Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
"Ini dia" Ujar Chin Mei, pria aneh yang Tokito temui. Didepan mereka berdiri megah sebuah istana yang ujung menaranya menembus awan diangkasa.
"Ini...apa?" Tanyaku.
"Istana Onmyouden, Tokito-san." Ujar Chin Mei. Tokito manggut-manggut, ia pernah mendengar nama istana ini dari ibunya, pusat pemerintahan tanah Mibu. Pintu gerbang raksasa dibuka dan tampaklah sebuah taman bunga yang sangat cantik didalamnya. Seorang pria menghampirinya dan menawarkan untuk menaruh Yuki dan Tsuki di kandang.
.
.
.
TOKITO POV
"Jadi, apa pekerjaannya, Chin mei-san?" Tanyaku. Ketika dalam perjalanan, dia cuma berbasa-basi dan memperkenalkan diri tanpa menjelaskan seperti apa kerjaanku.
"Waah, langitnya indah~" Ujarnya. Merasa tak diacuhkan, aku menarik rambut kribonya.
"Kau mendengarkanku, tidak?" Tanyaku emosi.
"Hahaha, maaf-maaf. Biar atasanmu langsung yang menjelaskannya" Ujarnya. Sampailah kita disebuah ruangan dengan pintu besar yang terbuat dari kayu.
"Selamat datang, Chin Mei-sama. Anda sudah ditunggu" Ujar seorang pria yang mengawal pintu.
"Yayaya, cepat bukakan. Aku tidak punya waktu banyak" Ujarnya sambil mengipaskan kipas kertas yang entah muncul dari mana. Pintu pun terbuka dan tampaklah sebuah ruangan mewah dibaliknya. Sebuah meja rendah terlihat ditengah-tengah ruangan dengan seorang pria bersurai pirang yang sedang menulis sesuatu. Chin Mei mendorongku yang masih takjub untuk masuk. "Muramasa-sama, aku sudah membawa kandidat potensial" Katanya. Kandidat? Memang aku mau dijadikan apa?. Pria yang dimaksud menghentikan kegiatannya dan mengangkat kepalanya. Sejenak kulihat pupil matanya melebar melihatku. "Bagaimana? Dia nyaris sempurna, kan?" Puji Chin Mei entah pada dirinya atau aku. Muramasa menormalkan air mukanya lalu tersenyum tipis. Ah, wajahnya teduh, seperti ibuku.
"Kau boleh pergi" Katanya. Chin Mei membungkukan badannya lalu pergi keluar. "Maaf, aku ingin berbicara empat mata dengannya." Ujar Muramasa. Beberapa pelayan membungkukan badannya lalu permisi keluar. Kini tinggallah aku dan pria bernama Muramasa diruangan besar ini. Suasana mendadak menjadi awkward. Dia menatapku intens seperti tengah menyelidiku. Aku menggigit bibirku, gugup. Apa ia tahu aku wanita dan aku akan dihukum.
"Hei, ada apa melihatku? Kalau anda tak tertarik, lebih baik aku pergi" Kataku dengan nada diberat-beratkan. Muramasa terlihat terkejut melihat sikapku. Seketika keberanianku pun ciut karena aku sudah mengeluarkan semuanya tadi. Aku menelan ludah sambil menjaga tatapan mataku.
"Pff...hahahaha" Tawa Muramasa memecah keheningan sekaligus keberanianku.
"A...aku tidak bercanda" Kataku dengan wajah mengintimidasi, tapi kayaknya percuma. Muramasa menghentikan tawanya dan memandangku lembut. Senyuman tipis menghiasi wajah tampannya.
"Kau benar-benar mirip adikku" Katanya. Adik? Apa pria yang kelihatannya sudah kepala lima ini memiliki adik seumuranku? Jauh sekali. "Katakan, siapa namamu?" Tanyanya.
"To...Tokito" Jawabku gagap. Muramasa menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Bahkan namamu pun mirip dengannya" Ujarnya. Sepintas dapat kutangkap kegetiran dari wajahnya. Siapapun adiknya, dia pasti sangat menyayanginya. Muramasa merapikan perkamen yang berantakan diatas mejanya. "Mengenai pekerjaanmu, kau nanti akan bertugas menjadi pengawal elit Taishiro. Karena Chin Mei merekomendasikanmu, kurasa kau bisa mulai bekerja besok" Jelasnya. Apa? Pengawal? Hei tunggu...tunggu.
"Pengawal?" Kataku terkejut. Muramasa mengangguk.
"Yeah, kami kekurangan pengawal untuk Taishiro. Bukannya Chin Mei sudah menjelaskannya padamu?" Tanyanya heran. Ah sialan, aku dijebak. Dengan takut-takut aku menggelengkan kepalaku. Muramasa tercengang. "Tapi kau bisa bela diri, kan?" Tanyanya lagi. Lagi-lagi aku menggeleng. Ugh, mati aku. Aku pasth akan ditendang keluar dan harus mencari lagi pekerjaan lain. Muramasa menghena mafasnya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Well, karena Chin Mei merekomendasikanmu, kurasa kau punya potensi" Lanjutnya.
"Jadi...aku diterima?" Tanyaku. Muramasa tersenyum dan menganggukan kepalanya. Aku nyaris saja melonjak kegirangan kalau saja aku tidak ingat aku sekarang sedang dalam kedok laki-laki.
"Sebelumnya aku ingin bertanya beberapa hal padamu" Ujarnya.
"A-apa itu, Muramasa-sama?" Tanyaku.
"Kau wanita, kan?" Tanyanya. 'DEG' jantungku nyaris berhenti mendengarnya mengatakan kalimat itu. Seketika aku terpaku ditempat. "Kau tidak bisa membohongiku, aku punya ilmu Satori. Ilmu untuk membaca isi hati manusia" Katanya. Ugh, rasanya percuma saja aku menutupinya. Dengan takut-takut aku menganggukan kepalaku. "Apa yang membuatmu menyembunyikan identitasmu?" Tanyanya.
"Aku pikir...lebih aman bekerja dikota kalau aku laki-laki" Jawabku polos. Muramasa tersenyum maklum. "Bi-bisakah anda merahasiakan hal ini? Aku...aku takut aku dikeluarkan, aku tidak mau mengecewakan ibuku" Kataku memohon.
"Kau bisa percaya padaku" Ujarnya. Aku bernafas lega. "Tapi karena kebanyakan pengawal itu laki-laki, kurasa lebih aman kau tinggal bersamaku" Ujarnya. Aku berjengit, jangan-jangan nanti dia mau berbuat mesum lagi padaku. "Aku tidak akan macam-macam padamu. Lagipula ada istriku dirumah. Kau bisa menemaninya kalau sedang tidak bekerja" Ujar Muramasa. Aku jadi malu sendiri pikiranku dibaca olehnya.
END TOKITO POV
MURAMASA POV
"I-iya, Muramasa-sama" Katanya malu-malu.
"Aku akan mengajarimu teknik pedang sebelum kau benar-benar terjun pada tugasmu. Jadi bersiaplah" Ujarnku. Tokito mengangguk mantap. Aku pun tersenyum lembut padanya. Kutekan bel kecil dimejaku lalu masuk seorang pelayan tak lama kemudian.
"Ya, Muramasa-sama?" Ujarnya.
"Antarkan dia keruanga tamuku. Biarkan dia beristirahat dulu sambil menungguku pulang" Ujarku. Pelayan itu membungkukan badannya lalu mempersilakan Tokito mengikutinya. Mataku menatap punggungnya yang kian menjauh lalu menghilang dibalik pintu.
Sejak pertama melihatnya, aku merasa dia mirip dengan adikku yang menghilang dua puluh satu tahun yang lalu. Bahkan bisa dibilang Tokito versi miniatur dirinya. Terlalu mirip kalau disebut kebetulan. Pikiranku pun menerawang pada sosok hangat adikku yang selalu menyemangatiku dan mendukung apapun yang kulakukan. Aku benar-benar tak dapat memaafkan diriku saat dia hamil lalu keluar dari kompleks istana dan menghilang. Sang ayah si jabang bayi hanya menginginkan tubuhnya namun tidak menginginkan bayi hasil darah dagingnya. Dan walaupun sekarang sang ayah menyesal dan hendak mencari adikku, semuanya sudah terlambat. Adikku menghilang bak ditelan bumi. Walaupun kami sudah mengerahkan bala tentara untuk mencarinya, hasilnya nihil.
END MURAMASA POV
TOKITO POV
"Silakan istirahat, tuan" Ujarnya sembari membukakan pintu ruang tamu. Lagi-lagi mataku takjub melihat kemewahan yang berada didalamnya. Aku memasuki ruangan tersebut hendak memandang padang bunga yang tampak dari jendela besar ditengah ruangan lalu terdengar pintu ditutup. Sebuah sofa ditengah ruangan teramat besar dan mengundang untuk kutiduri. Kepalaku celingak celinguk mempephatikan sekeliling. Tak ada orang? Oke. Dengan satu lompatan, kudaratkan tubuhku keatas sofa empuk yang seketika memantulkan tubuhku kembali. Aku tertawa-tawa bak seorang anak kecil yang dibawa masuk ke pabrik coklat.
Puas merasakan empuknya sofa, atensiku teralihkan pada perapian yang berada tepat didepan sofa. Kuperhatikan baik-baik, desainnya aneh, menempel di dinding. Tidak seperti dirumahku yang berada ditengah ruangan. Tapi bagaimanapun ini mempercantik interior ruangan. Mungkin aku harus mempertimbangkannya untuk memasangnya dirumah nanti.
Ngomong-ngomong soal rumah, ibu sedang apa ya? Apa beliau bisa makan? Apa beliau bisa tidur dengan tenang? Apa sutaa benar-benar menjaganya?. Memikirkan semua itu tanpa sadar membuatku menguap. Tak kupungkiri perjalanan selama dua hari menguras stamina dan fisikku. Aku menelungkupkan badan dan tertidur diatas karpet empuk yang memang diletakan depan perapian. Ibu...kuharap ibu bisa tidur dengan tenang, batinku sebelum mataku gelap dan jatuh ke alam mimpi.
END TOKITO POV
.
.
.
tbc
(a/n) Oke kita sampai di penghujung chapter dua :3.
Mungkin buat readers yang baca komik SDK sampe tamat, ada beberapa plot yang sama dengan cerita aslinya. Karena memang author terinpirasi dari situ, cuma sedikit diutak atik dengan memutar balikan fakta xD
RR please? Review anda semangat saya :3
