti sesaat.
"Jadi..." koor para murid yang penasaran akan perkataan sensei mereka selanjutnya.
"Jadi, kemasi barang-barang kalian. Dan.. bersiap-siaplah minggu depan kita akan berangkat ke California!" seru Nishizono-sensei sambil meluncur ke bawah –turun dari kursi*.
"HOREEEEE! BANZAIII!" sorak kegembiraan dari para murid 2-A. Dan saking senangnya sampai–sampai Jousuke mengangkat tubuh Toramaru –yang terbilang mungil– itu keatas.
"Kyaa...! Tsunami-san turunkan aku!" Toramaru histeris.
"A...a..a.. Gomen.. Gomen.. Ehehehehehe..."
.
.
.
KRINGGGG~!! KRINGGGG~!
KRINGGGG~!!
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, seluruh anak berhamburan dengan tertib. Kecuali Mamoru yang harus menyelesaikan hukumannya dari Kudou-sensei. Ia mengambil sapu, ember, dan tongkat pel yang tersedia di gudang sekolah. Kemudian mulai mengepel –setelah ia sapu tentunya. Tak lama akhirnya pekerjaan –hukuman–nya pun selesai. Mamoru beristirahat sejenak di taman belakang sekolah. Iapun merebahkan tubuhnya.
"Huff!" Mamoru menyeka keringatnya. "Capek sekali! Gila itu Kudou-sensei beri hukuman tidak tanggung-tangung... " omel Mamoru
CESSS!
"Eh!... Dingin...?" kaget Mamoru yang merasakan dingin di pipinya. Lalu ia bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk. Dan memungut sesuatu. 'Kaleng minuman?' batin Mamoru heran karena tiba-tiba ada sekaleng minuman dingin di samping tempat ia berbaring.
Wusshh...
Tap!
"Itu untuk Mamoru-sama..." ucap seseorang dibalik punggung Mamoru.
Mamoru yang merasakan ada seseorang dibelakangnya ia menoleh.
"Oh.. kau Kazemaru. Ada apa kau kemari?" tanya Mamoru seseorang yang telah memberikannya minuman.
"Eng.. tidak apa-apa Mamoru-sama. Saya hanya khawatir dengan Mamoru-sama. Karena Anda belum pulang sampai jam 5 sore ini. Saya hanya takut Mamoru-sama kenapa-kenapa," terang Ichirouta.
Mamoru baru menyadari kalau hari memang sudah sore. Terlihat dari langit mulai gelap dan hanya biasan-biasan sinar matahari yang tampak. Ia mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Memang sudah mau malam ternyata. Ya sudah, Kazemaru kita pulang," ajak Mamoru. Ichirouta mengangguk. "Ha'i."
Namun baru satu meter berjalan Mamoru menghentikan langkahnya membuat Ichirouta yang sembari mengikutinya dari belakang juga berhenti.
"Ada apa Mamoru-sama," tanya Ichirouta. Mamoru tak langsung menjawab pertanyaannya itu. Ichirouta sabar menunggu sampai Mamoru menyuarakan suaranya.
"Kazemaru...," ucap Mamoru pada akhirnya. "Jangan menggunakan kekuatanmu disini. 'Mereka' dapat melacak keberadaanmu, keberadaan kita," kata Mamoru tanpa menoleh dan mulai berjalan kembali.
Ichirouta paham betul kata-kata yang diucapkan oleh tuannya itu. Cerobohnya dia sampai menggunakan kekuatannya sembarangan tanpa berpikir konsekuensinya terlebih dahulu. Tuannya –Mamoru– pasti sudah tahu kalau ia menggunakan kekuatannya untuk menjemputnya –Mamoru ke sekolah. Sepengetahuan Ichirouta, Mamoru tadi pagi berangkat memang tidak menyebutkan nama sekolahnya itu. Berarti Ichirouta tidak tahu menahu letak sekolah Mamoru. Bagi Mamoru dan Ichirouta melacak keberadaan seseorang tidaklah sulit. Hanya cukup mencium baunya saja dan berkonsentrasi orang yang bersangkutan dapat ditemukan. Ya memiliki kelebihan kadang membuat repot diri sendiri. Apalagi harus menghidari dari pengawasan 'mereka'.
"Hontou nee gomenasai Mamoru-sama. Saya berjanji tidak akan terulang lagi," maaf Ichirouta sambil membungkuk. "Sa-saya... siap menerima hukuman atas kecerobohan saya i-itu Mamoru-sama..." lanjutnya.
"Huhahahahhahha...," gelak tawa Mamoru. Ichirouta menaikan alisnya. Bingung.
"Sudahlah Kazemaru. Aku tahu kau pasti tidak sengaja menggunakan kekuatanmu kan? Lagipula kenapa aku mesti memberimu hukuman. Kau tahu, kita tidak sedang di White Castle. Aku tak punya hak menghukumu. Disini aku hanya Mamoru. Endo Mamoru. Anak yang tinggal sendirian di sebuah apartemen dengan biaya yang relatif murah, membiayai hidup dengan kerja paruh waktu, dan suatu keberuntungan aku dapat bersekolah di Raimon High School..." Mamoru menghentikan perkataan itu untuk menghela napas sejenak, kemudian melanjutkannya kembali.
"Bukan sebagai tuanmu ataupun sebagai seorang pangeran, Kazemaru. Kau dan aku sama, bukankah dari dulu aku sudah pernah bilang kepadamu. Aku bukan TUAN-mu. Aku T-E-M-A-N mu. Jangan sering-sering memanggilku dengan embel-embel –sama. Cukup Endo atau Mamoru terserah kau mau memanggilku apa," ucap Mamoru sambil berkacak pinggang.
Kata-kata yang diucapkan Mamoru membuat Ichirouta terharu. Tak menyangka kalau Mamoru, Endo Mamoru yang ia kenal sejak ia masih kecil tak berubah sedikipun. Masih seperti dulu baik dan mau berteman dengan siapapun. Tidak pernah terbesit dibenaknya untuk memilih-milih siapa yang berhak berteman dengannya. Ichirouta bersyukur sepeninggalnya Mamoru dua tahun yang lalu dari White Castle, tak mengubah sifat maupun perilaku Mamoru selama ini. Mungkin sekarang Mamoru bertambah tinggi dan suaranya semakin berat –dewasa.
"O..ya. Kazemaru. Terima kasih minumannya, kau masih ingat saja minuman kesukaaanku," perkataan Mamoru membuyarkan lamunan Ichirouta..
"Eh! Iya.. sama-sama Ma-mamoru," jawab Ichirouta tersenyum.
"Baiklah! Ayo kita pulang!"
"Ha,i"
'Mereka... Cih! Sepertinya mulai bergerak...'
.
.
.
"Axel! AXEL! Buka matamu!" seseorang pria mengguncang sosok dalam pelukannya yang sekarang sudah bersimbah darah segar. Pandangan orang tersebut nyalang. Memandang sekumpulan prajurit yang sedang mengengengam sebilah pedang yang berlumuran darah.
"Kau bodoh! Kenapa kau jadi tameng untuk melindungiku dari mereka! Seharusnya aku ! Aku yang tertusuk. Bukannya KAU!" teriaknya.
"Su-sudah...lah. cu-kuupp...ku-ku..mo..honnn ber-henti... Tak usah ber..tar..tarung...lagi..." ucap sesosok pemuda yang berada di dekapan pria itu. Dengan pandangan mengabur ia melanjutkan perkataanya. "Bu-bukan...nya ses-sesama..ah..ah... zombie... tid-dak..ah! saling... membunuh...hah...haah... Se-se..harusnya.. ki-kita... sa..ling hidup berdampingan... ah... " ucapannya terputus oleh erangan perih dan muntahan darah pekat.
"Sudah! Jangan bicara lagi! Aku pasti menyembuhkanmu. Jadi, Axel.. ku mohon bertahanlah... kumohon..." pintah pria itu. Ia mencoba mengangkat tubuh pemuda yang berada di pelukannya itu. Namun sebuah tangan menghentikan tindakannya.
"Ti..dak...Usah...ah...hah... Aku ingin menikmati..ah.. deti-tik.. de..tikk ter-rakhirku.. ber..sa..maa..mu.. ahh...hah..."
"Tidak... Kau pasti baik-baik saja. Kau pasti sembuh. Aku akan menyelamatmu. Jadi aku minta jangan bicara seperti ituu AXEL!"
Tak diperdulikan larangan dan ucapan darinya, pemuda itu terus bicara.
"Terima kasih atas waktu yang kau berikan kepadaku, terima kasih atas kenangan indah yang kau beri selama bersamaku, terima kasih juga kau mau terus menjagaku..." pemuda itu menangis. "Maaf aku tidak bisa membalasnya...terima kasih... terima kasih banyak dan...terima kasih karena telah mencintaiku..." perlahan mata pemuda itu mulai tertutup seiring tubuhnya yang mendadak terasa begitu ringan di lengan pria itu.
"A...AXEL! Oi... Axel! AXEL! BUKA MATAMU! AXEL!" pria itu menguncang-menguncang tubuh rapuh pemuda itu. Namun sayang pemuda itu sudah tidak bernyawa. Yang kini sudah menjadi jazad.
"Maaf... Maaf aku tidak bisa melindungimu... Seandainya... seandainya saja aku lebih kuat... Seandainya aku punya kekuatan untuk melindungimu!" pria itu mulai menangis histeris dan memeluk –jazad- pemuda itu erat-erat.
"AXEEELLLL !"
Sayonara...
Mark.
.
.
.
Shuuya membuka matanya lebar, napasnya memburu dan keringatnya bercucuran. "Ngh... AKH! Hah...ah..." Ia terbangun dari tidurnya.
"Mimpi...," Shuuya memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa sakit. "Tapi terasa nyata... sampai-sampai aku dapat merasakannya sendiri..." Lalu ia beranjak dari ranjangnya.
Krek!
Shuuya membuka jendela kamarnya, membiarkan angin malam menerpa wajahnya dan menggoyangkan rambut bawangnya(?). Tak diperdulikan dinginnya udara malam menyentuh kulit tubuhnya. Ia hanya terpaku dan termenung sambil menatap kosong pemandangan kota yang dipenuhi germelap kelap-kelip lampu malam. Tak ada niatan ia akan tidur kembali, mengingat sekarang masih pukul satu malam. Rasa kantuknya hilang seketika. Insonmia kah? Mungkin. Entahlah.
Akhir-akhir ini ia selalu bermimpi. Mimpi yang sama, mimpi yang terasa nyata baginya. Gara-gara itu Shuuya menjadi susah tidur. Padahal dulu ia tidak pernah mengalami situasi yang tidak mengenakkan baginya. Seperti dikejar-kejar oleh mimpi saja pikirnya kala itu. Mimpi adalah bunga tidur yang mana muncul dari alam bawah sadar manusia –saat seseorang sedang tertidur.
Tapi menurutnya aneh... Sejak ia menginjak umur ke-16 tahun mimpi itu datang. Mimpi yang sama tak jauh beda dari malam-malam sebelumnya. Layaknya video rusak yang terus diputar berulang-ulang. Namun ketika ia mengingat-ingat mimpinya, yang ia temui adalah jalan buntu. Ia tak ingat apapun akan mimpinya itu, padahal ia sudah berusaha untuk mengingatnya. Hanya sepenggal suara-suara yang dapat ia ingat. Ia tak tahu suara siapa itu dalam mimpinya. Dalam benaknya ia merasa sangat mengenal suara itu. Tapi siapa...
"Hhh..." Shuuya menghela napas. Capek dengan semua mimpi buruk yang ia alami. 'Kapan ini akan berakhir..' batin Shuuya. Tak terasa butir demi butir air mata jatuh dari kelopak matanya.
.
.
.
Sementara itu di malam yang sama. Dua sosok yang familiar –Mamoru dan Ichirouta terlihat sedang berjalan memasuki sebuah bangunan putih atau bisa dikatakan bangunan yang mirip sebuah kastil. White Castle.
Clek! Tcing! Ngeekk!
Pintu gerbang White Castle terbuka. Mempersilahkan keduanya masuk. Barisan para penjaga dan pengawal berbaju putih yamg mengelilingi tempat itu, menyambut kedatangan sang Tuan muda mereka beserta pelayan pribadinya. Serempak mereka menundukkan kepala dan sembari berkata "Selamat datang kembali Pangeran"
Ichirouta membalasnya sambil membungkuk pula. Sedangkan Mamoru hanya mengangguk. Tak lama seorang pemuda bertubuh tegap dan jangkung berambut biru gelap bermata madu menghampiri Mamoru.
"Mamoru-sama sudah pulang. Daisuke-sama sudah menunggu Anda sedari tadi. Silahkan ikuti saya," ucap Yuuichi. Tsurugi Yuuichi, salah seorang tangan kanan kepercayaan Endo Daisuke. Walaupun masih sangat muda -23 tahun- ia memiliki talenta dan skill serta loyalitas yang bisa dibilang luar biasa.
Mereka bertiga melangkah menuju ruang utama dimana Endo Daisuke berada.
'Aku pulang... kakek'
.
.
.
Di tempat lain...
"Inilah saatnya," ucap seseorang. "Nikaido," panggilnya pada sosok pria paruh baya –hanya terlihat dari penampilannya– berambut biru gelap dan bermata hitam. "Yes, master," jawabnya.
"Apa semua persiapan sudah siap?"
"Sebentar lagi master, hanya tinggal mencari aura jiwa yang sama persis dengannya. Maka kekasih Anda dapat hidup kembali."
Dia tersenyum penuh kepuasan. Sebelum ia berajak dari tempatnya, sebuah suara mengiterupsi.
"Master, sebenarnya sejak dari dulu saya ingin bertanya pada Anda," kata Nikaido sang pelaku pengiterupsian(?).
"Apa itu." tanya sang Master.
"Bukannya Zombie tidak bisa mati?"
Sosok yang dipanggil master itu tak menjawab. Ia berbalik dan memunggungi Nikaido. Lalu melangkah pergi. Namun sebelum melangkah jauh ia berkata "Itu bukan urusanmu," cetusnya dingin.
Tanpa disadari sang Master orang yang bernama Nikaido tersenyum menyerigai.
.
.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara derap sepatu dia menggema di seluruh ruangan. Dengan langkah yang terburu-buru ia masuk ke dalam ruangan pribadinya.
BRAK!
Dia meninju permukaan tembok di ruangannya hanya untuk meluapkan emosinya. Ia marah... bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari tangan kanannya –Nikaido– itu. Ia tahu jawabannya. Sangat tahu.
Benar zombie yang dikenal tidak bisa mati karena dapat re-generasi dengan cepat. Tapi, sekuat apapun makhluk pasti akan mempunyai kelemahan. Ya... zombie mempunyai kelemahan. Mereka dapat dilumpuhkan –bahkan mati– jika diserang titik vital mereka –kepala.
Dia tak membiarkan seorangpun tahu kelemahannya –para zombie. Cukup mereka –sesama zombie- yang tahu. Biarpun ia adalah tangan kanannya, tapi ia adalah seorang vampire. Musuh terselubung para Zombie. Entahlah kenapa alasan ia mau mengabdi kepadanya. Dan menjadi tangan kanannya... dan penghuni..
Black Castle...
.
.
.
TBC
*) Shinsuke kalo mengajar ada kursi khusus untuknya. Secara Shinsuke kan pendek banget. Jadi ada 'pancian'(A/N : saya kurang tahu bahasanya Indonesianya apa. Maaf kalo ada yang nggak mudeng T_T) kagak elit kalo ngajar yang denger cuman suaranya doank... hehehehehe
#
Saya tekankan pada reader, di fict ini nggak ada pair EndoKaze... you know mereka hanya Childblood. Maaf bagi pengemar EndoKaze :D
#
Sesuai janji-kapan- adegan~?~ Kazemaru pas di apartemen Mamoru di skip... soalnya waktu saya memikirkannya... tiba-tiba kena WB DX
#
Bingung mau deskripsikan Nikaido-san kayak apa soal warna rambutnya. Saya kadang bingung, secara kemunculan Nikaido-san di anime InaIre nggak terlalu eksis banget. Cuma seperlunya aja sesuai alur scenario~?~ Saya liat warna biru gelap kayak warna rambut Toramaru... kadang ungu gelap kayak Okita-san di InaKuro. Wahhhh... jadinya saya putuskan warna rambut Nikaido-san biru gelap. Titik nggak pake kuah~?~ XDD
#
Reader pasti tahu kan siapa yang dimaksud DIA orang yang dipanggil master sama Nikaido-san =^,^=
#
Terus sama kelemahan Zombie ... saya ngarang pemirsa XDD sebenarnya kalo cuma ditembak sama timah –biasa– panas dibagian kepala Zombie hanya bikin mereka pingsan doank. Kalo bikin mati... perlu senjata paling modern dan majur... kayak senjata nuklir kaleee o.O
******Curcol******
Ah... kenapa update cepet yah... padahal ditengah kesibukan menghadapi Ujian. Grr... mau gimana lagi... tapi ya... saya akan tetep fokus kok. Ganbare! ^^/
Maaf saya nggak bisa bales review lewat PM. Entah kenapa akunku lagi error -_-
Saya bales di sini ya... :D
Mori Kousuke18 : ... Tenma pasti sabar kok.. nunggu Kyoucuke jatuh ke dalam pelukannya. ^^
Teman-teman Mamoru yang sesama Zombie, udah satu yang ketebak di chap ini... tahu... kan... tahu... dong.. ya kan...*plak* XDD
Di chap ini sudah saya usaha mengulas sedikit bagian zombienya... kemungkinan di chap depan akan banyak flashback –mungkin– :D #mulai plin plan# *digetok pake linggis* _
Terima kasih atas koreksinya...dan sarannya :D saya adalah manusia #sadar tow manusia# yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan #apadah malah pidato# *dhuak* jangan bosan untuk mengkritik ya... ^^/
Review lagi :D
Chiheisen : Iya, saya juga hampir dibuat kewalahan karena banyaknya aktris dan aktor *cieley maunya XDD* yang lolos casting~?~ terpaksa mereka main semua... tapi ya mungkin sebagian cuman jadi figuran. Kalo kebanyakan mikir porsi dan takaran~?~ peran buat mereka semua ntar malah kena WB. Fokus ke zombienya... XDD
Soal Hibiki-san wah... saya kemaren, ketik asal-asal aja pas nentuin denah tempat duduk. Yang terbesit di otak yang tinggal 1 GB saya ketik. Eh tak tahunya Hibiki-san yang dapat. XDD. Ya dah deh pake aja.. jarang-jarangkan Hibiki-san dapat peran anak muda.. masa' tua terus... wkwkwkwkwwk
Gouenji Uke? Saya emang maunya gitu heheheh Shuuya ma Kyousuke kan nggak jauh-jauh beda. Tipikal uke tsudere SP #digaplok#
Ngeship TenKyouHaku bareng.. #toss# *pluok* XD/ saya suka pair itu. Gara-gara punya pict HakuKyou. Haku yang lagi meluk boneka yang mirip Kyocuke. Kawaiii..! sama baca fict Chi-san... jadi tambah sreggg! N ngepansss bgt...!
Review lagi :D
Akhir kata!
.
.
.
RnR or Flame?
