PARADISE LOVE
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : PARADISE LOVE
Pairing : SasuNaru, ShikaKiba, NejiGaa
Warning(s) : Boys Love, Typo kemana-mana dan banyak, EYD berantakan masih banyak belajar maklum author baru. Judul nggak nyambung. Pokoknya masih banyak kesalahan.
Catatan : "talk" dan 'mind',
Sasuke, Neji, Shikamaru : kelas 2 sma
Naruto, Kiba, Gaara : kelas 1 sma
Di chapter ini ada karakter baru bernama 'Nara Haru' kakaknya Shikamaru, dia itu laki-laki dan seorang dokter.
Balas review dulu :
Himawari Wia : saya malah suka scene Shikakiba, soalnya jarang ada yang buat FF ShikaKiba jadi maaf saya akan buat banyak csene ini, tapi jangan lupa juga baca scene Sasunarunya dan reviewnya saya tunggu ok! hahaha..terima kasih sudah membacanya dan menyempatkan diri untuk meriview.
trisna : saya ga janji bisa update kilat dan buat semuanya yang pengen update kilat-saya g janji lho yah, nanti kalau update kilat terus ceritanya jelek bagaimana hayoo, mendingan nyantai sedikitlah,saya janji bakal update g lama-lama ok.
Nauchi Kirika - Chan : saya juga g suka scene ItaNaru, disini Itachi seperti mak comblangnya SasuNaru. jadi Itachi g bakal suka sama Naru kok.
yunaucii : Saya usahakan FF ini selesai, mohon doanya saja yah supaya ff ini jadi amiiin
TheBrownEyes'129 : Haru itu saya gambarkan sebagai cowok, masalah Gaara sama Neji euum tunggu aja yah. sabar dan buat yang menunggu NejiGaa sabar ok!, kalau terburu-buru ngebuat NejiGaa nanti hasilnya malah jelek. jadi sabar dulu yah.
Sedikit saja jelaskan tentang bagaimana saya buat FF ini. Sebenarnya begini-kalian para reader pernah lihat Junjou Romantica atau Sekaiichi hatsukoi kan, nah di dalam anime itu terdapat beberapa episode yang menggambarkan beberapa pasangan dengan berbagai masalah percintaan. Dari yang lucu, romantis dan berbagai lika-liku kehidupan cinta mereka, di anime itu-bukan hanya menceritakan kisah cinta pemeran utamanya saja tapi juga menceritakan beberapa pasangan didalamnya. Nah ini menginspirasi saya buat bikin FF ini, mungkin dalam loncatan Chapter-saya niatnya mau buat seperti anime JR dan SHK ini, dimana setiap chapternya ada berbagai macam cerita cinta, ga hanya berfokus pada Sasunaru tapi ada juga beberapa pair-pair kesukaan saya seperti ShikaKIba dan Nejigaa yang akan saya masukkan kedalam FF ini, tapi tenang pemeran utamanya masih Sasunaru (HIDUP SASUNARU ^_^9).
Masalah Kiba, Naruto dan Gaara yang saling kenal atau tidak..euum lihat aja nanti hehe.
Dan-Masalah saya ini cowok atau cewek-euum biarkan jadi rahasia saja, YANG SUDAH TAHU IDENTITAS SAYA-DIAM, biarkan jadi rahasia wkwkwkwkwk (-_-)" *sok misterius!
Maaf buat yang g bisa saya bales Riviewnya-sekali lagi saya ucapakan banyak terima kasih sudah menyempatkan diri buat ngebaca dan meriview FF sederhana ini.
Happy reading!
Chapter 4
Tiga hari setelah kejadian di rumah Iruka (baca chap.3)—Fugaku meminta Naruto untuk tinggal dikediaman Uchiha, awalnya Naruto menolak tapi karena Minato juga memintanya—terpaksalah dia menuruti permintaan Fugaku. Minato sendiri sudah kembali pulang ke Amerika bersama Shion dan suaminya, katanya Minato akan menjalani pengobatan disana sekaligus melakukan terapy penyembuhan untuk kakinya yang lumpuh.
Pagi ini—Naruto sedang bersiap untuk meninggalakan rumah Iruka dan pindah kekediaman Uchiha bersama Itachi yang sudah menjemputnya. Iruka hanya mengantar Naruto sampai depan pagar rumahnya.
"Naruto—jaga dirimu baik-baik, jangan membuat masalah di rumah Itachi-san" kata Iruka sambil memeluk keponakannya yang sudah empat tahun ini ada dalam pengawasannya.
"Aku mengerti paman—paman juga jaga kesehatan, aku akan sering-sering mampir kemari" dengan sedih Naruto berpamitan pada Iruka dan kembali memeluknya untuk yang terakhir kalinya.
"Tenang saja Iruka-san—aku akan menjaga calon tunanganku dengan baik" tiba-tiba dari belakang Itachi melingkarkan lengannya dipundak kecil Naruto dan otomatis membuatnya blushing.
"I..Itachi-nii" karena merasa malu dan tidak terlalu nyaman dengan perlakuan Itachi—Naruto sedikit menjauh dari Itachi sambil menunduk malu. Iruka dan Itachi tertawa bersama saat melihat wajah merah Naruto yang seperti kepiting rebus.
Tak mau membuang waktu—akhirnya mobil Itachi sudah meninggalkan rumah Iruka, sepanjang perjalanan—Naruto dan Itachi saling bercanda gurau. Itachi banyak bercerita tentang dirinya dan kehidupannya dikeluarga Uchiha, tak mau kalah dengan Itachi—Naruto juga banyak bercerita tentang kehidupannya sendiri, bagaimana dia disekolah dan juga awal pertemuannya dengan Sasuke. Sepertinya Itachi tak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengenal Naruto luar dalam, sesuai dugaannya—Naruto itu remaja yang mudah bergaul dan penuh semangat.
Satu jam kemudian—Naruto dan Itachi sudah sampai dikediaman Uchiha yang letaknya dikawasan elite Konoha. Naruto sampai tercengang dengan kemegahan bangunan Uchiha mantion, meski bagunannya bergaya rumah jepang jaman dulu tapi terdapat sedikit gaya eropa klasik didalamnya. Itachi mengajak Naruto untuk masuk kedalam rumahnya dan menyusuri setiap sudut bangunan rumahnya, terdapat beberapa lorong terbuka yang menyambungkan setiap ruangan. Dan dari lorong terbuka itu—naruto dapat melihat sebuah taman luas bergaya jepang kuno, ada juga kolam ikan luas dengan jembatan melintang diatasnya. Benar-benar rumah yang indah.
"Disini kamarmu—beristirahatlah" Itachi menunjukkan letak kamar Naruto dan sebelum Itachi pergi—ia menyerahkan kunci kamar milik Naruto. Saat Naruto sudah masuk kedalam kamar barunya—ia kembali tercengang, kamar miliknya benar-benar luas. Ada sebuah lemari besar dengan dihiasi cermin besar di sudut ruangan, kemudian ada sebuah meja belajar dan sebuah tempat tidur dengan ukuran sedang namun terlihat mewah ada juga tirai berwarna kuning cerah diatasnya.
"Keren" gumamnya sambil berjalan menuju tempat tidur barunya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk itu.
"Nyaman sekali" lama-kemalaan mata Naruto menjadi berat, ditambah dengan efek semilir angin yang datang dari jendela besar dikamarnya—akhirnya Naruto tertidur dengan pulas.
-ooOOoo—ooOOoo—
Tok..tok..tok
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Sasuke, dengan sangat malas—Sasuke turun dari kamar tidurnya dan membukakan pintunya. Terlihat Itachi sedang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Apa?" kata Sasuke ketus sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada bidangnya.
"Naruto sudah sampai dirumah—apa kau tak mau memberinya salam?" kata Itachi sambil menunjuk kepintu kamar Naruto yang tertutup—sekedar info, kamar Sasuke dan Naruto itu saling berhadapan. Mendengar Naruto ada diseberang kamarnya—raut wajah Sasuke berubah cerah.
"Be..benarkah" Sasuke kembali memasang wajah dinginnya untuk menyembunyikan rasa senangnya.
"Hn" Itachi memperhatikan perubahan sikap Sasuke saat dirinya mengatakan Naruto sudah sampai dirumah mereka. Sambil memicingkan matanya kearah Sasuke—Itachi menepuk bahu Sasuke pelan.
"Katakan—sejak kapan?" tanya Itachi sambil memandang wajah Sasuke intens.
"A..apa?" Sasuke sedikit menghindari tatapan aneh Itachi.
"Sejak kapan kau menyukai bocah pirang itu?" lanjut Itachi sambil menggoda Sasuke kali ini.
"Me..menyukai siapa—jangan bicara yang aneh-aneh" sentak Sasuke sambil mencoba menghindar dari Itachi, sepertinya Sasuke sudah sadar arah pembicaraan Itachi itu kemana.
"Kau pikir—kakak mu ini tidak tahu, kalau saat ini adiknya sedang jatuh cinta" sambil tersenyum menggoda—Itachi sedikit mencolek dagu Sasuke dan Sasuke langsung merinding melihat tingkah aneh Itachi.
"Ja..jangan sembarangan—siapa juga yang sedang jatuh cinta, meyebalkan" sungut Sasuke sambil berlalu pergi namun segera ditahan oleh Itachi.
"Satu bulan—" Itachi menggantung kalimatnya sambil tangannya menunjuk angka satu, dan hal itu membuat Sasuke tidak mengerti.
"Satu bulan lagi—acara pertunanganku dan Naruto. Mungkin tidak lama setelah itu—Naruto akan langsung menikah denganku." jelas Itachi.
Mendengar penjelasan Itachi— membuatnya membelalakkan mata dan terkejut dan entah kenapa hati Sasuke merasa tidak rela saat mendengar Naruto akan menikah dengan sang kakak. Sasuke tidak bisa mengatakan apapun—ia hanya diam sambil menatap kakanya.
"Meski dia masih 16 tahun tapi kau tahu sendirikan—laki-laki itu tidak akan bisa hamil, jadi tidak akan jadi masalah jika kami melakukan 'ini-itu' dan ku pikir 'kegiatan' seperti itu tidak akan mengganggunya selama disekolah. Heem! Aku jadi tidak sabar untuk 'memakan' remaja imut itu" Itachi sengaja menggoda adiknya sambil menunjukkan wajah mesumnya dan menjilat bibir atasnya, seakan-akan Itachi sedang membayangkan 'hal-hal yang iya-iya' bersama Naruto—meski itu semua hanyalah pura-pura. Mendengar ucapan fulgar Itachi—tiba-tiba Sasuke menjadi geram, ia benar-benar tidak rela Naruto menikah dengan orang semesum kakaknya.
"Sialan kau" geram Sasuke sambil mengcengkram kaus bagaian atas Itachi dan mendorongnya keras hingga punggung Itachi menabrak dinding. Melihat adiknya terpancing—Itachi menyeringai lebar.
'Ternyata benar—Sasuke memang menyukai Naruto'
"Tidak akan ku biarkan kau 'menyentuh' Naruto" Sasuke menggertakkan giginya sambil masih memojokkan Itachi. Tidak mau berada diposisi yang menyulitkannya untuk bergerak—tanpa disadari Sasuke, Itachi mengepalkan tangannya dan meninju keras perut Sasuke.
"Akh! Sial" ringis Sasuke sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri. Itachi sedikit menyeringai sambil membenarkan kaus hitamnya yang sedikit kusut. Sekilas Itachi melihat Sasuke bersiap melayangkan tinjunya tepat kearahnya namun dengan sigap—Itachi menahan kepalan tangan Sasuke.
"Karena itu—" Itachi memotong kata-katanya sambil menarik kepalan tangan Sasuke, hingga sekarang Sasuke terhuyung kedepan dan menabrak dada Itachi. Dengan sebelah tangannya yang bebas—Itachi memegang dagu lancip Sasuke yang berada tepat didepan wajahnya.
"Aku akan memberimu waktu satu bulan untuk mendapatkan Naruto, jika dalam sebulan kau gagal menjadikan Naruto sebagai kekasihmu—maka Naruto akan menjadi milikku dan kau—tidak boleh mengganggu hubungan kami. Mengerti!" dengan kasar Itachi melepaskan rahang Sasuke sambil melotot tajam kearahnya, kemudian Itachi beranjak pergi dari hadapan Sasuke.
"Sialan kau Itachi—Naruto bukan barang taruhan" seru Sasuke sambil mengejar Itachi dan melayangkan tinjunya—namun saat Sasuke hampir dekat dibelakang Itachi, secara mengejutkan—Itachi melayangkan sebelah kakinya dan tepat saat itu mengenai muka Sasuke. mendapatkan serangan tiba-tiba—Sasuke jatuh terjungkal. Melihat Sasuke tergeletak dilantai—Itachi berjongkok didepan tubuh Sasuke.
"Ini bukan taruhan—tapi persaingan SA-SU-KE, sepertinya aku juga mulai menyukai Naruto—jadi aku juga akan berusaha mendapatkannya, dengan cara apapun—asalkan aku bisa mendapatkan Naruto" seringai Itachi sambil berlalu pergi meninggalkan Sasuke yang masih menatapnya tajam dan mulai bangkit.
"Aku tidak akan kalah—Naruto akan menjadi milikku" sambil mengepalkan kedua tangannya Sasuke hingga buku-buku tangannya memutih. Tanpa Itachi dan Sasuke sadari—ternyata sejak tadi ada yang memperhatikan kegiatan mereka diam-diam.
"Apa tidak apa-apa membuat Sasuke dan Itachi bersaing—Fugaku-sama?" sambil melipat tangannya didepan dadanya—Kakashi terus memperhatikan Sasuke dari jauh.
"Tidak akan apa-apa, lagi pula siapapun yang nantinya bersanding dengan Naruto—aku tidak akan mempermasalahkannya" jelas Fugaku sambil sedikit tersenyum lembut.
'Kau melakukan kerja yang bagus—Itachi'
.
.
.
Malam harinya—saat makan malam tiba, Naruto dengan sungkan duduk dimeja makan bersama Fugaku dan Itachi. Satu persatu para pelayan muncul dengan membawa berbagai macam makanan ditangan mereka dan meletakkannya di meja makan. Baru pertama kali ini—Naruto melihat banyak makanan berjejalan diatas meja makan seperti ini, sambil menelan ludah—Naruto terus memperhatikan satu persatu makan yang tersedia dan tanpa sadar Naruto menghisap pelan sendoknya.
"Kemana Sasuke?" tanya Fugaku pada salah satu pelayan.
"Tuan muda sedang berada didalam kamarnya tuan—apa perlu saya panggilkan?" tawar pelayan itu dan mendapat anggukan setuju dari Fugaku.
"Naruto" panggil Fugaku pada Naruto.
"Iya!" sahutnya sambil masih menghisap pelan sendoknya.
"Makanlah yang banyak—jangan sungkan-sungkan, anggap saja kami sebagai keluargamu juga" kata Fugaku sambil tersenyum hangat pada Naruto.
"Baik paman" sahut Naruto dengan semangat—melihat sifat Naruto yang penuh semangat Fugaku dan Itachi hanya bisa tertawa.
Tak lama—Sasuke datang dengan wajah kusut, sambil menarik kursinya dengan kasar—Sasuke duduk dan posisinya tepat berada didepan Naruto.
"Kenapa dengan wajahmu itu Sasuke?" tanya Itachi sambil memperhatikan wajah adiknya—posisi duduk Itachi ada disamping Sasuke.
"Diam kau—jangan ganggu aku, aku malas bicara denganmu" kata Sasuke sebal sambil menopang dagunya dengan tangannya dimeja makan.
"Sasuke apa kau sakit? Wajahmu terlihat sedikit pucat" Fugaku sedikit khawatir saat melihat wajah Sasuke yang memucat.
"Hn" jawab Sasuke singkat dan tidak jelas sambil meninggikan nada bicaranya—Fugaku mengehela nafas panjang melihat jawaban monoton Sasuke. Melihat wajah Fugaku yang terlihat sedih—Naruto menjadi sebal dengan tingkah Sasuke.
'Ternyata tidak hanya di sekolah dia bertindak menyebalkan seperti ini—di rumahpun dia juga seperti ini, kasihan sekali paman Fugaku'
"Aku sakit atau tidak memang apa urusanmu" sambil melirik tajam kearah Fugaku—Sasuke menancapkan dengan brutal pisau makannya kedalam plahan daging dengan saus diatasnya. Mendapatkan jawaban seperti itu—Fugaku serasa mau meledak, namun ia menahannya. Sepertinya Fugaku tidak mau membuat Sasuke semakin membencinya dan mencoba bersabar dengan kelakuan Sasuke padanya.
"Sasuke—tolong jaga ucapanmu" bisik Itachi sambil memegang pergelangan tangan Sasuke, sepertinya Itachi mengerti perasaan ayahnya dan tidak mau membuat ayahnya marah besar.
"Apa sih" Sasuke meyentak tangan Itachi dan kembali memakan makanannya kembali. Tidak tahan dengan tingkah Sasuke yang menyebalkan—dengan jailnya Naruto menendang tulang kering Sasuke dengan keras, hingga membuat Sasuke meringis kesakitan.
"Akkhh" erang Sasuke sambil masih mengelus Kakinya dan sepertinya dia tahu siapa pelakunya.
"Sasuke—Kau kenapa?" tanya Fugaku dan Itachi bersamaan saat melihat Sasuke meringis kesakitan sambil sebelah tangannya mengelus kakinya dibawah meja.
"Paman sudahlah jangan pedulikan anak manja ini—lebih baik kita makan saja, nanti keburu dingin" tanpa memperdulikan Sasuke yang kesakitan—Naruto mengambil semangkuk sayur dan memberikannya pada Fugaku. Itachi menahan tawanya—sepertinya dia mengerti apa yang terjadi pada adiknya saat ini. Tanpa merasa bersalah—Naruto makan dengan lahapnya dan otomatis membuat Sasuke emosi.
"Hey! Jeruk—kau sengaja melakukannya kan?" bentak Sasuke pada Naruto tiba-tiba dan membuat Fugaku sekaligus Itachi terkejut.
"Apa maksud mu, aku tidak mengerti" jawab Naruto dengan entengnya dan kembali melahap makanannya tanpa memperdulikan Sasuke yang uring-uringan.
"Baraninya kau—akan ku haj—" kata-kata Sasuke terpotong—sesaat setelah ia berdiri dari kursinya—niatnya sih mau menghajar Naruto namun tidak jadi karena secara tiba-tiba Kakashi datang dan dengan sengaja ia memukul kepala Sasuke dengan nampan yang terbuat dari besi aluminium.
Doong
"Ittai~" seketika saja Sasuke duduk kembali ke kursinya sambil meringis kesakitan—ia juga memegangi kepalanya yang nyut-nyutan akibat pukulan nampan yang dibawa oleh Kakashi.
"Paman—kau ini apa-apaan sih!" bentak Sasuke sambil menoleh kebelakang menghadap Kakashi.
"Jangan banyak bicara jika sedang di meja makan—tidak sopan" kata Kakashi sambil masih berada dibelakang Sasuke.
"Tapi—dia yang mulai duluan" tunjuk Sasuke pada Naruto sambil marah-marah.
"Sudahlah—cepat makan saja makananmu" Kakashi dengan kasar memutar kepala Sasuke untuk mengahadap ke piringnya, kemudian Kakashi berjalan menuju kursinya yang tepat disamping Naruto.
Merasa kesal dan moodnya menjadi jelek—Sasuke membanting sendoknya kasar hingga membentur piring dan menimbulkan suara nyaring, setelah itu—Sasuke beranjak dari kursinya dan pergi tanpa banyak bicara. Hilang sudah selera makannya.
Melihat Sasuke beranjak dari meja makan—entah kenapa, Naruto merasa bersalah. Sambil terus melihat Sasuke pergi, tanpa sadar Naruto memiringkan tubuhnya sambil mengikuti kemana arah Sasuke pergi. Saat Sasuke sudah menghilang dari pandangannya—secara otomatis tubuh Naruto miring, hingga ia hilang keseimbangan dan akhirnya terjatuh dari kursinya.
Bruk
"Ittai~" ringis Naruto sambil mengelus pantatnya yang sakit akibat membentur lantai dengan keras.
"Naruto—kau tidak apa-apa?" tanya Fugaku khawatir.
"Ti..tidak apa-apa kok paman—issh" dengan bantuan Kakashi yang mengulurkan tangannya—Naruto kembali duduk di kursinya sambil masih menahan sakit di pantatnya dan juga menahan malu tentunya.
"Makananmu ada di meja—bukan dibawah" kata Kakashi meledek sambil melirik Naruto sebentar.
"Maaf" kata Naruto lirih dan menunduk malu sambil melanjutkan melahap makanannya. Sedikit menahan tawa—Itachi melirik kearah Naruto yang bertingkah aneh dan sepertinya dia tahu kenapa Naruto seperti itu.
30 menit setelah acara makan malam berlangsung—seluruh pelayan sudah membereskan semua sisa makanan dan juga membersihkan meja makan hingga bersih seperti sedia kala.
Sementara para pelayan sedang membersihkan meja makan—dari luar ruang makan, terlihat Naruto sejak tadi celingukan tidak jelas sambil memperhatikan seluruh pelayan yang bekerja membereskan seluruh makanan di meja makan hingga bersih. Salah seorang pelayan membawa sebuah troli dan sepertinya berisis beberapa piring sisa makan tadi, pelayan itu berjalan tepat kearah Naruto.
"Tunggu" cegat Naruto sambil menahan troli yang didorong oleh pelayan tadi.
"Bolehkah makanan ini untuk ku?" tanya Naruto sambil melihat isi di dalam troli itu.
"Jangan Naruto-sama—makanan didalam troli ini sudah menjadi makanan sisa" kata pelayan itu sambil beranjak pergi menuju dapur, namun Naruto kembali menahannya.
"Tapi makanan ini masih layak dimakan—lagi pula tidak baik membuang-buang makanan" sambil sedikit memaksa pelayan itu—akhirnya Naruto berhasil mengambil beberapa lauk didalam troli itu sambil membawanya pergi, namun secara mengejutkan Itachi muncul tidak jauh dari tempatnya.
"Mau kau bawa kemana makanan didlam piring itu?" tanya Itachi dingin sambil memperhatikan Naruto yang membawa bebrapa piring ditangannya. Dengan takut-takut—Naruto menundukkan kepalanya, ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Saat ini wajah Itachi benar-benar menakutkan.
"A..ano—Kupikir, Sasuke belum makan apa-apa malam ini. Jadi—bisakah beberapa makanan ini untuk Sasuke?" kata Naruto gugup sambil masih menunduk takut pada Itachi yang terus memperhatikannya.
'Perhatian sekali dia—kulihat dari gerak-geriknya, bocah kuning ini juga menyukai Sasuke. Sepertinya—aku harus melakukan sesuatu untuk mereka'
Itachi sedikit membuang nafas panjang—dengan kasar Itachi mengambil beberapa piring makanan di tangan Naruto dan meletakannya kembali ke troli, melihat makanan yang tadinya untuk Sasuke diambil—Naruto hanya bisa melihat beberapa piring makananya dengan sedih.
"Sasuke tidak akan mau memakan makanan sisa seperti ini—lebih baik kau ikut denganku" Itachi menarik paksa kaus Naruto dibagian lengannya dan membuat Naruto terpaksa mengikuti Itachi. Tidak sampai sepuluh menit—Naruto sampai disebuah ruangan yang ternyata adalah dapur dan didalam sana beberapa koki rumah tangga sedang sibuk memasak sesuatu—padahal jam makan malam sudah berakhir namun koki-koki itu masih terlihat sibuk sampai sekarang.
"Tunggu disini" perintah Itachi pada Naruto—kemudian Itachi masuk kedalam dapur itu dan berjalan menuju keseorang koki. Tak berapa lama—Itachi keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup tomat panas dan sepiring nasi diatas nampan.
"Bawa ini—" Itachi menyerahkan nampan ditangannya pada Naruto.
"Kenapa hanya semangkuk sup tomat dan nasi?" tanya Naruto bingung sambil menerima nampan yang diberikan Itachi padanya.
"Sasuke itu orangnya pilih-pilih dengan makanan, jika moodnya sedang jelek—suap dia dengan semangkuk sup tomat pasti dia luluh. Euum kau tahu—bisa dibilang dia itu maniak tomat" jelas Itachi sambil tersenyum hangat pada Naruto.
"Ternyata—orang seperti Sasuke bisa juga disuap" ledek Naruto sambil tersenyum jahil.
"Baiklah—aku akan mengantar ini ke kemar Sasuke dulu, dan terima kasih sudah memberi tahuku kelemahan Sasuke" setelah mengatakan itu—naruto beranjak pergi, meninggalkan Itachi yang tersenyum penuh arti.
"Kalau tahu Naruto menyukai Sasuke—kenapa ayah menunangkan ku dengannya!" kata Itachi pada seseorang yang sejak tadi bersembunyi dibelakang dinding dapur.
"Bagaimana yah— sebenarnya aku sudah jatuh hati saat pertama kali melihat Naruto dan ingin menjadikannya sebagai menantuku suatu saat nanti, dulu ku kira dia adalah anak perempuan dan saat itu usianya baru 14 tahun. Wajahnya benar-benar manis saat itu, meski aku melihatnya hanya didalam foto. Tapi suatu ketika—Minato bilang—Naruto itu laki-laki, awalnya aku kecewa—tapi mau bagaimana lagi, aku sudah jatuh hati padanya dan bertekat menjadikannya menantuku. Tapi karena Sasuke sudah mempunyai Karin—sebagai tunangannya, jadi ayah terpaksa menjodohkannya denganmu" jelas panjang Fugaku yang saat ini sudah berdiri disamping Itachi.
"Benar juga—Sasuke sudah mempunyai tunangan" gumam Itachi pelan sambil mengingat sesuatu.
"Tapi ayah—bukankah, Karin dan Sasuke sudah lama tidak berhubungan baik. Kenapa ayah tidak memutuskan pertunangan mereka?" lanjut Itachi.
"Itu urusan Sasuke dan Karin—aku tidak mau ikut campur" setelah mengatakan itu—Fugaku pergi meninggalkan Itachi yang terkejut dengan jawaban enteng ayahnya.
"Jawaban macam apa itu—dasar ayah aneh" sungut Itachi sambil mengikuti Fugaku dibelakangnya.
Sementara itu kembali pada Naruto—dengan berhati-hati Naruto berjalan menuju kamar Sasuke dan tepat saat ia sudah berada didepan kamar Sasuke—tiba-tiba Sasuke keluar dan hampir menabraknya.
"Sedang apa kau?" tanya Sasuke yang terkejut melihat Naruto berada didepan kamarnya.
"Mau kemana kau—rapi sekali" tanya Naruto heran saat ia melihat Sasuke keluar dari kamarnya dengan baju yang rapi.
"Bukan urusanmu—minggir" jawab Sasuke ketus sambil sedikit mendorong tubuh kecil Naruto pelan, beruntung nampan yang dibawanya tidak jatuh.
"Tunggu—kau belum makan malam, setidaknya makanlah sebelum keluar rumah" cegat Naruto sambil berdiri didepan Sasuke—kemudian ia menyodorkan nampan ditangannya pada Sasuke. Melihat ada semangkuk sup tomat panas—Sasukepun akhirnya tergoda dan dengan sigap merebut nampan ditangan Naruto, kemudian membawanya menuju kamarnya. Tidak mau mengganggu acara makan Sasuke—Naruto memutuskan untuk pergi ke kamarnya sendiri, namun sebelum Naruto menuju kamarnya—sedikit ia membuka pintu kamar Sasuke dengan pelan dan mengintip Sasuke yang sedang makan dengan lahapnya. Melihat Sasuke memakan makanannya—entah kenapa ada perasaan bahagia dan lega dihati Naruto, tanpa sadar dia tersenyum sendiri.
'Wajah Sasuke saat makan benar-benar lucu'
Dengan pelan—Naruto kembali menutup pintu kamar Sasuke dan berjalan menuju kamarnya, dan tanpa diduga oleh Naruto—ternyata sejak tadi, Itachi, Fugaku dan Kakashi memperhatikannya secara diam-diam dibalik pintu kamar Itachi yang memang letaknya tidak jauh dari kamar Sasuke dan Naruto. Posisi mereka Saat ini sedang bertumpuk—Itachi ada dibawah sambil berjongkok, sedangkan Fugaku ada diatas Itachi sambil membungkuk rendah dan Kakashi ada diatas mereka berdua (ngertikan maksud saya).
"Sudah semakin jelas" kata Itachi sambil mengarahkan teropong yang dibawanya kematanya.
"Aura itu—adalah aura—" kata Kakashi sambil mengarahkan tangannya tepat kearah Naruto yang belum sadar sedang diamati olehnya.
"Cinta" lanjut Fugaku sambil mengatupkan kedua tangannya didadanya.
"Akhh berat—ayah, paman—menyingkir dari atas tubuhku" ringis Itachi saat merasakan tubuh ayahnya malah bertumpu dipungungnya dan Kakashi juga ikut menumpukan badannya pada badan Fugaku.
"Aduh Itachi—jangan mendorong ayah, hey Kakashi! Jangan menyangga tubuhmu pada ku—berat" eluh Fugaku sambil sedikit menggeser tubuhnya dan mendorong Kakashi pelan.
"Hey! Jangan mendorong ku—" dan tepat setelah acara dorong-dorongan antara Fugaku, Itachi dan Kakashi—dengan tidak elite, akhirnya mereka jatuh tersungkur bersama-sama dan beruntung saat itu keadaan sepi jadi tidak ada yang melihat tingkah bodoh ketiga pria ini.
-ooOOoo—
Jam menunjukkan pukul 11 malam—saat semua orang dikediaman Uchiha beristirahat dengan tenang, secara mengejutkan—ada seorang remaja perempuan berdiri didepan pintu Uchiha mantion. Tak lama seorang pelayan yang mengenal remaja itu—segera membuka pintu rumah Uchiha mantion dan menyuruhnya masuk.
Dengan sangat angkuh—gadis itu masuk kedalam rumah dan berjalan dengan santai menuju tepat kearah kamar Sasuke, sepertinya gadis itu sudah mengenal tata letak Uchiha mantion dengan baik—buktinya dia langsung tahu diamana letak kamar Sasuke berada. Tanpa seijin Sasuke—tiba-tiba gadis itu masuk kedalam kamar Sasuke yang masih terang, dan tanpa disadari oleh Sasuke tentunya. Saat ini Sasuke sedang mengerjakan beberapa Prnya yang sempat ia lupakan tadi, dari belakang—tiba-tiba gadis itu memeluk leher Sasuke dengan kedua tangannya dan otomatis membuat Sasuke terkejut. Dengan kasar—Sasuke melepaskan tangan gadis itu dan betapa terkejutnya Sasuke saat mengetahui siapa yang dengan kurang ajarnya memeluknya tadi.
"KAU!" dengan suara tinggi—Sasuke mundur kebelakang sambil menunjuk kearah gadis didepannya.
"Tidak sopan sekali kau menunjukku seperti itu" dengan berkacak pinggang—gadis itu kembali mendekati Sasuke, dan dengan sigap Sasuke segera menghindar.
"Mau apa kau kemari—bukankah kau sudah pergi jauh sekali, kenapa kembali?" bentak Sasuke sambil melotot tajam kearah gadis itu.
"Apa maksudmu—tentu saja aku kemari karena—aku merindukanmu Sasuke" gadis itu berjalan kearah Sasuke dan memeluknya erat.
Mendengar ribut-ribut dari kamar Sasuke—Itachi keluar dari kamarnya dan ia terkejut saat menemukan ada seorang gadis yang memeluk Sasuke dengan erat. sementara itu Naruto juga keluar dari kamarnya begitu mendengar keributan dari kamar Sasuke—ia juga sama terkejutnya dengan Itachi saat itu dan entah kenapa saat melihat Sasuke dipeluk oleh seorang gadis—jauh dilubuk hatinya ada perasaan tidak rela yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Karin!" panggil Itachi pada gadis itu yang ternyata bernama Karin.
"Itachi—nii" Karin melepaskan pelukannya pada Sasuke dan bergantian memeluk Itachi.
"Lama tidak bertemu" kata Itachi sambil melepaskan pelukannya pada Karin. Saat Karin juga melepaskan pelukannya pada Itachi—tiba-tiba matanya menatap kearah Naruto yang berdiri tepat dibelakang Itachi. Melihat kemana arah mata Karin—Itachi sedikit tersenyum , kemudian dia menyeret pelan tangan Naruto dan memeluk bahu kecil Naruto.
"Oh iya! Kenalkan—dia Namikaze Naruto, tunanganku" kata Itachi sambil merapatkan pelukannya pada bahu Naruto.
"Tunangan?" dengan mulut menganga lebar—Karin benar-benar terkejut dengan ucapan Itachi, dengan pandangan tidak suka atau lebih tepatnya cemburu—Karin mendelik kearah Naruto. Melihat Karin menatap tajam kearahnya—Naruto balik menatap tajam kearah Karin.
"Tapi tunggu sebentar—dia inikan laki-laki, masa Itachi-nii bertunangan dengan laki-laki sih—aneh" ejek Karin sambil memperhatikan Naruto dari ujung atas sampai bawah. Merasa tidak terima—Naruto berjalan mendekati Karin sambil melotot tajam.
"Aneh katamu—memang salah jika laki-laki bertunangan dengan laki-laki juga" Naruto berdiri menantang pada Karin dan terlihat tinggi mereka hampir juga hampir sama.
"Tentu tidak—tapi kalau laki-laki sepertimu bersanding dengan Itachi—nii akan terlihat sangat aneh, lagi pula kau ini pendek—jangan-jangan kau sebenarnya seorang gadis yang menyamar menjadi lelaki" ejek Karin sambil memperhatikan tinggi badan Naruto yang terlihat pendek dari pada Sasuke dan Itachi.
"Enak saja—aku ini laki-laki tulen, kau mau bukti!" Kata Naruto sambil menantang Karin, kemudian dia dengan gerakan cepat—membuka satu per satu kancing piyamanya. Melihat Naruto akan membuka bajunya didepan Karin—dengan cepat Sasuke berlari kecil kearah Naruto dan menghentikannya sebelum Naruto benar-benar telanjang dada didepan Karin dan juga Itachi.
"Sudahlah dobe—jangan dengarkan ucapannya" bujuk Sasuke sambil menutup tubuh bagian atas Naruto.
"Apa sih teme—minggir, aku mau buktikan pada gadis itu—kalau aku ini laki-laki tulen" Naruto sedikit menyingkirkan tubuh Sasuke yang mengahalanginya, namun kembali Sasuke menghentikannya lagi. Itachi memutar bola matanya dengan bosan saat melihat pertengkaran tidak penting antara Sasuke, Naruto dan Karin. Ia benar-benar tidak tahan melihatnya.
"CUKUP" bentak Itachi pada ketiga remaja didepannya dan seketika mereka langsung terdiam.
"Sekarang sudah larut malam, Naruto kembalilah ke kamarmu dan kau Karin—aku antar kau ke kamar tamu" kata Itachi galak dan dengan kasar menyeret Karin keluar dari kamar Sasuke secara paksa dan akhirnya mereka meninggalkan Sasuke dan Naruto berdua dikamar.
"Kenapa dia kembali kesini" guman Sasuke sambil sedikit menyisir rambut hitamnya, perasaannya benar-banar kacau. Sementara itu Naruto—menatap Sasuke dengan wajah bingung.
"Gadis itu—siapa?" tanya Naruto. Mendengar Naruto bertanya—Sasuke sedikit melirik kearah Naruto yang amsih berdiri didepannya.
"Danzo Karin" jawabnya singkat sambil berjalan menuju meja belajarnya dan kembali mengerjakan Prnya yang tertunda.
"Tunangan Sasuke" tiba-tiba dari belakang—Itachi sudah bersandar pada tiang pintu kamar Sasuke sambil melipat tangannya didadanya.
"Tu..tunangan" guman Naruto lirih sambil memebelalakkan matanya tidak percaya saat mendengar kata-kata Itachi. Sambil menundukkan kepalnya—Naruto berjalan dengan lemas menuju kamarnya, ada perasaan terluka dan sedih saat mendengar Sasuke sudah mempunyai tunangan. Dengan pelan—Naruto menutup pintu kamarnya dan seketika tubuhnya merosot kebawah sambil memegangi dadanya yang entah kenapa terasa sangat sakit.
'Ada apa dengan ku? kenapa—kenapa rasanya begitu sakit, disini'
Sementara itu dikamar Sasuke—Itachi menatap pintu kamar Naruto yang sudah tertutup, entah kenapa Itachi bisa merasakan ada perasaan sedih pada diri Naruto.
'Sepertinya ini akan semakin menarik' tanpa disadari Sasuke—Itachi menyeringai lebar.
"Tidur yang nyenyak yah—Sasuke" sambil pura-pura menguap—Itachi meninggalkan Sasuke didalam kamarnya, dan ia yakin saat ini perasaan Sasuke pasti sedang kacau. Setelah Itachi maninggalkan kamarnya dan menutup pintu—Sasuke bangkit dari kursinya, ia berjalan dengan gontai menuju tempat tidurnya.
"Apa yang harus aku lakukan" gumamnya lirih sambil merebahkan badannya diatas kasur empuk miliknya.
.
.
.
Ke esokan harinya
Didalam kamar—Naruto sedang berdiri didepan sebuah cermin besar sambil merapikan sedikit baju seragamnya, tak lupa ia memasukkan beberapa buku kedalam tas selempangnya. Setelah merasa rapi dan tidak ada yang tertinggal—Naruto keluar dari kamarnya dan bersiap untuk berangkat kesekolah. Saat Naruto baru keluar dari kamarnya—secara bersamaan Sasuke juga keluar dari kamarnya, sesaat mereka saling pandang.
"Selamat—pagi" sapa Naruto sambil mencoba tersenyum dihadapan Sasuke, namun Sasuke malah melenggang pergi tanpa menjawab sapaan Naruto. Merasa sebal—Naruto hanya bisa diam dan senyum di wajahnya berubah menjadi kekecewaan.
Dengan lesu—Naruto menuju meja makan untuk menyantap sarapan paginya, disana sudah ada Kakashi, Sasuke, dan tentunya Karin. Fugaku dan Itachi sudah berangkat ke kantornya sejak pagi-pagi buta. Saat ini—Karin sedang duduk disamping Sasuke sambil main suap-suapan. Dengan langkah berat—Naruto akhirnya ikut duduk dikursinya yang tepat mengahadap ke Sasuke dan Karin, mereka terlihat begitu mesra dimata Naruto. Sementara dimata Kakashi—kegiatan Karin dan Sasuke sangat mengganggu.
"Karin—hentikan, aku bisa makan sendiri" kata Sasuke kesal sambil menyingkirkan tangan Karin yang berusaha memasukkan sepotong roti dengan selai kacang diatasnya kedalam mulutnya.
"Ayolah Sasuke—aaa" tidak memperdulikan larangan Sasuke—Karin tetap memaksa Sasuke untuk memakan roti dengan menyuapinya.
"Karin hentika—eumm" tanpa terduga—Karin berhasil memasukkan sepotong roti itu kedalam mulut Sasuke dan membuat Sasuke tersedak karena potongan roti yang diberikan Karin sangat besar.
"Uhuk—uhuk..Karin! Kau ini mau membuatku mati tersedak yah" protes Sasuke sambil memukul pelan dadanya, masih tidak mendengarkan protes Sasuke—karin kembali menyumpal mulut Sasuke dengan roti. Tanpa Sadar—ternyata Naruto sajak tadi memperhatikan Sasuke dan Karin dengan pandangan sebal.
"Aku sudah selesai makan—aku akan pergi duluan ke sekolah" dengan nada sebal—Naruto meninggalkan meja makan tanpa mengahabiskan sarapannya dulu. Melihat Naruto menyudahi acara sarapannya dan berniat untuk pergi ke sekolah sendirian—segera saja, Sasuke bergegas mengejar Naruto.
"Hei dobe! Kau mau berangkat ke sekolah dengan apa, kaukan belum tahu jalan di perumahan ini?" cegat Sasuke sambil menahan lengan Naruto.
"Dengan ku" belum selesai Naruto menjawab, tiba-tiba dari belakang—Kakashi muncul sambil membawa sebuah motor sport berwarna hitam.
"Ayo Naruto—cepat naik" sambil mengenakan helm dan menyalakan Motornya—Kakashi menyuruh Naruto untuk cepat naik ke motornya. Tanpa berpikir panjang—akhirnya Naruto menaiki motor sport Kakshi, dan hal itu otomatis membuat Sasuke sebal. Padahal niatnya pagi ini—Sasuke ingin mengantar Naruto ke sekolah, gagal sudah rencananya. Tidak lama—motor sport Kakashi sudah meninggalkan kediaman Uchiha, meninggalkan Sasuke yang kesal.
"Sial" geramnya sambil menuju mobil sport mewahnya. Tanpa Sasuke sadari—sejak tadi Karin terus memperhatikannya dari balik jendela rumah.
"Sialan—sepertinya Sasuke sudah jatuh hati pada si pirang itu, aku tidak boleh membiarkan ini" dengan pandangan sengit—Karin terus memperhatikan Sasuke yang sudah memasuki mobilnya dan meninggalkan Uchiha mantion.
Tak berapa lama—datang seorang pria dengan setelan jas rapi mengahmpiri Karin yang amsih berdiri didekat jendela rumah Uchiha mantion. tanpa memalingkan wajahnya—Karin tahu siapa yang datang menemuinya.
"Kau sudah datang—pak Jang" kata Karin sambil duduk kembali di meja makan, namun ia tidak memakan makanannya—melainkan mengeluarkan sesuatu dari dalan saku celananya.
"Nona muda—saya siapa melayani anda" kata orang berjas itu yang ternyata adalah pak Jang—pelayan setia Karin, pak Jang sendiri juga bekerja dikediaman Uchiha sebagai koki—bisa dibilang dia itu mata-matanya Karin.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk ku—" Karin menoleh kearah pak Jang sambil menyeringai mengerikan.
"Apapun caranya—aku ingin bocah kuning itu cepat keluar dari Uchiha mantion dan ku harap—kau tidak mengecewakan ku" Karin seperti mencoret-coret sebuah benda diatas meja itu dengan bolpennya—ternyata itu adalah sebuah cek dengan nominal yang terbilang banyak, kemudian Karin menyerahkan cek itu pada pak Jang. Mengerti dengan perintah Karin—pak Jang segera pergi dari hadapnnya dan tanpa membuang waktu—pak Jang sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
"Siapapun yang menghalangiku untuk mendapatkan Sasuke dan Itachi-nii—dia harus dimusnahkan" sambil menyeringai licik—Karin beranjak dari meja makan dan sepertinya dia sedang menghubuingi seseorang dari ponselnya.
"Aku ingin kau—mendaftarkan ku di SMA yang sama dengan Sasuke, dan pastikan—Naruto dikeluarkan secepatnya dari SMA Konoha" sambil menutup poncel lipatnya—Karin kembali kedalam kamarnya. Ternyata tanpa Karin sadari—sejak tadi ada dua orang pelayan lain yang mendengarkan pembicaraan liciknya dengan pak Jang maupun dari orang yang dihubunginya dari tadi.
"Gawat—kita harus memberi tahu Kakashi-san tentang hal ini" kedua pelayan itu saling berpandangan dan mengangguk bersamaan, kemudian mereka bergegas pergi secara diam-diam. Apakah mereka akan berhasil memberi tahu Kakashi tentang rencana karin? atau malah gagal?. Kita tunggu aja kelanjutannya di chapter depan.
Tbc
Sekali lagi saya tunggu Reviewnya dari para senpai dan reader sekalian..sampai jumpa di chapter depan. (*u*)/
