Disclaimer : I don't own Naruto, the genius behind it is Masashi Kishimoto!


Unexpected Love In the Summer Festival

Festival One : Trials Courage Part One

Gaara-Ino

Rating : K+

Genre : Romance/Friendship

Rating May Change (K-T)


Musim panas telah tiba di desa Konohagakure dan desa Sunagakure. Walaupun hari menjelang malam, hawa panas matahari masih terasa menyengat kulit. Meski demikian, para penduduk setempat malah berantusias menantikan perayaan musim panas yang akan direncanakan oleh Tsunade, Hokage kelima Konohagakure. Di saat bintang- bintang tengah menampakkan cahaya terangnya di hamparan langit malam, Tsunade memperintahkan Naruto dan kawan-kawannya untuk berkumpul ke sebuah tempat yang berjarak lumayan jauh dari keramaian desa konohagakure.

"Ada perlu apa Tsunade baa-chan memanggil kita semua, Dattebayo" Tanya pemuda berambutkan kuning menyala, melipat kedua lengannya ke atas bahu, sedikit kesal sebab ia tidak dapat mencicipi resep ramen baru bersama guru kesayangannya, Iruka - sensei.

"Entahlah. Aku hanya diperintahkan untuk memanggil kalian kemari," jawab teman satu tim pemuda pirang tersebut, menyandarkan diri ke sebuah pohon di belakangnya.

"Kira- kira apa yang diinginkan oleh Hokage-sama sampai menyuruh kita semua berkumpul kemari?" Ten-ten melamun sembari membayangkan apa yang bakal terjadi pada mereka nanti.

"Apa itu misi serius lagi? Sama seperti misi kita dulu sewaktu kita semua masih Genin," ujar salah seorang ninja muda berpenampilan macho bersandar pada seekor anjing putih nan besar yang berdiri di samping dirinya.

"Misi sewaktu genin?"

"Apa kau lupa, Hinata? Misi Gennou-san. Apa sekarang kau ingat?"

"Ah! Gennou - Ojisan. Menegangkan sekali saat itu. Aku tidak menyangka kita semua dibuat harus memutar otak dua kali," kata seorang ninja wanita berambut pirang nan panjang, tak sengaja menjawabnya.

Seluruh ninja muda mengangguk kepala bertanda mereka sependapat dengan perkataan Ninja berambut pirang bernama Yamanaka Ino.

"Ngomong-ngomong hari ini aku tidak melihat Fuzzy Brows," Naruto celingak-celinguk mencari Lee yang tidak kelihatan bersama mereka.

"Akhh. Lee tidak bisa berkumpul karena dia ada misi dengan Guy-sensei."

"Tapi Tsunade baa-chan lama sekali!" Gerutu Naruto, ia lelah menanti kedatangan Tsunade yang belum menampakkan batang hidungnya.

PLETAK! Suara tinju terdengar keras menghantam kepala Naruto. "Akh..Sakit, Sakura-chan!" Rintih Naruto, mengelus-elus bagian kepalanya yang terasa nyeri akibat tinjuan Sakura.

"Aku sudah berapa kali bilang, Hokage-sama bukan Tsunade baa-chan, NARUTO!" Geram Sakura, wajah marah nan menakutkan ia perlihatkan tepat di wajah Naruto. Ninja berambut pirang yang masih menyandang posisi genin ini terlihat ketakutan setengah mati, "Ka-kau menakutkan, Sakura-chan!"

"Apa katamu?!" Sakura malah semakin marah, ditariknya kerah jaket Naruto sehingga teman setimnya tersebut merasa tersiksa, sesak napas.

"Akh...Sa-Sakura-san, kumohon lepaskan Nar-Naruto-kun..." Pinta Hinata, berusaha meredakan amarah Sakura serta menolong pria yang dicintainya.

"Sak-Sakura-chan, kau sama menakutkan dengan King kon-..."

"APA KATAMU, U-Z-U-M-A-K-I N-A-R-U-T-O?! BISAKAH ULANG KEMBALI UCAPANMU BARUSAN?!" Sakura semakin menguatkan remasannya pada kerah baju Naruto. Pria berambut pirang itu merasa dirinya kehabisan napas sehingga wajahnya mulai tampak berwarna biru keunguan.

"Akhh...Nar-Naruto-kun!"

"Lagi-lagi mereka..." Kiba, Shino, TenTen, Chouji, Ino, Sai menghela napas melihat tingkah duo Ninja yang selalu bertengkar. Akhh...Naruto-kun!" jeritan kekhawatiran Hinata, melihat pria yang dicintainya terkampar lemas di tangan Sakura.

Beberapa detik kemudian, Akamaru mengambil posisi siaga. Insting penciuman dan Pendengarannya tergerak, matanya menatap tajam ke arah sebuah pohon paling besar di antara pepohonan yang lain. "Ada apa, Akamaru?" Tanya sang pemiliknya sembari mendekati Anjing kesayangannya.

Akamaru tidak menjawab pertanyaan Kiba, Ia malah memperlihatkan deretan giginya yang besar dan tajam ke arah tersebut. Kiba menyipitkan kedua matanya serta bersiap untuk mengambil senjata ninja yang berada di sebuah kantong kecil yang ia letakkan pada sebelah kanan paha kanannya.

"Apa? Musuh? " TenTen mengambil posisi yang sama dengan Kiba, tidak hanya gadis berpenampilan Cina, Ino, Sakura, Shino, Sai berposisi siaga terkecuali Naruto yang terkampar lemas dan Hinata meringankan penderitaan Naruto sementara Chouji, walaupun matanya menyipit serius, ia semakin melahap camilan malamnya dengan cepat sehingga terlihat remahan dari camilan tersebut menempel di kedua pipinya.

"Chouji, bisakah kau pelankan suara kunyahanmu?!" Marah Ino kepada teman satu timnya, risih akan suara kunyahan Chouji yang mengusik konsentrasi mereka semua.

"Tapi Ino aku..."

"Akhhh! Terserah kamu!" Ino langsung main potong saja sebelum Chouji melanjutkan perkataannya. Pandangan Ino kembali fokus pada sesuatu yang ditunggu kemunculannya oleh mereka.

"Siapa?"

"Hokage-sama kah?"

"Bukan, jika itu Hokage-sama, Akamaru tidak akan bersiaga seperti sekarang," jelas Kiba.

Sosok misterius tersebut terasa mendekati mereka, Naruto yang telah sembuh dari penderitaannya, celingak - celinguk serta bertanya-tanya, 'Apa yang sedang terjadi?'

Para ninja Chunin terkecuali Naruto menelan ludah sesaat sosok misterius tersebut semakin mendekati mereka, langkah demi langkah terdengar keras di antara kesunyian hutan di malam hari. Kiba tidak sabar untuk mejawab rasa penasaran mereka, ia pun melempar beberapa kunai ke arah sosok tersebut.

Tak lama kemudian, desiran pasir terdengar dari balik pohon raksasa. Bersamaan dengan itu, terdengar suara tangkisan untuk terhindar dari kunai yang dilemparkan oleh Kiba sehingga mereka berjatuhan di atas tanah.

"SIAPA KAU?!" Kata Kiba.

Perintah Kiba membuat sang sosok misterius tersebut muncul ke hadapan mereka, rambut merah terlihat menyala di antara kegelapan hutan walaupun beberapa lampu menerangi jalanan hutan, cahayanya nan redup hanya menerangi beberapa jarak.

Lambat laun sosok misterius yang mengharuskan Kiba dan kawan-kawan mengambil posisi kuda-kudaan mulai memperlihatkan diri ke hadapan mereka. Pemuda berambut merah gelap berdiri di depan mereka, tanpa ada ekspresi apapun yang ia perlihatkan kepada Naruto dan Kawan-kawan untuk menyapa mereka.

"Gaara!" Panggil Naruto.

"Apaan ini. Ternyata Kazekage Sunagakure," lega Kiba setelah mengetahui bahwa sosok misterius tersebut tidak membawa mereka semua ke dalam sebuah pertempuran malahan sosok tersebut adalah orang yang dia kenal bahkan sangat kenal. Begitu pula, kawan-kawannya mendesah lega.

"Gaara, kenapa kamu ada ke Konohagakure?" Tanya Naruto, berlari menghampiri Gaara.

"Aku pun tidak tahu kenapa aku datang kemari," jawab Gaara dengan nada datar.

"Eh?" Naruto hanya tercengang. "Ngomong - ngomong aku tidak melihat si cewek seram pembawa kipas raksasa dan si maniak pengendali bone-.." Belum selesai dengan kalimatnya, Naruto kembali mendapatkan tinjuan kedua di bagian kepala oleh Sakura. "Temari-san dan Kankurou-san, itu yang benar, Naruto!"

"Akhh! Sakit, Sakura-chan!"

"De, Kemana perginya kedua kakakmu?" Tanya Kiba.

"Akupun tidak tahu kemana perginya mereka sebab mereka berdua telah meninggalkan kantor sebelum aku menyelesaikan pekerjaanku."

"Hmm."

"Kalian sendiri? Kenapa kalian semua berkumpul kemari?" Tanya Gaara, sedikit penasaran kenapa semua kawanan Naruto berkumpul di hutan pada malam hari.

"Kami semua disuruh berkumpul di sini atas perintah Hokage-sama," jawab Sakura.

"Oleh Hokage-sama?" Heran Gaara.

"Kenapa?"

"Tidak. Hanya saja, beberapa hari sebelumnya, Hokage-sama bertemu dengan Temari, Kankurou dan Baki tanpa sepengetahuanku."

"Buat apa?!" Tanya Naruto.

"Aku sendiri tidak tahu."

"Kenapa?! Dari tadi Jawabanmu tidak tahu terus, Gaara! Apa Kau benar Kaze-ka..." Lagi dan lagi kepala Naruto kembali dihantam super kuat oleh gadis muda berambut merah muda itu. "Diam Kau, Naruto! genin seperti dirimu tidak pantas berbicara seperti itu!" Marah Sakura.

Ucapan Sakura mengibaratkan bagaikan tersambar badai halilintar berkali-kali menghujati Naruto, pemuda berambut pirang itu shock hingga seluruh tubuhnya berubah menjadi warna putih pucat dan tenggelam dalam aura kesuraman. "Tega sekali kau, Sakura-chan. Kau tidak perlu berkata seperti itu. Aku tahu diriku adalah seorang genin tapi...tapi..." Gerutu Naruto sambil memojok diri di ujung pepohonan sembari menggambar lingkaran obat nyamuk.

"Naruto-kun..." Sedih Hinata, ia tidak tega melihat Naruto yang larut kesuraman hati akibat ucapan Sakura.

"Naruto..." Kazekage muda dari desa Sunagakure ini bisa merasakan kesedihan Naruto yang masih menyandang status genin sementara kawan-kawannya telah menyandang posisi Kunoichi dan Jonin khusus untuk Nara Shikamaru dan Hyuuga Neji.

"Maafkan atas kelancangan Naruto, Kazekage-sama." Sakura meminta maaf kepada Kazekage yang berambutkan merah. "Dia memang tidak pernah berubah. Masih tetap menjadi genin yang tidak punya sopan santun dalam tata bicara."

Ucapan Sakura kembali menyayatkan hati Naruto bagaikan tertusuk puluhan pedang hingga membuat pemuda genin tersebut terkampar di atas tanah, tidak kuat untuk membangunkan diri setelah tertusuk dengan ucapan wanita yang disukainya sejak dulu, tepat pada sasaran.

"Tidak. Justru aku sangat berterima kasih pada Naruto, dialah yang mengerti diriku sepenuhnya. Menolongku untuk keluar dari kegelapan hatiku. Membuatku ingin menjadi kuat untuk menyelamatkan orang-orang yang amat berharga bagiku. Membuat diriku menjadi salah satu bagian dari lingkaran kalian. Tidak ada yang membuatku bahagia lebih dari ini," kata Gaara sembari tersenyum ke arah Naruto.

Sakura dan kawan-kawannya terheran dengan senyuman yang tersirat dari wajah tampan Kazekage muda, dulu Kazekage muda itu ditakuti oleh semua orang karena siluman berekor satu tertanam di dalam dirinya sementara kini ia berdiri bersahabat di depan mata mereka. Kemudian mereka semua mengalihkan perhatiannya kepada Naruto, genin yang suka berbuat usil semasa kecilnya. Senyuman lembut tersirat dari wajah mereka ketika mereka mengenang kembali lembaran-lembaran cerita disaat awal pertemanannya dengan Naruto, Ninja dari Konohagakure yang terdapat siluman rubah berekor sembilan di dalam tubuhnya. Semula mereka menjauhi dan meremehkan kemampuan Naruto sementara kini, mereka mengagumi pria muda bermanikan biru langit itu.

"Akhh. Kau benar, Kazekage-sama. Aku benci mengakui ini. Dia adalah ninja terbodoh yang pernah aku kenal seumur hidup dan seorang pahlawan dari desa Konohagakure," kagum Kiba pada Naruto.

Tak lama kemudian, Tsunade, Hokage Konohagakure yang diikuti oleh para Jonin telah tiba di hadapan mereka. Dari wajah mereka, tidak ada rasa bersalah karena mereka datang sedikit telat dari jam yang telah dijanjikannya.

"Tsunade baa-chan, kau telat!" Geram Naruto, ia bangkit sembari mengangkat telunjuknya ke arah Hokage yang terlihat masih muda meski wanita tersebut berusia 50 tahun.

"Maaf...Maaf.." Tsunade meminta maaf atas keterlambat dirinya. "Maafkan aku, Naruto. Ton-Ton pergi entah kemana sehingga kami mencarinya terlebih dahulu." Tsunade menyakinkan Naruto tentang alasan keterlambatan dirinya.

'Bohong,' Asisten pribadi Tsunade, Shizune mengelak ungkapan bahwa mereka mencari babi kesayangan Tsunade yang pergi entah kemana padahal hal yang sebenarnya adalah Tsunade lagi berjudi dengan kenalannya dulu hingga lupa waktu.

"Tsunade baa-chan! Aku tahu kau berbohong!"

"Yosh! Apa kalian sudah tahu kenapa aku mengumpulkan kalian semua kemari termasuk dirimu, Gaara-kun?" Tsunade mengalihkan pembicaraan seolah pertanyaan Naruto tidak ada.

"Sensei, apa kami mendapatkan misi bersama lagi?" Tanya Sakura kepada gurunya yang telah mengajarkan jurus pengobatan dan jurus bertarung brutal khas Hokage tersebut.

"Hmm, kalau dibilang misi, menurutku, tampaknya bukan misi. Lebih tepatnya, aku ingin kalian menikmati permainan yang telah aku rencanakan."

"EH?!" Para Chunin muda terkecuali Gaara dibuat tercengang, mereka dibuat berkumpul dan menunggu lama akan tetapi mereka terkejut dengan perkataan Tsunade yang menginginkan mereka menikmati permainan yang dibuat olehnya.

"Tidak mau!" tolak Naruto dengan nada sedikit kesal sembari beranjak meninggalkan tempat. "Itu hanya akan membuang waktuku. Selamat tinggal, semua!"

"Naruto!"

"Naruto-kun!"

"Ho oh. Aku tahu kau akan berkata seperti itu, Naruto! Sayang sekali. Padahal aku sudah menyiapkan kado jika kau menjadi sang pemenang."

Telinga Naruto berdenyut-denyut setelah Tsunade mengiming-imingkan sebuah hadiah bagi sang pemenang nanti. Ia pun menghentikan langkahnya kemudian berjalan mundur mendekati Tsunade, "Benarkah itu, Tsunade baa-chan? Apa kau tidak bohong?" tanya Naruto dengan nada polosnya.

Tsunade menyeringai gembira tak mengira bahwa Naruto berhasil dengan mudahnya terjebak dengan umpan hadiah. "Apa aku pernah mengingkari janji, Naruto?"

"Okay! Baiklah. Aku ikut!" putus Naruto sambil tersenyum lebar. "Yosh! Posisi pertama akan menjadi milikku, benarkan, Hinata?"

"Hmm," jawab Hinata , wajahnya mulai memerah.

"Kalian semua silakan mengambil acak kertas di dalam kotak ini. Shizune!"

"Baik., Tsunade-sama!" Asisten pribadi Tsunade menyodorkan sebuah kotak kepada Naruto dan kawan-kawan kemudian menarik secarik kertas secara acak tanpa mengetahui apa yang tertulis pada kertas itu.

"5, dattebayo? Apa ini, Tsunade baa-chan? Tanya Naruto, penasaran sambil mengangkat kertas yang bertulisan angka '5'.

"Angka itu untuk menentukan giliran kalian memulai game serta angka yang sama menentukan siapa yang akan menjadi partner kalian saat game telah dimulai," terang Tsunade. " Shizune!"

"Baik, Tsunade-sama. Shizune sangat patuh kepada junjungannya walaupun Hokage tersebut selalu membuat dirinya kerepotan. "Nah! Bisakah kalian mengangkat tangan saat aku menyebutkan angka - angka tersebut?" pinta Shizune sembari mengeluarkan lembaran kertas dan sebuah pulpen untuk segera mencatatnya. "Aku akan mulai. Angka 1!"

Kiba dan Chouji mengangkat kertas secara bersamaan saat angka mereka telah disebutkan oleh Shizune. "Inuzuka Kiba-kun dan Akamichi Chouji-kun, ya?" Gadis berpotongan rambut pendek serta berwarna hitam legam ini segera mencatatnya, jika ia tidak mencatatnya maka ia akan lupa semua.

" Nomor 2?"

TenTen dan Sakura melakukan hal yang sama sepeti Kiba dan Chouji menunjukkan bahwa mereka mendapatkan giliran nomor 2. Shizune pun kembali mencatatnya pada lembaran kertas yang telah ia pegang.

'Syukurlah, aku tidak bersama cewek kening lebar itu!' Lega ninja perempuan berambut pirang panjang setelah ia mendengar pengumuman bahwa dirinya tidak harus bersanding bersama dengan teman baik sekaligus rivalnya tersebut. 'Eto, yang tersisa, Naruto, Sai-san, Shino, Hinata dan...' Ino melirik ke arah Kazekage muda berambut merah gelap dengan sedikit ketakutan. Gaara menyadari lirikan Ino, ia pun membalasnya. Gadis dari Klan Yamanaka itu langsung memalingkan muka saat ia menyadari bahwa sepasang mata berwarna hijau membalas lirikannya. 'Gawat! Aku tidak sengaja memalingkan muka. Bagaimana ini?' Kazekage muda itu tidak mengalihkan pandangannya dari Ino. 'Semoga aku bisa berpasangan dengan Sai-san,' mohon Ino dalam hati.

"Nomor 3?"

Sai dan Shino mengangkat tangan serta saling bertatapan di saat mereka bersamaan angkat tangan. mereka tidak menyangka bahwa mereka menjadi satu tim. Shino menganggap bahwa Sai adalah pemuda yang mencurigakan sedangkan Sai menganggap Shino adalah ninja yang memiliki hobi dan selera penampilan yang aneh.

"Aku tidak menyangka akan satu tim dengan anda, Aburame Shino-san, Mohon bantuannya" kata Sai, tersenyum licik menyembunyikan segala maksud hatinya

"Aku pun begitu, Sai," balas Shino bernada datar, ia menatap sinis Sai dibalik kacamata hitam yang dia kenakan.

"Ne, Sakura-chan. Apa kamu tidak berpikir kalau Sai dan Shino bersemangat hari ini?" bisik Naruto sementara Sakura hanya menghela Napas. Ino sedikit kecewa saat mengetahui harapan untuk berpasangan dengan Sai telah sirna. Kini ia berharap untuk tidak berpasangan dengan Kazekage muda dari Sunagakure.

Hinata berdoa untuk berpasangan dengan pria yang dicintai, Naruto. Sementara orang yang bersangkutan tidak memperdulikan dengan siapa dia berpasangan.

"Yang tersisa, Naruto, Hinata, Ino dan Gaara-san. Kalau begitu, aku lanjutkan. Nomor 4?"

"Naruto, Jangan kabur dalam Game ini," Tsunade memotong perkataan Shizune sambil menyiratkan senyuman lebar.

"Apa yang kau katakan, Tsunade baa-chan? Aku, Uzumaki Naruto, tidak pernah takut apalagi mundur," tegas Naruto.

"Oh..Benarkah?" Tsunade Menyakinkan sekali lagi.

"Iya!"

"Benaran kau tidak bakal mundur?"

"Aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku!"

"Oh...Aku tidak yakin soalnya..." Belum selesai dengan kalimatnya, Shizune berdehem, memotong pertengkaran Tsunade dan Naruto yang terbilang sedikit kekanakan. "Tsunade-sama, apa kita bisa meneruskan acara ini?"

Tsunade berhenti memancing emosi Naruto kemudian ia segera meminta maaf pada semua dan memberikan izin kepada Shizune untuk melanjutkan acara.

"Nomor 4?"

Dengan perasaan deg-degan, Ino mengangkat tangannya. "Nomor 4, Ino dan...Hm adakah orang yang memiliki nomor yang sama dengan Yamanaka Ino?" Tanya Shizune sebab hanya Ino yang mengangkat tangan.

'Kumohon Kami-sama tolong pasangkan aku dengan siapa saja selain Kazekage. Aku bukannya takut pada dirinya hanya saja, aku tidak ahli berbicara dengan tipe seperti dia,' Ino berdoa sepenuh hati.

"Hmm bukan nomorku," kata Naruto dengan nada pelan sambil melihat kembali goresan angka pada kertas yang ia genggam.

"Aku juga."

"Untuk mempercepat waktu, kumohon angkat tangan jika salah satu dari kalian adalah pasangan Ino."

Pasangan Ino memberanikan diri untuk mengangkat tangan setelah beberapa pause, seluruh mata mengarah kepada orang tersebut termasuk Ino sendiri. Manik biru gadis berambut pirang itu membelalak sewaktu pasangannya berhasil diketahui.

'Bohong?!' Ino benar-benar tidak habis pikir bahwa pasangannya dalam Tsunade Game's, "Gaara-san! Partnerku?!"

Manik hijau bening pemimpin muda dari desa Sunagakure bertukar pandang dengan manik biru langit gadis keturunan Klan Yamanaka. Sementara itu, Hinata pingsan bahagia dengan warna merah muda mengolesi wajah cantiknya seusai menyadari bahwa dia akan satu tim dengan pria yang dicintainya. "Hinata!"

'Aku akan satu tim dengan Naruto-kun,' girang hinata dalam hati.

"Yosh! Karena kalian sudah menemukan partner maka acara permainan akan dimulai! Permainan Uji keberanian di malam musim panas segera dimulai!"

"EH?!"

"Tunggu sebentar, Sensei. Itu berarti kami..."

"Kau benar, Sakura. Dalam permainan ini, aku meminta kalian menjelajahi segala apa yang akan kalian hadapi nanti."

"Tsunade baa-chan, kau bilang begitu. Perasaanku jadi tidak enak..." Naruto mulai sedikit ketakutan.

"Berisik! Jangan banyak Omong, Naruto! Jalankan saja perintahku!"

"Kau seenaknya saja, Tsunade baa-chan!"

"Berisik!" Hanya dengan satu kata dan tatapan melotot dari Lady Hokage tersebut, Naruto langsung terdiam. "Kalian bersiap posisi, permainan segera dimulai!"

Sementara itu, Ino masih dalam keadaan shock, tidak menyangka bahwa dirinya mendapatkan kesialan di musim panas, 'Gaara adalah partnerku? Bagaimana ini?'

Bersambung...