Terlihat dua orang yang berbeda aura tengah berdiri saling berhadapan. Seseorang yang lebih muda menunjukkan wajah masam, tangannya mengepal erat menahan amarah. 'Akhirnya terkejar juga'. Seorang lagi hanya menatap dingin pemuda yang lebih muda darinya itu.

"Katakan! Apa tujuan kalian yang sebenarnya!" tanya atau lebih tepatnya perintah yang terlontar dari mulut sang pemuda yang sedari tadi mengepalkan tangannya.

Sosok itu tersenyum menyeringai. "Tsurugi Kyousuke, zombie muda dari aliansi White Castle, dan Bearer Core of Magic."

Mata sang pemuda terbelalak. "Apa... kau menyebut dia... " gumamnya tak percaya.


Ore wa Zombie!

Disclaimer :

Inazuma Eleven & Inazuma Eleven GO © Level-5

Pairing :

(main) MamoShuu & MarkAxel (slight), YuAki, TakuRan, dan sisanya menyusul

Rate :

T

(kemungkinan bisa berubah)

Genre : Romance, Humor, Tragedy, Adventure, Supranatural. (bisa berubah-ubah sesuai mood author)

Warning :

Sho-ai/yaoi, OOC, AU, typo(s), alur melompat-lompat(?), abal, gaje, aneh, ngebosenin, pendiskripsian kurang, bahasa sesuka author, etc.

(A/N : Anggap saja Mamoru/Shuuya dan Mark/Axel dua orang yang berbeda)

Don't like please don't read!

.

.

.

Chapter 5


"Oh, posisi yang bagus, Mamoru-sama~!" ucap sesosok yang berambut perak jabrik ala Becita(?) yang tiba-tiba berdiri tepat di depan Mamoru. Menyadari hal itu, pipi Mamoru langsung merah padam —tak kecuali bagi Shuuya. Mereka gelagapan dan cepat-cepat mengubah posisi mereka se-normal(?) mungkin.

"GAMMA! Lho... Saru, heh?" Mamoru mencari sosok mony— maksudnya Saru yang ternyata di bawah kakinya.

"Huweekk.. hiks... pisangku... hancur sudah...hancuuurrr! Lebih baik kau hancurkan hatiku, daripada pisangku..." tangis Saru sambil meratapi pisangnya yang sekarang sudah tak terbentuk lagi di jalan —dan sebagian di sepatu Mamoru.

BLEETAKK!

"Bisa, tidak, sih, tidak mikirin pisang sehari saja. HAH?! Dasar monyet!" geram Gamma sambil menjitak kepala Saru.

"Sakit, Gamma! Kau tidak tahu rasanya kehilangan kekasih. Huh!" Saru meringis kesakitan dan melayangkan deathglare terbaiknya. Namun tidak mempan tuh, buat Gamma. Bahkan Gamma juga melemparkan deathglare andalannya. Hingga muncul kilatan listrik dari kedua mata mereka yang saling menatap dengan 'mesra'—nya.

"Kekasih? Ow... aku tahu kau ingin selingkuhin Fei kan? Dengan pacar barumu. Heh!" ucap Gamma entah kenapa ketularan oonnya Saru, yang sudah oon dari sononya. (A/N : Author ditodong pistol ma Saru)

"Bukaaaaaaan! Pisangku bukan kekasih... dia... dia... hmmm... Arrghhhh!" teriak Saru sambil mengacak-acak rambutnya. Ia tidak bisa membalas kata-kata yang dilontarkan dari mulut Gamma. Dasar culas.

Mamoru jawdroop melihat tingkah dua rekannya itu. Bagaikan Monyet dan Tikus(?) tak pernah akur. Gamma + Saru = perang shinobi(?) keempat. Apalagi kalau mereka sampai menikah(?). 'Gamma + Saru = ?' sungguh sangat nista =,=

Mamoru menggeleng-geleng kepalanya untuk menghilangkan imajinasi nistanya itu.

Sementara Shuuya dan sosok itu sweatdroop. 'Lagi-lagi muncul dua orang aneh..' batin Shuuya.

'Lagi-lagi aku dicuekin... Ah! Hidup yang menyedihkan dan... Gue butuh kacang!' batin sosok itu miris.

.

.

.


"K-kau... memanggilnya Bearer Core of Magic?" ulang Yuuichi menuntut kepastian.

"Sepertinya kau belum tahu apa-apa, Tsurugi Yuuichi." Sosok itu tersenyum menyeringai. Lalu ia merogoh kantong celananya kemudian melemparkannya.

EARTH BEANS!

Mendadak tanah yang dipijak mereka bergetar hebat. Bumm! Kraakk!

Yuuichi terperanjat melihat tanah yang ia pijak mulai retak —lebih tepatnya di dekat sosok itu. 'Nani, kore wa?' Ia mundur dengan sedikit terhuyung, mencoba mengimbangi tubuhnya dengan getaran bumi yang bergoyang.

Tiba-tiba muncul akar berduri besar yang keluar dari tanah. Namun jangkuannya tak terlalu jauh dari sosok itu dan tinggi akar itu hanya sebatas bahunya saja.

"Nah... kurasa kita perlu bermain-main sebentar. Aku mulai bosan dengan aksi kejar-kerjaran kita," ucap sosok itu sambil membaringkan Kyousuke ke akar tersebut —tubuh Kyousuke seperti terlilit akar dengan posisi terlentang. Akar itu bukan hanya melilit tubuh Kyousuke tapi, durinya yang tajam pun ikut menancam di tubuh Kyousuke. Hingga menyebabkan luka yang cukup dalam di sekujur tubuhnya.

Yuuichi menggeretakkan giginya kesal, tak ada yang boleh menyakiti adiknya. Lalu Yuuichi mulai menyiapkan kuda-kuda untuk bertarung. "Wahai roh kebaikan dan keadilan, aku memerintahkan padamu untuk patuh dan tunduk. Dengan rohku sebagai sumber kekuatanmu, gunakanlah kekuatan tersebesarmu untuk mewujudkan kemauanku!" gumam Yuuichi. Seketika tangan Yuuichi mulai diselimuti api hitam. Ia menyatukan lengannya lalu...

"Datanglah! Masenshi Pendragon!"

Dari punggung Yuuichi muncul sosok seperti iblis hitam dengan sayap kelelawar berwarna putih corak biru dan membawa katana besar di bahunya.

"Oh... kau punya keshin kah?! Cuma makhluk-makhluk terpilih saja yang mampu mengeluarkan keshin. Sepertinya aku tak akan bosan.. hn.." ucap sosok itu sambil tersenyum mengejek.

"Sudah, jangan banyak bicara! Kalahkan aku, kalau kau bisa." Tantang Yuuichi.

"HAHAHAHAHAH! Nyalimu besar juga bocah! Baiklah... " Sosok itu mengeluarkan sebilah pedang yang ada di balik jubahnya.

"IKUZO!" seru mereka berdua.

.

.

.


~0~ Mamoru's Side ~0~

Cetak! Cetak! Cetak!

Shuuya memukul kepala ketiga makhluk yang dianggapnya halus(?) itu —satu berambut coklat, putih, dan perak— menggunakan penggaris lipatnya yang terbuat kayu. Dua diantaranya complain, cuma Mamoru saja yang diam sambil mengaduh kesakitan. Mungkin sudah biasa di-KDRT-in sama Shuuya kali ya... Benar-benar tipe Suami-suami Takut Istri(?).

"HEYY!"

"APA! Mau protes kalian hah?!" ucap Shuuya dengan aura gelap sampai-sampai penggaris kayu yang ia pegang hancur ditangannya. Membuat Gamma dan Saru bergidik ngeri. 'Cantik-cantik kok tenaganya monster!... iih...atut~' batin mereka berdua.

"Oi! Kalian! Jangan abaikan makhluk tampan disini," kata sosok yang sedari tadi terabaikan.

"Berisik! Urusin saja masalahmu!" Bentak Shuuya, Gamma dan Saru kompak, membuat sosok itu kesal.

"Grrr... Kalian pikir aku akan diam saja!" geram sosok itu.

Didengarnya sosok itu bergumam pelan sambil berkonstrasi. Seketika itu juga Mamoru menyadari sesuatu. 'Dia akan menyerang kembali!' Sinyal bahaya tampak di kepala Mamoru. Dengan cepat Mamoru menarik Shuuya dalam pelukannya(lagi) dan membuat pelindung di sekitarnya tanpa banyak bicara. Gamma dan Saru juga merasakan sinyal bahaya disekitar mereka buru-buru 'nyumpet' dibalik pungung Mamoru. Soalnya mereka tidak sempat mengeluarkan jurus mereka yang dianggap 'hebat' itu.

"AIR BLAST! / WIND SHIELD!" teriak sosok itu dan Mamoru bersamaan. (A/N : yang bercetak miring jurus/sihir-nya sosok itu)

"Cih! Sepertinya, karena terlalu fokus dengan ketiga orang itu, aku lupa keberadaan bocah tanduk itu," desis sosok itu.

Zingggg! Braaakkk!

Terpaan dari serangan angin besar itu menembus gedung tua di sisi bagian Mamoru. Karena Mamoru menggunakan pelindung, sehingga tak sedikitpun dia terkena serangan itu. Tapi dia harus segera melumpuhkan lawannya agar kerusakan yang terjadi tidak akan menarik perhatian orang banyak yang sadar kekacauan yang mereka buat.

"Gamma, Saru, dengarkan aku. Begitu kubuka pelindung ini, kalian serang orang yang menggunakan sihir angin di sana. Dan aku akan membawa Shuuya ke tempat yang aman."

"Ha'i. Aku mengerti," kata Gamma disertai anggukkan dari Saru.

"Oke, kalau begitu," sahut Mamoru ceria. "LEPAS!"

Begitu Mamoru membuka segel pelindungnya, mereka langsung menerjang ke arah sosok itu. Gamma menggerakan jarinya seperti mengisyaratkan rumput-rumput dibawahnya agar menuruti perintahnya. Salah satu keunggulan Gamma dapat berkomunikasi dengan alam dan dapat mengendalikannya. Dengan sedikit pengendalian ia dapat membuat rumput duri dan menusuk kaki sosok misterius yang ada di depannya.

"Argh!" Erangan kesakitan sosok itu. Gamma tersenyum puas.

Tak ingin ketinggalan aksinya, Saru dengan cekatan mengambil pistol dari kantong pistolnya. Bagaikan sniper handal *baca : gadungan* ia membidikkan mulut pistol tepat ke kepala sosok itu dan menarik pelatuknya sambil bergumam,"Ucapkan selamat tinggal dunia, dan selamat datang ke tempat nenek moyang kita!" 'Hah? Nenek moyang? Monyet maksudnya?' pikir Gamma polos.

DOOR! DOOR! DOOR!

.

.

.

Tiga tembakan tepat mengenai kepala sosok itu. Timah panas yang sekarang bersarang di kepalanya tidak membuatnya mati, hanya membuat dia pingsan saja.

Gamma mendekati sosok itu. "Hm... sepertinya dia bukan dari golongan zombie."

"Eh? Apa maksudmu?" tanya Saru kaget. Lalu ia memasukkan kembali pistolnya kemudian berjalan mendekati sosok itu dan Gamma sedang memeriksanya.

Gamma memasang tampang serius,"Coba, kau lihat dia. Bukannya kalau dia sesama zombie kelemahan dia ada di kepalanya. Apalagi barusan kau menembak kepalanya sampai tiga kali. Seharusnya dia mati, bukan pingsan begini. Aku sudah memeriksanya, hawa kehidupannya masih ada," terang Gamma panjang lebar.

"So-souka? Lalu, nih, makhluk model apaan?"

Gamma menaikkan alisnya. 'Model? Jenis kali. Dasar monyet oon.'

"Dia Vampire... yan..ne!" kata sosok misterius dari belakang Gamma dan Saru.

"KAU...!"

.

.

.


~0~ Yuuichi's Side ~0~

Trang! Trang!

Pedang Yuuichi dan sosok misterius itu beradu untuk yang sekian kalinya —Yuuichi sekarang dalam kondisi mode armor. Suara desisan pedang mereka yang bergesek pun terdengar begitu jelas, dan seiring itu juga mereka —khususnya Yuuichi— makin terdorong kearah jurang. Tak masalah kalau dia masuk jurang, toh Yuuichi masih bisa terbang menggunakan sayap yang berada di punggungnya. Namun masalahnya kalau tenaganya habis. Celakalah dia. Pertarungan antara dia dan sosok itu adalah berat sebelah.

Yuuichi sudah mengeluarkan magis terkuatnya yaitu keshin, Masenshi Pendragon. Sedangkan dia bertarung hanya menggunakan sebilah pedang. Entah kekuatan apa yang masih disembunyikan olehnya. Ia harus berhati-hati, satu saja kecerobohan yang dia buat, akibatnya fatal bagi dirinya.

"Hah, hah, hah..." Napas Yuuichi mulai terengah-engah, sementara tangannya masih mempertahankan pedang yang melindunginya dari terjangan pedang sosok itu. Yuuichi benar-benar merasakan perbedaan yang terlalu jauh kekuatannya dengan sosok itu.

.

.

.

"Aku tak peduli siapa kau yang sebenarnya, dari mana asalmu, maupun aliansimu. Tapi, orang-orang yang sudah melukai seseorang yang kusayangi terutama Kyousuke, satu ujung rambutnya pun. Aku tak akan memaafkanmu. Walaupun aku tahu perbedaan jauh antara kekuatanmu dan aku. Aku akan tetap membunuhmu!"

"HAHAHAHAHA!" Tawa sosok itu sepertinya untuk membungkam segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Ketika ia selesai ia menyeka air matanya. Lalu ia melompat menjauhi Yuuichi, mengatur napasnya sejenak. Dan setelah itu menatap tajam kearah Yuuichi.

"Nah, aku salut dengan keberanianmu, bocah. Sebenarnya kau orang pertama yang membuat aku mengeluarkan senjata. Biasanya aku bertarung hanya menggunakan tangan kosong," katanya sombong sambil mengacak pinggang.

"Cih!" desis Yuuichi.

"Sebelum kau mati, aku akan memberikan bonus... umh.. ya semacam kenang-kenanglah. Kenapa 'kami' membawa adik kesayanganmu itu. Para Bearer Core of Magic, makhluk atau orang-orang terpilih yang memiliki inti ini memiliki kemampuan untuk memberikan kekuatan magis seseorang atas salah satu elemen atau semua elemen yang ada di dunia ini. Aku... aku sebenarnya adalah seorang pengguna non-magis atau lebih tepatnya petarung menggunakan tangan kosong. Dan sampai aku bertemu Rei dan dia mengatakan kepadaku tentang 'Bearer Core of Magic' orang yang dapat memberikan kekuatan magis. Dan aku ingin kekuatan itu untuk mencapai tujuanku sendiri. Lalu selama berpuluh-puluh tahun kami mengumpulkan data dan informasi dari berbagai informan di dunia bawah. Pencarian kami terhenti 16 tahun lalu. Dan kau tahu... " Perkataannya berhenti sesaat, lalu ia melangkah mendekati Kyousuke yang tengah tak sadarkan diri.

"Saat mengetahui ada satu keluarga yang akan memiliki bayi yang lahir tepat saat akatsuki (bulan merah) muncul, itu berarti tibalah sang pembawa inti magis terlahir. Dan kami terselusuri lebih mendalam, kami tersandung pada Tsurugi Kyousuke, adikmu."

Yuuichi hanya diam terpaku, tak ingin mencela sedikitpun perkataannya, karena dari dalam hati sanubarunya sendiri, ia pun penasaran dengan ceritanya. Mengapa adiknya disebut sebagai sang membawa inti magis. Dan sekarang ia tahu, kenapa mereka mengincarnya.

"Kau tak mungkin mempercayainya Tsurugi Yuuichi. Sebenarnya kami ingin mengambilnya tepat dihari kelahirannya. Namun orang tuamu menghalangi aksi kami. Mereka bersikeukeuh tak ingin menyerahkan bayi mereka. Orang tuamu kuakui termasuk zombie yang kuat. Jadi ya... kami ter—"

"Kalian membunuh kedua orangku," gertak Yuuichi sambil mencengkeram erat katananya.

Sosok itu menyeringai. "Ya... kami memang membunuh kedua orang tuamu. Tapi ketika kami ingin mengambil adikmu, seseorang menggagalkannya."

'Seseorang?'

"Nanobana Kinako... orang itulah yang menggagalkan rencana kami," celetus sosok itu, ada nada tidak suka yang terselip ketika ia menyebutkan namanya.

"Bukannya... dia juga memberikan pelindung untuk adikmu, heh?" lanjutnya.

"Wondeba... maksudmu... Setahuku memang Wondeba diberikan oleh Kinako-san untuk menjaga Kyousuke selagi aku tidak ada disampingnya. Tapi aku tidak tahu, kalau sebenarnya tugas Wondeba melindungi Kyousuke dari kalian!" hardik Yuuichi.

"Kuma, itu memang sangat merepotkan, cih! Jadi kami mundur dan mencari kesempatan untuk mengambil adikmu kembali. Dan inilah kesempatannya," ucapnya sambil mengelus pipi Kyousuke.

"Dan sekarang.. kau sudah mengetahui semua rahasiaku.. Aku tidak mungkin membiarkanmu hidup.." kata sosok itu sambil menyeringai. Sambil memasang kuda-kuda ia menerjang ke arah Yuuichi.

Namun, ketika Yuuichi sigap menangkis serangannya. Tiba-tiba keshinnya menghilang.

"Sial, aku sudah kehabisan magis-ku," rutuk Yuuichi.

Sosok itu tersenyum penuh kemenangan, "Tamatlah riwayatmu, Tsurugi Yuuichi!"

Yuuichi yang tak bisa berbuat apa-apa hanya mampu memejamkan kedua matanya. Seakan ia sudah siap akan datangnya kematiannya pada dirinya. 'Kyousuke maafkan nii-san.'

Sambil mencengkeram pedangnya dengan kuat, sosok itu melesat cepat ke arah Yuuichi, dan….

"Fortissimo!"

Sebuah bola cahaya melesat cepat ke arah sosok itu dan...

DHUAKKK! Serangan telak mengenai sosok itu, dan ia pun terpelanting cukup jauh.

"Maaf kami terlambat Tsurugi-senpai."

.

.

.


Raimon High School~

Di kelas 2-A saat ini adalah waktunya pergantian jam mata pelajaran dari sastra Jepang yang diajar oleh Meia-sensei ke mata pembelajaran bahasa Jepang yang diajar oleh Gillis-sensei. Jadi, keadaan kelas 2-A itu benar-benar gaduh dan ramai seperti pasar atau lebih tepatnya dibilang kapal pecah(?).

Ada Tsunami yang diseret dan dipaksa Toramaru untuk turun dari meja mereka, karena itu bocah lagi memeragakan gaya berselancar terbarunya pada Tachimukai yang kebetulan mampir ke bangkunya. Soalnya Haruna sibuk bergosip dengan Rika, Akane, dan Terumi. Tsunami sengaja membawa papan selancar terbaiknya buat memamerkan ke Tachimukai, biar itu anak kesemsem dan kagum ke dia. Namun, dilihat dari raut Tachimukai dugaannya NOL besar! Bukannya kagum , ternyata dia illfil dan menganggap dia gila. Poor Tsunami.

"Sudah ku bilang 'kan Tsunami-san, ini bukan di laut tapi di sekolah. Perlu kuingatkan berapa kali, hah! Biar kau mengerti," hardik Toramaru yang entah seperti emak-emak yang lagi menceramahi anaknya.

Tsunami yang melihat aura 'Emak mode on' milik Toramaru hanya bisa bergidik ngeri dan menunduk. "Su-sumimasen..."

Megane yang sibuk main kartu dengan Hayami, Shinichi, dan Masaru, Masaki malah sibuk adu mulut dengan Hikaru, ada juga Natsumi dan Midori yang sibuk membaca buku resep masakan China dan masakan Indonesia(?). Sepertinya duo buta rasa *~dihajar* itu ingin berekperimen untuk mengkombinasi antara masakan China dan Indonesia menjadi satu. #bayangin saja kayak apa bentuk dan rasanya#.

Dia balik bermacam-macam variasi keramaian di kelas itu, sang ketua kelas a.k.a Kidou Yuuto sedang serius membaca majalah dengan judul yang 'misterius'. Berhubung dibangkunya sepi. (A/N : Mamoru, Shuuya, dan Kyousuke nggak masuk hari ini, tahu dong kenapa?) dan bangku depannya —bangkunya TakuRan— juga di dudukin makhluk ijo duplikatnya Fei*, Hiroto juga sudah enyah dari tempatnya. Jadi, tak ada yang akan tanya macam-macam tentang isi majalah yang sedang ia baca. Bakalan malu tujuh turunan kalau sampai ada yang tahu Yuuto baca 'gituan'.

Sedangkan Tenma sembunyi di pojok ruang kelas, memunggunggi teman-temannya sambil mematahkan ranting pohon yang entah darimana ia dapatkan. Hatinya muram dan suram, tak secerah siang hari ini, karena sang pujaan hati a.k.a Kyousuke tidak masuk. Dan terlebih lagi ia tidak bisa melihat tampang cool, cuek, dan jutek dari sang Tsurugi bungsu itu, baginya tampang seperti itulah yang menurutnya imut(?) dan bikin kangen. Bagaikan ranting pohon yang ia patahkan tadi ibarat harapannya saat ini, dipatahkan begitu saja.

.

.

.

Tidak berapa lama terdengar bunyi bel. Seorang pria muda berkacamata dengan rambut putih coklat masuk ke kelas.

"Yoo, Konnichiwa minna~!" ucap sang guru itu.

"Konnichiwa, Gillis-sensei" ucap anak-anak 2-A dengan riang gembira.

Ketika hendak mengabsen Gillis memandang wajah anak-anak didik yang dikenalinya itu, namun kemudian berhenti tepat di wajah yang menurutnya asing.

"Err... saya mengerti kalau Endou Mamoru, Tsurugi Kyousuke, dan Gouenji Shuuya si anak baru itu tidak masuk hari. Tapi, yang saya herankan sejak kapan Shindou Takuto, Kirino Ranmaru, dan Nanobana Kinako mengecat warna rambutnya menjadi hijau cerah," tanya Gillis-sensei pada anak-anak didiknya menuntut kejelasan yang pasti.

Anak-anak 2-A itu saling berpandangan lalu bersamaan memandang Fei.

Fei yang dipandangin teman-teman sekelasnya dengan intens, jelas saja kelabakan. "Eh?! Apa?! Apa!?" ucapnya panik.

"Uhum, begini sensei,..." Yuuto pun menceritakan atau lebih tepatnya memberi alasan kenapa rambut TakuRanKin dicat kepada Gillis-sensei. Setelah mendengar penuturan dari Yuuto, Gillis-sensei memaklumin dan melanjutkan pelajarannya.

Fei menghela napas lega. Sepertinya ia musti berterima kasih kepada Kidou yang lagi-lagi menolongnya dengan memberikan alasan yang menurutnya tidak masuk akal. Dan minggu ini, mau tak mau ia musti merogoh kantongnya untuk membelikan Kidou boneka Penguin Limited Edition yang baru-baru ini diterjunkan ke pasaran(?) sebagai tanda terima kasih.

.

.

.


White Castle~

Remang cahaya matahari menembus jendela yang beraltar dari kristal dibelakang sang penguasa —Raja yang tengah memandangi sebuah bingkai foto. Yang mana terdapat dua orang pemuda berambut coklat dan putih tulang yang sedang tersenyum lepas. Jari sang raja menyentuh gambar pemuda yang lebih muda. Dielus-elusnya layaknya mengelus wajah anaknya sendiri.

Flashback~

"Mau kemana lagi, Axel?" tanya Daisuke.

"Aku harus menemui seseorang," jawabnya singkat tanpa membalikkan tubuhnya.

"Siapa? Apa anggota dari aliansi Black Castle?" mata Axel melebar ketika mendengar penuturan dari ayahnya. Ia berbalik menghadap wajah serius ayahnya –Daisuke.

"Bagaimana otou-sama tahu?"

"Kemarin aku menyuruh seseorang untuk mengawasi gerak-gerikmu."

"Ya, aku memang menemui salah satu anggota Black Castle," jawab Axel terus terang.

"Siapa? Dan untuk apa kau menemuinya?"

"Namanya... Mark. Dan aku menemuinya karena aku... Aku mencintainya..."

"Jangan bodoh, Axel! Mark, dia musuh kita!" teriak Daisuke.

"Tapi, Mark bukan musuh bagiku! Aku mencintainya!" jawab Axel tak mau kalah.

Hening... Baik Axel maupun Daisuke, tak ada yang bersuara.

"Yang pasti, kau tidak boleh pergi menemuinya..." ujar Daisuke.

"Aku akan tetap pergi, aku harus menemuinya." Axel melangkahkan kakinya menjauh.

"Jika kau tetap bersikeras pergi, maka... Kau kuusir dari aliansi ini!"

Langkah Axel terhenti. 'Apa yang harus kupilih? Mark, atau diriku sendiri? Aku...'

"Keputusan ada di tanganmu sendiri, Axel,"

"A—aku... Aku akan tetap pergi..." jawab Axel pelan, kembali melangkah. Samar-samar, kedengaran Daisuke-Ou bergumam.

"Aku kecewa padamu, Axel."

End Flashback~

"Bodoh... seharusnya aku bisa menghentikannya..." gumamnya pelan.

"Tsk! Aku gagal menjadi ayah...

.

.

.

.

.

*TBC*


*) Pada episode pertama InaKuro kan Fei bisa menduplikatkan dirinya kayak amoeba~?~ jadi tahu kan? Biarpun tampang-tampang dari kloning Fei bisa bervariasi tapi rambut mereka nggak bisa dibohongi tetep aja kayak Fei, ijo cerah. Sekian... #penjelasan macam apa itu# *~dor*

Buat relaxing mari yuk dengerin lagu yang agak melow... sambil nyanyiin lirik dibawah ini.. pasti reader tahu kan?

Cusssss~~

koko kara mieru keshiki

koko made kuru itsumo no michi

iron na omoide wo tsumi kasane

ima, mune ni sobie tatsu Bokutachi no Shiro

minna de issho ni

sugoshita hibi

naita hi mo waratta hi mo zenbu

kakegae no nai mono

Shindou : kore kara ni ga matteiyou to

Kirino : hitori ja nai yo kowaku nai yo

Tsurugi : hanarebanare ni natta to shitemo

Tenma : kizuna de tsukutta shiro wa naku naranai

omoide ga umetsukushi

kono mama koko ni itai kedo

harukaze ga tsukushi wo yurasu koro

sayonara no te mo yureru

koko de oboeta yuuki

genki wo kureta kono keshiki

itsumademo zutto wasurenai yo

doko kara demo mieru Bokutachi no Shiro

minna de hitotsu no ishiKORO wo

ketobashi nagara kaetta michi

yorimichi shita ano basho

Shinsuke : kanashii toki wa hagemashite kureta

Shindou : ureshii toki wa yorokonde kureta

Tenma : boku wo itsumo mattete kureta

Tsurugi : ienakatta "itsumo arigatou"

itsu no hi ka ongaeshi

taisetsu na hito ni shitai kara

harukaze ga tsugi ni fuku koro ni wa

ima yori seishou shite itai

koko kara mieru keshiki

itsumo no minna no egao

tatoe, tooku tooku hanaretemo

mune no naka kagayaku Bokutachi no Shiro...


=Curcol=

Chappie 5 selesai juga... hahaha(ketawa nista)... makin rumit saja kan?

Aduh... satu masalah yang saya bikin belum ada titik temunya... malah bikin masalah yang lain *harakiri* coz ide yang ada pikiran saya banyak banget... tapi... ya nulisnya itu yang susah. Otak ma tangan nggak sinkron, sih! Ya... sambil menyelam makan hati(?) #reader : kiasan darimana tuh#

Oya..ya... gimana adegan actionnya? Kurang seru kan! *~dijitak reader* maklumlah authornya perempuan sekaligus bukan gamemaker yang bisa ngebuat adegan action apalagi ciptain jurus-jurus *bungkuk2*

Wah... saya nulisnya sampai gemeteran pas Yuuichi-san ngeluarin keshinnya pake bumbu-bumbu(?) mantra. "Wahai roh kebaikan dan keadilan, aku memerintahkan padamu untuk patuh dan tunduk. Dengan rohku sebagai sumber kekuatanmu, gunakanlah kekuatan tersebesarmu untuk mewujudkan kemauanku!" kyaa... bayanginnya. Tapi kalo lebih bagus kalo pake bahasa jepang. Tapi saya bukan ahli bahasa sih... jadi pake bahasa Indonesia aje yeee...

Oya... mantra itu saya kutip dari anime Magi Labyrinth of Magic. Kalo belum nonton season 1 nonton gih cuma sampe 25 episode. Tapi katanya temanku bakalan rilis yang Season 2 tahun ini .. ehm.. kalo nggak salah bulan Oktober katanya, sih. *plak* #promosi#

Lalu kenapa Gamma dan Saru bisa muncul dihadapan Mamoru? Chap depan saya usahakan bisa menjelaskan kenapanya, pokoknya ada hubungan dengan TakuRanKinako. (~PR author)

Ada penasaran nggak, sama majalah yang dibaca Kidou? Hayo, tebak, majalah apa itu? *smirk* yang pasti bukan hentai lho~

Ada yang mau protes kenapa zombie bisa mengeluarkan kekuatan magis? silahkan.

Lalu, ada yang mau nambahin idenya buat kelangsungan hidup fict gaje ini? Kalo ada bakalan saya beri hadiah... yaitu ucapan TERIMA KASIH...#author digebukin rame-rame#

Okeh! Waktunya balas review~

Marcel Vinder : Arigatou... sudah bilang fict saya keren #sungkem# saya pikir fict ini bakalan ancur loh... Ya bener kasihan Kyou-chan. Hiks *ngelap ingus* ini yang salah yang nyulik atau authornya, sih yang ngetik #plak#

Saru dan Saryuu...sama kok. Cuma saya pernah liat diblog inazuma *lupa namanya* itu menyebutin nama lengkap Saru... ya, Saryuu Evans, nama bekennya Saru gitu. Tapi kalo salah gomen *bungkuk2*

Siapa saja yang jadi zombie? Sesuai aliran waktu bakalan ketahuan kok siapa aja yang zombie. Uh... Tenma? Mungkin iya. Heheheh.

Makasih udah review~

Mori Kousuke18 : iya bener... entah kenapa saya ngidam Saru dibikin nista *dor* hahahahah. Eh... Hakuryuu biarpun tampang pengen grepe-grepe Kyou-chan, mana berani nyulik Kyou-chan #kalo kepepet sih# *dhuak*

Bukan bawang putih yang naik... tapi bawang merah sekarang *ngelirik Hiroto*

Makasih udah review~

Kinako Lovers : Gomen-gomen... saya masih newbie jadi kurang memperhatikan jenis genrenya... gomen. Maklum saya pengemar genre parody sama humor walaupun kurang jayus... sekali lagi maaf. *bungkuk2*

Makasih udah review~

.

.

.

~~ So, mind *RnR & Flame?!* minna-san~~