Author: Meonk and Deog.

Tittle: Kinda love you.

Main cast: Lee Hyuk Jae and Lee Donghae.

Pair: HaeHyuk

Slight pair: KangHyuk.

Rate: T.

Genre: Romance and comedy.

Warning: GS, typo, typo (s), AU, OOC, OC, etc.

Disclaimer: Story naturally ours, cast belong themselves.

Summary: "Nafas melamat kala gugusan daun musim gugur mengenai kepala, ia baru ingat ternyata perlu 33 jari untuk menghitung usianya. Namun yang membuatnya telah menyesal menyentuh angka ke 30 adalah, cinta yang terlalu takut untuk membeku ketika menemuinya."

Don't Like Don't Read.

NO COPAST! NO PLAGIARIMS!

Happy Reading~

.

.

.

"Eomma, eonni, appa, Henry-ah, oppa…."

Buliran bening menyelinap dari balik retina. Melewati pipi putih tirusnya, jatuh kearah tanah dan mengekspresikan satu emosi. Pahatan reaksi tak lekas berubah, dentuman kenyataan datang dalam jangka waktu terbilang lama. Tapi siapa yang tahu, semuanya masih tersisa. Kisah cinta masa lalunya, cinta pertamanya. Cinta yang begitu manis dan didambakan. Juga cinta yang menghasilkan satu kesakitan berlebih.

"Hiks…hiks…hiks…, dia punya anak. Sebesar ini…, oppa…." Sekuat mungkin ia mencoba merengkuh, namun penolakkan mutlak selalu diberikan. Donghae tidak bisa melihat wanita menangis, terlebih dengan alasan yang tidak jelas.

"Noona…, berhentilah menangis. Hiks…, hiks…" Nyatanya hatinya selembut kapas, walaupun terkesan bodoh, kali ini hazel si bocah memproduksi buliran yang sama. Semenjak tadi, 15 menit lalu, mereka telah berpindah lokasi. Memilih tempat strategis untuk menangis tapi tetap saja taman ini adalah tempat umum. Begitu banyak insan yang datang, tak pelak terkadang mereka berdua menjadi bahan bisikkan.

"Kenapa kau juga menangis hah?! Ini salahmu! Oppa!" Donghae menggeleng, ini bukan salahnya. Dia saja tidak mengerti mengapa noona yang baru dikenalnya ini tiba-tiba menangis.

"Hiks…, hiks…, hiks…, kau benar-benar anak Lee Young Woon?" Nada tersendat itu dihadiahi sebuah anggukan kepala.

"HUAAA! OPPA!"

.

.

.

"Young Woon siapa?" Lelah menangis, pinggiran mata sipitnya terbingkai lingkaran hitam. Satu sendok yang sudah dibekukan kali ini menjadi benda pembantu untuk menghilangkan kantung mata. Hyuk Jae mendengus, apakah memori wanita yang menginjak usia 35 tahun begitu buruk?

"Itu…, yang tampan itu." Kibum makin mengerenyitkan kening, begitu banyak orang tampan disekitarnya. Dan tidak ada orang tampan yang masuk kategori seperti yang disebutkan Hyuk Jae. Alisnya menyatu, ekspresinya seolah bertanya 'Siapa itu?'

"Ck! Lee Young Woon! Laki-laki tampan yang menolakku saat aku masih smp!"

Dua dari tiga orang ini membulatkan mata, mulut mereka sama sekali tak bisa mengatup. Rasanya begitu kaku bahkan hanya untuk tertawa. Henry menjatuhkan mug yang dibawa, tak menyangka orang yang sering digunakan sebagai patokkan laki-laki tampan oleh sang kakak kini telah menikah dan lebih buruknya….

"Dia sudah punya anak! Hua…"

"Uhuk…! Uhuk!" Saliva yang terkulum kini masuk tanpa permisi kekerongkongan. Kibum menepuk dada, respon yang sama ditampilkan Henry. Teriakkan Hyuk Jae makin menggema, setidaknya untuk dua hari kedepan tangisan akan menjadi satu-satunya bunyi pengiring malam.

"Anaknya bahkan hampir seusia Henry!" Lagi-lagi mereka batuk bersamaan, berarti Young Woon menikah diusia muda?

"Mau bagaimana lagi, biarkan saja dia pergi. Kau bisa cari laki-laki lain, kaukan bilang tidak suka yang tua." Hyuk Jae mendelik, untuk satu orang pengecualian selalu terbuka lebar. Jika menggambarkan Young Woon deskripsi Hyuk Jae selalu berlebihan. Tak jarang aktor Jang Dong Gun menjadi saingannya. Cukup gila memang, tapi cinta selalu gila.

"Tapi aku ingin menikah dengannya! Dia cinta pertamaku! Dia milikku!"

"Kau gila?! Kau pikir bagaimana perasaan ibu dan ayah menerima kenyataan jika anaknya perebut suami orang?! Dan ya ampun! Anaknya hampir seusia Henry!" Sarkasme dengan nada meninggi tak mampu menyurutkan rajukkan Hyuk Jae. Young Woon adalah miliknya, sekalipun itu didunia mimpi. Itu mutlak.

"Haa…! Eonni!"

.

.

.

"Eonni, ayo keluar kamar. Kita ke klub bagaimana?" Tak ada respon, bahkan Henry telah lelah hanya untuk mengulang ketukkan pintu sebanyak dua puluh kali. Tak jarang masker diwajahnya hampir jatuh karena terlalu lama berdiri didepan kamar sang kakak. Mau bagaimana lagi, keadaan orang patah hati selalu seperti ini. Mengenaskan dan tak bisa dipaparkan.

"Eonni…, lupakan dulu masalah itu. Mungkin saja suatu saat nanti dia dan istrinya berceraikan? Ayolah…, pernikahan bukanlah sebuah perpisahan."

Ceklek.

"Omona?!" Henry terpekik, wanita dengan keadaan compang-camping tiba-tiba muncul didepan wajahnya. Lipstick berantakkan hampir menyentuh hidung, mascara hitam melewati pipi, juga surai kusut yang nyaris mengembang seperti sarang lebah.

"Benar pernikahan bukan perpisahan?" Henry mengangguk, sebenarnya itu adalah salah satu kutipan dari naskah drama yang akan dikirimnya minggu depan. Senyum merekah yang sedikit mengerikan kali ini terpasang nyata.

"Kau tidak marahkan jika keponokanmu nyaris seusiamu?" Henry menggeleng, ah…, tidak mungkin ia tidak marah. Untuk saat ini, kebohongan akan melapisi sedikit kebahagiaan sang kakak. Selama tidak menganggu siklus hidup, ia rasa tidak masalah.

"Tentu saja. Aku bukan Kibum eonni yang berpikiran sok kritis." Senyum penuh dikembangkan demi menghilangkan kecurigaan. Penulis naskah harus lebih pintar daripada aktris, jadi tidak apa-apa jika wajahnya tiba-tiba berubah menjadi panggung opera.

"Ya…, kau bukan Kibum eonni yang sok kritis. Tapi kau orang bodoh yang sok realistis." Henry mendelik, setelah diberikan solusi yang menenangkan bayarannya adalah umpatan.

"Kalau begitu kau perawan tua yang sok idealis!"

"YAK!"

.

.

.

"Menurutmu apa pakaianmu tidak terlalu berlebihan?" Kenyataannya Hyuk Jae tidak peduli dengan high heels 12 cm dan dress biru maroon sepaha. Matanya mengedar dari atas kebawah, bibir plumnya menyunggingkan senyum setelah menyadari bahwa ia benar-benar sexy.

"Wae? Sebelum aku dimiliki Young Woon oppa, aku akan membiarkan diriku dimiliki seluruh pemuda ditempat ini." Henry bergidik ngeri, tidak ada yang akan melirik wanita tua seperti Hyuk Jae. Yang paling parah, hanya ahjussi kesepian yang akan mendekatinya.

"Kau gila?" Hyuk Jae menggidikkan bahu, tak lupa senyuman dengan tarikkan bibir sempurna ditampilkan tanpa sungkan.

"Ayo beraksi…" Baru hendak melangkah masuk, satu suara menghentikkan pergerakkan saraf motoriknya.

"Noona!" Hyuk Jae membulatkan mata, suara ini begitu tak asing. Suara yang membawa malapetaka, suara yang menimbulkan letupan mengenaskan dihatinya. Ia tak ingin menengok, hati dan pikiran begitu enggan bertatap muka dengan anak si cinta pertama. Henry menatap bolak balik dua insan bersangkutan, mulutnya terbuka mengindikasikan kebingungan.

"Eonni, ada yang memanggilmu."

"Abaikan saja."

"Kau mengenalnya?" Hyuk Jae menggeleng, sebenarnya untuk konteks mengenal itu masih terlalu jauh. Ia hanya sebatas tahu, dan batasan itu membuatnya hampir mati.

"Noona! Ini aku yang tadi menabrak mantelmu!"

"Dia terus memanggilmu!"

"Kau duluan kedalam." Henry mengangguk, jarang-jarang ia bisa lepas dari nenek sihir didepannya. Cukup menjadi salah satu sorotan utama ditengah aktivitas pemanggilan sang kakak yang merenggut banyak perhatian, langkah kakinya dipercepat memasuki klub.

"Noona! Noona!"

"APA?!" Donghae melangkah mundur, dijawab dengan teriakan seperti itu hampir membuat gendang telinganya mengalami disfungsi sementara. Sadar raut wajah noonanya mengesal, ia tersenyum manis. Mungkin saja hal yang manis bisa dibayar dengan hal yang tak kalah manis.

"Wah…, sexy sekali!" Bibir Hyuk Jae tertarik kesamping, wajah merendahkan yang dipasang sedemikian rupa nyatanya tak bisa melepas gelar yang telah ditetapkan oleh Donghae.

"Aku tahu, aku tahu, hush…hush…" Diberikan gestur pengusiran Donghae sama sekali tak berniat beranjak. Usianya sudah cukup untuk menawari gadis sexy kencan satu malam. Hanya saja karena kelewat polos, kencan satu malam malah diartikan berbeda oleh otak sederhananya.

"Tidak, tidak. Kita minum bersama."

"Apa-apaan bocah ini! Tidak aku sudah ada janji!" Pengusiran tak terlalu halus ia gunakan sebagai indikasi awal sebuah penolakkan. Donghae tersenyum, raut wajahnya masih terbingkai dengan berbagai pesona kekanakkan.

"Janjinya adalah minum denganku."

"Uri Dongie!" Reka adegan yang ditampilkan ditampik oleh interupsi dari arah belakang. Suara keras dari gerombolan anak-anak berpakaian wah datang dengan berbagai gaya yang sulit untuk didefinisikan. Sesaat Donghae mendengus, jika berbaur dengan gerombolan itu ia seperti anak itik yang kehilangan induk.

"Pfft…, Dongie? Namamu Dongie? Aigoo, anak-anak zaman sekarang. Ck…! Dongie kyeopta!" Donghae membulatkan mata, susah-susah ia membangun imej cool selama dua jam didepan kaca, hasilnya ia tetap terlihat seperti puppy.

"Anniyeo, namaku Donghae! Lee Donghae!" Hyuk Jae memutar mata, nama marganya terdengar tak mengenakkan. Terlalu sensitif hingga sekelabat bayangan Young Woon muncul.

"Ohh…Lee! Cih…, pantas saja tampan."

"Wah… uri Dongie berkencan dengan noona sexy. Eunhyukkie odiga?" Lagi-lagi suara dari belakang menimbulkan emosi meletup. Sekuat mungkin ia mencoba untuk menulikan indera pendengaran. Namun hasilnya teman-temannya tidak pernah bisa tutup mulut.

"DIAM KALIAN!"

.

.

.

"Kau benar-benar masih 20 tahun?" Sosok tertinggi menampilkan senyum manis, sesekali menggaruk tengkuk tanda rona merah pada wajah hampir menjadi dominasi raut. Sosok yang diketahui bernama Shim Changmin tersenyum lebar, selain tinggi badan yang dipujinya, wajah manisnya juga tak luput dari mata elang seorang Lee Hyuk Jae.

"Aigoo, kau tampan sekali. Sudah punya kekasih?" Changmin menggelengkan kepala, sesekali bergidik ngeri ketika jemari lentik Hyuk Jae telah menyentuh kaki jenjangnya. Entah sadar atau tidak, sosok dipojok sana mengerucutkan bibir.

"Aigoo, uri Dongie diacuhkan. Berapa tinggi badanmu?" Salah satu teman mereka lagi-lagi bersuara, untung ada fasilitas keamanan ditempat ini. Jika tidak sebagai contoh; Donghae sudah melemparkan gelas kaca kearah pelipis kawan terdekatnya.

"Jadi kau masih sendiri?" Takut-takut Changmin mengangguk, Hyuk Jae kali ini mirip macan yang lepas dari kandang.

"Omona…, jinjjayeo? Kira-kira seperti apa type idealmu?"

"Astaga! Wallpaper ponsel uri Dongie, ternyata Eunhyukkie Super Junior!" Lagi-lagi sang teman menginterupsi, dan reaksi terburuk muncul dari Hyuk Jae.

"Anak muda jaman sekarang sulit ditebak." Semua dari mereka menahan tawa dengan menutup mulut, agrumen Hyuk Jae ada benarnya. Anak muda jaman sekarang memang sulit ditebak, contoh terbaiknya Donghae.

"Ah…iya noona, memangnya tipe idealmu seperti apa?"

"Laki-laki tinggi?" Hyuk Jae mengangguk.

"Kuat?" Kembali Hyuk Jae mengangguk.

"Tampan?" Reaksi yang sama Hyuk Jae keluarkan.

"Contohnya?" Menimbang sebentar, ia tak mungkin melontarkan nama Young Woon sebagai jawaban. Seseorang yang paling mirip dengannya mungkin?

"Kangin Super Junior…." Hyuk Jae menjawab riang, Kangin benar-benar mirip Young Woon bukan? Seperti dirinya yang mirip Eunhyuk, Young Woon dan Kangin benar-benar seperti sebuah refleksi.

"Aigoo, uri Dongie. Kau ditolak sebelum menyatakan cinta." Donghae membulatkan mata, dia yang telah melewati zona pembicaraan namun kini namanya lagi-lagi disangkut pautkan.

"Apa-apaan!"

"Dan satu lagi," Suara Hyuk Jae lagi-lagi menginterupsi, wajahnya menunjuk gelas kaca yang berada diatas meja Donghae.

"Aku suka laki-laki yang pintar minum, bukan laki-laki yang menganti bir dengan cola."

.

.

.

"Kenapa kalian meninggalkanku? Noona yang tadi bersama noona ini kemana? Dae Boom! Tae Won!" Kepalanya bergerak kesembarang arah, menengok kanan kiri berharap sudut matanya menangkap beberapa objek yang setidaknya bisa membantunya. Mengingat wanita didepanya kini kehilangan kesadaran akibat terlalu banyak meneguk alkohol, tubuhnya terpaksa terperangkap, bertanggung jawab diatas kesalahan yang tak dilakukan.

"Noona…, bangunlah!" Si objek hanya mengerang protes, seberapa kalipun Donghae berusaha memulihkan keadaan wanita ini, hasilnya tetap nihil. Jika tidak geplakkan diatas kepala, maka tangannya akan menjadi satu-satunya korban pencubitan.

"Noona…"

"Kenapa begitu mirip? Kenapa kalian begitu mirip? Kalian tampan, tampan sekali! Sayangku, bagaimana bisa kau punya anak setampan dia? Panggil aku ibu sekarang…" Donghae mendesah lemas, racuan orang didepannya makin tak jelas. Bibirnya mengerucut kedepan, iris kecokelatan pemuda ini nyaris berair. Udara musim ini sangat dingin dan sekarang sudah hampir pukul 3 pagi.

"Noona bangun, ayahku akan marah jika aku tidak pulang cepat."

"Ayah? Ayahmu siapa? Aku ibumu, ibumu Lee Hyuk Jae. Kau tidak akan menyesal punya ibu seperti aku."

"Noona…!" Telinganya mulai mencoba mengabaikan nada apapun yang masuk kedalam gendang, indera penglihatannya kini terlihat sibuk mencari objek apapun yang bisa membantu. Senyum rekah terkembang, benda yang menjadi satu-satunya penghantar untuk pulang adalah ponsel Lee Hyuk Jae.

Tanpa interaksi sopan atau permisi kepada pemilik tubuh, tangan Donghae mulai menelusuri setiap inchi tubuh Hyuk Jae. Berharap benda itu terselip didalam kantung dress.

PLAK.

"Ah…! Apo!" Hyuk Jae mendelik, seenaknya saja bocah ini menyentuh tubuh sexynya. Susah-susah ia mendedikasikan tubuh indahnya untuk Lee Young Woon.

"Jangan menyentuh tubuhku bocah! Kau melakukan pelecehan padaku?!" Donghae menggeleng, bibirnya bergetar memaparkan rasa takut. Ini sangat malam dan Donghae takut hantu.

"Bukan begitu, ponsel noona dimana?" Hyuk Jae mendesis, mana ada seorang wanita yang meletakkan ponsel ditengah-tengah kantung. Masih dengan setengah kesadaran yang tersisa, jemarinya meraih tas kulit yang terletak tak jauh dari sang pemilik.

"Antar aku pulang!"

.

.

.

Jalur pernafasannya seperti tertahan sesuatu, beban yang ditanggung sesaat melamatkan intensitas gerak. Kakinya bergetar kala objek itu terus bergerak dalam gendongan, bukan hanya gerakkan kecil. Insan itu bahkan kerap kali memberikan pukulan keras dikepala. Donghae mengaduh sesak, pintu didepannya masih belum terbuka. Sejak tadi ia mengetuk pintu dan belum ada balasan, pemikiran tentang tak ada seorangpun diapartement ini terbantahkan ketika sesosok wanita cantik muncul dari balik lorong masuk.

"Ya ampun! Hyuk Jae?!" Donghae membalikkan tubuh, pekikan dari arah belakang dihadiahi wajah binar dari Lee Donghae.

"Ahjumma yang tadi menelponkan?"

"Ahjumma?!" Donghae menggeleng, beban yang ditanggung terasa semakin memberatkan, kakinya nyaris goyah. Untung saja kedua tangannya menumpu disisian tembok.

"Ahjumma buka pintunya, noona ini berat sekali." Kibum menghela nafas, baru tadi sore kata patah hati menyentuh saraf pendagarannya. Tapi baru beberapa jam terakhir, Hyuk Jae sudah terlihat dalam gendongan pria lain. Ia mendecak, satu tangannya membuka pintu apartement.

"Taruh saja dikamar itu…" Akses yang diberikan segera dibalas tanda terimakasih, Donghae mengangguk sejenak sebelum melepas sepatu dan segera melesat masuk menuju kamar yang ditunjuk. Perlahan dengan beberapa sisa tenaga, knop pintu diputarnya. Sementara satu tangan lain menumpu Hyuk Jae agar tak terjatuh.

BRUK

Tubuh Hyuk Jae terpental kearah kasur, Donghae sedikit lega namun geliat kecil yang ditampilkan Hyuk Jae berefek pada bagain bawah rok yang terekspos. Donghae menutup mata, ya ampun mata sucinya.

"Aish… noona ini!" Selimut disisian ranjang ia tarik, berusaha menutupi apa yang sempat dijamah matanya. Donghae mendesah lega, walau terlambat kali ini ia masih diberikan kesempatan untuk pulang dengan selamat.

"Oh… oppa! Itu kau?!" Baru hendak berbalik dan memutar knop pintu, tubuh Donghae terpelanting kearah ranjang. Satu tangan Hyuk Jae menariknya, dengan wajah yang makin mendekat deru nafas Hyuk Jae makin terdengar jelas. Ia menggeleng keras, bibir mereka nyaris tak berjarak.

"Hmmphh…" Hingga menyatu, ditambah gerakkan tak beraturan.

.

.

.

TBC.

.

.

.

Mind to review?

.

.

.

Author note:

Annyeong! Annyeong! FF aneh ini dateng lagi xD hehehehe, gimana? Pasti ceritanya makin blur DX wkwkwkwk xD ada yang ngerasa ini HyukHae yah? hahahah, gak ini pure HaeHyuk kok! Cuma kami mau rombak biar karakter Donghae jadi lebih poyossss~~~ Hihihihi. Dan, adakah yang merasa aneh sama slight pairnya? Tapi entah kenapa kami malah rada suka sama KangHyuk /plak. Becanda, kami KangTeuk shipper kok ._.v

Perbedaan umur HaeHyuk cuma sedikit kok, 13 tahun doang nyahahahaha xD /gubrak

Terimakasih untuk review, fave, follow dan para pembaca sekalian #bow. Maaf untuk typo, diksi yang berantakan, alur yang aneh, juga kesalahan lain yang mempengaruhi kualitas ff ini. Kami benar-benar minta maaf. #deepbow.

Jadi apakah ff ini masih pantas untuk dilanjutkan?