PARADISE LOVE
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : PARADISE LOVE
Pairing : SasuNaru, ShikaKiba, NejiGaa
Warning(s) : Boys Love, Typo kemana-mana dan banyak, EYD berantakan masih banyak belajar maklum author baru. Judul nggak nyambung. Pokoknya masih banyak kesalahan.
Catatan : "talk" dan 'mind',
Sasuke, Neji, Shikamaru : kelas 2 SMA
Naruto, Kiba, Gaara : kelas 1 SMA
Karin : kelas 3 SMA
Haru, Itachi : 23 tahun
Kakashi : 30 tahun
Iruka : 28 tahun
Happy reading!
Chapter 5
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit menuju sekolah dengan motor sport hitamnya—akhirnya Kakashi dan Naruto sampai didepan gerbang sekolah. Beberapa siswa yang ada ditempat parkir sekolah terkejut dengan kedatangan motor sport Kakashi, menurut mereka—tidak biasanya guru etika mereka datang terlalu pagi dan yang lebih anehnya—Kakashi membonceng seorang siswa dibelakangnya. Setahu para siswa itu—Kakashi tidak pernah mengijinkan siapapun menaikki motor kesayangannya, bahkan dulu pernah ada seorang siswa perempuan yang dengan genitnya menggoda Kakashi dan naik ke motornya sembarangan—alhasil keesokan harinya siswa perempuan itu dikeluarkan dari sekolah oleh Kakashi langsung. Tanpa menghiraukan tatapan aneh dari para siswa—dengan santainya Kakahi memasuki area parkir sekolah khusus staf sekolah yang letaknya tidak jauh dari area parkir siswa.
"Terima kasih—Paman Kakashi" setelah turun dari motor Kakashi—Naruto berpamitan untuk menuju gedung sekolah—di sepanjang perjalanan menuju gedung sekolah, Naruto berpapasan dengan beberapa siswa yang entah kenapa memandangnya dengan sinis.
'Kenapa dengan mereka itu—aneh' tanpa membuang waktu—Naruto terus berjalan menuju gedung sekolah, ditengah perjalanannya menuju gedung sekolah—ia melihat seorang siswa berkaca mata tebal sedang berjongkok sambil memunguti barang-barangnya yang berjatuhan. Merasa kasihan—Naruto menghampiri siswa berkaca mata itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto sambil membantu memunguti barang-barang siswa berkaca mata itu—melihat ada yang membantunya, siswa berkaca mata itu mendongakkan kepalanya sedikit dan tersenyum pada Naruto yang membantunya memunguti barangnya.
"Tidak apa-apa—tadi aku hanya sedikit terburu-buru," jawab siswa berkaca mata itu sambil memasukkan kembali buku dan beberapa alat tulisnya kedalam tasnya. Setelah selesai memunguti barang-barangnya yang berjatuhan—siswa berkaca mata itu mengucapkan terima kasih pada Naruto.
"Kiba! Kau sedang apa sih—ayo cepat masuk" tiba-tiba seorang siswa lain menghampiri siswa berkaca mata itu dan mengajaknya masuk kedalam gedung sekolah—sebelum meninggalkan Naruto, siswa berkaca mata itu berpamitan pada Naruto. Tanpa membuang waktu Naruto segera masuk kedalam gedung sekolah—disana ia melihat Lee yang sepertinya sedang menunggunya.
"Lee—ohayou!" sapa Naruto sambil mendekat kearah Lee, melihat Naruto datang—dengan tergesa-gesa Lee menghampiri sahabatnya itu dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Naruto gawat—" Lee memberi jeda pada kata-katanya sambil menyeret Naruto menuju lantai dua dan dengan tergesa-gesa—Lee menyeret Naruto kedalam kelas mereka yang masih terlihat sepi.
"Lee—ada apa sih? Kenapa kau menyeretku seperti ini?" protes Naruto sambil menyentak tangan Lee pelan.
"Naruto—apa benar kau bertunangan dengan Uchiha Itachi?" tanya Lee sambil menunjukkan wajah penuh khawatir.
"I..iya" jawab Naruto sambil sedikit blushing. Setiap mengingat dirinya adalah tunangan dari Itachi—entah kenapa membuat Naruto blushing sendiri.
"Gawat—berarti desas-desus itu benar, kau harus berhati-hati—Naruto" Lee sedikit menepuk bahu sahabatnya sambil memperingati Naruto. Merasa tidak mengerti dengan ucapan Lee—Naruto sedikit memiringkan kepalanya.
"Huuh" Lee membuang nafas panjang—sebelum menjelaskan sesuatu pada Naruto.
"Sekedar info saja yah, selain menjadi pengusaha muda—Uchiha Itachi itu adalah seorang aktor dan model terkenal, ku dengar dari beberapa media di televisi—Itachi mempunyai seorang calon tunangan dan itu adalah laki-laki. Meskipun menjadi rahasia karena masih menjadi calon tunangannya—banyak dari pemburu berita mencari informasi tentang siapa calon tunangan Itachi itu. Dan setelah ditelusuri—ternyata itu adalah kau—Naruto. Medengar idolanya mempunyai tunangan—seluruh fans Itachi yang kebanyakan perempuan tidak terima, apalagi tuangannya adalah laki-laki. Gosipnya—mereka akan melakukan apa saja untuk menggagalkan pertunangan kalian nanti" jelas Lee panjang sambil sambil menunjukkan sebuah surat kabar pada Naruto. Di koran itu tertulis banyak artikel tentang berita pertunangannya dan Itachi, bahkan Naruto menemukan artikel tentang dirinya. Sepertinya—identitas Naruto sebagai Namikaze akan terbongkar, karena selain membahas tentang identitasnya—artikel itu juga memuat gambarnya dengan sangat jelas.
"Aku tidak tahu ada berita seperti itu diluar sana—dan Itachi-nii tidak pernah bilang padaku—kalau dia adalah seorang aktor dan model terkenal" gumam pelan Naruto sambil menatap Lee tidak percaya.
"Kau harus berhati-hati Naruto—pamor Uchiha sangat kuat di kota ini, siapapun yang berhubungan dengan Uchiha—maka kau harus siap-siap menanggung resikonya. Ku dengar dari banyak siswa disini—fans Itachi lebih ganas dari pada fans Sasuke. Aku takut terjadi sesuatu padamu" Lee menatap khawatir pada Naruto.
"Lee—aku.." belum selesai Naruto bicara—tiba-tiba terdengar suara bel tanda masuk berbunyi dan semua siswa yang tadinya diluar kelas—segera memasuki kelas mereka masing-masing. Saat teman-teman sekelas Naruto dan Lee memasuki ruang kelas—semua mata memandang kearah Naruto dengan tajam, ada juga yang berbisik sambil menatap kearah Naruto. Naruto mencoba untuk tidak menghiraukan mereka—dan kembali duduk dibangkunya dipojok belakang sambil mengeluarkan buku untuk pelajaran pertama.
(Skip time)
Saat istirahat sudah tiba, Naruto dan Lee sedang berjalan santai menuju cafeteria sekolah. Disepanjang perjalanan menuju cafeteria sekolah—entah kenapa, semua siswa memandangi mereka dengan sedikit sinis. Merasa tak nyaman—Naruto sedikit mendengus sebal.
"Sepertinya—kita jadi pusat perhatian" bisik Lee pelan sambil memandang kearah beberapa siswa yang memandangi mereka sambil berbisik.
"Sudahlah Lee—tidak usah pedulikan mereka" Kata Naruto santai. Seperti Naruto tahu alasan kenapa semua siswa memandanginya dengan tatapan sinis dan tidak suka. Seperti yang Lee jelaskan tadi—banyak dari siswa-siswa Konoha yang tidak suka dengan berita pertunangannya dengan Itachi.
Tak berapa lama—mereka sampai di cafeteria sekolah, setelah itu mereka memesan beberapa makanan dan mencari tempat duduk yang kosong, setelah mendapatkan meja kosong—kedua sahabat ini duduk dengan tenang sambil memakan makanannya dan bercanda gurau seperti biasa. Saat Lee dan Naruto sedang melahap makanannya—tiba-tiba seorang siswa perempuan mendatangi meja mereka sambil menggebrak meja dengan keras dan membuat Naruto dan Lee terkejut.
"KAU YANG BERNAMA NARUTO KAN!" kata siswa perempuan itu sambil membentak dan menatap tajam kearah Naruto. Mendengar suara tinggi siswa perempuan itu—otomatis Naruto dan Lee menjadi pusat perhatian dan suasana cafetaria berubah menjadi hening.
"AKU TANYA—KAU YANG BERNAMA NARUTO KAN!" bentak siswa permpuan itu lagi sambil kembali menggebrak meja dengan kedua tangannya. Tidak tahan dengan bentakan perempuan itu yang tiba-tiba—Lee bangkit dari kursinya dan balik menatap tajam kearah perempuan itu.
"HEI! KAU INI SIAPA? TIBA-TIBA DATANG SAMBIL MARAH-MARAH BEGITU—TIDAK SOPAN SEKALI KAU INI" bentak Lee tak kalah keras dengan siswa perempuan itu.
"Sudahlah Lee—tenangkan dirimu" lerai Naruto sambil ikut berdiri dan mencoba membuat sahabatnya ini tenang.
"AKU TIDAK ADA URUSANNYA DENGANMU—ALIS TEBAL, AKU KESINI UNTUK BERTEMU DENGAN NA-RU-TO!" lanjut siswa perempuan itu sambil mengarahkan telunjuknya kearah wajah Naruto dengan tidak sopan.
"A..alis tebal katamu" mendengar dirinya disebut alis tebal oleh seorang gadis—tiba-tiba Lee jadi pundung dibawah meja dengan aura suram disekelilingnya.
"Huuh" Naruto menghela nafas panjang sambil menatap kearah sahabatnya yang pundung dibawah meja. Naruto melirik kearah siswa perempuan tadi—kemudian Naruto sedikit melangkah tepat didepan siswa perempuan itu sambil menatapnya serius.
"Aku Naruto—ada apa mencari ku?" tanya Naruto dengan nada setenang mungkin sambil menatap siswa perempuan itu.
"Jadi kau yang bernama Naruto!" kata siswa perempuan itu sambil melihat Naruto dari atas kebawah dengan pandangan mengejek. Dengan tiba-tiba—siswa perempuan itu meraih segelas jus jeruk dingin dari meja seseorang yang letaknya tak jauh dari meja Naruto dan menyiramkannya tepat kewajah Naruto.
Byur
Sambil memejamkan matanya—Naruto menahan emosinya, saat ini wajah dan sebagian rambut depannya basah oleh dinginnya air dari jus jeruk tadi.
"Kau sama sekali tidak pantas menjadi tunangan dari Uchiha Itachi, lebih baik kau cepat batalkan pertunanganmu dengannya!" dengan geram—siswa perempuan itu mencengkram kerah seragam Naruto yang sebagian sudah basah dengan air dari jus jeruk tadi. Mendengar Uchiha Itachi disebut—seluruh siswa yang berada didalam cafetaria menjadi riuh dan memandang kearah Naruto dengan sinis.
"Oh! Jadi dia calon tunangannya Itachi-sama"
"Bukan kah dia siswa miskin itu?"
"Bukan—dia itu sebenarnya orang kaya yang menyamar sebagai orang miskin, mungkin itu modusnya untuk menggait keluarga kaya seperti klan Uchiha"
"Berpura-pura sebagai orang miskin dan mendapat belas kasihan klan Uchiha, cih! Menjijikkan sekali caranya"
"Murahan sekali"
"Menjijikkan"
Naruto mengepalkan tangannya erat, saat ia mendengar hinaan semua siswa yang ditujukan padanya. Memang apa salahnya jika, Naruto menyembunyikan status sosialnya, toh mereka tidak dirugikan selama ini. Dan kenapa mereka harus semarah itu—bukan dirinya yang menginginkan menjadi tunangan Itahi, tapi ayahnya dan Uchiha Fugaku.
"Tidak bisa dimaafkan! " tiba-tiba dari belakang Naruto—seorang siswa lain dengan kasarnya mendorong punggungnya keras, hingga membuat Naruto jatuh terjungkal kedepan. Melihat Naruto yang terjungkal dilantai—tiba-tiba beberapa siswa mengerubunginya.
"Sialan" desis marah Naruto sambil menatap kearah siswa yang yang mendorongnya tadi, saat Naruto mencoba bangkit untuk membalas siswa tadi—tiba-tiba salah seorang siswa menendang kaki kirinya dengan keras hingga membuat Naruto terjatuh kembali dilantai.
"Akkhh" erang keras Naruto sambil memegangi kaki kirinyanya. Tidak sampai disitu—beberapa siswa juga menendang kepalanya, bahunya, bahkan perutnya, kini Naruto hanya bisa meringkuk dilantai dengan menahan sakit disekujur tubuhnya. Wajah dan tubuhnya kini memar, bahkan baju seragamnya kini menjadi lusuh dan ada banyak noda darah. Melihat Naruto tidak berdaya—tiba-tiba siswa perempuan tadi kembali menyiram kepala Naruto dengan segelas air dingin dan semangkuk sup panas, ramen panas—pokonya segala sesuatu yang bisa diraih tangannya—kemudian menumpahkannya ke kepala dan badan Naruto. Tubuh Naruto kini mati rasa—bagaimana tidak setelah merasakan dinginnya air es yang sengaja ditumpahkan ketubuh dan sebagian kepalanya—kini ia harus merasakan panasnya sup yang disiramkan kebadannya. Mungkin jika dilihat dengan teliti—tubuh dan wajah Naruto sedikit memerah karena terkena panas.
"Hahahaha! Rasakan itu" seluruh siswa yang mengerubunginya tadi, tertawa puas sambil masih menendang tubuh tak berdaya Naruto dengan sepatu tebal dan kotor milik mereka.
Sambil meringkuk tidak berdaya dilantai—Naruto menangis dalam diam, ia tidak menyangka jika dirinya akan diperlakukan serendah ini. Sekarang Naruto benar-benar ketakutan—tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengerang kesakitan dan menangis, tidak pernah ia merasa selemah ini. Biasanya—dalam keadaan apapun, Naruto akan berusaha kuat dan tegar—ini dilakukannya agar orang-orang disekitarnya tidak khawatir padanya. Dalam isakan tangisannya—tanpa sadar Naruto selalu menyebut nama—Sasuke.
"Sasuke—Sasuke..hiks!" bisiknya pelan sambil masih terisak dalam tangisannya. Pelan-pelan—pandangannya sedikit mengabur, sebelum Naruto benar-benar pingsan—ia sedikit bergumam sangat pelan, hingga hanya dirinya yang bisa mendengarkan suara lirihnya.
"Sa—Sasuke..tolong!" sedikit-demi sedikit, kesadaran Naruto mulai menghilang—namun para siswa itu masih menendangi tubuh Naruto tanpa henti. Kalau tidak segera dihentikan—Naruto bisa mati. Sementara Lee—ia sejak tadi ingin menolong Naruto, namun ada dua siswa yang mengahalanginya untuk menolong Naruto.
'Gawat—aku harus melakukan sesuatu, kalau tidak nyawa Naruto bisa melayang' diam-diam—Lee mencoba kabur dari dua orang siswa itu dengan cara mengendap-endap, dan beruntung baginya—sepertinya kedua siswa itu tidak memperhatikannya. Saat berhasil menuju pintu keluar cafetaria—Lee berlari secepat kilat mencari bantuan dan entah kenapa—sekarang yang ada diotaknya dalah mencari keberadaan Sasuke.
'Naruto tunggu aku! Aku akan menyelamatkan mu'
.
.
.
Ditempat lain—di jam istirahat seperti ini, Sasuke lebih senang bersantai sambil tiduran diatap gedung sekolah—menikmati semilir angin yang meniup sebagian helai rambut hitamnya. Tidak perlu waktu lama—Sasuke tertidur dengan pulas tanpa gangguan. Maklum saja—sejak kemarin malam Sasuke tidak bisa tidur nyenyak, sepanjang malam—Sasuke terus memikirkan kedatangan Karin dan perasaan aneh yang muncul sejak pertemuannya dengan Naruto. Sepertinya—Sasuke sudah benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Naruto.
Saat Sasuke sedang asik menikmati alam tidurnya—tiba-tiba ia terbangun saat mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya. Sedikit mendongakan kepalnya—Sasuke melihat kearah asal suara langkah kaki tersebut, ternyata itu adalah Neji dan Shikamaru.
"Sedang apa kau disini?" tanya Shikamaru sambil duduk di pembatas pagar atap sekolah.
"Bukan urusanmu" jawab Sasuke dingin sambil kembali mencoba tidur.
"Kami dengar—Itachi-nii ditunangkan?" kali ini Neji berjongkok tepat disamping Sasuke.
"Hn" jawab Sasuke sekenanya. Mendengar jawaban baku Sasuke—Neji dan Shikamaru saling pandang, kemudian Shikamaru ikut berbaring disamping kiri Sasuke.
"Jawaban macam apa itu" sungut Neji, kemudian ia sedikit mengingat sesuatu.
"Hei Sasuke—bukan kah tunangan Itachi-nii juga bersekolah di SMA yang sama dengan kita?" tanya Neji sambil mencolek pipi putih Sasuke.
"Hn"
"Gawat—" gumam Neji sambil memegangi ujung dagunya dengan jarinya. Sasuke sedikit mengerutkan kening—saat mendengar gumaman Neji.
"Apa maksud mu?" tanya Sasuke sambil bangkit dari tidurnya.
Brak
Sebelum Neji sempat menjawab Sasuke—tiba-tiba seorang siswa dengan gaya rambut jamur dan beralis tebal, membuka paksa pintu atap sekolah dengan kasar. Seketika Neji, Shikamaru dan Sasuke dibuatnya terkejut.
"Hah..hah—akhirnya aku menemukan mu" sambil terengah-engah siswa itu yang ternyata adalah Lee—berjalan gontai kearah Sasuke CS.
"Uchiha-senpai—tolong! Naruto—dia.." belum selesai ucapan Lee—tiba-tiba Sasuke menghampirinya.
"Ada apa dengan Naruto?" tanya Sasuke dengan tidak sabaran.
"Dia sedang dibully oleh banyak siswa di cafetaria—kumohon tolong dia, Uchiha-senpai" lanjut Lee sambil menunjukkan wajah melasnya. Tanpa membuang waktu—Sasuke segera berlari menuju cafetaria untuk menolong Naruto. Melihat Sasuke pergi—Shikamaru dan Neji segera menyusul Sasuke, mereka khawatir jika Sasuke akan berbuat diluar kendali. Dan Lee—juga mengikuti Neji dan Shikamaru dibelakangnya.
Sasuke terus berlari sekuat tenaganya disepanjang koridor sekolah—tidak peduli berapa banyak siswa bahkan guru yang ditabraknya, sekarang yang ada dipikarannya hanyalah—menyelamatkan Naruto. Tidak sampai 15 menit—Sasuke sampai didalam cafetaria, disana ia melihat beberapa siswa yang ramai dan bergerombol.
Sambil terengah-engah dan emosi—Sasuke mendekati kerumunan para siswa itu, dan dengan brutal—Sasuke menghajar wajah para siswa itu satu-persatu hingga membuat mereka terjungkal dengan kasar.
"APA YANG KALIAN LAKUAKAN!" teriak Sasuke marah sambil sesekali menedangi beberapa siswa yang ada dihadapannya.
"Sa..Sasuke-senpai" gagap mereka semua sambil ketakutan dan sedikit menyingkir dari tubuh Naruto. Melihat Naruto yang tidak bergerak—seketika itu Sasuke menjadi panik dan menghampirinya, kemudian Sasuke membawa Naruto kepangkuannya dengan mengangkat kepalanya sedikit.
"Naru—Naru!" panggil Sasuke khawatir sambil sedikit menepuk pipi Naruto, terlihat saat ini wajah Naruto yang penuh luka lebam. Naruto sedikit membuka matanya dengan berat, dengan lemah Naruto mencoba untuk bangkit—namun Sasuke menahannya.
"Sstt! Jangan banyak bergerak—aku akan membawa mu ke rumah sakit" kata Sasuke lembut sambil menggendong tubuh Naruto ala pengantin. Tanpa menghiraukan tatapan aneh dari para siswa didalam cafetaria itu—Sasuke terus melangkah menuju pintu keluar.
Sepanjang perjalanannya menuju area parkir—Naruto terus saja menangis didalam gendongan Sasuke, ia benar-benar takut jika Sasuke tidak datang dan membawanya pergi dari tempat yang menyeramkan seperti itu. Tidak lama—Sasuke sampai di mobil sportnya dan memasukkan Naruto dengan hati-hati kedalam mobilnya.
"Ku kira—hiks..kau tidak akan datang" isak Naruto sambil mengusap air matanya yang terus turun dengan deras. Sasuke sedikit terkejut dengan perkataan Naruto barusan, dengan penasaran—Sasuke mendekati Naruto yang tepat duduk disampingnya.
"Kau tadi—bilang apa?" tanya Sasuke penasaran sambil mendekatkan diri kaearah Naruto.
"Aku—takut kau tidak akan datang hiks.." ulang Naruto sambil masih terisak.
'Jadi—dia menunggu ku untuk menyelamatkannya'
Mendengar jawaban Naruto—tiba-tiba Sasuke memeluk tubuh kecilnya dengan erat, seakan Sasuke tidak mau melepaskannya. Dengan hati-hati—Sasuke melepaskan pelukannya dan menatap wajah Naruto yang masih menangis, diusapnya pelan air mata Naruto dengan ibu jarinnya.
"Sekarang—kau tidak usah takut lagi, aku akan selalu ada disampingmu. Aku janji!" sambil tersenyum lembut—Sasuke mengusap wajah Naruto dengan telapak tangan hangatnya, merasa nyaman—Naruto memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan telapak tangan Sasuke yang begitu pas dengan wajahnya. Meski banyak luka di wajahnya dan air mata—wajah Naruto terlihat sangat manis dan samar-samar ada semburat pink muncul dikedua pipinya. Terbawa oleh suasana—Sasuke mendekatkan wajahnya dengan perlahan kearah Naruto yang masih menutup matanya, dan sedetik kemudian—bibir mereka sudah bersentuhan. Merasa ada yang basah di bibirnya—Naruto membuka matanya dan ia terkejut saat Sasuke mencium bibirnya dengan sangat lembut, tidak ada pemaksaan atau nafsu didalamnya. Hanya ciuman penuh cinta yang ditunjukkan oleh Sasuke padanya lewat ciuman lembutnya. Tidak sampai 10 menit—Sasuke melepaskan penyatuan bibir mereka, kemudian ia mengelus wajah dan bibir Naruto dengan lembut.
"Apapun yang terjadi—aku akan melindungi mu dan tidak akan membiarkan mu terluka lagi" dengan lembut Sasuke meraih tangan Naruto dan menaruhnya di dadanya.
"Sa—Sasuke" saat ini Naruto benar-benar gugup saat melihat wajah serius Sasuke—dan sepertinya wajah Naruto sudah sangat merah.
"Karena itu—ijinkan aku untuk mencintaimu" lanjut Sasuke sambil mengusap kembali wajah Naruto dengan lembut. Naruto membelalakkan matanya—ia benar-benar terkejut dengan pernyataan Sasuke yang tiba-tiba, dengan cepat—Naruto menarik tangannya yang tadi digenggam oleh Sasuke. Sekarang Naruto benar-benar bingung—ia tak tahu harus bilang apa pada Sasuke. Naruto menundukkan kepalanya sambil memegangi dadanya yang berdebar dengan ..deg!
'Kenapa ini—kenapa jantungku berdetak dengan cepat'
Melihat Naruto terus menundukkan kepalanya dan tidak merespon pernyataan Sasuke—akhirnya Sasuke menunduk kecewa dan ada sedikit rasa marah. Sambil menyalakan mesin mobilnya—Sasuke sedikit menyenggol Naruto dengan sikunya.
"Pakai sabuk pengeman mu—kita akan ke rumah sakit terdekat" kata Sasuke dengan nada kesal dan terkesan dingin pada Naruto. Mendengar nada bicara Sasuke yang berubah dingin—Naruto sedikit melirik kearah Sasuke dan ada rasa kecewa saat melihat perubahan sikap Sasuke yang tadinya hangat sekarang berubah menjadi dingin. Setelah itu—mobil Sasuke sudah melaju dengan kecepatan rendah menuju jalan kota dan meninggalkan area sekolah untuk menuju ke rumah sakit terdekat.
.
.
.
.
Sementara itu kembali ke sekolah—terlihat Neji dan Shikamaru sedang berdiri didekat parkiran sambil melihat kearah mobil Sasuke yang sudah meninggalkan garbang sekolah.
"Sepertinya—Sasuke menyukai bocah kuning itu? Tapi tunggu—bukankah bocah kuning itu yang beberapa hari lalu menjadi lawan seimbangnya Sasuke?" tanya Neji sambil menatap Shikamaru dengan pandangan aneh.
"Telat! Kemana saja otakmu bekerja selama ini—Neji, aku heran—wajah tampanmu sama sekali tidak sesuai dengan otakmu yang lelet seperti siput. Sudah kelihatan kan dari ciri fisiknya dan rambut kuningnya—kalau dia itu, yang beberapa hari lalu menjadi lawan Sasuke dilapangan basket—payah" jelas Shikamaru sambil mengejek Neji. Memang Neji itu tampan dan kepintarannya setara dengan Shiakmaru—tapi satu kekurangannya, yaitu LOLA singakatan dari loding lama dan dia juga suka mencatat hal-hal yang dianggapnya penting tapi bagi orang lain itu tidak penting dan aneh.
"Enak saja mengatai otakku siput" dumel Neji sambil berjalan masuk menuju gedung sekolah dan Shikamaru juga mengikuti Neji dibelakangnya. Saat Neji dan Shikamaru melewati ruang loker siswa—tanpa sengaja seorang siswa menabrak Neji, namun siswa tersebut malahan yang terjatuh dengan tidak elitenya kelantai dengan keras.
Buk
"Aduh" ringis seorang siswa tersebut sambil memegangi pantatnya yang sakit.
"Hey! Matamu itu ditaruh dimana sih?" bentak Neji sambil berkacak pinggang didepan siswa tadi.
"Maafkan aku" siswa tadi mencoba berdiri sambil membenarkan letak kaca mata tebalnya yang sedikit bergeser. Namun saat siswa tadi mencoba berrdiri—tiba-tiba Shikamaru mengelurkan tangannya pada siswa berkaca mata itu, melihat Shikamaru mengulurkan tangannya—siswa berkaca mata itu mendongakkan kepalanya. Ia sedikit terkejut namun segera memalingkan wajahnya dan dengan cepat bangkit dari lantai tanpa menerima uluran tangan Shikamaru.
"Aku permisi dulu—senpai" sambil menundukkan kepalnya dan tanpa memandang Shikamaru—siswa berkaca mata itu pergi sambil berlari kecil.
"Kenapa dia?" guman Neji aneh sambil memiringkan kepalanya. Sementara Shikamaru terus saja melihat kearah siswa berkaca mata itu tanpa berkedip—kemudian ia berlari mengejar siswa berkaca mata itu dan meninggalkan Neji yang kebingungan dengan sikap sahabatnya ini.
"Shika! Kau mau kemana?" panggil Neji saat melihat Shikamaru pergi—namun Shikamaru tidak mendengarkannya dan menghilang dibelokan koridor sambil mengejar seorang siswa berkaca mata tadi.
"Ya sudahlah—aku kembali ke kelas dulu, hari ini—Sasuke dan Shikamaru tidak seperti biasanya" gumam Neji sambil kembali berjalan menuju kelasnya.
.
.
.
.
Malam hari di Uchiha mansion.
Setelah Sasuke membawa Naruto kerumah sakit tadi pagi—akhirnya Naruto diijinkan pulang—beruntung luka-luka ditubuhnya tidak parah, dan malam harinya—Naruto bisa kembali pulang ke rumah besar keluarga Uchiha. Dia dijemput oleh Itachi dan juga Kakashi.
Sedangkan Sasuke—sejak mengantar Naruto kerumah sakit tadi pagi, tiba-tiba saja ia menghilang dan tidak tahu kemana perginya. Sejak tadi pagi hingga menjelang sore—hanya Iruka yang menemaninya, saat Naruto bertanya tentang keberadaan Sasuke—Iruka hanya menjawab "Dari tadi—aku tidak melihat Sasuke, mungkin dia sudah pulang" dan setelah jam pulang sekolah usai—Sasuke juga tidak kembali ke rumah sakit untuk melihat Naruto. Hingga malam tiba—Sasuke tidak menjenguknya sama sekali.
Saat sampai didepan kamarnya dengan dibopong oleh Kakashi dan Itachi—sekilas Naruto melirik kearah kamar Sasuke yang pintunya terbuka. Sedetik kemudian—Naruto merasa kecewa, saat mengetahui kamar Sasuke kosong.
Sesampainya didalam kamar—Naruto berbaring ditempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Dalam diam—Naruto terus memikirkan kata-kata Sasuke tadi pagi.
"Sasuke—mencintai ku? Apakah ini benar—atau dia sedang mengerjai ku?" gumam Naruto sambil menahan debaran di jantungnya.
"Kalau benar—apa yang harus aku lakukan?" teriak Naruto dengan frustasi sambil mengacak-acak rambutnya dan berguling-guling diatas kasurnya, ia benar-benar bingung dengan perasaanya yang sekarang. Bukannya ia menolak Sasuke—hanya saja Naruto belum siap untuk menerimanya, bayangkan saja—saat ini Naruto berstatus sebagai tunangan kakaknya dan secara tiba-tiba—Sasuke menyatakan cinta padanya. Benar-benar membingungkan. Eh! Tunggu dulu—bukannya menolak Sasuke? Berarti Naruto menyukai Sasuke dong.
Sadar dengan apa yang dipkirkannya sekarang—tiba-tiba wajah Naruto berubah jadi merah dan debaran di jantungnya semakin kencang. Saat Naruto masih berkutat dengan pikirannya—tiba-tiba Karin masuk kedalam kamarnya dan mengejutkannya. Dengan santainya—Karin berjalan tepat kearah Naruto sambil membawa nampan yang berisi semangkuk susu hangat ditangannya.
"Karin" gumam Naruto pelan sambil duduk dikasur empuknya.
"Aku membuatkan mu segelas susu hangat—kau sudah agak baikan sekarang?" tanya Karin sambil meletakkan susu hangatnya di meja belajar Naruto yang letaknya tak jauh dari tempat tidurnya.
Sedikit tersenyum simpul—Naruto mengangguk singkat, kemudian ia menggeser tubuhnya agar Karin bisa duduk dipinggiran kasurnya.
"Terima kasih—Karin" kata Naruto singkat sambil menatap Karin. Sejak kedatangan Karin kerumah ini—baru kali ini dirinya bisa sedekat ini dengan Karin, biasanya—setiap hari mereka berdua hanya saling menatap dengan pandangan sinis dan sekarang tiba-tiba Karin menajadi baik padanya.
"Maaf soal yang kemarin—aku tidak bermaksud mengataimu dan setelah ku pikirkan—kau dan Itachi-nii sangat cocok" sambil menggenggam tangan kanan Naruto—Karin tersenyum lembut kearahnya. Mendangar nama Itachi disebut—entah kenapa Naruto menjadi gusar dan kini pikirannya kembali pada pernyataan cinta Sasuke pagi tadi.
"Aku berharap—kau segera bertunangan dengan Itachi-nii, dan setelah itu—" Karin memotong kata-katanya sambil menatap Naruto intens dan tiba-tiba memeluk tubuh Naruto erat.
Grep
Naruto membelalakkan matanya—ia terkejut dnegan tindakan Karin yang tiba-tiba memeluknya seperti ini.
"Ka..Karin" ringis Naruto sambil memegangi kedua bahu Karin. Saat ini Naruto dipeluk oleh Karin dengan sangat erat dan membuatnya menahan sakit di sekujur tubuhnya—ini disebabkan oleh luka memar akibat tendangan dan siraman sup panas yang masih terasa sakit di area punggung dan lengannya. Dari balik bahu Naruto—Karin menyeringai puas sambil, kemudian ia membisikkan sesuatu Naruto.
"Kau harus menjauhi Sasuke—jika tidak, kau akan tanggung sendiri akibatnya" setelah membisikkan itu—Karin melepaskan pelukannya dan beranjak dari kamar Naruto.
"Apa-apaan sih gadis itu—menyebalkan" gumamnya pelan sambil melihat kearah pintu kamarnya yang sengaja tidak ditutup oleh Karin, dari depan pintu—ia melihat Karin berdiri tepat didepan kamar Sasuke. Dan detik berikutnya—terdengar suara langkah kaki mendelat kearah Karin.
"Sasuke—kau sudah pulang" tiba-tiba Karin dengan manjanya menyeret Sasuke dan memeluknya erat—tepat didepan kamar Naruto tentunya. Melihat Karin memeluk Sasuke—entah kenapa hati Naruto jadi panas.
"Karin—minggir" Sasuke sedikit menyingkirkan badan Karin yang mengahalanginya masuk ke kamarnya, saat Sasuke akan masuk kedalam kamarnya—ia sedikit melirik kedalam kamar Naruto yang terbuka pintunya. Saat mata mereka bertemu—Sasuke segera memalingkan mukanya dengan dingin dan berjalan masuk kedalam kamarnya dengan Karin yang juga ikut masuk kedalam kamar Sasuke. Sedangkan Naruto—ia begitu terluka saat pandangan mata Sasuke yang dingin menatap kearahnya.
"Sasuke" bisik Naruto sambil menundukkan kepalanya.
"Dia—benci pada ku, hiks" tanpa sadar—air mata Naruto turun. Sambil berbaring—Naruto membungkus dirinya didalam selimut hangatnya, didalam selimutnya—Naruto menangis sambil mengigit ujung bantal untuk meredam suaranya.
.
.
.
.
Keesokan harinya
Seperti biasa—dimeja makan hanya ada Kakashi dan Naruto yang menyantap makanannya, sedangkan Fugaku sejak dini hari sudah pergi menuju bandara untuk kembali ke jerman dan mengurusi perusahaannya disana. Dan Itachi—jangan ditanya, semenjak ia membintangi film pertamanya—Itachi jadi jarang pulang dan lebih sering keluar kota untuk promo filmnya.
Sambil membaca koran pagi—Kakashi dengan lahap memakan roti isinya dan Naruto—dengan lesu memakan roti isi telurnya sambil menunduk. Melihat Naruto yang lesu—Kakashi mengerutkan dahinya.
"Apa kau tidak enak badan—lesu sekali?" tanya Kakashi tiba-tiba dan membuat Naruto terkejut.
"Tidak kok paman—aku hanya sedikit tidak nafsu makan" kata Naruto pelan sambil kembali memakan roti isinya sedikit-demi sedikit. Sejak tadi malam—Naruto tidak bisa tidur, ia terus memikirkan kata-kata Karin yang mengancamnya. Sambil memikirkan kata-kata Karin—Naruto mendengus panjang sambil sesekali menggigit kecil pinggiran rotinya.
"Kakashi-san—kami datang" tiba-tiba dua orang pelayan kembar datang sambil membawa troli berisi beberapa gelas berisi jus buah aneka rasa.
"Silahkan diminum" teriak mereka berdua secara bersamaan—Ukon menaruh segelas jus jeruk didepan Naruto dan Sakon menaruh segelas jus mangga didepan Naruto.
"Kalian selalu bersemangat" puji Kakashi sambil mengacungkan dua jempolnya pada kedua pelayan kembar itu dan mereka berdua membalas dengan mengacungkan jempol mereka masing-masing.
"Sasuke-sama mana?" tanya Ukon saat melihat kursi Sasuke kosong.
"Mungkin dia belum bangun—aku akan membangunkannya" sahut Sakon sambil mengacungkan sebelah tangannya, saat Sakon akan melangkah pergi—tiba-tiba Kakashi menahannya.
"Jangan—lebih baik Naruto saja yang membangunkan Sasuke di kamarnya" perintah Kakashi pada Naruto yang duduk didepannya. Sebelum Naruto bangkit dari kursinya—ia menghela nafas panjang.
"Baik paman" dengan lesu—Naruto bangkit dari kursinya dan melangkah menuju kamar Sasuke. Saat Naruto sudah menghilang dari ruang makan—Sakon dan Ukon saling mengangguk dan mereka membisikkan sesuatu pada telinga Kakashi.
"Kakashi-san—sepertinya gadis merah yang bernama Karin itu sedang merencanakan sesuatu pada Naruto-sama" bisik Ukon ditelinga kiri Kakashi.
"Kami dengar—dia berbicara bersama pak Jang, mereka berencana untuk menyingkirkan Naruto dari rumah ini dan sekolahnya" bisik Sakon juga ditelinga kanan kakashi. Mendengar berita tidak baik—Kakashi segera bangkit dari tempat duduknya dan melihat kearah dua pelayan setianya.
"Kalian terus awasi Karin—dan urusan pak Jang, biar aku yang tangani" perintah Kakshi sambil melangkah pergi menuju garasi motornya. Sementara Sakon dan Ukon—mereka juga pergi meninggalkan meja makan.
Sementara itu didalam kamar Sasuke—setelah menyelesaikan ritual mandinya, Sasuke segera berjalan keluar pintu kamar mandi sambil melilitkan sebuah handuk ke pinggangnya. Sambil merapikan dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di lehernya—Sasuke berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil seragam lengkapnya yang sudah ditata rapi oleh pelayannya kemarin.
Saat Sasuke hampir melepas handuk di pinggangnya—tiba-tiba Karin masuk dengan mendobrak pintu kamar Sasuke dengan keras, seketika saja—Sasuke langsung memakai kembali handuknya dan melilitkannya ke pinggangnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMAR KU—CEPAT KELUAR!" perintah Sasuke sambil membentak keras Karin, namun tidak membuatnya gentar sama sekali dan dia malah masuk kedalam kamar Sasuke.
"Kasar sekali kau pada tunangan mu-Sa-su-ke" Karin berjalan kearah Sasuke yang bertelanjang dada.
"Aku tidak suka kamar ku dimasuki orang lain—jadi pergilah, sebelum aku melempar mu keluar dari kamar ini" Sasuke sedikit mendesis sambil menatap tajam kearah Karin yang berdiri tepat didepannya, tidak terima dengan kata-kata Sasuke—Karin juga membalas tatapan tajam pada Sasuke.
"Orang lain katamu—" Karin sedikit menyeringai sambil melotot tajam kearah Sasuke.
"AKU INI TUNANGANMU—BUKAN ORANG LAIN!" bentak Karin. mendengar Karin menyebutkan kata 'Tunangan'—Sasuke sedikit memalingkan wajahnya kemudian menatap Karin intens.
"Aku—bukan tunanganmu lagi, kita sudah berakhir" desis Sasuke sambil berjalan menjauhi Karin dan memakai baju seragamnya tanpa menghiraukan Karin yang masih berada disalam kamarnya. Melihat Sasuke melepas satu-satunya kain yang menutupi tubuh telanjangnya—Karin memalingkan badannya dan memunggungi Sasuke. Suasana menjadi hening.
Tidak sampai 15 menit—Sasuke sudah memakai seragamnya dan berjalan melewati Karin untuk mengambil tas ranselnya yang tergeletak dimeja belajarnya. Saat Sasuke memunggungi Karin—ia melihat Sasuke yang berbeda dengan Sasuke 2 tahun yang lalu. Dulu—Sasuke selalu tersenyum kearahnya dan selalu memperlakukannya dengan lembut, tapi sekarang—Sasuke sangat kasar padanya. Sasuke masih berkutat dengan beberapa buku pelajarannya yang satu-persatu ia masukkan kedalam tas ranselnya—tanpa ia sadari, tiba-tiba Karin memeluknya dari belakang.
"Kenapa kau jadi seperti ini Sasuke—kembalilah seperti dulu. Aku—merindukan Sasuke ku yang dahulu" sambil mengeratkan pelukannya—kepala Karin bersandar pada punggung Sasuke. Tidak tahan dengan sikap Karin—dengan kasar Sasuke melepaskan pelukannya.
"Aku sudah muak—sekarang cepat keluar!" perintah Sasuke sambil menyeret kasar tangan Karin menuju pintu kamarnya yang tadi dibukanya paksa dan membuat Karin keluar dari kamar Sasuke. Tidak terima perlakuan Sasuke padanya—dengan cepat Karin menyentak tangan Sasuke dan menampar pipi kirinya keras.
Plak
"APA YANG KAU LAKUKAN!" sambil membentak Karin—Sasuke memegangi pipinya yang panas dan memerah.
"KENAPA KAU JADI KASAR SEPERTI INI PADAKU!" bentak Karin tak kalah keras sambil meneteskan air matanya.
"Kau sudah berubah—Sasuke, kau tidak seperti dulu" dengan suara bergetar—Karin memegangi ujung jas seragam Sasuke, namun dengan kasar Sasuke menyentaknya.
"KAU PIKIR—SIAPA YANG MEMBUATKU BERUBAH SEPERTI INI!" Sasuke mendorong Karin pelan, hingga kini tubuh karin terpojok diantara dinding dan Sasuke.
"Setelah kau mencampakkan ku dua tahun yang lalu—kau masih mau aku menjadi Sasukemu yang dulu. Kau benar-benar tidak punya perasaan. Kau ingat—dua tahun yang lalu, kau mencampakkan ku dan menghilang bersama laki-laki lain. Setelah sekian lama kau menghilang—sekarang kau mau aku menjadi Sasukemu yang dulu" Sasuke sedikit mendesis sambil menatap tajam kearah Karin.
"Cih! Itu hanya akan ada dalam mimpi mu—sekarang hubungan kita sudah berakhir. Dan kau sendiri yang mengakhirinya—Karin" setelah mengatakan itu—Sasuke beranjak dari posisinya. Merasa tidak terima dengan perkataan Sasuke—tiba-tiba Karin menarik dasi sekolah Sasuke dan membuatnya menunduk tepat kewajah Karin dan membisikan sesuatu pada Sasuke.
"Aku—tidak akan menyerah. Kau akan aku dapatkan kembali, apapun caranya—" bisik Karin sambil sedikit membuat jeda dikata-katanya saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat mearah mereka. Sedikit menyeringai—Karin bisa melihat Naruto yang berjalan kearah mereka dan menghentikan langkahnya saat melihat Sasuke dan Karin dengan posisi yang hampir berciuman (padahal sih tidak).
"Bahkan aku akan menghancurkan Naruto—jika dia berani mengahalangiku untuk mendapatkanmu kembali—Sasuke" lanjut Karin sambil kembali menarik dasi Sasuke kebawah dan akhirnya membuat mereka berciuman tepat didepan Naruto yang berdiri mematung. Dengan kasar—Sasuke melepaskan tangan Karin dari dasinya dan melangkah menjauhi Karin, dengan sebelah punggung tangannya—Sasuke mengelap bibirnya yang ada bekas bibir Karin.
"Bleeh! Menjijikkan~" Sasuke terus mengelap bibirnya tanpa henti—ia begitu tidak suka rasa bibir Karin yang terasa begitu lembek dan hambar. Tanpa disadari oleh Sasuke—Karin menyeringai lebar kearahnya dan tentu saja Naruto, ia merasa begitu senang dan menang saat melihat wajah Naruto yang memucat melihat adegan ciumannya bersama Karin. Merasa aneh dengan pandangan Karin—Sasuke juga menolehkan kepalanya dan betapa terkejutnya saat ia melihat Naruto berdiri diambang pintu kamarnya dengan wajah memucat.
"Naruto!" gumam Sasuke pelan.
'Sejak kapan dia ada disitu—jangan-jangan dia melihatnya'
Sadar dirinya dipandangi—Naruto segera sadar dari keterkejutannya dan menundukkan kepalanya dalam sambil meremasi jari-jari. Kalau saja saat ini naruto bisa berlari—mungkin sudah ia lakukan sejak tadi, tapi nyatanya sejak melihat adegan ciuman antara Sasuke dan Karin—kakinya seakan kaku dan tubuhnya sama sekali tidak bisa ia gerakkan.
"Ma—maaf aku mengganggu kalian" akhirnya hanya itu yang bisa ia katakan—kemudian tanpa melihat kearah Sasuke dan Karin, Naruto bergegas pergi dengan berjalan cepat. Rasanya sekarang—Naruto ingin menangis, ia merasa begitu sedih dan terluka.
Melihat Naruto pergi—Sasuke mengepalkan kedua tangannya, sekarang emosinya benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Dengan geram—Sasuke mencengkram dagu Karin hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Ku peringatkan kau—jangan coba-coba menyentuh Naruto seujung rambutpun. Atau kau akan tahu akibatnya" setelah mengancam Karin—segera Sasuke meninggalkannya dan bergegas menuju sekolah. Sementara itu Karin masih memperhatikan Sasuke sambil menahan amarahnya.
"Tidak akan ku biarkan kau jatuh ke tangan Naruto—kita lihat, seberapa lama hubungan kalian bisa bertahan"
—ooOOoo—
Stasiun kereta api kota Konoha.
Seorang remaja dengan rambut mereh marun sedang berdiri dengan bingung disalah satu pilar stasiun, baru 15 menit yang lalu dia turun dari kereta dan ia tidak tahu dimana arah pintu keluar stasiun.
"Dimana pintu keluarnya," gumamnya sambil celingukan mencari pintu keluar atau mencari sebuah tulisan bertanda 'EXIT'—namun sejauh mata memandang hanya ada sekumpulan orang lalu-lalang dan beberapa calon penumpang maupun penumpang yang turun dari kereta yang bisa ia lihat.
"Sepertinya—aku tersesat" dengan sangat lesu—remaja merah marun itu menundukkan kepalanya dan berjongkok pundung disalah satu pilar stasiun itu. Namun tak berapa lama—seorang pria mendatanginya.
"Gaara!" panggil pria itu sambil ikut berjongkok dihadapannya. Merasa ada yang memanggilnya—remaja merah marun itu mendongakkan kepalanya dan seketika wajahnya berubah ceria.
"Iruka-sensei~" sambil menangis terharu—remaja merah marun itu memeluk pria itu yang ternyata adalah Iruka, setelah perjumpaan mengharukan (dasar Gaara lebai) antara guru dan murid ini—segera Iruka membawa Sabaku Gaara keluar dari stasiun kereta dan mereka kemudian menuju mobil Iruka yang terparkir tidak jauh dari stasiun kereta. Gaara sendiri adalah murid terbaik Iruka saat ia masih mengajar di SMP Suna dulu, meski sudah tidak mengajar di Suna lagi—Iruka dan Gaara masih saling menghubungi satu-sama lain hingga sekarang.
"Tumben sekali kau mau datang jauh-jauh dari Suna ke Konoha—apakah disana sedang libur atau kau mau pindah ke Konoha dan bersekolah disini?" tanya Iruka sambil masih menyetir.
"Aku—datang kesini untuk mencari seseorang" jawab Gaara pelan sambil menundukkan kepalanya dan samar-samar ada semburat merah muda muncul dikedua pipinya. Melihat gelagat Gaara yang aneh—Iruka mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Mencari—seseorang? Siapa?" tanya Iruka penasaran. Sedikit menghela nafas—Gaara memandang keluar kerah jendela kaca mobil.
"Aku sedang mencari—cinta pertamaku" gumamnya pelan sambil melihat kearah birunya awan pagi ini.
"Aku berharap, kita bisa bertemu dan semoga kau bisa mengingatku—Neji"
TBC.
Maaf updatenya lama, soalnya saya habis sakit dan rumah saya kebanjiran. Akhirnya sambil ngungsi bikin FF dah. Dan semoga di chapeter depan bisa balik lagi kerumah dan nerusin FF, doain yah semoga banjir rumah Author cepet surut. Mumpung chepter depan Nejigaa ini..hahahahaha!
Maaf ga' bisa balas reviewnya satu-satu tapi sekali lagi, terima kasih sudah meluangkan waktu membaca FF sederhana ini dan di tunggu reviewnya.
