Ore wa Zombie!

Disclaimer :

Inazuma Eleven & Inazuma Eleven GO © Level-5

Pairing :

(Tebak-tebakan)

Rate :

T

(kemungkinan bisa berubah)

Warning :

Sho-ai/yaoi, OOC, AU, typo(s), alur melompat-lompat(?), abal, gaje, aneh, ngebosenin, pendiskripsian kurang, etc.

Don't like please don't read!

.

.

Chapter 4


Ruang utama White Castle~

"Black Castle katamu? Tapi seharusnya Black Castle itu sudah musnah sejak 100 tahun yang lalu. Bagaimana mungkin kau bertemu dengan salah satu dari mereka? Itu mustahil," teriak seseorang dari dalam.

"Awalnya saya juga berpikir seperti itu, Yang Mulia. Tapi kenyataannya, saya bertemu dengan zombie dari Black Castle sungguhan. Dan-"

BRAK!

Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dengan kasar, dan menampakan sosok Mamoru diikuti Yuuichi dan Ichirouta dari belakang.

"Apa itu benar yang kau katakan," ucap Mamoru to the point.

"Saya sudah memastikan semua itu dengan mata kepalaku sendiri," jawabnya.

Mamoru berdecak dengan sedikit keraguan di hatinya. Ia benar-benar merasa terkejut mendengar hal itu. Bagaimana tidak?

Black Castle tempat para berkumpulnya zombie-zombie yang menentang akannya kedamaian dan keseimbangan antar dua dunia ––manusia dan makhluk lain; zombie, vampire, werewolf, monster, dsb. Tak ada satupun aturan yang mengikat. Hanya nafsu dan obsesi yang mereka miliki. Nafsu akan membunuh. Obsesi akan menaklukan dunia ––baik dunia manusia, menjadikan mereka budak untuk mengabdi kepada mereka. Walaupun cuma ada nafsu, kekuatan yang dimiliki mereka tak bisa dianggap remeh dan mereka tidak bodoh. Entah kenapa dan bagaimana sebagian besar zombie yang menghuni Black Castle sangat loyal kepada pimpinan –raja– mereka. Mengingat mereka suka bertindak seenaknya sendiri.

Mamoru tak habis pikir tempat yang seharusnya sudah dinyatakan lenyap beserta penghuninya 100 tahun yang lalu, sekarang tiba-tiba saja ada yang mengaku melihat zombie penghuni Black Castle. Entah benar atau tidak ia akan mencari tahu. Pasti.

Puk!

Sebuah tepukan di bahu Mamoru membuyarkan lamunan Mamoru. "Mamoru-sama sebaiknya Anda duduk. Tak enak dilihat oleh Yang Mulia dan para tetuah," kata Yuuichi sembari tersenyum lembut. Mamoru dengan patuh menuruti perkataan sang Tsurugi sulung dan mulai melangkahkan kaki menuju kursinya –sebelah kursi raja. Dan Ichirouta setia mendampingi Mamoru dari belakang.

Sebenarnya sang Raja –kakek Mamoru– ingin sekali menyambut kepulangan cucu satu-satunya itu, serta berbalas kabar. Berhubung keadaan yang tidak memungkin ia buang jauh-jauh keinginannya itu. Keselamatan kaumnya –dan dunia lebih penting pikirnya.

"Uhum... kita lanjutnya, " sang raja mulai angkat bicara.

"Dulu Black Castle sering membuat kekacauan. Karena itu sering terjadi pertempuran antara sesama zombie dengan Black Castle. Dan sudah 100 tahun yang lalu Black Castle telah binasa. Tak terdengar lagi Zombie penghuni Black Castle yang tersisa. Semua zombie baik dari pihak White Castle maupun zombie lain yang menentang aliansi Black Castle turut bekerja sama untuk melawan Black Castle. Bahkan Manusia pada waktu itu juga ikut membantu, namun pada akhirnya mereka –manusia – menyerang balik kita," jelas sang raja.

"Maksud ka– Yang Mulia, bukannya manusia membantu kita melawan aliansi Black Castle, kenapa ingin memusnakan kita? Padahal jelas-jelas kita bertempur melawan Black Castle juga demi mereka," sahut Mamoru sedari meralat panggil yang ditujukan untuk kakeknya itu.

Sebelum sang raja menjawab pertanyaan dari Mamoru, Mamoru lebih dulu menyuarakan suaranya –lagi. "Satu lagi, uhm.. memang benar kalau Black Castle sering melakukan kekacauan. Tapi kudengar dari cerita Beta-san, kekacauan 100 tahun yang lalu yang paling parah yang pernah dilakukan oleh aliansi Black Castle. Hingga terjadi perang besar-besaran. Sebenarnya apa yang memicu mereka bertempur?"

Daisuke terdiam sesaat. Bola matanya memandang satu per satu orang yang hadir. Ia menghela napas sejenak.

"Mungkin kau belum tahu kenyataannya Mamoru, sebab kala itu kau belum lahir. Kau hadir 50 tahun setelahnya. Mamoru.. kau tahu, walau sesama Zombie, bukan berarti kita sama... Kita sendiri pun, terbagi akan dua golongan, aliansi, dan tujuan. Kita –aliansi White Castle menginginkan kedamaian dan keseimbangan antar 2 dua, biarpun Manusia itu lemah namun mereka tidak bodoh, mereka pintar sejalan dengan aliran waktu. Manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi mereka miliki, hingga menciptakan teknologi bahkan senjata yang tidak bisa kita bayangkan. Kita dapat hancur olehnya. Tapi, walaupun demikian kita bukanlah takut kepada manusia. Kita hanya tidak mau adanya korban," jelas panjang lebar sang raja namun masih ambigu.

"Alasan manusia waktu itu menyerang balik, karena kita bukan sejenis dengan mereka. Keberadaan kita dianggap mengacam kehidupan jadi pantas dimusnahkan," lanjut sang raja tanpa beban sedikitpun.

"Umm…" Mamoru berusaha mencerna penjelasan yang super berbelit-belit dan panjang dari sang raja –kakeknya. Ada yang menurutnya penting mengenai pembagian ras zombie dan sebagian besar ia anggap buang-buang waktu.

.

.

.

Di tempat lain, sebuah limousin berhenti di depan Rumah Sakit Raimon. Tak lama dari dalam keluar beberapa lelaki berbadan kekar dan memakai stelan hitam dan kaca mata hitam, mengawal seorang pria yang sama rapinya dengan mereka. Tanpa kecurigaan satu apapun mereka masuk ke dalam rumah sakit yang mana keadaan sangat sepi, mengingat ini masih waktunya orang tidur. Lalu mereka berhenti, tepat di ruangan yang bertuliskan "GOUENJIKATSUYA"


Pagi harinya Mamoru berangkat ke RHS dengan tampang ancur-ancuran, kusut kurang disetrika(?). Bagaimana tidak, pasang wajah sehari-hari kayak Fubuki(?) yang dari sononya sudah melas, membuat dirinya tidak ceria dan semangat seperti biasanya. Dari pulang kampung(?) bukannya senang malah dibuat bingung dan penasaran.

Flashback On

"Nah, pembicaraan kita akhiri sampai disini," sang raja yang tidak berperi-kerapatan mengakhirinya dengan jawaban yang ngegantung menurut Mamoru.

"EH!? Sudah selesai! Tunggu! Aku belum mengerti mengenai satu hal," sahut Mamoru yang merasa pertanyaannya tadi belum dijawab oleh sang kakek.

"Memangnya masih ada apa cucuku," tanya sang raja. Berhubung rapat sudah selesai –sepihak- jadi pembincangan Mamoru dan sang raja menjadi non-formal.

"Begini, kek. Pertanyaan terakhirku tadi."

"Um... yang mana ya?" Bukannya langsung menjawab Daisuke malah membalas bertanya. Namun pandangannya melirik ke arah lain.

"Jangan pura-pura kakek," geram Mamoru. Ia tidak ingin kedatangannya ke White Castle hanya membawa tangan kosong.

Clek! Blam!

Pintu ruang rapat tertutup, semua anggota yang hadir pada rapat itu satu per satu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Menyisakan sang Raja, Mamoru, Yuuichi, dan Ichirouta.

"Hn, sepertinya semua sudah pergi,"ucap sang Raja monoton. "Mamoru...,"lanjutnya namun disela-sela nada suaranya terdengar serius.

"Bukannya aku tidak mau menjawab pertanyaanmu itu, cuma yang kau tanyakan itu merupakan rahasia umum dan sengaja ditutup-tutupi," terang Daisuke.

"Ditutup-tutupi? Maksud kakek seperti aib begitu?" tanya Mamoru.

Daisuke menghela napas. "Bisa dikatakan seperti itu, namun lebih tepatnya pengkhianatan..."

"Pengkhianatan?" ulang Mamoru.

"Ya, pengkhianatan salah satu zombie dari aliansi kita, White Castle. Salah satu zombie terpenting dalam White Castle. Dia anak kedua kakek, adik ayahmu, sekaligus pamanmu.

Mata Mamoru terbelalak. Tak menyangka bahwa salah satu yang memicu perang 100 tahun yang lalu adalah keluarganya sendiri. Pamannya. Ia bahkan tak tahu seperti apa pamannya itu.

.

.

Dua orang yang sedari tadi menonton pembicaraan antara sang raja dan pangeran –Yuuichi dan Ichirouta, hanya diam terpaku. Tak ada niatan mencampurinya. Toh, pada akhirnya baik Daisuke ataupun Mamoru pasti akan bicara kepada mereka –mempertanyakan pendapat mereka. Mengingat kebiasaan mereka selalu bertanya pendapat kepada orang lain –kepercayaannya- terlebih dahulu, sebelum mengambil keputusan.

Flashback End

"Hh..." Entah berapa kali Mamoru menghela napas. Seumur hidupnya baru pertama kalinya ia merasa hidup yang dijalaninya terasa berat. Masalah yang ia hadapi bukannya berkurang malah semakin bertambah. Seperti pepatah mengatakan "Mati satu, Tumbuh seribu."

'Hidup saja susah bagimana kalau mati nanti..' pikir Mamoru frustasi. Sambil berjalan linglung Mamoru melanjutkan perjalanannya –sekolah.

.

.

.

Pagi yang sama di kediaman Tsurugi~

"Ohayou, Kyousuke... Wah, sudah ada sarapan, ya? Hmmm..harum..sepertinya roti panggangmu ini sedap sekali, Kyousuke," sapa kakaknya. Yuuichi, yang tiba-tiba saja muncul di depan dapur.

"Ah, Ohayou, Nii-san. Iya, sarapan sebentar lagi siap. Nii-san tunggu saja dulu," balas Kyousuke.

Yuuichi menarik kursi meja makan dan tak lama kemudian telah duduk manis di kursi meja makan. " Gomen ne, Kyousuke. Nii-san belakangan ini terlalu sibuk. Malah jadi kamu, deh, yang menyiapkan sarapan. " sahut Yuuichi, bernada tidak enak hati. Maklum setelah kedua orang Yuuichi dan Kyousuke sudah tiada. Maka Yuuichi-lah yang menjadi kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga~?~. Bagi Kyousuke, Yuuichi adalah panutannya.

Kyousuke segera membalasnya. " Tidak apa-apa, Nii-san.. Aku juga sekarang suka masak, kok. Justru ini hobi aku tiap pagi. Hehehe.." Yuuichi hanya tersenyum mendengarnya.

Tak lama kemudian masakan Kyousuke matang. Lalu ia meletakan napan yang berisi 2 potong roti panggang dan dua piring telur setengah matang dan beberapa sosis. Tak lupa secangkir kopi untuk Yuuichi, dan segelas susu untuknya. Setelah mengucapkan 'Itadakimasu' mereka makan dengan tenang.

.

.

.

Drrttt! Drrttt!

Tiba-tiba handphone Yuuichi berbunyi. Merasa handphone-nya bergetar, Yuuichi menghentikan aktivitasnya –sarapan. Segera ia mengambilnya dan melihat nomor yang familiar di layar handphone-nya. Yuuichi mengangkatnya dan terdengar suara baritone agak serak-serak becek(?) yang sangat dia kenal.

'Yuuichi ini aku...,' ucap seseorang diseberang telepon.

Raut wajah Yuuichi terlihat serius. Ia terdiam dan mulai menjauhkannya dari meja makan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kyousuke hanya menaikan alisnya, tak berniatan mencari tahu siapa yang sedang menelepon kakaknya itu. Kalau pun penting, pasti Yuuichi akan memberitahukannya, cepat atau lambat. Ia lalu melanjutkan sarapannya.

.

.

.

Sementara ditempat Yuuichi~

"Hn, ada apa?"

'Seperti yang kau telah perhitungkan. Mereka mulai bergerak.'

"Cih! Sejauh mana 'mereka' mulai bergerak," kesal Yuuichi.

'Sejauh yang tidak kau bayangkan, Yuuichi. Kudengar 'mereka' saat ini sedang dalam perjalanan ke California.'

"Untuk apa mereka kesana. Bukannya mereka akan mulai aksinya di Jepang."

'Entahlah, sepertinya ini ada kaitannya dengan Black Castle.'

Yuuichi tak berkata apapun, tapi dia memperhatikan setiap kata-kata yang diucapkannya dengan serius.

'Persekutuan? Ya mungin bisa dibilang begitu.'

"Apa Yang Mulia sudah tahu hal ini."

'Setahuku belum. Hanya kau, aku dan Pangeran saja.'

"Pangeran? Mamoru-sama tahu mengenai hal ini?"

'Ya begitulah. Bahkan Beliaulah yang memerintahkanku menyelidikinya.'

Yuuichi tampaknya sedang berpikir. Bagaimana bisa Mamoru tidak bercerita kepadanya. Hal sepenting ini bahkan kepada Kazemaru-pun ia tak memberitahukannya. Yuuichi memijit-mijit pelipisnya. 'kurasa, aku harus bertanya langsung kepadanya.'

'Oi! Yuuichi kau masih disana?'

"Temui aku di menara Raimon 20 menit lagi."

Piip!

Tanpa menjawab pertanyaan darinya, Yuuichi menutup sambungan teleponnya. Tak mau ambil pusing kalaupun orang diseberang telepon sana sedang mencak-mecak tidak jelas, sebab, dengan seenak jidat Tsurugi sulung itu memutuskan sambungan komunikasi mereka.

.

.

.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, Yuuichi segera menghampiri adiknya di ruang makan. "Kyousuke apa sarapanmu sudah selesai?" tanya Yuuichi yang tingkahnya mendadak sangat terburu-buru seperti orang dikejar-kejar oleh Sasuke —anjing.

"Iya..Ini juga sudah selesai, kok, Nii-san," balas Kyousuke. "Memangnya ada apa Nii-san? Kok terlihat terburu-buru begitu. Seharusnya sarapan Nii–," Kyousuke tidak melanjutkan perkataannya setelah dilihatnya piring Yuuichi sudah kosong. Bahkan garpu dan pisaunya pun juga ikut raib~?~ 'Cepat sekali' batin Kyousuke shock.

"Tidak apa-apa, Kyousuke. Nii-san hanya perlu berangkat lebih awal. Ada hal penting yang harus dibicarakan Nii-san dengan seseorang," jawab Yuuichi sambil mengacak-acak rambut adiknya.

Kyousuke yang diperlakukan seperti anak kecil oleh Yuuichi, hanya tersenyum singkat sambil mengangkat piringnya dan Yuuichi ke bak cuci. "Sudah, Kyousuke. Biar Wandeba saja yang mencuci. Nii-san sedang terburu-buru. Sana, cepat, ambil tasmu."

"Eh? Nii-san Wandeba kan cuma boneka beruang? Mana bisa bergerak apalagi mencuci piring. Nii-san ada-ada saja," ucap Kyousuke. Yuuichi yang mendengar hal itu menepuk jidatnya 'Benar juga. Kyousuke kan belum tahu kalau Wandeba itu hidup.'

"Begitu..Ng..anoo..Kyousuke begini. Ah..yang penting urusan cuci-menyuci nanti saja. Nii-san terburu-buru. Ayo sana ambil tasmu," perintah Yuuichi yang berhasil menormalkan gelagat-nya agar tidak terlihat aneh didepan Kyosuke —yang dianggapnya cerdas.

"Hn." Tanpa disuruh dua kali, Kyousuke langsung melesat berlari ke arah kamarnya.

.

.

.

Tak butuh waktu lama, Kyousuke sudah berada di depan pagar rumahnya. Ia sudah rapi dengan seragam, tas, dan sepatu sekolah. Selang beberapa menit, Yuuichi muncul dengan mobil sport-nya. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk Kyousuke, kemudian ia segera mengunci pagar rumah –tak lupa pintu rumahnya, dan melaju ke Raimon High School untuk mengantarkan Kyousuke sekolah.


Mobil sport berwarna biru gelap melaju di tengah jalan raya yang masih terbilang cukup sepi. Berhubung ini masih pukul 7 pagi, jadi yang lalu-lalang hanya tukang koran, pejalan kaki —sekedar berolah raga, dan sejumlah kendaraan umum yang memang sengaja diperuntunkan bagi pekerja kantoran yang dijadwalkan berangkat pagi.

Sang pemilik mobil te es be, diketahui bernama Tsurugi Yuuichi terlihat fokus menyopir mobilnya. Namun pikirannya melayang kemana-mana. Sedangkan sang Tsurugi bungsu, sepanjang perjalanan asyik membaca buku pelajaran. Wow~!

Ditengah-tengah perjalanan, Yuuichi menangkap sesosok pemuda bertanduk~?~ tiga berambut coklat. Ia sangat hapal betul sosok itu. Akhirnya Yuuichi memutuskan untuk meminggirkan mobilnya di dekat trotoar. Kyousuke yang merasa mobil kakak berhenti tiba-tiba, langsung bertanya kepada kakaknya. "Ada apa Nii-san. Tiba-tiba berhenti?"

"Tidak... uhn.. sepertinya Nii-san melihat teman lama Nii-san!" ucap Yuuichi sembari melepaskan ikat tali pada sabuk pengamannya.

"Kamu disini dulu, Nii-san cuma sebentar kok." Kyousuke mengangguk dan melanjutkan kegiatannya —membaca buku— yang sempat tertunda.

Blam!

.

.

.

Tanpa disadari Yuuichi, dua pasang mata mengawasinya dari tempat yang tidak kasat mata. Salah satu dari sosok itu berjalan mendekati Kyousuke.

Tok! Tok!

Kyousuke menoleh ke samping, berusaha melihat siapa yang mengetuk jendela mobil kakaknya. Diletakkan bukunya dan mulai menurunkan kaca mobil dengan memutar knop yang ada diganggang pintu mobil tersebut.

Kyousuke mengamatinya dari bawah hingga atas. Sosok yang di depannya itu, seperti pria berumur 40-an. Tinggi dan besar. Ia memakai celana panjang hitam dan bajunya tertutupi oleh jaket panjang berwarna abu-abu gelap. Tak lupa sebuah topi berwarna senada dengan celananya membingkai cantik di kepalanya yang botak —tebak Kyousuke.

Setelah Kyousuke selesai mengamati sosok yang menghampirinya itu, ia tertegun heran. 'Mau apa dia kemari.' Dia yang menyadari Kyousuke mengamatinya, tersenyum. Entah kenapa bagi Kyousuke itu tampak bukan senyuman tapi seringaian.

'Perasaanku tidak enak.'

.

.

.

(Yuuichi POV)

Aku mengejar sosok yang sekarang berjalan didepanku. Tak butuh waktu lama lagi aku dapat meraih lenganya.

Tap! Grep!

"Mamoru-sama!" Aku memanggil sosok itu. Sontak ia menoleh.

"Yuuichi-san!" jawabnya.

"Ah. Benar, Mamoru-sama." Syukurlah tadi yang kulihat benar-benar Mamoru. Haha.. ternyata mataku masih jeli juga, batinku sedikit narsis.

"Doushitano?" ia bertanya. Ah, aku juga bingung mau dimulai dari mana. To the point sajalah.

" .. begini, Mamoru-sama. Apa benar Anda menyuruh Alpha untuk menyelidiki 'mereka'?

"Ya.. begitulah," Ia menjawab sekedarnya. "Apa dia memberitahumu sesuatu?" tanyanya balik. Tak ada niat aku ingin bertanya, sejak kapan Mamoru-san menyadari dan tahu pergerakan 'mereka' selama ini.

"Iya, Mamoru-sama." Jawabku jujur. "Apa Anda belum mendapatkan kabar dari Alpha?"

Pembicaraan kami mulai serius. Kulirik ke kanan dan kiri. Sepi. Hn, ku rasa tak apa, tidak ada seseorang yang mendengar percakapan kami.

"Kurasa belum. Apa yang dia katakan," tanya Mamoru-sama yang terlihat sangat penasaran.

"Ia memberitahu saya, bahwa 'mereka' saat ini sedang perjalanan ke California." Kataku tegas. Kulihat keningnya berkerut, tangan kanan di dagunya, persis seperti orang sedang berpikir sesuatu.

"California..." celetusnya. "kebetulan sekali."

Kebetulan sekali... apa maksudnya... "Eto... hm.. kebetulan sekali apa maksud Anda?" tanyaku agak sedikit gugup. Entah kenapa setelah Mamoru-sama bilang 'kebetulan sekali' perasaanku tiba-tiba tidak enak.

"Eh! Apa Tsurugi tak bercerita padamu, Yuuichi-san," ucapnya sedikit terselip nada kaget.

"Bercerita. Tentang apa?" kataku bingung. Kyousuke tidak mengatakan apapun saat kami di rumah. Ah.. benar juga. Aku menepuk jidatku. Aku kan, jarang di rumah. Mungkin Kyousuke tak sempat bercerita padaku, pikirku positive thinking.

"Raimon Gakuen, akan mengadakan Study Tour ke luar negeri. Tepatnya di California," penjelasan Mamoru-sama membuyarkan lamunanku. Sepertinya Mamoru-sama tahu kalau aku sedang bingung.

"Sou...ka." ucapku masih belum percaya. Kyousuke akan ke California... 'mereka' sekarang ada di California... ditambah...

"Mamoru-sama... Alpha juga memberitahu saya, kemungkinan 'mereka' bersekutu dengan Black Castle!" kataku tiba-tiba.

"APA! Black Castle!" sudah kuduga reaksinya akan seperti ini.

"Sshhh... Tenanglah Mamoru-sama. Kendalikan diri Anda," aku mencoba menangkan.

"Cih! Aku tak menyangka 'mereka' akan bersekutu dengan Black Castle," geramnya.

Trrrt~~

Ditengah-tengah pembicaraan kami, handphone-ku berbunyi. Tanpa melihat ke layar, siapa yang menghubungiku, langsung saja ku angkat.

"Halo..."

'YUUICHIIII!' Oh... ternyata si rambut jamur~?~ yang menelepon.

"Berisik, Alpha! Apa kau tidak bisa bicara lebih lembut," kesalku, bisa-bisa telingaku tuli kalau harus mendengar suara cemprengnya itu.

'Gila! Kau! Aku sudah menunggumu dari tadi. Kau dimana, HAH!'

Lagi-lagi aku menepuk jidatku. Benar. Bukannya tadi pagi aku sudah janjian dengan si rambut jamur itu. Ah... kenapa ku jadi pelupa begini.

"Iya, sebentar, aku akan segera ke sana."

'Ya, sudah.'

Piip!

Aku menutup sambungan teleponku dan mendapati Mamoru-sama memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Dari Alpha." Pernyataan Mamoru-sama, seperti klarifikasi tak butuh jawaban 'ya' atau 'tidak'. Dia pasti sudah tahu. Ku anggukan kepalaku sebagai balasan 'ya'.

(End's Yuuichi POV)~

.

.

.

Mamoru dan Yuuichi memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sebenarnya Yuuichi sudah menawarkan Mamoru untuk berangkat bersama-sama. Toh, tujuannya sama —Raimon Gakuen. Dengan halus Mamoru menolaknya, dengan alasan jadul —tidak terima kasih, tidak usah repot-repot; silahkan duluan saja, jaraknya sudah dekat kok— Ya, begitulah, jawabannya yang diterima Yuuichi.

Yuuichi, kadang tertawa geli, kalau melihat tingkah laku tuan mudanya itu. Penampilan boleh sih, seperti anak usia 17-an. Kalau boleh jujur umur Mamoru sebenarnya sudah 50 tahun loh. Tua... sama Yuuichi saja lebih tua-an Mamoru. Ya itulah, salah satu keuntungan menjadi makhluk yang hidup abadi. Tak habis dimakan zaman.

.

.

.

(Mamoru POV)

Aku dan Yuuichi-san berpisah. Mungkin sekarang Yuuichi-san sedang menertawakanku. Hei! Alasanku menolak tawarannya memang terkesan jadul plus klasik, kan? Seperti menganggap Yuuichi-san orang lain saja. Padahal Yuuichi dan Tsurugi sudah ku anggap keluarga sendiri. Mungkin aku memang sedang butuh sendiri.

SET!

"Ah, eh… ha, hawa ini… kok…" tiba-tiba aku menggigil. Jangan bilang... Tapi hawanya dari tempat Yuuichi-san berada... ku tajamkan indraku...

Bukan.. bukan dari tempat Yuuichi-san, tapi beberapa meter jarak dari tempat Yuuichi-san.

DEG!

TSURUGI!

(End's Mamoru POV)

.

.

.

Tak mau menyia-siakan waktu, Mamoru berbalik dan langsung berlari mengejar Yuuichi, siapa tahu dia belum terlalu jauh.

Yuuichi yang mendengar langkah kaki dari belakang, menoleh. "YUUICHI-SANN!" teriak Mamoru.

"Mamoru-sama?" Yuuichi kaget melihat Mamoru menerobos ke arahnya dengan nafas terengah-engah. Entah kenapa perasaannya kini terasa sangat aneh... dan khawatir. Insting Yuuichi mengatakan kepada dirinya untuk mengejar Mamoru.

"Mamoru-sama, tunggu!" kata Yuuichi dengan cepat dapat menyusul Mamoru. "Ada apa?"

"Aku merasakan hawa makhluk lain, hawa yang sangat mencekam. Kurasa bukan dari golongan zombie. Tapi... entah sebelum aku melihatnya aku belum bisa menebaknya. Kelihatanya mereka pintar menyembunyikan hawa kehidupan mereka. Tadi, ku kira berasal dari tempatmu. Setelah ku telusuri.. ternyata dari tempat Tsurugi berada," jelas Mamoru tanpa mengurangi kecepatannya.

"APA!" Yuuichi shock mendengar penjelasan dari Mamoru.

Bagaimana bisa ia lengah di saat genting seperti ini, meninggalkan adiknya seorang diri tanpa pengawasan. Kyousuke tidak tahu, kalau dirinya adalah zombie. Bagaimana mungkin ia dapat menggunakan kekuatannya untuk melindungi dirinya sendiri? Pertanyaan demi pertanyaan hinggap di kepala Yuuichi. Ia bingung. Bukan maunya menutup-tutupi jati diri Kyousuke yang sebenarnya. Yuuichi hanya takut, terjadi apa-apa dengan adik satu-satunya sekaligus keluarga yang ia miliki. Ia sudah berjanji kepada kedua orang tuanya untuk menjaga dan melindungi Kyousuke hingga mati. Memilih jalan menjadi seorang zombie, bukanlah perkara yang mudah. Setiap hari selalu dihadapan dengan kematian. Yuuichi tidak mau Kyousuke hidup seperti itu. Ia hanya ingin Kyousuke hidup normal seperti manusia biasa.

'Apa cuma sampai disinikah,' batin Yuuichi.

.

.

.

Tap!

Mamoru dan Yuuichi sampai ditempat Kyousuke berada. Dengan napas yang memburu, mereka mencari sosok Kyousuke. Namun sebelum, Yuuichi melangkahkan kakinya, tiba-tiba sebuah tendangan menghentikannya.

Dhuak! Yuuchi terjatuh dengan darah yang keluar dari sudut mulutnya. Mamoru memasang kuda-kudanya saat melihat seseorang dengan jubah hitam didepannya.

"Cih," Yuuichi kesal pada orang yang menendangnya. Sedangkan Mamoru menatap ke arah orang itu dengan tatapan sangat marah.

"Hmm… tatapan yang bagus!" ucap seseorang di belakang Yuuichi dan Mamoru.

Yuuichi yang merasa ada seseorang dari belakang langsung berbalik. Mamoru tidak ikut berbalik, ia fokus dengan sosok yang ada di depannya itu. Jadi, posisi Mamoru dan Yuuichi saling memunggungi. Hingga dapat bertarung one by one.

.

.

.

Mata Yuuichi membulat besar saat melihat sosok didepannya. Bukan terkejut melihat sosok itu, tapi seseorang yang ada digendongannya.

"Kenapa , ekspresimu seperti itu? Hm," tanya sosok yang ada di depan Yuuichi. "Oh! Ya... apa bocah ini?" tunjuknya pada sosok yang kini tak sadarkan diri dalam gedongannya.

"KISAMA!" geram Yuuichi. "Lepaskan Kyousuke! Atau kau akan mati hari ini juga!" Sebagai seorang kakak, Yuuichi merasa adiknya sekarang sedang dalam bahaya besar.

"Dia... Tidak ada sangkut pautnya sama sekali! Kembalikan padaku!"

Orang itu hanya tersenyum mengejek. "Ambil kalau pun kau bisa..."

"Tsurugi Yuuichi..."

Kemudian, sosok itu menghilang, diiringi tatapan tajam dari Yuuichi.

"BERENGSEK!"

.

.

.

"Yuuichi-san!" panggil Mamoru yang sudah memasang kuda-kuda. "Sepertinya kalau kita terlalu lama disini akan memicu perhatian banyak orang. Kau kejar dia. Biar aku akan melawan satunya lagi dan memancingnya jauh dari kerumunan."

Yuuichi kaget," Eh? Ta-tapi, bagaimana dengan Mamoru-sama…"

"Sudahlah, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula, kau sangat mengkhawatirkan Tsurugi, kan. Kau pergilah duluan. Selamatkan adikmu!"

"Ha'i!" Yuuichi segera berlari meninggalkan Mamoru untuk bertarung sendirian.

"Hoo… Kau berani juga ya, bocah!"

"Kita liat saja nanti. Pertarungan baru dimulai sekarang!" seru Mamoru.


Yuuichi terus mengejar sosok yang membawa Kyousuke yang sekarang berlari didepannya, sampai ke dalam hutan. Saat tangan Yuuichi hampir berhasil menarik tangan sosok itu. Tiba-tiba sosok itu menghilang dari hadapannya.

"!" Yuuichi yang tidak menyadari di depannya ada pohon besar dan tidak bisa pula menghentikan laju kecepatannya. Dan...

DHUAK! Ia pun sukses 'berciuman' dengan pohon te es be.

Tanpa memperdulikan kesakitan pada kepalanya yang sekarang sudah nangkring bulatan merah muda, yang di ketahui adalah sebuah benjolan, Yuuichi dengan cool membersihkan benjolan yang ada di kepalanya. Wush~ Wush~

Duing dungg~~ Benjolan tadi mengelinding dengan sendirinya*

Setelah membersihkan diri dari debu yang menempel dari tubuhnya, Yuuichi melanjutkan mengejar sosok itu.

.

.

.

Sementara ditempat Mamoru~

"THUNDER ATTACK!"

BZZZZTT ZRRRTT~ DHUARR!

Serangan kilat Mamoru hampir mengenai tubuhnya, namun dengan lihai orang itu dapat menghindarinya.

"HAHAHAHAHA! Tak kusangka ternyata sekumpulan zombie dari White Castle selemah ini!" ejek orang itu. Bukannya kesal dengan perkataannya itu, Mamoru tersenyum menyeringai. Ia sengaja melesetkan serangan agar memancingnya ke tempat yang sepi.

"Bagus..sedikit lagi dan—"

DHUAK!

"AAAAAAAAGHHHHHHH!" Sebelum Mamoru sempat melancarkan serangannya kembali, seseorang menubruknya dari belakang.

"Aduuh… ittei! Eh? AH!" kaget Mamoru saat mengetahui siapa yang menubruknya. Seseorang yang diketahui sebagai tersangka penubrukan(?) itu pun tak kalah kaget.

"OMAE WA!"

"MURID PINDAHAN! / ENDOU!" seru mereka berdua.

"Kau, tahu namaku?" pekik Mamoru.

"Endou Mamoru, orang mesum yang tempo hari menggambil fist kiss-ku. Tanpa bertanggung jawab sekalipun, huh! Dan satu lagi, namaku bukan murid pindahan, tapi G-O-U-E-N-J-I S-H-U-U-Y-A! Ingat itu baik-baik" jelas Shuuya penuh penekanan.

Mamoru menaikkan sebelah alisnya, tidak terima dikatain mesum sama calon ukenya. Tunggu! Calon uke? Sejak kapan Mamoru mulai mikir kalau Shuuya itu calon uke. Lagipula, apakah Shuuya mau jadi ukenya? Astaga, pikiran Mamoru sekarang mulai aneh.

"Atas dasar apa kamu mengataiku mesum, heh muri- maksudku Shuuya?" kata Mamoru sambil berusaha berdiri. "Maaf ya, aku bukan ayah dari janin yang kau kandung, jadi jangan minta pertanggungjawaban padaku," lanjut Mamoru ngawur.

Pletak! Jitakan 'sayang' mendarat ke kepala Mamoru.

"BAKA! Kau pikir aku perempuan, hah!" kesal Shuuya yang pipinya bersemu merah.

"Iittei! Lha, tadi kamu bilang butuh pertanggungjawaban. Ku kira 'itu' kan?" kata Mamoru seenaknya.

Shuuya benar-benar kesal pada makhluk yang ada dihadapannya ini. (~sabar yah.. Shuuya -,-" Mamoru orangnya emang begitu *puk puk*)

Plak! Plak! Plak! Shuuya menampar pipi Mamoru ke kanan-kiri sambil bergumam, "Baka! Mesum! Hentai! Kono yaro!" Entah kenapa hasrat ingin menabok(?) Mamoru kambuh.

"Arghh! Ampuuun! STOP... Shuuya... Stop! GYAAAAAAAA!"

Karena Shuuya tidak mendengar perkataan —jeritan— Mamoru. Terpaksa ia langsung menarik Shuuya ke dalam pelukannya.

GREP!

'Eh! Hangat!' Shuuya yang merasa dirinya dipeluk menengadah.

"Apa kau sudah mulai tenang?" tanya Mamoru dengan mata berbinar-binar. Bukannya makin tenang, malah Shuuya makin histeris. "KYAAAAAA!" Shuuya membanting tubuh Mamoru dan menendangnya sampai menjebol pagar rumah.

Gubrak!

"KAU! Sudah mesum, suka mengambil kesempatan dalam kesempitan!" jerit Shuuya sambil menunjuk Mamoru yang sudah terkapar.

(A/N:Mau tahu kenapa Shuuya bilang 'mengambil kesempatan dalam kesempitan'. Uhum begini, posisi Mamoru saat meluk Shuuya tu seperti orang yang mau berciuman. Kedua hidung mereka saling menempel. Shuuya nggak sadar posisi itu, karena waktu menampar Mamoru dengan semangat '45, ia memejamkan kedua matanya biar sedikit mengkhayati gitu loh~~ uhuum... penjelasan selesai.)

.

.

.

"EHEM!" Sosok yang menonton adegan Roman picisan antara Mamoru dan Shuuya merasa geram. Soalnya dari tadi dikancangi mulu, sih! Yoo… Kacang murah! Kacang murah! Seribu dapet 3! (~ditebas)

Tanpa berpikir panjang sosok itu langsung melesat ke arah Shuuya, karena sudah dianggap mengganggu pertarungannya dengan Mamoru.

"Shu-Shuuya! LARI!!" kata Mamoru dengan nada panik, ia menyadari kalau sosok itu mengincar Shuuya.

"Lari? Kena-," Tanpa membuang-buang waktu Mamoru berlari ke arah Shuuya dan menggendongkan ala bridal style.

"Eeeh…? Endou, turunkan aku! Aku kan, bisa jalan sendiri!" celetus Shuuya.

"ICE LANCE!" sosok itu, mulai melancarkan serangannya. Ia tidak membiarkan mangsanya kabur.

Wush! Tap! Tap!

Tombak-tembak es itu menyerang Mamoru dan Shuuya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Nanti aku ceritakan!"

.

.

.

Mamoru terus menghindari serangan itu. Ia tidak bisa menyerang balik, karena Shuuya berada digendongannya.

'Kuso! Yang aku bisa lakukan cuman menghindar!'

Shuuya yang melihat ekspresi Mamoru merasa cemas. "Apa aku membebanimu, Endou?" tanya Shuuya sambil narik-narik lengan baju Mamoru.

Mamoru tidak membalas pertanyaan Shuuya, ia fokus dengan serangan yang dilancarkan oleh sosok itu.

"Kenapa hah! Cuma segitukah kemampuanmu!" ucap sosok itu. "Kalau begitu...! Ku akhiri sampai disini!"

"FIRE BLAST! WIND STORM!"

"Nani? Dua serangan sekaligus!" pekik Mamoru.

Sosok itu mengeluarkan teknik api dan angin bersamaan dan menggabungkannya. 'Gawat! Kalau terkena,bisa habis aku dan Shuuya' Lalu Mamoru meluk Shuuya di dadanya erat-erat dan menambah kecepatan berlarinya.

Tap! Tap! Tap!

Namun, kelihatan Dewi Fortuna tidak memihak kepadanya. Api dan angin itu mulai mendekat dan terus mendekat.

"KHEKHEKHE! Tunggulah kematianmu.!" tawa sosok itu.

Mamoru berkonsentrasi keras untuk menambah laju berlarinya. Ia menoleh kebelakang, mendelik sebentar, kemudian berlari lagi.

Sedikit lagi serangan Fire Blast dan Wind Storm, akan mengenai mereka.

5 m lagi…

3 m…

1 m…

30 cm...

Dan...

"HUWAAAAAAAAAA!"

GEDUBRAK!

.

.

.

Sosok itu begong.

Mamoru begong.

Shuuya begong.

Mereka bertiga begong. Belum konek dengan kejadian yang barusan terjadi. Kalau di emo tampang mereka kayak gini (`OAO`)

Seharusnya Fire Blast dan Wind Storm mengenai Mamoru dan Shuuya, sekarang malah melayang jauh menuju ke angkasa. Dan meledak bagaikan hanabi (kembang api).

Dhuar! Cetar! Byarrrr!

"ENGHHHHHHHHHHHH!"

Flashback beberapa detik yang lalu~

Sebelum fire blast dan wind storm menembus tubuh Mamoru. Tanpa sengaja Mamoru menginjak PISANG! Dan berhasil membuat keseimbangan Mamoru hilang. Ia tergelincir karena tidak ingin Shuuya terbentur, Mamoru berusaha membalik tubuhnya. Pada akhirnya mereka terjatuh berdua... Seperti sekarang...

Shuuya diatas Mamoru. Tangannya mencengkeram erat baju seragam Mamoru. Dan Mamoru memeluk kepalanya..

Flashback End~

Sebuah teriakan dari seseorang membuyar ke-begong-an mereka bertiga.

"AAAAAA! PISANG KU!" teriaknya histeris.

.

.

.

"SARU/SARYUU EVANS!"

.

.

.

.

.

Tbc...?!


*) Ekspresi Yuuichi-san kayak Hinata di video Naruto SD (Sugoi Doryoku) episode 9.


Agh! Makin gaje aja... hahahahhahahaha #bangga#

Cerita nggak nyambung? Pasti *~digiling reader*

Wah... ayo tebak-tebak...! main pairing chara di fict ini XD

Lalu sosok yang belum diketahui oleh Mamoru dan Yuuichi-san, yang menculik Kyou-chan?

Reader : Ni orang main tebak-tebak mulu (*siap-siap golok*)

Me : #bikin barrier#

.

.

.

Thank buanget atas reviewnya :

Mori Kousuke18 : Maaf atas keterlambatan meng-update ^^/

Chiheisen : Pokoknya Yuuichi dan Kyousuke tak terpisahkan #apadah#

Kiriichi23 : Maaf, kalo tak sesuai permintaan. Sebagai gantinya Anda akan menjadi nahkoda pas mereka ber-study tour *dikit bocoran*

The Fallen Kuriboh : Tebakan Anda betul. Dimana ada abang Mark, pasti ada Neng Axel(?) XD

Anda-anda sekalian(?) mau ngeripiu fict abal saya ini ... #croott# *terharu*...

Dan berjuta-juta silent reader yang udah mampir... #ngarang oyyy#

~~Sekian dan terima kasih~~

.

.

.

~~*RnR & Flame?*~~