Naruto © Masashi Kishimoto

LOVE ME written by Putri Dina Puspita Sari (Onime no Uchiha Hanabi-hime)

I just adapted this movie into fanfict, I don't really know what will you say about it. I just take the plot, and maybe it become strange because of me, and I've made many change of the script, don't blame me. Movie/Thriller director by Rick Bota (TV's Beauty and The Beast; TV's Supernatural; TV's The Vampire Diaries)

Hope you enjoy it. And, some characters maybe out of what Masashi created. But, I do my best for it. Just read and review.. Maybe I'm counting on the flame, remember use normal people's words.

Summary:

Haruno Sakura jatuh cinta pada seorang pemuda pendiam yang kaya raya, Uchiha Sasuke. Semuanya menjadi rumit ketika ia, teman-temannya, dan juga keluarganya mengetahui bahwa Sasuke diduga pelaku kejadian menghilangnya gadis berusia 16 tahun di kota tetangga. Sasuke bersumpah dia tidak melakukan perbuatan itu. Bisakah cinta mereka terus hidup di tengah investigasi dan huru-hara? Yang terpenting, bisakah Sakura terus hidup melewati semua?

Di cerita sebelumnya:

Sebuah Volvo C70 tahun 2009 berwarna biru malam membelah jalanan yang terlihat berserakan bunga-bunga sakura menuju sebuah rumah klasik yang berada di atas bukit yang dikelilingi pepohonan sakura dan semak-semak yang tertata rapi. Dan sebuah Honda Integra milik Sakura mengikuti di belakang Volvo itu.

Tepat di depan rumah itu sudah terparkir BMW silver, dan Volvo itu pun memarkirkan diri di sebelah BMW tersebut. Mobil Sakura terparkir jauh di belakang Volvo dan BMW tersebut.

Sasuke keluar dari dalam Volvo dan menghampiri mobil Sakura. Tak lama setelah Sakura keluar, Sasuke berkomentar. "Pernahkan siapapun mengatakan bahwa kau berkendara sangat lamban?"

Sakura terperanga mendengar komentar pemuda tak banyak bicara itu. "No, actually."

Sasuke agak menghela nafas, karena menurutnya punggungnya terasa agak pegal terlalu lama dalam mobilnya itu. "Ayo, masuk," ajak Sasuke dan berjalan masuk ke dalam rumah klasik itu lebih dulu.

Sakura mengikuti darimendengar komentar pemuda tak banyak bicara itu. "an?"emarkirkan diri di sebelah BMW tersebut. Honda saku sakum sand belakang. Agak berlari kecil karena ia agak sulit mengimbangi langkah Sasuke yang lebar-lebar.

Dari kejauhan, sebuah mobil sedan, yang di dalamnya terdapat seorang pria muda dan seorang wanita tengah mengamati.

"Hm. Siapa yang satu ini, Sasuke?" ucap pria itu dari balik teropongnya.

Wanita di sebelahnya hanya mengamati dengan mata telanjang sambil mencomot cracker.

"Letakan cracker itu, Kushina," ucap pria itu. "Pinggangmu jadi terlihat agak gemuk," tambahnya.

"Masih banyak bun di oven, smart-ass," sahut Kushina masih mencomoti crackernya, lalu tersenyum menatap Minato. "What's your excuse?"

Minato menghela nafas, lalu mengamati ke rumah Sasuke lagi dengan teropongnya. "Apa kau benar-benar berpikir aku gemuk?" tanya Minato kemudian melirik Kushina.

Kushina hanya tersenyum dan melirik Minato balik.

~LOVE ME~

Sasuke membukakan pintu kedua rumah besar itu untuk Sakura, kemudian Sakura masuk sambil melihat-lihat sekelilingnya.

"Sasuke? Oh, aku tidak sadar kau membawa teman," tiba-tiba seorang wanita dengan senyum ramah menyambut kedatangan Sakura dan Sasuke.

"Bibi Rin, ini Sakura. Sakura, ini Bibi Rin," ucap Sasuke memperkenalkan Sakura dan Rin satu sama lain.

"Senang bertemu denganmu," ucap Rin masih dengan senyuman ramah.

"Senang bertemu denganmu juga," jawab Sakura dengan senyum yang seramah Rin pula.

"Orang tuamu akan pergi beberapa minggu lagi," ucap Rin pada Sasuke.

"Wow. Mengejutkan," sahut Sasuke dengan malas.

Rin mengangguk dan masuk ke ruang lain.

"Kami ada di lantai atas," ucap Sasuke sebelum Rin sempat menghilang, bukan dalam arti menghilang seperti magic.

"Makan malam akan segera siap," timpal Rin kemudian dan ia pun menghilang ke dalam ruangan yang Sakura perkirakan adalah dapur.

"Dia yang mengurusku sejak aku berusia 5 tahun," cerita Sasuke.

"Dia terlihat sangat baik," komentar Sakura.

Sasuke mengangguk.

Sakura kemudian mengamati rumah Sasuke. Rumah itu sangat besar. Sungguh. Ketika memasuki pintu kedua dari pintu utama, ada sebuah jam klasik berukuran besar yang akan berdenting setiap jamnya. Di sebelah kanan jam itu terdapat ruang keluarga yang tertata rapi, semua perabotan sepertinya terbuat dari kayu jati, terlihat dari warnanya yang klasik dan glamour. Di sebelah kiri jam terdapat tangga kayu menuju lantai atas. Dan di bawah tangga masih ada ruang yang menghubungkan ke ruangan-ruangan lain. "Ingatkan aku jangan pernah mengundangmu ke rumahku," ucap Sakura.

Sasuke terlihat enggan, sepertinya ia sudah sering melihat reaksi wow orang-orang yang datang ke rumahnya. Kemudian pemuda itu mengaitkan tangannya dengan tangan Sakura. "Ayo," ia kemudian mengajak Sakura menuju lantai atas. Menuju kamarnya.

Sepertinya Sakura tak cukup dibuat terperanga dengar rumah Sasuke, ia harus dibuat terperanga lagi dengan kamar Sasuke. "Rumahmu seperti sebuah musium atau sejenisnya," ungkap Sakura.

Sasuke hanya tertawa kecil mendengar ungkapan Sakura.

"Di sini sangat sunyi," ucap Sakura sambil menjelajah kamar Sasuke. "Sangat damai," tambahnya.

"Yeah, sunyi mungkin," ucap Sasuke mengikuti langkah-langkah kecil Sakura yang masih terlihat takjub. "Orang tuaku tidak pernah ada di sini," ungkap Sasuke.

"Di mana mereka?" tanya Sakura masih mengamati kamar Sasuke.

"Paris, Afrika Selatan, Rusia," jawab Sasuke enggan.

"Dan mereka membiarkanmu tinggal di sini sendiri?" Sakura membalikkan badannya menatap Sasuke heran.

"Well, dengan Bibi Rin," jawab Sasuke mengangkat bahunya.

Sakura kembali menjelajah. Langkahnya terhenti di sisi ranjang king size Sasuke. Pandangannya terpesona dengan keberadaan tumpukan vynil, turntable beserta mixernya yang rapi di atas meja, di atas sebelah kanannya terdapat laptop yang membuka program VDS. "Wow," kini Sakura n ayu menuju lantai atas. dan i, semua perabotan sepertinya terbuat dari kayu jati, terlihat dartahu dari mana ia dapatkan mixed CD yang bagus itu. "Ini keren. Siapa yang buat?" tanya Sakura kemudian ketika mengamati sebuah komik yang dibingkai cantik tergantung di dinding di atas tumpukan perlatan DJ mahal itu. Komik itu berjudul Love Me, pada sampulnya terdapat gambar seorang pelayan perempuan berambut pirang pendek yang sedang membawa kopi pada dua orang pelanggan laki-laki, mungkin, dan seorang pemuda lain berdiri di ambang pintu.

"Seorang teman," jawab Sasuke dengan nada agaknya ragu.

Sakura menatap Sasuke.

Sasuke melirik Sakura, dari ekspresinya terlihat ia tidak ingin membahas komik itu.

Sakura kemudian melanjutkan berkeliling. Kamar Sasuke begitu tenang, rapi, dan nyaman. Ada sebuah perapian tak jauh dari ranjang. Di atasnya ada deretan vynil yang tertata rapi dalam sebuah album. "Apa ini?" tanya Sakura.

"Aku suka menulis review, dari sebuah rekaman," ucap Sasuke dan mengambil salah satu album favoritnya. "Hanya untuk diriku sendiri," sambungnya sambil tersenyum.

Sakura tersenyum, walau ia tidak begitu mengerti maksud ucapan Sasuke.

Sasuke kemudian mengeluarkan sebuah vynil dan memasangkannya pada turntable, lalu memutarnya. "Coba dengar ini."

Suara mengalun dari speaker. Sakura membalikkan badannya menatap Sasuke yang berdiri di sisi lain kamar itu.

I try just to love you now, woman

But you don't know how I feel

Sakura mulai melangkah ke tengah ruangan kamar Sasuke dengan senyum—wow, pria ini sulit ditebak.

And I work hard just to satisfy you, woman

You don't know how I feel...

"Wow, ini indah sekali. Apa ini?" tanya Sakura ketika melihat foto sebuah pondok di tengah pepohonan pinus, ada kursi panjang yang terlihat teduh di antara dua buah pohon pinus. Foto itu melekat di sebuah lemari dari kayu oak yang dicat coklat gelap, di belakang foto itu ada foto Sasuke yang tertempel lebih dulu. Foto itu dibingkai oleh gantungan rantai-rantai mungil.

"Ayahku pemilik pondok itu, sekitar satu jam perjalanan dari sini," jawab Sasuke dan mengikuti arah pandang Sakura. "Pondok tu seperti tempat yang sempurna untuk menenangkan diri," sambung Sasuke.

"Wow," hanya itu komentar dari Sakura.

"Ketika aku tidak bisa mendapatkan ketenangan di sini, aku pergi ke sana," cerita Sasuke.

Sakura melirik Sasuke, kemudian ia kembali mengedarkan pandangannya pada rak itu. "Apa yang dilakukan ayahmu?"

"Dia banyak bepergian," sahut Sasuke, pandangannya masih pada foto pondok itu. Namun tubuhnya mengikuti tepat di belakang Sakura yang bergeser sedikit demi sedikit.

Ketika menjelajah rak itu, Sakura menemukan sebuah figura kecil dan mengambilnya, di dalam figura itu terpajang foto berukura inchi seorang gadis berambut pirang panjang di atas tempat tidur dan hanya mengenakan gaun tidur berwarna putih, senyum lebar terembang dari wajah gadis dalam foto itu.

Sasuke segera mengambil figura itu dan meletakkannya tengkurap di rak. "Dia hanya mantan pacarku," jelas Sasuke. Wajahnya memperlihatkan gelagat tak enak.

Sakura hanya mengangguk, ia menjadi merasa tak nyaman.

You kill me without feeling guilty

This you just can't heal

Sasuke berjalan menuju meja dan mengeraskan volume musik yang tadi ia putar dan mereka dengarkan. Kemudian pemuda itu duduk di tepian ranjangnya.

A man like me ain't a dime dozen...

"Hey, kemarilah. Duduk di sini," seru Sasuke, dengan suara yang tidak terlalu keras tentunya, karena ruangan itu masih terasa begitu tenang walaupun sebuah musik pop tengah terputar di sebuah speaker.

Sakura menoleh ke arah Sasuke yang duduk di ranjangnya sambil menepuk-nepuk ranjang itu pelan.

That you could beg or steal...

"Ayolah," Sasuke meminta sambil agak tertawa kecil melihat reaksi Sakura yang seolah kita akan melakukan 'itu'?

Sakura dengan ragu menghampiri Sasuke.

I lost my taste for you, honey

I'm just a dead...

Sakura duduk di ujung tepian ranjang besar itu.

"Kemarilah, lebih dekat. Aku tidak akan melakukan apapun," ujar Sasuke meyakinkan.

A dead man gone...

Sasuke tersenyum ketika melihat Sakura mulai mendekati dirinya. Ia kemudian membenarkan jaketnya dan merebahkan diri. "Berebahlah," perintah Sasuke.

"Kau serius?"

"Yeah, aku serius. Lakukan saja."

Sakura terlihat memutar bola matanya. Apa yang harus ia lakukan pada saat-saat seperti ini? Ini pertama kali bagi Sakura.

And, woman, you'll know just how I feel...

Akhirnya Sakura mengikuti lagi ucapan Sasuke. Ia merebahkan badannya tepat di sisi Sasuke, namun gerakan matanya awas kalau-kalau Sasuke melakukan hal yang mengncam dirinya.

"Okay, sekarang tutup matamu," perintah Sasuke lagi. Ia menolehkan kepalanya ke arah Sakura.

Look up to the sky...

"Percaya padaku," bisik Sasuke. Ia lalu menatap lurus ke atap dan menutup kedua matanya.

Sakura melirik Sasuke.

"Apa sudah ditutup?"

"Apa yang akan kita laku—"

"Sshh!" sela Sasuke. "Dengarkan, hanya mendengarkan," ucap Sasuke masih memejamkan matanya.

Sakura mengangguk dan memejamkan matanya.

Tangan Sasuke bergerak mengikuti ketukan musik di atas perutnya.

Sakura menolehkan kepalanya dan membuka satu matanya mengintip Sasuke. Lalu melihat Sasuke yang terlihat begitu damai dan tenang mendengarkan musik, yang bukan musik klasik padahal. Sakura tersenyum dan kemudian mengikuti apa yang Sasuke lakukan, rebahan, pejamkan mata, dan mendengarkan.

Look up to the sky, yeah.

Woman, woman, you'll know

Sakura melanjutkan mendengarkan musik yang sama ketika ia di kamar Sasuke sore tadi, kali ini di kamarnya sendiri, sembari membaca buku di atas ranjang mungilnya. Sakura menggerak-gerakkan kakinya yang jenjang, ia hanya menggunakan jeans biru terang pendek di atas lutut, jadi kaki halusnya dari kejauhan terlihat seperti stick yang memukul drum secara bergantian.

Just how I feel

Look up to the sky

And, woman, you'll know just how I feel

Tiba-tiba pintu kamar Sakura terbuka, dan terlihat sosok wanita berdiri di ambang pintu itu. Sakura menarik headsetnya dan pura-pura berkonsentrasi pada bukunya. Wanita itu mengenakan kaos cokelat gelap dan celana denim panjang dengan ujung melebar.

"Ayahmu menelpon lagi," ucap ibu Sakura.

"Aku akan menghabiskan festival kembang api bersamamu, bu."

"Dengar. Ibu tidak akan melarangmu jika kau ingin—"

"Aku tidak akan pergi," sela Sakura.

Ibu Sakura tersenyum dan masuk ke dalam kamar anaknya, lalu menyingkirkan buku-buku Sakura, dan tidur di samping Sakura. Ia menghela nafas. "Hi," sapa ibu Sakura.

Sakura sedikit menahan tawanya. "Ibu, aku ingin tidur," ucap Sakura dengan tawa.

"Jadi siapa namanya?" tanya ibu Sakura tanpa basa-basi. Ia mengerti anaknya sudah beranjak dewasa. Dan dia tahu pasti siapa anaknya dan bagaimana anaknya ini sehari-hari walau terkadang ia tak bisa selalu bersama sang anak.

"Ibu," Sakura berusaha mengelak diinterogasi sang ibu.

"Ayolah, apa yang dilakukannya? Seperti apa dia?" ibu Sakura tertawa sambil membelai lembut kepala merah jambu anaknya itu.

"Dia penulis," cerita Sakura mulai angkat bicara.

"Sai juga penulis," ucap ibu Sakura.

"Yeah, tapi Sai menulis manga seperti 'Mystery Girl and The Lonely Phantom'," ucap Sakura sambil tersenyum mengingat-ingat wajah Sasuke, onyx Sasuke, dan wajah damainya sore tadi. "Sasuke menulis keritik tentang musik."

"Aku tidak tahu apa itu," komentar ibu Sakura sambil menggeleng pelan.

"Ibu tahu, seperti resensi musik, seperti di dalam 'Rolling Stone'," jelas Sakura sambil menatap zambrud sang ibu.

"Dia menulis untuk 'Rolling Stones'?" tanya ibunya agak terkejut dan menatap balik permata hijau sang putri.

Sakura terdiam sejenak. "Bukan, bu," tawa Sakura pun keluar, kemudian diikuti oleh tawa sang ibu.

"Jadi dia seorang pria kaya, berpendirian dan berhati besar?" goda sang ibu.

"Diamlah, bu. Ibu tidak mengerti," Sakura merengek manja.

"Hello, lalu menurutmu bagaimana dengan ayahmu?"

"Karena ibu dipengaruhi obat-obatan waktu itu," sela Sakura menatap ibunya.

Ibunya menghela nafas. "Itulah kenapa kau jangan pernah mencoba obat-obatan," ingat sang ibu.

"Mm," Sakura mengangkat alisnya dan mengangguk setuju.

Ibu Sakura beranjak dari ranjang Sakura.

"Serius, bu," panggil Sakura. Membuat sang ibu berhenti tepat di depan pintu. "Apa ibu percaya pada cinta sejati?"

"Dalam hidup ibu, tidak."

"Apa ibu pernah merasakan semacam doki-doki dengan ayah?"

Ibu Sakura tertawa kecil. "Mungkin hanya doki."

"Ibu tidak pernah doki-doki?" Sakura agak terkejut.

"Tidak. Sejauh ini," ibu Sakura tersenyum sambil merunduk. Lalu wajahnya mendongak dan menatap Sakura. "Di sisi lain, ibu punya kau. Kaulah doki-doki ibu."

Sakura tersenyum lembut memandang ibunya.

"Oyasumi."

"Love you, bu," seru Sakura setelah ibunya menutup pintu kamar Sakura.

"Love you," sahut ibunya dari luar.

Sakura menghela nafas, ia membenarkan posisi tidurnya dan memasang kembali headsetnya.

Woman, you'll know just how I feel.

Sakura berada di kelas Kalkulus siang itu. Sai duduk di sampingnya.

Sai terlihat menggambar sesuatu dan menunjukkannya pada Sakura.

Sakura tertawa kecil melihat gambar Sai, dia tahu Sai pintar menggambar, tapi ia tidak tahu kalau Sai juga pandai melawak dengan gambarannya.

Di luar ruang kelas. Uchiha Sasuke menatap Sakura yang bersendagurau dengan Sai, tatapannya seperti tatapan pemuda yang cemburu dan tidak suka akan kedekatan Sakura dengan Sai.

Sai tesenyum melihat Sakura tertawa senang. Wajahnya terlihat begitu lembut dan seolah, aku berhasil membuat malaikat ini tertawa kembali hari ini.

Sasuke masih di luar sana. Menatap tak senang pada Sai, dan menatap cemburu pada Sakura. Ia lalu menghela nafas dan pergi dari tempatnya berdiri.

Spoke to a priest

In the dark

To be Continue...

N.B:

Apa ini kependekkan? Maafkan aku. Apa ini mengecewakan? Maafkan aku lagi. Sepertinya aku harus mengucapkan banyak-banyak minta maaf pada para pembaca atas segala kekecewaan yang aku buat.. m(_ _)m

Padahal masih banyak fict yang menggantung. Tapi akan kuusahakan cerita bisa cepat kuselesaikan. Karena apa? karena sebentar lagi libur semester! Yeah! \m/

Movie all the way!

Leave me some comments, and I'll appreciate it so much. Thanks before, and.. hope you enjoy the next plot.. and curious about what will happen! Because I'm curious near crazy waiting for the real climax! ;)