PARADISE LOVE

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Title : PARADISE LOVE

Pairing : SasuNaru, ShikaKiba, NejiGaa

Warning(s) : Boys Love, Typo kemana-mana dan banyak, EYD berantakan masih banyak belajar maklum author baru. Judul nggak nyambung. Pokoknya masih banyak kesalahan.

Catatan : "talk" dan 'mind',

Sasuke, Neji, Shikamaru : kelas 2 sma

Naruto, Kiba, Gaara : kelas 1 sma

Happy reading!

Chapter 2

Saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Semua siswa-siswa Konoha sudah meninggalkan kelas mereka sejak tadi, namun mereka tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Terlihat semua murid Konoha Gakuen sedang memadati lapangan basket—wajah mereka terlihat begitu serius dan terlihat sangat tegang saat melihat salah seorang siswa yang berlutut didepan seorang pemuda Reven, ia terlihat begitu menyedihkan dengan banyak luka dan darah diwajahnya.

"Sudah ku katakan—JANGAN PERNAH MEMERINTAH KU!" teriak Sasuke keras sambil menunduk kearah seorang siswa didepannya.

"Apa tidak ada yang memberi tahu mu—jika aku tidak suka diperintah, dan atas dasar apa kau membanting Ipod kesayangan ku" Sasuke menarik rambut siswa itu sampai mendongak keatas.

"Ma..maaf" gumamnya lirih sambil merintih menahan sakit. Kalau saja ketua OSIS itu meminta maaf lebih cepat—mungkin nasibnya tidak akan begini. Mungkin kalian bingung dengan keadaan ketua OSIS ini, baiklah kita flashback sebentar.

Beberapa jam sebelum bel pulang sekolah berbunyi—Sasuke sedang asik mendengarkan musik didalam perpustakaan sendiarian, sudah jadi kebiasaanya jika sudah bosan dengan pelajaran di kelasnya—maka ia akan mengembalikan moodnya yang buruk dengan mendengarkan musik di Ipodnya dan menyendiri di perpustakaan sambil mendengarkan musik. Sedang asik-asiknya Sasuke mendengarkan musik—tiba-tiba seorang siswa dengan lambang OSIS datang dengan tidak sopannya dihadapan Sasuke. Ia sedang memperingatkan Sasuke agar kembali kedalam kelasnya dan tidak berbuat onar lagi. Namun dasar Sasuke yang bebal, ia sama sekali tak mendengarkan kata-kata sang ketua OSIS.

Tidak mau menyerah—sang ketua OSIS mengambil Ipod Sasuke dan membantingnya keras, ia tak peduli lagi dengan status Sasuke sebagai orang yang paling ditakuti disekolah ini. Sebagai ketua OSIS—harusnya ia dihormati dan bukan diacuhkan. Ia dengan berani memerintah Sasuke untuk kembali kedalam kelas.

Selama ini tidak ada seorang pun yang berani membentak ataupun menasehati Sasuke selama ia berada di Konoha Gakuen, apa lagi memerintahnya. Melihat Ipod kesayangannya dibanting dengan keras dan hancur dan diperintah seperti itu—kemarahan Sasuke sudah mencapai puncak. Sasuke memukul tepat ke wajah sang ketua OSIS dengan gerakan tiba-tiba, emosinya sudah tidak bisa ia tahan. Dengan brutal ia terus memukul wajah sang ketua OSIS hingga menimbulkan suara retakan.

15 menit kemudian bel berbunyi tanda berakhirnya aktifitas sekolah, namun semua siswa Konoha Gakuen tidak lekas pulang karena mendengar kabar jika ketua OSIS mereka sedang berada dilapangan basket dengan kondisi babak belur. Tanpa membuang waktu, para murid-murid Konoha Gakuen segera menuju lapangan basket. Dan disana sudah ada Neji dan Shikamaru yang berdiri dengan angkuh disamping tiang ring basket sambil memandang dingin ketengah lapangan basket, sedangkan Sasuke—jangan ditanya, dia sejak tadi ada didepan ketua OSIS yang babak belur sambil masih menganiayanya. Bahkan dengan sadis—Sasuke sampai tega menendang kepala ketua OSIS dengan keras dan membuatnya jatuh tersungkur. Sudah dipastikan nasib ketua OSIS itu akan tamat ditangan Sasuke hari ini juga. Sungguh kasihan nasib sang ketua OSIS.

"Cih! AKU TIDAK BUTUH MAAF MU, BRENGSEK!"

Buag.

.

.

.

.

Sementara itu—Naruto sedang berjalan dengan gontai menuju lapangan basket, ia sama sekali tak mengira jika hidupnya akan berakhir hari ini juga. Bagaimana tidak—jika sudah berurusan dengan Uchiha Sasuke sedikit saja maka bisa dipastikan hidup mu akan berakhir.

"Huff" Naruto menghela nafas panjang, sebenarnya bisa saja ia kabur dari hukuman Sasuke tapi tidak dilakukannya. Karena menurutnya—kejadian tadi pagi bukan kesalahannya, dan dia harus menjelaskannya pada Sasuke.

'Apapun yang terjadi—aku harus menjelaskan pada si Uchiha itu'

Saat Naruto sudah berada dekat dengan lapangan basket—tiba-tiba ia mendengar suara gaduh dari sana.

"Ribut sekali?" dengan bingung Naruto bergegas menuju lapangan basket, tidak lama—Naruto sudah berada di area luar lapangan basket. Disana ia bertemu dengan Lee dan segera menghampirinya.

"Lee—ada apasih?" Naruto sedikit menepuk pundak Lee pelan sambil dia celingukan melihat beberapa siswa yang tampak begitu serius melihat kearah tengah lapangan.

"Na..Naruto Ga..gawat" gagap Lee sambil menunjukkan wajah penuh kekhawatiran dan ketakutan.

"Ada apa?" tanya Naruto bingung. Tanpa berkata banyak—Lee menunjuk kearah lapangan basket yang dipenuhi dengan murid-murid Konoha Gakuen. Merasa masih tidak mengerti—Naruto memiringkan kepalanya.

"Ke..ketua OSIS—dia sedang dalam masalah besar" Lee menunjuk kearah lapangan basket.

"APA!" teriak Naruto terkejut. Tanpa banyak berpikir—dia langsung melesat kearah kerumunan siswa. Ditengah lapangan—dia bisa melihat seorang siswa dengan rambut kuning panjang sedang terkapar tak berdaya dengan banyak luka diwajahnya.

"Cih! AKU TIDAK BUTUH MAAF MU, BRENGSEK!" teriak Sasuke geram sambil menendang perut ketua OSIS itu berkali-kali dengan keras, hingga korbannya sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.

Naruto mengepalkan tangannya dengan emosi, seperti ada dorongan—Naruto tiba-tiba berlari ketengah lapangan dan menerjang Sasuke dengan menendangnya.

Buugh.

Mendapat serangan tiba-tiba—tubuh Sasuke terhuyung beruntung dia tidak sampai jatuh tersungkur, semua siswa yang melihat kejadian itu menjadi semakin tegang saat dengan beraninya Naruto menendang Sasuke. Bahkan Shikamaru dan Neji juga ikut terkejut dengan tindakan Naruto yang sudah emosi berat.

Naruto mendekati ketua OSIS itu dan betapa terkejutnya ia—saat melihat darah kental keluar dari mulut sang ketua OSIS. Naruto sedikit berjongkok dan meraih kepala ketua OSIS itu.

"Dei-nii" panggil Naruto sambil menepuk pelan pipi ketua OSIS itu yang ternyata adalah kakak sepupunya—namanya adalah Namikaze Deidara.

"BERANINYA KAU" kini giliran Sasuke yang dengan tiba-tiba menendang Naruto hingga ia tersungkur, beruntung ia menahan kepala Deidara dengan tangannya dan membuat kepala kakaknya tidak membentur tanah.

"Sial" Naruto memandang sengit kearah Sasuke dan Sasuke juga balik memandang Naruto tak kalah sengit dan tak lama mereka saling baku hantam, kekuatan bertarung mereka benar-benar seimbang dan tak ada yang mau mengalah.

Sementara Naruto dan Sasuke saling hajar menghajar—Neji dan Shikamaru hanya melihat dengan santai ditempatnya.

"Neji—apa perlu kita hentikan Sasuke sekarang?" tanya Shikamaru sambil menunjuk kearah Sasuke dan Naruto.

"Sepertinya ini akan menarik—bocah kuning itu memiliki kemampuan setara dengan Sasuke, sudah lama sekali Sasuke tidak mendapatkan lawan seimbang. Catat..catat..catat" gumam Neji tidak nyambung, kemudian dirinya mengeluarkan buku kecil beserta sebuah pena gantung yang sejak tadi dipakainya, ia seperti menulis sesuatu dan tidak menghiraukan Shikamaru.

"Kumat deh—penyakit analisa tak bergunanya" Shikamaru memutar bola matanya dengan bosan.

"Diam kau rusa" Neji sedikit mendelik kearah Shikamaru dan kembali menulis dicatatan kecilnya, mendengar dirinya disebut rusa—dengan iseng Shikamaru menyenggol lengan Neji dan alhasil membuat coretan panjang dicatatannya.

"Grr" geram Neji sambil menatap tajam Shikamaru—sementara Shikamaru, ia malah bersiul santai dan merasa tidak bersalah. Akhirnya mereka malah ikut bertengkar dengan konyolnya.

Kembali pada Sasuke dan Naruto—mereka berdua terlihat terengah-engah dengan banyak luka lebam disekitar wajah mereka, meski terlihat kelelahan—mereka berdua sama sekali tak ada yang mau mengalah bahkan keduanya kini kembali saling adu kekuatan. Entah sudah berapa lama mereka akan seperti ini, sepertinya mereka berdua masih punya stok energi yang banyak untuk saling membunuh setelah ini.

"Hebat juga kau hah..hah—Dobe" Sasuke mengelap darah disudut bibirnya sambil masih mengatur nafasnya yang putus-putus.

"Aku tidak akan kalah dari mu—TEME" dengan tiba-tiba—Naruto kembali meninju pipi Sasuke namun sayang Sasuke bisa menghindar. Kini giliran Sasuke yang akan meninju wajah Naruto namun kembali—Naruto juga bisa menghindar. Dengan mata yang agak sedikit sayu dan pandangan mereka yang mulai tidak fokus—akhirnya Sasuke dan Naruto tumbang. Sepertinya mereka kelelahan setelah hampir setengah jam saling serang dan membuang energi mereka dengan percuma.

Melihat Sasuke yang tumbang—Neji dan Shikamaru yang tadinya saling jambak menjambak rambut akhirnya menghentikan pertengkaran konyol mereka dan menghampiri sahabatnya beserta Naruto.

"Ya tuhan!" kaget Shikamaru saat melihat wajah Sasuke yang babak belur, seumur hidupnya—tidak pernah ia melihat Sasuke seperti ini.

"Kalau seperti ini—Sasuke terlihat seperti zombi, mengerikan" bisik Neji pada Shikamaru sambil mengerutkan dahinya saat melihat keadaan Sasuke, setuju dengan Neji—Shikamaru mengangguk setuju. Kemudian mereka mengatupkan kedua tangan mereka dan sedikit membungkuk memberi hormat pada Sasuke yang tak bergerak.

"Semoga kau diterima disisinya" kata Neji dan Shikamaru bersamaan.

"HEY AKU BELUM MATI—BAKA!" tiba-tiba Sasuke bangkit dari kubur (?), dan menendang kedua sahabatnya bergantian menuju neraka (lho?).

"Huuh!" Sasuke menghela nafas panjang sesaat dan mencoba untuk bangkit—namun ia urungkan, sesaat ia melihat kearah tubuh Naruto yang masih pingsan tak bergerak. Sasuke sedikit merengut, ia benar-benar tak percaya jika ada seorang siswa Konoha Gakuen yang mampu menandingi kemampuan beladirinya.

Tak lama datanglah Kakashi beserta beberapa guru yang membubarkan semua siswa Konoha Gakuen yang masih berada diluar lapangan basket, setelah semua siswa pergi meninggalkan lapangan basket—Kakashi mendekat kearah Sasuke. Disana Kakashi melihat Naruto juga Deidara yang masih terkapar tak berdaya, dia hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Sasuke yang kelewat batas dan membuat dua siswa Konoha itu pingsan dengan banyak luka diwajah dan tubuh mereka.

Sementara itu—Sasuke sudah berdiri dan berniat untuk meninggalkan tempatnya semula, namun sayang Kakashi menahannya.

"Kali ini—apa alasan mu melakukan semua ini? Apa keran mood yang buruk lagi?" tergur Kakashi dengan dingin dihadapan Sasuke.

"Cih! Bukan urusan mu" jawab Sasuke tak kalah dingin dan berniat meninggalkan Kakashi namun kembali ditahan oleh Kakashi.

"Kau adalah tanggung jawabku—jadi semua yang kau lakukan adalah urusan ku juga" tidak tahan dengan kelakuan Sasuke—Kakashi menarik kerah bajunya.

"JANGAN IKUT CAMPUR—BERENGSEK!" dengan geram Sasuke melayangkan tinjunya kearah Kakashi namun sayang Kakashi dengan gesit menangkap tangan Sasuke dan seketika langsung menampar pipi kiri Sasuke.

Plaak!

Sejenak suana menjadi hening—tanpa ada yang berbicara satupun, hanya suara hembusan angin yang terdengar saat ini. Namun tanpa mereka sadari—sejak tadi Naruto yang beberapa menit yang lalu sudah sadar dari pingsannya, tanpa sengaja melihat Sasuke ditampar oleh Kakashi.

"Kau tahu—aku mempunyai tanggung jawab penuh padamu, jadi aku berhak ikut campur" kata Kakashi marah sambil menarik paksa lengan Sasuke, namun seketika Sasuke langsung menyentak tangan Kakashi dengan keras.

"Tanggung jawab penuh katamu—" Sasuke sedikit menyeringai.

"Memangnya kau siapa? Orang tuaku?" lanjutnya sambil menunjuk Kakashi dengan tidak sopan.

"Aku wali mu, Fugaku-sama sudah menyerahkan mu padaku. Sekarang aku lah orang tuamu" Kakashi dengan kasar menjambak rambut Sasuke.

"AKU TIDAK BUTUH WALI SEPERTI MU ATAU ORANG TUA MACAM FUGAKU" Sasuke mendorong tubuh Kakashi. Sasuke menundukkan kepalanya, sepertinya ia sedang menahan airmatanya.

"Ayah mu sangat menghawatirkanmu—Sasuke, dia sangat sedih melihat kelakuanmu saat ini. Jadi berhentilah berbuat onar" Kakashi menepuk kepala Sasuke pelan namun segera ditepis kasar oleh Sasuke.

"Fugaku bukan ayah ku—dia itu.." guman Sasuke lirih namun masih bisa didengar oleh Kakashi dan Naruto yang masih duduk diam.

"DIA ITU PEMBUNUH—DIA SUDAH MEMBUNUH IBUKU" teriak Sasuke frustasi didepan Kakashi yang kaget dengan ucapan Sasuke yang menyebut Fugaku—kakak angkatnya dengan sebutan pembunuh. Sama seperti Kakashi—Naruto juga sama terkejutnya.

'Ternyata dia sama seperti ku'

"Kau salah Sasuke.." Kakashi berusaha menenangkan Sasuke.

"PEMBUNUH SEPERTI DIA—HARUSNYA MATI SAJA"

Plak.

Kali ini Kakashi menampar keras pipi kanan Sasuke hingga menimbulkan luka sobek dan sedikit darah keluar dari sudut bibirnya. Kakashi benar-benar tidak dapat menahan emosinya, ada tatapan sedih dan terluka diwajahnya. Ia tak pernah menyangka jika Sasuke akan mengatakan hal keji seperti itu, jika Fugaku berada ditempat ini dan mendengar ucapan putra keduanya—sudah dipastikan jika kakak angkatanya akan terluka sama sepertinya. Sasuke masih menundukkan kepalanya, merasa bersalah Kakashi melihat kearah telapak tangannya yang memerah. Ia menyesal, sangat-sangat menyesal—namun Kakashi menahan perasaan itu.

Naruto dapat melihat wajah Kakashi yang penuh penyesalan dan terluka, ia bahkan melihat ada genangan air mata yang siap meluncur—namun Kakashi berusaha menahannya.

'Apakah dulu—paman Iruka juga seperti ini, waktu aku—juga bilang..'

Naruto menunduk sedih, ada perasaan bersalah saat ia mengingat bagaimana pamannya—Umino Iruka menjelaskan padanya, jika kematian ibunya bukan karena kesalahan ayahnya.

'Ayah ku seorang pembunuh—pasti paman Iruka, sama terlukanya dengan Kakashi-sensei saat itu'

Samar-samar—Naruto mendengar seperti ada isakan lirih, dan sepertinya itu berasal dari Sasuke. Beruntung lapangan itu sudah sepi, hanya ada Kakashi, Sasuke dan Naruto. Sementara Deidara masih belum sadarkan diri, bagi Naruto saat ini—jarang sekali melihat Sasuke yang terkenal sadis bisa menangis terisak seperti ini. Mungkin akan jadi berita besar jika kejadian ini tersebar.

Kembali pada Kakashi—ia menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha menahan segala rasa kasihan maupun bersalah pada Sasuke.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang Fugaku-sama—jadi jaga ucapanmu, asal kau tahu selama ini dia sangat menderita karenamu—Sasuke" kata Kakashi dingin, kemudian ia berbalik memunggungi Sasuke. Tak lama datanglah beberapa petugas medis mereka membawa Deidara dan meninggalkan Kakashi, Naruto dan Sasuke.

(PS: karena petugas medisnya hanya membawa satu tandu jadi Deidara duluan yang dibawa kerumah sakit, Sasuke dan Kakashi belum sadar ada Naruto tak jauh dari tempat mereka)

"Ibumu disurga—pasti akan kecewa melihat kelakuan anaknya seperti ini" setelah mengatakan itu—Kakashi pergi meninggalkan Sasuke yang terkejut dengan ucapan Kakashi. Sebelum Kakashi meninggalkan Sasuke—Naruto sempat melihat ada aliran bening yang turun dari mata Kakashi.

'Kakashi-sensei—menangis'

Sesaat menjadi hening—hanya suara isakan tangis Sasuke yang terdengar, dari bawah—Naruto melihat Sasuke sedang meredam tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya.

"Kau boleh tertawa sekarang" suara Sasuke bergetar menahan tangis, sepertinya dia sudah sadar jika sejak tadi Naruto mendengar pembicaraanya dengan Kakashi. Terkejut dengan ucapan Sasuke—Naruto semakin menundukkan kepalanya. Ia seperti melihat masa lalunya, saat dimana dia sama seperti Sasuke. Menyalahkan kematian ibunya pada ayahnya, semua orang mencoba menjelaskan apa yang terjadi—tapi dia malah menutup telinganya dan hatinya. Dan terus membiarkan dirinya menyalahkan ayahnya atas kematian Ibunya.

"Aku—" guman Naruto pelan namun masih bisa didegar oleh Sasuke.

"Juga benci ayahku—bahkan menyalahkannya saat ibu ku meninggal, dan berpura-pura tidak mengenalnya bahkan tidak memperdulikannya selama empat tahun"

Terkejut dengan ucapan Naruto—Sasuke mengerutkan dahinya, sepertinya ia mengerti kemana arah pembicaraa Naruto saat ini.

"Mendengar ucapan Kakashi-sensei—aku berpikir, apakah ayah juga terluka karena aku yang terus menyelahkannya atas kematian ibu" suara Naruto mulai bergetar—tiba-tiba ada genangan air mata muncul dipelupuk matanya.

"Selama ini—ternyata aku jahat terhadap ayah hiks" Naruto menangis sambil menundukkan kepalanya dan menyembunyikannya diantara lutut dan tangannya.

'Ternyata dia—juga memiliki kenangan yang sama seperti ku'

"Bodoh" sedikit tersenyum simpul Sasuke menyisir rambut hitamnya dan menghapus ai matanya, sepertinya Sasuke menemukan seseorang yang senasib dengannya. Mendengar dirinya disebut 'bodoh'—Naruto menengadahkan kepalanya dan merengut sebal kemudian ia menghapus air matanya dengan ujung lengan jas sekolahnya. Masih tidak terima dibilang bodoh oleh Sasuke—Naruto sedikit menendengang pelan kaki Sasuke.

"Aku tidak bodoh—Teme" kata Naruto kesal sambil mengerucutkan bibirnya dengan sebal.

"Siapa yang mengataimu bodoh—dasar Dobe oon" Sasuke balas menendang kaki Naruto namun agak keras dan membuatnya mengaduh kesakitan sambil menundukkan kepalanya dalam—Naruto juga memegangi kaki kirinya lebih tepatnya memegangi kakinya diarea sekitar tulang kering. Merasa bersalah (sejak kapan?)—Sasuke menundukkan badannya untuk melihat kaki Naruto yang sepertinya terasa begitu sakit, ia sedikit khawatir karena Naruto terus mengerang kesakitan.

"Kau—tidak apa-apa?" dengan panik Sasuke memegangi kaki Naruto dan memijat-mijatnya pelan. Melihat tipuannya berhasil—Naruto sedikit menahan tawanya.

"Mananya yang sakit?" saat Sasuke menengadahkan kepalanya, tiba-tiba Naruto menyentil dahi Sasuke dengan keras dan membuatnya terjungkal kebelakang.

"Akkh~ittai" Sasuke memegangi dahinya yang terasa sangat panas dan sakit.

"Hahahaha—ternyata Uchiha sepertimu bisa juga dipermainkan" Naruto tertawa terbahak-bahak saat melihat dahi Sasuke yang berubah merah akibat kelakuannya.

"Kau—awas kau yah! Aku akan membalasmu" Sasuke mencoba untuk bangkit dan berusaha membalas kelakuan Naruto yang mempermainkannya. Melihat Sasuke akan mengejarnya dan membalasnya—dengan cepat Naruto bangkit dan segera berlari, namun karena sekujur badannya sakit karena perkelahiannya tadi—Naruto hanya bisa menghindar dan berlari kacil untuk menghindari Sasuke.

"Dobe—kemari kau, berani sekali kau mempermainkan seorang Uchiha" Sasuke terus berusaha mengejar Naruto yang sejak tadi hanya berlari kecil sambil berputar-putar tidak jelas.

"Kau itu memang payah teme—tangkap aku kalau bisa week" sambil menjulurkan lidah—Naruto terus menghindar dari sergapan Sasuke, namun semua tak bertahan lama saat tanpa sengaja Sasuke menjegal kaki Naruto dengan kaki panjangnya. Tubuh Naruto menjadi terhuyung dan tanpa sadar—ia menarik lengan kemeja Sasuke.

Hup.

Tanpa sadar—Sasuke memeluk tubuh Naruto yang hampir terjatuh, ukuran tubuh Naruto yang kecil ternyata sangat pas dipelukan Sasuke yang memiliki tubuh agak besar dan kekar. Mereka membelalakkan mata bersamaan—tidak pernah terpikir oleh mereka akan berada sedekat ini. Naruto dapat merasakan nafas hangat Sasuke menerpa wajahnya, sementara Sasuke dapat menghirup aroma jeruk ditubuh Naruto.

Glup

Sasuke menelan ludah saat matanya tanpa sengaja melihat bibir pink mengkilap milik Naruto, meski bibir mungil Naruto terdapat luka memar—namun tidak membuat keindahan bibir Naruto pudar. Berbeda dengan Sasuke—jantungnya berdegup kencang saat matanya menatap langsung kemata hitam milik Sasuke dan ia baru sadar jika Sasuke sangat tampan. Tidak mau semakin terhipnotis oleh pesona Sasuke—Naruto menginjak kaki Sasuke dan otomatis membuat Sasuke melepaskan pelukannya.

"Ittai—kenapa kau menginjak kaki ku~" Sasuke sedikit meloncat dengan sebelah kakinya kanannya sambil kedua tangannya memegangi kaki kirinya yang sakit akibat diinjak dengan sadis oleh Naruto.

"Sa..salahmu sendiri—main peluk-peluk orang sembarangan—dasar teme hentai" kata Naruto sebal dan berkacak pinggang sambil mendelik kearah Sasuke, namun jika diperhatikan ada semburat pink dikedua pipinya.

"Apa kau bilang—aku hentai, kau yang menarik lengan ku terlebih dulu—dobe" Sasuke sedikit mendorong bahu Naruto, tidak terima Naruto balas mendorong bahu Sasuke.

"Ini juga gara-gara kau, kalau saja kau tidak menjegal kaki ku—pasti tadi aku tidak akan menarik lenganmu"

"Alasan saja kau dobe"

"Apasih teme"

"Dobe"

"Teme"

"Dasar hentai"

"Dobe! Kau berani mengatiku hentai"

"Teme pantat ayam"

"Rambut durian"

Berlangsunglah acara dorong mendorong bahu disertai dengan mengatai satu sama lain antara Sasuke dan Naruto, benar-benar pertengkaran tidak penting dan kekanak-kanakan. *Author ditendang SasuNaru ke laut merah.

.

.

.

Sementara itu di lorong sekolah tempat loker-loker siswa berada.

"Eh..eh lihat deh kyaaaa tampan ya dia"

"Bener..stt stt dia melihat kearah kita kyaaa"

"Nara-senpai memang kereng"

"Iya..iya" beberapa siswi perempuan sedang berbisik saat seorang siswa tampan bertubuh tinggi dengan rambut nanas berjalan dengan angkuhnya di depan mereka. Namun keangkuhan itu tidak mengurangi nilai ketampanannya sama sekali.

"Dasar gadis-gadis merepotkan" gumamnya pelan sambil melirik sinis kearah gadis-gadis itu. Seakan tidak mau ambil pusing—dia terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan dan bisikan aneh mereka, dengan santai—Shikamaru melewati lorong sekolah menuju tempat lokernya berada, untuk mengambil beberapa buku yang memang sengaja di tinggalkannya di loker.

Saat Shikamaru hampir sampai diruang Loker siswa—ia mengerutkan dahinya dan menghentikan langkahnya—Shikamaru melihat ada seorang siswa dengan kaca mata tebal sedang duduk dilantai tepat didepan lokernya.

"Menghalangi saja" gumam Shikamaru pelan sambil kembali melanjutkan langkahnya, namun kembali terhenti saat dengan tiba-tiba seorang siswa datang dihadapan seorang siswa berkacamata itu sambil berjongkok didepannya.

"Kamu tau nggak Ino-chan itu lagi pengen kemana pas hari ulang tahunnya?" terdengar suara berat seorang siswa yang di ketahui bernama Jugo. Sepertinya Jugo sedang mencari informasi tentang seseorang bernama Ino tapi sepertinya Jugo bertanya dengan nada memaksa.

"Entahlah..!" kata siswa berkacamata itu enteng sambil membenarkan kacamata tebalnya.

"Ckk! Kau ini tidak bisa diandelin banget ya, pasti kau sedang berbohong. Ayolah katakan, kau inikan sahabat Ino-chan udah lama, masa gitu aja nggak tau sih" Jugo terlihat sedikit marah dan mengubah posisi jongkoknya menjadi berdiri.

Siawa berkaca mata itu sedikit mendongakkan kepalanya mengahadap Jugo, saat siswa itu mendongakkan kepalanya—Shikamaru sedikit bisa melihat wajah siswa itu namun masih terhalang oleh poni panjangnya yang menyamping dan menutupi sebagian wajahnya. Meskipun menggunakan kacamata tebal—siswa itu sama sekali tidak terlihat jelek malahan terlihat sangat cocok.

Shikamaru sedikit mengeryitkan alisnya, saat Jugo sedikit menendangkan kakinya ke paha kecil siswa kacamata itu.

'Memaksa sekali dia itu'

Ternyata tanpa sadar—sejak tadi Shikamaru mendengarkan percakapan antara Jugo dan siswa berkacamata itu, tidak biasanya dia melakukan hal ini.

"Baiklah—lain kali akan aku tanyakan, tapi aku tidak jamin dia akan mau" sekarang giliran si kacamata yang berdiri, dia sedikit mengibaskan celananya yang sedikit kotor oleh debu yang menempel di lantai.

"Gitu dong Kiba, kalau begitu—aku tunggu kabarmu besok" Jugo menepuk kepala si kacamata yang ternyata bernama Kiba dan meninggalkannya pergi. Setelah Jugo pergi—Kiba sedikit membenarkan letak kacamatanya dan memunguti bukunya yang sejak tadi tergeletak dilantai.

Melihat percakapan antara Jugo dan Kiba berakhir—Shikamaru kembali melanjutkan langkahnya menuju lokernya, namun saat ia sudah berada tepat didepan lokernya—ternyata Kiba tidak beranjak dari tempatnya malahan sekarang ia memunggungi Shikamaru.

"Bisa kau minggir—kau mengahalangi loker ku" kata Shikamaru dingin dibelakang si kacamata yang ternyata tingginya hanya sebatas dada Shikamaru.

"Tunggu sebentar—Lokerku tidak bisa dibuka" Kiba berusaha membuka pintu lokernya yang letaknya pas dipinggir loker Shikamaru, badannya benar-benar menghalangi Shikamaru untuk membuka lokernya.

Kiba masih berusaha membuka lokernya—kali ini dengan sekuat tenaga ia membuka lokernya dan sepertinya usahanya sia-sia, sudah berkali-kali ia memasukkan kuncinya kelubang kunci lokernya tapi tetap tidak bisa terbuka.

"Kenapa akhir-akhir ini sulit sekali dibuka—Uggh" masih berusaha keras—Kiba sedikit menggeser badannya, kemudian dengan bantuan sebelah kakinya sebagai penopang—Kiba menarik lokernya dengan keras. Namun sepertinya usahanya kembali gagal karena lagi-lagi lokernya tidak bisa dibuka.

Melihat Kiba sedikit menggeser tubuhnya—Shikamaru meraih gagang pintu loker dan memasukkan kuncinya kelubang kunci loker, terdengar bunyi 'klik' dan terbuka juga lokernya. Tanpa memperdulikan Kiba yang masih berkutat dengan lokernya —segera saja Shikamaru mencari beberapa buku yang harus ia bawa dan bergegas menuju kelasnya.

Setelah beberapa menit lokernya tak terbuka, akhirnya Kiba itu menarik gagang pintu lokernya dengan keras sampai badannya melengkung keatas, dan usahanya tak sia-sia karena sepertinya ia merasakan pintu lokernya bergerak.

Kriek

Terdengar bunyi aneh dari samping loker Shikamaru, ia sedikit melirik tindakan aneh dari Kiba. Tidak mau membuang waktu—Shikamaru segera menutup pintu lokernya dan membawa beberapa buku ditangannya. Namun kejadian tidak terduga terjadi sesaat setelah Shikamaru menutup pintu lokernya.

Duoong.

Bunyi keras itu menggema diruang loker sekolah, semua siswa yang berada diruang loker—seketika terdiam. Kiba sendiri juga tak kalah terkejutnya saat pintu loker yang tadinya tidak bisa terbuka—kini bisa terbuka tapi yang jadi masalah pintu lokernya membentur wajah Shikamaru dengan keras hingga menimbulkan suara yang mengerikan.

"A..astaga!" kagetnya sambil menutup pintu lokernya perlahan dan betapa terkejutnya saat ia melihat wajah Shikamaru berubah jadi merah dan lebam karena hantaman keras pintu loker pada wajahnya.

Seketika buku yang dipegang oleh Shikamaru barjatuhan, tangannya bergetar. Dengan menahan rasa sakit dan malu tentunya—Shikamaru menatap Kiba dengan geram. Merasa familiar dengan wajah Shikamaru—Kiba merinding melihatnya.

'Gawat'

"Kau—" geram Shikamaru sambil mengeluarkan aura gelap dibelakangnya.

Glup

Sambil menelan ludah paksa, Kiba sedikit gemetaran dan keringat dingin mengucur deras—wajahnya berubah menjadi pucat pasih.

'Matilah aku sekarang'

TBC.

Maaf agak membuat kalian menunggu..modem saya sedang bermasalah jadi hehe sorry lama updatenya.

Ok seperti biasa tolong riviewnya.