PARADISE LOVE
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : PARADISE LOVE
Pairing : SasuNaru, ShikaKiba, NejiGaa
Warning(s) : Boys Love, Typo kemana-mana dan banyak, EYD berantakan masih banyak belajar maklum author baru. Judul nggak nyambung. Pokoknya masih banyak kesalahan.
Catatan : "talk" dan 'mind',
Sasuke, Neji, Shikamaru : kelas 2 SMA
Naruto, Kiba, Gaara : kelas 1 SMA
Karin : kelas 3 SMA
Haru, Itachi : 23 tahun
Kakashi : 30 tahun
Iruka : 28 tahun
Hinata : 12 tahun
Balas review
psyc Hejun Li jose ~ aku sudah balas di inbox n makasih dah review. eh iya, aku inbox Fb mu lho, g tau itu benar apa g fbmu.
TheBrownEyes'129~ terima kasih doanya, dan banjir dirumah udah surut HAHAHAHA! (plak)
kkhukhukhukhudattebayo : ok makasih reviewnya hehe
WAW banyak banget reviewnya, saya ga bisa balas satu-satu ini, tapi terima kasih semuanya udah review, dan kali ini FF untuk NejiGaanya saya buat one shot biar g kelamaan hahaha. Ok! g banyak cingcong langsung aja para reader silahkan baca.
Happy reading!
Chapter 6
Kediaman Umino Iruka
Terlihat Gaara sedang sibuk membereskan barang-barangnya didalam tas besarnya dan setelah meletakkan bajunya dilemari—Gaara segera turun dari lantai dua kamarnya untuk menuju dapur, disana ia melihat Iruka sedang memasak makan malam untuk mereka berdua. Tidak sampai 30 menit, makan malam mereka sudah jadi dan segera Iruka dan Gaara membawa beberapa makanan yang mereka masak tadi ke meja makan.
"Berapa hari kau akan singgah disini?" tanya Iruka sambil memakan makanannya.
"Mungkin seminggu—sensei" jawab Gaara ringan, sudah ia putuskan untuk menginap dirumah Iruka selama seminggu. Beruntung sekolah Gaara di Suna sedang libur, ini dikarenakan ada angin badai yang menerjang Suna dan membuat sebagian bangunan sekolahnya hancur. Karena tidak ada kerjaan—akhirnya Gaara memutuskan pergi ke Konoha untuk menemui Iruka, sudah lama ia tidak berjumpa dengan gurunya. Selain itu—ada alasan lain yang membuatnya harus datang jauh-jauh dari Suna ke Konoha, yaitu—Gaara ingin mencari cinta pertamanya dulu. Mendengar jawaban Gaara—Iruka hanya mengangguk mengerti.
Setelah acara makan malam mereka berakhir—Gaara kembali ke kemarnya dilantai dua, ia sedikit membereskan kasurnya yang agak berantakan. Maklum saja—kata Iruka, sejak ditinggalkan Naruto—Iruka jarang membersihkan kamar milik Naruto dan membuatnya sedikit berdebu. Karena saat ini Gaara yang menempati bekas kamar Naruto yang dulu—jadilah dia yang membersihkannya. Saat sudah selesai membersihkan kamarnya—Gaara sedikit mengelap keringatnya, kemudian karena masih merasa kenyang—Gaara berjalan menuju jendela besar kamarmya dan tanpa sadar—pikirannya kembali kemasa saat ia pertama kali bertemu dengan Neji.
"Semoga—Neji masih mengingatku" gumam Gaara sambil tersenyum sendiri dan sedikit memebayangkan wajah Neji.
.
.
.
Hyuga mansion
"Hachuu!" sambil mengelap ingusnya—Neji berjalan menuju kamarnya dilantai dua, entah sudah berapa kali dia bersin-bersin seperti ini.
"Nii-san! Apa kau sakit?" tanya Hinata pada Neji sambil mendekati kakak tertuanya. Hinata adalah adik perempuan Neji, saat ini Hinata baru kelas 6 SD.
"Aku tidak apa-apa kok Hinata" tidak mau membuat adiknya khawatir—Neji melanjutkan kembali langkahnya menuju kedalam kamarnya. Didalam kamar—Neji segera mengerjakan tuga sekolahnya dengan tenang. Dirumah—Neji hanya tinggal berdua dengan adiknya, kedua orang tua Neji dan Hinata sedang ada pekerjaan diluar kota.
Setelah mengerjakan Prnya—Neji segera merebahkan tubuhnya, namun ia sama sekali tidak bisa tidur. Sambil menggela nafas panjang—Neji bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamarnya. Sambil menikmati semilir angin malam, Neji mendudukkan dirinya dilantai dingin balkon kamarnya.
"Kenapa—parasaan ku tidak enak begini" gumam Neji sambil memegangi dadanya. Sejak tadi pagi—entah kenapa perasaan Neji begitu aneh dan kepalanya berdenyut sakit.
"Aku—seperti melupakan sesuatu yang penting, tapi—aku tidak tahu apa itu?" tanya Neji pada dirinya sendiri sambil mencoba mengingat sesuatu, namun ia sama sekali tidak bisa mengingat hal penting itu—malahan sekarang kepalanya terasa begitu sakit dan membuatnya pusing.
Setahun yang lalu—Neji pernah mengalami kecelakaan mobil bersama sopirnya, saat itu ia berencana untuk pergi ke kota Suna. Namun ditengah-tengan perjalanan—mobil Neji mengalami kecelakaan dan mengakibatkan sopirnya meninggal, sedangkan Neji selamat namun keadaanya sangat keritis. Dan ditengah-tengah masa keritisnya, keajaib datang. Setelah tiga minggu lebih mengalami tak koma—Neji akhirnya sadar dan tidak lama ia diijinkan pulang kerumah, namun satu masalahnya—Neji tidak dapat mengingat hari-harinya sebelum kecelakaan itu terjadi. Jadi dia hanya ingat kejadian setelah ia bangun dari masa-masa keritis, beruntung Neji masih mengenali orang-orang disekitarnya. Seperti kedua orang tuanya, adiknya, Sasuke dan Shimakaru, kemudian semua pelayannya, teman-teman masa SD, SMP, juga SMAnya.
Tapi—Neji merasa ada sesuatu yang dia lupakan, sesuatu yang sangat penting baginya. Saat Neji mencoba mengingatnya, entah kenapa—kepalanya akan terasa sangat sakit dan pusing.
"Kenapa—saat itu aku pergi ke Suna? Apa yang sebenarnya aku lakukan disana?" tanya Neji pada dirinya sendiri sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit, saat ia mencoba mengingat-ingat kejadian setahun yang lalu.
'Sial—aku tidak bisa ingat apa-apa, siapa—aku mau menemui siapa di Suna?'
Tok..tok
Tiba-tiba Neji dikejutkan dengan ketukan dari luar pintu kamarnya, sedikit membuang nafas—neji berjalan dengan sedikit gontai untuk membukakan pintu. Saat Neji sudah membuka pintu kamarnya, ia melihat Hinata sedang berdiri didepan kamarnya.
"Ada apa?" tanya Neji sambil melihat kearah adik perempuannya.
"Bisakah Nii-san menemaniku membeli kado untuk gurunya—besok?" pinta Hinata sambil malu-malu, ia takut jika kakaknya nanti tidak bisa menemaninya.
"Baiklah—lagipula besokkan libur" kata Neji sambil tersenyum lembut pada adiknya.
"Terima kasih Nii-san" Hinata membalas senyum Neji dengan sangat manis. Setelah Hinata meninggalkan kamar Neji—segera ia kembali naik ketempat tidur dan mencoba untuk masuk kealam mimpi. Tidak berapa lama—Neji sudah tertidur lelap.
"Eung" erang Neji didalam tidurnya—saat ini Neji sedang bermimpi dan mimpinya selalu sama akhir-akhir ini.
Didalam mimpinya—Neji berdiri sendirian ditengah-tengan padang bunga yang begitu indah, kemudian ia melangkahkan kakinya yang telanjang kesebuah bukit yang letaknya tidak jauh dari padang bunga itu. Saat Neji sudah berada dibukit itu—Neji melihat dirinya yang lain sedang melihat kearahnya, ekspresi dirinya yang lain itu sangat dingin. Kemudian Neji melihat—dirinya yang lain mendekat kearahnya.
"Siapa kau?" tanya diri Neji yang lain pada Neji.
"Aku—Neji" jawab Neji sambil terus memperhatikan dirinya yang lain.
"Kalau begitu—kau Neji dari masa depan yah?" tanya diri Neji yang lain, kemudian menjulurkan tangannya pada Neji, sedikit tak mengerti—namun Neji menyambut tangan dirinya yang lain.
"Aku—Neji dari dua tahun yang lalu" sambil tersenyum—Neji dari masa lalu menarik tangan Neji dan membawanya menuruni bukit dan berlari masuk kesebuah hutan kecil.
"Hey! Mau kemana kita?" tanya Neji sambil masih mengikuti Neji dari masa lalu berlari kecil menuju kesebuah rumah kecil didalam hutan kecil itu. Rumah itu memang sudah bobrok namun masih layak huni, Neji dari masa lalu mmembawanya masuk kedalam. Didalam rumah kecil itu—Neji melihat seorang remaja dengan rambut merah marun sedang menangis dipojokan dinding, sedikit mengerutkan dahinya—Neji mendekati remaja merah itu. Namun saat Neji hampir sampai didepan remaja merah itu—Neji dari masa lalu mendekati remaja merah marun itu sambil memeluknya erat.
"Tenang saja—aku disini, mereka tidak akan mengaganggumu. Karena aku akan melindungimu" kata Neji dari masa lalu sambil mengelus lembut rambut merah remaja didekapannya.
"Janji" remaja itu mendongakkan kepalnya untuk melihat Neji dari masa lalu—sedangkan Neji—ia tidak bisa melihat wajah remaja merah itu dengan baik karena seperti ada sebuah kabut yang menghalangi pandangannya untuk melihat kearah remaja merah marun itu.
"Tentu saja—karena aku akan selalu ada disampingmu, dan tidak akan membiarkan mu terluka lagi. aku sangat menyayangimu—Gaara" sambil menyebutkan nama 'Gaara'—Neji dari masa lalu melihat kearah Neji.
"Gaara?" gumamnya pelan, Neji sedikit mendekat kearah Neji dari masa lalu dan remaja merah bernama Gaara. Namun saat Neji sudah hampir mendekat—tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan berat, setelah itu ada sebuah cahaya muncul dan membawanya pergi. Tepat setelah itu—Neji terbangun dipagi hari dengan keringat dingin mengucur deras dan wajahnya terlihat begitu pucat.
"Hah..hah—mimpi itu lagi" gumam Neji sambil menyeka keringatnya, kemudian ia turun dari tempat tidurnnya.
"Gaara" gumamnya pelan sambil melihat pantulan dicermin kamar mandinya.
"Siapa sebenarnya Gaara itu—ada hubungan apa aku dengannya?" Neji menundukkan kepalanya dan entah kenapa hatinya begitu terasa sakit. Hingga tanpa sadar—Neji menitikan air matanya ia tak tahu kenapa ada air mata yang turun dari matanya. Dan saat dirinya mencoba mengingat tentang Gaara—tiba-tiba saja air matanya turun.
'Ada apa dengan ku? Kenapa rasanya begitu rindu dengan—Gaara. Dan siapa Gaara itu?'
.
.
.
Uchiha mansion.
Pagi ini—Naruto bersiap-siap menuju rumah Iruka, hari ini adalah ulang tahun pamannya yang ke 30 tahun, sambil menyiapkan kadonya yang ia letakkan didalam tas ranselnya—Naruto sedikit merapikan pakaiannya. Setelah siap—Naruto segera keluar dari dalam kamarnya.
Saat ia keluar dari kamarmya—Naruto melihat pintu kamar Sasuke yang masih tertutup rapat, sejak kemarin—Sasuke tidak pulang kerumah. Kata Kakashi—Sasuke menginap dirumah temannya dan tidak tahu kapan kembalinya. Naruto menghela nafas panjang—ia menunduk sedih, sejak Naruto melihat Karin dan Sasuke berciuman—entah kenapa perasaannya sangat aneh. Dia merasa sangat tidak rela jika Sasuke dicium oleh Karin, apalagi—sekarang Sasuke tidak pulang ke rumah sejak kemarin. Naruto seperti merasa kehilangan dan hampa tanpa Sasuke, meskipun mereka sering bertengkar—tapi Naruto merasa nyaman berada didekat Sasuke. Sadar dengan yang dipikirkannya—Naruto segera menepis semua pikiran anehnya.
'Apa yang aku pikirkan sih!'
Tidak mau berlama-lama—Naruto segera melangkahkan kakinya menuju lantai bawah, namun saat Naruto hampir sampai dipintu keluar—ia bertemu Kakashi yang terlihat terburu-buru.
"Naruto—mau kemana?" tanya Kakashi saat ia berpapasan dengan Naruto.
"Aku mau ke rumah paman Iruka—aku permisi dulu yah paman Kakashi" pamit Naruto sambil berlalu pergi dengan sepedanya. Melihat Naruto pergi—Kakashi segera menuju keruangannya.
Terlihat disana—Kakashi sedang berdiri dengan tegap sambil menghadap ke jendela besar diruangan kerjanya, ia seperti sedang menunggu seseorang. Tak sampai 10 menit, beberapa orang berjas hitam masuk kedalam ruangannya sambil membawa seorang pria paruh baya yang tampak ketakutan.
"Katakan! Apa yang kau rencanakan bersama Karin—pak Jang?" tanya Kakashi tanpa basa-basi sambil memandang serius pada seorang lelaki paruh baya yang ternyata adalah pak Jang—sekarang pak Jang dipaksa duduk disalah satu kursi yang disiapkan oleh Kakashi untuknya, dengan keringat dingin pak Jang memandang Kakashi takut-takut. Saat ini Kakashi dan beberapa orang berjas hitam mengelilinginya dan membuat suasana menjadi tegang. Selama pak Jang menjadi koki di kediaman Uchiha—baru kali ini ia berhadapan langsung dengan Kakashi, dirumah ini—Kakashi sangat dihormati, dia juga terkenal galak dan menakutkan.
Glup
Sambil menelan ludah paksa—pak Jang terus mengelap keringatnya, sebenarnya ia tak mau mengatakan yang sebenarnya pada Kakashi. Tapi—melihat keadaannya yang benar-benar terpojok, mau tidak mau—ia harus mengatakannya.
'Maafkan aku—Nona Karin, aku terpaksa harus mengatakannya'
Namun—saat pak Jang hampir mengatakan yang sebenarnya pada Kakashi, tiba-tiba Karin datang dengan mendobrak pintu ruangan Kakashi bersama empat orang berbadan besar dibelakangnya.
"Apapun yang terjadi—jangan katakan pak Jang!" perintah Karin sambil sedikit membentak pak Jang.
"Berani sekali kau kemari" Kakashi manatap dingin kearah Karin sambil mendekatinya. Melihat Kakashi mendekat—Karin lantas mundur dan bersembunyi di balik 4 orang berbadan besar yang dibawanya tadi.
"A..aku datang kemari untuk menyelamatkan pak Jang" Karin sedikit ketakutan saat menatap wajah dingin Kakashi, tidak dipungkirinya—jika Kakashi itu benar-benar menakutkan.
"Kalian berempat—cepat bawa pak Jang keluar dari sini!" perintah Karin sambil mendorong seorang pria besar didepannya, mendengar perintah Karin—keempat pria besar itu menerjang Kakashi dan membuat Kakashi sedikit terhuyung—beruntung ia bisa mempertahankan keseimbangannya. Melihat keempat pria besar itu mencoba membawa pak Jang—segera Kakashi memberi aba-aba pada beberapa orang anak buahnya untuk menggagalkan aksi keempat pria itu. Dan akhirnya—duel antara anak buah Kakashi dan pria besar suruhan Karin pun tak terhindarkan, namun karena keahlian bela diri anak buah Kakashi lebih hebat—alhasil keempat pria besar itu kalah dan membuat mereka melarikan diri sejauh mungkin.
Melihat kesempatan untuk kabur—pak Jang segera berlari menuju pintu keluar ruangan Kakashi, sementara Kakashi sendiri mengejar Karin yang sudah kabur entah kemana. Saat pak Jang sudah keluar dari ruangan Kakashi—ia begitu merasa lega, namun beruntung ada Ukon dan Sakon yang kembali menangkap pak Jang dan membawanya keruangan Kakashi kembali.
Sementara itu kembali pada Kakashi—ia sudah berhasil menangkap Karin dan membuatnya mengatakan rencana buruknya pada Naruto.
"Kenapa kau ingin menyingkirkan Naruto? Apa kau masih menaruh harapan pada Sasuke?—Atau harta Uchiha" tanya Kakashi sambil menyudutkan Karin diantara dirinya dan dinding. Melihat Kakashi yang begitu menyeramkan—Karin menutup matanya sambil gemetar ketakutan, merasa diabaikan oleh Karin—Kakashi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Kau tahu apa ini—Karin" Kakashi menunjukkan sebuah kertas dengan lambang perusahaan milik keluarga Karin. Merasa namanya disebut—karim sedikit membuka matanya dan ia terkejut saat Kakashi menunjukkan sebuah kertas dengan lambang perusahaan milik keluarganya.
"A..apa itu?" tanyanya sambil masih ketakutan.
"Ini adalah bukti kecurangan perusahaan ayahmu, dan kau tahu—perusahaan Uchiha dan perusahaan lain di Jerman benar-benar dirugikan oleh perusahaan ayahmu, jika Fugaku tahu tentang hal ini—maka bisa dipastikan, perusahaan kalian akan hancur" ancam Kakashi sambil melotot menakutkan didepan Karin.
"Jangan—kumohon, jangan berikan itu pada paman Fugaku" sambil memohon pada Kakashi—Karin mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya. Merasa menang—kakashi menyeringai lebar.
"Baiklah—aku akan menyimpan kertas ini dengan baik, tapi—" Kakashi menggantung kalimatnya dan memegang kedua pundak Karin.
"Ada satu syarat yang harus kau patuhi" sambil melototi Karin—Kakashi sedikit meremas bahu Karin dan otomatis membuatnya kesakitan dan merasa tidak nyaman.
"Kau harus pergi dari tempat ini dan jangan ganggu Sasuke ataupun—Naruto" setelah mengatakan itu—Kakashi kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya dan betapa terkejutnya Karin, saat ia melihat sebuah benda yang dikenalnya ada ditangan Kakashi.
"Paspor ku" gumam Karin pelan namun masih bisa didengar oleh Kakashi.
"Sebaiknya—kau cepat angkat kaki dari sini. Dan ingat! Jika aku masih melihatmu berkeliaran di sekitar Sasuke ataupun Naruto—akan ku pastikan, besoknya perusahaan ayahmu akan benar-benar hancur" ancam Kakashi lagi sambil melempar paspor Karin dan beruntung Karin bisa menangkapnya. Mendengar ancaman Kakashi yang menakutkan baginya—Karin segera berlari menjauhi Kakashi, namun Kakashi menghentikannya sebentar.
"Oh iya! Sebenarnya—pihak berwajib di Jerman sudah mengirim surat penahanan atas nama ayahmu disana, dan kertas yang aku bawa ini—" Kakashi menunjukkan kertas tadi pada Karin yang membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan Kakashi barusan.
"Kertas ini sebenarnya—hanya salinan bukti kecurangan perusahaan ayahmu lho, jadi—aku tidak janji padamu, jika Fugaku akan tahu semua kebusukan ayahmu di Jerman sana. Dan kertas ini sebenarnya tidak berguna untukku, kau boleh menyimpannya untuk kenang-kenangan" sambil meyeringai puas—Kakashi meremas kertas ditangannya dengan kasar dan membuangnya tepat kearah Karin. Mendengar penjelasan Kakashi yang begitu membuatnya takut—segera Karin berlari ke kemarnya dan mengemasi barang-barangnya, tanpa membuang waktu—Karin segera menuju badara untuk kembali ke Jerman.
Melihat Karin sudah pergi dari Uchiha mansion—pak Jang menjadi panik, entah mengapa—ia merasa ditinggalkan dan dihianati oleh Karin. Padahal selama ini—ia selalu setia pada Karin. Melihat pak Jang menundukkan kepalanya lesu—Sakon dan Ukon saling berpandangan, mereka tidak mengerti dengan perubahan sikap pak Jang.
"Kau sudah lihatkan—Karin sudah pergi, sekarang—apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tiba-tiba Kakashi datang dan membuat ketiganya terkejut. Tidak tahu harus bilang apa—pak Jang hanya tertunduk lesu. Merasa kasihan—Kakashi menghela nafas panjang, ia tahu—selama ini pak Jang sudah bekerja sangat keras sebagai koki di Uchiha mansion.
"Baiklah—aku pikir kau sudah bekerja disini lama sekali, sebagai penghormatan atas kerja kerasmu selama ini. Aku akan putuskan—kau tidak akan dipecat. Tapi—" Kakashi menggantung kata-katanya dan membuat pak Jang sedikit penasaran tapi juga gembira karena tidak jadi dipecat.
"Tapi—aku akan memindahkan pekerjaanmu sebagai asisten rumah tangga, mulai hari ini" lanjut Kakashi sambil tersenyum puas.
"APA!" teriak terkejut Sakon, Ukon dan pak Jang bersamaan.
"Itu tidak adilkan Kakashi-san" kata Ukon sambil menatap Kakashi tidak percaya.
"Berarti—pak Jang naik pangkat dong" Sakon memandang pak Jang yang memandangnya balik sambil menitikkan air mata bahagia. Melihat pak Jang menitikkan air matanya, Sakon menatapnya aneh.
"Hiks—saya benar-benar terharu Kakashi-san, tapi—kenapa anda menunjuk saya sebagai asisten rumah tangga. Padahalkan saya sudah melakukan kesalahan yang hampir membuat tuan Naruto celaka" pak Jang menatap Kakashi sambil masih menangis haru. Lebai deh pak Jang. Mendengar pertanyaan pak Jang—Kakashi sedikit tersenyum sambil menepuk bahu pak Jang.
"Aku tahu—kau sudah dimanfaatkan oleh Karin jadi berterima kasihlah pada Ukon dan Sakon, berkat mereka—aku bisa membongkar kedok Karin yang sebenarnya dan membuat mu lepas dari gadis licik itu"
Mendengar pujian dari Kakashi—Ukon dan Sakon tertawa bangga sambil menatap kearah pak Jang dan Kakashi.
"Curang—kenapa hanya pak Jang saja yang naik pangkat" celetuk Ukon sambil mendekati Kakashi, setuju dengan Ukon Sakon juga ikut mendekati Kakashi.
"Benar—kami juga mau naik pangkat, Kakashi-san~" sambil bernada manja—Sakon menggerak-gerakkan tangan Kakashi manja, dan Ukon juga mengikuti Sakon menggerakkan tangan Kakashi disebelahnya. Memang hanya Ukon dan Sakon yang berani berperilaku manja dengan Kakashi, mau bagaimana lagi—duo kembar ini memang sudah diasuh Kakashi sejak berumur 16 tahun jadi jangan heran bila perilaku mereka semanja ini hingga usia mereka menginjak 25 tahun. Merasa tidak betah dengan kelakuan manja si kembar—Kakashi sedikit tersenyum maklum.
"Baiklah—kalian juga akan aku naikkan jabatannya" kata Kakashi sambil memandang kedua anak didiknya. Mendengar mereka akan naik pangkat—Ukon dan Sakon bersorak gembira.
"Aku akan menaikkan jabatan kalian—dari pelayan rumah tangga menjadi kepala pelayan rumah tangga, menggantikan aku" mendengar penjelasan Kakashi yang mengejutkan—Ukon dan Sakon berhenti bersorak dan menatap Kakashi tidak mengerti.
"Aku sudah memutuskan untuk pensiun dini, dan aku—akan melanjutkan study diluar negri yangs empat tertunda" jelas Kakashi sambil tersenyum simpul pada ketiga orang didepannya.
"Kakashi-san~" rengek Ukon dan Sakon sambil menatap sedih kearah Kakashi. Melihat duo kembar ini akan menangis—Kakashi menepuk kepala mereka berdua dengan sayang.
"Kalian sudah dewasa—sudah saatnya aku melepas kalian dan membuat kalian lebih bertanggung jawab dengan apa yang akan kalian kerjakan nanti tanpa bantuanku. Ini adalah waktu yang sangat tepat untuk menuai hasil kerja keras kalian selama 10 tahun bersama ku. Aku harap—kalian bisa mengerjakannya dengan baik dan menjadi panutan bagi semua pelayan dan pekerja rumah tangga yang lain" sambil menasehati—Kakashi menyerahkan dua benda dengan simbol Uchiha pada Ukon dan Sakon sebagai tanda mereka adalah kepala pelayan menggantikan Kakashi. Merasa mengerti—duo kembar ini mengangguk mantap sambil menatap Kakashi dengan penuh semangat. Kemudian mereka berempat tertawa bersama seakan tidak terjadi apa-apa dan menikmati senja hari dengan hati gembira tanpa beban.
—oooOOOooo—
Kembali pada Naruto—saat ini ia sudah sampai di rumah Iruka, dan tanpa membuang waktu—Naruto segera masuk kedalam rumah pamannya. Dan Naruto sedikit terkejut saat melihat ada seorang remaja seusianya ada didalam rumah pamannya.
"Naruto—kau sudah datang" sapa Iruka yang muncul dari dalam dapur, sambil menyambut Naruto—Iruka juga mengenalkan Gaara padanya. Saat Gaara dan Naruto saling berhadapan—mereka bersalaman dan saling memperkenalkan diri masing-masing, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengakrabkan diri—mungkin karena sifat mereka yang saling terbuka terhadap satu sama lain hingga membuat mereka merasa nyaman dan cepat akrab dalam waktu singkat.
Sekarang tepat pukul 9 pagi—Naruto dan Gaara sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk menghiasi rumah Iruka dengan hiasan ulang tahun, ada balon berbagai warna, kertas warna-warni yang ditempelkan memanjang disepanjang dinding ruang tamu Iruka. Bahkan di meja ruang tamu ada sebuah kue besar untuk Iruka yang berulang tahun ke 30 tahun. Sambil menunggu murid-murid Iruka datang 30 menit lagi—Naruto, Gaara dan Iruka sedikit berbincang ringan. Ternyata Gaara baru tahu—jika Naruto adalaj keponakan Iruka dan pernah bersekolah di Suna selama dua tahun saat SMP dulu, kemudian pindah ke Konoha saat SMP kelas 3.
"Oh iya Naru—bagaimana keadaan Itachi?" tanya Iruka sambil meminun secangkir tehnya.
"Itachi-nii baik, dia juga semakin sibuk sengan promosi filmnya" kata Naruto sambil tersenyum pada Iruka.
"Lalu—bagaimana keadaan Sasuke, apa dia sehat?" tanya Iruka lagi, kali ini ia sedikit memperhatikan keponakannya. Adasedikit perubahan raut muka Naruto saat ia bertanya tentang Sasuke.
"Sasuke.." gumam Naruto pelan sambil menundukkan kepalanya. Melihat Naruto menundukkan kepalnya—Iruka sedikit khawatir.
"Naruto—kau kenapa?" Iruka mendekati Naruto sambil menatapnya khawatir. Kemudian Naruto menceritakan masalahnya selama ini dan Iruka mendengarkannya dengan baik, sementara itu Gaara yang tidak mau mengganggu pembicaraan serius antara Naruto dan Iruka—memutuskan untuk pergi namun segera ditahan oleh Naruto.
"Gaara—aku juga butuh pendapatmu" kata Naruto sambil menarik Gaara kembali ketempatnya. Naruto mulai bercerita lagi tentang perasaan aneh yang muncul setiap kali mengingat tentang Sasuke, dengan seksama—Iruka dan Gaara mendengarkannya sambil meminum teh mereka.
"Intinya sekarang—kau sudah menyukai Sasuke" celetuk Gaara sambil menatap Naruto, mendengar celetukan Gaara—Naruto sedikit terkejut. Dengan cepat Gaara bisa mengerti arti dari cerita Naruto yang sepertinya membingungkan dan berputar-putar, namun dengan cepat—Gaara bisa menangkap kesimpulan dari cerita Naruto.
"S..suka—a..aku menyukai Sasuke? Benarkah?" Naruto sedikit tidak mengerti dan tidak percaya dengan kesimpulan Gaara, samar-samar ada semburat merah muda dikedua pipi Naruto saat memikirkan—bahwa ia menyukai Sasuke.
"Kau sendirikan yang bilang—jika berhadapan dengan Sasuke, maka jantungmu akan berdebar dengan keras dan membuatmu tidak bisa menatapnya lama—tapi saat ia tidak ada kau malah merasa kehilangan. Dan tentang gadis bernama Karin itu—kau cemburu padanya, saat melihatnya mencium Sasuke, kau merasakan hatimu sangat sakit, ada rasa tidak rela, dan merasa sangat marah. Itu namanya kau sedang cemburu" jelas Gaara panjang sambil menatap Naruto yang terkejut dengan penjelasan panjangnya.
"I..itu" Naruto menundukkan kepalanya, entah kenapa—apa yang dikatakan Gaara benar-benar tepat seperti apa yang dirasakannya selama ini. Saat Gaara akan melanjutkan kata-katanya—tiba-tiba murid-murid Iruka sudah datang dan berkumpul didepan rumahnya.
"SENSEI! SELAMAT ULANG TAHUN!" kata mereka bersamaan sambil satu persatu masuk kedalam rumah Iruka dan memberikan kado yang mereka bawa pada Iruka.
"Terima kasih semuanya" kata Iruka sambil meletakkan semua kadonya keatas meja. Beruntung sekali Iruka mempunyai murid-murid yang manis seperti mereka, tapi sayang tahun depan—semua anak didik Iruka dikelas 6 akan masuk SMP dan membuatnya harus berpisah dengan mereka. Iruka adalah wali kelas dikelas 6, jadi tidak heran—jika yang datang kerumahnya adalah hanya siswa di kelas 6 saja.
"Karena semuanya sudah datang—sekarang ayo kita makan kuenya" seru Naruto semangat sambil menyodorkan beberapa kue diloyang pada anak didik Iruka dan segera saja—kue didalam loyang Naruto sudah habis dalam sekejab. Akhirnya suasana rumah Iruka jadi ramai oleh celotehan anak didiknya dan pesta ulang tahunnya berlangsung sangat meriah.
Tidak terasa sudah dua jam lebih pesta ulang tahun dirumah Iruka berlangsung, dan semua murid-murid Iruka sudah kembali pulang dengan dijemput oleh sopir dan orang tua mereka masing-masing. Namun ada satu murid yang masih belum pulang hingga sekarang, dia terlihat cemas karena hingga sekarang tidak ada yang menjemputnya. Melihat salah seorang muridnya masih berada didepan pagar rumahnya dengan gelisah—Iruka mencoba mendekatinya.
"Hinata—kau belum dijemput kakakmu?" tanya Iruka sambil menenangkan muridnya yang bernama Hinata.
"Belum sensei—tapi tadi Nii-san sudah janji akan menjemputku" katanya cemas sambil memperhatikan jalanan.
"Lebih baik kau menunggu didalam saja—ayo" Iruka mengajak Hinata masuk kembali kerumahnya.
"Gaara—tolong ambilkan minuman untuk Hinata" perintah Iruka pada Gaara dan segera ia mengambil minuman untuk Hinata dan Iruka. Sambil menemani Hinata—Iruka sedikit mengobrol ringan dengan Hinata, Gaara dan Naruto.
"Gaara!" panggil Naruto sambil menarik Gaara keluar rumah Iruka untuk menuju pekarangan dan meninggalkan Iruka dan Hinata diruang tamu.
"Apa?" Gaara memandang Naruto yang sepertinya agak ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Eumm—yang tadi, kita belum selesai" Naruto sedikit malu-malu sambil melirik kearah Gaara. Mengerti dengan maksud Naruto—Gaara hanya menjawab dengan mengatakan "Oh!"
"Naruto!" panggil Gaara sambil mendekati Naruto, kemudian menaruh kedua tangannya dibahu Naruto.
"Kau bilang—Sasuke sudah mengatakan cinta padamu tapi kau belum menjawabnya dan malah bingung dengan status pertunanganmu dengan Itachi—" Gaara menggantung kalimatnya dan menatap Naruto yang masih menunduk, terlihat Naruto sedang memikirkan kata-kata Gaara.
"Kalau aku jadi kau—aku akan menjawabnya 'iya','karena bagiku saat ini—Sasuke adalah segalanya untuk ku. Apapun rintangannya, aku yakin bisa melewatinya bersama Sasuke. Kerana aku yakin, Sasuke akan melindungiku dan menjagaku, karena ia sudah berjanji untuk menjaga dan melindungiku'. Itu yang akan aku katakan pada diriku sendiri seandainya aku berada diposisi mu saat ini—Naruto" Gaara mencoba menyakinkan Naruto sambil masih memegang kedua bahunya. Mendengar penjelasan Gaara—Naruto mendongakkan kepalanya dan menatap Gaara dengan pandangan penuh keyakinan.
"Kau pasti bisa mengatakannya—Naruto, kalahkan rasa takutmu dan singkirkan egomu. Anggap saja ini kesempatan terakhirmu, tidak ada besok, lusa atau tahun depan. Ini adalah waktunya bagimu untuk maju selangkah mendahului Karin, kau tidak maukan—Sasuke kembali kepelukan Karin dan mambuatmu ditinggalkan oleh Sasuke. Ingat Naruto—Sasuke juga menyukaimu, jadi ini kesempatanmu untuk menjawab perasaannya padamu" lanjut Gaara sambil memberi semangat dan keyakinan—dan akhirnya Naruto memantabkan diri untuk mengatakan perasaanya pada Sasuke.
"BAIKLAH! AKU AKAN MELAKUKANNYA" teriak Naruto mengepalkan kedua tangannya didepan dadanya dengan penuh semangat dan keyakinan. Melihat Naruto bersemangat dan yakin dengan keputusannya—Gaara mengacungkan jempolnya kearah Naruto yang saat ini sudah meninggalkan rumah Iruka sambil mengendarai sepedanya dengan kecepatan tinggi. Padahal jarak antara rumah Iruka dan Uchiha mansion sedikit jauh—namun beruntung ada jalan pintas yang biasanya ia lalui agar ia bisa mempersingkat waktunya menuju Uchiha mansion, jalan pintas itu sebenarnya ditunjukkan Itachi padanya saat mereka sedang bersepeda dengan santai dihari minggu. Mendengar teriakan Naruto—Iruka keluar dari rumahnya dan hanya mendapati Gaara dipekarangan rumahnya.
"Mana Naruto?" kata Iruka sambil celingukan mencari Naruto.
"Dia sudah pulang—sepertinya, dia mau mengatakan perasaannya pada Sasuke" jelas Gaara sambil menatap kearah Naruto pergi. Mengerti dengan ucapan Gaara—Iruka tersenyum bangga pada remaja disampingnya ini, meski umurnya lebih muda darinya—tapi ternyata, Gaara mempunyai sifat yang dewasa juga.
Tin..tin
Tidak berapa lama terdengar suara klakson mobil dari luar rumah Iruka—sepertinya itu kakak Hinata yang sudah menjemputnya, dengan gembira—Hinata berpamitan pada Iruka dan Gaara. Saat melihat Hinata menuju mobil kakaknya—Iruka dan Gaara juga ikut mengantar Hinata sampai didepan pagar rumahnya.
"Nii-san turunlah, aku mau memperkenalkan guruku padamu" perintah Hinata sambil menarik kakaknya turun dari mobil.
"Baiklah—aku akan turun" dari dalam mobil—kakak Hinata turun dan mengikuti adiknya untuk menuju ketempat Iruka yang tidak jauh dari mobinya. Saat melihat kakak Hinata turun dari mobilnya—Gaara membelalakkan matanya dengan lebar, ia begitu tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Kakak Hinata sudah berada dihadapan Iruka dan Gaara, kemudian Hinata mengenalkan Iruka pada kakaknya—yang ternyata bernama Hyuga Neji dan setelah itu Neji berkenalan dengan Gaara. Tapi—saat Neji akan menjabat tangan Gaara untuk berkenalan, tiba-tiba saja Gaara menitikkan air matanya dan membuat Neji, Iruka dan Hinata terkejut.
"Ada apa denganmu?" tanya Neji khawatir sambil mendekatkan dirinya kearah Gaara. Melihat Neji mendekatinya, tiba-tiba saja Gaara memeluknya dengan erat dan membuat Neji terkejut.
"Akhirnya hik..aku bisa bertemu denganmu—Neji" sambil mengeratkan pelukannya Gaara terus menangis ditubuh tinggi Neji.
"Apa?" tanya Neji sambil melepaskan pelukan Gaara dan saat melihat wajah Gaara yang dipenuhi air mata—entah kenapa, ia seperti pernah melihat hal ini sebelumnya. Melihat wajah Neji yang penuh keterkejutan—Gaara mengerutkan dahinya.
'Kenapa—reaksinya seperti itu, apa jangan-jangan Neji lupa padaku'
"Kau—tidak ingat padaku?" tanya Gaara sambil menghapus air matanya, sementara Neji—ia hanya menggelengkan kepalnya pelan sambil terus menatap Gaara.
'Aku yakin pernah melihatnya—tapi dimana?'
Melihat Neji tidak mengingatnya—Gaara sedikit kecewa. Jauh-jauh dia datang dari Suna ke Konoha untuk bertemu Neji, ternyata—saat sudah bertemu, Neji malah melupakannya dan tidak mengingatnya sama sekali. Dengan perasaan sedih dan kecewa—Gaara berjalan dengan gontai dan masuk menuju rumah Iruka, sia-sia sudah ia datang kemari. Sementara itu—Neji masih bingung dengan dirinya, saat melihat wajah Gaara—sepertinya ia pernah mengenalnya.
"Sudahlah—lebih baik kalian pulang saja, biarkan Gaara sendiri dulu" kata Iruka sambil tersenyum kearah Neji dan Hinata. Setelah berpamitan pulang—mobil Neji sudah melaju kencang dijalanan. Disepanjang perjalanan—dia terus memikirkan Gaara, ia benar-benar yakin pernah bertemu dengannya tapi entah dimana.
"Nii-san—Apa nii-san mengenal Gaara-nii?" tanya Hinata penasaran, sepertinya ia merasa aneh dengan sikap Gaara pada kakaknya.
"Entahlah—aku tidak begitu ingat" jawab Neji sambil mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan Gaara. Tidak lama setelah itu, Neji dan Hinata sudah sampai di rumah mereka yang megah. Kemudian Hinata dan Neji masuk kedalam rumah bersamaan.
'Dimana yah? Aku seperti pernah melihatnya. Dan rambut merah itu—sepertinya familiar sekali'
"Oh iya! Nii-san—Suna itu dimana sih?" tanya Hinata sambil memiringkan kepalanya dan menghentikan Neji masuk kedalam kamarnya
"Suna? Eumm—kota itu sangat jauh dari sini, bahkan harus naik kereta dua kali baru bisa sampai. Memang kenapa dengan kota Suna?" Neji menatap heran pada Hinata yang tiba-tiba bertanya tentang kota Suna yang terkenal memiliki udara sedikit panas dari pada Konoha. Sambil berdiri diambang pintu kamarnya-Neji menunggu jawaban adiknya dengan penasaran.
"Gaara-nii berasal dari Suna, dan saat ia mengatakan tentang kota tempat tinggalnya di Suna—aku jadi ingat saat kita berlibur ke Suna bersama ayah dan ibu. Tapi aku lupa jalan menuju Suna" jelas Hinata sambil mengingat kota Suna yang memang terkenal memiliki udara yang panas namun indah.
'Suna—Suna—Suna'
Neji sedikit mengerutkan dahinya, ia tidak begitu ingat saat Hinata mengatakan jika mereka pernah berlibur bersama keluarga mereka ke Suna. Namun saat mendengar kata Suna—entah kenapa perasaan Neji jadi aneh dan sepertinya ia kembali mengingat sesuatu yang sejak kemarin dipikirkannya. Sesuatu yang penting dan dilupakannya—sepertinya 'sesuatu' itu berhubungan dengan Gaara dan Suna.
"Kapan—keluarga kita pergi ke Suna?" tanya Neji sambil memegang bahu kecil Hinata.
"Seingat ku sih—dua tahun yang lalu" jawab Hinata sambil menatap kakaknya bingung.
"Dua tahun yang lalu—di Suna, Gaara" samar-samar—Neji sedikit mengingat dan mencoba untuk kembali kemasa dua tahun yang lalu. Saat Neji menengadahkan kepalanya, ia mendapatkan sesuatu dari ingatannya. Dan tiba-tiba ia teringat dengan mimpinya—mimpi yang sama dan berulang-ulang, hingga ia mengingat seorang remaja didalam mimpinya yang menundukkan kepalanya sambil menangis. Dan ciri-ciri remaja itu persis dengan Gaara.
"Gaara" tiba-tiba Neji menggumamkan nama Gaara—ia ingat dengan jelas, dimimpinya—Neji dimasa lalu memeluk seorang remaja bernama Gaara. Mata Neji terbelalak saat ia samar-samar mengingat kejadian dua tahun yang lalu.
"Dua tahun yang lalu—aku pergi ke Suna dan—" Neji memegang kepalanya yang berdenyut-denyut dan membuatnya sedikit terhuyung—beruntung Hinata menahan badan kakaknya dan menyandarkannya di kusen pintu kamar Neji.
"Nii-san—nii-san kenapa?" tanya Hinata khawatir sambil masih menyangga tubuh kakaknya.
"Aku ingat—Gaara!" teriak Neji sambil berjalan dengan terhuyung menuju lantai bawah, dan saat akan melalui tangga terakhir-Neji sedikit terpeleset, beruntung ia perpegangan dipegangan tangga. Dengan masih menahan sakit dikepalnya-Neji terus melangkah menuju garasi mobilnya dan setelah sampai di garasi mobilnya-segera saja Neji masuk kedalam mobilnya. Dari dalam rumah, Hinata melihat kakaknya kembali kedalam mobilnya dengan kondisi yang pucat-ia sedikit khawatir dengan kakaknya yang memaksakan diri untuk mengemudi dengan kondisinya yang pucat.
"Tunggu aku Gaara—sekarang aku sudah ingat semuanya!" Neji menyalakan mobilnya dan dengan kecepatan tinggi Neji sudah melaju di jalan raya.
Saat ini—Neji sudah mengingat kejadian dua tahun lalu—saat ia pertama kali bertemu dengan Gaara dan Neji juga ingat—alasan kenapa dia pergi ke Suna setahun yang lalu dan tanpa terduga—ia malah mengalami kecelakaan mobil. Dan membuatnya kehilangan separuh ingatannya—Neji tidak bisa mengingat semua kejadian sebelum ia mengalami kecelakaan setahun yang lalu, dia hanya mengingat hari-harinya setelah keluar dari rumah sakit dan beberapa masa lalunya dengan samar-samar. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan—dengan kecepatan tinggi, Neji melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah Iruka.
.
.
.
(Flashback On)
Suna dua tahun yang lalu.
Saat ini Neji sedang liburan di Suna bersama kedua orang tuanya dan adiknya, ia melihat daerah Suna lebih panas dari pada Konoha namun masih terlihat indah dimatanya. Sambil berjalan-jalan santai—Neji melihat kesekilingnya dan mencoba beberapa makanan yang dijajakan dipinggir jalan.
Saat Neji sedang berjalan-jalan disebuah gang sempit—tiba-tiba Neji melihat seorang remaja sedang dipalak oleh beberapa orang bertubuh besar. Merasa kasihan dengan remaja itu—Neji akhirnya menolongnya.
"Seharusnya kalian malu dengan badan besar kalian—bisanya hanya menganiaya orang lain yang lebih kecil dari kalian" kata Neji dingin sambil berdiri didepan remaja tadi.
"Hei bocah—kau jangan ikut campur, ini urusan kami dengan anak ini" kata seorang pria bertubuh besar itu sambil mencengkram kerah kemeja Neji, namun tidak membuatnya goyah sama sekali. Sambil menyeringai lebar—Neji mengambil poncelnya dari saku celananya.
"Aku sudah menghubungi polisi—mereka akan datang 5 menit lagi" ancam Neji sambil menatap pria itu dingin. Merasa takut—beberapa pria itu segera berlari menjauhi remaja itu dan Neji, sebenarnya—Neji hanya menggertak mereka dan tidak benar-benar menghubungi polisi. Merasa aman—Neji menghadap kearah remaja itu dan betapa terkejutnya ia saat melihat remaja itu menangis hebat sambil menundukan badannya.
"Hei! Sudah jangan menangis—mereka sudah pergi" kata Neji sambil menunduk dan mencoba menenangkan remaja itu.
"Hiks..hiks..aku takut—mereka selalu menggangguku hiks" sambil sesenggukan—remaja itu tiba-tiba memeluk Neji, tubuhnya bergetar ketakutan dan terlihat sangat rapuh. Sambil mencoba untuk menenangkan remaja itu—Neji memeluknya balik sambil mengelus kepala remaja itu.
"Tenanglah—mereka tidak akan mengganggumu lagi, aku janji" Neji terus mengelus kepala remaja itu lembut dan akhirnya membuat remaja dipelukannya tenang.
"Janji?" kata remaja itu sambil tersenyum gembira dan saat melihat senyum cerah di wajah remaja itu—entak kenapa wajah Neji memanas.
"Ja..janji" jawab Neji sambil menahan degupan jantungnya yang berdebar sangat kencang.
Keesokan harinya—Neji dan remaja itu bertemu kembali, mereka semakin akrab dan Neji baru tahu nama remaja itu adalah Sabaku Gaara. Gaara masih kelas dua SMP, dan pria-pria yang menganggunya kemarin adalah preman yang selalu memalak anak-anak sekolah sepertinya. Mereka banyak mengahabiskan waktu dengan berkeliling kota seharian tanpa lelah, Gaara banyak tahu tentang seluk-beluk kota Suna dan mengajak Neji ketempat-tempat kesukaannya. Seperti sekarang—Gaara mengajak Neji ketempat rahasianya, sebuah tempat terletak tidak jauh dari desa tempat tinggal Gaara. Sepanjang perjalanan menuju tempat persembunyian Gaara—Neji banyak melihat padang bunga yang luas dan indah, kemudian Gaara mengajaknya keatas bukit untuk melihat pemandangan desanya dari atas.
"Indah sekali" gumam Neji sambil menata kagum pemandangan didepannya. Sedikit tersenyum puas—Gaara mengajak Neji kembali menuruni bukit dan kali ini ia mengajak Neji masuk kedalam sebuah hutan kecil. Sepanjang perjalanan Gaara banyak bercerita tentang tempat rahasianya pada Neji. Dan sampailah mereka disuatu rumah yang terlihat jelek namun masih terlihat bagus, karena Gaara sering merawat rumah itu dan membersihkannya. Didalam rumah itu—ada banyak sekali buku yang tertata rapi dan Gaara menunjukka sebuah buku kesukaannya pada Neji dan secara kebetulan—Neji juga suka buku itu. Dan akhirnya mereka malah membaca buku bersama hingga waktu senja tiba.
Tidak terasa waktu liburan Neji di Suna sudah berakhir dan membuatnya harus berpisah dengan Gaara, namun Neji berjanji pada Gaara untuk berkunjung ke Suna pada liburan sekolah yang akan datang.
Dan Neji selalu menepati janjinya—ia selalu datang saat liburan sekolah berlangsung, meski tak lama—Neji selalu meluangkan waktu bersama Gaara. Dan tapa terasa hubungan mereka semakin dekat, tanpa Neji sadari—ternyata Gaara sudah menaruh hati sejak pertama kali mereka bertemu. Dan Neji juga baru menyadari, jika dirinya juga menyukai Gaara.
Sudah setahun lamanya mereka bersahabat—namun Gaara dan Neji masih belum mengatakan perasaan mereka masing-masing, meski mereka berada jauh—namun Neji selalu mengirim email atau menghubunginya disetiap waktu. Baginya—Gaara adalah hari-harinya, sehari saja dia tidak menghubungi Gaara—hatinya serasa begitu hampa.
"Aku harus mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Gaara" gumam Neji pelan sambil mengepalkan kedua tangannya. Kemudian dengan semangat—Neji keluar dari kamarnya dan bersiap pergi menuju mobilnya.
"Kau mau pergi ke Suna lagi—Neji?" tanya ibu Neji sambil merapikan baju hangatya, memang hari ini suhu di Konoha sedikit dingin dan ibu neji tidak mau melihat anaknya sakit.
"Jangan lupa pakai jaket hangat mu—ku dengar hari ini akan turun salju dengan lebat" lanjut ibu Neji, entah kenapa—ia begitu khawatir pada anaknya.
"Tenang saja ibu—udara dingin tidak akan membunuhku" sambil tersenyum senang—Neji berpamitan pada ibunya, kemudian mobil yang ditumpangi oleh Neji dan sopirnya melaju pelan meninggalkan Hyuga mansion. Melihat mobil yang ditumpangi Neji sudah berangkat—tiba-tiba Ibu Neji merasakan perasaan yang benar-benar tidak enak.
"Ada apa ini—kenapa perasaan ku tidak enak" tidak mau memikirkan hal yang jelek—ibu Neji segera masuk kerumah.
Kembali pada Neji—disepanjang perjalanan menuju Suna, Neji tidak henti-hentinya tersenyum bahagia. Besok—Gaara berulang tahun ke 15 tahun dan tepat dihhari ulang tahunnya—Neji akan menyatakan perasaanya.
"Aku jadi deg-degan" gumam Neji sambil mengatur nafasnya. Perjalanan menuju Suna sangat jauh, mungkin membutuhkan waktu sekitar kurang dari 24 jam perjalanan. Sambil mengirim email pada Gaara—Neji jiga tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun pada Gaara, dan Neji mengatakan pada Gaara jika—ia sudah berangkat ke Suna malam ini dan akan tiba besok pagi. Sambil mengirim email dan sms pada Gaara—Neji mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Semoga dia suka" gumam Neji sambil menggenggam erat benda yang ada ditangannya, sebuah benda berbentuk kotak persegi kecil yang dibungkus rapi oleh Neji dengan kertas kado berwarna merah dan ada sebuah pita diatasnya. Sambil menatap kado untuk Gaara ditangannya—Neji membayangkan senyuman Gaara dan suara Gaara yang begitu menggetarkan hatinya. Sebelum berangkat ke Suna, Neji menyempatkan diri untuk membeli sesuatu sebagai kado spesialnya pada Gaara.
"Saljunya turun lebat sekali" gumam sopir Neji sambil terus melajukan mobilnya, sekarang jalanan sedikit tertutupi oleh salju yang turun dengan lebat. Bahkan mobil-mobil hanya sedikit yang lewat. Sambil terus melajukan mobilnya—sopir Neji berusaha tetap fokus dan menyetir dengan tenang, meskin pandangannya sedikit berkabut. Didalam gelapnya malam dan guyuran salju lebat—mobil Neji terus melaju dan saat melewati tikungan tajam, tiba-tiba ada sebuah truk dengan kecepatn tinggi datang tepat kearah mobil yang ditumpangi Neji. Dengan cepat—sang sopir Neji membelokkan tajam mobilnya, tapi malah menabrak pembatas jalan dan membuat mobilnya terguling beberapa kali—alhasil mobil yang ditumpangi Neji terbalik ditengah jalan dan ringsek parah.
Dengan Lemah dan masih dalam keadaan shock—Neji mencoba tetap fokus dan ia melihat jalan seperti terbalik, namun ia segera sadar—ternyata mobilnya yang terbalik dan kaca-kaca mobilnya pecah berhamburan diaspal jalan. Saat mobil Neji masih dalam posisi terbalik—Neji yang berada dibangku penumpang mencoba untuk bangkit, namun ia tidak bisa bergerak karena tergencet oleh kursi penumpang dan kursi didepannya. Sementara sopirnya—ia juga sedang berusaha untuk bangkit, beruntung mereka hanya mengalami luka ringan.
Dari kaca yang pecah—Neji melihat hadiah untuk Gaara tergeletak jauh dari tempatnya dan berada diluar mobilnya yang tebalik. Sambil sedikit merangkak dengan keadaan masih terbalik—Neji mencoba meraih kotak hadiah untuk Gaara itu sambil tangannya menggapai aspal dan berhasil—Neji sudah menggengam kotak hadiah itu dengan tersenyum. Namun sesaat setelah itu—sebuah mobil lain melaju kencang dan menabrak mobil mereka yang sudah terbalik. Sesaat sebelum mobil itu menabrak mobil Neji yang tebalik—sang sopir ternyata melindungi tubuh Neji dari benturan keras.
Brak
Benturan keras tidak terhindarkan dan membuat mobil Neji tedorong dengan keras hingga beberapa meter. Seketika Neji tidak sadarkan diri dengan luka serius di kepalanya dan sopirnya tewas seketika karena melindungi Neji. Tak lama—mobil ambulans datang dan membawa Neji beserta mayat sopirnya kerumah sakit. Sedangkan ponsel Neji sudah hancur dan kado untuk Gaara tertinggal di mobil Neji yang rusak berat.
.
.
.
Sementara itu di Suna—dengan perasaan khawatir, Gaara terus menghubungi Neji. Namun sejak satu jam yang lalu Gaara tidak dapat menghubungi Neji. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur dan menunggu Neji esok harinya.
Keesokan harinya—Gaara terus menunggu Neji ditempat rahasianya, dia terus menunggu Neji dengan cemas. Namun Neji tak kunjung datang dan membuatnya sedih, hingga malam menjelang—Neji tak kunjung datang. Dengan perasaan kecewa dan sedih—Gaara pulang kerumahnya. Dan hari berikutnya—Neji juga tidak datang, hari berikutnya lagi, lagi dan lagi. Neji tidak pernah datang ke Suna, dan Gaara sudah lelah menunggu Neji selama sebulan ini.
"Padahal—dia sendiri yang bilang akan datang ke Suna tepats aat perayaan ulang tahun ku, pembohong" sejak Neji tidak lagi datang ke Suna—Gaara jadi pendiam dan suka menangis. Melihat adiknya menangis—temari medekati Gaara.
"Neji tidak akan berbohong padamu—mungkin ada alasan lain yang membuatnya tidak datang kesini. Neji juga punya kehidupan sendiri—dia tidak mungkin terus-terusan ke Suna yang jaraknya sangat jauh dari Konoha. Kau harus mengerti—Gaara" sambil mengelus rambut Gaara—Temari memeluk Gaara dan berusaha menyakinkan adiknya, jika Neji sedang sibuk dan tidak bisa menemuinya.
"Benar juga" kata Gaara sambil menghapus air matanya.
"Suatu hari nanti—kau yang harus menemuinya di Konoha" Temari tersenyum pada adiknya dan memberi dorongan pada Gaara agar kembali semangat seperi biasanya.
"Baiklah—aku akan menabung untuk pergi ke Konoha dan menemui Neji" janji Gaara pada temari sambil mengepalkan tangannya didepan dadanya. Sejak saat itu—Gaara terus menabungkan semua uang jajannya untuk pergi ke Konoha.
(Flashback Off)
—oooOOOooo—
Neji terus melajukan mobil sport mewahnya di jalan raya, sekarang pikirannya hanya tertuju pada Gaara seorang. Entah sudah berapa mobil yang hampir ditabraknya, tapi beruntung Neji bisa mengendalikan laju mobilnya dan tidak sampai tertabrak.
Tidak berapa lama—Neji sudah sampai didepan rumah Iruka, dan bergegas masuk kedalam untuk bertemu dengan Gaara. Namun sayang—Saat Neji sudah berada didalam rumah Iruka, ternyata Gaara sudah pergi dan memutuskan untuk pulang ke Suna hari ini.
"Sial!" sambil menggertakan giginya—Neji kembali berlari menuju mobilnya dan bergegas menuju stasiun kereta.
Lagi-lagi Neji melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tidak sampai sejam—mobil Neji sudah sampai didepan stasiun, segera saja ia bergegas untuk mencari Gaara. Namun sejauh mata memandang—Neji hanya melihat sekumpulan orang yang berlalu lalang dan tidak menemukan Gaara dimana pun. Tidak mau menyerah—Neji terus berlari mencari Gaara, ia tidak mau kehilangan kesempatan bertemu Gaara lagi.
"Dimana sih dia" sambil mengatur nafas yang putus-putus—Neji celingukan mencari keberadaan Gaara. Dan saat ia hampir menyerah—tiba-tiba dari jauh, matanya menangkap sosok remaja berambut merah marun yang duduk disalah satu kursi ruang tunggu. Sedikit tersenyum lega—Neji perlahan mendekatinya.
"Gaara!" panggil Neji sambil menepuk bahu Gaara pelan, merasa dipanggil Gaara menolehkan kepalanya dan ia terkejut saat Neji sudah berdiri disampingnya. Namun bukannya menyapa balik—Gaara malah memalingkan mukanya dengan sebal pada Neji.
"Untuk apa kau disini" kata Gaara sebal sambil melipat kedua tangannya di dadanya. Neji sedikit tersenyum kecut saat melihat ekspresi Gaara, ia tahu—pasti Gaara kesal dengannya. Neji membuang nafasnya—kemudian duduk disamping Gaara yang masih marah.
"Maafkan aku—Gaara, sebenarnya tadi—aku tidak bermaksud melupakanmu atau pura-pura tidak mengenalmu. Tapi—" Neji menggantung kalimatnya sambil melihat kearah Gaara dengan pandangan yang sulit diartikan. Melihat Neji terus menatapnya—Gaara menudukkan kepalnya dan samar-samar ada sembura merah muda muncul dikedua pipinya.
"Tapi—ada sesuatu hal yang sulit aku jelaskan padamu dan itu berhubungan dengan ingatanku yang hilang" Neji sedikit menundukkan kepalanya, kemudian menatap Gaara dengan pandangan sedih. Mendengar nada bicara Neji yang terdengar aneh—Gaara mengerutkan dahinya.
"Apa—masudmu?" tanya Gaara penasaran sambil menatap Neji dengan penasaran. Tidak mau membuat Gaara khawatir terntang keadaannya yang sebenarnya—Neji malah tersenyum lembut kearahnya dan dengan gerakan cepat—Neji memeluk Gaara dengan erat.
"Maaf—setahun yang lalu, aku tidak bisa menepati janjiku untuk datang di ulang tahunmu" Neji mencium puncak kepala Gaara dengan lembut, kini hatinya benar-benar sudah tenang dan perasaan rindu yang ia rasakan selama ini—sudah ia luapkan pada Gaara. Merasakan kenyamanan—Gaara juga memeluk Neji dengan erat. Dan setelah Neji melepaskan pelukannya pada Gaara, Neji kemudian mengajak Gaara untuk pulang bersamanya ke Hyuga mansion.
Disepanjang perjalanan—Neji menceritakan kejadian setahun yang lalu, saat ia mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatannya. Mendengar Neji mengalami kecelakaan setahun yang lalu—Gaara merasa bersalah, karena dirinyalah—Neji jadi mengalami kecelakaan.
Tidak berapa lama—mobil Neji sudah berada di Hyuga mansion, mereka kemudian turun dan Neji membawa Gaara masuk kedalam rumah besarnya. Awalnya—Gaara tidak percaya dengan pengelihatannya, ternyata Neji mempunyai rumah yang sangat mewah dan besar.
"Gaara—ayo" Neji mengulurkan tangannya pada Gaara, dengan malu-malu—Gaara menerima uluran tangan Neji dan sambil bergandengan tangan—Neji mengajak Gaara masuk kedalam kamar pribadinya.
"Wah—kamarmu luas sekali" sambil terkagum-kagum Gaara berlari kecil dikamar Neji, melihat Gaara yang kembali tersenyum—Neji sedikit lega dan saat ini—Gaara terlihat seperti Gaara dua tahun yang lalu. Tanpa disadari oleh Gaara—Neji menutup pintunya dan berjalan menuju ketempat Gaara yang saat ini sedang memandangi langit senja Konoha di balkon kamar Neji.
Greb
Neji melingkarkan dua tangannya di leher Gaara sambil meletakkan kepalanya dibahu Gaara dengan nyaman. Merasakan kehangatan dari Neji—Gaara sedikit memejamkan matanya dan menyamankan diri pada pelukan Neji.
"Sudah lama sekali aku ingin mengatakannya padamu—Gaara" bisik Neji lembut ditelinga Gaara dan membuat Gaara sedikit geli.
"Apa?" tanyanya sambil menahan debaran jantungnya—Gaara sedikit melirik Neji yang juga melihat kearahnya, kemudian Neji membalikkan tubuh Gaara untuk mengahadap kearahnya.
"Aku—menyukaimu, bukan—tapi, aku mencintaimu—Gaara. Sejak pertama kali kita bertemu—aku sudah tertarik denganmu" sambil memegang kedua pipi Gaara—Neji menatap Gaara dengan lembut dan penuh cinta. Mendengar pengakuan Neji—Gaara terkejut dan juga senang, akhirnya perasaannya selama ini terbalas. Neji juga mencintainya. Dengan perasaah bahagia—Gaara memeganga kedua tangan Neji yang ada dipipinya.
"Aku—aku juga mencintai Neji, sangat mencintaimu" sambil menatap Neji dengan lembut—Gaara mendekatkan wajahnya pada Neji, dan Neji juga ikut mendekatkan wajahnya pada Gaara—kemudian mereka saling menempelkan dahi mereka.
"Kau segalanya bagiku—Gaara" bisik Neji sambil mencium Gaara dengan lembut dan Gaara juga membalas ciuman Neji. Mereka saling membagi ciuman dengan perasaan bahagia dan penuh dengan kehangatan cinta.
"Tinggallah disini beberapa hari" bisik Neji sambil masih memegang wajah Gaara ditakupan tangannya dan memeluk pinggang Gaara dengan lembut, dan Gaara hanya mengangguk pasrah—ia begitu lemah didalam dekapan Neji yang begitu memabukkan.
"Malam ini, biarkan aku menyentuh dan memilikimu seutuhnya—Gaara" Neji memeluk Gaara sambil mengecup bahunya dnega lembut, mendengar ucapan Neji—Gaara sedikit ragu dan mukanya kini menjadi merah. Ia takut—jika nanti Gaara akan mengeewakan Neji. Namun—Gaara tidak mau membuat Neji kecewa, lantas ia mengangguk pelan sambil membalas pelukan Neji dengan erat dan mereka kembali berciuman. Sambil ditemani cahaya matahari senja—Neji dan Gaara saling membagi kehangatan bersama dengan penuh cinta.
.
.
.
.
Dengan gelisah—Naruto menunggu Sasuke pulang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Meski sedikit mengantuk—tapi demi Sasuke, Naruto rela tidak tidur malam ini.
"Dia—belum pulang juga" gumam Naruto sambil terus memperhatikan keluar jendela kamarnya, beruntung jendela kamar Naruto tepat kearah halaman depan jadi dia bisa melihat kedatangan Sasuke.
"Lho! Naruto—kau masih belum tidur?" tiba-tiba Kakashi datang ke dalam kamar Naruto, saat ia melihat lampu kamar Naruto yang masih menyala.
"Belum—aku, masih menunggu Sasuke pulang" jawab Naruto ragu-ragu sambil sedikit menatap Kakashi dengan muka merah menahan malu. Mendengar jawaban Naruto—Kakashi menghela nafas panjang, kemudian berjalan kearah Naruto.
"Apa kau sangat peduli pada Sasuke—Naruto?" tanya Kakashi sambil menatap Naruto serius. Dan kali ini—Naruto tidak mau membohongi perasaannya tentang kepeduliannya pada Sasuke dan rasa sukanya pada Sasuke yang sangat besar. Dengan sedikit blushing—Naruto menganggukan kepalanya. Melihat Naruto menganggukkan kepalanya—Kakashi sedikit tersenyum, kemudian menyerahkan secarik kertas padanya. Naruto sedikit mengerutkan dahi, ia tidak mengerti dengan maksud Kakashi memberinya secarik kertas tadi.
"Aku harap—kau bisa membawa Sasuke kembali besok, dia benar-benar kacau" setelah mengatakan itu—Kakashi meninggalkan Naruto. Naruto melihat kearah secarik kertas itu dan ia terkejut—ternyata kertas tersebut berisi sebuah denah rumah beserta alamatnya. Merasa paham dengan kata-kata Kakashi—Naruto merasa begitu lega.
"Besok—aku kan mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Sasuke" gumam Naruto sambil menyimpan denah rumah yang diberikan Kakashi padanya, dengan perasaan bahagia—Naruto akhirnya tidur dengan pulas.
Apakah Naruto berhasil menyatakan perasaanya pada Sasuke?
Ingin tahu kelanjutannya—kita tunggu dichapter depan OK!
Tbc.
OK terima kasih sudah balas reviewnya dan menyempatkan membaca FF sederhana ini. Dan sekali lagi mohon reviewnya.
