"Aku tidak punya pilihan lain, sudah terlalu banyak hal yang kamu lihat, lagipula suatu saat nanti kamu juga akan tahu..." Mamoru menatap Shuuya. "Aku... ini bukan manusia!" ucapnya tegas.
Shuuya cengo mendengar jawaban singkat Mamoru, 'Bukan manusia? Terus dia itu apa? Apa alien? Bukan, bukan! Kalau alien pasti kepala dia besar dan warna badannya hijau! Jadi apaan dong?' pikir Shuuya frustasi sendiri.
Mamoru yang sepertinya bisa membaca wajah bingung+cengo Shuuya langsung angkat bicara.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak soal diriku, aku ini memang bukan manusia, lebih tepatnya aku ini adalah 'zombie'!" terang Mamoru lebih lanjut.
Shuuya semakin terkejut mendengar penjelasan Mamoru. Detik berikutnya, keringat dingin meluncur dari keningnya.
'Nani? Tidak mungkin! Mana mungkin sekarang aku berurusan dengan zombie? Tenang Shuuya, tenang! Ini pasti cuma mimpi!' kata Shuuya sambil cengir-cengir(?) gaje.
Mamoru hanya bisa geleng-geleng kepala karena berfikir kalau Shuuya stress. "Ano... begini, Shuuya, kami ini adalah zombie dengan tujuan baik, kok hehehehehe!" ucap Mamoru.
"Ka-kamu, bercanda 'kan? Mana mungkin kau... zombie!" jawab Shuuya setengah percaya tidak percaya. Sebenarnya ia juga ragu kalau Mamoru itu benar-benar manusia. Kalau mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, yang membuat nyawanya hampir melayang. Tapi... setelah dipikir-pikir menggunakan logikanya, kekuatan besar yang dimiliki Mamoru, kecepatan yang mengagumkannya pada dasarnya memang melebihi manusia.
Pada zaman yang serba modern seperti saat ini, pasti sulit percaya adanya mahkluk-makhluk yang hanya dianggap mitos belaka atau cuma kabar burung saja. Mungkin tak satupun yang sadar akan keberadaan mereka yang ternyata membaur diantara mereka. Mereka terlalu naif untuk percaya bahwa 'mereka' benar-benar ada. Ataukah benar-benar tidak ingin percaya? Takutkah? Entahlah. Yang sekarang ini yang berada dibenak Shuuya ialah 'ia harus percaya', percaya bahwa makhluk yang ada dihadapannya ini... makhluk yang dianggap tahayul, cuma mitos. Nyata. Ada. Hidup.
"Err...ngh.. Kalau dengan kata-kata, sih, memang sulit ya?" bisik Mamoru.
"A-aku...per-percaya." Dua kata meluncur dengan mulus di bibir mungil Shuuya membuat Mamoru yang mendengar ucapan Shuuya terbelalak kaget.
"HAAAAAAAAAAAAA...!"
Ore wa Zombie!
Disclaimer :Inazuma Eleven/GO/Galaxy © Level-5
Pairing : (main) MamoShuu & MarkAxel (slight), TakuRan, sisanya menyusul
Rate : T (kemungkinan bisa berubah)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Adventure, Supranatural, Mistery, and maybe a little bit humor.
Warning : Sho-ai/yaoi, OOC, AU, typo(s) berserakan, alur melompat-lompat (?), bahasa terlalu ambigu, abal, gaje, aneh, ngebosenin, pendiskripsian kurang lebih banyak dialog, bahasa sesuka author, etc.
(A/N : Penampilan Mamoru dan Shuuya sama di Inare, Mark layaknya di InaGo, dan Axel ala Seitei)
Don't like please don't read!
.
.
.
Chapter 7
.
Terlihat tiga pemuda yang tengah berjalan menyusuri salah satu sudut koridor castle. Dua diantaranya asik berbincang, sedangkan seorang lagi memilih berjalan dengan tenang, melipat kedua tangannya di depan dada sambil sesekali melirik ke arah dua 'teman'nya yang berisik itu.
"Sudah sampai," gumam pemuda berambut tosca sesampainya di depan pintu besar berwarna putih—pintu kamar sang Raja.
Ceklek!
Pintu ganda tempat sang Raja berada itu terbuka. Memperlihatkan punggung sang Raja. Sepertinya beliau sedang menikmati pemandangan di luar sana.
Perlahan Ichirouta berjalan menuju sang Raja yang tengah berdiri di sudut kamar. Tak lama akhirnya Ichirouta sudah berada di belakang sang Raja.
"Maaf, Daisuke-sama. Mamoru-sama ingin bertemu dengan Anda," lapor Ichirouta dengan nada formal sambil membungkukkan badannya.
Daisuke membalik badannya dan menatap Ichirouta yang masih membungkuk. Dengan bingung Daisuke memandang Mamoru yang berada di depan pintu masuk. Bukannya baru kemarin ia datang. Kenapa sekarang datang lagi? Ada masalahkah? Pikir Daisuke.
Namun beberapa detik iris sang Raja menangkap sosok yang berada di samping cucunya itu. Tanpa memperdulikan Ichirouta yang masih membungkuk ia berjalan melewatinya. Entah bagaimana Daisuke benar-benar melihat iris onyx yang begitu dirindukannya.
"Axel..."
Ah, sudah berapa lama Daisuke tidak mendengar bibirnya menggumamkan nama anak kesayangannya itu? Tanpa ragu lagi, Daisuke langsung berlari mendekat ke arah Mamoru —lebih tepatnya sosok yang ada di sampingnya.
Grep! Langsung saja ia memeluk tubuh mungil itu. Perasaan rindunya meluap. Orang yang sangat disayanginya. Berada dihadapannya saat ini.
Shuuya terperangah. Kedua mata onyx-nya terbelalak lebar. Karena tiba-tiba saja ia dipeluk seseorang belum ia kenal. Ingin rasanya ia berontak untuk melepaskan dirinya dari dekapan pria itu. Namun, entah perasaan apa yang sekarang ini sedang menjalar di dalam ulu hatinya. Perasaan rindu... hangat... dan penuh kasih sayang.
Tanpa sadar Shuuya membalas pelukan dari orang itu. Dan tak terasa air matanya tumpah dengan sendirinya.
"Axel... Anakku..."
.
.
.
"Mau sampai kapan kau termenung disini?" tanya sebuah suara baritone mengejutkan.
"Ha-kuryuu?!" Tenma terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Hakuryuu dari belakang punggungnya. Langsung saja Hakuryuu mengambil tempat duduk di sebelah Tenma. Tentunya dengan memberi jarak diantara mereka. "Hn, tidak pulang?" tanyanya.
"A-ku... hanya... "
"Mengkhawatirkan Tsurugi.." potong Hakuryuu.
"Ha'i..." lirih Tenma.
"Kau tak perlu cemas. Tsurugi berada di tempat aman. Dia bersama Yuuichi-san," kata Hakuryuu yang kemudian berdiri bermaksud untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Hanya itu yang ingin ku katakan padamu. Selebihnya kau tanya saja Fei atau Endou. Sudah ya... aku pergi," lanjutnya.
GREPP!
Tiba-tiba Tenma menarik lengan Hakuryuu. Sepertinya ia kurang puas dengan jawaban yang diberikan olehnya.
"Apa lagi? Kau tahu, aku merasa tidak nyaman berada di dekatmu lama-lama, hm..." kesal Hakuryuu. Lalu ia berbalik menghadap Tenma. "Apa yang kau inginkan! Apa kurang cukup informasi yang ku berikan padamu?"
Tenma tak mengubris perkataan dari Hakuryuu. Ia terus menahan dengan erat lengan Hakuryuu hingga yang punya lengan (?) meringis kesakitan.
"Nande?" bisik Tenma. Hakuryuu menaikkan sebelah alisnya. Bingung.
"Nande?" ulang Tenma.
"Oii... apa maumu? Lepaskan lenganku," sergah Hakuryuu.
"Nande-nande-nande-nande-nande-nande-NANDE!" teriak Tenma dengan mata yang basah oleh cairan bening yang mengalir keluar dari matanya. "Nande..." lanjutnya sambil melepaskan cengkeramannya dari lengan Hakuryuu.
Cepat-cepat Hakuryuu mengusap lengannya yang terlihat memerah, detik berikutnya dia merasakan bahwa tubuh Tenma bergetar. Ia memandang rival abadinya itu. Dan mencoba untuk menyentuh bahunya, namun ditepis oleh Tenma.
"Cih!" decak Hakuryuu. "Kau ini kenapa, Hah!"
"Kau yang kenapa!"
"Jangan mengembalikan pertanyaanku baka! Dasar tidak kreatif!"
"Kau pasti datang disini hanya untuk menertawakanku kan?!" bentak Tenma marah. Kini ia sudah tidak menangis lagi.
"Apa maksudmu! Jangan berpikiran yang tidak-ti—" Spontan Hakuryuu memotong perkataannya sendiri. Sepertinya ia tahu apa yang membuat sang Matsukaze itu marah.
Marah—pada dirinya sendiri. Marah karena tak pernah tahu apapun yang terjadi, padahal ia juga bagian dari dalamnya. Marah, karena saat ini ia lemah. Dan... yang terpenting.
Marah karena... Sang pegasus tak bisa melindungi Sword-nya.
.
.
.
=Di dalam alam bawah sadar Kyousuke=
"Nngh.." Kyousuke mengerang setelah bangun dari tidurnya (?) lalu ia pun mengambil posisi duduk dan sedikit mengusap-usap kedua matanya.
"Lho? Aku ada dimana?" tanya Kyousuke entah pada siapa.
"Kau ada di alam bawah sadarmu!"
"Oh..-what the! Hey, siapa kamu!" tanya Kyousuke kaget karena pertanyaannya di jawab entah-oleh-siapa tersebut.
"Oh, aku ya? hihihi..." jawab sang makhluk sambil cekikikan gaje. #plak#
Kyousuke mengamati penampilan makhluk yang entah-apa-itu (?), dari bawah ke atas. Kok? sepertinya familiar, sih? Seperti pernah lihat. Dimana?
"Kamu tak usah bingung Tsurugi Kyousuke..." kata Makhluk –nggakjelas- itu.
"Kamu tahu namaku?"
"Iya... tapi tidak penting darimana mana aku tahu namamu. Sekarang ada hal yang lebih penting yang perlu aku jelaskan kepadamu," ucapnya dengan nada serius.
Kyousuke menggangguk sepertinya makhluk nggak jelas itu menyimpan sesuatu yang membuatnya cukup penasaran.
"Pertama-tama akan ku jelaskan kenapa aku bisa berada di dalam alam sadarmu, karena sebagian jiwaku ada di dalam tubuhmu. Dan—"
"Tu-tunggu dulu, kamu bilang sebagian jiwamu ada di dalam diriku. Pertanyaan pertama, kenapa baru sekarang kamu muncul dihadapanku? Kalau kamu selama ini berada dalam tubuhku"
"A-ra, benar... " jawabnya sambil meninju telapak tangannya. 'Bagus ternyata dia krisis juga...'
"Mungkin karena kekuatanmu mulai bangkit."
"Kekuatanku apa maksudmu? Aku tidak punya kekuatan apapun. Aku cuma manusia biasa dan kehidupanku pun berjalan normal-normal saja," sergah Kyousuke. 'Tapi aku tidak yakin, sih, kalau teman-temanku bisa dikatakan normal...' tambahnya dalam hati.
"Hah... sepertinya aku mesti menjelaskan kepadamu benar-benar dari awal..." Makhluk itu menghela napas berat sepertinya ia harus memiliki banyak waktu untuk menerangkan pada si anak buntut (?) nan polos itu.
"Kau bukan manusia tapi kau itu adalah Zombie..."
.
.
.
"Apa kita bisa bergerak sekarang, Taichou?"
"Iie... Katsuya-sama belum memerintahkan untuk menyerang. Lebih baik kita terus mengawasinya," titahnya.
"Ha'i. Wakarimasu."
"Cih, sebenarnya apa yang Anda rencana Katsuya-sama."
.
.
.
Di saat yang sama, dan di lain tempat…
"Maafkan saya, Master. Saya tak berguna,"
"Hn, bukan salah mu, hanya saja kali ini lawan mu itusetingkat Knight, jadi kalau kau tidak berhasil membawa 'Tsurugi Kyousuke' hal itu sangat wajar. Obati lukamu dan beristirahatlah, aku sendiri yang akan turun tangan kali ini."
"Ah... Apa master serius?"
"Hn. Lagipula sebelum bulan sabit muncul, saat itulah waktu yang tepat untuk membangkitkan 'Dia'. Ah..." sang master menghela napas sejenak. "Aku tak menyangka... orang-orang di aliansi White Castle memiliki kemampuan yang unik. Bearer Core of Magic'kah. Seharusnya kemampuan itu hanya dimiliki orang itu..." Sejenak sang master menengadah ke langit-langit istananya yang terbuat dari pualam berwarna hitam pekat, lalu mulai beranjak pergi dari singgasananya.
"Master..."
"Baiklah, aku pergi dulu. Jaga kesehatan mu, kau adalah tangan kanan yang paling ku percaya, Cammy..."
"Ha'i, Master... "
Namun sebelum kaki sang master benar-benar meninggalkan ruangan itu, ia berhenti sebentar. "Cammy... sepertinya penyamaranmu itu tak cocok denganmu. Kau terlihat terlalu macho." Dia berkata tanpa menoleh sedikitpun kepada seseorang yang masih bersimpuh dibelakangnya.
"Ha'i master~! S-saya akan segera menggantinnya." ucapnya dengan wajah memerah.
"Ara-ara... "
.
.
.
Disisi lain. Yuuichi bingung. Musuh yang seharusnya musnah terkena serangan mereka dan terpental cukup jauh. Setelah diperiksa, sosok itu malah menghilang. Tak ada bekas jejak kakinya sejaripun. Tempat itu solah-olah menelan tubuhnya ke dalam perut bumi hidup-hidup. Apa benar ia diselamatkan oleh orang lain —kemungkinan temannya, tapi Yuuichi tak merasakan aura atau hawa keberadaan makhluk lain disini. Hanya sisa-sisa aura sosok tadi yang sedikit demi sendikit menghilang. Benar-benar aneh —sungguh. Apa level makhluk tadi lebih tinggi dari mereka? Mereka adalah Knight bukan? 'Sekarang apa yang harus ku lakukan.'
"Sekarang... apa rencana kita, Yuuichi-san?" tanya Takuto membuyarkan lamunan Yuuichi.
Yuuichi menoleh,"Entahlah... Tidak ada, untuk sekarang ini." Yuuichi menghela napas sejenak untuk menetralkan paru-parunya yang mulai tercekik. "Hm.. Shindou-kun.."
"Hmm? Apa, Yuuichi-san?"
"Waktu pertempuran tadi... Siapa saja yang datang membantu?"
"Soal it—
"Hanya empat orang, termasuk aku dan Shindou. Dua diantaranya —Gamma dan Saru sudah pergi ke tempat Mamoru-sama." seru Ranmaru yang mendadak muncul sambil tetap mengendong Kyousuke. Shindou merengut karena perkataannya dipotong oleh corettunangancoret itu. "Terus terang saja kekuatan 'mereka' lebih dari sekedar kekuatan makhluk yang selama ini kita lawan. Mereka sungguh kuat. Serangan-serangan yang dilontarkan oleh kita berdua saat itupun, sebenarnya tidak ada yang berhasil mencederai mereka sama sekali. Hanya membuat mereka makin marah. " lanjut Ranmaru sambil berjalan mendekati mereka.
"Kirino..."
Shindou menoleh. Giginya bergemeretakan—tanda geram dengan semua keadaan ini."Begitukah menurutmu, Kirino...?" Ranmaru pun mengangguk lemah.
"Okaeri..."
"Pulang...?! Apa kita bisa pulang dulu sekarang?" pekik Takuto.
"Jika masih disini terus dengan keadaan seperti ini... Shindou-kun, Kirino-kun... Hanya jalan buntu yang kita dapat. Aku rasa masalah ini; pada akhirnya menyangkut aliansi kita. Lebih baik kita bicara masalah ini kepada Daisuke-sama. Kita tunggu keputusan beliau untuk sekarang ini." Jelas Yuuichi. "Mengertilah..." tambahnya.
Keduanya mengangguk. "Ikou..."
.
.
.
.
"Axel... Anakku..."
.
"M-maaf.. Sa-saya.. Shuuya, bukan Axel... S-saya juga bukan anak tuan. La-lagi pula kita tidak pernah saling mengenal. Se-sepertinya tuan salah o-orang..." Shuuya berusaha sekuat tenaga melepaskan dekapan dari Daisuke. Tapi nihil. Bukan semakin longgar malah dekapan —kalau tidak mau disebut kill— Daisuke semakin erat.
"Le-lepas—
"Kau Axel! Kau Anak-ku! Berhentilah bersikap kekanakan seperti ini Axel!" sang Raja menarik dagu Axel kasar. "Ini aku Daisuke, ayahmu. Apa kau tidak mengenaliku, Axel? Apa benar kau tidak mengenaliku lagi? Berhentilah bersikap seolah-olah kau tidak mengenaliku seperti ini Axel! Apakah kau marah padaku yang tidak becus melindungimu dari 'Orang itu' hingga membuatmu merenggang nyawa dengan cara sebegini tragis? Jawab aku Axel! Jawab aku!" desak Daisuke seperti orang kurang waras. Terus berteriak dengan brutal menyakinkan orang yang ia yakini 'anaknya'
Ichirouta yang sudah tidak tahan melihat Shuuya meringis kesakitan mulai bangkit dari posisinya. Segera ia melenggang ke arah ouji-nya itu. "Yamette kudasai, Daisuke-sama! Anda hanya akan menyakitinya." cegah Ichirouta, tapi sang raja tidak menggubris kata-katanya itu dan malah menambah intensitas cengkraman dilengan mungil Shuuya.
"Sa-sakit... onegai..."
Mamoru tak tinggal diam. Ia pun tak tahan atas rintihan kesakitan Shuuya. Ia turut mencoba melepaskan cengkeraman tangan si Kakek.
.
.
.
"Kakek... sadarlah. Shuuya bukan jii-san. Dia bukan Axel! Dia bukan anakmu! Buka matamu, KAKEK!" Sekuat tenaga Mamoru melepasnya, namun tak dapat semudah itu lepas. Hingga ia dan Ichirouta sudah basah akan banjir keringat mereka.
"Tidak! Kau Axel! Kau Axel-ku!"
"Su-ngguh. S-saya Shuuya bukan Axel...uh.."
"Mamoru-sama! A-aapa yang harus kita lakukan. Kalau dibiarkan begini, Shuuya akan mati..." Lebay memang perkataannya Ichirouta. Pelukan dapat membunuh orang, tapi kalau pelukannya kill begitu. Orang bakalan berpikiran sama.
"Jangan bercanda!"
"Ap—
"Aku tahu Kazemaru! Ugh... apa boleh buat, kita lakukan cara itu. Biarpun dikatakan kurang ajar..."
"Jangan-jangan? Anda tak ingin melakukannya kan?"
"Ini jalan satu-satunya..."
Setelah itu Mamoru mengangkat lengannya kuat-kuat, dan...
Dhuk~!
.
.
.
.
"Home sweet Home! Aww~!" Takuto langsung dilempari sepatu milik Ranmaru yang sekarang ini berjalan mendahuluinya.
"Berisik! Kita bukan pulang dari acara liburan, Shin." kata Ranmaru. "Dan... ambilkan sepatuku." tambahnya.
"Apa?! Aku hanya ingin mencairkan suasana saja." bantah Takuto.
"Tapi tidak perlu lempar sepatu juga kan, Kirino-kun. Lagipula niat Shindou-kun kan baik." Nasihat Yuuichi.
Takuto menatap Yuuichi dengan mata berbinar-binar. Tak menyangka kalau senpai favoritnya membelanya terang-terangan.
"TSURUGI SENPAI~!" teriak Takuto. Dia langsung melompat dan akan memeluk Yuuichi.
Namun beberapa senti sebelum tubuh cungkring Takuto menerjang Yuuichi, sesuatu atau lebih tepatnya seseorang terlebih dahulu menubruk tubuh Yuuichi dan membuatnya oleng. Beruntung sang pemilik Sousa Maestro itu berhasil menghentikan aksi 'anarkis'nya itu. Ranmaru yang masih setia menjadi 'baby sitter' Kyousuke hanya mampu memasang wajah facepalm, dikarenakan keadaan yang begitu awkward menurutnya.
"AAAAAAAAAAAAGHHHHHHH~!" teriak dua sosok yang kedapati menubruk tubuh Yuuichi dari belakang. 'Emak... Encok ku kambuh!' batin Yuuichi
"Endou! Kazemaru-san!" seru Takuto kaget. "Kenapa kalian disini?"
Mamoru dan Ichirouta menatap mereka dengan napas tersenggal-senggal. "Kami hanya ingin mengecek apakah Daisuke-sama sudah sadar atau belum." Lapor Ichirouta.
"Ma-makanya kami lari dan terburu-buru... supaya kakek tidak melakukan hal yang aneh-aneh.. ah.. hah..." sambung Mamoru.
Takuto dan Ranmaru menatap keduanya tatapan bingung. Apa maksudnya semua ini?
Namun sebelum hal itu dipertanyakan oleh keduanya, sebuah erangan kecil mengintrupsi. "Ta, tasukete...," rintihan seseorang yang terjepit dibawah Mamoru dan Ichirouta.
"Gyaaaaaa! Yuuichi-san! Yuuichi-san! A-anda tidak apa-apa? Mamoru-sama jangan begong saja!"
'Ow.. pantesan empuk.'
"Aduh... pinggang ku..." rintih Yuuichi sambil mengelus-elus pinggangnya. Ichirouta segera membantunya untuk berdiri.
"Gomen, Yuuichi-san kami terburu-buru."
Seakan melupakan kesakitannya, Yuuichi sang masochist abadi mengalihkan pembicaraannya. Ia juga penasaran kenapa sang raja bisa bertingkah aneh. "Oh, ya soal tadi. Memangnya ada apa dengan Daisuke-sama? Kenapa bisa seperti itu?"
"Begini... singkatnya, ini bermula saat aku datang kesini dengan membawa Shuuya bersamaku. Kalian sudah tahu dengan penyerangan tadi pagi.. " Semua mengangguk. "Tanpa sengaja aku telah melibatkan Shuuya dalam masalah ini. Ku bawa Shuuya ke White Castle hanya sekedar untuk melindunginya jika ada penyerangan untuk kedua kalinya. Ketika aku hendak menemui kakek. Kakek mengira Shuuya adalah Axel. Anak Kakek sekaligus pamanku." jelas Mamoru.
Yuuichi mengernyitkan kedua alisnya mendengar hal itu. "Ini aneh. Apa anda tidak pernah melihat photo paman anda, Mamoru-sama?" Mamoru mengeleng.
"Kakek tidak pernah sekalipun menyingung sisilah keluarga kami. Apalagi tentang anak kedua kakek. Aku saja tahu baru-baru ini. Tapi—"
"Tapi apa? Jangan membuat penasaran Endou-san!" tanya seseorang di dekat jendela.
Mamoru, Ichirouta, Yuuichi, Takuto, dan Ranmaru langsung menatap ke arah asal suara itu. Di sana mereka melihat seorang lelaki berambut coklat dengan akses pusaran angin di ujung rambutnya dan laki-laki lain berambut putih dengan sikap angkuh seperti biasa tengah bertengger di jendela.
"Tenma. Hakuryuu." ucap Mamoru. "Kenapa kalian bisa ada disini?"
"Cih, aku cuma dipaksa datang ke tempatmu karena dia." Tunjuk Hakuryuu dengan tidak sopan ke arah Tenma.
"Singgirkan telunjukmu. Dasar tidak sopan."
Hap! Tenma melompat dengan sukses tepat di depan Mamoru dkk. Hakuryuu tetap bertengger di jendela, sepertinya ia suka ditempat yang tinggi-tinggi. Mengingat kemunculannya yang selalu membuat orang menengadah. Dasar membuat leher orang pegal saja.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Mamoru melanjutkan ceritanya yang sempat tertunda.
"Tapi, ada satu kamar yang tidak boleh dibuka bahkan didatangi di White Castle ini. Kau tahu kan Kazemaru kamar di lantai 2 paling Timur dekat taman belakang."
"Maksud Mamoru-sama, ruangan yang menghadap langsung ke taman bunga tulip. Yang ada bunga Lily-nya itu?" Mamoru mengangguk.
"Kau benar Kazemaru. Ah.. aku sempat berpikir kenapa bunga Lily itu hanya satu. Dan setiap aku bertanya kepada ayah, katanya itu bunga pemberian 'Dewi Kemenangan'..."
Dan pembicaraan merekapun mengalir begitu saja, sampai dengan Mamoru menyeritakan incident pingsannya sang raja.
Tanpa disadari Tenma dkk sosok Hakuryuu sudah menghilang dari tempatnya.
.
.
.
.
.
"Saat dunia terbagi menjadi dua, yaitu dunia atas yang dikenal dengan dunia manusia dan dunia bawah yang dihuni vampire, zombie, werewolf, siluman dan hal-hal gaib lainnya. mengalami pergolakan hebat. Seratus tahun yang lalu klan zombie—yang dari dulu sudah terbagi menjadi dua aliansi, yaitu aliansi White Castle dan Black Castle memutuskan melakukan perang besar. Alasannya cukup sederhana, pihak aliansi Black Castle hanya ingin melakukan kudeta untuk memperluas kekuasaannya. "
"Aliansi White Castle sendiri tidak bisa diam saja, saat itu klan zombie di pimpin oleh seorang raja dari salah satu ras zombie terkuat yang berasal dari Asia bernama Endou Daisuke. Dipihak Black Castle sendiri yang mana berasal dari benua Eropa di pimpin oleh kaisar yang masih sangat muda bernama Mark Evans..."
Pandangan mata sosok yang berada di alam bawah sadar Kyousuke itu tiba-tiba menyendu setelah menyebutkan nama terakhir orang itu. Sepertinya orang itu memiliki arti yang cukup mendalam untuknya, pikir Kyousuke.
Dalam tarikan satu napas sosok itu melanjutkan ceritanya. "Disamping penyerangan waktu itu sang kaisar sebenarnya tidak tahu menahu akan kejadian sebenarnya bahwa aliansinya melakukan pemberontakan."
"Eh? Kenapa begitu? Bukannya ia pemimpinnya?" tanya Kyousuke
"Itu dikarenakan sistem pemerintahannya 'perwakilan'. Penasihat aliansi Black Castle memiliki wewenang penuh menjalankan kepemimpinan yang sama seperti seorang Kaisar. Dan para masyarakat Black Castle tak mempermasalahkan siapa pemimpin mereka. Baik dari darah murni maupun darah campuran. Baik dari sesama klan maupun bukan. Yang mereka pikirkan hanya keuntungan apa yang mereka dapat."
"Aku sebenarnya berasal dari White Castle, dan sesungguhnya aku sudah mati seratus tahun yang lalu. Tapi ada suatu hal yang perlu aku katakan kepada 'orang itu' hal yang sangat penting yang harus ku sampaikan. Makanya aku menyegel sebagian kekuatanku ke dalam bola kehidupan yang aku miliki yang disebut Bearer Core of Magic. Kau juga memilikinya makanya aku dapat muncul dihadapanmu."
"Kenapa bisa? Bukannya aku baru lahir 16 tahun yang lalu. Dan kau uhum.. maaf sudah mati seratus tahun yang lalu." Kyousuke semakin penasaran dan terus ingin tahu hal-hal yang sebenarnya dari sosok yang kini dihadapannya itu. Ada sesuatu hal ganjil yang semakin membuatnya ingin mengorek informasi lebih dalam darinya.
"Mungkin takdir." Jawabnya asal.
Nggek~ Kyousuke terjatuh dari posisinya. Ia cukup geram dengan makhluk dihadapannya itu. Kyousuke jadi berpikir kalau dia memang sengaja menutup-tutupi kebenaran yang ada.
"Saa, gomen kalau aku tak menjelaskan detailnya kepadamu." Ucap sosok itu yang seolah-olah dapat membaca pikiran Kyousuke. "Belum saatnya kau tahu tentang kejadian seratus tahun yang lalu karena sebenarnya kau hanya korban yang terseret dalam masalah kami. Ku pikir hanya kau yang dapat menolongku." Sosok itu tersenyum sambil mengulurkan tangan ke depan Kyousuke.
Kyousuke pun menyambut uluran tangannya tanpa ada kecurigaan sedikitpun. Entah terhipnotis dengan senyuman manis sosok itu, Kyousuke sepertinya mempercayai sosok itu dan ingin membantunya sekuat tenaga.
"Arigatou... Tsurugi Kyousuke."
"Matte o Mark"
.
.
.
TBC
.
ASDFGHJKL~! Makin ngelantur saja ini fic =,= . Maaf kalo Reader-san tak paham dengan alur cerita yang sungguh absurb bin gaje begini *bungkuk*. Aduh saia malah lupa dengan inti ceritanya gegara sibuk dengan urusan Dumay sama nge-twitter (?). Agh... pokoknya sama Minta MAAF atas keterlambatan mengupdate. Lalu gaya bahasa saia yang emang nggak bagus-bagus amat jadi Reader-san kalo mau nge-demo saia, silahkan klik kotak mungil Review dibawah ini... jangan sungkan-sungkan nanya yang menurut Reader-san ada yang kurang, dari tokohnya, alur, sama settingnya. Biar saia bisa menambahkan apa yang mungkin menjadi kekurangan di fic saia ini. Tanpa Reader-san, saia bukan apa-apa (lha~?!). Oke sekian dari saia.
Salam sayang (?)
Momochi.
