Padang rumput indah nan luas, menjadi saksi bisu sebuah kisah sepasang kekasih yang saling mencintai. Walaupun salah satu dari mereka harus pergi, namun cinta mereka tetap abadi. Seperti halnya bunga-bunga yang tumbuh di padang rumput itu, biarpun sudah menginjak musim panas. Namun bunga-bunga yang —seharusnya tumbuh pada musim semi masih bermekaran, menawarkan sejuta keharuman yang memikat. Sehingga membuat siapapun yang singgap disana enggah merajak dari tempat itu. Seolah-olah bisa merasakan hembusan angin dari surgawi.
Meskipun hari mulai gelap dan matahari ingin sekali beranjak ke peraduannya. Dan digantikan oleh pelukan malam dengan jubah kelamnya datang. Hingga kegelapan telah sempurna menyelimuti semua kehidupan; alam —termasuk pemandangan padang rumput yang tadi berubah gelap. Tapi, keindahannya masih dapat dirasakan. Dengan mulainya suara jangrik yang menderik, dan muncul berpuluh-pulunh kunang-kunang menyusup diantara rumput-rumput disana. Sejauh mata memandang kunang-kunang yang berterbangan, cahaya kuning yang ditimbulkannya seperti sebuah bintang yang berkelap - kelip. Seketika padang rumput nan indah tadi disulap menjadi hamparan rumput ilalang bertabur kunang-kunang dengan cahaya kuningnya. Itu sungguh pemandang indah dan jarang terlihat. Tapi sepertinya pemandangan indah itu tidak bisa menenangkan suasana hati dua orang ini, yang diyakini adalah sepasang kekasih yang sembari tadi terduduk diam di atas padang rumput itu.
Kebisuan yang mereka ciptakan, akhirnya dipecahkan oleh suara pelan nan lembut dari seorang pemuda berambut putih tulang dengan akses corak hijau dibelahan samping rambutnya yang panjang sebahu. "Kenapa?" ucapnya.
Pemuda yang satunya lagi —sedari tadi setia menemaninya menoleh. Paras tampannya menampakan kebingungan dari satu kata yang terucap dari mulut kekasihnya itu. "Kenapa apanya?"
"Kenapa aku sangat bodoh. Kenapa aku justru lebih memilih tetap menemuimu. Mark," kata pemuda berambut putih tulang itu pelan. Entah kenapa terbesit sedikit rasa penyesalan didalam hatinya. Namun, entah kenapa pula disamping itu, ia merasakan bahagia telah mengambil jalan ini. Jalan yang akan mengubah hidupnya 180 derajat. Dengan berbagai konsekuensinya yaitu diusir dari alisansi White Castle, karena sudah membangkang perintah Otou-samanya untuk menemui Mark dan tetap pergi meninggalkannya. Meninggalkan semua yang ia punya selama ini
"Karena kau mencintaiku 'kan Axel!" jawab pemuda yang dipanggil Mark itu sekedarnya.
'Cinta? Benar, aku mencintaimu, Mark.'
Axel hanya tersenyum miris sambil memandang langit yang berbias bintang-bintang yang bertaburan. "Padahal kita berbeda aliansi. Kau dari Black Castle, sedangkan aku White Castle. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersatu."
Apa yang dikatakan Axel memang benar dan nampak jelas. Hitam dan putih tidak akan bisa bersatu. Ibarat medan magnet yang memiliki poros negative dan positive. Yang mana bila di dekatkan maka kedua poros tersebut akan saling bertolak belakang. Menolak satu sama lain.
Benar demikian?
Tiba-tiba dirasakan tubuh mungil Axel didekap dengan erat dan lembut oleh lengan yang kokoh. "Aku tahu, Axel... Aku Tahu. Percayalah padaku, aku berjanji. Janjiku seumur hidup. Suatu saat nanti kita, pasti akan bersatu. Bukannya warna hitampun juga bisa luluh oleh warna putih..." katanya sambil mengecup singkat pipi Axel.
"I... Iya. Mark. Aku... percaya padamu." sahut Axel sedikit terbata-bata. Wajahnya memerah karena sikap Mark memang terkenal dengan sikap spontanitasnya itu.
'Selalu...'
Mark lalu bangkit dari posisinya dan berdiri. Kemudian tangannya mengajak Axel berdiri juga. Mereka berdua saling bertatapan.
Cukup lama mereka saling bertatap muka. Seakan menikmati momen-momen indah mereka dengan memandangi keindahan yang dimiliki satu dengan lain. Langit yang berwarna gelap menemani dua insan yang sedang memadu kasih. Sinar —pantulan— bulan di kegelapan malam menerpa wajah salah seorang dari mereka. Axel. Wajahnya begitu manis saat diterpa sinar bulan. Membuat Mark meninggalkan rona merah di wajah tan—nya itu. Ia tersenyum. Senyum tulus. Senyum yang membuat Axel terpesona.
Sedikit demi sedikit, pelan-pelan Mark memajukan wajahnya, menghilangkan jarak diantara wajahnya dengan wajah Axel. Axel pun perlahan menutup matanya. Entah karena apa, daun-daun yang berterbangan yang dikirim oleh hempusan angin yang cukup kencang itu, kemudian berguguran —berjatuhan seperti menyoraki hubungan yang telah terjalin diantara dua insan ini. Seakan mereka; alam, merasakan juga kebahagian yang dirasakan mereka.
Sekarang, dalam selimut malam yang indah, sinar bulan yang menyinari mereka, Mark maupun Axel menikmati ciuman yang membuat mereka sama-sama deg-deg'an. Mark mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Axel, dan Axel meresponnya dengan melingkarkan tangannya ke leher Mark.
Mereka tak ingin ini berlalu begitu saja. Mereka ingin seperti ini. Seterusnya... Dan...
Selamanya...
Ore wa Zombie!
Disclaimer :Inazuma Eleven & Inazuma Eleven GO © Level-5
Pairing : (main) MamoShuu & MarkAxel (slight), TakuRan, sisanya menyusul
Rate : T (kemungkinan bisa berubah)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Adventure, Supranatural and maybe a little bit humor.
Warning : Sho-ai/yaoi, OOC, AU, typo(s) berserakan, alur melompat-lompat(?), abal, gaje, aneh, ngebosenin, pendiskripsian kurang lebih banyak dialog, bahasa sesuka author, etc.
(A/N : Penampilan Mamoru dan Shuuya sama di Inare, Mark layaknya di InaGo, dan Axel ala Seitei)
Don't like please don't read!
.
.
.
Chapter 6
Sebuah mobil escudo berwarna hitam meluncur mulus melewati jalanan yang cukup padat. Sang pengemudinya adalah seorang pria yang ditaksir berumur 42 tahun berambut hitam sedikit beruban dan bermata hitam yang berbingkai kacamata lensa minus. Jemari tangannya yang tan mencengkeram setir dengan begitu erat sementara mata hitamnya menatap lurus ke jalanan. Tak lama mobil escudo berwarna hitam itu akhirnya menepi di sebuah apartemen yang terbilang cukup mewah di pinggir dekat sungai.
Sang pria merapikan sedikit penampilannya sebelum ia hendak beranjak dari tempatnya. Setelah yakin dengan penampilan sudah cukup rapi, ia meraih beberapa kantung yang lumayan besar dari kursi belakang dan membawanya turun dari mobil. Derap langkah kakinya terdengar seperti orang yang berwibawa dan memiliki ketegasan yang tinggi. Dengan langkah yang terbilang cukup tergesa-gesa, pria itu menampakan kedua kakinya dan melangkah melewati beberapa kamar dari apartemen tersebut. Sesampainya di depan pintu lift, ia segera masuk kedalam lift dan menekan tombol yang berangka 7.
Set! Pintu lift pun tertutup dan kotak besi itu mulai merangkak ke lantai 7 —tujuannya.
Tak lama lift sudah mencapai lantai 7. Ting! Perlahan ia keluar dari lift itu dan kembali berjalan. Pada akhirnya, kakinya telah sampai di depan kamar apartemen bernomor 576. Di samping pintunya bertuliskan "Gouenji Residence".
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Dengan sabar, ia menunggu pintu untuk dibukakan. Tak butuh waktu lama baginya untuk mendapati seorang wanita tua yang umurnya hampir setengah abad itu membukakan pintu tersebut.
"Oh... Selamat datang Katsuya-sama," ucap wanita tua itu sembari membungkuk. Lalu ia segera membantu membawakan sebagian barang pria yang dipanggil Katsuya itu.
Katsuya hanya mengangguk sebagai balasannya. "Hm... masih sepi. Kemana anak-anakku Fuku-san?"
"Seperti biasa, Yuuka-sama sedang tidur siang setelah dia minum obat, Katsuya-sama. Dan... Shuuya-sama... " Fuku-san tidak melanjutkan perkataannya. Entah kenapa ada rasa ragu; takut atau engan untuk menjawabnya. Fuku-san hanya bisa memalingkan wajahnya. Tak berani menatap langsung wajah tegas sang tuan besarnya itu.
Katsuya yang menangkap gelagat aneh dari orang kepercayaannya—merawat anak-anaknya dari kecil— itu terdiam. Dilipatnya tangan di depan dada dan pandangannya tak ia alihkan ke tempat lain. Seperti sengaja mengintimidasi Fuku-san lewat tatapan matanya yang tajam agar mau berbicara yang sejujurnya.
.
.
.
(Mamoru POV)
Aku membawa Shuuya dan melompat dari satu atap rumah ke atap lain dengan cepat. Dengan keadaan mendesak seperti ini aku memanfaatkan kekuatan zombie-ku untuk mempercepat sampai ke tempat kakek.
Aku sudah memberitahu Shuuya kemana aku akan membawanya. Ya, aku akan membawanya ke aliansi White Castle. Aku sudah berjanji padanya untuk membuka identitasku yang sebenarnya. Termasuk memberitahukannya bahwa sebenarnya aku ini adalah zombie. Entahlah, kenapa aku tak merasa khawatir kalaupun jati diriku yang sebenarnya terbongkar dihadapan Shuuya. Aku malah merasa senang. Lagipula ini juga pertama kalinya aku memanggil orang yang baru kukenal dengan nama kecilnya. Padahal biasanya aku selalu memangil seseorang dengan nama marganya saja. Ya... kecuali Tenma dan Yuuichi-san, sih, aku manggil mereka pakai nama kecil mereka.
Tapi rasanya anak ini, dengan kehadirannya dapat membuatku merasa nyaman, dan hatiku sangat senang. Aneh padahal aku baru bertemu dengannya dan setiap kita bertemu selalu bertengkar.
Tetapi semenjak bertemu dengannya pertama kali, perasaan yang hangat yang mulai menjalar dan memenuhi dadaku ini, perasaan apa ini?
.
.
.
Sekarang Shuuya tidur di pangkuanku. Mungkin dia keenakan aku dekap sampai-sampai dia tertidup lelap.
"Shuuya…" Akupun berbisik ke Shuuya mencoba untuk membangunkannya.
Sedikit demi sedikit kelopak matanya terbuka memperlihatkan mata onyx indahnya. Matahari yang baru bersinar membuat matanya tampak mengesankan. Ah... aku lupa memberitahu kalau tempat aliansi White Castle —rumahku itu kasat mata dan tidak sembarang orang dapat melihat dan menemukan tempat ini. Hanya makhluk seperti kami dan manusia yang punya indra lebih mampu menembusnya. Dan satu hal lagi... perbedaan waktu disini dan dunia manusia berbeda. Jikalau disini matahari baru terbit, berarti di dunia manusia sudah menginjak malam. Ya... semacam dunia lain gitu. Sudah aku singgung 'kan di chapter 1(?) kalau manusia bukanlah satu-satunya makhluk yang hidup di muka bumi ini. Ada makhluk lain seperti kami yang hidup juga di dalamnya.
Cho...cho matte? Kenapa aku malah jadi narator? Dan kenapa di chapter ini POV-ku panjang banget. Lalu, aku mau protes di chapter kemaren-kemaren, kenapa yang menonjol Yuuichi-san, sih, bukannya aku yang pemeran utamanya! Author fict ini nyebelin! DX (Author : Yak, kamu benar sekali, yo~ ^0^)
(End's Mamoru POV)
.
.
.
Shuuya yang sekarang sudah bangun, merentangkan tubuhnya seperti kucing dan menguap. Mamoru melihatnya dengan tatapan senang. 'Wow... Kawaiiii ne,' batin Mamoru kagum.
"Shuuya kita sudah sampai."
Shuuya pun turun dari pangkuan Mamoru. 'Ukh, silau!' Shuuya segera menghalangi matanya dengan tangannya dari sinar matahari. Setelah matanya mulai terbiasa dengan cahaya, ia dapat melihat rumah besar yang memiliki beberapa lantai, bercat putih di depannya.
Shuuya terkagum-kagum melihat rumah yang setengah tertutupi oleh kebun dan taman di kediaman Endou itu. Rumah atau lebih tepatnya kastil; istana itu bergaya eropa klasik lebih mencerminkan ciri ke-tradisionalnya.
Tak jauh dari bangunan putih itu terdapat taman yang dipenuhi oleh beberapa bunga, seperti bunga mawar, camelia, bird of paradise, bunga matahari, tulip; putih, merah, kuning, pink, biru, dan ungu. Ditengah-tengah kumpulan tulip itu terdapat sebuah bunga Lily * yang berdiri tegak menghadap sang mentari. 'Aneh mengapa bunga Lily itu hanya satu?'
"Selamat datang di rumahku!" Ucapan Mamoru kontan membuyarkan Shuuya dari lamunannya.
.
.
.
"Maaf, kami terlambat Tsurugi-senpai."
Yuuichi menoleh kebelakang. Mencari sosok yang sudah menyelamatkannya itu. "Shindou-kun... Kirino-kun."
"Tsurugi-senpai, sebaiknya kita jangan membuang-buang waktu lagi. Saya tahu, Anda pasti menanyakan perihal kami bisa datang ke sini. Simpan dulu pertanyaan Anda itu. Anda selamatkan Tsurugi saja. Biarkan aku dan Kirino yang mengurus dia," jelas Shindou.
"Wakatta," ucap Yuuichi. Ia segera mendekati Kyousuke. Sosok itu yang melihat Yuuichi akan menyelamatkan Kyousuke, mulai bangkit dan langsung menerjang Yuuichi.
Takuto dan Ranmaru yang sudah siap dengan kuda-kuda mereka langsung menghalau sosok misterius itu untuk mendekati Yuuichi.
"Huh, lawanmu adalah kami!" ucap Ranmaru.
Trang! Gesekan pedang antara sosok itu dan Gungnir[1] milik Takuto menjadi awal pertarungan mereka.
.
.
.
"Bagaimana? Kalian sudah tahu dimana putraku berada?" kata seorang pria dengan baju berstelan serba hitam melalui sebuah telepon genggam.
"Sudah, Katsuya-sama," ucap orang di seberang sana.
"Dimana?"
"Menurut penelurusan kami, sepertinya beberapa jam yang lalu ada sebuah pertempuran yang tak lazim, di sebuah gedung tua yang jauh dari pusat kota. Dan kami juga menemukan tas sekolah yang di ketahui milik Shuuya-sama berada tak jauh dari tempat itu."
"Pertempuran yang tak lazim. Apa maksud kalian?"
"Begini Katsuya-sama. Sepertinya makhluk-makhluk dari dunia bawah, mulai muncul ke permukaan. Kami sudah menyelediki secara pasti. Ada kekuatan magis yang masih tertinggal di puing-puing gedung tua di sana. Singkat cerita, ini seperti pertempuran merebutkan sesuatu. Sesuatu seperti apa itu, kami belum punya buktinya secara konkrit."
"Lalu, beritahu dimana Shuuya. Masalah yang satu ini, kita ke sampingkan dulu. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan putraku."
"Ha'i Katsuya-sama. Shuuya-sama sekarang berada di..."
.
.
.
(Gouenji's Residence)
Fuku-san yang sedari tadi merasa cemas tak henti-hentinya berjalan bolak-balik di depan pintu. Ia khawatir dengan tuan besarnya itu yang tiba-tiba pergi keluar dengan membanting pintu sekeras mungkin. Sepertinya ada sedikit kekesalan dan kemarahan setelah dia mendengar penjelasan dari Fuku-san.
Flashback~
"Fuku-san, saya minta Anda bisa katakan dengan jujur dimana Shuuya," ucap Katsuya datar.
"Sebenarnya...emg... eng... hm," Fuku-san enggan bercerita matanya sibuk melirik ke tempat lain, dan sepertinya sengaja menggalihkan pandangan ke wajah tuan besarnya itu.
Katsuya yang sudah kehilangan kesabarannya mulai naik pitam, "FUKU-SAN! Saya masih biasa bersabar dengan segala kondisi yang ada. TAPI KALAU MENYANGKUT TENTANG ANAK-ANAKKU,saya tidak bisa tinggal diam. CEPAT katakan yang sebenarnya, DIMANA SHUUYA!" bentak Katsuya penuh penekanan.
Fuku-san yang melihat kilatan kemarahan yang terpancar di kedua mata Katsuya, mau tak mau ia harus menceritakan yang sebenarnya.
"Maafkan.. Saya, Katsuya-sama. Sebenarnya saya juga tidak tahu dimana Shuuya-sama berada. Sepengetahuan saya, Shuuya-sama tadi berangkat sekolah seperti biasanya. Namun beberapa jam kemudian, saya mendapat telepon dari pihak sekolah beliau, kalau hari ini, Shuuya-sama tidak masuk. Saya takut terjadi apa-apa dengan Shuuya-sama. Terlebih lagi, Shuuya-sama tidak membawa handphone-nya," terang Fuku-san sambil menunduk.
"Kenapa Anda tidak menelepon saya," pekik Katsuya.
"Ma-maaf, Katsuya-sama, saya sudah menghubungi Katsuya-sama. Namun yang menjawab adalah suara operator," bela Fuku-san.
"Cih, ya sudah. Tolong, jaga Yuuka. Saya akan mencari Shuuya."
"Ha'i"
Katsuya berjalan dengan cepat kearah pintu dan membantingnya sekeras mungkin.
BRAK!
End Flashback~
"Kami-sama, semoga semua akan baik-baik saja..."
.
.
.
"Apa? Vampire?!" sahut Saru terkejut. Gamma pun langsung ikut terbelalak kaget.
Kinako pun mengangguk. " Iyaa.."
"Souka. Tak kusangka, akhirnya peristiwa 100 tahun yang lalu akan terulang kembali," gumam Gamma. "Oh, ya, ada yang ingin aku tanyakan. Sebenarnya kami disuruh datang ke sini, untuk membantu Mamoru-sama? Daro? Lalu, Shiensha-X, hm.. ano maksudku Asurei memberitahu apa lagi?" tanya Gamma langsung, dengan nada menyelidiki.
"Yah, seperti biasa... suamiku itu tak menjelaskan secara detailnya padaku...yane," jawab Kinako sambil mengangkat bahunya. "Ehm..tadi..pas setelah bel mulai istirahat, tiba-tiba handphoneku bunyi yane. Kupikir dari siapa, dan setelah kuangkat, suaranya seperti suara Asurei dengan nada terputus-putus. Sepertinya berkata, 'Cepat, selamatkan...,' yane."
"Lalu? Apa yang terjadi?"
"Yah..aku langsung keluar kelas. Begitu bisa terang-terangan mengangkat teleponnya, suara Asurei hanya bisa terdengar 'Selamatkan..' dan kemudian..telepon terputus begitu saja, yane," sahut Kinako.
"Apa, terjadi sesuatu pada Asurei?" ucap Gamma cemas. Kinako menggeleng.
"Emg... sebenarnya memalukan untuk diceritakan... yane," kata Kinako sambil mengaruk-garuk pipinya. "Sebenarnya..."
.
.
.
"APA! GRATISAN PULSANYA HABISS! Nggak banget," teriak Gamma shock. Kinako menutup kedua telinganya erat-erat. "Makanya pakai X* B**** dong. Biar murah tapi nggak murahan," tambahnya. (A/N: saya terpaksa mengskipnya, dan saya tekanan ini bukan ajang buat promosi :p)
"Dan... Bla... Bla... Bla..."
"Bla... Bla... Bla..."
Gamma malah sibuk berkomentar soal kartu pulsa yang lagi dipakai sama Asurei dengan tampang serius. Membuat Kinako stress sendiri. Kurang kerjaan amat, nih, anak. -_-
"Ih...urusai, yane. Sekarang bukan mempersoalkan hal itu, lagi pula dia juga sempat mengirim pesan lewat Ley Luke[2]" ucap Kinako sambil memijit-mijit pelipisnya. "Yang penting kita bawa dia ke tempat lain. Tak mungkin ia kita tinggalkan begitu saja disini, kan?"
"Mungkin kita harus membawanya ke tempat penelitian…" usul Gamma.
"Kenapa, tidak langsung di bawa ke hadapan sang Raja, atau ke tempat eksekusi, yane, " jawab Kinako.
"Tapi, dengan membawanya ke tempat penelitian kita bisa meneliti lebih jauh lagi, Kinako! Mungkin kita bisa mengetahui kemampuan yang dimiliki vampire ini, dengan begitu akan menguntungkan bagi kita. Walaupun suamimu sudah menjadi mata-mata terpenting dengan menjadi Shiensha-X dan memberitahu pergerakan para vampire-vampire sialan itu. Tak salahnya kita juga ikut membantu," desak Gamma.
"Hm... Benar juga, yane. Ikou..."
Gamma dan Kinako mulai meninggalkan tempat itu serta membawa sosok itu —vampire— dengan Gamma memanggulnya seakan-akan sosok itu adalah sekarung beras yang siap diobral(?).
Eh? Tunggu-tunggu... sepertinya ada yang kurang, nih. Bukannya di TKP ada 4 orang; makhluk. Sosok itu, Kinako, Gamma, dan... OMG Saru. Oh, ya dimana dia? O.O
Dari pada bingung...
Flashback yukk~
Ketika Gamma dan Kinako berdiskusi dengan tampang yang amat sangat serius, sesuatu sudah menarik perhatian Saru. Sebuah benda berbentuk lonjong panjang berwarna kuning. What-you-know? About mean? Dan... Yups, it's Bananas... alias P-I-S-A-N-G. Hm... Nyam... Yummy.
"Wah... My Beloved Girl(?)... Wait... me darling! I'm coming, Honey!" Tanpa persiapan, komando, dan ancang-ancang three, two, one, siji loro telu, Saru dengan cepat memanjat pohon pisang itu. Dia memanjat dengan lancar banget. Tak berapa lama, ia sudah berada di pucuk salah satu dahan pohon pisang itu. Tidak perlu keahlian khusus dan pengalaman bertahun-tahun untuk mengelupas buah pisang. Tinggal diambil puncaknya, lalu tarik kulit pisang ke bawah. Mudah kan? (*~plak*).
Saru segera melahap pisang itu dengan rakus sampai tinggal kulitnya saja. (#ya jelas#).
"Hm.. hawsa hisangh wak, hemaw hiawdaw nyam... huwaknyaw," ucap Saru disela-sela aktivitsa makannya. Translet: "Hm...buah pisang, ah, memang tiada duanya nyam..."
"Satu lagi, ah!" kata Saru sembari menjulurkan tangannya ke depan. Berusaha meraih sebuah pisang yang tergantung cukup jauh dari jangkauannya. Hup, berkat insting hewani(?)nya pisang itu dapat diraihnya dengan mudah. Lagi-lagi dan lagi, tak henti-hentinya Saru memetik buah pisang itu. Hingga menyisahkan dahan dan pohonnya saja. Tak tahukan dia, kalau menumbuhkan benih buah pisang hingga masak itu nggak gampang, apalagi belum waktunya musim panen(?). Poor pohon pisang~
Saking kekenyangan ia pun tertidur sambil memeluk pohon pisang itu.
Zzzz... zzz...
End's Flashback.
"Ya, ampun!" Gamma menepuk jidatnya. Di tengah perjalanan, menuju White Castle, baru ia ingat sesuatu.
"Eh, ada apa?" tanya Kinako yang tiba-tiba saja Gamma berhenti mendadak.
"Saru... ketinggalaaaaaaaaaan!"
.
.
.
Pertarungan antara sosok itu dan TakuRan tak terhindarkan lagi. Banyak pohon-pohon di hutan yang rusak dan tumbang akibat sabitan pedang dan terjangan Gungnir milik Takuto. Sedangkan Ranmaru bertugas sebagai defender/tameng bagi Takuto. Biarpun pertarungan bisa dikatakan tidak adil 2 lawan 1, namun sosok itu sangat tangguh. Tak bisa dianggap remeh...
Trang... Trang...
Tek! Tek!
Pedang dan tombak itu sudah beberapa kali saling beradu. Entah berapa lama mereka mengadu kekuatan, namun sepertinya kedudukan 'masih' belum dikatakan seimbang. Dilihat dari kondisi ketiganya, sosok misterius itu hanya mendapat luka kecil—goresan pada pipinya dan bahunya saja dan masih bisa berdiri tegak menggenggam pedangnya. Sementara, dua lainnya merasa staminanya merosot jauh.
'Sial.. dia kuat sekali...' Takuto bertumpu pada gungnir-nya, 'Apa.. tidak ada cara mengalahkannya?'
Takuto dan Ranmaru mulai terpojok, mereka mempunyai banyak luka sayatan pedang di tangan, dan kaki mereka. Bahkan di pinggang dan pipi pun ada.
"HAHAHA SUNGGUH LEMAH KALIAN! KASIHAN ENDOU DAISUKE MEMILIKI KNIGHT YANG LEMAH DI ALIANSINYA!" Ledek Sosok itu.
"KAMITIDAK LEMAH BAKA!!" balas Ranmaru.
"Ho, kalau begitu buktikan! Buktikan padaku kalau kalian itu tidak lemah!"
"Cih... " desis Takuto yang akhirnya mulai berdiri dengan susah payahnya. Kakinya terasa perih dan tangannya pun gemetar memegang gungnir-nya.
"Shindou!" bisik Ranmaru.
Ranmaru mengangguk, memberi isyarat.
"Wakatta," jawab Takuto. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mereka mulai maju dan menyerang sosok itu.
"Percuma! Beberapa kali pun kalian menyerang, hasilnya akan sama saja. Huh!"
"Kirino!" Shindou menoleh ke arah Ranmaru, "Ima!"
Ranmaru membentuk segel dengan tangannya."Mist...!" ucap Ranmaru sambil melompat dan menghilang dari hadapan sosok misterius itu.
Gumpalan kabut tebal yang mulai mengelilingi kawasan sekitar hutan itu termasuk mengepung keduanya –Sosok misterius dan Takuto.
"NANI!" Sosok itu kaget dan mulai mengibas-kibaskan pedangnya ke segala arah agar menghilangkan kabut yang sekarang ini mengganggu pandangannya itu.
"Huh... Kerja bagus Kirino. Hiyaa..." Tak ingin menyia-sia peluang yang diberikan Ranmaru, Takuto dengan teknik hissastu-nya 'Presto Turn' mulai berkelit menghindari hunusan pedang sosok itu yang menyadari keberadaannya. Dalam sekali jump, Takuto sudah berada di belakang sosok itu.
"BAKUEN SENPA[3]!"
"AARRRGHHHH!"
GSAK... SRAAKK... KROSAAAAKK!
BRUGH! BANG!
Sosok misterius itu terpental cukup jauh dan membentur batu besar hingga hancur. Cairan merah kehitaman… kental... mulai menetes dari mulutnya dan terus mengalir sampai membasahi lapisan tanah yang ia pijak saat ini. Bau anyir pun mulai menyeruak hingga tercium oleh indra penciumannya.
.
.
.
"SHINDOU!" teriak Ranmaru sambil berlari mendekati Takuto. Napasnya terengah-enggah. "Hah...hah... Ah... Apa kita berhasil?"
Takuto tersenyum, "Iya...," katanya sambil mengangguk.
"Yokatta..." Ranmaru sedikit menghela napas lega. Dia sempat berpikir kalau mereka tidak akan bisa menang dari sosok misterius itu.
"Ya, ku pikir begitu.. Kirino, berkat kaulah kita berhasil. Kau punya bakat membaca gerakan lawan dengan cepat dan menyadari arah serangan lawan. Waktu itu kau bukannya sengaja mendorongku dari belakang, daro? Tapi kau menyadari sosok itu tidak menggunakan satu pedang tapi dua... Akh, tidak, tapi berlapis."
"Itu karena pedang yang dia gunakan seharusnya hanya bisa menyerang dari satu arah saja. Tapi waktu itu dia bisa melukai diriku yang jelas-jelas berada posisi yang sukar dari jangkuannya. Mustahil dapat menyerang dalam kondisi yang mengharuskan dia berfokus pada lawan yang ada di depannya. Kecuali senjata yang dipakai itu tombak yang memiliki dua ujung yang tajam atau dia juga pengguna magis** sama seperti kita, tak ada yang mustahil itu dapat terjadi. Sebelum dia sempat menghunuskan pedangnya ke tubuhmu, aku melihat dia mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah condor knife...." Kirino menatap lurus tempat dimana serangan terakhir yang dilakukan oleh Takuto.
"Condor knife... Souka? Itu berarti ia punya 3 senjata untuk menyerang kita. Aku bahkan tak menyadari hal itu. Biarpun dia makhluk non-magis... tapi kecepatan tubuhnya luar biasa. Benar-benar mengerikan," gumam Takuto
"Kecepatan, gerak reflek, stamina, dan kemampuan membaca gerakan lawan dia lebih unggul dari kita. Ku akui. Perlu latihan keras dan pengalaman selama belasan tahun, agar bisa sekuat dia. Apa jadinya kalau dia juga memiliki kemampuan magis... Mungkin dari tadi kita sudah tewas... hah, benar 'kan Shindou?" kata Ranmaru sambil tersenyum ke arah Takuto.
"Hehehe... ya tewas... ehehehehe... " Takuto tertawa renyah(?).
.
.
.
Flashback sesaat pertarungan dimulai~
Secepat kilat sosok itu langsung menyerang Takuto yang masih menggenggam gungnir miliknya. Takuto yang tampak tersentak kaget langsung bersiap dalam posisi bertarung mempertahankan diri menggunakan tombak tersebut. Pedang sosok itu beberapa kali bergesekkan dengan tombak tersebut berusaha mencuri kesempatan dan mencari titik lemah lawannya. Sosok itu tampak berusaha menjegal kaki Takuto agar pertahanan bocah didepannya itu runtuh, sehingga kesempatan untuk menyerangnya terbuka lebar. Namun Takuto adalah petarung yang cukup hebat, ia tidak membiarkan begitu saja seseorang meruntuhkan pertahanan yang dibangunnya. Ia hindari setiap jegalan dan taktik bertarung yang dihujankan oleh sosok itu.
"Kemampuanmu boleh juga, bocah," puji sosok itu ditengah pertarungan mereka.
Takuto tersenyum sinis. "Huh, tentu saja," jawabnya sambil mengenggam tombaknya dan berusaha menekannya ke depan.
Sosok misterius itu berusaha menerobos pertahanan Takuto dan menyeringai lebar, "Sepertinya aku lebih unggul ya..," ucapnya lalu tiba-tiba menghilang di depan Takuto. Membuat pemuda itu bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri.
"SHINDOU! BELAKANG!" teriak Ranmaru. Namun, terlambat. Takuto tidak punya waktu untuk mengelak. Sosok itu berhasil memukul tengkuknya. 'DHUAK!' 'BRAK!' Takuto sukses terjungkal ke belakang dan menghantam sebuah pohon hingga tumbang.
"Cuma segitukah kemampuanmu, bocah?!" ejek sosok itu.
"Kuso." Takuto berusaha untuk berdiri. Ranmaru yang melihatnya tak mau tunggal diam, dikeluarkannya sebuah Gladius[4] dibalik mantelnya itu.
"Lawanmu sekarang adalah aku...!" teriak Kirino.
TRANG!
"Cih, pengganggu kecil. Bisa apa kau hah! Menggunakan pedang sependek itu."ejek sosok itu. Ranmaru yang menyadari perbedaan kekuatannya, melompat menjauhi sosok itu.
Tap! Tap! Sret!
Ranmaru tersenyum sinis, "Memangnya aku sengaja menggunakan senjata yang tidak mengguntungkan bagiku." Setelah mengucapkan hal itu. Ranmaru dengan gesit mulai menyerang balik.
Serangan bertubi-tubi terus dilancarkan Ranmaru. "Heh... ternyata kau lebih lemah dari dia." Tunjuknya ke arah Takuto berada.
"..." Ranmaru tidak membalas perkataan sosok itu yang sebenarnya membuat kepalanya mendidih. 'Tenang... tenang. Jangan biarkan perkataannya membuyarkan konsentrasimu,' batin Ranmaru.
Kits! 'Ah... pertahanan sebelah kanannya terbuka. Yosh!'
"Ayo, sampai kapan kau mau bermain-main. Hah... mendokusei!"
Syut...! Tap! Tap! Jump!
"Hiyaaa...! Rasakan ini!" Ranmaru menghunuskan Gladius-nya dan mengincar kepala sosok itu.
Set! Sosok itu mengelak dari serangan Ranmaru.
BRAKK! Ranmaru tersungkur dan menghantam lapisan tanah yang keras.
"AKH!" pekiknya.
"Huh, meleset... Dasar masih amatiran" Tampak seulas senyum kemenagan menghiasi wajah sosok itu.
"Benarkah?"
Ctak! Cess... "Aduh... apa ini?" sosok itu meringis lalu meraba pipinya. "Darah? K-kau...?!"
Ranmaru bangkit lalu membersihkan sisa-sisa debu yang menempel di tubuhnya. "Baru sadar? Lihat...?" Ranmaru memperlihatkan gladiusnya. "Sudah ku bilang 'kan, buat apa aku membawa barang yang tidak berguna bagiku."
'Aura?'
"Tepat yang ada dipikiranmu. Pedang ku ini dibuat khusus untuk menghisap aura dari pemiliknya. Lebih tepatnya pengguna Kyoukakei[5] sama sepertiku. Aku hanya perlu memusatkan aura dalam satu titik yang mengumpulkannya. Melepaskan menggunakan suatu perantara, tapi melepaskan aura maupun chikara melalui media dan memujudkan aura penggunanya seharusnya dalam kategori Gugenkakei. Aku berbeda aku bisa memujudkan auraku sama seperti pengguna Gugenkakei. Aura yang ku ciptakan membungkus pedang pendekku, dan menekannya hingga mengubah benda yang pendek menjadi panjang. Lalu... menghunusmu tanpa sepengetahuanmu. Aura sangat tipis dan perlu kemampuan Gyo untuk melihatnya..."
"Cih... aku lengah... Kau sengaja menyerang bagian kananku yang terbuka..."
"That's right... Dan kau lemah dal—" Belum sempat Ranmaru menyelesaikan kata-katanya, tanpa sadar sosok itu sudah ada di belakangnya.
DHUAK! BRAKK!
"KIRINO!" teriak Takuto. Ia langsung mendekap tubuh Ranmaru yang terlempar ke arahnya.
"Ittei..."
"Daijoubu ka?"
"Ha-ha'i" Mereka pun berdiri kembali.
"Tsk!… Kalau kau berani melukai wajahku, akan kubunuh kau…" Ancam sosok itu geram.
'Wajah sudah jelek, kalaupun terluka juga nggak ada pengaruhnya apapun. Tetap saja JELEK! Buat apa dipusingin,' pikir Takuto dan Ranmaru kompak.
"Kirino, gunakan 'itu'..." bisik Takuto
"I-itu? Bukannya mantra terlalu panjang?!" protes Ranmaru.
"Sudahlah, lakukan saja. Aku akan menahannya, kau kerjakan tugasmu..."
"Eh-eh? Cho-cho maatte? Shin—" Sebelum Ranmaru memprotes untuk yang kedua kalinya, Takuto sudah meninggalkannya dan memilih bersama(?) sosok itu.
Ranmaru menghela napas. "Haaa... ya sudahlah. Ku lakukan tugasku saja," Ia mulai memasang kuda-kuda dan meramalkan mantra yang menurutnya super panjang itu.
Belum sempat Ranmaru menyelesaikan mantranya, Takuto sudah meneriakinya dengan kata-kata indah seperti 'Kirino! Kamu ngapain disana! Keburu aku dead duluan!' 'Cepet kerjain tugas mu dan bantuin aku!' 'Oey cantik! kamu mau biarin yayangmu paling ganteng ini dibunuh?'Dan beberapa kata-kata mutiara yang lainnya.
'Cerewet,' batin Ranmaru, singkat padat dan nggak jelas.
Tak lama terdengar...
GEDEBRUG
GEDUBRAK
BRAAAKKK! BANG! BHUG! ZRAAAAZZZZZZZZZ!
"ARGHHHHHHH!" teriakan memilukan itu berasal dari Takuto yang menjadi bulan-bulanan kebringasan sosok itu. karena ia tidak punya waktu untuk mengelak. Makanya ia memanggil-manggil Ranmaru untuk cepat-cepat membantunya.
Kini, Takuto tampak merintih kesakitan. Jelas saja, tangannya sekarang sudah lumayan mengenaskan. Oke, itu bukan lumayan. Tangan yang nyaris terpotong itu sama sekali bukan dikategorikan lumayan lagi. Tangannya terus mengeluarkan darah, sepertinya pedang yang menyerangnya itu sukses besar dalam merobek pembuluh darah mangsanya. Tampak daging yang menganga. Rasanya Ranmaru hanya dapat menelan ludah, bergidik ngeri melihat pemandangan didepannya.
"Bertahanlah Shindou! Bertahanlah!" jerit Ranmaru, sebentar lagi ia dapat menyelesaikan mantranya.
"Yosh...selesai! Bersiaplah... Harharl Infigar!"
Sebuah bola api besar melesat dengan cepat ke arah sosok itu, beruntung Takuto yang berada di samping sosok itu sudah terlebih dahulu ditarik oleh Ranmaru menggunakan Nenshi[6].
GROOOOO!
GROOOAAARRR!
End's Flashback~
"Shin..."
"...dou."
"SHINDOU!" teriak Ranmaru tepat di wajah Takuto. Membuat si empunya terlonjak kaget. "NENEEK LAAMMPIR!" pekiknya refleks.
"Nenek lampir-nenek lampir... pala loe pitak!" geram Ranmaru kesal dikatain nenek lampir oleh Takuto.
"Heh... Kirino? Ah... gomen-gomen," kata Takuto yang sudah sadar 100% Ampuh(?)
"Sadar juga rupanya. Kenapa tadi kau melamun? Sedang memikirkan apa kamu?" hardik Ranmaru yang masih kesal.
"Eh... itu tidak... engh... aku hanya berpikir kalau saja tidak ada kau mungkin aku bisa mati tadi.. hehehehe... Emh... Arigatou, Kirino," jawab Takuto cepat.
"Mo.. jangan berbicara memalukan seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Dasar...," ucap Ranmaru sembari membalikkan badannya, memungunggi Takuto. Guna menyembunyikan rona merah yang sekarang ini sudah melampisi wajah manisnya itu.
Entah kenapa pikiran Takuto melayang saat pertempuran tadi, berkat bantuan Ranmaru-lah pasti sekarang Takuto tidak ditempatnya Kami-sama. Kadang ada untungnya juga jadi zombie tidak perlu khawatir kalau tubuhnya remuk dan tak berbentuk lagi, toh ia punya kemampuan re-generasi cepat.
.
.
.
Dari kejauhan terdengar suara sayup-sayup langkah kaki mendekat ke tempat mereka berada. Tak lama kemudian munculah Yuuichi dengan membopong Kyousuke yang masih pingsan.
"Tsurugi-senpai. Bagaimana keadaan Tsurugi?" tanya Takuto langsung.
"Ha... Kyousuke baik-baik saja. Luka-luka dalam tubuh sudah sembuh dengan sendirinya. Tak ku sangka re-generasinya lumayan cepat. Hn... lalu bagaimana dengan kalian? Tampang kalian ancuran-ancuran seperti itu. Hahahahahaha..." komentar Yuuichi mencoba bercanda.
"Hehehhehe... kami baik-baik saja, kok, Senpai. Luka-luka kami berangsur-angsur pulih," ucap Ranmaru dan dibalas anggukkan dari Takuto.
"Ya, aku lihat kalian bertambah hebat saja. Terakhir aku melihat kalian, kalian baru berlajar mengontrol keshin," puji Yuuichi. "Oh, ya aku terkejut kalian tidak menggunakan keshin padahal aku saja sudah mengeluarkan keshin tapi belum bisa menggalahkan dia. Kalian berdua sudah berkembang pesat rupanya. Bertahankan ya..." nasihat Yuuichi.
Takuto dan Ranmaru saling berpandangan. 'Benar juga, kenapa Sousha Maestro / Senkishi Brunhild tidak dikeluarkan saja.' pikir keduanya. Entah salah mereka yang telat menyadari kalau mereka punya keshin atau authornya, sih, yang sengaja tidak ingin Sou-kun dan Sen-chan muncul? #Ingat... kesalahan bukan dari layar hape / monitor; PC, netbook, es te ra Anda. Tapi kesalahan teknis ini diakibatkan dari authornya sendiri yang baru sadar setelah mengetik sejauh yang Anda pikirkan. Jika ingin disalahkan salahkan yang ngetik#
Back to story~
"Ah, Senpai, terlalu memuji kami. Kami tidak sehebat yang anda bilang. Ya, kami pikir belum saatnya kami mengeluarkan keshin, begitu," balas Takuto dan mendapat ancungan jempol dari Ranmaru. "Arigatou, Senpai. Oretachi ganbarimasu," tambah Ranmaru.
Yuuichi hanya tersenyum lalu melirik tempat pertarungan TakuRan dengan sosok itu. 'Benar-benar porak-poranda,'
"Apakah dia sudah tewas?" tanya Yuuichi.
"Eh? Soal itu kami belum memastikannya, senpai. Tapi kami yakin serangan terakhir kami sudah mengenainya telak. Kalaupun dia belum mati, ia tidak mungkin bisa bergerak kemanapun. Kecuali jika dia ditolong oleh seseorang," jelas Takuto beserta analisanya.
"Memangnya, kenapa Senpai?" tanya Ranmaru entah kenapa instingnya mengatakan bahwa situasinya bertambah gawat.
"Aku hanya menduga kalau sosok misterius yang ingin menculik Kyousuke itu masih hidup..." Kedua mata Takuto dan Ranmaru terbelalak. "... Seperti analisa terakhir dari Shindou-kun."
"Ada yang menolong dia dan membawanya pergi?" tebak Takuto. Yuuichi mengangguk.
"Untuk memastikannya kita harus memeriksanya langsung..." ucap Yuuichi. Lalu diliriknya Ranmaru,"Kirino-kun, tolong jaga Kyousuke," Ranmaru mengangguk dan ganti menggendong Kyousuke. 'Ringan sekali,' batin Ranmaru heran. Dia berpikir berat Tsurugi tidak seringan ini. Mengingat tinggi tubuh Kyousuke yang melampui dirinya. Tinggi Ranmaru hanya sebatas kupingnya saja. Tak heran kenapa Tenma dengan segitu mudahnya melempar tubuh Kyousuke saat festival sekolah tahun lalu.
"Seperti menggendong perempuan saja," gumam Ranmaru.
"Oii, Kirino, sedang apa kamu. Jangan melamun nanti kita tinggal," teriak Takuto.
"Iya..." Ranmaru segera menyusul mereka yang lebih dulu meninggalkannya.
.
.
.
"Ahh Mamoru-sama. Okaeri.. " seorang pemuda berambut tosca yang dikucir kuda dengan mata coklat madu tersenyum ramah menyambut kedatangan Sang Pangeran.
"Yo~ Kazemaru. Tadaima..." balas Mamoru. Dibukakannya pintu besar berwarna putih itu, kemudian Ichirouta memersilakan Mamoru beserta Shuuya masuk.
"Tumben, Mamoru-sama pulang cepat. Lalu... siapa makhluk manis yang ada di belakang anda itu," tunjuknya ke arah Shuuya.
"Ah, dia. Teman sekelasku. Namanya Gouenji Shuuya..." Mamoru memperkenalkan diri Shuuya. Malu-malu Shuuya menjabat tangan Ichirouta sebagaimana orang ketika mereka pertama kali berkenalan. "Go-goenji Shuuya, yoroshiku..."
Tanpa basa-basi Ichirouta membalas uluran tangannya, "Kazemaru Ichirouta, yoroshiku nee.. semoga kita bertema dengan baik ya... " Ichirouta tersenyum hangat. Dijawab anggukkan kepala oleh Shuuya.
"Oh, ya Kazemaru. Kenapa di depan gerbang sepi? Kemana yang lain?" tanya Mamoru heran. Biasanya ada beberapa pelayan berpakaian butler dan maid yang menyambut kedatangannya.
"Mereka sedang latihan di belakang. Mungkin sebentar lagi sudah selasai," jawab Ichirouta sambil menegok jam tangannya. "Sekarang sudah waktunya makan malam***, mereka pasti sudah selesai latihan dan beristirahat,"
"Souka. Mereka pasti berusaha dengan keras ya..."
"Ya... perang 100 tahun yang lalu akan terulang kembali, mau tak mau, kita mulai sekarang harus siap menghadapinya."
"Hn... kau benar Kazemaru..."
Shuuya yang sedari tadi dibelakang Mamoru dan Ichirouta hanya terdiam dan menjadi pendengar yang baik. Tak ingin mencampurin urusan mereka terlalu jauh. Sudah cukup ia mendengar fakta dari mulut Mamoru sendiri kalau sebenarnya ia bukanlah manusia.
.
.
.
Raimon gakuen terlihat sepi, tentu saja begitu, karena ini sudah hampir menjelang malam dimana para penghuni Raimon gakuen sudah kembali ke peraduannya masing-masing. Disana, di bawah rindang pohon Sakura dekat pinggir sungai tak jauh dari Raimon gakuen, seorang pemuda berambut coklat yang memiliki model rambut berakses pusaran angin masih terduduk diam disana, ia baru saja dari suatu tempat yang sangat ia hafal. Bukannya langsung pulang pemuda itu malah duduk bermenung disana, ada yang menjadi pikirannya saat ini.
'Tsurugi, apa yang sebenarnya terjadi denganmu?'
.
.
.
.
.
=TBC=
*) Entah kenapa saya suka dengan bunga Lily heheheh... Tapi dalam konteks artiannya; Lily Of the valley (pengorbanan, bahaya, cinta sejati, "Mari kita berdua mengembara bersama-sama) sangat pas menurut saya sama kisah MarkAxel. Menurut kalian?
**) Coba baca kembali chapter 5 untuk lebih jelasnya.
***) Saya buat dunia paralel milik Mamoru waktunya sama dengan dunia nyata, biarpun disana massa-nya kebalikan dari aslinya.
###
[1] Senjata yang berwujud tombak yang dimiliki oleh Dewa Perang dalam Mitologi Norwegia.
[2] Imajinasi saya membuat dia seperti D-tector, soalnya gaya bahasanya sama Keren di Spongebob *lho? Malah nyasar kemana-mana* jadi dia kaya micro chip. Err~ gimana menjelaskannya ya... Hm... begini... bayangin saja kaya Endou Daisuke yang berubah jadi Chrono stone.
[3] Bakuen Senpa; ledakan lesus adalah Tokugawa ryuu naginatajutsu ougi –teknik rahasia klan Tokugawa, nagitana itu sendiri ialah senjata yang menyerupai tombak.
[4] Pedang pendek dari Romawi yang dirancang melakukan tusukan yang kuat dan mematikan, itu berarti hanya bisa berfungsi untuk pertarungan jarak dekat. Dan para prajuri Romawi menggunakannya untuk mempertahanan diri mereka bila terdesak.
[5] Salah satu dari enam kategori pengguna Nen, dapat memperkuat efektivitas berbagai macam benda. Bagi penggemar anime HXH pasti nggak asing sama istilah-istilah itu seperti ten, zetsu, ren, hatsu, dan gyo.
[6] Teknik menciptakan benang atau tali energi. Nenshi dikeluarkan dari telapak tangan penggunanya dan digunakan untuk mengikat, menangkap dan meremas lawan.
=Celotehan Saya=
Aduh maaf saya update-nya benar-benar telat... urusan duta yang tak terhindarkan, membuat saya nggak bisa ngelanjutinnya. Dan yang terpenting saya kena WB angkut... DXX
Hontou nee gomenasai T^T
Saya juga nggak tau chap kapan Raimon gakuen bakalan liburan ke California... hah... malah makin nggak jelas begini. Tambah masalahnya bikin rumit, lalu tentang sosok misterius itu, saya terus terang belum ada calon yang pas buat ngisi character mereka. Ada yang mau kasih ide-nya?
Mungkin saya emang nggak bakat jadi penulis... heh? Benar? Kalo jiwa pertama kali jadi reader emang susah kalo suruh pindah haluan, apa saya pensiun saja #pesimis# mungkin DISCONTINUED pada akhirnya?! #pudung#
Arigatou buat Mori Kousuke18, Chiheisen, Kiriichi23, The Fallen Kuriboh, Marcel Vinder, dan Kinako Lovers yang mau ngebaca fict saya...*terharu biru* dan benar-benar saya ucapkan terima kasih untuk yang nge-fave sama nge-follow fict saya... #kissu hugs# *plak*
Tak ada motivasi dan semangat selain dari kalian... #kayak mau pisahan aja#
ARIGATOU! *lari-lari ala slow motion*
Akhir kata
.
.
.
~~ So, mind *RnR & Flame?!* minna-san~~
