Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
Sinar mentari pagi sayup-sayum menyilaukan kelopak mata yang memaksanya terbuka dan menampakan iris bak berlian berwarna kuning pucat. Tokito dengan malas menyingkapkan selimutnya dan bangkit dari fuuton tempatnya tidur. Sumpah demi Kami-sama, semalam adalah sesi tidur paling nyenyak untuknya. Fuuton super empuk, bantal dan selimut yang nyaman plus aura rumah yang berkesan hangat, siapa juga yang gakan tidur nyenyak?. Namun dalam lubuk hatinya ia merasa bersalah pada ibunya. Ia pun ingin sang ibunda merasakan kenyaman seperti ini. Mungkin dia akan menanyakan pada oji atau obaa-san dimana beli fuuton senyaman ini lalu membelikan satu untuk ibu. Aah terlalu banyak yang kuinginkan, apa gajiku akan cukup, ya?
"Tokito-chaan~" Panggil lembut Mayumi yanp memecah pikiran Tokito.
"Y-ya obaa-san?" Jawabnya. Lidahnya masih agak canggung dengang panggilan ya agak asing baginya itu. Tak lama kemudian sohji pun digeser dan tampak wanita langsing mengenakan yukata motif bunga. Sebuah kimono terlipat rapi dalam genggaman lengannya.
"Obaa-san belikan ini untukmu. Tenang saja, ini keikogi" Ujarnya mengedipkan sebelah mata. Tokito mengangguk canggung seraya menarik yukata kedodoran motif angsa yang dikenakannya. Yah pakaiannya kotor kemarin, jadi Mayumi meminjamkan yukata miliknya untuk sementara. Mayumi meletakan satu stel yang sudah rapi disamping tempat tidurnya lalu beranjak pergi. "Cepat mandi sana. Kita sarapan" Ujarnya sebelum menghilang.
"Iya obaa-san" Katanya. Segera disambarnya keikogi tersebut dan melesat ke kamar mandi. Selesai mandi, ia berjalan menuju ruang keluarga dan mendapati Muramasa dan Mayumi sudah berada disana. "Ohayou Tokito. Kau terlihat um...tampan? Cantik?" Sapa Muramasa sedikit kebingungan. Dan Tokito merona tipis walau agak kesal juga. Bagaimanapun ini semua karena tuntutan pekerjaan.
"Hmp, jangan menggodanya, anata. Ayo sini, kita sarapan" Ajak Mayumi. Setengah berlari Tokito menghampiri meja makan. Beberapa saat kemudian mereka pun makan sarapan dengan tenang. Selesai sarapan, Tokito membereskan semua peralatan malan dan mencucinya. Bagaimanapun ia tidak mau jadi tamu yang merepotkan.
Selesai mencuci, "Tokito" Suara Muramasa terdengar. Karena belum hapal letak ruangan, maka Tokito pun terpaksa mengecek satu per satu ruangan hingga sampailah ia disebuah ruangan diujung rumah tempat banyak sekali pedang berjejer. Iris ambernya takjub melihat pedang dengan berbagai bentuk paling indah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Tokito" Panggil Muramasa lagi. Tokito menghentikan kegiatan kagumnya dan berlari menghampiri Muramasa yang berada ditengah ruangan.
"Gomen oji-san. Pedang-pedangnya indah sekali. Oji-san yang buat?" Tanyanya polos.
"Ya dan terima kasih" Ujarnya menepuk-nepuk pucuk kepala Tokito. Muramasa berbalik lalu mengambil sebuah kotak kayu yang ditempeli kertas mantra. Dalam hati ia penasaran akan isi kotak sepanjamg hampir semeter itu. Muramasa menyobek kertas mantra itu lalu membuka tutupnya. Tampak sepasang pedang kembar yang ditaruh diatas kain beludru warna merah saga.
.
.
.
MURAMASA POV
Kuberikan dua pasang pedang Hokuto pada Tokito. Kedua tangan mungilnya kewalahan memegang pedang yang memang walau ramping namun lumayan panjang ini. Tokito lalu memandang padaku dengan dua iris bulat ambernya. "Untukmu" Kataku.
"Aku?" Tanyanya tak percaya. Aku tersenyum lalu mengangguk. Kedua matanya berbinar. "Terima kasih, oji-san. Pedangnya cantik" Pujinya polos. Aku tersenyum polos. Pada awalnya, sebagai empu di tanah Mibu, aku membuat pedang kembar Hokuto untuk keturunanku entah itu anak atau keponakanku. Tapi berhubung aku tidak punya anak dan adikku pun entah kemana, kurasa Tokito pemilik yang pas.
Tokito menggamit satu pedang dilengannya dan pedang satunya ia keluarkan dari sarungnya. 'CRIIING' Cahaya yang teramat menyilaukan muncul dari pedang. Spontan Tokito berteriak dan melemparkan pedang nya.
END MURAMASA POV
TOKITO POV
"Kyaaaaaa" Pekikku. Mendadak pedang itu mengeluarkan cahaya dan aku pun spontan melemparnya dan berlari bersembunyi dibelakang tumpukan kotak kayu.
"Ada apa? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Mayumi yang cepat-cepat berlari ketempat kami berada.
"Ya sayang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan" Jawab Muramasa. Tidak ada? Lalu apa cahaya tadi? Dan kenapa tiba-tiba muncul?. Mayumi menghela nafas lega. Ia melihat padaku dan bertanya.
"Tokito, kau tidak apa-apa kan, sayang?" Tanyanya dengan raut cemas. Aku bingung menjawabnya. Dibilang baik, tadi ada pedang aneh dan mengeluarkan cahaya aneh. Dibilang gak baik-baik aja, lha aku gak kenapa-napa, kok. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menganggukan kepalaku. Mayumi yang melihat keadaanku yang terguncang segera memutuskan membawaku keluar dari ruangan itu. Sementara Muramasa masih berada dalam ruangan bersama pedang aneh itu.
END TOKITO POV
MURAMASA POV
Aku hanya diam memandangi sosok mungilnya yang terlihat terguncang dipapah keluar oleh Mayumi. Pandanganku lalu tertuju pada dua bilah pedang yang tergeletak begitu saja dilantai. Cahaya misterius itu sudah tak lagi muncul darinya. Sebagai sang pembuat, tentu aku tahu pasti apa maksud cahaya itu. Pedang buatanku memang memiliki karakteristik khusus dimana ia akan bercahaya jika menemukan majikan yang dikendakinya. Yeah dalam kasusku bukan manusia yang memilih pedang, namun pedanglah yang memilihnya.
Aku membungkuk dan mengambil pedang kembar yang tergeletak begitu saja ditinggal sang majikan. Segurat senyuman terlukis diwajahku. "Well, penantian yang tak sia-sia kan, hokuto?" Tanyaku. Tentu yang ditanya tak menjawab pertanyaanku. Tampaknya pertama aku harus menjelaskan arti dari semua ini padanya.
END MURAMASA POV
.
.
.
Semilir angin berhembus membelai surai keemasan gadis yang kini tengah duduk sendirian didalam kamarnya. Jendela khas jepang terbuka lebar, menampakan langit biru cerah yang menaunginya. Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa saat silam. Tak dapat dipungkiri hal itu menganggu pikirannya. Apa maksud dari cahaya itu? Apa dia dikutuk, apa pedang itu membencinya?. "Tokito...boleh oji-san masuk?" Suara Muramasa mengagetkannya.
"I-iya jii-san" Jawabnya. Sohji terbuka dan tampaklah sosok jangkung Muramasa dengan dua pedang Hokuto dalam genggamannya. Tokito sedikit bergidik ngeri melihat pedang itu.
"Tidak apa, dia tidak akan menggigit" Ujar Muramasa menangkap air muka Tokito yang berubah. Muramasa menghampiri Tokito lalu duduk dihadapannya. Pedang Hokuto diletakan didepannya antara dirinya dan Tokito.
"A-pa...apa aku di...kutuk?" Tanya Tokito takut-takut. Mendengar pertanyaan polosnya, ingin rasanya Muramasa tertawa, namun melihat kondisi Tokito yang terguncang, diurungkannya niatnya itu.
"Kau tahu Tokito?" Ujar Muramasa ngambang memancing atensi Tokito. "Pedang bisa memiliki perasaan, dan dia memilih majikannya" Lanjut Muramasa. Tokito mengangkat alisnya heran. Karena dia bukan keturunan samurai atau memiliki kerabat samurai, mana dia tahu hal macam beginian. "Dan Hokuto sudah memilihmu" Ujar Muramasa lagi. Iris amber Tokito melebar, memilihnya? Apa istimewanya dia?. "Well aku pun tidak tahu. Tapi beginilah pedang buatanku, dia akan memilih majikannya sekehendak hatinya" Jawab Muramasa.
Tokito bersemu merah. Lagi-lagi Muramasa membaca pikirannya seenak kepalanya. Dilihatnya dua pedang Hokuto yang masih berada dalam sarungnya ini. Dengan takut-takut digenggamnya dan dikeluarkannya, tak ada cahaya lain yang keluar, hanya pedang cantik yang tipis dan ringan namun tajam. Sejenak Tokito kagum akan keindahan mahakarya yang berada didepannya. "Kalau begitu kita mulai latihannya sekarang" Ujar Muramasa.
.
.
.
tbc
(a/n) Chapter 4 had been ended. Mind To RR? Review Anda semangat saya :3
