PARADISE LOVE
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : PARADISE LOVE
Pairing : SasuNaru, ShikaKiba, NejiGaa
Warning(s) : Boys Love, Typo kemana-mana dan banyak, EYD berantakan masih banyak belajar maklum author baru. Judul nggak nyambung. Pokoknya masih banyak kesalahan.
Catatan : "talk" dan 'mind',
Sasuke, Neji, Shikamaru : kelas 2 sma
Naruto, Kiba, Gaara : kelas 1 sma
PS : Di chapter ini ada karakter baru bernama 'Nara Haru' kakaknya Shikamaru, g boleh ada yang protes yah.
Yunaucii : terima kasih sudah mereview. Perasaan anda benar sekali, scene di jugo kiba shika, memang saya ambil dari FF saya dulu yang berjudul 'I JUST WANNA LOVE YOU', karena saya rasa FF itu gagal jadi FF itu sudah saya hapus. Tapi tenang aja scenenya agak sama tapi sedikit saya rombak jadi ga terlalu sama benget.
Untuk review yang lain maaf g' bisa balas satu-satu, tapi terima kasih sudah meluangkan waktu buat membaca dan meriview
Happy reading!
Chapter 3
Bandara International Jepang.
Terlihat Kakashi sedang berdiri tidak jauh disalah satu pintu kedatangan penumpang pesawat—tampaknya dia sedang menunggu seseorang. Tak berapa lama—terlihat beberapa orang penumpang pesawat keluar dari pintu kedatangan, Kakashi sedikit celingukan mencari seseorang yang sejak tadi ditunggunya.
"Kakashi!" panggil seorang pria paruh baya sambil melambaikan tangannya kearah Kakashi—merasa mengenal pria itu, Kakashi menghampirinya.
"Lama tidak melihat anda—Fugaku-sama" sambil tersenyum ramah—Kakashi membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat pada kakak angkatnya sekaligus tuannya. Meski dianggap sebagai adik oleh Fugaku—bagi Kakashi Fugaku tetaplah tuannya yang harus ia hormati.
"Tumben sekali kau menjemputku sampai ke bandara—biasanya kau menyuruh pelayan atau sopir untuk menjemputku pulang" kata Fugaku sambil melipat kedua tangannya didadanya.
"Lebih baik kita bicarakan ini sambil minum kopi" kata Kakashi sambil membantu Fugaku membawa kopernya, ia menunjuk sebuah cafe yang letaknya memang masih satu area dengan bandara.
"Putra Namikaze Minato—bersekolah di SMA yang sama dengan Sasuke" Kakashi mengewali pembicaraan sambil meyerahkan sebuah map coklat kearah Fugaku yang masih menikmati kopi panasnya.
Fugaku menaikkan sebelah alisnya—saat ia membuka map coklat itu, terdapat selembar foto yang diselipkan bersama beberapa lembar kertas didalam map coklat itu.
"Remaja didalam foto itu—adalah Uzumaki Naruto, putra Minato-sama" jelas Kakashi sambil menatap Fugaku serius.
"Ternyata—anak itu masih memakai marga ibunya" sedikit tersenyum—Fugaku memandang foto Naruto dengan pandangn sedih. Sedikit penjelasan—dulu Fugaku dan Minato adalah rival namun meski mereka rival—Fugaku sering menceritakan keadaan keluarganya pada Minato, dan sebaliknya Minato juga menceritakan keluh kesahnya pada Fugaku. Dan dari situlah mereka tahu jika istri mereka juga sama-sama meninggal. Bedanya Mikoto meninggal karena kecelakaan—saat itu Fugaku dan Mikoto bertengkar hebat dan membuat Mikoto memutuskan untuk keluar dari kediaman Uchiha, Mikoto tidak tahan dengan sikap Fugaku yang dingin dan selalu mementingkan pekerjaanya dari pada keluarganya. Pada saat bersamaan—Mikoto yang sedang dalam keadaan emosi berat mengemudikan mobilnya di jalan raya yang padat, dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tanpa Mikoto sadari—saat ia akan menyalip kendaraan didepannya tiba-tiba sebuah truk besar menghantam mobilnya. Mikoto langsung tewas seketika dan sejak kejadian itu—hubungan Fugaku dengan Sasuke menjadi renggang, dan Sasuke selalu menyalahkan kematian Ibunya kepadanya.
Sedangkan Minato—istrinya meninggal karena sakit, bukan meninggal karena Kushina mengalami sakit parah—melainkan Kushina sakit karena terlalu banyak pikiran atau bisa dibilang stres berat. Dulu Minato dan Kushina menikah diusia yang terbilang muda sekali—18 tahun, saat itu Kushina mengandung anak pertamanya Namikaze Shion—kakak perempuan Naruto. Yah tahu lah—mengandung diluar pernikahan itu adalah hal yang salah, jadi akhirnya terpaksa Minato dan Kushina dinikahkan oleh kedua orang tua mereka—meskipun mereka merasa belum terlalu siap lahir-batin untuk menjalani rumah tangga diusia semuda itu. Beberapa puluh tahun kemudian mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang semakin lama-semakin membosankan, bagaimana tidak membosankan jika kerjaan mereka setiap hari selalu bertengkar. Bosan dengan pertengkaran—Minato mencoba fokus dalam pekerjaannya namun semakin dia larut dengan pekerjaannya, semakin ia jauh dengan keleuarganya. Hingga suatu ketika—Kushina jatuh sakit, kabarnya dia mengelami tekanan batin dan akhirnya dia masuk kerumah sakit. Sudah berkali-kali Kushina masuk kerumah sakit karena depresi berat hingga kesehatannya semakin menurun—sampai suatu ketika tubuh Kushina semakin lemah dan akhirnya maut menjemputnya. Merasa bersalah Minato meninggalkan pekerjaan sebagai pengusaha dan memilih melanjutkan ke akademi kepoliasian dan tak lama—Minato menjadi kepala polisi. Semenjak itulah Naruto membenci Minato dan meninggalkan rumahnya saat usia Naruto baru 13 tahun, hingga kini Minato tidak mengetahui kenama Naruto pergi. Selama 2 tahun Minato mencari Naruto—sampai suatu ketika Iruka memberinya kabar jika Naruto berada dalam pengawasannya.
"Dia—sama seperti Sasuke" gumam Fugaku sambil melihat keluar jendela kafe, terlihat awan mendung menghiasi langit Konoha saat ini.
"Jadi kenapa anda menyuruh saya mencarinya—apakah ada hubungannya dengan Minato-sama?" tanya Kakashi penasaran.
"Saat ini—Minato sedang sakit parah, sebagia rivalnya—aku ingin mewujudkan keinginannya yang terbesar. Mempertemukan Minato dengan Naruto" jelas Fugaku sambil menundukkan wajahnya sedih. Kakashi mengannguk mengerti, jadi itulah alasannya kenapa selama ini—kakashi ditugaskan untuk mencari dan mengawasi Naruto.
.
.
.
.
"Ma..maafkan aku—aku benar-benar tidak sengaja"
Saat ini kiba sedang membungkuk meminta maaf berkali-kali, ia benar-benar tidak sengaja membuat wajah tampan Shikamaru menjadi memar dan merah karena terbentur keras pintu lokernya.
'Semua ini gara-gara pintu loker sialan ini'
"Kau—" geram Shikamaru sambil mengepalkan tangannya, ada aura hitam menakutkan disekitar tubuhnya.
"KURANG AJAR!" Shikamaru menarik kasar kerah kemeja Kiba dan sebelah tangannya melayangkan tinjunya tepat kearah wajah Kiba. Melihat Shikamaru akan menghajarnya—Kiba menutup matanya erat.
Namun sayang—bel tanda dimulainya pelajaran tambahan sudah berbunyi dan membuat Shikamaru terkejut—ia mengurungkan niatnya untuk memukul Kiba namun sebelah tangannya masih mencengkram kerah kemeja milik Kiba.
'Sial—mengganggu saja' Shikamaru menatap marah pada alat pengeras suara yang terletak didinding ruang loker. Merasa Shikamaru lengah—Kiba dengan berani menggigit lengan Shikamaru dengan keras, hingga dipastikan akan meninggalkan bekas gigitan di lengannya.
"Akkkhh!" erang kesakitan Shikamaru saat ia melihat Kiba menggigit lengannya dengan keras, seketika Shikamaru langsung mendorong kepala Kiba—hingga tubuh Kiba sedikit terhuyung.
"Akhh—sakit sekali!" sambil meringis kesakitan Shikamaru memijat lengannya. Tanpa pikir panjang Kiba langsung berlari meninggalkan Shikamaru yang masih kesakitan karena ulahnya, saat ia hampir jauh dari Shikamaru—Kiba berbalik melihat Shikamaru.
"Maaf" gumamnya pelan sambil kembali berlari menuju kelas tambahannya dan menghindari Shikamaru tentunya.
Sementara itu Shikamaru masih meringis kesakitan namun ia tak mau berlama-lama ditempat itu karena bel tanda masuk kelas tambahan sudah dimulai, ia memunguti bukunya yang berjatuhan tadi.
"Awas kau nanti—jika bertemu dia lagi, akan ku bunuh kau seketika itu juga" gumam Shikamaru pada dirinya sendiri. Saat ia mengambil buku terakhirnya dilantai—Shikamaru melihat ada benda mengkilap terselip dibawah bukunya. Merasa penasaran—Shikamaru memungutnya dan ternyata itu adalah kartu pelajar milik Kiba. Shikamaru menyeringai lebar saat ia tahu siapa pemilik kartu pelajar itu.
"Inuzuka Kiba—mati kau sekarang"
Saat Shikamaru akan menuju kelasnya—ia bertemu dengan Neji yang sepertinya sudah mau pulang.
"Neji—sudah mau pulang?" sapa Shikamaru sambil menepuk bahu Neji pelan.
"Tentu saja—kau masih mengikuti kelas tambahan? Astaga kau ini—otak mu itu sudah terlalu pintar. Lama-lama otak mu bisa konslet kalau kau terus memaksa otakmu bekerja terlalu keras" kata Neji sambil sedikit bergurau dan Shikamaru hanya tertawa renyah menanggapi gurauan sahabatnya ini.
"Apa boleh buat—pulang ke rumah juga tidak ada siapa-siapa dan sepi, jadi lebih baik aku ikut kelas tambahan dari pada mati bosan di rumah" jelas Shikamaru sambil akan berlalu pergi.
"Aku ke kelas dulu" pamit Shikamaru dan Neji hanya memandangi punggung Shikamaru sambil bergumam tidak jelas.
"Lama-lama kepala mu bisa botak kalau terus-terusan ikut kelas tambahan setiap pulang sekolah, lagi pula otaknya sudah jenius—untuk apa ikut kelas tambahan yang membosankan seperti itu. Dasar rusa aneh" setelah itu Neji meninggalkan sekolah dan pulang menuju rumahnya.
.
.
.
(Kiba POV)
"Akhirnya aku selamat" gumam ku pelan sambil berjalan menuju ruang kesenian untuk mengikuti kelas tambahan. Di Konoha Gakuen—terdapat beberapa kelas tambahan yang sering diikuti oleh beberapa siswa sekolah setelah sepulang sekolah, mungkin seperti kegiatan ekskul. Sementara aku sendiri sangat senang dengan kelas melukis, mungkin setelah lulus dari SMA—aku berencana akan melanjutkan sekolah seni di Paris. Saat aku akan sampai diruang kesenian—aku bertemu dengan Yamanaka Ino, teman masa kecil ku.
"Ino" aku menyapanya sambil melambaikan tanganku kearahnya, saat aku memanggilnya—Ino menatap ku dengan tatapan sebal. Merasa tidak mengerti—aku berjalan menghampirinya.
"Kenapa wajah mu kusut begitu?" tanyaku sambil memperhatikan wajahnya.
"Aku marah padamu—Kiba" Ino sedikit mendorong bahu ku—merasa tidak mengerti, aku mengerutkan alisku.
"Aku—tidak mengerti maksudmu?" tanya ku sambil memiringkan kepala ku.
"Kau kan yang memberi tahu Jugo hari ulang tahun ku—sejak tadi dia terus mengikuti ku dan terus menanyakan hadiah apa yang aku suka, aku terganngu tahu" bentak Ino dengan nada sedikit tinggi dan membuat beberapa siswa memperhatikan kami.
"Aku tidak memberi tahukannya—lagi pula kaukan memang populer dikalangan anak laki-laki jadi siapapun pasti tahu ulang tahunmu" jelasku sambil menatpnya serius. Mendengar dirinya disebut 'populer'—Ino sedikit sumringah.
"Ah—kau bisa saja, aku tidak sepopuler itu" Ino memukul bahuku pelan sambil berlagak malu-malu, melihat tingkahnya—membuatku muak.
'Menjijikkan sekali'
"Tapi tetap saja aku tidak suka—lain kali jangan memberi tahu siapapun tentangku, kecuali jika orang itu tampan seperti Flower Paradise—baru boleh kau bicara tentang aku didepannya" Ino mengedipkan sebelah matanya genit, kemudian dia menyerahkan tas selempangnya dan beberapa bukunya pada ku seenaknya.
"Tolong bawakan~" manjanya.
"kau tahukan—aku tidak bisa membawa barang-barang yang berat, lagi pula kuku baru saja dicat" lanjutnya sambil melenggang pergi tanpa memperdulikan aku yang keberatan dengan tas dan setumpuk buku-bukunya.
Melihat kelakuannya yang tidak berubah—aku hanya menghela nafas panjang dan berjalan masuk menuju ruang kesenian, disana kulihat Ino sudah duduk dengan tenang dengan beberapa geng gadis-gadisnya. Beginilah nasibku—selalu jadi pesuruh Ino, apakah ini yang disebut dengan 'teman'. Setelah meletakkan barang-barang Ino dimejanya—aku bergegas menuju mejaku yang terletak paling ujung, setelah itu aku mengeluarkan buka sketsa ku dan sedkit menggambar sebelum pelajaran dimulai.
Ino dan aku sudah berteman sejak kelas 3 SD—dulu dia tidak seperti ini, saat pertama kali mengenalnya—Ino adalah gadis yang pemalu dan cengeng. Sebagai murid yang baik—aku mengajaknya bermain waktu itu dan akhirnya membuat kami dekat. Entah sejak kapan—aku mulai menyukainya, Ino adalah cinta pertamaku. Senyumnya yang manis dan selalu perhatian padaku. Saat kami sudah menginjak remaja—sedikit-demi sedikit, Ino berubah menjadi gadis yang manja dan sombong. Mungkin karena dia anak semata wayang jadi dia agak manja tapi yang aku tidak suka adalah sifat sombong dan angkuhnya. Dulu ada salah seorang teman kami di SMP yang mempunyai wajah yang menurutku dia tidak jelek tapi bagi Ino—gadis itu sangat jelek dan bertubuh agak gemuk, setiap hari—dia dan teman-teman gengnya membullynya. Aku benar-benar tidak tahan dengan kelakuannya, hingga aku memarahinya dan membuat kami bermusuhan selama 3 bulan penuh. Suatu ketika gadis gemuk itu sakit hati dengan Ino, hingga sebuah peristiwa menakutkan terjadi. Satu persatu teman Ino mati dibunuh oleh gadis gemuk itu dan akhirnya hanya Ino yang berhasil selamat, beruntung saat itu aku menyelamatkannya. Kemudian ayah Ino menyuruhku untuk menjaganya, dan beginilah sekarang. bukannya menjaga Ino—aku malah dijadikan pesuruh olehnya.
Kiba ini, Kiba itu, belikan ini-itu, bawakan barangku, catkan kuku ku, semir sepatu ku, atau buatkan pr ku. Menyebalkan, dia benar-benar membuatku muak. Ingin sekali aku mengakhiri semua ini, aku sudah bosan hidup sebagai bayang-bayang Ino. Tapi setiap kali aku menolak keinginannya—dia akan mengadu pada ayahnya dan ayah Ino akan mengadu ke ibu, dan membuatku kena marah. Perusahaan ibuku berdiri dibawah kekuasaan perusahaan Yamanaka. Ibuku bahkan bilang begini "Kau harus selalu baik terhadap Ino-chan, kau tahu perusahaan kita sangat bergantung pada perusahaan keluarga Yamanaka".
Selalu karena perusahaan—apa ibu lebih mementingkan perusahaannya dari pada harga diri anaknya. Keterlaluan.
"Huuf" aku menghela nafas panjang setiap kali mengingat kata-kata ibuku. Aku melihat kearah Ino yang masih bercengkrama dengan geng gadis-gadisnya kali ini ada beberapa siswa laki-laki yang bergerombol didekat mereka.
Sejenak—aku mengingat masa kecil ku dengan Ino yang masih polos dan tidak seperti sekarang, kemana perginya Ino yang cengang dan manis itu—kenapa sekarang dia berubah jadi gadis yang menyebalkan seprti ini. Aku membencinya—sangat benci, sekarang—rasa suka ku padanya sudah pudar.
'Aku harus mengakhiri semua ini—aku tidak mau menjadi bayang-bayangnya lagi'
Ini adalah tekat ku, tidak mungkin seumur hidup ku menjadi pesuruh Ino seperti ini, apa kata orang nanti.
"Baiklah! Setelah kelas ini selasai—aku akan mengatakannya pada Ino" gumamku sambil mengeluarkan keberanian ku.
(End POV)
-ooOOOoo—
Jam menunjukkan pukul 6 sore.
Diarea tempat parkir—Shikamaru sedang bersiap untuk pulang, dia menyalakan mobil sport berwarna coklat dan menjalankan mobilnya keluar tempat parkir.
Saat akan melajukan mobilnya keluar gerbang sekolah—tiba-tiba seorang gadis melintas dan hampir tertabrak olehnya, beruntung Shikamaru saat itu tidak melaju dengan kencang. Gadis itu hanya tersenggol sedikit oleh mobil Shikamaru, meski hanya tersenggol—gadis itu tidak beranjak dari depan mobil Shikamaru. Gadis itu malah menendang bemper depan mobilnya sambil marah-marah tidak jelas, melihat mobil kesayangannya ditentang dengan tidak elite—Shikamaru turun dari mobil sport mewahnya dengan perasaan marah.
"KENAPA KAU MENENDANG MOBIL KU SEPERTI ITU!" bentak Shikamaru sambil berdiri didepan gadis iti. Melihat siapa yang berada dihadapannya—gadis itu menjadi menciut.
"A..aku" gagap gadis itu sambil menundukkan kepalanya takut-takut.
"INO!" tiba-tiba Kiba berlari kecil menghampiri Shikamaru dan gadis itu yang ternyata adalah Ino.
"Ki..kiba~" rengek Ino manja sambil berlari dibelakang Kiba.
"Sedang apa kau?" tanya Kiba pada Ino sambil mengemati wajah ketakutan Ino.
"Dia menendang-nendang mobil ku" kata Shikamaru marah sambil mendelik kearah Ino yang semakin sembunyi dibelakang Kiba. Merasa familiar dengan suara berat dibelakangnya—tubuh Kiba berubah menjadi kaku dan tegang.
Glup
Kiba menelan ludah paksa dan dengan gerakan patah-patah—Kiba membalikkan badannya kearah Shikamaru. Shikamaru sedikit terkejut—ternyata remaja didepannya adalah orang yang sudah melukai lengannya hingga meninggalkan bekas jelak dan sedikit membiru.
"KAU!" bentak Shikamaru marah sambil mencengkram lengan Kiba yang terlihat kecil digenggamannya.
"Huaa—lepaskan aku" Kiba berontak sambil berusaha lepas dari cengkraman Shikamaru.
"Ki..kiba" melihat Kiba dicengkram oleh Shikamaru—Ino mendadak jadi sedikit gemetaran karena ketakutan. Shikamaru melihat kearah Ino dengan geram—kemudian ia juga mencengkram lengan Ino dengan kasar dan membuat Ino meringis kesakitan. Kiba melihat Ino hampir menangis—ia benar-benat tidak tega melihat Ino kesakitan dan terlihat ketakutan.
"Kalian berdua ikut aku—sekarang mood ku sedang buruk, jadi terimalah hukuman kalian" Shikamaru menarik kasar lengan Ino dan juga menarik kerah kemeja Kiba.
"Lepaskan" berontak Ino sambil memandang kearah Kiba dengan memelas seakan meminta tolong, padahal Kiba sendiri juga berada diposisi yang sama dengan Ino—ia juga ketakutan. Merasa kasihan pada Ino—Kiba menggenggam tangan Shikamaru yang berda di kerah kemejanya dan otomatis menghentikan langkah mereka bertiga sejenak.
"APA!" bentak Shikamaru saat Kiba sedikit menarik tangannya yang masih berada dikerah kemeja remaja berkaca mata tebal itu.
"Ino—setelah aba-aba ku larilah dan ambil mobil mu, aku akan menunggumu disini" bisik Kiba pada Ino—Ino yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kalian ini sedang apa—akhh" pekik Shikamaru saat dengan tiba-tiba Kiba memelintir pergelangan tangannya, hingga membuat tangan Shikamaru tertekuk kebelakang.
"INO LARI!" perintah Kiba, dan seketika Ino melesat menuju mobilnya—beruntung Kiba dulu pernah ikut klub karate jadi dia sedikit bisa gerakan bela diri.
"Sialan kau" Shikamaru mengarahkan kepalanya kedepan dan dengan gerakan cepat ia arahkan kepalanya kebelakang.
Dug
Sundulan kepala Shikamaru berhasil membentur kening Kiba dengan keras dan membuat Kiba melepaskan pitingannya pada pergelangan tangan Shikamaru.
"Akhh" erang Kiba sambil memegangi keningnya yang nyut-nyutan.
"Jadi sekarang kau merasa hebat-MEREPOTKAN" dengan geram Shikamaru meninju tepat dirahang Kiba dan membuatnya tersungkur.
"Aku tidak akan kalah dari mu" Kiba balas meninju Shikamaru namun sayang—Shikamaru dapat menghindar.
Saat Shikamaru dan Kiba saling berkelahi—tiba-tiba sebuah mobil melesat kencang kearah mereka. Kiba tahu siapa pemilik mobil itu—itu adalah mobil milik Ino.
Sesuai rencana—Kiba akan menahan Shikamaru dan akan kabur bersama Ino dengan mobilnya, tapi sayang saat ini mobil Ino melaju sangat kencang.
'I..Ino'
Saat mobil Ino berjarak hanya beberapa meter—Kiba langsung melambaikan tangannya agar Ino berhenti, namun mobil Ino sama sekali tidak berhenti—malahan terlihat semakin kencang lajunya.
"Gawat" guman Kiba pelan. Sementara itu Shikamaru masih memandang sengit kearah Kiba—nampaknya dia belum sadar jika ada mobil yang mengarah kearahnya dengan kecepatan tinggi.
"AWAS!" pekik Kiba saat mobil Ino hampir manabrak dirinya dan Shikamaru—dengan sigap ia mendorong tubuh Shikamaru kesamping dan sialnya malah membuat Kiba terserempet oleh mobil Ino.
"Akh!" teriak Kiba saat dirinya tersungkur ditanah. Melihat Kiba tersungkur ditanah—Shikamaru menghampirinya.
Shikamaru berjongkok didepan Tubuh Kiba yang tergeletak, ia melihat kaki Kiba terdapat rembesan darah dan yang paling parah adalah luka ditangan telapak kanannya juga dilangannya yang mengeluarkan darah banyak.
"Aduh bagaimana—ini" Shikamaru tidak tahu harus berbuat apa—ia malah terlihat kebingungan.
"Jangan diam saja—tolong aku bodoh" teriak Kiba tepat di wajah Shikamaru yang saat ini masih kebingungan harus berbuat apa.
"I..iya—" Shikamaru menarik tangan kanan Kiba—niatnya sih biar Kiba bisa berdiri, tapi dasar Shikamaru o'on—mana bisa Kiba berdiri jika salah satu kakinya terluka dan lagi ia malah menarik lengan Kiba yang sepertinya terkilir.
"ADUUH! Dasar bodoh—kau menarik tangan yang salah" Kiba memukul kepala Shikamaru dengan keras—kemudian Kiba mengulurkan tangan kirinya pada Shikamaru.
"Ma..maaf kan aku" saat ini Shikamaru sangat kikuk, tidak seperti biasanya. Shikamaru membantu Kiba berdiri dengan menarik pelan tangan kirinya sambil memegangi pinggang Kiba—agar ia berdiri dengan baik. Karena kaki kiri Kiba terluka—saat akan mencoba berjalan dengan amsih dipapah oleh Shikamaru, ia sedikit terhuyung—beruntung Shikamaru memegangi pinggang kecil Kiba hingga tidak sampai terjatuh.
"Kau tidak bisa jalan?" tanya Shikamaru sambil melihat Kaki kiri Kiba yang terdapat rembesan darah yang makin banyak dan kali ini menetes sampai ketanah.
"Mata mu buta—tentu saja aku tidak bisa jalan, kau bisa lihatkan kaki ku terluka" bentak Kiba sambil menunjuk ke kakinya. Merasa kasihan dengan Kiba yang terluka —Shikamaru tiba-tiba menyelipkan tangannya kelipatan kedua lutut Kiba.
Hup
Dengan sangat mudah—Shikamaru menggendong Kiba ala pengantin, Kiba sedikit terkejut dengan tindakan Shikamaru yang tiba-tiba dan membuatnya sedikit blushing.
"A..apa yang kau lakukan" Kiba berontak digendongan Shikamaru, ia benar-benar merasa malu sekarang.
"Diamlah bodoh—jangan berontak terus, nanti kau bisa jatuh" bentak Shikamaru keras dan alhasil membuat Kiba diam.
"Menyebalkan" sungut Kiba sambil menundukkan kepalanya dalam, beruntung ia memiliki poni yang menutupi sebagian wajahnya dan mungkin bisa menutupi rona merah muda dipipinya.
Dengan susah payah—Shikamaru membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Kiba di bangku depan sementara Shikamaru berada di bangku kemudi.
"Kita akan ke rumah sakit dulu" kata Shikamaru sambil menyalakan mobilnya.
"Eh! Tidak usah—ini hanya luka kecil" tolak Kiba sambil membuka pintu mobil Shikamaru namun dengan gerakan cepat—Shikamaru menahan tangan Kiba lembut.
"Luka kecil kepala mu—lihat darah di kakimu banyak sekali" tunjuk Shikamaru khawatir pada kaki Kiba yang terlihat banyak darah merembes dicelananya dan sepertinya darah Kiba juga mengotori karpet mobil Shikamaru.
"Lagi pula—aku berhutang nyawa padamu" sambil tersenyum hangat—Shikamaru mengelus rambut Kiba dengan lembut. Melihat senyum Shikamaru—tiba-tiba membuat jantung Kiba berdegup kencang dan wajahnya memanas.
"Terserah kau" ucap Kiba pelan sambil menyingkirkan tangan besar Shikamaru yang berada dikepalanya.
Tanpa membuang waktu—Shikamaru melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, namun diantara konsentrasinya untuk mengemudi—Shikamaru sedikit mencuri pandang kearah Kiba yang ternyata masih menundukkan kepalanya sambil memijat telapak tangan kanannya yang terluka dan banyak mengeluarkan darah. Tiba-tiba wajahnya memanas—saat tanpa sadar matanya menatap bibir merah Kiba.
'Hey! Shika—apa yang kau pikirkan'
Masih dalam keadaan mengemudi—Shikamaru mencoba fokus pada jalanan, namun tetap saja—remaja yang ada disampingnya membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
Satu jam kemudian—mobil Shikamaru sudah berada diarea parkir rumah sakit, sebelum ia dan Kiba memasuki gedung rumah sakit—Shikamaru terlihat sedang menghubungi seseorang dari ponselnya. Tidak lama datanglah seorang dokter muda yang berlari kecil menghampiri Shikamaru, wajah dokter muda itu hampir mirip dengan Shikamaru.
"Lebih baik kau bawa dia keruangan ku" Kiba sedikit menguping pembicaraan Shikamaru dan dokter itu, setelah percakapan pendek itu—Shikamaru kembali menggendong Kiba ala pengantin dan itu membuatnya tambah malu karena semua orang yang berada dirumah sakit itu memperhatikannya.
(Skip time)
Luka-luka Kiba sudah diobati dan diperban oleh dokter itu yang ternyata adalah kakak kandung Shikamaru—Nara Haru, dia seorang dokter di rumah sakit ini.
"Apa kau seorang pelukis?" tanya Haru saat mengobati luka disela jari-jari Kiba.
"Bukan—tapi aku suka melukis dan aku masih pemula" jawabnya pelan sambil menahan sakit ditangannya.
"Pantas saja—jari-jari mu sangat bagus, ibu kami juga seorang pelukis tapi sudah lama dia tidak melukis lagi karena mengikuti ayah ku berpetualang keliling dunia" jelas Haru panjang sambil tersenyum lembut kearah Kiba. Shikamaru yang melihat kakaknya terus memegang tangan Kiba, menjadi sebal.
"Hei sudah belum sih—ngobatin gitu aja lama sekali" sungut Shikamaru sambil berjalan mengampiri Kiba yang duduk diranjang rumah sakit, sedangkan Haru masih mengobati luka Kiba dengan beberapa obat dimejanya.
setelah selesai—Haru menyuruh Kiba untuk menginap dirumah sakit dan ia akan bertanggung jawab atas biayanya selama di rumah sakit. Awalnya Haru ingin memberitahu keluarga Kiba, jika putranya sedang berada dirumah sakit—namun Kiba memohon pada Haru agar tidak memberi tahukan keadaannya pada ibunya.
Harupun membiarkan Kiba untuk beristirahat dan sepertinya lukanya tidak terlalu parah, jadi mungkin besok dia bisa pulang. Shikamaru dan Haru keluar dari kamar Kiba.
"Tumben sekali kau peduli pada orang lain—katakan sejak kapan?" tanya Haru dengan nada menggoda pada adiknya.
"Apa?—aku hanya menolongnya karena dia sudah menyelamatkan hidupku" jelas Shikamaru sambil kearah lain—samar-samar Haru bisa melihat ada semburat pink dikedua pipi adiknya.
"Pembohong—katakan saja kau menyukainya" sambil menggoda Shikamaru—Haru membentuk jemarinya berbentuk 'love'.
"E..enak saja—aku ini masih normal, sudahlah aku mau pulang dulu" dengan muka merah padam—Shikamaru meninggalkan Haru yang masih berada ditempatnya semula sambil tersenyum penuh arti.
'Mana mungkin aku menyukainya—merepotkan'
.
.
.
Disebuah rumah sederhana—terlihat seorang pria sedang melahap makanannya bersama seorang remaja pirang didepannya, mereka terlihat bahagia dan saling bercanda satu sama lain.
"Bagaimana sekolah mu? Kau tidak mendapatkan masalah dari Uchiha itukan?" tanya Umino Iruka—paman angkat Naruto. Mendengar nama 'Uchiha' disebut—mata Naruto langsung mendelik.
"Ti..tidak ada kok paman—aku sudah menyelesaikan urusan ku bersama si Uchiha itu" kata Naruto bohong sambil kembali melahap makanannya.
"Jangan bohong—tadi aku sempat dapat telepon dari kepala sekolah, jika kau berkelahi dengan Uchiha Sasuke. Benarkah itu?" pertanyaan Iruka benar-benar memojokkan Naruto. Naruto memang buruk dalam berbohong—dengan muka pucat, akhirnya Naruto mengakui kejadian tadi siang disekolah dan seperti biasa—Iruka Marah besar.
"Tapi itu bukan murni kesalahan ku—tadi Dei-nii—" belum selesai Naruto bicara tiba-tiba Iruka memotongnya.
"Aku sudah tahu tentang Deidara—dia pulang dari rumah sakit dan keadaannya sudah membaik, harusnya kau bisa mengendalikan dirimu Naru—paman tidak mau melihatmu terluka" Iruka berdiri dari kusrinya dan membereskan piringnya.
"Iya-iya, aku mengerti paman" kata Naruto sambil ikut membereskan piringnya dan mencucinya dengan bersih.
Setelah acara makan malam bersama Iruka selesai—Naruto kembali kedalam kamarnya yang letaknya ada dilantai dua, kemudian ia bergegas mengerjakan PRnya yang sudah akan memulai mengerjakan Prnya tiba-tiba Iruka masuk kedalam kamarnya, sambil terengah-engah.
"Naruto—biasakah kau turun sebentar, ada yang ingin bertemu dengan mu" tanpa menunggu jawaban Naruto—Iruka menarik lengan Naruto dan membuatnya keluar dari kamar.
"Paman—ada apa sih?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Sudahlah nanti kau akan tahu" Iruka terus menyeretnya menuruni tangga—tak lama setelah sampai diruang tamu, Iruka melepaskan tangannya dari Naruto.
Terlihat beberapa orang berdiri diruang tamu rumah Iruka—dan dari beberapa orang yang berdiri itu ada satu orang yang duduk dikursi roda dan Naruto mengenalnya.
"Naruto" panggil orang itu lemah—wajahnya sangat pucat dan tubuhnya terlihat kurus, bahkan pipinya terlihat kempot.
Naruto membelalakkan matanya tak percaya—orang yang selama empat tahun ini ia hindari, kini berada dihadapannya dengan kondisi yang begitu menyedihkan.
"A..ayah" suara Naruto terlihat bergetar, ia menahan air matanya yang hampir tumpah. Tubuhnya gemetar, ia tak pernah menyangka jika akan bertemu dengan ayahnya dengan kondisi seperti ini.
"Naruto" dengan suara serak dan lemah—Minato memanggil putranya sambil mengulurkan tangan kurusnya pada Naruto. Air matanya tumpah—Naruto berjalan kearah ayahnya dan ia bersujud untuk mensejajarkan posisinya dengan sang ayah yang duduk di kursi roda.
"Ke..hiks kenapa dengan keadaan ayah—kenapa jadi hiks..seperti ini" Naruto menangis sambil memeluk tangan kurus Minato, ia sangat sedih melihat keadaan ayahnya. Semua orang yang berada diruangan itu tiba-tiba ikut menangis melihat pertemuan Naruto dan Minato yang begitu mengaharukan, bahkan Iruka ikut menangis.
"Naru-chan" panggil seorang wanita sambil menepuk pelan bahu Naruto.
"Nee-chan hik.." sambil sesenggukan—Naruto memeluk kakaknya, Namikaze Shion.
"Kau sudah sebesar ini Naru" seorang pria dengan membawa seorang anak kecil digendongannya juga ikut memeluk Naruto—dia adalah suami Shion beserta Akamaru, anak semata wayang dari Shion dan suaminya.
Setelah memeluk Shion dan kakak iparnya—Naruto kini memeluk ayahnya erat, ia merasa sangat bersalah dan sedih. Setelah lama ia tidak melihat sang ayah—ternyata saat bertemu, Minato dalam keadaan seperti ini.
"Sebenarnya—kenapa dengan ayah?" tanya Naruto pada kakaknya—saat mendengar Naruto menyebutnya ayah—Minato tersenyum bahagia sambil menangisterharu, sudah lama ia tidak mendengar putranya memanggilnya dengan sebutan 'ayah'.
"Ayah mengalami kelumpuhan, tapi kata dokter—ayah bisa sembuh dan kembali berjalan lagi, tapi yang jadi masalah—ayah sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk berjalan. Katanya dia ingin bertemu dengan mu dulu, baru dia mau menjalani terapy" jelas Shion panjang sambil mengusap pipi Naruto.
"Jadi—kumohon pulanglah ke Amerika bersama kami" bujuk Shion sambil memelas.
"Tapi—aku" Naruto sedikit berpikir—kemudian ia menatap Iruka dan Iruka membalas tatapan Naruto sambil tersenyum tulus agar ia mau kembali bersama keluarganya ke Amerika. Melihat kondisi ayahnya yang sekarang—mungkin sudah saatnya dia untuk pulang ke Amerika.
"Aku—" sebelum Naruto menyelesaikan kata-katanya—tiba-tiba seorang pria paruh baya datang dan membuat semua perhatian mereka tertuju padanya.
"Apa aku menganggu?" tanya pria itu sambil tersenyum kearah Minato.
"Fugaku—kemarilah" dengan mata yang sayu—Minato menyuruh Fugaku untuk mendekat kearahnya, sepertinya—Minato harus berterima kasih pada sahabatnya ini. Berkat informasi darinyalah—Naruto bisa ia temukan.
"Naruto—perkenalkan ini Uchiha Fugaku" kata Minato pelan. Sepertinya—hari ini Naruto sudah dua kali bertemu dengan orang yang bermarga 'Uchiha', pertama si Uchiha pantat ayan dan sekarang ayahnya.
Sambil mengapus air matanya—Naruto membungkuk hormat pada Fugaku, dan tak berapa lama seorang pria berperawakan tampan dan berambut agak panjang masuk kedalam rumah Iruka.
"Maaf saya mengganggu, saya adalah Uchiha Itachi" tanpa disuruh—Itachi memperkenalkan dirinya sendiri.
'Uchiha lagi—' Naruto mengerutkan dahinya dan dia sedikit celingukkan saat ia melihat ada orang lain berdiri dibelakang Itachi. Melihat kemana arah Naruto melihat—Itachi sedikit menggeser badannya dan kini terlihatlah siapa yang berada dibelakangnya sejak tadi.
"Dia adikku—Uchiha Sasuke" kata Itachi sambil memperkenalkan adiknya seenaknya tanpa disuruh. Merasa namanya disebut—Sasuke lantas membalik tubuhnya dan betapa terkejutnya saat ia melihat beberapa orang berkumpul diruang tamu Iruka.
"Te..teme!" pekik Naruto keras dan membuat semua orang yang berada disitu menjadi terkejut.
"Dobe!" kini Sasuke juga memekik keras saat matanya melihat kearah Naruto. Kemudian mereka saling bertatapan sinis tanpa memperhatiakan keadaan sekitar yang menatap mereka berdua dengan bingung.
Plok
Fugaku menepuk tangannya sekali dan perhatian semua orang mengarah padanya, sedikit berdehem keras—Fugaku melihat kearah Minato sambil menyeringai, sementara Minato memijat keningnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Jadi kalian berdua sudah saling kenal—baguslah kalau begitu, dengan begitu aku tidak usah repot-repot mengenalkan calon kakak iparmu padamu—Sasuke" Fugaku menepuk pundak Sasuke pelan.
"Kakak ipar? Apa maksud mu?" tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya—Sasuke mengerutkan dahinya.
"Naruto itu—" Itachi menggantung kata-katanya, kemudian ia berjalan kearah Naruto dan sesuatu tidak terduga terjadi.
Chu~~
Itachi tiba-tiba mencium pipi Naruto dihadapan semua orang—melihat Naruto dicium oleh Itachi—entah kenapa ada perasaan panas dan marah didalam hati Sasuke yang terdalam.
"Dia—tunangan ku" lanjut Itachi sambil merangkul pundak Naruto.
"APA!" pekik mereka berdua sambil melotot tak percaya.
'Tidak mungkin—kenapa lagi-lagi aku harus berurusan dengan Uchiha, menyebalkan'
Tbc
Saya g bisa membalas semua Review yang ada, tapi saya ucapkan terima kasih banyak.
Dan jangan lupa kembali Rivew saya yah..sampai jumpa di chapter depan~
