Author: Meonk and Deog.

Tittle: Kinda love you.

Main cast: Lee Hyuk Jae and Lee Donghae.

Pair: HaeHyuk

Slight pair: KangHyuk.

Rate: T.

Genre: Romance and comedy.

Warning: GS, typo, typo (s), AU, OOC, OC, etc.

Disclaimer: Story naturally ours, cast belong themselves.

Summary: "Nafas melamat kala gugusan daun musim gugur mengenai kepala, ia baru ingat ternyata perlu 33 jari untuk menghitung usianya. Namun yang membuatnya telah menyesal menyentuh angka ke 30 adalah, cinta yang terlalu takut untuk membeku ketika menemuinya."

Don't Like Don't Read.

NO COPAST! NO PLAGIARIMS!

Happy Reading~

.

.

.

Author Pov.

"Senang kemarin?" Katupan yang sempat terjadi kali ini memberikan akses untuk retina mata menyapa sketsa apapun yang nampak. Suara yang sempat terdengar samar-samar menyatu, menjadi sebuah kalimat yang terdengar asing dan membingungkan. Hyuk Jae merentangkan kaki, melonggarkan otot-otot yang sempat tegang tadi malam.

"Eonni disini?" Ekspressi asing dari Kibum menimbulkan banyak pertanyaan, Kibum mendecih. Pintu kamar ia buka selebar mungkin. Setidaknya ia mau membuat adiknya sadar, masalah besar yang mungkin mempengaruhi siklus hidup samar-samar nampak kepermukaan.

"Aku bahkan belum tidur karena kau. Tidak sadar tadi malam merenggut kesucian bocah polos?" Kerutan rendah dikening mulai mendominasi, wajah Hyuk Jae mendongak. Dengan jelas letupan kemarahan ia tangkap dari aura kakak cantiknya ini.

"Aduh…! Pusing sekali!"

"Jangan berpura-pura! Temui dia diluar, bocah itu nyaris seperti mayat hidup!"

"Sebenarnya apa yang kau katakan? Siapa yang bocah dan apa yang kurenggut? Ini masih pagi sekali, setidaknya biarkan aku tidur. Jam 9 nanti aku ada meeting." Kibum terdiam sebentar, berpikir sejenak apa yang bisa mengembalikan ingatan wanita didepannya.

"Lee Donghae, kemari kau!" Makin membingungkan, kerutan didahi Hyuk Jae kali ini tak bisa dihitung jari. Bocah yang dikenalnya kemarin tiba-tiba nampak didepan mata dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan. Kantung mata yang bertengger, air mata yang menggenang, juga bibir yang membengkak.

"Dongie? Sedang apa bocah ini dirumahku?" Sang korban utama terus menundukkan kepala, tak berani menatap wanita yang sudah mencuri ciuman pertamanya. Kibum mendesis, sendok sup yang dibawa hampir melayang kearah kepala Hyuk Jae.

"Kau memperkosa bocah itu!"

"Mwo?! Naega?!" Ia berteriak tak kalah keras, kali ini kaki jenjang itu menapak spontan kearah lantai. Wajahnya pias, iris obsidiannya mulai memberikan clue untuk sang kakak segera meninggalkannya berdua dengan Donghae.

"Kau urusi dia! Ada satu orang lagi yang harus kuberi pelajaran!" Hyuk Jae mendesah lemas, indera penglihatannya mengeksplor tubuh Donghae dari atas hingga kebawah. Bekas lipstick masih tersisa dibibir bocah tampan itu.

"Apa yang kulakukan padamu kemarin?" Nadanya melemah, takut-takut membuat pemuda cengeng ini menangis. Donghae menegakkan tubuh, mencoba mengumpulkan keberanian.

"Disini…" Donghae menyentuh bibir, Hyuk Jae menghela nafas.

"Disini…" Donghae menyentuh tengkuk, kali ini Hyuk Jae membulatkan mata.

"Dan hampir disini…" Donghae menyentuh perut, kali ini Hyuk Jae nyaris berteriak.

"Omo! Aku tidak menggigitmukan?" Donghae mengangguk, apanya yang tidak. Ia menyentuh daun telinga, ada sedikit bekas kemerahan.

"Disini…"

"Ya tuhan! Hanya itu saja kan? Aku tidak membuka bajumu atau…" Donghae mengangguk, tadi malam tubuh bagian atasnya terekspos sempurna.

"Noona membuka bajuku dengan gigimu!"

"Demi apapun…, aku gila! Kita…, kita tidak… 'itu'…kan?" Donghae menggeleng, ia tahu apa maksudnya ini. Untung saja tidak sampai kesana karena ahjumma tadi telah menginterupsi dan membantunya lepas dari kandang singa.

"Fuh… syukurlah. Lupakan saja semuanya…" Donghae menggeleng, mana bisa dilupakan jika itu ciuman pertamanya. Wajahnya menunjukkan raut protes, sementara mulut mulai terbuka hendak menggumamkan beberapa hal.

"Tapi ini ciuman pertamaku!" Hening sejenak, Hyuk Jae masih dalam proses kegiatan berpikir. Bibirnya nyaris terbuka, melengking tinggi mengeluarkan tawa terkeras. Namun mengingat bocah didepannya bocah yang cengeng, sekuat mungkin wanita sexy ini menahan kocokan kegelian diperut.

"Aku mandi dulu, nanti kau kuantar pulang."

.

.

.

Mobil merah itu terpakir tepat dipinggiran rumah, sama sekali tak berniat beranjak walaupun jarum jam telah menunjukkan angka 9. Hyuk Jae pikir menjadi sedikit pembangkang dengan datang terlambat kekantor bukan pilihan yang buruk mengingat ada timbal balik setelah itu. Wajah Young Woon yang menginjak usia 40 tahun terngiang dalam benak, wanita ini tersenyum. Tak sadar pemuda disampingnya berceloteh kesal akibat terlalu lama menunggu dibukakan pintu.

"Noona, aku boleh pergikan?" Hyuk Jae mendelik, mendengus sesaat ketika interupsi jelas menampik segala khayalannya. Ada pemikiran buruk ketika pertanyaan siapa istri Young Woon melintas dalam benak.

"Dongie, boleh aku tahu siapa nama ibumu?" Interaksi sengit dapat ditangkap indera pendengaran Donghae. Penekanan nada begitu kentara ketika kata 'Ibumu.' Meluncur dari bibir plum sang lawan bicara.

"Park Jung Soo."

"Cantik?"

"Dia mirip noona…"

"Tutup mulutmu!" Hyuk Jae bukan tipe orang yang mau disamakan dengan rivalnya, sekalipun dia cantik seperti apa kata sang anak, Hyuk Jae tetap tak terima. Jemarinya meraih sekotak tonik herbal yang berada dijok belakang, memberikannya pada Donghae dan dibalas tatapan bingung.

"Dongie-ah, berikan ini pada ayahmu. Katakan ini tonik herbal dari Cina."

"Ayahku? Noona kenal ayahku?" Hyuk Jae mendecak, pertanyaan baru bukan hal yang tepat ketika ia sedang tak ingin berbasa-basi.

"Jadwal kuliahmu jam berapa?"

.

.

.

"Sajangnim, ini sudah jam 10. Apa meetingnya tetap dilanjutkan?" Yang dipanggil menggerakkan kepala kearah samping dengan gerakkan lamat, diikuti dengan senyum merekah. Ini pertama kalinya Hyuk Jae bersikap ramah pada para bawahannya, terkecuali pria.

"Dibatalkan, kita undur meetingnya jadi dua hari lagi." Kebanyakan dari sang bawahan bersorak senang, sesekali menggumamkan terimakasih dan menunduk. Namun tidak untuk dua wanita manis dipojok sana, dahi mereka mengernyit dengan mata yang terbuka lebar. Yang terkecil dari dua orang ini mulai bergumam tak jelas, mencari alasan mengapa atasan galaknya tiba-tiba terlihat amat bahagia.

"Sungmin eonni, kau pikir kenapa manager Lee jadi seaneh itu?" Sungmin menggidikkan bahu, seberapa kalipun ia mengumbarkan banyak persepsi, nyonya Lee mereka memang sulit ditebak.

"Dia punya pacar lagi?"

"Dia tidak pernah segembira ini sekalipun Won Bin memberikannya buket bunga." Ryeowook mengangguk, kalau begitu atasannya memang tergabung dalam kelompok orang gila. Naik pangkat saja dia tidak pernah sesenang ini, namun hari ini ketika ia sampai dikantor, lagu-lagu bernuansa romansa klasik digumamkan dengan nada sumbang yang pas-pasan.

"Kau berani tanya?"

"Aku tidak mau mati dini!"

.

.

.

BRUAK.

Beberapa sosok yang sibuk dengan berbagai aktivitas ringan sontak membulatkan mata ketika banyak proposal nampak menggunung didepan retina. Pelaku pelemparan objek penyebab desahan panjang para bawahan melipat tangan didada. Gesturnya angkuh, mata memicing tajam dengan garis kemerahan yang terangkat naik. Air muka seperti biasa, stoic.

"Ini apa sajangnim?" Salah satu dari mereka menggumamkan hal yang salah, Lee Hyuk Jae mengangkat garis alis.

"Kau tanya ini apa?" Mereka semua mengangguk, kebingungan yang mendominasi seperti tak peduli dengan bagaimana raut wajah sang atasan. Rata-rata dari mereka hanya berpikir, kertas ini harus dibuang kegudang mengingat tadi pagi dewi fortuna tiba-tiba datang, berbaik hati mengubah nenek sihir menjadi putri salju.

"Jika kujawab Hyun Bin kalian percaya?" Ryeowook menutup mulut, nyaris tertawa diatas sebuah banyolan yang tak begitu lucu mendekati murahan.

"Kerjakan ini, aku tidak peduli kalian lembur atau tidak, ide kalian untuk kosmetik tahun depan benar-benar mengerikan. Besok semuanya harus selesai." Jika hidup semudah itu, salah satu dari mereka sudah berpikir untuk mengundurkan diri. Paling tidak yang terburuk loncat dari gedung, melenyapkan diri sebelum dilenyapkan secara perlahan oleh sang atasan.

Jong Woon menenggelamkan kepala diatas meja, hati terdalamnya sudah lelah mengutuk wanita ini. Sementara Kyuhyun, sobat terdekat Jong Woon memberikan gerakkan ringan penenang jiwa; menepuk punggung sang sahabat lembut. Yang lain dari mereka mengepalkan tangan kuat-kuat. Melihat sang atasan sudah lengkap dengan segala atribut perlengkapan pulangnya, Sungmin membuka mulut. Indikasi bahwa rasa tak terima telah menjalar keakar hati.

"Lalu sajangnim mau kemana?"

"Naega?" Hyuk Jae menunjuk dirinya, tak lupa senyum khas terpasang.

"Aku mau kencan dengan calon anakku."

.

.

.

"Dongie-ah, aku sudah diluar kampusmu. Keluarlah…"

"…"

"Aih… ppali! Atau kutinggal kau!"

"…"

"Iya! Cepat keluar bocah!" Kaca matanya ia betulkan sedikit dibarengi dengan geliat mengangkuh ketika beberapa mahasiswa terlihat melewati tempatnya berdiri sekarang. Make up-nya lebih wah dari saat ia dikantor, rok minim seperti biasa, dengan mantel bulu menyentuh pundak namun tidak benar-benar melapisi lengan. Sorotan mata makin membidik, sudut bibir naik keatas dilengkapi air muka yang berbinar.

"Noona!" Bocah yang dikiranya akan terlambat selama beberapa menit kini nampak muncul, berlari kencang kearahnya. Hyuk Jae tersenyum tipis, terkadang memenangi hati sang anak terlebih dahulu dirasa paling tepat sebelum bergerak merebut hati si ayah. Yah…, selama ia masih memiliki sedikit akal sehat.

"Disini!" Hyuk Jae membalas, sedikit membantu agar si objek yang dicari dengan cepat menemukan keberadaannya. Senyum mengembang makin terpasang nyata, Donghae melompat kecil saat interaksi tak langsung dari keempat mata menyatu sementara, menjadi satu-satunya komunikasi jarak jauh sebelum sang noona benar-benar berada didepan mata.

Hyuk Jae mendengus, definisi sederhana dari kejengkelannya menghadapi sikap membocah Donghae yang hampir kelewat batas. Dalam benak sebuah opini muncul, mengapa Young Woon bisa melahirkan anak sependek dia?

"Kita mau kemana?" Belum ada gambaran pasti, keningnya mengkerut.

"Café apa yang sering dikunjungi ayahmu?"

"Eoh?"

.

.

.

"Pilihannya tidak salah, tempat ini memang menyenangkan." Pundak Hyuk Jae bergidik beberapa detik, emosinya kali ini didominasi oleh kegembiraan berlebih. Padahal entitas yang digebu-gebukan sejak tadi sama sekali tidak menampakkan diri.

"Noona bicara denganku?"

"Eh? Tidak." Donghae mengangguk, minuman bersuhu rendah yang tadi dipesannya sudah hampir habis setengahnya. Tapi insan didepannya malah belum memberikan topik pembicaraan yang asik untuk diulas. Sadar atau tidak, Donghae mengerucutkan bibir. Ia seperti lalat jika diacuhkan.

"Eum…, Dongie-ah. Boleh aku tahu, apa kesukaan ayahmu?" Beberapa saat hening mendominasi ruang lingkup kondisi, Donghae yang memutar mata terlihat ingin mengutarakan agrumen yang sejak kemarin memenuhi kepala.

"Dari kemarin noona terus bicara tentang ayah, noona kenal ayahku?" Hyuk Jae meneguk ludah, pertanyaan yang memang sudah diprediksi sebelumnya. Wanita ini membetulkan posisi duduk, tidak terburu-buru menjawab.

"Menurutmu aku mengenalnya?" Belum ada gambaran pasti, Donghae hanya mampu menggidikkan bahu. Mungkin ia mendapatkan sedikit gambaran, namun untuk menjadikkanya sebuah acuan masih terlalu dini.

"Mungkin…"

"Anggap saja begitu…" Nada rendah yang terlontar sedikit menambah intensitas kerutan dikening Donghae. Donghae meringis, apa berterus terang begitu sulit?

"Noona kenalkan?" Hyuk Jae menggidikkan bahu, jawaban tadi dirasa cukup untuk menjelaskan segala pertanyaan. Ia mendekatkan wajah, jemarinya bergerak menitahkan sang lawan bicara untuk melakukan gerakkan yang sama. Kerja saraf telinga coba dimaksimalkan, mungkin saja noona ini ingin membisikkan sesuatu yang sangat rahasia.

"Dongie-ah, kau tahu…, kau itu anak yang manis dan tampan. Jadi jika kau ingin noonamu yang cantik dan sexy ini bersikap baik padamu, bisakah kau jawab pertanyaanku yang tadi?" Semburat merah tiba-tiba menjadi dominan raut, pujian yang dilontarkan sedikit tidaknya ikut andil mengapa gerakkan Donghae tiba-tiba seperti kucing yang malu-malu. Donghae mengangguk masih dengan wajah yang tertunduk.

"Ayah suka bermain golf…" Hyuk Jae mengangguk, mereka punya selera yang sama.

"Makanan kesukaan ayah itu ramyeon." Hyuk Jae tersenyum senang, satu-satunya masakkan yang bisa dibuatnya adalah ramyeon.

"Ayah juga suka ibu." Senyumannya lenyap, gerakkan tiba-tiba dengan menegakkan tubuh sementara maniknya membidik Donghae tajam. Tangannya bersidekap dada, pernyataan yang begitu sensitif.

"Dongie-ah…"

"Ya?"

"Kau suka noona?" Donghae mengangguk, ia suka semua wanita sexy.

"Kau menyayangi noonakan?" Sekali lagi pria manis ini mengangguk, noona ini sangat baik, jadi tidak ada alasan untuk tidak menyayangi Hyuk Jae.

"Kau mencintai noonakan?" Donghae diam, gerakkan menoton seperti tadi tak berani diberikan. Wajahnya makin memerah, malu-malu ia menatap lekat wanita didepannya. Apa ia mencintai noonanya? Setelah kejadian tadi malam, entah mengapa ada letupan kecil dihati terdalam.

"Iya, aku cinta noona." Hyuk Jae mengangguk, satu tangan ia gunakan untuk mengelus kepala Donghae.

"Kalau begitu…" Gerakannya makin mengeras, mencangkup konteks pukulan.

"Berhenti katakan sesuatu tentang ibumu…"

Tak.

Jitakkan keras melayang setelah ucapannya benar-benar terselesaikan. Donghae berjengit, pukulan Hyuk Jae kali ini tak main-main.

"Aw…sakit noona!" Donghae menangkup kepala dengan jemarinya, setidaknya ia ingin menampilkan gestur kesakitan yang meyakinkan. Hyuk Jae mencebik, suasana hati yang baik kontan lenyap. Wajahnya menekuk kebawah, emosi kesal dan jengkel menjadi yang utama dalam benak dan pikiran. Lama berkutat pada aksi diam, sudut mata Donghae melirik sekilas kaca transparan café.

Matanya membulat, objek tak terlalu asing ditangkap perlahan retina mata. Sosok tampan dengan atribut pakaian khas kepolisian terlihat melintas, berjalan mendekat masuk kedalam café.

"Oh! Itu appa!" Donghae menunjuk kearah depan, suaranya yang tak bisa dikategorikan rendah otomatis membuat Hyuk Jae ikut menengokkan kepala kearah yang ditunjuk. Onyxnya membulat, pria itu kini berjalan santai kearah café.

"Appa!" Donghae yang melambaikan tangan dibalas rekahan senyum oleh Young Woon, tapakkan kaki terdengar mendekat. Keringat dingin jatuh membasahi pelipis, Hyuk Jae mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Deru nafasnya melamat, jantungnya berpacu lebih cepat. Pertemuan pertama mereka sejak nyaris 20 tahun lalu.

"Donghae-ah!"

Hyuk Jae memalingkan wajah, tas tangan ia gunakan untuk menutupi muka.

"Mati aku!"

.

.

.

TBC.

.

.

.

Mind to review?

.

.

.

Author note:

Huahahahah kami datang lagi xD ada yang kangen sama uri Dongie? /plak hehehe. Ah, iya! Kyaahhhh, polarise udh pada nonton MV still You belum? Sumpah kami sampe teriak liat itu MV XD Donghae Eunhyuk Daebakk! Kesan BLnya kerasa bgt di MV itu /dzzighh hehehe.

Dan, ada yang nanya ini Hyuk Jae ada berapa? Adanya satu doang, Eunhyuk itu kami pakai jadi orang lain dan dia jadi artis di super junior xD LOL!

Ah iya, annyeonghaseyeo untuk para reader baru XD hehe terimakasih sudah menyempatkan diri untuk baca. Febri dan Febra imnida! Salam kenal! #bow. Dan, ternyata banyak yg mengharapkan ada NC di chapt ini DXXX ah, maaf bgt! NC straight kami belum bisa buat, masih belajar :D hehehehe #bow/

Maaf untuk typo, diksi yang berantakan, jalan cerita yang aneh, juga beberapa kesalahan lain yang mengurangi kualitas FF ini. Kami benar-benar minta maaf. #bow.

Terimakasih juga untuk para pembaca sekalian, follow, fave maupun review. Terimakasih banyak #bow.

Jadi apakah ff ini masih pantas untuk dilanjutkan?

Thanks to Review:

Chapt 1: Niknukss| RanzELF| Mysterious SiDer| ichikaapriliana| wonnie| haehyukiddo| Ranny| Lee Hyuk Nara| ukeHyuk line| novaanchofishy| Fujianchovy| JiHyukJewel| haekhyuklveo| Anonymouss| haehyukie| Amandhharu0522| anchofishy| Lee Haerieun| hye jin park| teras fanfiction.

Chapt 2: Neng| Guest| ichikaapriliana| anchofishy| MingMin| JiHyukJewel| Lee Hyuk Nara| RanzELF| cho hyo jin| Tsuioku Lee| Lan214EunhaElf| teras fanfiction| haehyukiddo| hyukjae86| haekhyuklveo| Fujianchovy| Anonymouss|