Armagedon or zombie 2
Main Cast : All EXO member
Other Cast : Cameo (seiring berjalannya cerita)
Genre : Fantasy, Adventure, Action, Friendship, a little bit Romance
Rated : T (not blood scene)
Terinspirasi dari banyak sekali film Zombie dan khayalan Dae kalau misalnya di dunia nyata itu banyak Zombie.
Flashback
" Hyungdeul, saengdeul kita tidak jadi pergi ke Phoenix. " Terang Tao setelah ia menetralkan deru nafasnya.
" Eh ? mengapa ? " Tanya Lay kaget. Semua orang yang berda disanapun sama kagetnya dengan Lay. Mereka berbondong-bondong mengerubungi Tao yang entah sejak kapan telah mendudukkan dirinya di atas sofa yang tadi BaekYeol tiduri.
" Apa maksudmu Tao-Tao ? " Chen mendudukkan dirinya disamping maknae panda kesayangannya.
" Pheonix telah terisolasi. " Tao membenarkan posisi duduknya. Dia menatap satu per satu member EXO dengan tatapan tajam tetapi tersirat gurat kesedihan dan ketakutan yang amat mendalam. Para member EXO terutama sang duo leader merapatkan dirinya kearah tao dan kemudian mendengarkannya dengan seksama walaupun mereka masih sangat penasaran dengan apa yang selanjutnya akan dikatakan Tao.
" Phoenix adalah kota mati sekarang. " Jelas Tao kemudian.
" Maksudmu ? " Kini giliran D.O yang bertanya. Jujur mereka semua benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataan Tao. Terisolasi ? kota mati ? memang ada apa dengan kota hebat tersebut ?
Akhirnya dengan sedikit gugup Tao menceritakan semuanya yang telah ia lihat dari TV yang berada di ruang control sesaat setelah dia pergi ke kamar mandi. Menceritakannya mulai dari bagaimana keadaan kota itu terlihat dari udara, pinggiran kota yang telah dilapisi baja setebal 10 inci, banyaknya ledakan-ledakan besar yang dihasilkan oleh granat berkekuatan ladak tinggi, peralatan perang berat yang dikerahkan untuk membombardir kota, sampai pemberitahuan serangan nuklir untuk memusnahkan kota tersebut. Semua orang disana terlihat berjalan tanpa tujuan dengan wajah pucat dan dipenuhi oleh cairan kental merah yang disebut darah juga luka busuk di hampir seluruh kulit tubuh sungguh mengenaskan memang.
" begitu ceritanya, Tao-tao benar-benar tidak berbohong. Kalian bisa melihatnya sendiri di TV stasiun luar negri dorm. " Tao mengakhiri cerita faktanya. Mata dan hidungnya terlihat memerah menandakan dia akan segera menangis. Tak jauh beda dengan Tao, para memberpun terlihat shock dengan ceritanya barusan. Luhan yang berusaha menahan amarahnya yang entah mengapa muncul, D.O dan Chanyeol yang membulatkan matanya, Chen yang berusaha menenangkan Taonya, pasangan Kaihun yang menganga lebar dan Lay yang menjatuhkan kertas jadwalnya ke lantai. Mereka seakan tak percaya dan tak ingin mempercayai apa yang dikatakan Tao barusan. Tapi mereka tahu itu tak ada gunanya karena mereka tahu bahwa Tao paling tidak bisa berbohong selain Sehun.
" Kalian ayo cepat lima menit lagi kalian sudah berada di atas panggung. " Suara cempreng sang managerlah yang membangunkan mereka dari keterpakuan mereka.
Flashback end
:::
Saat ini para member EXO tengah berkumpul di ruangan keluarga. Membentuk sebuah lingkaran mengelilingi meja yang ada di ruangan tersebut. Urutannya adalah Chen-Tao-Sehun-Kai-Kris-Suho-Luhan-Lay-Baekhyun-D.O-Xiumin-Chanyeol dan kembali lagi ke Chen. Sepertinya mereka sedang mengalami perincangan yang cukup serius.
" Apakah pihak SM sudah tahu mengenai hal ini ? maksudku pembatalan konser SMtown di Phoenix. " Ungkap Xiumin.
" Sudah tentu, pasti mereka sudah melihat beritanya. " Luhan menjawab pertanyaan Xiumin. Dia mendongkakan kepalanya keatas dengan jari telunjuk yang bertengger pada hidung manisnya. Semua yang mendengar omongan Luhan mengangguk,mungkin membenarkan atau mungkin hanya pura-pura mengangguk saja.
" Tapi, aku heran dengan orang-orang yang berada di TV itu. Kenapa mereka tidak diungsikan jika akan ada pemusnahan massal ? " Tanya Sehun yang sedari tadi diam mendengarkan. Memasang pose berfikir.
" Benar, tapi apakah kalian tidak berfikir ? coba lihatlah baik-baik penampilan orang-orang disana. Ada yang aneh bukan ? " kali ini giliran Kris yang angkat bicara. Serentak semua orang yang berada disana menoleh kearahnya.
" maksudmu ? "
" Bukankah mereka terlihat seperti mayat hidup ? " katanya. Kris memperhatikan satu per satu wajah para membernya dan ingin tau seperti apa reaksi mereka. Tetapi, mereka malah menunjukkan mimic muka yang sangat mengejek.
" hey kris, kau ini korban film ya ? didunia ini mana ada zombie ? " Luhan tertawa sangat keras, dia sampai memukul lengan suho yang berada di sampingnya. Suhopun meringis kesakitan. Yang lainpun sontak tertawa sangat kencang, apalagi baekhyun dan chen sang main vocal tertawa sampai menggetarkan seluruh isi dorm. Kecuali Tao, Kris, Suho dan Chanyeol. Entah mengapa mereka tidak bisa tertawa malah mungkin mereka yang paling ketakutan.
" Hyungdeul, mungkin apa yang kris hyung katakan benar. " ucap Chanyeol. Tatapan matanya kosong dan pikirannya melantur kemana-mana. Sontak seluruh member berhenti tertawa dan melihat kearah Chanyeol sang pembicara. Chanyeolpun balik menatap mereka semua. Chen mulai mengangkat rahangnya seperti ingin berbicara.
"Kalian tertawa itu hanya untuk mengalihkan rasa takut kalian." Tambahnya cepat sebelum Chen berkata satu patah katapun. Chanyeol dengan dingin langsung bangkit dari sofa yang didudukinya dan melesat menuju kamarnya yang sekamar dengan Baekhyun, Dio dan Xiumin. Seluruh member EXO menatap kepergian Chanyeol dengan penuh tanda tanya. Chanyeol benar-benar sangat aneh, hari ini tepatnya setelah Performance mereka dia tidak pernah mengeluarkan tawa dan senyuman khasnya. Bahkan dia menjadi sangat dingin dan pendiam.
''Ada apa dengannya?'' Suho menatap Xiumin yang notabene adalah orang yang paling dekta dengan Chanyeol selain Baekhyun. Xiumin yang ditanya seperti itu hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu.
Chanyeol tengah duduk melamun di pinggir kasurnya, dia tidak mempedulikan ketukan pintu dan suara yang terus memanggil namanya dari luar kamar. Dia tahu semua member EXO mengkhawatirkannya. Tetapi dia belum ingin menemui semuanya karena dia takut, dia takut dengan dunia luar. Dia, dia takut kehilangan teman-temannya.
.
setelah sekian lama melamun, akhirnya chanyeol bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju lemari pribadi miliknya. Mengambil sesuatu yang sudah lama dia tidak pakai dan kembali berjalan menuju meja belajarnya setelah sebelumnya dia mengambil ponsel di atas kasur. Dia menyalakan laptop yang tadi diambilnya kemudian menyambungkannya dengan wi-fi dorm. Lalu dia membuka search engine dan mengetikkan sebuah kata atau kalimat. Sesudah filenya tampil di jendela laptopnya dia meng-klik salah satu file yang berhubungan dengan sesuatu yang diketiknya. Dan viola ! barang yang ia incar beserta spesifikasi kualitas dan harganya muncul. Chanyeol ber-smrik ria. Dia kemudian mengambil buku tabungannya yang berada di bawah kasur, mengecek berapa sisa uang yang berada dalam tabungannya.
''Tabungan gaji ditambah tabungan sebelum jadi artis, semuanya 19 milyar won. Apakah ini cukup untuk keperluan 12 orang selama 10 tahun?" Chanyeol menimbang-nimbang. Dia gunakan otak jeniusnya kembali setelah dua tahun cuti. Menimbang-nimbang berapa kisaran harga barang, makanan dan transportasi untuk 10 tahun kedepan.
"Makanan dan minuman selama lima tahun? Pakaian? Kendaraan? Senjata? Semua itu untuk 12 orang. Kira-kira semuanya 17 milyar won, berarti cukup.'' Chanyeol segera menelpon seseorang yang dirasanya bisa membantu dia untuk menyiapkan semua keperluan itu. Dia mencari-cari nama di kontak handphonenya. Chanyeol berharap semoga saja setelah dua tahun mereka tidak bertemu, orang itu belum mengganti nomor hanphonenya.
Tutttttt... tutttttt... tutttttt...
'Click'
''Yeoboseyo?''
''Ini aku.''
''Nugu?''
''Chanyeol, Jeosam-ah.''
''Eo? Hoi sudah lama ya kita tidak bertemu. Ada apa?''
''hehe, mianhae Jeo akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Aku perlu bantuanmu.''
''Bantuan? Bantuan apa?"
"Nanti aku kirim lewat e-mail. Emailmu masih yang dulu bukan?''
''Ne.''
''Ya sudah, pai-pai chingu.''
'KLIK.'
Chanyeol memutuskan panggilannya. Kemudian dia membuka tab baru di layar laptopnya dan mengetikkan kata pada kolom url. Setelah memasukkan kata sandi dan username chanyeol membuka kontak yang berada di akunnya, mencari nama Jeosam dan mengetikkan sebuah pesan untuk dikirim ke e-mailnya. Setelah selesai, Chanyeol langsung mematikan laptopnya dan ditaruhnya lagi pada lemari pribadinya.
''Cha, akhirnya selesai. Semuanya sudah kupersiapkan. Para zombie, mari kita bertempur hyaaa.'' Chanyeol meregangkan otot tangannya yang mulai kaku. Dia berteriak sekuat tenaga untuk mengekspresikan perasaan bersemangatnya. Untung saja kamarnya ini kedap suara jadi suara teriakan bassnya tidak terdengar sampai luar.
.
.
.
'Clek'
''Ah, Chanyeol-ah sudah keluar?'' Suho yang sedang bersantai di ruang TV, ruangan yang bersebrangan langsung dengan kamar Chanyeol berseru ketika melihat Chanyeol keluar dari kamarnya setelah dia mengunci diri selama 8 jam. Chanyeol yang ditanyapun hanya memandang hyungnya dan tersenyum kecil. Suho heran tetapi dia tidak begitu memperdulikannya.
Chanyeol berjalan menuju dapur, hendak mengambil segelas air putih dingin di kulkas. Baekhyun, Chen dan Luhan yang merupakan soulmate troublemaker Chanyeol begitu senang karena rekan seperjuangannya sudah keluar dari kandang. Walaupun sejak insiden tadi Chanyeol menjadi lebih pendiam, dia tetap menunjukkan pada teman-temannya bahwa Chanyeol itu masih Chanyeol yang dulu.
Xiumin menghampiri namja kesayangannya di dapur. Dia memeluk pinggang belakang Chanyeol.
''Channie, kamu sebenarnya kenapa?'' Tanya Xiumin masih dalam pelukannya.
Chanyeol membalikkan badannya menghadap Xiumin dan melepaskan pelukan sayang dari namja memegang erat-erat pundak Xiumin. Dengan masih memandang kedua bola mata coklat Xiumin Chanyeol tersenyum, tersenyum dengan tulus seperti biasanya. tapi, Xiumin bisa melihat ada keganjilan dalam senyuman Chanyeol. Dia merasa senyuman itu berisi ketakutan dan kegundahan hati Chanyeol.
''Channie...'' Xiumin memberanikan diri untuk bertanya.
''Nan Gwaenchana Hyung. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.'' Chanyeol langsung memotong perkataan Xiumin. Dia takut Xiumin tahu tentang keresahannya itu, karena Xiumin adalah orang yang paling peka terhadap perasaan seseorang.
''Tapi Yeollie, kau…''
''Ssssttt, aku akan terus menjaga Minnie Hyung apapun yang terjadi. Jadi tidak usah memikirkanku. Arra?'' Chanyeol menempelkan telunjuk kanannya pada bibir Xiumin. Menyuruhnya untuk diam.
''Apa maksudmu Channie?'' Xiumin bertanya tak mengerti setelah melepaskan diri dari cengkraman Chanyeol.
''Kau akan mengetahuinya nanti Hyung.''
.
.
.
Kris berjalan perlahan menuju tempat sang guardian duduk. Dia mendudukkan dirinya tepat disamping Suho yang sedang asyik-asyiknya membaca sebuah buku novel yang lumayan tebal. Kris terus menatap wajah teduh Suho yang sangat serius. Menurutnya itu sangat manis sekaligus menggemaskan.
''Ada apa Kris?'' Tanya Suho tanpa mengalihkan pandangannya dari buku bacaan di depannya.
''Aniyo..'' kris menggeleng kecil tanpa melepaskan pandangannya pada objek di depannya kini. Suasana hening untuk beberapa saat. Merasa terus-terusan diperhatikan oleh orang disampingnya tadi Suho lantas langsung menutup buku bacaannya dan menaruhnya di atas meja yang berada tepat di depannya. Suho dan Kris kini bertatapan sangat lama.
''Suho...'' Kris memanggil lirih tanpa melepas kontak mata mereka. Suho hanya diam saja menatap namja yang dicintainya, tapi air mata tiba-tiba saja muncul dari mata sipitnya tanpa dia ketahui alasannya apa. Kris yang melihat air mata yang mengalir dipipi mulus Suhopun kaget, mengapa Suho menangis? Apa ada yang salah dengan dirinya? Terka Kris dalam hati. Hati weak guardian angelnya ini memang tidak bisa ditebak, Suho sering menangis tanpa sebab. Firasat dan perasaannya sangat kuat, pernah sewaktu itu dia menangis sebelum Sehun sakit dan ternyata feelingnya benar, Sehun benar-benar sakit karena kecapean.
Kris segera merengkuh Suho dalam dekapannya sambil terus mengatakan ''Uljima...uljima..'' dan isakan Suho semakin mengeras dan airmatanyapun membasahi baju Kris.
''hikss...jangan tinggalkan aku kris...'' isak Suho berulang-ulang.
Kris terus mendekap Suho, mengelus-ngelus belakang kepalanya membiarkannya menangis sepuas hatinya. Hingga beberapa menit kemudian isakan Suho mulai tak terdengar lagi dan Suho kini mengangkat kepalanya supaya sejajar dengan kepala Kris.s
''Ada apa Myeonnie? Mengapa menangis?'' Kris mulai melontarkan pertanyaan, ibu jarinya sibuk membersihkan sisa air mata yang mengering di pipi Suho.
''Aku takut Kris,'' Suho menundukkan kepalanya kembali.
''Takut?''
''Menurutku, apa yang Tao dan kau katakan itu benar. Aku takut Zombie-zombie itu menyerang Seoul dan memisahkan kebersamaan kita semua.'' Akunya, Suho membalikkan badannya menatap kosong kearah TV yang tidak menyala.
''Nado, kita berdoa saja ya?''
.
.
Suasana di kamar bertuliskan HunKaiDo sangatlah sepi, hanya ada dua orang pemuda yang menatap satu sama lain di ranjang yang berbeda dalam diam, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua hanya tatapan intens yang diberikan satu sama lainlah yang bisa mewakili perasaan apa yang mereka alami sekarang.
''Apa kita akan mati?'' Tanya salah satu dari mereka memecah keheningan,pemuda yang ditanya menggelengkan kepalanya pelan tanda tak tahu.
''Apa mereka benar tentang ini? Aku takut Hun.'' Ucapnya sekali lagi, kali ini nada suaranya mengecil diakhir kalimat. Kepalanya ia tundukkan mencegah seseorang tau bahwa matanya berkaca-kaca. Ingin rasanya ia menangis sekencang-kencangnya menumpahkan segala ketakutan yang ia alami. Tapi pemuda yang didepannya sangat tidak membantu, setiap kali ditanya ia hanya menganggukkan atau menggelengkan kepala sebagai jawaban.
''Aku tidak tahu Jongie.''Akhirnya pemuda berkulit putih susu itu menjawab. Namja yang dipanggil Jongie itu lantas mendongkakkan kepalanya kaget ketika pemuda albino yang menjadi lawan bicaranya menjawab. Matanya memerah dan air mata masih mengalir pada pipi tannya.
''Hiks... kita tetap bersama kan? Sehun?'' Jongin kembali bersuara.
''Tidak chagi, kita akan tetap bersama-sama. Uljima ne?'' Jawab Sehun lembut. Tangannya terulur untuk membersihkan jejak-jejak air mata yang masih menempel di wajah Jongin.
''Kajja, Kita bereskan masalah ini ke Suho Hyung.''Sehun segera mengajak Jongin keluar dengan menarik tangannya.
''Ne.''
.
.
.
Tao, Chen, Luhan dan Baekhyun kini sedang bersantai di atap apartemen mereka. melihat bintang di malam hari yang terasa hangat. Mereka mungkin sedang merundingkan sesuatu yang sangat penting. Karena mereka kini sedang merapatkan diri sambil memasang wajah yang serius selain Tao dan camilan-camilan yang mereka bawa kesini tidak mereka makan melainkan dibiarkan saja tergeletak di meja. Tao saat ini benar-benar memasang tampang ketakutan.
''Tao, kamu jangan Bohong sama Hyung. Hyung tau kamu itu ga bisa bohong.'' Desak Baekhyun yang masih belum percaya dengan cerita aneh yang dibuat Tao beberapa jam lalu. Ternyata mereka sedang mengitrogasi Tao.
''Bener, gege. Tao tidak bohong di dunia ini itu ada Zombie.'' Keukeuh Tao. Matanya kini sudah memerah, entah karena menahan marah atau ingin menangis.
''Iya, Gege belum percaya sama cerita kamu. Zombie itu hanya ada di Video game dan di Film Hollywood.'' Luhan juga berusaha mendesak Tao.
''Beneran, gege. Tao tidak berbohong...hiks...'' Akhirnya Tao menangis juga setelah tiga jam menahan air matanya yang ingin keluar.
''Sssttt, Uljima Tao-ya. Hyung percaya sama Tao. Ayo lebih baik kita ke Kris hyung dan Suho hyung mungkin mereka tahu apa yang terjadi saat ini.'' Chen segera menghpus air mata Tao yang berada dipipinya menggunakan kedua ibu jarinya. Baekhyun dan Luhan yang melihat itu merasa iri kepada Tao.
Akhirnya setelah Tao berhenti menangis Chen dan Luhan mengajaknya ke dalam untuk bertemu dengan leader mereka. Sebenarnya Luhan dan Baekhyun percaya dengan cerita Tao karena mereka melihatnya sendiri tetapi mereka terlalu egois untuk mengumbar ketakutan mereka.
TBC.
Huweeee, maaf deh Dae bener2 gak ada ide, jadi kalo gak nyambung maaf. Ini Dae udah nyelesain karangannya. Kalo endingnya gantung juga maaf.
