PARADISE LOVE

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Title : PARADISE LOVE

Pairing : SasuNaru, ShikaKiba, NejiGaa

Warning(s) : Boys Love, Typo kemana-mana dan banyak, EYD berantakan masih banyak belajar maklum author baru. Judul nggak nyambung. Pokoknya masih banyak kesalahan.

Catatan : "talk" dan 'mind',

Sasuke, Neji, Shikamaru : kelas 2 SMA

Naruto, Kiba, Gaara : kelas 1 SMA

Karin : kelas 3 SMA

Haru, Itachi : 23 tahun

Kakashi : 30 tahun

Iruka : 28 tahun

Happy reading!

Chapter 8

(Ino POV)

Seperti biasa—sepulang dari kelas tambahan, aku selalu menunggu Kiba. Sudah seminggu ini—dia seperti menghindar dariku, dan ini sangat menyusahkan bagiku. Asal tahu saja—selama ini, aku selalu mendapatkan nilai bagus disetiap mata pelajaran dan semua itu karena Kiba—dia selalu mengerjakan semua Pr ku dan juga selalu mengerjakan semua ulangan harianku. Meski tak jarang—dia mendapatkan nilai jelek karena harus mengerjakan ulanganku duluan dan aku tidak peduli—mau Kiba dapat nilai bagus atau nilai jelek, yang penting bagiku—aku mendapatkan nilai yang bagus diatasnya. Sekedar info saja—Kiba tidak akan pernah menolak keinginanku, karena dia sangat patuh pada ibunya dan ibunya sangat patuh pada ayahku. Jika Kiba menolak keinginanku—tinggal bicara saja yang jelek-jelek tentang Kiba pada ibunya dan secara otomatis—ibu Kiba akan langsung memarahinya. Setelah itu besoknya Kiba akan langsung tunduk padaku lagi. Benar-benar menyenangkan bisa menundukkan Kiba dan menjadikannya pelayanku.

Dan sekarang—Kiba terus menghindariku dan saat aku membutuhkannya untuk mengerjakan semua Pr ku, dia malah menghilang. Kalau begini—siapa yang akan mengerjakan Pr dan ulanganku, bisa-bisa aku akan mendapatkan nilai rendah lagi. Sejak Kiba menghindariku—seminggu ini nilai ku menurun dan membuatku harus mendapat terguran dari ayah. Kalau begini terus—bisa-bisa uang jajan ku dipotong. Tidak bisa dibiarkan—aku harus menemukan Kiba dan tidak akan ku biarkan dia lolos.

"Huh" entah sudah berapa lama aku berdiri didepan loker sepatu untuk menunggu Kiba, padahal sudah jam 5 sore—harusnya dia sudah keluar dari kelas seni lukis.

"Lama sekali" gerutuku sambil melihat kearah tangga lantai dua.

"Ck! Kemana sih Kiba—apa dia masih dikelas seni? Dasar—bentah sekali sih dia melukis!" dengan kesal—aku menghentakaan kakiku kelantai, aku sudah tidak sabar menunggunya pulang.

Saat aku melihat kearah lantai dua lagi—aku seperti melihat bayangan seseorang yang mengintip dari balik dinding lorong sekolah menuju tangga. Karena penasaran—aku melangkah menuju tangga lantai dua.

"Mungkin itu Kiba, tapi—kenapa dia bersembunyi segala?" gumamku sambil menaiki tangga lantai dua dan saat aku sudah sampai dilorong—ternyata sepi tidak ada orang.

"Loh? Tidak ada orang—tapi perasaan tadi ada orang kok?" sambil celingukan kesegalah arah dilorong kelas terakhir—aku mencari orang yang tadi bersembunyi dibalik dinding lorong ini.

"Mungkin perasaanku saja—haduh Kiba kemana sih? Apa dia masih ke kelas seni yah?—akan ku cari saja dia disana" sambil melangkah kelorong kelas untuk menuju kelas seni diujung lorong lantai dua, aku sedikit celingukan kekanan dan kekiri—siapa tahu Kiba bersembunyi disalah satu ruangan kelas dilantai dua.

Tak lama—aku sudah berada didalam kelas sini dan ternyata—tidak ada seorang pun disni, sepertinya—Kiba sudah pulang. Sial—ternyata sia-sia aku menunggunya. Dengan sebal—aku keluar ruang seni dan bergegas untuk pulang.

Saat aku hampir sampai dilorong terakhir menuju tangga lantai dua, aku melihat dua orang siswa laki-laki yang sedang berciuman dengan mesra. Sepertinya mereka tidak mengetahui keberadaanku.

'Menjijikkan sekali'

Sambil mengerutkan dahiku—aku memandang mereka dengan seksama, sepertinya—aku mengenali mereka. Dari postur mereka—sepertinya itu Nara senpai dan—Kiba. Aku membelalakkan mataku lebar—aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang aku lihat saat ini, bagaimana bisa—Kiba yang berpenampilan bodoh dan norak dengan kaca mata besarnya—bisa dengan mudah mendapatkan Nara-senpai. Tidak bisa dipercaya.

'Tapi—tunggu dulu, kalau Kiba mempunyai hubungan dengan Nara-senpai—lalu bagaimana denganku?'

Memangsih—aku selalu menganggap Kiba sebagai pelayanku, tapi—tidak aku pungkiri jika aku mulai menyukai Kiba. Dia—selalu menemaniku saat aku sedang susah dan selalu bisa menghiburku jika aku sedang kesepian. Menjadi anak tunggal memang menyenangkan—tapi aku selalu kesepian, beruntung Kiba selalu ada disampingku.

'Tidak boleh—Kiba tidak boleh memiliki hubungan dengan Shikamaru, aku tidak akan membiarkannya. Kiba itu milikku—dan akan selalu menjadi milikku'

(End POV)

.

.

.

.

Saat ini—Kiba benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, saat Ino memergokinya berciuman dengan Shikamaru—sambil memegangi bibirnya yang terlihat basah dan lembab—Kiba menundukkan kepalanya dengan gugup. Ia takut—Ino akan mengatakan kejadian memalukan ini pada temannya dan membuat Kiba harus berhadapan dengan fans Shikamaru yang terkenal bringas.

'Pasti besok—Ino akan menyebarkan berita yang tidak-tidak tentang aku dan Shikamaru. Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?'

Sekedar info saja, selain populer—Ino juga terkenal dengan mulutnya yang pedas dan suka bergosip, bahkan tak jarang—gosip yang disebarkan Ino itu hanya bohong belaka. Namun banyak juga orang yang pecaya dengan gossip murahan dari Ino dan membuat Ino dijuluki dengan sebutan ratu gossip, siapapun siswa yang sudah menjadi bahan gosipan Ino—sudah dipastikan besok siswa itu akan jadi bahan olok-olokan siswa lain di sekolah ini. Dan yang lebih paranya lagi—Ino mungkin akan menagatakan hal ini pada ibunya. Seperti yang Kiba ketahui—Ibunya lebih percaya pada perkataan Ino dari pada perkataan anaknya sendiri. Benar-benar menyebalkan simulut besar Ino ini.

Melihat Kiba menundukkan kepalanya terus—Shikamaru sedikit khawatir, ia takut jika Kiba akan marah dengan perlakuannya yang sepertinya kelewat batas. Tapi ada rasa senang juga—akhirnya dirinya bisa merasakan bibir Kiba yang begitu lembut dan terasa manis saat ia melumat bibir miliknya tadi.

"Kiba—kau tidak apa-apa?" Shikamaru menundukkan badannya sambil menyentuh bahu Kiba pelan, tidak mendapatkan jawaban—Shikamaru menyetuh dagu Kiba dan menariknya keatas untuk mengahapnya. Melihat Shikamaru mencoba untuk melihat wajahnya yang saat ini sudah memerah dan gugup, segera saja Kiba dengan kasar menyentakkan tangan Shikamaru yang berada didagunya. Kemudian tanpa aba-aba—Kiba mendorong Shikamaru keras, hingga membuat tubuh Shikamaru hampir terjatuh—beruntung Shikamaru dapat mengembalikan keseimbangannya.

'Apa yang harus aku lakukan—kenapa, jantung ku berdebar kencang sekali?'

Kiba memegangi dadanya yang berdebar dengan kencang dan masih menundukkan kepalanya, ia tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya.

"A..aku mau pulang" gumam Kiba sambil melangkah pergi meninggalkan Shikamaru dan Ino yang masih memeperhatikan mereka dengan pandangan aneh. Melihat Kiba pergi—Shikamaru mengejarnya dan membuat Kiba terkejut saat Shikamaru berada disampingnya. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan gedung sekolah tanpa ada yang berbicara satu sama lain.

Melihat Kiba dan Shikamaru sudah meninggalkannya sendirian dilorong kelas—Ino mengerutkan dahinya, Ia tak pernah menyangka jika Shikamaru dan Kiba mempunyai hubungan yang begitu dekat.

"Tidak boleh—Kiba itu miliku, tidak akan ku biarkan siapapun memiliki Kiba selain aku. Meskipun itu Nara-senpai sekalipun—aku tidak akan menyerah" gumam Ino sambil meremas kedua tangannya.

Saat Ino hampir meninggalkan lorong kelas—tiba-tiba matanya melihat ampolop besar yang tergeletak pojokan lantai, dengan penasaran—Ino memungutnya .Tanpa seijin pemiliknya—Ino membuka amplop besar itu dan ia sedikit terkejut, ternyata isi didalam amplop besar itu adalah sebuah lukisan abstrak yang begitu indah.

"Indah sekali" gumam Ino saat ia melihat lukisan itu, dan Ino mengerutkan alisnya saat menemukan sebuah surat formulir dengan tulisan 'Peserta Kompetisi Seni Lukis Tingkat Nasional : Inuzuka Kiba'. Dengan perasaan iri dan marah—Ino meremas kertas formulir itu hingga kusut, ternyata—lukisan itu milik Kiba. Sudah sejak lama Ino merasa iri dengan bakat Kiba yang bisa melukis dengan sangat bagus. Meski Ino dan Kiba selalu sama-sama berada dikelas seni lukis dan sama-sama bisa melukis sejak kecil, tapi Kiba selalu lebih unggul darinya dan membuat Ino selalu kalah darinya. Meskipun Ino sudah berkali-kali ikut kompetisi seni lukis—ia tak pernah bisa menang dan selalu kalah oleh Kiba, sekeras apapun ia berusaha—Kiba pasti selalu bisa mengalahkannya.

"Menyebalkan—dia selalu bisa mengalahkanku" sambil membuang kertas formulir milik Kiba—Ino mengepalkan tangannya.

"Lihat saja—tahun ini, aku akan membuatmu tidak bisa memenangkan kompetisi seni lukis apapun" dengan muka licik—Ino merobek likisan milik Kiba dan membuangnya ketempat sampah. Dengan puas—Ino berjalan menuju parkiran mobilnya, kemudian bergegas untuk pulang dengan beberapa rencana yang dia susun untuk menghancurkan Kiba dan impiannya. Meskipun Ino mulai menyukai KIba—tapi perasaan bencinya pada Kiba juga tidak bisa dihilangkan. Ia benar-benar merasa dikalahkan oleh Kiba dan bertekat akan menjadikan Kiba sebagai pelayannya seumur hidup.

.

.

.

Dalam diam Shikamaru dan Kiba terus berjalan meninggalkan gedung sekolah, sambil masih menundukkan kepalanya—Kiba terus memegangi dadanya yang masih berdebar dengan cepat.

Doki..doki

Shikamaru sedikit mengerutkan alisnya saat melihat Kiba terus menunduk sambil memegangi dadanya, kemudian dengan gerakan cepat—Shikamaru menarik tangan Kiba yang berada didadanya.

Grep

Melihat Shikamaru memegang tangannya—entah kenapa jantungnya kembali berdebar dengan cepat dan membuat wajahnya memerah lagi. Tidak mau menambah merah diwajahnya—Kiba mencoba menarik tangannya yang digenggam Shikamaru, namun sepertinya Shikamaru tidak mau melepaskan tangan Kiba dan malah makin mengeratkan genggamannya pada tangannya.

Sambil masih mengerutkan alisnya—Shikamaru memajukan wajahnya dan sedikit menundukkan badannya tepat didepan wajah Kiba, dan saat melihat wajah Shikamaru yang berada dekat dengan wajahnya—Kiba memalingkan wajahnya kearah lain. Ia benar-benar tidak tahan dengan wajah Shikamaru yang berada dekat dengan wajahnya dan sepertinya wajah Kiba sudah merah seperti kepiting rebus atau udang rebus atau *plak (lupakan pikiran saya -_-).

"Kenapa kau terus memegangi dadamu? Apa kau merasa sakit—disini?" Shikamaru makin mendekatkan wajahnya pada Kiba dan kali ini—Shikamaru menyentuh tepat kearah jantung Kiba yang berdebar dengan cepat dengan telunjuk jarinya. Merasakan sentuhan jari telunjuk Shikamaru yang tepat menyentuh dadanya yang berdebar-debar, Kiba menahan nafasnya sambil menarik nafasnya panjang. Tangannya yang bebas bergetar dan semakin membuat Kiba memerah dibuatnya, ia tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Semakin Shikamaru mendekat kearahnya, semakin kencang pula debaran jantung Kiba dan membuat tubuhnya bergetar. Bukan karena takut pada Shikamaru, tapi ia begitu gugup dan malu saat Shikamaru mendekatinya dan membuat jarak mereka begitu dekat—seperti ada kupu-kupu yang menyebar diperutnya dan membuat sebuah perasaan hangat dihatinya.

'Kenapa dengan ku ini?'

Karena saking gugupnya—Kiba menitikkan air matanya, dan otomatis membuat Shikamaru terkejut.

"Ki..Kiba—kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Shikamaru khawatir sambil terus memperhatikan wajah Kiba dari dekat. Melihat wajah Shikamaru makin mendekat—tiba-tiba Kiba makin menangis kencang.

"HUAAAAAA!" sambil menangis keras—Kiba mendongakkan kepalanya keatas dan membuat Shikamaru makin terkejut dan khawatir. Ia benar-benar tidak tahu kenapa Kiba tiba-tiba menangis seperti itu dan seketika ia sadar—jika tangan Kiba masih ia genggam, pikir Shikamaru—mungkin ia terlalu keras menggenggam tangan Kiba hingga membuatnya menangis seperti itu. Merasa bersalah—Shikamaru melepas genggaman tangannya pada tangan Kiba. Shikamaru masih melihat Kiba menangis—padahal ia sudah melepaskan tangan Kiba yang tadi ia genggam, sedikit menarik nafas—Shikamaru menatap Kiba dengan aneh. Karena tidak tahu harus berbuat apa—akhirnya Shikamaru memeluk tubuh kecil Kiba dan mencoba menenagkannya. Merasakan tubuhnya dipeluk—tiba-tiba Kiba menghentikan tangaisannya, didalam pelukan Shikamaru—Kiba merasakan dada Shikamaru juga berdetak dengan cepat seperti dirinya.

"Sudah jangan menangis" Shikamaru mengelus kepala Kiba dengan lembut sambil masih memeluknya dengan erat. Merasakan kehangatan tubuh Shikamaru yang membuatnya tenang—tanpa sadar, Kiba membalas pelukan Shikamaru.

'Sebenarnya—apa yang terjadi padaku? Kenapa—aku begitu nyaman dipelukan Shikamaru dan hatiku—merasa begitu tenang tidak gugup seperti tadi?. Apakah aku—sudah mulai menyukainya?'

Kiba makin mengeratkan pelukannya pada tubuh tinggi Shikamaru, ia ingin memastikan perasaanya pada Shikamaru—apakah ia suka pada remaja didepannya atau tidak. Lama mereka berpelukan—Shikamaru menyudahi pelukannya dan entah kenapa—membuat Kiba sedikit kecewa. Wajah Kiba tidak semerah tadi—namun ia masih merasakan perasaan hangat didalam dadanya.

"Sudah lebih baikan?" Shikamaru tersenyum lembut kearah Kiba sambil mengusap pipinya dengan lembut dan membuat Kiba mendongakkan kepalanya. Sambil menggit bibirnya—Kiba menahan kegugupannya, dan akhirnya ia hanya mengangguk pelan untuk memberikan jawaban pada Shikamaru.

"Baguslah kalau begitu—aku merasa lega" Shikamaru menepuk kepala Kiba pelan, kemudian ia sedikit menundukkan badannya—tanpa terduga, Shikamaru mencium bibir Kiba singkat dan kembali membuat wajah Kiba merona merah, tepat setelah itu—mobil jemputan Kiba datang dan menunggunya digerbang sekolah. Melihat mobil jemputannya datang—Kiba bergegas menuju mobil jemputannya, tapi sebelum itu—ia berpamitan pada Shikamaru terlebih dahulu.

Dengan perasaan aneh dan sedikit senang—Kiba berjalan kearah mobil jemputannya sambil tersenyum sendiri, meskipun awalnya ia gugup pada Shikamaru—tapis ekarang entah kenapa—Kiba merasa begitu senang. Kiba sudah masuk kedalam mobilnya dan tanpa sadar—ia menyentuh bibirnya dengan jemari tangannya.

"Apakah—ini yang dinamakan ciuman?" gumamnya pelan sambil mengingat ciumannya dengan Shiakmaru dilorong kelas dan dihalaman sekolah tadi. Dengan perasaan berdebar lagi—Kiba memegangi wajahnya yang sepertinya mulai memanas lagi.

'Jangan-jangan—aku memang mulai menyukai Shikamaru? Bagaimana ini—apa yang harus aku lakukan?'

—oooOOOooo—

Sementara itu kembali kesekolah.

Dengan perasaan senang—Shikamaru melangkah menuju mobilnya yang masih terparkir diarea parkiran sekolah. Ia tak pernah menyangka bisa mencium dan memeluk Kiba dihari yang sama. Memang ia akui—sejak pertemuannya dengan Kiba seminggu yang lalu, Shikamaru sudah jatuh hati pada remaja berkacamata itu. Saat Shikamaru hampir masuk kedalam mobilnya—tiba-tiba Ino datang dan menghampirinya, melihat ada yang menghampirinya—Shikamaru memicingkan matanya. Ia ingat—gadis ini yang tadi melihatnya dilorong kelas saat mencium Kiba tadi.

"Apa?" tanya Shikamaru dingin sambil menatap Ino yang berdiri sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.

"Jauhi Kiba!" katanya tanpa basa-basi dan menatap Shikamaru dengan dingin juga. Mereka berdua saling menatap dingin, sepertinya Ino sudah membuang ketakuatannya pada Shikamaru. Ia tahu, remaja didepannya ini mempunyai kekuasaan disekolahnya—tapi ia sudah tidak peduli dengan status Shikamaru saat ini. Yang terpenting sekaranga adalah—tidak akan ia biarkan Kiba jatuh ketangan Shikamaru dengan mudah.

"Apa maksudmu?" tanya Shikamaru dengan penasaran.

"Kiba itu—milik ku, tidak boleh seorang pun merebutnya dariku" jawab Ino sambil menyeringai lebar. Mendengar jawaban Ino—Shikamaru mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan kata-kata Ino barusan.

"Milik mu?" Shikamaru mendekati Ino sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

"Kau belum tahu yah? Kiba itu—" Ino menggantung kalimatnya dan makin membuat Shikamaru penasaran. Sebelum melanjutkan kata-katanya—Ino menyeringai lebar sambil tersenyum licik kearah Shikamaru.

"Kiba itu—tunanganku" lanjutnya sambil menatap puas kearah Shikamaru yang terkejut dan membelalakkan matanya tidak percaya. Melihat Shikamaru terkejut—Ino menyeringai lebih lebar lagi, ia begitu puas melihat ekspresi Shikamaru saat ini. Sebenranya tadi—tanpa sepengetahuan Kiba, Ino sudah menghubungi ayahnya dan memintanya untuk ditunangkan dengan Kiba mulai hari ini. Seperti biasa—ayahnya Ino menyetujui permintaan anak semata wayangnya dan tadi ayah Ino juga menghubungi ibu Kiba, ayah Ino menyampaikan permintaan putri tunggalnya—agar Kiba mau bertunangan dengan putrinya dan sepertinya—Ibunya Kiba menyetujuinya tanpa bertanya dulu pada Kiba. Benar-benar pemaksaan kalau begini.

"Dan jangan coba-coba mendekatinya" setelah mengatakan itu—Ino meninggalkan Shikamaru dengan puas dan setelah itu—ia masuk kedalam mobilnya untuk meninggalkan area sekolah.

Sementara itu Shikamaru—ia masih berdiri disamping mobilnya, sepertinya ia masih belum percaya dengan kata-kata Ino barusan. Sambil menggeram dan mengepalkan tangannya Shikamaru menatap mobil Ino yang sudah meninggalkan area sekolah.

"Cih! Kita lihat—siapa yang akan mendapatkan Kiba duluan, aku atau kau sebagai tunangannya" Shikamaru menyeringai lebar, ia bertekat akan mendapatkan Kiba terlebih dahulu dan tidak akan membiarkan gadis seperti Ino mengalahkannya. Sebelum Shikamaru masuk kedalam mobil sportnya—ia mengambil ponselnya dari saku celananya dan menghubungi seseorang.

"Cepat cari tahu semua informasi tentang Inuzuka Kiba dan serahkan datanya padaku sebelum aku sampai dirumah—mengerti!" setelah memerintahkan seseorang dari sambungan telephonenya—Shikamaru segera masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan area sekolah.

'Tidak akan ku biarkan kau menjadi milik orang lain—Kiba'

.

.

.

Inuzuka mansion.

Tidak sampai satu jam—Kiba sudah sampai dirumahnya, dengan perasaan bahagia ia masuk kedalam rumahnya. Ia masih memikirkan kejadian ciumannya dengan Shikamaru tadi disekolah, sambil bersenandung aneh—Kiba memasuki kamarnya. Namun saat Kiba mau masuk kedalam kamarnya—tiba-tiba ibu Kiba memanggilnya.

"Kiba—bisa kita bicara sebentar?" sambil menatap Kiba dengan lembut—ibu Kiba menarik tangan Kiba dan membawanya keruangannya. Dan saat Kiba sudah sampai diruangan ibunya—ia terkejut saat melihat ada kakak permpuannya, ayah Ino berada diruang kerja ibunya yang letaknya tak jauh dari kamar Kiba dilantai dua rumahnya.

"Ada apa ini?" gumamnya sambil masih mengikuti ibunya masuk keruang kerjanya. Dengan perasaan aneh—Kiba melihat kearah kakak perempuannya meminta jawaban, namun kakak perempuannya malah menatapnya dengan pandangan seperti—'kasihan'. Ibunya mendudukkan Kiba tepat disamping kakak perempuannya yang bernama Inuzuka Hana, Hana adalah seorang dokter hewan yang terkenal dan ia juga mempunyai klinik hewan sendiri.

"Nee-chan—ada apasih?" tanya Kiba sambil berbisik pada Hana, tapi—Hana sepertinya tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada adiknya ini.

"Nanti kau juga akan tahu—Kiba" jawab Hana sekenanya sambil menatap adiknya dengan sedih. Masih penasaran—Kiba menatap kearah ibunya yang juga menatapnya dengan pandangan yang sama dengan kakaknya.

'Kenapa dengan pandangan mereka itu? Aneh sekali'

Karena tidak mau membuang waktu—ayah Ino berdehem keras sambil mendekati Kiba dan duduk didekatnya, ayah Ino mengelus rambut Kiba dengan lembut kemudian menyerahkan sebuah kotak persegi merah berukuran kecil kepadanya. Kiba mengerutkan dahinya—ia tidak mengerti maksud ayah Ino menyerahkan kotak persegi merah kecil itu padanya. Dengan penasaran—Kiba membuka kotak itu dan ia begitu terkejut saat melihat isi kotak persegi itu yang ternyata adalah dua buah cincin perak dengan ukiran indah melingkar disekeliling cincin-cincin itu.

"Apa ini?" tanya Kiba penasaran sambil menatap ayah Ino.

"Itu adalah cincin pertunangan kalian" kata ayah Ino dengan tersenyum lembut kearah Kiba.

"Kalian?" Kiba makin tidak mengerti arah pembicaraan ayah Ino saat ini, saat Kiba akan bertanya lagi untuk meminta kejelasan—tiba-tiba Ino datang dan membuat Kiba, Hana, Ibu Kiba dan ayah Ino terkejut.

"AKU SUDAH DATANG!" teriak Ino keras sambil berlari kearah Kiba dan menyeret Kiba untuk berdiri dari duduknya, merasa masih belum mengerti—Kiba menatap Ino dengan pandangan tidak suka dan ia dengan pelan menyentak tangan Ino yang memegang tangannya. Sepertinya Kiba masih sakit hati dengan Ino.

Sambil menunjukkan wajah pura-pura kecewa—Ino menunduk sedih dan berjalan kearah ibu Kiba, melihat Ino bersedih—ibu Kiba memeluk Ino sambil mengelus rambutnya pelan.

"Kiba—kau tidak boleh bersikap seperti itu pada Ino" marah ibu Kiba sambil masih memeluk Ino.

"Mulai hari ini—kau harus bersikap lembut pada putri kecilku karena dia ini adalah tunanganmu, Kiba" tiba-tiba dari belakang tubuh pendek Kiba—ayah Ino memegang kedua pundaknya dengan keras dan membuat Kiba meringis kesakitan karena tekanan pada pundaknya.

"Ber—bertunangan?" Kiba mengerutkan dahinya kemudian ia menatap kearah ibunya meminta kejelasan.

"Benar Kiba—mulai hari ini, Ino akan menjadi tunanganmu dan ibu sudah menyetujuinya" kata ibu Kiba sambil menatap anaknya denga senyum yang dipaksakan. Sebenarnya—ia tidak menyetujui pertunangan Ino dan Kiba yang terkesan dipaksakan, tapi apa boleh buat—jika ibu Kiba menolak pertunangan anaknya dengan Ino—maka ayah Ino mengancam akan menarik investasinya ke perusahaan keluarga Inuzuka dan akan menghentikan proyek kerja samanya ke perusahaan milik Inuzuka yang terancam bangkrut. Ibu Kiba bukannya tidak mementingkan perasaan anaknya, hanya saja ia tidak mau melihat hidup anak-anaknya sengsara gara-gara terkena imbas kebangkrutan perusahaan Inuzuka yang sudah ia pertahankan sejak ayah Kiba dipenjara.

Dulu yang mengelola perusahaan Inuzuka adalah ayah dan ibu Kiba, dengan gigih kedua orang tua Kiba membangun perusahaan mereka hingga perusahaan itu menjadi besar. Dan suatu hari—perusahaan ayah dan ibu Kiba menerima investasi besar dari perusahaan milik Yamanaka dan akhirnya membuat perubahan besar pada perusahaan mereka. Namun tak lama setelah itu—perusahaan milik Yamanaka melakukan kecurangan dengan memanipulsi pajak pada perusahaan milik kedua orang tua Kiba dan membuat ayah Kiba harus mendekam dipenjara selama 10 tahun. Karena ingin mempertahankan perusahaan yang sudah didirikannya lama—ibu Kiba bertekat untuk membangun perusahaanya kembali dan sekaligus untuk mengisi waktu untuk menunggu suaminya. Tapi—keberuntungan tidak berpihak kepada ibu Kiba, perusahaan yang ia kelola sendiri—mengalami kebangkrutan dan membuatnya depresi. Karena tidak mau jatuh miskin—akhirnya ibu Kiba meminta bantuan pada perusahaan Yamanaka dan beginilah jadinya—ibu Kiba harus tunduk pada ayah Ino agar perusahaan yang ia kelola tidak bangkrut.

Kembali pada Kiba—ia menatap tidak percaya pada ibunya, sambil mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya—Kiba menggit bibirnya. Ia benar-benar sudah tidak tahan dengan tindakan ibunya ini, tega sekali dia menyetujui pertunangan ini tanpa meminta ijin darinya terlebih dahulu.

"AKU TIDAK MAU" tolak Kiba sambil membuang kotak cincin itu kelantai dengan keras dan membuat ayah Ino memicingkan matanya marah.

"AKU TIDAK AKAN BERTUNANGAN DENGANNYA!" dengan marah—Kiba meninggalkan tempat kerja ibunya sambil membanting pintu dengan keras. Sepeninggal Kiba—Ino mendorong tubuh ibu Kiba pelan untuk lepas dari pelukan ibu Kiba tadi.

"Aku tidak mau tahu—pokoknya Kiba harus jadi tunanganku!" dengan seenak jidatnya—Ino berteriak kearah ibu Kiba dan membuat Ibu Kiba harus menghela nafas panjang. Ingin sekali dia menjitak kepala Ino saat ini, kalau saja bukan karena perusahaannya dibawah kendali keluarga Yamanaka—mungkin ia akan menolak pertunangan ini.

"Tenang saja Ino-chan—Kiba akan menerima pertunangan ini, iyakan Tsume?" sambil menatap ibu Kiba yang bernama Inuzuka Tsume—ayah Ino menyeringai licik. Mengerti dengan seringaian ayah Ino—Tsume tersenyum kecut sambil dengan berat hati mengangguk setuju. Setelah mengatakan itu—ayah Ino dan Ino pergi meninggalkan ruangan kerja Tsume dan meninggalkan Hana berserta Tsume didalam ruangan kerja.

"Ibu—sebaiknya kita batalkan saja kerja sama bisnis dengan perusahaan Yamanaka, aku benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap mengintimidasi mereka dan membuat kita harus mengorbankan Kiba seperti ini" Hana memandang Ibunya sambil memelas, ia tidak mau keadaan keluarga terus ditekan oleh keluarga Yamanaka seperti ini.

"Ibu tidak punya jalan lain Hana—hanya cara ini yang bisa ibu lakukan agar perusahaan kita tidak bangkrut sebelum ayahmu bebas dari penjara" jelas Tsume sambil memijit kepalanya yang terasa begitu berat. Melihat ibunya tertekan—Hana mendekati Ibunya dan membawanya untuk duduk dikursi kerjanya.

"Ibu—apa sebaiknya kita bicarakan tentang keberadaan ayah yang sebenarnya pada Kiba?" tanya Hana sambil menatap ibunya dengan sedih.

"Jangan Hana—ibu belum siap memberi tahu pada Kiba, ibu takut—Kiba akan bertindak diluar kendali jika ia tahu ayahnya dijebloskan kepenjara oleh ayah Ino" cegah Tsume saat Hana akan beranjak pergi dan berniat mengatakan yang sebenranya pada Kiba. Memang selama ini, Kiba hanya tahu ayahnya dipenjara karena masalah perjudian ilegal dan tidak mengetahui jika ayahnya ternyata dijebak oleh ayah Ino.

"Tapi ibu—Kiba harus tahu, kita tidak mungkin terus menyembunyikannya dari Kiba. Dia harus tahu kebusukan keluarga Yamanaka itu seperti apa" dengan marah Hana memandang ibunya.

"Hana—sebenarnya ayah Ino pernah bilang pada ibu, jika Ibu melakukan semua yang ia perintahkan—ia berjanji akan membebaskan ayahmu dari penjara secepatnya" sambil menunduk sedih—Tsume mengaku pada Hana. Mendengar pengakuan ibunya yang mengejutkan—Hana memandang ibunya dengan sedih, ternyata selama ini—ibunya sangat menderita demi keluarganya dan membuatnya terpaksa mematuhi perintah ayah Ino, jika ia menolak—maka ayah Ino mengancam akan memperpanjang masa hukuman ayah Ino dan memcelakakan keluarganya.

"Ibu—kenapa ibu menanggung semua ini sendirian, harusnya ibu mengatakan ini pada kami" sambil menangis sedih Hana memeluk Ibunya yang juga saat ini sedang menangis meratapi nasipnya sebagia budak dari Yamanaka. Benar-benar menyedihkan.

Dan tanpa mereka sadari—dari luar ruangan kerja ibunya, sejak tadi—ternyata Kiba mendengarkan percakapan Ibu dan kakaknya. Sekarang ia tahu—alasan kenapa ibunya selalu memanjakan Ino dan bukan dirinya, ternyata selama ini—ibunya selalu ditekan oleh ayah Ino dan membuat ibunya harus bersikap baik pada Ino. Ini dilakukannya agar ayahnya bisa bebas dari penjara, meskipun ibu Kiba harus menderita seperti ini. Sambil mengepalkan tangannya—Kiba masuk kedalam ruangan kerja ibunya.

"Ibu—aku akan menerima pertunangan ini dan meminta ayah Ino untuk membebaskan ayah secepatnya!" kata Kiba lantang sambil memantapkan niatnya untuk menerima pertunangannya dengan Ino. Mendengar kata-kata Kiba yang tiba-tiba—Hana dan Tsume terkejut dibuatnya. Ternyata—tanpa mereka sadari, Kiba sudah mendengar percakapan mereka dari balik pintu. Setelah mengatakan itu—Kiba meninggalkan ruangan kerja ibunya dan bergegas kerumah Ino malam ini juga.

"Kiba" teriak Tsume dan Hana bersamaan saat melihat Kiba pergi meninggalkan ruanga kerja Tsume sambil membawa kunci mobil ditangannya. Tanpa bisa dicegah oleh Tsume dan Hana—Kiba sudah melajukan mobilnya dengan kencang menuju jalan raya.

.

.

.

Kediaman keluarga Nara.

Terlihat Shikamaru sedang sibuk membolak-balikkan kertas ditangannya dengan muka yang serius, sejak ia baru sampai dirumahnya—Shikamaru sudah disambut oleh tiga anak buahnya dan ia juga menerima beberapa dokumen dari anak buahnya. Dengan teliti—Shikamaru membaca setiap tulisan yang tertera dikertas itu sambil meminum jus nanas kesukaannya.

"Perusahaan milik keluarga Kiba ada dibawah kendali keluarga Yamanaka, dan gadis tadi adalah Yamanaka Ino" Shikamaru menyeringai sambil memperhatikan sebuah foto ditangannya yang ternyata itu adalah Ino.

"Saya juga mendengar—jika ayah dari Kiba sedang ada dipenjara saat ini, dan sepertinya—dia telah dijebak oleh keluar Yamanaka. Saya sudah mencari buktinya tuam muda" salah satu anak buah Shikamaru menyerahkan sebuah flashdisk kepadanya dan flashdisk itu berisi semua bukti kejahatan ayah Ino. Sambil menerima FD itu—Shikamaru menyeringai lebar dan menatap salah satu anak buahnya tadi dengan bangga.

"Kerja mu bagus dan kalian juga—terima kasih sudah mencari informasi tentang Kiba sebanyak ini" puji Shikamaru pada ketiga anak buah, tidak salah ia merekrut mereka sebagia anak buahnya selama ini.

"Kami siap melayani anda tuan muda" kata ketiga anak buah Shikamaru sambil menunduk hormat padanya.

"Sepertinya aku punya jalan untuk mendapatkan Kiba dan menyelamatkan keluarganya dari cengkraman keluarga Yamanaka yang terus menekannya" gumam Shikamaru sambil menyeringai lebar.

'Tunggu aku Kiba—aku akan membawamu dan keluargamu keluar dari neraka Yamanaka'

.

.

.

Kembali pada Kiba.

Saat ini Kiba sedang berada dikediaman Ino, dengan marah—Kiba memasuki ruangan pribadi (kamar) ayah Ino yang beranama Yamanaka Inoichi. Beruntung dia sudah sering ke rumah Ino dan tahu letak ruangan pribadi Inoichi dimana. Dengan geram—Kiba mencari keberadaan Inoichi dan ternyata Inoichi baru saja selesai mandi.

"Kiba—sedang apa kau disini?" sambil menunjukkan muka terkejut—Inoichi cepat-cepat memakai baju mandinya dan menutupi tubuh telanjangnya.

"Aku datang kemari untuk bernegosiasi denganmu!" kata Kiba langsung kepokok pembicaraan sambil menatap Inoichi dengan geram. Tidak mengerti dengan arah pembicaraan Kiba—Inoichi mengerutkan alisnya.

"Apa—maksudmu?" tanya Inoichi tidak mengerti sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.

"Aku akan menerima pertunanganku dengan Ino, tapi—" Kiba menggantung kata-katanya dan membuat Inoichi terkejut sekaligus penasaran.

"Tapi—kau harus bebaskan ayahku dari penjara dan jangan ganggu keluarga kami lagi setelah itu!" lanjut Kiba sambil menatap Inoichi dengan serius dan sedikit memasang muka memohon. Inoichi menaikkan sebelah alisnya dan menatap Kiba sambil menyeringai.

"Bagaimana—kalau aku berubah pikiran, sepertinya—Ino tidak begitu menyukaimu dan kapan saja ia bisa membatalkan pertunangannya dengamu?" sambil duduk dipinggir kasurnya—Inoichi menatap Kiba sambil melipat kakinya. Ia tidak mengira jika Kiba akan datang menemuinya dan melakukan negosiasi dengannya.

Tidak bisa berpikir apa-apa—Kiba menundukkan kepalanya, ia tidak menyangka jika Inoichi berniat membatalkan rencana pertunangan antara dirinya dengan Ino. Melihat Kiba tidak bisa menjawab—Inoichi makin menyeringai lebar.

"Memohonlah—mungkin dengan melihatmu memohon, aku akan memikirkan permintaanmu barusan" perintah Inoichi sambil menyeringai lebar dan menatap Kiba yang masih berdiri diam, mendengar perintah Inoichi—Kiba mengepalkan kedua tangannya erat. Mungkin hanya dengan cara ini—ayah Kiba bisa bebas dari penjara dan membuat Ibunya tidak lagi menjadi budak Inoichi lagi. Dengan terpaksa—Kiba berlutut dihadapan Inoichi dan memohon agar ia bisa bertunangan dengan Ino, ia benar-benar harus membuang jauh-jauh harga dirinya untuk menyelamatkan keluargnya dari cengkraman Inoichi.

"Ku..Kumohon—jadikan aku tunangan Ino dan tolong lepaskan ayahku dari penjara!" kata Kiba sambil memejamkan matanya dan berusaha meminta belas kasihan pada Inoichi.

Melihat Kiba berlutut didepannya, Inoichi benar-benar senang. Ia benar-benar tak menyangka akan membuat takluk Kiba dan membuatnya berlutut dihadapannya. Sambil menyeringai lebar—Inoichi mendekati Kiba dan juga berjongkok dihadapan Kiba, saat ia sudah berada dihadapan Kiba—entah kenapa, Inoichi sedikit tertarik dengan wajah manis Kiba saat ini.

"Tidak kusangka—ternyata kau mempunyai wajah semanis ini" Inoichi mengelus rambut Kiba dan perlahan turun kewajah Kiba—kemudian tangan besar Inoichi menyentuh pipi lembut Kiba. Merasakan kulit wajah Kiba yang begitu lembut—tiba-tiba Inoichi menjilat bibirnya yang terasa kering.

Sedangkan Kiba—ia mengerutkan dahinya saat melihat tatapan aneh Inoichi saat ini dan saat tangan besar Inoichi mengelus pipinya—Kiba sedikit merinding. Dengan cepat Kiba menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan Inoichi. Melihat Kiba menghindarinya—tiba-tiba, Inoichi memiliki sebuah ide licik dan ingin menjadikan Kiba sebagai miliknya. Sepertinya—Inoichi sudah berubah jadi pedofile saat melihat wajah manis milik Kiba saat ini.

"Bagaimana kalau aku memiliki penawaran terakhir untumu?" kata Inoichi sambil menarik Kiba untuk bangkit dari berlututnya dan membantunya kembali berdiri dihadapannya. Kiba mengerutkan alisnya dan menatap aneh pada Inoichi. Tanpa terduga oleh Kiba—Inoichi menarik pinggang Kiba dan membuatnya merapat ketubuh yang kekar dan berototnya. Meskipun sudah tua—tapi Inoichi rajin olahraga dan membuat tubunya tetap bugar dan berotot seperti sekarang.

Terkejut dengan tindakan Inoichi—Kiba membelalakkan matanya, sadar dengan posisinya—Kiba berusaha menjauh dari tubuh Inoichi yang makin mendekatinya namun sia-sia. Melihat wajah Inoichi yang mendekat kewajahnya—Kiba segera memalingkan mukanya.

"Akan kau katakan penawaran terakhirku, mungkin ini bisa membuat ayahmu dan ibumu lepas dari cengkramanku dan aku akan membiarkan kelargamu hidup bahagia tanpa gangguan dari ku. Tapi—kau harus mau menjadi miliku, budakku dan 'pemuasku'" Inoichi menyeringai tepat didepan wajah Kiba yang saat terkejut dengan kata-kata Inoichi yang sedikit fulgar dan mengencamnya.

"JANGAN BERCAND—BRENSEK!" dengan sekuat tenaga—Kiba mendorong tubuh Inoichi, ia benar-benar tidak terima dengan kata-kata Inoichi yang sepertinya merendahkannya sebagai lelaki. Setelah lepas dari Inoichi—Kiba bergegas keluar kamar Inoichi, ia benar-benar merutuki kebodohannya masuk kedalam ruangan pribadi Inoichi dan membuatnya hampir mendapatkan pelecehan.

Melihat Kiba akan keluar dari kamarnya—Inoichi dengan sigap menangkap lengan Kiba dan dengan keras—Inoichi mendorong tubuh Kiba ke pintu kamarnya. Kiba-benar-benar tidak bisa bergerak saat kedua tangannya ditahan oleh Inoichi dikedua sisi kepalanya.

"LEPASKAN AKU!" teriak Kiba sambil meronta dicengkraman Inoichi, namun sayang—karena tubuh Inoichi lebih besar darinya, Kiba jadi susah melarikan diri. Melihat Kiba meronta-ronta, Inoichi menyeringai lebar dan mendekatkan dirinya pada Kiba. Secara mengejutkan—Inoichi menjilat bibir bawah Kiba dan membuat Kiba membelalakkan matanya, melihat Kiba sudah terdiam—Inoichi beralih menuju telinga Kiba dan sedikit menjilatnya. Merasakan jilatan ditelinganya—Kiba memejamkan matanya dan ia merasa benar-benat takut sekarang, tanpa disadarinya—air matanya turun.

"Ini akan jadi pilihan terakhirmu—Kiba, jika kau tidak mau menerima tawaranku ini—maka ayahmu akan aku buat membusuk dipenjara dan ibumu—akan kupastikan dia juga akan ikut ayahmu kepenjara" bisik Inoichi ditelinga Kiba sambil masih menjilatnya. Medengar ancaman Inoichi—Kiba mengepalkan kedua tangannya, ia begitu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan ayah dan ibunya dari cengkraman Inoichi.

'Apa yang harus aku lakukan'

Sambil menundukkan kepalanya—Kiba menangis dalam diam, mungkin hanya ini satu-satunya cara agar ayah dan ibunya tidak diganggu oleh Inoichi. Dan sepertinya ia harus mengorbankan dirinya dan masa depannya pada pria brengsek didepannya. Dengan lemah—Kiba mengangguk terpaksa, melihat Kiba mengangguk tanda setuju—Inoichi melepaskan cengkramannya pada kedua tangan Kiba.

"Anak pintar" sambil tersenyum dan mengelus kepala Kiba pelan—Inoichi mengijinkan Kiba untuk keluar dari kamarnya. Saat Kiba sudah berada diluar kamar Inoichi—dengan gontai Kiba berjalan keluar rumah milik Yamanaka. Ia benar-benar merasa tidak berguna dan begitu menyesali keputusannya untuk menjadi budak Inoichi. Saat sampai dimobilnya—Kiba menangis sejadi-jadinya, ia begitu muak dengan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk keluarganya dan akhirnya malah menyerahkan dirinya pada Inoichi.

"Maafkan aku bu..aku benar-benar tidak berguna hiks" sambil masih menangis—tiba-tiba ingatannya kembali kekejadian tadi sore saat Shikamaru menciumnya. Padahal tadi sore ia begitu senang, saat ia telah sadar jika dirinya menyukai Shikamaru. Sambil memegangi dadanya yang terasa sakit dan sedih—mulai saat ini, ia harus melupakan Shikamaru.

'Maafkan aku—Shikamaru hiks'

.

.

.

Keesokan harinya.

Dengan muka pucat dan lesu—Kiba bersiap untuk pergi kesekolah, saat ia akan menuju meja makan untuk sarapan—Kiba melihat kakak dan ibunya yang duduk dengan damai sambil memakan sarapan mereka. Dengan sedih—Kiba menatap mereka.

"Kiba—ayo sarapan!" panggil Tsume sambil tersenyum kearah Kiba, melihat senyum ibunya—Kiba langsung menundukkan kepalanya dan ia mengurungkan niatnya untuk makan bersama ibu dan kakaknya, tanpa banyak berkata—Kiba bergegas berangkat kesekolah. Melihat perubahan sikap Kiba yang aneh—Tsume mengerutkan dahinya, ia merasa ada yang berubah dengan diri anaknya. Semenjak pulang dari rumah Yamanaka kemarin malam—Kiba berubah jadi pendiam dan dingin, Tsume merasa—pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Kiba kemarin dirumah Ino.

"Hana!" panggil Tsume pada anak perempuannya. Mendengar panggilan ibunya—Hana menghentikan acara makannya dan menatap kearah ibunya.

"Tolong kau selidiki adikmu—ibu merasa ada yang dia sembunyikan" perintah Tsume pada Hana dan Hana hanya menjawab sambil menganggukkan kepalanya.

Kembali pada Kiba—saat Kiba akan berangkat menuju sekolah, tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepan halaman rumahnya. Kiba mengerutkan dahinya, ia sepertinya mengenal mobil itu.

"Ino" gumamnya pelan sambil menatap dingin kearah mobil Ino. Dan benar saja—tidak berapa lama, Ino keluar dari mobil itu dan melambaikan tangannya pada Kiba yang masih berdiri didepan pintu rumahnya.

"Kiba!" panggil Ino pada Kiba.

Dengan berat hati—Kiba akhirnya berjalan menuju mobil Ino yang terparkir sembarangan dihalaman rumahnya. Saat Kiba sudah ada didepan Ino—dengan seenaknya, dia mengandeng tangan Kiba dan menyeretnya tubuhnya untuk mendekat kearah Ino.

"Hari ini kita berangkat bersama-sama" dengan manja Ino masih menggandeng tangan Kiba dan memaksanya masuk kedalam mobilnya, dan saat Kiba sudah masuk kedalam mobil Ino—ia terkejut saat Inoichi juga ada didalam mobil Ino. Dengan sinis—Kiba memandang Inoichi yang menatapnya sambil tersenyum penuh arti.

"Selamat pagi Kiba" sapa Inoichi sambil mengangkat tangan kanannya untuk meyapa Kiba, tanpa mengindahkan sapaan Inoichi—Kiba terpaksa masuk kedalam mobil Ino.

Disepanjang perjalanan menuju sekolah yang terasa begitu panjang untuk Kiba—ia terus diam tanpa banyak bicara, sementara Ino—ia terus mengoceh tak jelas sambil membanggakan cincin pertunangan mereka yang melingkar dijari manisnya dan jari manis Kiba. Berbeda dengan Ino yang terus berceloteh tak jelas—Inoichi yang duduk disebelah kanan Kiba terus saja memperhatikannya dengan pandangan mesum. (Posisi duduk Kiba ada ditengah, Ino disebelah kiri dan Inoichi ada disebelah kanan Kiba).

Tak lama setelah itu—mobil Ino sudah berada sampai dihalaman sekolah, dengan riang—Ino keluar duluan dari mobilnya dan berjalan sedikit jauh dari mobilnya. Saat Kiba juga akan turun dari mobil Ino—tiba-tiba saja Inoichi menarik lengan Kiba dan membuatnya jatuh kepelukan pria tua itu.

"Lepaskan aku—brengsek!" marah Kiba sambil mencoba lepas dari dekapan Inoichi, namun bukannya melepaskan—Inoichi makin mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Kiba.

"Morning kiss" kata Inoichi sambil memegang dagu Kiba dengan sebelah tangannya dan mengarahkan wajah Kiba kedekat wajahnya. Dengan perasaan marah dan pasrah—Kiba memejamkan matanya erat dan ia merasakan bibir Inoichi sudah menempel dibibirnya, saat ini—Kiba benar-benar merasa jijik dengan dirinya sendiri saat ini. Harusnya ia bisa melawan bukannya pasrah seperti ini. Sementara sang sopir yang melihat kegiatan Inoichi dan Kiba dari kaca spion mobilnya—segera memalingkan wajahnya, ia sedang berpura-pura tidak melihat kegiatan mereka.

Tanpa sepengetahuan Kiba dan Inoichi—ternyata ada yang memperhatikan mereka dari jauh, dengan geram—ia mengepalkan tangannya dan mengertakan giginya. Matanya benar-benar panas saat dengan lancangnya pria tua itu mencium bibir orang yang dicintainya. Dengan perasaan emosi yang membuncah—Shikamaru mendatangi mobil Ino dan dengan tiba-tiba—Shikamaru membuka paksa pintu mobil Ino. Melihat ada yang membuka pintu mobilnya paksa, Inoichi dan Kiba terkejut dan segera menghentikan aksi ciumannya pada bibir Kiba.

"BRENGSEK!" geram Shikamaru saat melihat Kiba hampir dilecehkan oleh Inoichi, dengan kasar—Shikamaru menarik Kiba keluar dari mobil itu.

"Shi—Shikamaru!" Kiba tidak menduga jika Shikamaru melihatnya berciuman dengan Inoichi, dengan perasaan malu dan sedih—Kiba menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa melihat wajah Shikamaru dengan kondisinya seperti ini, saat ini—Kiba benar-benar seperti seorang pelacur yang ketahuan sedang bercinta dengan pelanggannya. Benar-benar memalukan dan membuatnya seperti lelaki rendahan yang begitu mudah dilecehkan.

Kembali pada Shikamaru—setelah menarik Kiba keluar dari mobil itu, Shikamaru kembali menarik tubuh Inoichi yang terlihat sama ukurannya dengan tubuh gempal Shikamaru. Melihat ada keributan dihalam sekolah—seluruh siswa yang tadinya hanya sekedar lewat, sekarang jadi memperhatikan kearah Kiba, Shikamaru dan Inoichi.

"BRENGSEK—BERANINYA KAU MELECEHKAN KIBA SEPERTI ITU. TIDAK AKAN KU MAAFKAN!" dengan emosi—Shikamaru memukul tepat dirahang Inoichi dengan keras.

Bugh

"SIALAN KAU BOCAH!" tidak terima dengan pukulan Shikamaru—Inoichi berniat memukulnya balik, tapi Shikamaru dengan cepat menghindarinya. Dan akhirnya perkelahianpun tidak bisa dihindarkan antara Shikamaru dan Inoichi.

"Ada apa itu ribut-ribut?" gumam Kakashi sambil masih duduk diatas motor sportnya, saat ia baru saja datang kesekolah—ia melihat beberapa siswa bergerombol dan sepertinya ada perkelahian. Dengan penasaran—Kakashi mendatangi kerumunan siswa-siswa itu tanpa memarkirkan motornya terlebih dahulu, saat Kakashi sudah berada ditengan kerumunan itu—ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat—seorang Shikamaru yang biasanya sangat tenang dan jarang berbuat onar, kini sedang menghajar habis-habisan seorang pria paruh baya dengan brutal.

"SHIKAMARU HENTIKAN!" perintah Kakashi sambil menghentikan aksi Shikamaru yang menghajar masih mengahajar Inoichi dengan brutal dan membuat wajahnya penuh dengan luka memar.

"LEPASKAN AKU—KAKASHI-SENSEI! AKU HARUS MEMBUNUHNYA!" dengan kalap Shikamaru kembali memukuli wajah Inoichi yang kini tidak berdaya ditanah, dan membuat tangan Shikamaru lecet juga berdarah.

"Shikamaru sudahlah—kita selesaikan didalam" Kakashi menarik badan Shikamaru dan membuat Shikamaru menjauhi Inoichi yang terkapar ditanah dengan luka serius diwajahnya.

"SEMUANYA BUBAR!" perintah Kakashi sambil berteriak galak pada semua siswa yang tapi berkerumun.

Sementara itu dengan Ino—ia merasa heran dengan beberapa kerumunan siswa itu dan berjalan mendekatinya. Saat ia sudah berada didalam keruman yang sudah hamoir bubar—Ino sedikit terkejut saat menemukan ayahnya terkapar ditanah dnegan kondisi babak belur.

"AYAH!" teriak Ino sambil berlari kearah ayahnya.

"Apa yang terjadi dengan ayah?" sambil menangis dan menghawatirkan ayahnya—Ino membantu Inoichi berdiri.

"Lebih baik kita bicarakan ini didalam—tidak baik membuat keributan disekolah seperti ini" Kakashi ikut membantu Ino memapah Inoichi untuk bediri, namun dengan kasar—Inoichi menyentak tangan Kakashi dan membuat Kakashi sedikit terhuyung.

"Jangan menyentuhku sembarangan!" kata Inoichi sambil memebarsihkan bajunya yang kotor, melihat tingkah Inoichi yang begitu menyebalkan—Kakashi memutar bola matanya dengan bosan.

"Aku tidak mau tahu—bocah nanas ini harus dikeluarkan dari sekolah sekarang juga! Di itu tidak punya sopan santun, main hajar orang tua seperti itu!" sambil menatap Shikamaru dengan sengit—Inoichi melihat Shikamaru dari atas dampai bawah. Ia berpikir—bagaimana ia bisa tahu perbuatan mesumnya pada Kiba tadi?.

"DASAR PRIA TUA MESUM—JANGAN BERANI KAU MENDEKATI KIBA LAGI!" sambil masih emosi—Shikamaru menarik tangan Kiba untuk masuk kedalam gedung sekolah, sejak tadi Kiba hanya diam saja sambil melihat Shikamaru memukuli Ionoichi dengan beringas. Entah kenapa—Kiba merasa senang saat Shikamaru datang dan menyelamatkannya dari pria mesum seperti Inoichi.

Sementara itu—Inoichi yang melihat Kiba dibawa pergi oleh Shikamaru hanya bisa cengok, ia tidak menyangka dirinya akan dihajar habis-habisan oleh Shikamaru. Dan entah kenapa—Inoichi seperti mengenali remaja itu tapi entah dimana.

"Ayah—sekarang sebaiknya pergilah kerumah sakit, nanti biar aku yang selesaikan masalah ini dengan Kakashi-sensei" kata Ino sambil menyuruh ayahnya masuk kemobil dan pergi dari sekolahnya sebelum ia mendapatkan masalah yang lebih besar dari fans Shikamaru yang sejak tadi memeperhatikannya.

"Baiklah—tapi ingat! Bocah nanas itu harus dikeluarkan dari sekolah ini!" kata Inoichi yang sudah berada dimobilnya dan setelah itu mobilnya sudah meninggalkan area sekolah.

"Dia bercanda—mengeluarkan Shikamaru dari sekolah ini, sama saja membubarkan Konoha Gakuen" gumam Kakashi sambil melirik sinis mobil yang dinaiki Inoichi.

'Aku yakin—pasti ada apa-apanya dengan orang itu sehingga Shikamaru sampai kalap seperti ini, akan aku cari tahu!'

"Ino—bisa bicara sebentar keruanganku nanti saat jam istirahat" perintah Kakashi sambil menatap Ino dan Ino menjawabnya dengan mengangguk, kemudian tanpa banyak bicara Ino segera masuk kedalam gedung sekolah.

"Sepertinya—ini ada hubungannya dengan Kiba!" sambil berjalan menuju motornya yang masih terparkir ditengah lapangan—Kakashi sedikit begumam, dan setelah itu ia kembali menaiki motor sport hitamnya untuk memarkirkannya keparkiran khusus staf sekolah.

Ditempat lain—Shikamaru masih menarik pelan Kiba menuju atap sekolah, disepanjang perjalanan menuju atap sekolah—banyak siswa yang memperhatikan mereka dan membuat Kiba harus terus menundukkan kepalanya. Saat sampai diatas atap sekolah, Shikamaru mengunci pintu atap dari luar dan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kiba.

"APA YANG KAU LAKUKAN KIBA—KENAPA KAU TIDAK MELAWANNYA ATAU MENGHINDARINYA!" teriak Shikamaru marah sambil memegangi kedua bahu Kiba. Tidak tahu harus menjawab apa—Kiba hanya menundukkan kepalanya, ia tidak mungkin menceritakan masalah keluarganya pada Shikamaru dan masalahnya dengan Inoichi yang ingin menjadikannya 'budak nafsunya'. Tidak mendapat jawaban—Shikamaru semakin marah, ia begitu kecewa dengan Kiba—harusnya Kiba bisa menceritakan masalah pribadinya pada Shikamaru, agar ia bisa membantu Kiba dan tidak membuat Kiba mendapat pelecehan seperti tadi.

"JAWAB AKU—KIBA!" Shikamaru mengguncang tubuh kecil Kiba dan membuat Kiba semakin tertekan. Dengan kadar—Kiba menyentak kedua tangan Shikamaru yang ada dibahunya.

"KENAPA AKU HARUS MENJAWABNYA—SIAPA KAU? KAU BUKAN APA-APA KU?" bentak Kiba sambil menitikkan air matanya, bukan maksud Kiba mengatakan hal ini pada Shikamaru. Tapi ia hanya tak mau nantinya Shikamaru menanggung beban keluarganya juga, jika ia menceritakan masalahnya pada Shikamaru.

"Jangan campuri urusanku—lagi pula apa pedulimu? Kau tidak tahu apa-apa tentang ku—Shikamaru" dengan mata yang merah—Kiba berbalik memunggungi Shikamaru, sambil menggigit bibir bawahnya—Kiba menahan tangisnya dan berniat untuk pergi dari atap sekolah. Namun saat Kiba sudah sampai didepan pintu atap sekolah—secara tiba-tiba Shikamaru memeluk bahunya dari belakang.

Grep

Merasakan pelukan Shikamaru—Kiba membelalakkan matanya, ia juga merasakan kepala Shikamaru bersandar dibahunya. Dengan hati berdebar—Kiba mengepalkan tangannya, sekuat tenaga—Kiba menahan gejolak dihatinya.

"Kau salah Kiba—aku sangat peduli padamu dan aku tahu semua tentangmu" bisik Shikamaru ditelinga Kiba, kemudian Shikamaru membalikkan tubuh Kiba untuk menghadap kearahnya. Terlihat wajah Kiba yang basah oleh air mata dan ada sedikit titik darah dibawah bibir Kiba, saat ia mencoba menahan tangisnya tadi. Dengan lembut—Shikamaru mengusap wajah basah Kiba dan sedikit menghapus air mata Kiba.

"Aku sudah tahu tentang keluargamu yang menjadi budak Yamanaka dan tentang ayahmu yang masuk kepenjara—aku sudah mencari bukti, jika ayahmu tidak bersalah" mendengar perkataan Shikamaru—Kiba membelalakkan matanya tidak percaya.

"Ba..bagaimana kau tahu?" sambil masih terisak—Kiba menghapus air matanya sendiri.

"Maafkan aku sebelumnya—Kiba, tanpa seijinmu—aku mencari tahu semua tentang dirimu dan keluargamu. Tapi ini semua aku lakukan demi kau—Kiba. Aku sama sekali tidak bermaksud jelek dengan mencampuri urusanmu dan masalah keluargamu. Aku—hanya peduli padamu dan aku merasa—harus melindungimu" dengan muka merah padam—Shikamaru menundukkan kepalanya malu-malu dan sedikit takut. Ia takut jika Kiba akan marah padanya karena dengan lancang dirinya sudah mencari tahu semua tentang Kiba dan Shikamaru malu karena—dirinya seperti seorang penguntit yang mencari tahu semua tentang Kiba.

Sedangkan Kiba—ia begitu terkejut saat mendengar pernyataan Shikamaru yang begitu peduli dengannya dan tidak pernah difikirkannya jika Shikamaru berusaha untuk melindunginya. Dengan perasaan bahagia—Kiba tersenyum lembut kearah Shikamaru yang masih menundukkan kepalanya dengan malu dan dengan gerakan cepat—Kiba memeluk tubuh tinggi Shikamaru hingga membuatnya berjinjit. Merasakan Kiba memeluknya—Shikamaru sedikit terkejut, tapi kemudian ia membalas pelukan Kiba dan sedikit menundukkan badannya agar Kiba tidak berjinjit lagi.

"Terima kasih—Shikamaru, aku benar-benar merasa senang" sambil masih memeluk Shikamaru—Kiba tersenyum dengan tulus.

"Aku juga—Kiba, aku juga merasa senang dan sepertinya—" Shikamaru mengantung kalimatnya, kemudian ia melepaskan pelukan Kiba dan mendekatkan wajanya kearah wajah Kiba yang entah kenapa begitu manis bagi Shikamaru.

"Sepertinya—aku juga mulai menyukaimu" Shikamaru bebisik halus sambil semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Kiba. Mendengar pengakuan dari Shikamaru—Kiba merasa jantung berdebar dengan kencang dan ia begitu merasa lega—ternyata Shikamaru juga menyukainya. Tanpa banyak kata-kata—Kiba mencium bibir Shikamaru dengan lembut, medapatkan ciuman tiba-tiba dari Kiba—Shikamaru sedikit terkejut. Namun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan—Shikamaru membalas mencium Kiba dan sepertinya dengan ciuman Kiba—Shikamaru sudah tahu jawabannya. Tak lama—Kiba melepaskan ciumannya namun bibir mereka masih bersentuhan dan tubuh Kiba begitu dekat dengan Shikamaru, seakan mereka tidak mau terpisah antara satu sama lain dan tidak meninggalkan celah sedikitpun untuk berpisah.

"Aku—mencintaimu Shikamaru dan jangan biarkan aku lepas darimu" bisik Kiba sambil masih mengecupi bibir Shikamaru dengan lembut dan mesra.

"Hem! Aku janji—tidak kan melepaskanmu, apapun yang terjadi—kau tidak akan ku lepaskan. Walaupun nantinya kau menangis dan meminta aku melepaskanmu, aku tidak akan melepaskanmu dan tidak akan ku biarkan siappun menyentuhmu. Hanya aku yang boleh jadi milikmu" balas Shikamaru sambil membalas mencium bibir Kiba dengan lembut dan makin merapatkan tubuh mereka satu sama lain. Mereka saling memberikan kehangatan dan cinta dengan pelukan dan ciuman yang begitu lembut.

.

.

.

Kembali pada Inoichi—dengan wajah penuh lebam dan perban, ia memasuki ruangannya dengan santai seperti biasa. Namun saat ia sudah berada diruangannya, ia begitu terkejut saat seseorang berdiri dengan angkuh dan membelakanginya.

"Siapa kau? Kenapa kau bisa ada diruangaku?" tanya Inoichi sambil mengerutkan dahinya. Tak lama orang yang tadi membelakanginya kini menghadap kearahnya dan betapa terkejutnya saat Inoichi tahu siapa orang yang berdiri dihadapannya saat ini.

"KAU" teriak Inoichi sambil menatap orang itu dari atas sampai kebawah.

"Lama tidak berjumpa—Inoichi" kata orang itu sambil menatap Inoichi dengan sinis dan menyeringai. Dan tanpa terduga oleh Inoichi—beberapa orang petugas kepolisian mengepungnya, kemudian mereka menangkap Inoichi dengan paksa.

"HEI! APA-APAAN INI? LEPASKAN AKU!" teriak Inoichi sambil mencoba melepaskan borgol ditangannya.

"Yamanaka Inoichi—kau ditahan dengan tuduhan manipulasi dan pemalsuan pajak perusahaan, juga pencemaran nama baik" kata seorang kepala polisi sambil membawa sebuah bukti dokumen dan surat penahanan.

"Apa? Aku tidak melakukannya, hey! Kalian pasti salah tangkap" elak Inoichi sambil diseret paksa oleh beberapa polisi yang membawanya. Sepeninggal Inoichi—kepala polisi itu melangkah menemui orang tadi.

"Tuan Inuzuka—anda sudah dinyatakan bebas dan kami sudah membersihkan nama anda" kata kepala polisi itu sambil menyerahkan surat keterangan bebas milik Inuzuka Mito—ayah dari Kiba.

"Saya sangat berterima kasih atas bantuan anda tuan Nara!" sambil tersenyum bahagia—Mito bersalaman dengan Nara Shikaku yang ternyata adalah ayah Shikamaru.

Singkat cerita saja—setelah kemarin Shikamaru mendapatkan bukti kejahatan dari Inoichi, ia membarikan bukti itu pada ayahnya yang ternyata adalah kepala polisi Konoha. Dulu kepala polisi Konoha adalah Namikaze Minato, tapi karena sakit dan menjalankan pengobatan di Amareika—jadialah sekarang Shikaku yang menggantikan posisi Minato. Setelah mendapatkan bukti kejahatan dari Inoichi yang ternyata sudah jadi buronan Shikaku—segera saja ia bergegas menagkapnya. Sepertinya—ia harus berterima kasih pada Shikamaru atas bukti yang ia berikan padanya kemarin malam. Dan sepertinya Shikaku bisa mengambil cuti panjang dan kembali berkeliling dunia bersama istrinya yang seorang pelukis terkenal.

"Sepertinya kau harus pulang—dan bertemu dengan anak dan juga istrimu, mereka pasti menunggumu untuk pulang" kata Shikaku sambil menepuk bahu Mito dengan pelan.

"Dan jika kau mau berterima kasih—sebaiknya kau berterima kasih pada anakku, dia yang memberikan aku bukti penting yang bisa menjebloskan Inoichi kepenjara dan membenaskanmu dari kesalahan yang tidak kau perbuat" jelas Shikaku sambil berlalu pergi.

"Anak mu?" gumam Mito sambil memeiringkan kepalanya tidak mengerti.

"Iya—dan sepertinya kita akan berbesan, karena sepertinya anakku menyukai anakmu. Dan demi anakmu—anakku sampai melakukan hal sejauh ini. Benar-benar putra yang merepotkan tapi aku bangga dengannya" Shikaku tersenyum pada Mito dan ia terkejut dengan penjelasan Shikaku yang mengatakan jika anaknya menyukai putranya. '

Tunggu—'putra' katanya? Berarti Kiba memiliki hubungan dengan putranya, itu berarti Kiba—'

Sambil menarik nafas panjang—Mito meninggalkan kantor Inoichi dan berjalan beriringan dengan Mito, mereka saling bercerita tentang putra mereka masing-masing. benar-benar sebuah kebetulan yang sudah ditakdirkan oleh Author.

.

.

.

Kembali kesekolah, saat jam istirahat berlangsung.

Ino terkejut dengan berita yang ia dengar dari pelayan rumahnya jika ayahnya masuk kedalam penjara hari ini, dengan gemetara Ino bergegas meninggalkan sekolah. Ia sudah benar-benar malu dan tidak punya muka lagi jika teman-temannya mengetahui ayahnya masuk kepenjara. Sebelum semua itu terjadi—Ino harus segera meninggalkan sekolah ini.

Melihat Ino meninggalkan sekolah—Kiba merasa heran dan berniat mengejar Ino, namun saat ia akan mengejar Ino—tiba-tiba Shikamaru datang dan menahannya.

"Mau kemana?" tanya Shikamaru sambil masih memegangi tangan Kiba.

"Aku melihat Ino—dia sepertinya tergesa-gesa!" jawab Kiba sambil masih celingukan melihat Ino yang sudah menghilang dibelokan lorong sekolah. Melihat Kiba memperhatikan orang lain selain dirinya—Kiba mengerutkan dahinya, sepertinya ia cemburu.

"Kiba!" panggil Shikamaru sambil manarik tangan Kiba untuk mendekat kearahnya, merasakan tarikan pada tangannya—otomatis Kiba jadi terhuyung dan menabrak tubuh Shikamaru. Dengan santainya—Shikamaru memeluk Kiba didepan para siswa yang berlalu-lalang disekitar lorong kelas yang ramai saat jam istirahat tiba.

"Shi—Shika..apa yang kau lakukan? Lepaskan—kita sedang dilihat banyak siswa!" Kiba mencoba lepas dari pelukan Shikamaru tapi ia sama sekali tidak bisa lepas—malahan Shikamaru makin menegratkan pelukannya.

"Biarkan—biarkan semua tahu, jika kau itu milikku" sambil masih memeluk tubuh kecil Kiba—Shikamaru mencium ujung kepala Kiba dengan sayang. Meskipun merasa malu—tapi Kiba juga membalas pelukan Kiba dan ia merasa begitu beruntung memiliki Shikamaru yang begitu perhatian padanya. Dan sepertinya—para fans Shikamaru hanya bisa pasrah saat mereka melihat hubungan ShikaKiba yang begitu manis.

.

.

.

Uchiha mansion—kamar Itachi.

Saat ini Naruto sedang berdiri dengan cemas disamping Sasuke sambil berpegangan tangan—sejak kedatangan Itachi kembali dari perjalanan promosi filmnya ke Uchiha mansion tadi sore, Sasuke dan Naruto bertekat untuk mengatakan hubungan mereka pada Itachi. Dan saat Itachi mendengar pengakuan dari Sasuke dan Naruto tentang hubungan mereka, tiba-tiba Itachi menatap mereka dengan pandangan sinis.

"Aku menyukai Naruto—dan tidak akan membiarkannya menjadi milik mu" jelas Sasuke sambil menatap kakaknya dengan serius. Melihat keseriusan adiknya—Itachi membuang nafasnya panjang dan sedikit memijat keningnya. Sebenranya ia begitu lelah dengan semua kegiatannya dan sekarang—ia harus dihadapkan dengan pengakuan adiknya yang mencintai Naruto. Memang apa urusannya dengannya—mau Sasuke suka atau tidak—ini semua bukan urusan Itachi, toh—Itachi tidak benar-benar manyukai Naruto. Dan soal taruhannya dengan Sasuke waktu itu (baca Chap.4), ia benar-benar tidak serius dengan ucapannya—Itachi sebenarnya hanya mau menggertak Sasuke agar ia cepat menyatakan cintanya pada Naruto.

"Terserah kalian mau apa—aku tidak akan mencampuri hubungan kalian, sudah sana pergi dari kamarku—aku benar-benar lelah" usir Itachi pada Sasuke dan Naruto, kemudian ia melangkah dengan gontai menuju kasurnya.

Sementara itu diluar—Sasuke dan Naruto hanya bisa mengangakan mulut mereka dengan sikap Itachi yang begitu tidak peduli dengan hubungan mereka.

"Hanya begitu saja menanggapi hubungan kita—ku kira dia akan marah dan memukul wajahku karena sudah merebut tunangannya. Dasar keriput aneh!" sungut Sasuke sambil menendangi pintu kamar milik Itachi. Sementara itu Naruto—ia begitu merasa lega saat melihat Itacgi merestui hubungan mereka.

"Sudahlah teme—biarkan Itachi-nii beristirahat dulu, dan harusnya kita bersyukur—Itachi merestui hubungan kita" kata Naruto sambil tersenyum cerah kearah Sasuke, melihat senyum Naruto yang begitu manis—tiba-tiba membuatnya mimisan.

Crot

"Huaa—teme, kau mimisan" teriak Naruto dengan panik sambil menyeka mimisan Sasuke dengan tangannya.

"Ah—dobe, jangan mengelap darahnya dengan tanganmu—lihat jadi kotorkan!" Sasuke membersihkan darah mimisannya yang menempel ditangan Naruto.

"Teme—apa yang kau lakukan, cepat seka mimisannya dengan sesuatu—nanti darahnya tambah banyak" dengan panik Naruto membawa Sasuke kekamarnya yang letaknya tidak jauh dari kamar Itachi.

Didalam kamar Naruto—Sasuke duduk dikasur empuk milik naruto, sementara Naruto—ia memebersihkan mimisan Sasuke dengan tisu. Dengan sangat hati-hati—Naruto membersihkan darah dihidung Sasuke. Melihat Naruto yang begitu perhatian—dengan tiba-tiba, Sasuke memeluk tubuh ramping naruto dan membuatnya duduk dipangkuan Sasuke dengan kaki melebar.

"Teme—apa yang kau lakukan?" dengan muka merah—Naruto berusaha lepas dari pelukan Sasuke, namun Sasuke malah makin mengeratkannya dan membuat tubuh Naruto makin mendekat kearahnya.

"Biarkan seperti ini—Naruto, aku ingin menikmati kehangatan tubuhmu" dengan sebelah tangannya—Sasuke mengelus pipi merona Naruto dan sebelah tangannya lagi memeluk pinggang Naruto.

"Suke" bisik Naruto sambil memeluk tubuh Sasuke sebentar, setelah itu—Naruto melepaskan pelukannya dan mengecup bibir Sasuke pelan.

"Aku mencintaimu" bisik Naruto sambil mengusap bibir Sasuke dan menempelkan dahinya kedahi Sasuke.

"Aku juga mencintaimu—Naruto, dan sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa menghalangi hubungan kita" Sasuke kembali mencium bibir manis Naruto dan kali ini melumatnya dengan lembut. Sepertinya—malam ini mereka akan menghabiskan malam bersama dikamar Naruto dan saling membagi kehangatan cinta mereka.

Tbc

UAAAA maaf lama update dan terima kasih atas reviewnya semuanya. Dan mungkin chapter depan-akan jadi chapter terakhir insyaallah. sesuai janji-chapter depan akan ada Chapter spesialnya hubungan SasuNaru, NejiGaa dan ShikaKiba.

ditunggu yah revienya dan maaf g bisa balas reviewnya satu-satu