"Ugh..." Kyousuke bangkit dari tempat tidurnya sambil memegangi kepalanya. Kepalanya pusing dan serasa berputar. "Kenapa tempat tidurku sempit sekali?" Omel Kyousuke. Ia hendak menoleh ke sekeliling kasurnya dan mendapati Yuuichi dan Tenma yang tidur di sampingnya—sambil melingkarkan tangan mereka ke pinggangnya.

Kyousuke cengo melihatnya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI TEMPAT TIDURKUUUUUU?!" seru Kyousuke murka. Ia langsung mendorong Yuuichi dan Tenma hingga membuat Yuuichi mencium tembok dengan mesranya dan Tenma terjungkal dengan—sungguh;sangat;elit dari atas kasur. Sungguh alarm pagi yang sangat hebat.

"Aduh apa yang kau laku—KYOUSUKE?" Yuuichi mengerjabkan matanya, "KYOUSUKE! KAU KEMBALI SEPERTI SEMULA!" seru Yuuichi riang dan langsung memeluk tubuh sang adik, tanpa memperdulikan sumpah serapah yang dikeluarkan oleh sang Tsurugi bungsu.

'Tadi apa? Nii-san bilang kembali seperti semula? Dikira aku habis berubah apa? Henshin gitu!' batin Kyousuke heran dengan tingkah dan ke-ambigu-an kakaknya itu.

"Kamu sudah sadar Tsurugi?" Tenma menggaruk-garuk kepalanya yang sudah benjol karena beradu dengan lantai. "Kamu nggak ingat tadi malam kita ngapain?"

'Tadi malam? HEEEEEEEEEEEH! TADI MALAM EMANG NGAPAIN!' Kyousuke shock dengan apa yang di ucapkan oleh Tenma.

"SESEORANG JELASKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI SEMALAM!"


Disclaimer :Inazuma Eleven/GO/Galaxy © Level-5

Ore wa Zombie! © Ichigo 'Momo' Citrus a.k.a Delusi Reader

Pairing : (main) MamoShuu & MarkAxel (slight) TenKyou, HakuKyou,TakuRan, sisanya menyusul.

Rate : T (kemungkinan bisa berubah)

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Adventure, Supranatural, Mistery, and maybe a little bit humor.

Warning : Sho-ai/yaoi, OOC, AU, typo(s) berserakan, alur melompat-lompat (?), OC, bahasa terlalu ambigu, abal, gaje, aneh, ngebosenin, pendiskripsian kurang lebih banyak dialog, bahasa sesuka author, etc.

Don't like please don't read!

.

.

.

Chapter 8


Di mana ini..

Kenapa semua gelap…

Kenapa tak ada cahaya sedikit pun….

Dan kenapa tubuh ku tidak bisa di gerakkan sama sekali…

Ada apa ini sebenarnya…bukannya tadi aku berada di dalam rumah Endou, tapi mengapa aku bisa berada di sini..

Mimpi kah...

Ah… dari pada aku tambah pusing,aku harus pergi dari tempat ini sekarang juga….tapi kemana aku harus pergi…dan kemana arahnya..aku bingung sekali…tapi sekarang yang terpenting aku harus lari.. Ah baiklah aku ke arah sana saja..

.

Aku terus saja berlari entah berapa lama aku berlari seperti ini dan kurasa kakiku terasa sakit sekali..tapi kenapa aku belum keluar juga dari tempat ini..

.

'ARRRGGH…!' Tempat ini membuat ku muak saja…

.

Namun tak lama kemudian seberkas cahaya tiba-tiba menerobos masuk—seolah-olah menelan tubuhku bulat-bulan. 'Ugh... silau!' Aku segera menghalangi mataku dengan tanganku.

Setelah mataku mulai terbiasa dengan cahaya itu. Aku melihat gerbang besar yang terbuka. Dari sinipun aku dapat melihat rumah besar dua lantai, bercat putih di depanku setengah tertutupi oleh kebun dan taman.

Aku tidak tahu ini dimana, tapi entah kenapa tempat ini begitu tidak asing bagiku. 'Ah, bodohnya diriku, ini kan rumahnya Endou pantas saja aku tak asing dengannya hahaha..' tawaku.

.

Aku berjalan lurus ke arah rumah besar itu. Aku hanya mengikuti naluriku saja. Dan sampailah aku di kebun bunga milik Endou. 'Luas juga..' gumamku.

Entah rasa penasaranku atau naluriku saja, yang menuntun kedua kaki untuk menampakan kaki menyelusuri kebun milik Endou.

Uggh~ astaga, ini pasti mimpi! Iya, ini mimpi. Seingatku Endou belum pernah mengajakku untuk menggelilingi kebun bunga miliknya. Dan kenapa aku bisa hapal seluk-beluknya dan tak takut kalau aku tersesat.

Benar-benar mimpi yang sangat ANEH.

.

"Axel..."

Sayup-sayup ku dengar suara baritone dari arah kejahuan.

Tap.. Tap.. Tap.. ku dengar langkah kaki seseorang menghampiriku.

"Axel..." Panggilnya lagi.. Apa dia sedang memanggilku? Kalau ku lihat disini hanya aku dan suara sesosok misterius itu, ku rasa jawabnya 'iya' ia sedang memanggilku. 'Cih!' decih ku. Kenapa akhir-akhir ini aku dipanggil 'Axel' terus, memangnya siapa dia. Kuso!

.

"Axel..." panggilnya untuk yang sekian kalinya. Kulirik dengan sudut mataku pada sosok pria misterius yang berdiri didepanku. Namun, pandanganku cukup kabur untuk melihat lebih jelas sosok itu. Yang dapat ku tanggap indra penglihatanku, dia pria bertubuh tegap dengan lekuk otot sempurnanya dibalik kemeja lengan panjang serta celana panjang berwarna putih dari bahan yang tipis yang ia kenakan. Jangan lupa jubah ala kekaisaran yang melekat di bahunya dan dua katana terselip dengan rapi di pinggangnya.

Rupawan...

Begitu terka ku pada pria yang wajahnya tersamarkan oleh kabut putih. Siapa dia?

.

"Mark".

Ah.. apa tadi aku mengucapkan namanya? Entah kenapa nama itu meluncur dengan mulus di bibirku. Apa benar itu namanya?

Kulirik lagi pada sosok pria yang semula berdiri didepanku. Eh?! Kenapa sosok pria itu semakin menjauh?

"Hey! Tunggu, berhenti dulu!"

Kenapa hatiku tak ingin dia pergi? Kenapa kakiku tanpa komando dari otakku mengejar sosok itu.

"Mark!"

Kenapa ku keluarkan teriakan maksimalku pada pria itu?

"Mark! Mark!"

Tapi apa yang kulihat, dia malah semakin jauh meninggalkanku ditengah kabut hitam menyelimuti tubuhnya. Kenapa dia tak berhenti ketika namanya ku panggil.

Dadaku terasa sesak, aku.. Aku tidak mau dia pergi, aku takut.. Takut sosok itu tidak akan kembali.

.

Kenapa denganmu Shuuya?! Kenapa kau tidak henti-hentinya memanggil namanya! "M-mark..." Kini suara ku nyaris terdengar seperti isakan. Ada apa dengan ku? Kenapa kepergian pria itu membuatku sakit seperti ini? Seolah-olah aku tidak mau dia pergi. Tidak! Aku tidak ingin dia pergi! Aku harus memanggilnya kembali... Kembali kesisiku.

"Jangan pergi! Jangan pergi! JANGAN PERGI MARK!"

.

.

.


"JANGAN PERGI!" Shuuya berteriak histeris, memaksakan tubuhnya terduduk diranjang queen sizenya. Dadanya naik turun dengan nafas memburu. Peluh pun tak henti-hentinya mengalir dari pelipis hingga ke bagian perutnya. Iris onyx-nya bergerak liar disekeliling tempatnya berada. Setelah mengerjabkan matanya beberapa kali barulah dia sadar bahwa ini bukan kamarnya.

"Aku dimana...?"

"Ah, kamu sudah sadar Shuuya?"

"Kazemaru?" ulang Shuuya untuk memastikan bahwa ia sudah benar-benar sadar dan penglihatannya tidak salah—bahwa dihadapannya ini benar-benar Kazemaru Ichirouta. Ia menghela napas sejenak. Namun tiba-tiba saja kerongkongannya terasa kering dan perlu pasokan air.

Ichirouta yang melihat perubahan mimik pada wajah Shuuya, mulai menutup buku bacaan sedari tadi ia baca sambil menunggu Shuuya siuman, dan meletakkan di meja kecil yang dekat dengan ranjang yang di tempati Shuuya. Ia pun mulai beranjak pergi.

"Ah... Sumimasen, aku jadi lupa membawakan air minum. Biasanya kalau orang yang habis pingsan kerongkongannya akan kering. Ku tinggal sebentar untuk membawakan kamu segelas air." Shuuya pun mengganguk.

.

.

.


Seorang pemuda berambut putih tengah berkutat dengan beberapa perkamen di ruangan pribadinya ketika pintu ruangan tersebut diketuk pelan.

"Masuk,"

Daun pintu membuka perlahan menampilkan sesosok pria paruh baya—atau lebih dari itu; berambut coklat dan bermata senada —sebut saja Sang Kaisar

Melihat siapa yang baru saja melangkahkan kakinya ke ruangan itu, pemuda berambut putih langsung bangkit dari duduknya dan segera memberi salam hormat.

"Ah, Kaisar, kenapa anda kemari?" ujar pemuda ber-headband hitam itu agak tergagap karena kunjungan tiba-tiba dari sang Kaisar.

"Hn… Hakuryuu wa doko da?" tanya sang Kaisar to the point.

"Bukankah dia sedang berada di White Castle saat ini untuk misi memata-matain aktivitas dari sang Raja, Yang Mulia?"

"Siapa yang menitahkannya pergi?"

"Yang Mulia sendiri… setidaknya begitulah yang dikatakan Hakuryuu,"

Sang Kaisar mengangkat sebelah alisnya,"Aku tidak pernah merasa memberi perintah itu padanya, lagipula… seperti biasanya aku akan memberitahumu dahulu jika ada sesuatu yang harus dikerjakan mengingat bagaimana keras kepalanya saudaramu itu,"

"…" Pemuda berambut putih itu terdiam menyadari adanya ketimpangan di sini.

"Hhh, anak itu tidak pernah berubah. Padahal besok hari akan ku beri misi khusus kepadanya, malah keluyuran seenaknya. Sudahlah, nanti kalau dia kembali suruh dia menghadapku," Sang Kaisar bergerak dari posisinya dan berjalan menuju pintu.

"Baik, Yang Mulia,"

Pintu ruangan itu menutup menandakan seseorang yang baru saja menapakkan kakinya keluar meninggalkan ruangan tersebut.

"Aneh. Kalau si Kuncup tidak pergi ke White Castle lalu ke…" Seperti mendapat pencerahan, pemuda ber-headband itu teringat kembali pada percakapannya dengan saudaranya kira-kira semalam tadi.

=Flashback on

Malam itu…

Sebelah mata Ibuki tak berhenti mengikuti aktifitas tak biasa dari pemuda berambut putih jabrik dengan akses kuncup di kepalanya dan bermata ruby di hadapannya ini. Bagaimana tidak, sudah sejak beberapa menit yang lalu, pemuda yang berumur lebih muda satu tahun dari dirinya itu tak jua menghentikan kegiatannya yang mondar mandir seperti setrikaan. Sebentar duduk di sofa kemudian berbaring, kemudian duduk lagi, lalu mengacak-ngacak rambut mencuatnya, seolah frustasi. Lalu berdiri lagi dan berjalan ke sana kemari. Kegiatan itu terus berulang-ulang seakan tak ada waktu untuk mengistirahatkan anggota geraknya barang sejenak.

Ibuki —lengkapnya Ibuki Munemasa pemuda itu; yang menyaksikan hal yang jarang terjadi itu menghembuskan napas panjang.

"Mou ii... Hakuryuu. Kau membuatku pusing saja. Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja," tanya Ibuki akhirnya.

Hakuryuu pun menghentikan aksinya dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Kedua sikunya terangkat bertumpu di kaki bagian pahanya, jari-jarinya ia tautkan dan ia tangkupkan di depan wajah. Ruby merahnya sesekali melirik ke arah Ibuki, seperti menimbang-nimbang apakah sebaiknya dikatakan atau tidak, sesuatu yang sedari tadi mengusik pikirannya. Sementara Ibuki diam menunggu jawaban tanpa melepaskan pandangannya dari sang saudara tercinta (?).

Setelah bertarung jawaban di dalam hatinya, antara "ya" atau "tidak", akhirnya Hakuryuu membuka suara,"Ibuki, menurutmu… apa ada gelagat aneh pada pedo-jiisan?" tanyanya kemudian.

"Pedo-jiisan?" tanya Ibuki monoton. "...err.. maksudmu Nikaido-san. Tangan kanan sang Kaisar?" Koreksi Ibuki. Hakuryuu mengangguk.

"... ah, aku perhatikan akhir-akhir ini, dia menjadi sangat mencurigakan,"

Ibuki hanya tersenyum mendengar penuturan yang meluncur dengan polosnya di bibir saudaranya itu. Biarpun Hakuryuu itu ceroboh, seenaknya sendiri, dan cuek. Namun sebenarnya ia orangnya sangat peduli dengan orang lain. Dan diam-diam memperhatikan setiap jengkal orang yang ia kenal.

"Nah, kalau menurutmu Nikaido-san bersikap aneh, apa yang menuntunmu mengatakan demikian?" tanya Ibuki. Ya, pada akhirnya Ibuki tak pernah meragukan insting saudaranya yang menurutnya tajam itu.

Hakuryuu mendengus,"Aku pernah memergoki dia sedang berbicara dengan salah satu vampire…"

Ibuki mengangkat sebelah alisnya.

"Aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicara, kau tahu kan vampire memiliki indra pendengaran yang cukup tajam. Biarpun aku sudah menghilangkan hawa keberadaanku, tapi makhluk seperti mereka dapat mendeteksi makhluk lain hanya dengan gelombang. Karena mereka memiliki pendengaran ultrasonik seperti kelewaran," lanjut Hakuryuu panjang lebar.

"... apa mereka akan melakukan konspirasi?" tebak Ibuki, skeptic.

"Hn.. mungkin ya. Mungkin tidak. Ma.. aku belum memastikan kebenarannya. Tapi, yang ku tahu, berhubungan dengan para vampire menjijikan itu bukan sesuatu hal baik—bahkan dibilang buruk. Entah kenapa instingku bilang akan ada lengseran kekuasaan di Black Castle kalau aku tak mencari kebenaranya..."

"…" Ibuki masih terbungkam. Ia berpikir apa perlu mengatakan kepada sang Kaisar mengenai hal ini atau tidak, akan terjadi kudeta katanya—analisis Hakuryuu; yang menurutnya masih dalam hipotesa belum tentu benar. Kalau pun salah maka akan terjadi— tidak-tidak dia tak ingin ada yang bertumpah darah lagi. Tak ingin kejadian itu terulang lagi... Jangan lagi..

Ibuki mengeleng cepat, ia berpikir terlalu jauh.

"Daijoubu... kau tak perlu mengatakan hal ini dulu kepada sang Kaisar. Analisa ku juga belum tentu benar... —tidak pasti ada yang salah... " tebak Hakuryuu yang mengetahui saudaranya ini sedang mengalami gejolak batin yang hebat.

"Baiklah, Ibuki. Hari sudah larut, kau harus istirahat… " Hakuryuu mengerling jam dinding kuno namun terkesan luxurious di seberang ruangan ini yang jarum pendeknya menunjukkan angka 12 sedangkan jarum panjangnya menunjuk angka 3. 12.15. "Lagipula kau besok ada misi dari Kaisar yang berkedok diplomatik dengan manusia-manusia kesayangan sang Kaisar bukan? Jangan pikiran apa yang kita bicara tadi. Aku yang akan mengurusinya... Oyasumi…," pamitnya kemudian melangkah menuju pintu dan pergi.

=Flashback off

"Jangan-jangan…Ah, pantas saja saat itu dia seperti terburu-buru." Ibuki mendesah berat,"…aku harus segera menyusulnya…jangan sampai terjadi apa-apa."

.

.

.


'TOK TOK!'

Tak lama terdengar bunyi pintu yang diketuk. "Hm...masuk!" ucap Shuuya sedikit keras dengan suara serak— khas orang habis siuman.

"Shuuya, maaf lama, aku bawa makanan sekalian, ku pikir perutmu lapar." ucap Ichirouta lembut.

"Arigatou, Kazemaru..." Shuuya mulai melahap makanannya dengan cepat. Ichirouta hanya tersenyum tipis menanggapi sikap pemuda putih tulang di depannya itu. Dan benar tebakannya Shuuya memang sedang kelaparan, beruntung sebelum beranjak dari ruangan yang di tempati Shuuya ia sempat mendengar suara gemuruh yang berasal dari perut Shuuya.

'Kawai...'

"Ngh... Kazemaru, kenapa kau memandangiku seperti itu?" Shuuya yang akhirnya sadar bahwa saat ini ia sedang diamati Ichirouta dengan begitu lekat, mulai merasa risih dengan tatapan Ichirouta itu.

"Tidak apa-apa Shuuya, aku hanya bingung bagaimana Mamoru-sama bisa membawamu ke tempat ini... " ujar Ichirouta, yang sebenarnya berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan tadi.

"... aku pun juga tak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi... " Shuuya menyudahi makananya yang hanya tinggal seperempatnya. Sejenak napsu makannya hilang.

"A...a.. gomen bukan aku-maksudku... "

"..Tidak apa-apa Kazemaru.. " ujar Shuuya sembari tersenyum,"Aku juga.. ada yang... "

Ichirouta menunggu.

"... Anata ha dare?"

.

.

.


TBC or Del


Note : aaaa... apaan, ini malah jadi nggak jelas n pendek begini. Gomen reader-tachi seperti akan ada perombakan besar-besar buat chapter ke depan.. T_T . Saya akan menghilang beberapa alur bahkan tokoh yang ada di chapter kedepan. QAQ Gomen... sumimasen.. waru... TwT

Semoga fict saya tidak —sangat membosankan bagi reader-tachi.

RnR?