Naruto © Masashi Kishimoto
LOVE ME written by Putri Dina Puspita Sari (Onime no Uchiha Hanabi-hime)
I just adapted this movie into fanfict, I don't really know what will you say about it. I just take the plot, and maybe it become strange because of me, and I've made many change of the script, don't blame me. Movie/Thriller director by Rick Bota (TV's Beauty and The Beast; TV's Supernatural; TV's The Vampire Diaries)
Hope you enjoy it. And, some characters maybe out of what Masashi created. But, I do my best for it. Just read and review.. Maybe I'm counting on the flame, remember use normal people's words.
Summary:
Haruno Sakura jatuh cinta pada seorang pemuda pendiam yang kaya raya, Uchiha Sasuke. Semuanya menjadi rumit ketika ia, teman-temannya, dan juga keluarganya mengetahui bahwa Sasuke diduga pelaku kejadian menghilangnya gadis berusia 16 tahun di kota tetangga. Sasuke bersumpah dia tidak melakukan perbuatan itu. Bisakah cinta mereka terus hidup di tengah investigasi dan huru-hara? Yang terpenting, bisakah Sakura terus hidup melewati semua?
Di cerita sebelumnya:
Woman, you'll know just how I feel.
Sakura berada di kelas Kalkulus siang itu. Sai duduk di sampingnya.
Sai terlihat menggambar sesuatu dan menunjukkannya pada Sakura.
Sakura tertawa kecil melihat gambar Sai, dia tahu Sai pintar menggambar, tapi ia tidak tahu kalau Sai juga pandai melawak dengan gambarannya.
Di luar ruang kelas. Uchiha Sasuke menatap Sakura yang bersendagurau dengan Sai, tatapannya seperti tatapan pemuda yang cemburu dan tidak suka akan kedekatan Sakura dengan Sai.
Sai tesenyum melihat Sakura tertawa senang. Wajahnya terlihat begitu lembut dan seolah, aku berhasil membuat malaikat ini tertawa kembali hari ini.
Sasuke masih di luar sana. Menatap tak senang pada Sai, dan menatap cemburu pada Sakura. Ia lalu menghela nafas dan pergi dari tempatnya berdiri.
Spoke to a priest
In the dark
~LOVE ME~
Sakura sedang sibuk dengan miniaturnya. Memotong perlahan kardus-kardus bekas sepatu pemberian matsuri dengan telaten. Hingga dering handphonenya mengalihkan perhatiannya.
In the middle of the night,
In the middle of the night
Sakura meletakkan guntingnya dan memeriksa handphonenya, salah satu sudut bibirnya terangkat dan mengangkat sambungan telpon itu. "Hello?"
"Haruno, ini aku, Sasuke."
"Aku tahu siapa ini," jawab Sakura dengan senyum.
"Kau sedang apa?"
"Menghindari PR. Kau sendiri?"
"Hanya mengerjakan tesisku untuk Fisika Nuklir."
"Wow, itu, um, bohong," sahut Sakura sambil tersenyum geli. "Aku boleh meminjamnya?"
"Hey, jangan salah sangka, tapi aku selalu memperhatikanmu di sekolah. Apa kau pacaran dengan Sai?"
"Tidak. Dia sahabatku sejak kelas 3. Ibu kami kuliah di kampus yang sama, jadi, yeah, seperti itu, aku rasa."
"Hn."
Sakura terdiam. "Apa maksudnya 'hn'?" Sakura mengikuti nada bicara Sasuke ketika ia mengatakan 'hn'.
"Hanya 'hn'."
Sakura mengangguk seperti okay, kau aneh.
"Hey, aku baru berpikir kau dan aku—kita harus kabur bersama. Berhenti sekolah."
"Kau bercanda," sela Sakura. "Sungguh?"
"Yeah, kenapa tidak?"
"Aku tidak tahu," Sakura mengangkat bahunya karena gerakan refleks, tak perduli Sasuke melihatnya atau tidak. "Aku selalu ingin pergi ke Mexico."
"Well, kau pernah ke sana?"
"Aku pernah melihat gambarnya. Aku tidak pernah meninggalkan tempat tinggalku jauh-jauh. Aku bukan gadis penjelajah dunia."
"Well, bagaimana kalau kita coba pacaran?"
Sakura tertawa.
And I will stay right by your side...
"Aku suka track nomor dua, itu yang terbaik menurutku," ucap Sakura sambil mendengarkan musik dari ponselnya dengan sebelah headset, di halaman sekolah saat istirahat makan siang.
Sebelah headset Sakura mengait pada sebuah telinga lain.
Sakura melepas headsetnya dan tersenyum pada pemuda yang duduk di hadapannya.
"Sai akan menjadikanku sasarannya," ucap Sasuke dan menatap Sai yang duduk tak jauh darinya dan Sakura.
Sakura menengok ke arah Sai, ia duduk bersama dengan Karin, Matsuri dan juga Gaara. "Nah," ucap Sakura dan tertawa kecil.
Dari kejauhan Karin memperlihatkan jari tengahnya pada Sasuke.
"Nice," decak Sasuke memutar kepalanya.
Sakura agak terperanga melihat Karinnya melakukan hal itu. Ia kemudian menggeleng menatap Sai. "Karin bukan salah satu penggemarmu," cerita Sakura.
"Apa dia bilang kami pernah pacaran?"
Sakura terdiam memandang Sasuke. Ia menggeleng ragu. "Tidak."
Sasuke agak terkejut Karin tak menceritakan hal itu pada Sakura. "Yeah, kurang lebih, tiga bulan waktu kelas delapan."
Sakura membenarkan posisi duduknya dan mendengarkan Sasuke bercerita.
"Setelah kami putus, dia menelponku terus, dan aku sampai harus mengganti nomor telponku," cerita Sasuke. "Yeah, itu agak sinting," tambah Sasuke kemudian.
"Tidak mungkin. Karinku?"
"Yeah," Sasuke mengangkat alisnya bosan.
Sakura kemudian menghela nafas.
"Aku punya sesuatu untukmu," ucap Sasuke dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia kemudian mengambil sebuah kartu pos dan menyerahkannya pada Sakura. Kartu pos itu menampilkan gambar pantai, matahari terbenam dan pepohonan kelapa. Di bawah gambar indah itu terdapat tulisan 'Soak up the Sun in Mexico'. Di baliknya terdapat tulisan Post Card, dan di sampingnya sebuah tulisan tangan, 'You feel like home—Sasuke'.
Sakura menatap Sasuke dengan senyuman yang tak menghilang dari wajahnya. Demikian Sasuke, ia memandang Sakura dengan sedikit senyum.
~LOVE ME~
Volvo biru malam milik Uchiha Sasuke terparkir di depan kediaman keluarga Yamanaka. Di dalamnya Sasuke mendesah beberapa kali, ia melihat sebuah kertas di tangannya, sebuah sampul komik yang berjudul Love Me, sampul komik itu memperlihatkan gambar seorang gadis berambut pirang pendek duduk di sebuah tangga depan rumah sendirian.
Ingatan Sasuke membawanya pada senyum gadis pirang panjang, dengan mata biru lembut yang selama ini dicari-cari oleh keluarga serta pihak kepolisian.
Sasuke melirik keluar jendela mobilnya dan menerawang ke dalam rumah keluarga Yamanaka. Seorang wanita menangis tersedu-sedu dan menjerit, seorang pria berusaha menenangkannya. Sasuke melipat sampul komik itu dan menyalakan mobilnya lalu melaju pergi.
~LOVE ME~
Kepolisian kota Konoha.
Kushina dan Minato sedang mengamati berbagai macam barang bukti milik nona Yamanaka yang menghilang hampir lebih dari 4 bulan lalu. Mereka berdua mengamati selembar kertas yang berisi gambar komik, seorang gadis sedang duduk kesepian di tangga depan rumahnya, lalu di bawahnya merupakan gambar tangga yang didudukki gadis itu hanya saja diambil dari sudut pandang samping, dan sudut pandang penggambaran ditarik jauh memperlihatkan rumah gadis itu dari balik sebuah pohon. Minato dan Kushina mengasumsikan kertas sobekkan komik itu terbang dari dalam tas Ino, entah bagaimana ceritanya, kemudian Ino berlari ke arah jalan kecil menuju bukit yang kanan-kirinya masih berupa pepohonan dan semak-semak tinggi, lalu menghilang.
"Baiklah. Kita punya teman-temannya, dan hal yang lumayan penting lain, mereka biasa-biasa saja. Atau, mungkin—bagaimana dengan gadis yang tidak menyukainya?" ucap Kushina sambil mengamati file-file yang terjepit rapi di atas papan kayu alas menulis. "Kau tahu, seperti ancaman dari beberapa orang?"
Minato hanya mengangguk-angguk sambil mengamati foto Ino bersama dengan seorang pemuda yang kita ketahui bernama Uchiha Sasuke. Foto itu memperlihatkan Sasuke dan Ino yang saling berpagutan dan tersenyum bahagia.
~LOVE ME~
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Sakura menatap Karin meminta penjelasan. Saat ini mereka berdua sedang bersantai berdua di Ichiraku Deluxe.
"Terus terang, hal itu adalah masa lalu. Aku tidak perduli dengan orang terkutuk itu," jelas Karin.
"Yeah, well, akan lebih baik jika aku mendengarnya darimu," ucap Sakura berusaha tersenyum.
Karin menghela nafas. "Well, aku berusaha menyingkirkan bajinganitu dari masa laluku," jelas Karin. "Dia itu bajingan."
Sakura tertawa kecil.
"Satu peringatan—jika dia mencoba menarikmu dalam pesona sex dewanya dan kau masuk ke sana, jangan merengek padaku ketika ia mencampakanmu," Karin mengambil handphonenya dan memainkan jarinya di atas layar ponsel canggihnya itu.
Sakura tertawa kecil. "Oh."
"Hey, ladies," tiba-tiba Matsuri muncul.
"Hi," sapa Sakura dengan ceria.
"So, aku ingin semua hal kotor yang kalian bicarakan. Sampai ke detilnya," ucap Matsuri dengan senyum ayolah beri tahu aku dan menopang dagunya pada tangannya yang tegak kokoh di atas meja.
"Kami-sama," desah Karin memutar bola matanya malas.
Matsuri tersenyum sambil menunggu di antara Karin ataupun Sakura bercerita.
Tak lama handphone Sakura berdering, sebuah panggilan masuk dari Sai dengan segera Sakura angkat.
"Hey, Sai," ucap Sakura setelah menempelkan handphonenya di sisi telinganya.
"Cukup sudah. Datang ke toko komik dan bantu aku dengan kalkulus terkutuk ini."
"Uh..."
"Aku pergi," tiba-tiba Karin mengambil tasnya dan beranjak pergi.
"Karin!?" seru Sakura. "Yo. Tak bisa dipercaya," sungut Sakura sebal. "Yeah, okay, aku akan ke sana dalam sedetik."
"Okay, bagus. aku tunggu kau. Bye."
"So..." Matsuri menatap Sakura. "Bagaimana hidangan pembukamu?"
"Sungguh?" Sakura menatap Matsuri tak percaya.
"Apa?" Matsuri mengangkat alisnya dan mendengarkan Sakura yang siap bercerita.
"Kami bahkan belum berciuman."
Matsuri agak terperanga. "Kau serius?" wajahnya menatap Sakura aneh.
Sakura mengangguk pelan.
"Sakura, kau suka laki-laki, bukan?"
Sakura mendekatkan wajahnya pada Matsuri dan berbisik. "Jangan katakan pada Karin, kumohon, tapi perasaan 'suka' aku rasa sudah cukup."
"Lalu bertindaklah lebih dulu, buatlah keajaiban," ucap Matsuri. "Apa kau mau melakukannya dengan bajingan ketika kuliah nanti dalam sebuah perkumpulan rumah konyol?"
Sakura membelalakkan matanya dan menggeleng pelan. "Aku hanya ingin jatuh cinta. Aku tidak ingin menjadi, seperti, yeah, pelacur," ucap Sakura lembut.
"Kau benar," Matsuri mengangguk setuju. "Kau harus benar-benar jatuh cinta," ia tersenyum pada Sakura lembut.
Sakura tertawa kecil. "Okay, aku harus pergi," ucapnya pelan. "Aku harus pergi," ulangnya lagi sambil menggeleng-geleng dan tertawa ringan sambil membereskan barang-barangnya.
"Okay," Matsuri menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Lalu ia mengambil kertas menu. "Oh, kau sudah dengar tentang polisi yang ke sekolah kita beberapa hari lalu? Yeah, mereka menanyai beberapa murid tentang gadis yang hilang. Mengerikan," cerita Matsuri.
Sakura memperhatikan Matsuri dan mendesah jengkel. "Oh, kuharap pria itu segera tertangkap."
"Siapa yang bilang pelakunya pria?"
Sakura menoleh ke arah Matsuri penasaran.
Matsuri tertawa. "Aku hanya bicara asal."
Sakura kemudian tersenyum dan beranjak pergi. "Mungkin aku akan bertemu lagi denganmu nanti, atau mungkin aku tidak ingin," Sakura berjalan menuju pintu keluar yang berada tak jauh dari belakang kursi Matsuri.
Matsuri tertawa tanpa menoleh ke belakang. "Bye."
"Bye," sahut Sakura sekenanya. Ia lalu menghilang dari balik pintu keluar. Sakura menyipitkan matanya ketika matahari di luar café menerpa wajahnya, ia lalu berjalan menuju parkiran mobilnya yang ia parkir seblok dari Ichiraku Deluxe. Tapi langkahnya melambat ketika ia melihat Sasuke berdiri di depan toko di sebelah Ichiraku Deluxe.
"Haruno," panggil Sasuke. Ia mengejar Sakura dan berjalan di samping Sakura.
"Okay, sekarang aku merasa kau benar-benar menguntitiku," ucap Sakura sambil tersenyum.
"Tidak, hanya kebetulan saja aku sedang ada urusan. Apa yang kau lakukan?"
"Mengopi dengan cewek-cewek," jawab Sakura.
"Kau mau pulang?" tanya Sasuke, ia melihat kanan-kiri jalanan ketika mereka berdua akan menyeberang.
"Tidak, aku akan pergi bertemu Sai."
"Sai bekerja di Gama's?"
"Yeah, hampir, sekitar dua tahunan."
Sasuke menghentikan langkahnya. "Yeah, ada yang harus aku bicarakan denganmu," Sakura memandangi wajah Sakura.
"Apa?" Sakura menatap balik Sasuke.
Sasuke terlihat agak gelisah dan melihat ke arah lain. "Bisa kita bicara di tempat lain?" Sasuke kembali memandang Sakura.
Sakura mengigit bibir bawahnya menimbang-nimbang. "Aku benar-benar harus per—"
"Lima menit, paling lama," timpal Sasuke.
"Tapi aku berjanji pada Sai aku akan—"
"Sai akan mengerti, percaya padaku," sela Sasuke lagi. "Ayolah," Sasuke berjalan mundur, kembali melewati jalan yang sempat mereka berdua lalui.
Sakura tersenyum, ia menggelengkan kepalanya, tapi pada akhirnya ia mengikuti Sasuke.
Di sisi lain Sai beberapa kali melihat jam tangannya, ia menghela nafas panjang dan menutup buku setebal ensiklopedia di atas sebuah meja yang berada di antara rak-rak komik. Ia melempar buku itu gusar.
Di suatu tempat, di antara ilalang tinggi, sebuah Volvo terparkir sendirian, sejauh mata memandang hamparan ilalang itu, tak satupun orang melintas ataupun alat transportasi yang lewat.
Sakura bersandar pada kap depan Volvo biru malam itu sambil memandangi Sasuke.
"Jadi Sai benar-benar jatuh cinta padamu," ucap Sasuke dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans biru malamnya.
"Yeah," Sakura mengangguk ragu. "Aku tidak menyukainya seperti ia menyukaiku. Dia seperti saudara bagiku."
Sasuke mengangguk mengerti. Ia lalu memetik sebuah bunga pinggir jalan dan memberikannya pada Sakura.
"Aww, aku suka bunga," ucap Sakura dan menerima sekuntum bunga berwarna lavender itu. "Waktu ibuku punya banyak waktu luang, ia penggila berkebun," cerita Sakura sambil memperhatikan bunga di tangannya. "Dia punya dua pekerjaan sekarang, jadi aku jarang bertemu dengannya."
Sasuke mengangguk dan tersenyum. "Bagaimana dengan ayahmu?"
"Pergi ketika umurku dua tahun. Dia belum siap menjadi ayah."
Sasuke mendekati Sakura.
Sakura menatap Sasuke, lurus menuju onyx kelam Sasuke.
Sasuke mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sakura. Melihat reaksi aneh Sakura, ia pun mengangkat alisnya heran. "Maafkan aku. Apa itu baik-baik saja?"
"Yeah," Sakura membuang wajahnya. "Maafkan aku," Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Tatapannya terfokus pada ujung sepatunya.
"Apa?"
"Ini bodoh, serius," ucap Sakura kembali menggeleng cepat.
"Kau bisa bercerita padaku. Aku tidak akan mengatakan apapun," ucap Sasuke dan duduk di atas kap depan mobilnya, tepat di sisi Sakura. "Percaya padaku."
Sakura menelan liurnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa begitu kering jika ia ingat kejadian yang menimpanya dulu. "Ketika aku kelas sembilan, ada anak namanya Hyuuga Neji. Neji sungguh—ugh, di sekolah lamaku, ia super populer, pemain baseball."
Ada jeda ketika Sakura bercerita. Ia seperti menahan kepedihan. Sasuke semakin intens menatap Sakura.
"Suatu hari. Dia dan teman-temannya merekam videoku saat berada di dalam kamar mandi perempuan, dan mengunggahnya di web."
Sasuke agak menahan emosinya, namun gelagatnya berusaha setenang mungkin.
"Mereka memberi komentar di bawahnya, seperti tontonan, aku seorang perawan liar di alam liar." Sakura menghela nafas. "Lalu, mereka—" Sakura menelan liurnya, kemudian menatap Sasuke. "Setelah itu, ibuku memindahkanku ke Konoha Academy. Ia menggunakan seluruh tabungannya, itu sebabnya ia punya dua pekerjaan."
Sasuke melembutkan tatapannya dan benar-benar merasa prihatin dengan apa yang telah terjadi pada gadisnya itu. "Apa yang terjadi dengan Neji?"
"Neji adalah bintang baseball kesayangan. Dia hanya mendapat skors selama, sekitar, dua minggu."
Sasuke berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauh dari Sakura, ia benar-benar ingin meremukkan wajah Neji ini.
"Itu sudah berlalu, kau tahu, sejak aku dicium seseorang," ucap Sakura memandang Sasuke yang berdiri beberapa kaki darinya.
Sasuke kemudian menghampiri Sakura dan menciumnya. Kali ini bukan sekedar kecupan singkat seperti sebelumnya, melainkan ciuman hangat yang cukup lama.
"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Sakura setelah mereka melepaskan tautan bibir mereka.
Sasuke menghela nafas berat.
Di dalam Volvo biru malam itu, handphone Sakura bergetar-getar menerima panggilan masuk dari Sai.
~LOVE ME~
Sebuah mobil Honda Integra terparkir di sisi jalan, tepat di depan sebuah toko bertuliskan Gama's. Gama's adalah sebuah toko komik, khusus menjual komik, terlengkap di Konoha, di sana ada jutaan komik Jepang atau manga, dan komik-komik buatan luar negeri lainnya.
Sakura keluar dari mobilnya dan berjalan menuju Gama's dengan agak tergesa-gesa. Namun sebuah pelang bertuliskan 'CLOSED' terpampang, dan benar saja, toko itu sudah tutup, dikunci dan sepi. Sakura menghela nafas panjang. Ia kemudian kembali ke mobilnya.
~LOVE ME~
Sai membuka pintu rumahnya, baru ia berdiri di ambang pintu, ia sudah mendengar suara seorang wanita sedang beradu argumen dengan seorang pria. Sai kemudian mendecih, lalu menyedot Starbucks Cofee miliknya.
"Kau tidak pernah mencintaiku!" suara wanita berseru dari dalam rumah Sai.
Sai hanya berdiri di ambang pintu mendengarkan drama yang amat dramatis itu.
Argumen itu terus berlanjut, tidak terlalu terdengar apa yang keduanya debatkan. Sai memilih untuk pergi daripada berlama-lama mendengarkan adegan yang sama dan membosankan baginya itu terus-menerus, lagi dan lagi.
~LOVE ME~
Pagi hari di Konoha yang mendung memasuki musim panas, ibu Sakura dan Sai duduk di pelataran rumah Sakura.
"—beberapa dokter kehamilan dan ginekologi."
Sakura membuka pintu dan tersenyum menyapa Sai.
"Selamat pagi, putri tidur," sapa ibu Sakura.
"Maafkan aku," ucap Sakura menyesal pada Sai.
"Aku memanggilmu beberapa kali. Coba bayangkan," ucap Sai sambil menyedu jus kotak di tangannya. "Aku duduk di sini dengan ibumu, berbicara tentang berkebun."
"Dan dia bercerita padaku tentang komik Vixen-Lex Luthor barunya," tambah ibu Sakura.
"Manga," Sai membenarkan sambil tersenyum tipis.
Ibu Sakura mengangguk seakan yeah, okay, itu maksudku tadi. "Sai, kau mau menambah?" ibu Sakura menunjuk kotak jus kosong di tangan Sai.
"Tidak, tidak usah. Terima kasih," sahut Sai cepat dan memberikan kotak kosong itu pada ibu Sakura.
"Okay," ibu Sakura mengambil kotak itu dan berdiri. Ia menepuk pelan pundak Sai, dan berjalan melewati putrinya, memberi tatapan pada sang putri seperti minta maaf pada Sai sekarang.
Sakura mengangguk dan duduk di sisi Sai setelah ibunya masuk ke dalam rumah. "Aku sungguh minta maaf soal kemarin," ucap Sakura memandang Sai sedih.
Sai enggan menatap Sakura. "Kau bersama Lex Luthor, bukan begitu?"
"Oh, my God, Sai," Sakura tak lepas memandang onyx Sai yang serupa dengan onyx Sasuke. Namun ada yang berbeda dari kedua onyx ini, entahlah, onyx Sasuke jauh lebih menarik perhatian Sakura daripada onyx milik Sai.
Sai melirik Sakura sepintas, lalu pandangannya lurus menyeberang jalanan di depan rumah Sakura. "Apa kau melakukan itu dengannya di dalam mobil sport mahalnya itu?"
"Tidak," jawab Sakura cepat. "Aku tidak tahu mobil jenis macam apa itu."
"Oh!" Sai mendecih. "Aku sungguh-sungguh tidak ingin tahu," gerutunya.
"Maafkan aku," ucap Sakura masih memandangi Sai.
Sai menatap Sakura. Kali ini dalam dan benar-benar penuh kekecewaan. "Aku ingin semuanya kembali seperti semula."
Sakura membelalak. "Tidak ada yang berubah," ucap Sakura kemudian, ia meletakkan tangannya di atas paha Sai.
Sai menghela nafas dan menggeleng cepat. Kentara sekali ia benar-benar kecewa.
"Kau bisa memukulku di bahu jika kau mau," tawar Sakura memelas. "Di sini," ia menunjukkan bahunya.
Sai tersenyum tipis. "Dia itu brengsek," ucap Sai.
"Kau bahkan tidak tahu dia," ucap Sakura. Ia mengambil tasnya dan bersiap berdiri.
Sai mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah CD dan menyerahkannya pada Sakura. "Ini."
Sakura terperanga, ia mengambil CD di tangan Sai. "Astaga, Sai, aku tidak serius soal itu. Aku akan—aku suka manga-manga yang kau berikan padaku. Penuh banyak gambar di kamarku."
Sai mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih," setelah menghela nafas panjang Sakura berterima kasih pada Sai. Ia tak menyangka Sai benar-benar memikirkan perkataannya waktu makan siang tempo hari. "Aku tidak sabar untuk mendengarkannya," ucap Sakura dengan senyum.
Sai menatap Sakura, memastikan itu benar-benar ingin mendengarkan atau hanya sekedar mendengarkan untuk menghargai.
"Ayolah," ucap Sakura menepuk pundak Sai pelan. "Bye, bu!" seru Sakura dan berdiri.
"Bye, bi!" seru Sai juga.
Mereka berdua pun pergi ke sekolah bersama-sama.
~LOVE ME~
Sakura memainkan pulpen di tangannya ketika guru sastranya menerangkan tentang hikayat Hikaru Genji. Ia memandangi jam dinding yang hampir menunjuk pukul 15.00.
Always
I can feel you
Sakura menatap ke luar pintu dan melihat Sasuke yang sudah berdiri di sana dengan senyuman.
Getting closer
To the end
AlwaysI can feel you
Getting closer
Sasuke melirik ke dalam jam dinding di dalam kelas Sakura. Ia lalu berbicara, yang tentu saja tak terdengar oleh Sakura.
Sakura hanya tersenyum memandangi Sasuke.
Getting close
Tak lama bel pulang berdering. Seluruh siswa-siswi dengan sigap-cepat-tanggap membereskan barang-barang mereka, termasuk Sakura.
Always
I can feel you
And my mind goes
In a circle...
Di dalam Volvo biru malam, Sakura dan Sasuke berciuman. Cukup lama. Sasuke menikmati setiap mili bibir mungil Sakura, dan Sakura menikmati setiap kecupan-kecupan Sasuke.
Sasuke berhenti mencium Sakura, ia menatap Sakura sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Sakura bingung. "Apa?" kali ini nada bicaranya ia tinggikan satu oktaf, mungkin, aku tidak terlalu mengerti tentang oktaf. Sakura tersenyum penasaran.
"Aku punya ide. Ayo kita berkunjung ke rumahmu," ucap Sasuke.
Sakura mengangkat kedua alisnya, ekspresinya mengatakan bukankah dulu pernah kukatakan?
Wajah Sasuke tak kalah memelas.
"Oh, baiklah," ucap Sakura dan mengecup singkat bibir Sasuke.
Sasuke tersenyum puas. Ia menyalakan mobilnya dan membawa mereka berdua menuju rumah Sakura.
~LOVE ME~
Di tempat lain, Ichiraku Deluxe, Matsuri sedang sibuk mengerjakan tugasnya dan Karin baru saja datang.
"Hei," sapa Karin.
"Hm," sapa Matsuri malas, ia sedang frustasi mengerjakan tugas sekolahnya itu. Ia memandangi Karin yang begitu asyik dengan layar handphonenya. "Ada apa denganmu?" tanya Matsuri bingung dengan ekspresi wajah Karin yang sulit ditebak oleh Matsuri.
"Baca beberapa kalimat terakhir," ucap Karin dengan senyum, memberikan handphonenya pada Matsuri.
Matsuri melihat layar handphone Karin. Ada sebuah artikel di situs berita, judul halamannya 'Pencarian Murid Ame: Yamanaka Ino', Matsuri menelusuri bagian terakhir halaman situs itu.
'Keluarga Yamanaka masih mencari putri mereka yang hilang, usia—16—tahun. Ino, telah menghilang beberapa bulan diduga diculik atau menjadi korban bullying. Polisi juga belum menemukan bukti pasti, diduga tersangka kasus ini adalah Uchiha Sasuke. Investigasi dilanjutkan untuk menanyai pacar Yamanaka, dugaan tersangka, Uchiha Sasuke.'
Karin terus memandangi Matsuri, menantikan ekspresi macam apa yang akan terlihat di wajah temannya itu.
"Holy shit," runtuk Matsuri dan menatap tak percaya pada Karin.
Karin tersenyum dan mengambil handphonenya kembali. "Yeah."
Matsuri masih terperanga tak percaya.
~LOVE ME~
Di salah satu ruangan di lantai dua gedung kepolisian. Kushina sedang menikmati crackernya sambil membaca sebuah buku.
"Hey, Kushina. Keluarga Yamanaka menemukan buku harian Ino," ucap Minato, masuk ke dalam ruangan Kushina dan membawa sebuah map yang di dalamnya terdapat selembar kertas yang menjadi barang bukti dan petunjuk kasus menghilangnya Yamanaka Ino, Minato menyerahkan map pada wanita hamil itu. "Kau tahu bagaimana Sasuke selalu mengatakan dia tidak melihat Ino selama seminggu dia menghilang? Well, bukan begitu?"
"Holy Mary, mother of God," seru Kushina dan membaca sobekan dari buku harian Ino. "Sulit untuk merasa seseorang yang tidak mengerti cinta, sampai kau jatuh cinta pada orang tersebut dan mereka tidak tahu bagaimana caranya mencintaimu balik. Aku harus mengatakan padanya...mungkin akan kukatakan. Aku tidak bisa memutuskan."
"Remaja akan menyukainya," komentar Minato.
"Apa yang akan dia katakan? Apa yang akan dia lakukan?" Kushina melanjutkan.
Minato membalik kertas itu.
Kushina memperhatikan tulisan tanggal yang tertera. "Dua hari sebelum dia menghilang."
Minato mengangguk.
"Ini bagus. Sangat bagus," ucap Kushina. "Waktunya memberi kunjungan singkat pada teman kita Sasuke," ucap Kushina dan menyimpan kertas itu kembali di dalam map lalu berjalan pergi.
To be Continue...
N.B:
Okay, bagaimana menurut kalian? Kita hampir ke climax! (What!? So far? Ternyata belum di klimaks? Just throw this shit off). Mungkin itu yang kalian pikirkan _ _)
Ayolah~ mungkin cerita ini terlalu banyak basa-basi, tapi sebenarnya setiap detil itu penting, agaknya, entahlah.. aku bukan pro, hanya amatir, jadi.. okay, aku suka baca novel karya Meg Cabot, dan terkadang aku baru sadar kalau, kau tahu, novel setebal itu ternyata dalam plotnya hanya terjadi dalam beberapa hari?! Sungguh, Meggy menjabarkannya dengan begitu detil tapi enak untuk dikonsumsi. Aku suka sekali dengan Meg Cabot ini... haruskah kukirimi e-mail cinta? Aku masih normal. Senormal-normalnya aku.. kenapa aku belum dapat pacar sampai sekarang? Emak! Aku mohon jodohkan saja putrimu ini! Aku sudah nggak punya pilihan lain, Mak!
Oke, kita tinggalkan melodrama kehidupan penulis nelangsa ini, kita lanjut ke—review! Yak! Silahkan reviewnya, monggo~
At least.. read the next chapter, it's not the ending, because I'm not pretty finish this story... I need a free time! You know, I wrote this fict so far in 2 night! You believe it? 2 night! Hoh! And I'm proud of it.. (what? You proud about what? This shit? Oh... Let's take her back into hell!) I'm in hell already. My house pretty like the hell, in my mind, not really, I mean the athmosphere, it doesn't mean I already had in hell before, just like what I'm watching in TV or movie. Okay, just shut the ass up.. seems like I can't stop my hand writing this stuff.. sorry..
