PARADISE LOVE

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Title : PARADISE LOVE

Pairing : SasuNaru, ShikaKiba, NejiGaa

Warning(s) : Boys Love, Typo kemana-mana dan banyak, EYD berantakan masih banyak belajar maklum author baru. Judul nggak nyambung. Pokoknya masih banyak kesalahan.

Catatan : "talk" dan 'mind',

Sasuke, Neji, Shikamaru : kelas 2 SMA

Naruto, Kiba, Gaara : kelas 1 SMA

Karin : kelas 3 SMA

Haru, Itachi : 23 tahun

Kakashi : 30 tahun

Iruka : 28 tahun

Balas review dulu

Hikari No OniHime : posisi hinata udah turun dari mobil Neji, terus Neji langsung kembali kerumah Iruka sendirian buat ketemu Gaara.

psyc Hejun Li jose : Hehe karena terlalu semangat jadi langsung keintinya dan masalah hadiah Gaara dari Neji apaan..euum tunggu aja di chapter spesial, setelah nuntasin Sasunaru, NejiGaa dan ShikaKiba bersatu semua, nanti bakal aku jelasin apa kadonya Gaara itu.

dan huat yang lain terima kasih reviewnya yah..g ngira udah sampai di chapter 7

oh iya aku boleh minta Fb kalian ga..kalau boleh tolong add saya : Asaochocolate Lina Twins Ok..jangan lupa di add

Happy reading!

Chapter 7

Di sebuah desa kecil—terlihat Sasuke sedang membeli beberapa barang di sebuah toko klontong dan setelah selesai membeli beberapa barang yang dibutuhkannya, segera ia meninggalkan toko klontong itu dan bergegas kembali ke rumah singgahnya.

(PS~bayangkan saja rumah singgah di FF ini kayak rumah kontrakan kecil)

Saat ia sedang berjalan sendirian—tanpa sepengetahuannya, beberapa orang sedang mengikutinya—mereka adalah orang suruhan kakashi untuk mengawasi Sasuke selama dia di desa ini. Saat Sasuke sudah tiba di rumah singgahnya—segera saja ia masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintunya. Sasuke meletakkan barang belanjaannya sembarangnya di lantai—kemudian ia berjalan dengan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Keadaan didalam rumah singgah milik Sasuke benar-benar berantakan, terlihat sampah dari beberapa bungkus makanan ringan, gelas cup mie, remah-remah makanan dan beberapa kaleng minuman beralkohol berserakan dimana-mana. Dan parahnya—Sasuke menyewa rumah singgah yang bergitu kecil, dan hanya memiliki dua ruangan—kamar tidur dan kamar mandi.

Setelah selesai mandi—Sasuke membuka sebuah lemari kecil dan memakai bajunya, dengan tatapan kosong—Sasuke berjalan menuju tempat tidurnya. Dengan kasar—Sasuke menendang beberapa kaleng minuman yang tergeletak di lantai dan mengambil bungkusan belanjaannya yang ternyata berisi dua makanan ringan dan empat botol minuman beralkohol. Keadaan Sasuke saat ini benar-benar kacau—pandangannya kosong dan rambut yang tidak tertata rapi, bukan seperti Sasuke yang biasanya. Setelah menghabiskan satu kaleng minumannya—Sasuke membuangnya kesembarang tempat, ia tidak peduli dengan kebersihan tempat tinggalnya saat ini.

Dua tahun yang lalu—Sasuke juga pernah seperti ini, merasa hati dan hidupnya telah mati karena ia telah dicampakkan oleh Karin. Dan sekarang—Sasuke benar-benar merasa hampa dan tidak bersemangat, ia tidak tahu harus berbuat apa—saat orang yang dicintainya tidak membalas cintanya sama sekali.

"Naruto" gumam Sasuke dengan pandangan kosong—ia menatap kaleng minumannya kemudian melemparnya sembarang dan membuat air didalam kaleng itu tumpah membasahi lantai kamar Sasuke. Sasuke menundukkan kepalanya sambil menyisir rambutnya dengan sela-sela jarinya.

Sejak kemarin—Sasuke datang ke desa kecil ini untuk menenagkan dirinya dan tidak ada seorang pun yang tahu—jika Sasuke berada di desa ini, namun saat sudah berada di desa ini—ia malah semakin kacau dan tidak punya semangat hidup. Beginilah keadaan Sasuke jika sedang mengalami 'Patah hati', dia akan menyendiri dan menyembuhkan luka dihatinya dengan minum-minuman beralkohol.

"Huh" sambil menghela nafas panjang—Sasuke tidur dikasur kecilnya sambil mencoba untuk tidur, dan tidak berama ia tertidur dengan damai.

.

.

.

Ditempat lain—terlihat Naruto sedang kebingungan mencari jalan menuju tempat dimana Sasuke berada, sejak 15 menit yang lalu—Naruto turun dari bus yang membawanya kesebuah desa terpencil dan saat ia sudah turun—ternyata ia malah tersesat. Karena baru pertama kalinya ia ke desa ini—Naruto berkali-kali menanyakan alamat pada beberapa orang yang ditemuinya dan mereka bilang desa itu berada dibalik bukit dan sepertinya—Naruto salah turun tempat. Dan parahnya—bus berikutnya akan datang 5 jam lagi, tidak mau menunggu selama itu—akhirnya Naruto memutuskan untuk berjalan kaki saja.

"Masih jauh sekali~" rengeknya sambil sesekali memijat lututnya yang pegal dan seperti mau patah, sambil mengehela nafas panjang—Naruto kembali berjalan kaki kearah bukit yang ternyata jaraknya masih sangat jauh.

Merasa capek—Naruto memutuskan untuk beristirahat sebentar dibawah sebuah pohon rindang dipinggir jalan, kemudian dengan rakus—Naruto meminum air mineralnya hingga tersisa separuh di botolnya.

"Bagaimana mungkin aku bisa sampai di bukit itu sebelum matahari ternggelam" gumam Naruto sambil patah semangat, ia tak pernah mengira—jika perjuangannya untuk menemui Sasuke akan seberat ini. Sambil mengatur nafas—Naruto melihat kearah sekitarnya dan sejauh mata memandang hanya hamparan sawah dan kebun yang terlihat, sementara di jalan raya—ia tak melihat mobil, motor bahkan bus yang melintas. Benar-benar sial nasip Naruto.

Saat Naruto hampir menyerah—tiba-tiba ia melihat sebuah traktor yang perlahan-lahan mendekat kearahnya. Dengan semangat—Naruto bangkit dari duduknya dan berlari menuju tepi jalan raya untuk menghentikan traktor tadi sambil melambaikan kedua tangannya keatas. Melihat ada yang melambaikan tangan kearahnya—pengemudi traktor itu menghentikan traktornya dan berhenti tepat disamping Naruto.

"Apa kau butuh bantuan—anak muda?" tanya orang itu sambil memandang kearah Naruto.

"Begini—sebenarnya aku ingin pergi ke alamat ini, tapi—kata orang-orang disini, desa tempat alamat ini berada ada dibalik bukit itu" jelas Naruto sambil menunjuk sebuah kertas berisi alamat pada orang itu.

"Wah! Kebetulan sekali—aku berasal dari desa diatas bukit itu, kalau begitu—naiklah! Aku akan mengantarmu" kata orang itu sambil sedikit menggeser tempat duduknya agar Naruto bisa naik dan duduk disampingnya. Dengan hati gembira—Naruto menerima bantuan orang tadi dan duduk dengan santai diatas traktornya. Disepanjang perjalanan menuju desa dibalik bukit tempat Sasuke tinggal—Naruto banyak bercerita tentang dirinya yang tinggal di kota dan jarang naik traktor seperti ini, mendengar cerita Naruto—orang itu hanya tertawa dan tak pernah mengira jika ia akan bertemu dengan orang kota yang menyenangkan seperti Naruto.

Tak berapa lama—Naruto sudah berada di desa tersebut, kemudian ia segera turun dari traktor orang itu. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada orang itu dan segera pergi mencari alamat dimana Sasuke tinggal selama dua hari ini.

"Yosh! Waktunya mencari Sasuke" sambil menyemangati dirinya sendiri—Naruto berjalan kesebuah gang sempit dengan penuh semangat. Naruto banyak bertanya pada orang-orang yang ia temui sambil menunjukkan sebuah alamat yang dia pegang dan tak lama ia menemukan sebuah bangunan rumah singgah dengan empat rumah yang sedikit berjauhan namun masih satu area. Dan dari keempat rumah singgah itu—salah satunya ada Sasuke yang sejak kemarin menempatinya.

"Apa benar ini rumah singgah Sasuke? Kenapa kecil sekali" Naruto mengerutkan keningnya saat ia melihat bangunan rumah singgah terlihat kumuh dan kecil. Dengan ragu—Naruto mengetuk pintu rumah singgah milik Sasuke, beruntung sebelumnya—Naruto sempat bertanya pada pemilik rumah singgah tentang dimana Sasuke tinggal. Lama tidak mendapat jawaban—akhirnya Naruto memutuskan untuk menunggu Sasuke didepan pintunya.

"Lama sekali—apa Sasuke ada didalam?" gumam Naruto sambil kembali mengetuk pintu rumah singgah Sasuke dan setelah menunggu lama—akhirnya pintu itu terbuka. Dan terlihat Sasuke yang terlihat berantakan dan ada lingkaran hitam dimatanya, melihat Naruto berada didepannya—segera Sasuke menutup pintunya dan membuat Naruto bingung.

"Sasuke! Kenapa kau menutup pintunya?" Naruto mencoba membuka pintu rumah singgah Sasuke—namun dari dalam, Sasuke sudah menguncinya. Sementara itu—masih dalam keadaan terkejut—Sasuke berkali-kali menyakinkan dirinya, jika yang berada diluar adalah Naruto bukan bayangannya atau ilusi semata.

"Kenapa dia ada disini?" gumam Sasuke bingung sambil mondar-mandir tidak jelas. Ia hanya heran—bagaimana Naruto tahu jika dia berada di desa ini, dan disaat Sasuke sedang kacau—Naruto datang tanpa terduga. Ia tidak mau Naruto melihat keadaannya yang berantakan dan menyedihkan seperti ini.

"Sial! Apa yang harus aku lakukan" dengan frustasi—Sasuke mengacak-acak rambutnya dan membuat rambut Sasuke makin berantakan.

Diluar—Naruto masih memanggil Sasuke dan mengetuk-ngetuki pintunya, Naruto tidak tahu—kenapa Sasuke tiba-tiba menutup pintunya seperti itu. Padahalkan niatnya tidak buruk—hanya mau mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Sasuke dan ingin membawanya kembali seperti kata Kakashi padanya malam kemarin. Dengan lesu—Naruto menundukkan kepalanya, sudah berapa banyak energinya yang terbuang dan membuatnya lemas seperti ini.

Tadi pagi—ia hanya sarapan roti dan karena saking semangatnya, Naruto lupa membawa bekal untuk makan siang. Dia pikir—setelah menempuh perjalanan panjang dari Konoha ke desa Kiri, ia akan langsung menemukan desa tempat tinggal Sasuke dan setelah itu membawa pulang Sasuke dengan mudah. Tapi ternyata Naruto malah salah turun dan membuatnya harus berjalan hingga beberapa jauh jaraknya dari halte bus, hingga akhirnya ia bertemu dengan orang baik hati yang mau mengantarnya hingga sampai disebuah desa dibalik bukit. Dan setelah menemukan tempat Sasuke—ternyata Sasuke malah menutup pintunya dan seperti tidak mau menemuinya.

"Sasuke—buka pintunya, aku ingin bicara" kata Naruto lemah sambil masih mengetuk pintu rumah singgah milik Sasuke. Kesal karena Sasuke tidak juga membuka pintunya—Naruto menggedor keras pintu rumah singgah Sasuke.

Brak..brak

"TEME! CEPAT KELUAR!" teriak Naruto dari luar rumah singgah Sasuke sambil menggedor-gedor pintu rumah singgah milik Sasuke, mendengar teriakan Naruto dari luar—telinga Sasuke sedikit berdenging dan membuatnya tidak tahan. Akhirnya—Sasuke membuka pintu rumah singggahnya sambil melotot kearah Naruto.

"DOBE—BERISIK! KAU BISA MEMBUAT TELINGA KU BUDEK TAHU!" bentak Sasuke keras.

"Habisnya—kau tidak mau membuka pintumu, aku sudah lelah tahu—berdiri seperti ini membuat kakiku serasa mau patah" melihat Sasuke membuka pintunya—dengan seenak jidatnya, Naruto masuk tanpa seijin Sasuke.

"Apa ini?" pekik Naruto saat kakinya menginjak bungkus makanan yang berserakan dilantai rumah Sasuke dan Naruto juga melihat beberapa kantong makanan dan kaleng yang berserakan dilantai.

"Teme—kau jorok sekali, berapa hari kau tidak membersihkan kamarmu. Menjijikkan—kau ini manusia apa kecoak sih? Kenapa semua bungkus makanan berserakan seperti ini?" sambil menggerutu—Naruto berjongkok untuk memunguti beberapa kantong makanan dan kaleng-keleng minuman yang berserakan dilantai. Naruto mengerutkan dahinya saat menemukan beberapa kaleng minuman beralkohol yang tergeletak sembarangan dilantai.

"Teme—sejak kapan kau mulai minum minum-minuman beralkohol?" tanya Naruto sambil memperlihatkan kaleng minuman beralkohol pada Sasuke. Melihat Naruto memegang kaleng minuman beralkohol—segera Sasuke mengembilnya dengan kasar.

"Bukan urusanmu—mau apa kau datang kemari?" dengan tatapan dingin—Sasuke melipat kedua tangannya didadanya. Sebelum Naruto mengatakan tujuannya kemari—Naruto sedikit menghela nafas kemudian bangkit untuk berdiri dan menatap Sasuke dengan pandangan lembut.

"Ayo pulang—teme" Naruto memegang salah satu telapak tangan Sasuke sambil memandangnya dengan penuh harap. Melihat pandangan Naruto—hati Sasuke berdesir dan membuatnya berdebar, namun segera ia tepis perasaan itu karena saat ini—pasti Naruto sudah menjadi milik Itachi.

"Tidak—aku tidak akan kembali!" Sasuke menyentak tangan Naruto kasar sambil berbalik memunggunginya, ia benar-benat tak sanggup melihat wajah Naruto saat ini. Sasuke benar-benar belum siap melihat Naruto bersanding dengan Itachi, apalagi Naruto sudah menolaknya. Mendengar jawaban Sasuke—Naruto sedikit kecewa, ia menundukkan kepalanya dalam.

"Sasuke!" panggil Naruto lirih sambil menatap punggung Sasuke dengan sedih.

"Apa alasanmu meninggalkan rumah?" tanya Naruto dengan nada serendah mungkin.

Terkejut dengan pertanyaan Naruto—Sasuke terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Mana mungkin dia bilang—alasannya pergi dari rumah karena Naruto yang sudah menolaknya dan membuatnya patah hati seperti ini, bisa-bisa Naruto dan seisi rumah akan menertawainya.

"Kau tidak perlu tahu—itu bukan urusanmu" kata Sasuke dengan nada dibuat sedingin mungkin dan masih memunggungi Naruto. Naruto mengepalkan kedua tangannya—ia benar-benar tidak tahan dengan sikap Sasuke yang baginya sangat tidak jelas dan aneh.

"Apa kau membeci ku—teme?" tanya Naruto sekali lagi sambil menahan amarahnya. Sasuke sedikit terkejut dengan pertanyaan Naruto kali ini—ia tidak membenci Naruto, malahan sangat mencintainya.

"Sudahlah dobe, aku tidak akan kembali kerumah—sekarang pulanglah" kata Sasuke sedikit membentak sambil memalingkan badannya mengahadap kearah Naruto. Saat Sasuke sudah memalingkan badannya—ia terkejut melihat Naruto menundukkan kepalanya dalam. Merasa khawatir—Sasuke mendekati Naruto dan sedikit memegang bahu kecilnya.

"Do..dobe—kau tidak apa-apa kan?" Sasuke mengangkat kepala Naruto dengan tangan sebelahnya dan saat wajah Naruto terangkat—tiba-tiba saja Naruto menghajar wajah Sasuke dengan keras dan membuatnya terhuyung kebelakang.

"Akhh! Sialan kau dobe—kenapa kau memukul ku tiba-tiba!" bentak Sasuke sambil memegangi rahangnya yang sakit karena bogem mentah dari Naruto.

"Dengan cara apapun—aku akan membawamu pulang. Sa-su-ke" tanpa aba-aba—Naruto kembali menghajar wajah Sasuke, sedangkan Sasuke—karena tidak mau menyakiti orang yang dicintainya—ia berusaha menghindari pukulan Naruto.

"Dobe—tenangkan dirimu!" sambil menghindar dari pukulan Naruto—Sasuke berlari kecil. Namun sayang—karena banyak kaleng minuman berserakan di lantai kamarnya, alhasil sekarang Sasuke malah terpeleset dan membuatnya jatuh terlentang dengan kepala membentur lantai.

"Ittai~" Sasuke memegangi kepalnag yang sakit akibat terbentur lantai dengan keras. Melihat Sasuke tergeletak di lantai—Naruto mendekatinya dengan mata penuh amarah. Dan sekarang—Naruto tepat berada di depan Sasuke yang masih setengah tidur sambil memegangi kepalnya yang sakit.

"Mati kau—teme" sambil menatap tajam kearah Sasuke—Naruto mengepalkan sebelah tangannya dan duduk diatas perut Sasuke—Naruto berusaha membuat gerakan Sasuke terkunci dan membuatnya tidak bisa kabur lagi.

Melihat posisinya yang tidak aman—Sasuke mencoba menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa dan ia merasa berat saat bernafas kerena Naruto berada tepat diatas perutnya. Tanpa membuang waktu—Naruto mencengkram kerah kemeja Sasuke dan membuat tubuh Sasuke sidikt terangkat, kemudian Naruto bersiap menghajar Sasuke dan melayangkan tinjunya.

Melihat Naruto akan melayangkan tinjunya—Sasuke memejamkan matanya—bukan karena ia takut pada Naruto, tapi karena Sasuke siap menerima luapan emosi Naruto padanya. Mungkin—ini akan menjadi pukulan Naruto yang terakhir kali untuknya, karena beberapa minggu kedepan—Naruto akan resmi menjadi tunangan Itachi dan membuat Sasuke harus melupakan Naruto untuk selamanya.

Namun saat Sasuke sudah bersiap menerima pukulan dari Naruto—tiba-tiba saja Naruto menarik kedua kerah Sasuke dan dengan gerakan cepat—Naruto mencium Sasuke tepat dibibirnya. Merasakan sesuatu yang aneh menempel dibibirnya—Sasuke membuka matanya dan betapa terkejutnya dia—saat melihat Naruto menciumnya.

'Naruto—mencium ku, apakah—ini mimpi atau kenyataan?'

Ciuman itu tidak bertahan lama—karena Naruto segera melepaskan penyatuan dibibir mereka, melihat Sasuke terkejut dengan tindakannya—Naruto menundukkan kepalanya dengan malu. Sementara Sasuke—mukanya memerah karena efek ciuman dari Naruto tadi. Ia benar-benar tak menyangka—jika Naruto akan mencium bibirnya.

"Sasuke—sebenarnya aku..aku.." dengan gugup Naruto meremas kedua tangannya, entah kenapa saat ini Naruto begitu takut untuk mengatakan perasaannya pada Sasuke.

'Kau tidak boleh ragu—ayo Naruto berjuanglah' tiba-tiba beberapa iner Naruto muncul untuk menyemangatinya, dan akhirnya dengan tekat bulat—Naruto memutuskan untuk menyatakan cintanya pada Sasuke.

"Sa..Sasuke—sebenarnya aku..aku menyukaimu" dengan muka yang merah padam—akhirnya Naruto berani juga menyatakan perasaannya. Mendengar Naruto menyatakan perasaanya—Sasuke begitu terkejut, ia bingung dengan Naruto—bukankah selama ini Naruto menyukai Itachi. Melihat Sasuke tidak menunjukkan reaksi—Naruto dengan sebal menampar pipi Sasuke pelan.

Plak

"Aduh—dobe! Kenapa kau menampar pipiku?" bentak Sasuke sambil memegangi pipinya yang panas dan posisi Sasuke masih setengah tidur sambil ditindih oleh Naruto.

"Habisnya—kau tidak meresponku!" sambil menggembungkan pipinya—Naruto melipat kedua tangannya didepan dadanya.

"Tapi—ku pikir, kau menyukai Itachi" Sasuke sedikit bergumam pelan, namun masih bisa didengar oleh Naruto.

"Aku memang menyukai Itachi" kata Naruto enteng sambil menatap Sasuke, mendengar perkataan Naruto—Sasuke sedikit panas.

'Bukankah—tadi dia mengatakan menyukai ku, kenapa sekarang jadi menyukai si keriput mesum itu'

"Tapi aku..aku lebih menyukai mu—teme" sambil menunduk malu—Naruto memainkan kancing baju Sasuke yang tepat berada dibawahnya.

(PS~Naruto masih duduk diatas perut Sasuke dan Sasuke masih setengah tidur)

Mendengar ucapan Naruto—entah kenapa wajah Sasuke kembali memanas dan hatinya terasa sangat lega, ia tak pernah menyangka jika Naruto juga menyukainya.

"Dan, waktu itu maaf—aku tidak langsung mengatakan perasaanku padamu. Bukan maksudku untuk menolakmu—hanya saja, waktu itu aku benar-benar bingung dengan status pertunanganku dengan Itachi-nii" dengan wajah penuh penyesalan—Naruto menatap Sasuke.

"Jadi—waktu itu, kau tidak menolakku?" kata Sasuke sambil menatap Naruto tidak percaya.

"Sudah ku bilang—waktu itu, aku hanya sedikit bingung. Tapi—bukan berarti aku menolakmu" Naruto sedikit meninggikan nada bicara sambil menatap Sasuke dengan sebal. Dengan perasaan penuh kebahagiaan—Sasuke segera bangkit dari posisi setengah tidurnya dan membuat Naruto hampir terjungkal kebelakang, beruntung Sasuke segera menarik kedua tangan Naruto dan dengan gerakan cepat—Sasuke memeluk Naruto dengan erat. Kali ini posisi Naruto duduk dipaha Sasuke dan membuat kaki Naruto melebar dikedua sisi paha Sasuke. (Mudengkan posisi Sasunaru saat ini).

"Terima kasih—kau sudah menerima cinta ku, aku senang sekali" bisik Sasuke lembut sambil masih memeluk tubuh Naruto dengan sangat erat dan Naruto—dia juga membalas pelukan Sasuke sambil memejamkan matanya untuk menikmati kehangatan tubuh Sasuke. Hampir 15 menit mereka saling membagi kehangatan dengan berpelukan—Sasuke mengakhiri pelukannya pada Naruto, namun Sasuke masih mendekatkan diri pada Naruto.

"Jangan pergi lagi—teme. Aku—sangat kesepian" pinta Naruto sambil mengusap pipi kiri Sasuke dengan lembut dan sedikit menyisir rambut Sasuke yang agak berantakan. Melihat Naruto yang berada didepannya begitu manis, membuat Sasuke tidak tahan untuk menciumnya.

"Aku janji tidak meninggalkan mu lagi—dobe" Sasuke menangkap tangan Naruto yang tadi menyisir rambutnya dan dengan gerakan pelan—Sasuke menempelkan bibirnya ke bibir manis milik Naruto. Ciuman itu sangat singkat—namun begitu terasa dibibir mereka masing-masing, sambil tersenyum bahagia—mereka kembali berpelukan dan saling merasakan cinta satu sama lain.

"Aku mencintaimu—Sasuke" bisik Naruto sambil memeluk Sasuke dengan erat—seakan ia tak mengijinkan Sasuke untuk pergi dari sisinya dan membuat hidupnya hampa.

"Aku juga mencintaimu—Naruto, sangat mencintaimu" Sasuke mencium perpotongan leher Naruto sambil menikmati aruma jeruk dari tubuh Naruto. Sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka, karena sekarang—Naruto adalah miliknya, milik Uchiha Sasuke.

Tak lama kemudian—Sasuke dan Naruto memutuskan untuk kembali ke Konoha sore ini juga, disepanjang perjalanan—Sasuke terus mengandeng tangan Naruto dengan erat dan membuat mereka diperhatikan oleh beberapa orang yang mereka jumpai didesa itu. Namun sekarang—Naruto tidak memperdulikan pandangan aneh yang mereka tujukan pada dirinya dan Sasuke, karena baginya saat ini—Sasuke adalah segalanya dan akan selalu melindunginya dari segala hal yang membuatnya tidak nyaman. Saat Naruto hampir sampai diperbatasan desa—tiba-tiba sebuah mobil desan hitam berhenti didepan mereka. Dari balik kaca mobil yang terbuka—Sasuke mengenali siapa pengemudinya.

"Pak Jang!" seru Sasuke sambil menuju kearah pak Jang yang kini turun dari mobil sedan hitamnya.

"Tuan muda—sudah saatnya kita pulang" sambil menunduk hormat—pak Jang membukakan pintu mobil untuk Sasuke dan Naruto, tidak mau berlama-lama—akhirnya mereka berdua masuk kedalam mobil sedan itu dan pak Jang segera melajukan mobilnya dijalanan dengan santai.

Didalam mobil—Sasuke terus menggenggam tangan Naruto dengan erat, bahkan saat kedua remaja ini sedang tertidur dengan pulas. Naruto meletakkan kepalanya dibahu Sasuke dan Sasuke meletakkan kepalanya diatas kepala Naruto. Hari ini—Sasuke dan Naruto resmi menjadi sepasang kekasih dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka, selama Sasuke masih berada disamping Naruto—tidak akan ia biarkan Narutonya tersakiti oleh siapapun. Dan Sasuke berjanji pada Naruto untuk memperjuangkan cintanya dan tidak akan membiarkan Itachi memiliki Narutonya, apapun yang terjadi—Naruto akan tetap menjadi miliknya dan akan selalu ia lindungi meski harus mempertaruhkan persaudaraan antara dirinya dan Itachi.

.

.

.

Konoha Gakuen.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan pelajatan tambahan sudah berakhir satu jam yang lalu dan semua siswa sudah pulang kerumah masing-masing, namun ada seorang siswa yang masih terlihat sibuk mengerjakan sesuatu dengan sebuah lukisannya.

"Yak—selesai" sambil melihat hasil akhir lukisannya, Kiba tersenyum bahagia. Bagaimana ia tidak bahagia—sebentar lagi akan ada kompetisi seni lukis tingkat Nasional dan Kiba berhasil terdaftar sebagai peserta. Lukisan yang ia buat hari ini—akan ia kirimkan ke tempat kompetisi sebagai persyaratan mengikuti kompetisi itu, dan seperti persyaratan sebelumnya—para peserta harus mengirim lukisan original mereka ketempat kompetisi—kemudian para juri akan menilai lukisan para peserta itu. Sambil membungkus lukisannya dengan rapi dan menaruhnya kesebuah map besar—tak lupa Kiba menorehkan namanya diatas map itu.

Setelah membereskan ruangan seni lukis—Kiba memutuskan untuk pulang, terlihat sekolah sudah sangat sepi. Dengan santai—Kiba menenteng tas selempangnya sambil membawa map besar ditangannya, saat akan melewati tangga menuju lantai bawah—Kiba melihat Ino yang sepertinya menunggunya sejak tadi.

Tidak mau Ino melihatnya—segera Kiba bersembunyi dibalik dinding lorong terakhir menuju tangga sambil mengintip Ino yang masih menunggunya dibawah, sudah seminggu ini—Kiba menghindari Ino. Sejak kejadian Ino yang hampir menabraknya seminggu sebelumnya (baca chap. 3)—Kiba merasa kecewa dan sakit hati dengan Ino, ia tak menyangka jika Ino akan mencelakianya dan kabur maninggalkannya yang saat itu sudah menolongnya dari amukan Shikamaru. Kiba benar-benar sudah tidak tahan dengan kelakuan Ino yang memperbudak dirinya, meski mereka satu kelas—Kiba mencoba untuk tidak memperdulikan Ino yang saat itu merengek minta dibuatkan Pr olehnya dan menyuruhnya ini-itu seperti budak. Beruntung Kiba bisa menghindari Ino selama seminggu ini dan hidup damai. Saat Kiba sedang asik dengan pikirannya—tanpa ia sadari ternyata Ino sedang naik kelantai dua dan menuju tepat kearrahnya.

Melihat Ino berjalan kearahnya, membuat Kiba mulai panik—ia kemudian berlari kembali kelorong kelas yang ia lewati tadi dengan cepat. Dan tanpa ia sadari—ia malah masuk ke sebuah laboratorium fisika yang letaknya tidak jauh dari lorong yang ia lewati tadi, kemudian menutup pintunya dan dari balik pintu—Kiba sedikit bisa Ino yang berjalan melewati ruangan tempatnya bersembunyi. Setelah melihat Ino sudah berjalan jauh melewati ruangan tempatnya bersembunyi, segera saja Kiba membuka pintu ruangan Laboratorium fisika dan keluar dengan selamat tanpa sepengetahuan Ino.

"Sepertinya—dia sudah pergi, aku harus cepat keluar dari sini—sebelum Ino menemukanku" sambil mengendap-endap—Kiba berjalan sepelan mungkin agar tidak diketahui oleh Ino yang saat ini sedang berjalan menelusuri setiap lorong kelas dilantai dua. Saat Kiba hampir sampai ditangga menuju lantai bawah—tiba-tiba ia dikejutkan dengan Shikamaru.

'Gawat! Disaat genting seperti ini—Kenapa aku harus bertemu dengannya'

"Kiba—kau belum pulang?" tanya Shikamaru sambil mendekati Kiba dan saat melihat Shikamaru mendekatinya—Kiba memundurkan langkahnya untuk menghindari Shikamaru. Tidak mau berurusan dengan Shikamaru—Kiba memutuskan untuk pergi sambil melewati Shikamaru. Selain menghindari Ino—Kiba juga menghindari Shikamaru, sejak kejadian seminggu yang lalu—entah kenapa perasaan Kiba pada Shikamaru semakin tidak bisa dikendalikan. Setiap ia melihat Shikamaru—tiba-tiba saja dadanya berdegup dengen kencang dan serasa ada yang menggelitik diperutnya.

Saat Kiba melewatinya—Shikamaru menadangnya dengan aneh, entah apa alasan Kiba menghindarinya selama seminggu ini. Tidak tahan dengan sikap Kiba yang aneh, Shikamaru mengejarnya untuk meminta kejelasan padanya.

Grep

Shikamaru menarik tangan Kiba dan menahannya, kemudian membawanya kepojok dinding sambil menatapnya tajam.

"Kenapa kau menghindari ku, apa aku punya salah padamu?" tanya Shikamaru sambil menatap Kiba dengan tajam.

"A..aku tidak menghindarimu—mungkin itu hanya perasaan mu saja" elak Kiba sambil menadang kearah lain, ia tidak tahan dengan pandangan mengintimidasi Shikamaru yang membuatnya tidak nyaman. Melihat gelagat aneh Kiba—Shikamaru yakin ada yang disembunyikan oleh Kiba dan itu berhubungan dengan sikap Kiba yang menghindarinya selama seminggu ini.

"A..aku harus segera pergi-permisi" Kiba menyingkirkan tangan Shikamaru yang sejak tadi menggenggam tangannya dan segera bergegas untuk pulang sebelum Ino menemukannya. Namun saat Kiba baru saja melepaskan tangan Shikamaru yang tadi menggenggam tangannya dan berniat untuk pulang—tiba-tiba dengan kasar, Shikamaru kembali menggenggam tangan Kiba dan menariknya dengan kasar. Kali ini Shikamaru tidak akan membiarkan Kiba lepas, sebelum ia mengatakan alasannya menghindari Shikamaru selama seminggu ini.

"Lepaskan—aku mau pulang" Kiba mendorong tubuh Shikamaru dengan sebelah tangannya yang bebas. Melihat perlawanan Kiba—akhirnya Shikamaru mendorong Kiba kearah dinding dengan memegang kedua tangan Kiba dan meletakkannya dikedua sisinya. Kini Kiba tidak bisa kabur lagi.

"Katakan—kenapa kau menghindari ku" Shikamaru mendekatkan wajahnya kearah Kiba sambil menatapnya dengan serius. Melihat wajah Shikamaru yang begitu dekat—tiba-tiba membuatnya gugup dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, dan lebih parahnya—wajah Kiba berubah jadi merah. Tidak mau menambah warna merah di wajahnya—Kiba memejamkan matanya erat.

'Ini terlalu dekat!'

Melihat muka Kiba yang berubag merah—Shikamaru sedikit khawatir, kemudian tanpa aba-aba—Shikamaru mendekatkan dahinya kedahi Kiba untuk mengukur suhu tubuh Kiba.

Tuk

Merasa ada yang menyentuh dahinya—Kiba membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Shikamaru berada sangat-sangat dekat dengannya.

"Tidak demam—tapi kenapa wajah mu merah sekali" gumam Shikamaru sambil masih menyentuhkan dahinya ke dahi Kiba, dan saat matanya bertatapan langsung dengan mata Kiba yang masih memakai kaca mata tebalnya—entah kenapa hati Shikamaru berdesir halus dan dadanya berdetak dengan kencang. Kiba dan Shikamaru masih saling menatap dan posisi mereka tidak berubah sama sekali. Shikamaru masih memegang kedua tangan Kiba dan masih menempelkan dahinya di dahi Kiba.

Karena terbawa suasana yang tenang—Shikamaru tiba-tiba memiringkan kepalanya dan dalam sekejap—bibir Shikamaru sudah menempel dibibir Kiba yang terasa begitu lembut. Kiba membelalakkan matanya—ia tak percaya dengan apa yang dilakukan Shikamaru padanya, tidak mau terbawa suasana—Kiba mencoba berontak dengan menggerakkan tubuhnya dan kedua tangannya yang masih dipegangi oleh Shikamaru.

"Eummp" Kiba masih berusaha lepas dari Shikamaru yang masih mencium bibirnya, ia benar-benar harus pergi dan jika Ino melihat mereka—maka Kiba akan dapat masalah besar. Merasakan Kiba terus berontak—Shikamaru menempelkan tubuhnya pada tubuh Kiba sambil masih menikmati bibir Kiba—kini Shikamaru menautkan kesepuluh jarinya kesela-sela jari Kiba yang terlihat kecil digenggamannya.

"Eungh" erang Kiba saat Shikamaru melumat bibirnya dengan lembut dan kini—Shikamaru memasukan lidahnya kedalam mulut Kiba hingga sebuah benang tipis muncul disela-sela bibir mereka. Kiba benar-benar tidak bisa memikirkan apa-apa saat ini, ia benar-benar sudah hanyut dalam pesona Shikamaru yang begitu memabukkan.

Saat Kiba sudah kehabisan udara diparu-parunya—ia mengerang kecil sambil sedikit memberontak, mengerti dengan erangan Kiba—segera Shikamaru mengakhiri sesi ciumannya yang begitu intim pada bibir Kiba. Shikamaru melihat wajah Kiba yang memerah dan sedikit sayu dan ia melihat ada aliran bening disekitar bibir mungil Kiba. Dengan pelan—Shikamaru mengusap bibir Kiba dengan jempol tangannya dan Shikamaru sudah melepaskan genggamannya pada jari-jemari Kiba, kini sebelah tangannya memeluk pinggang ramping Kiba dan membuat jarak mereka semakin dekat—sementara kedua tangan Kiba ada di kedua lengan Shikamaru.

Saat meraka masih dalam posisi yang begitu dekat—tanpa sengaja mata Kiba melihat kearah lain dan betapa terkejutnya Kiba—saat ia melihat Ino berdiri sambil membelalakkan matanya lebar.

"I..Ino" gumam Kiba sambil mendorong tubuh Shikamaru pelan dan memandang Ino dengan terkejut. Shikamaru mengikuti arah mata Kiba melihat dan ia sedikit terkejut—saat melihat seorang siswi berdiri tidak jauh dari tempatnya tadi.

'Bagaimana ini! Ino pasti melihatnya tadi, apa yang harus aku lakukan~'

TBC

Sekian dulu dari saya,,jangan lupa reviewnya yah!