Disclaimer : I do not own Naruto or any character.
Unexpected Love In the Summer Festival
Festival One : Trials Courage Part Two
Gaara-Ino
Rating : K+
Genre : Romance/Friendship
Rating May Change (K-T)
Cerita sebelumnya,
Tsunade, Hokage kelima dari desa Konoha mengadakan sebuah permainan yang ia rencanakan sebelumnya dengan beberapa Jonin. Bagaikan kelinci percobaan, Naruto dan kawan-kawannya harus mengikuti permainan tersebut jika mereka ingin selamat dari amukan pimpinan desa Konoha tersebut. Untuk melewati permainan malam ini, Naruto dan kawan-kawan dibagi menjadi lima regu yanng dimana masing-masing regu beranggotakan dua orang dan terpilih secara acak.
Dimana hasil pembagian regu secara acak telah diumumkan sebagai berikut;
Regu 1 : Inuzuka Kiba dan Akamichi Chouji
Regu 2 : Ten Ten dan Haruno Sakura
Regu 3 : Aburame Shino dan Sai
Regu 4 : Gaara dan Yamanaka Ino
Regu 5 : Uzumaki Naruto dan Hyuga Hinata.
Hyuga Hinata, gadis muda berambut biru gelap ini pingsan ketika dirinya dipasangkan dengan Uzumaki Naruto sementara Yamanaka Ino, gadis yang biasa dipanggil 'cewek yang senang memerintah' oleh kawan setimnya ini harus menerima kenyataan bahwa dirinya berpasangan dengan Kazekage muda dari desa aliansi, Sunagakure.
'Gaara-san adalah partnerku? Aku harus bagaimana?'
Malam semakin gelap, udara dingin menyapa permukaan pori-pori kulit. Tetapi tidak mengurungkan niat Tsunade buat menghentikan acaranya.
"Dengar, kalian semua! Dalam permainan ini, kalian diminta untuk mejelajahi semua area yang di lembaran peta ini," kata Tsunade seraya mengibar-ibarkan lembaran bergambarkan denah tersebut. " Peta ini akan menuntun jalan kalian, dimulai dari garis start hingga sesampai kalian menuju garis finish. Kalian jangan takut. Para Jonin sudah memperiksa semua area sekitar sini sebelumnya. Kalian hanya cukup menjelajah dan menikmati perjalanan uji nyali ini. Kalian mengerti?"
"Sensei, kenapa kami harus melakukannya?" tanya Sakura, murid didikan Hokage kelima itu.
"Kalian akan temukan sendiri jawabannya setelah kalian berhasil sampai pada garis finish," jawab cucu dari Hokage pertama itu.
Para ninja Chunin muda semakin penasaran dan bertanya-tanya mengenai alasan dan tujuan dibalik permainan game itu. "Berhentilah bertingkah seperti bayi! Lakukan saja perintahku!" geram Hokage yang mendapatkan julukan 'Hime' ini oleh banyak orang.
"Baik!" Dengan tegap dan sigap, seluruh Chunin muda Konohagakure menyahutnya secara serentak sementara sang Kazekage hanya terdiam walaupun dalam hatinya ingin sekali bertingkah seperti Naruto dan kawan-kawannya. "Bagus! Shizune!"
"Baik, Tsunade-sama." Shizune mengambil alih posisi junjungannya untuk menjelaskan peraturan dalam permainan malam ini. "Aturan permainan ini sangat simple, kalian semua wajib mejelajahi seluruh area uji keberanian yang sudah kami siapkan. Tiap regu memiliki rute start di tempat yang berbeda. Walaupun begitu, kalian akan keluar pada garis finish yang sama. Namun wilayah ini hanya memiliki rute yang terhubung berjumlah 4 jalur sehingga dengan terpaksa, kami menempatkan regu 4 dan regu 5 pada jalur yang sama."
Naruto dan kawannya mendengarkan penjelasan dari assiten pribadi Hokage kelima tersebut dengan cermat. "Apa kalian paham?"
Para ninja muda dan berbakat pada era Naruto mengangguk kepala yang bertanda bahwa mereka mengerti. "Terima kasih. Sekarang saya minta kalian semua bersiaga pada tepat garis start kalian. Regu pertama, Kiba-kun dan Chouji-kun. Kumohon kalian segera mengambil posisi start di pos sebelah barat. Regu kedua, Ten-Ten dan Sakura, posisi start kalian berada sebelah barat daya dari pos regu satu kemudian regu ketiga, Sai-kun dan Aburame-kun posisi start kalian berada sebelah timur dan yang terakhir regu keempat dan kelima, posisi start kalian berada di sini. Para Jonin telah bersiaga di masing-masing pos start setiap regu, mereka akan memberikan petunjuk selengkapnya. Jika kalian paham, segeralah bersiaga pada posisi start kalian!"
"Baik!"
Tanpa basa-basi lagi, peserta dari regu pertama, kedua dan ketiga beranjak meninggalkan regu keempat dan kelima beserta Tsunade dan asisten pribadinya. "Yosh! untuk regu keempat dan kelima, sayalah yang bertugas sebagai penanggung jawab kalian." Ninja medis berambut pendek hitam legam ini memperkenalan dirinya sebagai penanggung jawab regu 4 dan 5. Dikeluarkannya dua buah lantera dari kotak kayu yang menyimpan mereka di dalamnya. Sercercah cahaya berwarna merah kejinggaan terlihat menari gemulai di dalam lampu lantera tersebut. Kedua buah lantera menyala tersebut diserahkan kepada kedua pemuda Jinchuuriki itu.
"Baik. Kazekage-sama, Ino, silakan kalian berdua mengambil posisi menuju garis start," pinta Kunoichi medis yang memiliki jurus berelemen racun ini. Kemudian pemuda Jinchuuriki berekor satu ini bersama Ino berjalan menuju tempat yang telah tertandai dengan sebuah garis berwarna merah, menanti aba-aba selanjutnya dari saudari perseguruan Ino dalam hal ilmu medis itu.
Beberapa menit kemudian, seorang Chounin berambutkan coklat setengah panjang menutupi mata kirinya tiba menghadap Tsunade, ia memberitahukan bahwa regu pertama, kedua dan ketiga telah memulainya. "Terima kasih, Izumo. Kembalilah ke posmu," ucap Tsunade.
"Baik, Hokage-sama!" Jawab ninja Chounin itu kemudian ia menghilang dari pandangan mereka.
"Kazekage, Ino, semoga kalian menikmati permainan ini!" Seru pemimpin desa Konoha yang berambutkan pirang itu.
"Gaara, jika kau dalam posisi terdesak, gunakanlah pasirmu untuk sebuah tanda. Dengan secepat kilat, aku pasti datang menolongmu!" kata sang indung bijuu berekor sembilan sembari mengacung ibu jari dan senyuman lebar kepada kawan sesama Jinchuuriki.
Kazekage muda yang selalu membawa gentong pasir kemanapun ia pergi, tidak menahu bagaimana membalas perkataan ninja Konoha yang bermanikan biru langit itu. Tatapan mata Kazekage itu melembut, senyuman tipis tersirat dari wajah putihnya.
"Keadaan seperti itu mana mungkin terjadi padaku, Naruto."
"Cih, kamu berusaha sok keren, Gaara!" Kesal Naruto, ia melipat kedua lengannya di depan dada dan kedua matanya menyipit kesal. Tak berapa lama, ia membuka kelopak matanya dan kembali memperlihatkan senyuman lebarnya. "Aku tahu soal itu. Itu hanya berjaga-jaga saja."
"Hmm," jawab Gaara, tenang dan singkat.
"Oh!" Tiba-tiba Naruto teringat sesuatu, ia pun berlari menghampiri Gaara dan merangkulkan tangannya ke lengan Kazekage tersebut untuk mengajak kawannya sedikit menjauh dari Ino serta membisikkan sesuatu yang berbau rahasia.
"Gaara, dengar...Was...Wes...Wos." Naruto membisikan sebuah rahasia kepada Gaara seraya bola matanya yang berwarna biru langit sesekali melirik Ino. Gadis klan Yamanaka ini merasakan tidak nyaman tatkala pemuda pirang dari klan Uzumaki itu melirik-lirik ke arahnya. Dengan rasa penasaran, mendorong Kunoichi yang hobi bersolek itu untuk mendekat, berusaha curi dengar pembicaraan rahasia antara kedua pemuda tersebut.
"Gaara, berhati-hatilah dengan Ino. Dibalik wajahnya yang cantik, ia memiliki kepribadian yang jelek dan sama menakutkannya dengan Sakura-ch..."
"N-A-R-U-T-O..." Belum selesai dengan kalimatnya, Naruto mematung ketika sebuah suara terdengar yang menekankan intonasi suaranya saat menyebut nama pertamanya. Di sela-sela rasa takut yang begitu memuncak, pemuda yang selalu mengenakan jaket berwarna orange ini menoleh ke belakang. Alangkah terkejut bukan main, saat manik birunya melihat seorang gadis pirang memberikan aura membunuh lewat dari tatapannya. "I-I-In-Ino!" Gagap Naruto saking takutnya setengah mati.
"Ne, Naruto. Maukah kamu mengulang kembali kalimatmu barusan?" Pinta Ino sambil bersiap untuk melumatkan kawannya itu.
"Gyaaa! Ampun, Ino!" Naruto berlari mencari perlindungan, ia pun bersembunyi di balik punggung Hinata.
"Naruto-kun!" Warna merah muda cerah memoles di wajah gadis belia yang mewariskan bola mata khas dari klan Hyuuga ketika tangan besar Naruto memegang pundaknya.
"Hinata, minggir!" Perintah Ino, geram. Bersamaan dengan itu, tangan kanannya telah mengepal kuat dan siap untuk diluncurkan ke wajah Naruto.
"Akhh, Ino-san! To-tolong maafkan Naruto-kun! Dia tidak bermaksud seperti itu." Hinata berusaha keras untuk melindungi ksatria kuda putih yang didambakannya sekaligus meredakan emosi Ino. Naruto mengangguk-angguk dengan cepat, ia sepikiran dengan Hinata. Gaara hanya terbengong melihat tingkah dari kedua ninja Konohagakure itu.
"Ino, berhenti!" Henti Tsunade yang sudah tidak tahan melihat kelakuan kekanakan-kanakan dari duo ninja pirang itu.
"Tapi, sensei..."
"Kembali pada posisimu!"
"Tapi..."
Pemimpin desa yang berlambangkan daun ini, menurunkan kelopak mata dan menaikkan alisnya secara bersamaan kepada murid didikannya itu. Tatapan menakutkan dari gurunya membuat emosi Yamanaka Ino menciut seketika. "Baik, Tsunade-sensei." Ino pun kembali berjalan menuju garis start. Naruto menghela lega sewaktu Ino mengurung niat untuk menghajar dirinya.
"Ino, kau sudah membuat jadwal keberangkatan kalian telat 5 menit."
"Maaf, Shizune-senpai."
"Aku mengerti. Baiklah. Kazekage-sama, Yamanaka Ino. Saatnya kalian berangkat. Aku berharap kalian menikmati permainan uji keberanian ini dan berhati-hatilah."
"Ino! Jangan merepotkan Gaara!" Seru Naruto dari belakang punggung Hinata.
"Berisik Kau, Naruto!"
Ino dan Gaara menarik langkah untuk meninggalkan posisi start mereka. Waktu keberangkatan regu 5 dimulai setelah lima menit dari waktu keberangkatan regu 4. Karena bosan, Naruto berjalan mondar-mandir ke sana kemari sambil menggerutu kemudian Tsunade pun merasa risih.
"Naruto, berhentilah mondar-mandir! Kau membuat mataku sakit!" Bentak Tsunade, guratan-guratan kesal tampak di kening lebar sang Hokage kelima itu.
"Kau tega sekali, Tsunade- baachan!"
"Apa kamu tidak bisa bersabar sedikit?"
"Tapi...Aku lapar. Lagipula ngapain Tsunade-baachan ngadakan acara ini?"
"Permintaan."
"Permintaan dari siapa?" Naruto bertanya-tanya.
"R-A-H-A-S-I-A."
"Heh?! Kenapa Tsunade-baachan?!"
"Kalau aku memberitahukannya, itu bukan lagi rahasia."
"Tsunade-baachan, pelit!" Naruto cemberut, kedua pipinya digembungkan. Tsunade tersenyum tipis, betapa lucunya raut wajah murid didikan Jiraiya saat itu.
Lima menit kemudian,
"Nah, Naruto, Hinata. Giliran kalian."
"Yosh! Akhirnya giliranku! Ayo, Hinata!" Girang Naruto, bangkit dari duduknya. Ia dan Hinata mengambil langkah untuk maju ke depan garis start. Kunoichi pemalu ini, menunduk tersipu adakala manik putihnya melirik sang pangeran kuda putihnya. 'Naruto-kun... dan aku...' Warna merah padam menyebar luas ke seluruh wajah cantik si pemilik nama Hyuuga Hinata.
"Kau kenapa, Hinata?" Khawatir Naruto.
Khayalan Hinata terpecah, "Akh. A-ak-aku tidak apa-apa, Naruto-kun!"
"Begitu?" Bola mata Naruto menatap tajam gadis di sampingnya, khawatir. Bukannya rona merah menghilang dari wajah Hinata, malahan semakin memerah seperti warna tomat saat Pemuda Kyuubi itu mendekatkan wajahnya, dekat bahkan sangat dekat dengan wajah gadis itu.
"Nar-Naruto-kun. Ka-kau dek-dekat sekali..."
"Wajahmu semakin memerah. Apa kau demam?" Naruto meletakkan telapak kanannya ke kening Hinata untuk membandingkan suhu tubuh gadis pemalu itu dengan dirinya. "Aneh. Kau tidak panas."
Jantung Hinata berdetak kencang seakan ingin lepas. Bagaimana tidak, pangeran kuda putihnya berada dalam jarak yang sangat dekat dengannya. Hinata ingin rasanya pingsan saat itu juga.
"Hinata!" Teriak Naruto sembari menggapai tubuh Hinata yang lemas.
"A-aku tidak apa-apa, Naruto-kun." Berusaha kuat, Hinata menolak pertolongan Naruto.
"Kalau kau tidak enak badan lebih baik kita mengundurkan diri."
"Tidak Mau! Bentak Hinata, pertama kalinya ia mengeluarkan suara dengan intonasi tinggi. "Maafkan aku, Naruto-kun! Aku tidak bermaksud..."
Naruto tidak terlalu memperdulikan penolakan Hinata malahan ia menghela lega. " kau baik-baik saja, Hinata!"
"Naruto-kun.. Terima kasih."
"Yosh! Hinata, kita pasti akan memenangkan permainan ini dan menjadi peserta pertama yang berhasil ngelewati garis finish!"
Gadis berambut biru gelap itu mengangguk-angguk, sependapat dengan pemuda pirang itu.
"Aku meragukannya, Naruto."
"Memang kenapa,Tsunade-baachan?"
"Hmm...apa kau tidak pernah mendengar cerita-cerita aneh tentang tempat ini?"
Naruto hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Benaran kau ingin tahu?" Goda Tsunade.
"HM!"
"Apa kau tidak bakal takut, Naruto?"
Pemuda yang diwariskan jurus-jurus ninja bertipe angin oleh Jiraiya ini mengangguk. Dengan ekspresi serius, Tsunade membisikkan sesuatu di telinga Naruto. "Sebenarnya..."
Naruto hanya menelan ludah, berautkan ekspresi tegang dan serius ketika Hokage cantik berumur 50 tahun itu berkisik di telinganya. "Sebenarnya di tempat ini ada..."
Belum selesai dengan kalimatnya, sebuah teriakan nyaring terdengar memekakan gendang telinga Naruto, Hinata, Tsunade dan Shizune. "GYAAAAAAA!"
"Ada apa?!"
"Itu suara Kiba-kun!"
Tak berselang lama, jeritan cewek terbetik melengking memecahkan kesunyian tempat naruto berdiri.
"Sakura-chan!" Seru Naruto.
"KYAAAAAAAA! 'DIA' MUNCUL! TIDAKKK!"
Naruto tercenung sesaat setelah gendang telingannya menangkap kalimat 'Dia' Muncul! dari sela jeritan teman satu timnya. Tanpa sadar, kaki Naruto bergetar dengan sendirinya. "Ne, T-Tsunade baa-chan...A-apa ce-cerita a-aneh itu ada kaitannya dengan 'Dia'?"Kata Naruto dengan terbata-bata, bulatan biru langit menatap tajam Hokage kelima tersebut.
Tsunade menyeringai saat menilik raut wajah ketakutan si pemuda berambut pirang itu, ia pun berhasrat untuk menggodanya. "Hmm, mungkin..aku beharap kau tidak takut, Naruto."
"A-aku takut?! M-Mana mu-mungkin! Ak-aku, U-Uzumaki Na-Naruto t-tidak pernah meng-mengenal takut!" Bantah Naruto walaupun terbata-bata dalam setiap ucapannya.
Tsunade tersenyum sinis, meragukan ucapan Naruto.
"Naruto, Hinata. Saatnya kalian berangkat." kata Shizune berpura-pura tidak acuh walaupun di dalam hatinya, ia ingin tertawa terbahak-bahak melihat raut muka Naruto.
"Ak-aku, U-Uzumaki Na-Naruto t-tidak pernah meng-mengenal takut! A-aku akan men-menjadi pemenang!" kata Naruto, tersendat-sendat. Saking takutnya, Naruto berjalan pelan mengendap-endap. Setiap ia melangkah, kakinya terasa berat sehingga ia membutuhkan waktu untuk memutuskan bergerak maju atau diam di tempat. "Ki-kita pa-pasti menjadi pe-pemenang, Hinata!"
Guratan-guratan empat siku begitu jelas tampak memenuhi pada wajah Hokage yang emosional tersebut. Kedua tangannya terkepal kuat-kuat berasa ingin meluncurkan tinjuan kepada sesuatu. Semula ia berusaha menahan emosinya kemudian kesabarannya pun habis. Ia berjalan cepat mendekati pemuda berjaketkan orange yang masih ragu mengambil langkah selanjutnya.
"Naruto!" Teriak Tsunade. Belum sempat menoleh, sebuah tinjuan melayang ke pipi Naruto dan membuat pemuda tersebut terpental jauh. Hantaman brutal dari Tsunade membuat kepala ninja yang masih menyandang status genin membentur batang pohon yang sedang diam cukup keras. Naruto terkampar kesakitan dengan banyak bintang yang berputar mengelilingi di atas kelapanya.
"Naruto-kun!" Hinata berlari menghampiri dimana Naruto terkampar.
"Bagaimana kau bisa menjadi pemenang?! Kalau dirimu sendiri ketakutan!"
"Tsunade-sama, tahan emosi anda!" Dengan sekuat tenaga, ia menghalau emosi Tsunade agar tidak menggebu-gebu walaupun ia sadar tidak cukup kuat untuk menahan lama sang Hokage tersebut.
"DASAR BOCAH-BOCAH MANJA!"
Sementara itu,
Gaara dan Ino yang berjarak tidak jauh dari tempat garis start sempat terkejut mendengar suara benturan yang nyaring bahkan sedikit mengguncang tempat itu. Entah itu kelompok burung malam atau kelelawar, mereka berterbang meninggalkan pohon. "Suara apa itu?" Tanya Ino, sedikit merinding.
Hening, tak ada jawaban sedikitpun yang keluar dari mulut sang Kazekage tersebut. "Ayo," ajak Gaara, dingin.
Sang pemuda berambut merah gelap itu melanjutkan langkah dengan acuh tak acuh, seolah tidak terjadi apa-apa. Ino merasa terheran-heran dengan sikap pemimpin desa Suna tersebut. Gadis bersurai pirang itu hanya bisa menenangkan dirinya dan menghela napas, 'ternyata aku memang tidak cocok dengan tipe seperti dia. Kenapa mesti aku?' Keluh Ino dalam hati seraya berjalan kembali.
Sebenarnya di dalam hati gadis pirang ini, ingin rasanya memprotes keputusan tersebut dan berniat mengajukan penarikan ulang. Akan tetapi, itu tidak mungkin terjadi sebab mana mungkin ia punya keberanian dan kekuasaan untuk itu. Terlebih lagi, dia hanya seorang chunin medis yang cuma bisa menyembuhkan luka kecil saja.
"Yamanaka."
"A-ada apa, Kazekage-san? Ino sedikit gugup saat suara berat dari Kazekage itu menyebut namanya.
"Apa dirimu takut?"
"Eh? Ma-Mana mungkin aku takut!" Ino menampik perkataan Gaara.
"Begitukah? Kalau kau takut, jangan jauh-jauh dariku."
Pemuda yang memiliki tanda 'Ai' pada dahinya, berjalan kembali. Sementara itu, Ino tercengung, heran dengan ucapan lembut dari Kazekage itu. Warna merah muda tipis pun membedaki wajah anggunnya. Gadis itu berjalan pelan di belakang Kazekage, tersipu malu sekali-kali mata birunya memandang punggung belakang Gaara yang lebar.
Dari balik kegelapan rimbunnya hutan , dua pasang mata misterius sedang menatap mereka.
"Ino dan Gaara kah? Ayo!"
"Cih. menyusahkan," gerutu salah satu dari sosok misterius tersebut. Kedua sosok asing tersebut mulai bangkit dari tempat persembunyiannya dan menghilang cepat tanpa meninggalkan jejak.
Siapakah kedua sosok misterius itu? Bagaimanakah nasib selanjutnya Naruto dan kawan-kawan? Seperti Apakah gosip aneh mengenai tempat itu? Bagaimanakah Ino mengatasi kekakuan dan kecanggungan yang hadir di antara mereka?
Bersambung...
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada;
VeeA : "Terima kasih sudah membaca dan mereviews cerita Unexpected Love In The Summer Festival. Zhechii berusaha melanjutkan sampai festival terakhir."
Kirai Neko : " Terima kasih sudah menyempatkan membaca dan mereview cerita Unexpected Love In The Summer Festival."
Jenny Eun-chan : "Terima kasih telah membaca dan mereview cerita ini. Semoga Jenny-chan senang."
Para Guest : "Terima kasih. Zhechii akan berusaha melanjutkannya."
Kay Yamanaka : "Terima kasih sudah membaca dan mereviews cerita Unexpected Love In The Summer Festival. Baik! Zhechii akan melanjutkannya."
Jolie (Guest) : "Terima kasih sudah membaca dan mereviews cerita Unexpected Love In The Summer Festival. Ok. Zhechii akan melanjutkannya!"
Dan Zhechii mengucapkan terima kasih pada silent reader yang mau menyempatkan diri membaca cerita ini dan Zhechii mengucapkan terima kasih banyak untuk yang ngefav dan ngefollow cerita ini.
See You! \ ^ V ^ /
