Author: Meonk and Deog.
Tittle: Kinda love you.
Main cast: Lee Hyuk Jae and Lee Donghae.
Pair: HaeHyuk
Slight pair: KangHyuk.
Rate: T.
Genre: Romance and comedy.
Warning: GS, typo, typo (s), AU, OOC, OC, etc.
Disclaimer: This story naturally ours, cast belong themselves.
Summary: "Nafas melamat kala gugusan daun musim gugur mengenai kepala, ia baru ingat ternyata perlu 33 jari untuk menghitung usianya. Namun yang membuatnya telah menyesal menyentuh angka ke 30 adalah, cinta yang terlalu takut untuk membeku ketika menemuinya."
Don't Like Don't Read.
NO COPAST! NO PLAGIARIMS!
Happy Reading~
.
.
.
Author Pov.
Desiran halus menjadi hal utama dalam benak terdalam. Tak pernah datang dalam mimpi momen seperti ini akan terjadi. Orang itu berada dijarak terdekat, suaranya bahkan dapat ditangkap indera begitu mudah, juga aroma parfum yang menguar bisa dihirup dengan jelas. Ada berbagai gejolak yang meletup, sayangnya wanita ini terlalu takut menyingkirkan tas yang menutupi wajah dan berbalik menatap laki-laki itu.
"Appa!"
Bibir plum si wanita bergerak tak teratur, terkadang umpatan terdengar ketika si bocah sibuk meneriakki nama sang ayah, juga sesekali gumaman syukur dilontarkan ketika suara Young Woon beradu dengan bunyi sekitar. Hyuk Jae makin mengeratkan genggamanya pada tas, tak sadar rona merah menjadi dominasi warna raut.
"Donghae-ah, kau disini?" Hyuk Jae mengatupkan mata, walaupun kemungkinannya amat rendah. Ia masih berharap, Young Woon tak melihatnya atau Donghae yang tiba-tiba lupa akan kehadirannya.
"Eum…, ya. Aku datang dengan seseorang." Donghae mengangguk, nadanya riang menjawab pertanyaan Young Woon. Sementara Hyuk Jae kini menepuk wajah kesal, pemuda itu sekarang malah mempersilahkan sang ayah untuk duduk.
"Seseorang? Siapa?" Tapakan kaki terdengar mendekat kearah meja Hyuk Jae, gambaran paling sederhana bahwa si cinta pertama kini mengambil keputusan untuk duduk dimeja mereka.
"Noona, ayo perkenalkan dirimu. Ini ayahku…." Memberikan jeda yang cukup lama, Hyuk Jae sebisa mungkin menormalkan detak jantung. Mengoreksi sedikit raut wajah, cebikkan yang nampak coba diperhalus. Perlahan Hyuk Jae mengangkat wajah, masih betah meringis, senyuman tipis yang terpasang terlihat tak terlalu tulus.
"Ini temanmu?" Young Woon tak membalas senyum yang diberikan, pandangannya kini menyatu bersama hazel sang anak. Dua orang paling dewasa kini mengkerutkan kening. Kebingungan berbeda melanda mereka, raut wajah Hyuk Jae mengkeruh. Prediksi tentang ia yang dilupakan mulai berubah menjadi lembaran tragedi.
"Maaf, kau tidak mengenalku?" Impiannya untuk mengenang masa cinta pertama pupus sudah. Digantikan dengan raut wajah bingung dan heran pria tampan didepan sana. Donghae terpaku, bulir bening setara dipelupuk mata Hyuk Jae nyaris meluruh jatuh. Perkiraan paling tepatnya kali ini, mungkin Young Woon orang yang penting dalam hidup si wanita cantik.
"Noona?"
"Maafkan aku, kurasa harus pergi. Oppa babo!" Tubuhnya bergerak keatas, sementara ia masih mencoba mengatur keseimbangan. Satu tangan ia gunakan untuk menyapu pelupuk mata yang mulai basah, kemudian gerakkan cepat ia gunakan untuk segera melenyapkan diri.
"Pria bodoh! Kau jahat!" Umpatan terakhir kepada Young Woon, huruf 'O' menciptakan lubang kasat mata dimulut. Lipatan didaerah kening bertambah intensitas. Dalam hatinya, Young Woon merutuk wanita ini gila.
"Appa! Kenapa kau membuatnya menangis?!"
"Aku? Memang apa yang kulakukan?" Pertanyaan dari sang ayah sama sekali tak digubris, sekedar menjawab demi etiket yang telah diajarkan, Donghae malah menyelesaikan interaksi sepihak. Young Woon menaikkan sudut bibir heran, kenapa sekarang ia yang menjadi pihak yang disalahkan?
"Ya! Lee Donghae! Kau mau kemana?!"
.
.
.
"Oppa babo! Huhuhuhu…, hiks, babo! Pria bodoh! Bagaimana bisa kau melupakanku! Hiks…, hiks!" Tubuhnya merendah, kakinya yang menekuk berjongkok, bergeser sesekali kesembarang arah. Kedua tangannya dipenuhi lilitan tisu, sementara mulut sibuk mengumpat tanpa jeda dan spasi. Wanita ini berpikir, sesenggukkan didepan jalan adalah yang terbaik ketimbang pulang dan menidurkan diri.
"Apa karena punya istri yang lebih cantik kau jadi begitu?! Kemana Young Woon-ku yang tampan! Huhu…, oppa." Ia mengusap sedikit bulir bening yang membasahi pelupuk, beruntung hanya ada beberapa entitas yang lewat dijalan ini. Garis kemerahannya bergerak tak menentu, ini pertama kalinya Lee Hyuk Jae menangis dijalan karena seorang pria.
"Noona…." Dari kejauhan, bunyi tak terlalu asing dapat ditangkap indera pendengaran. Wanita ini menengok singkat, kemudian kembali menangis dengan intensitas volume lebih keras. Wajah bocah itu kembali mengingatkannya dengan Young Woon.
"Noona jangan menangis, noona kenapa menangis?" Tubuh Donghae mengikuti gerakkan yang sama, ia ikut merunduk, mendekat perlahan kearah Hyuk Jae. Pemuda tampan ini menampilkan ekspresi simpati yang kentara. Bibirnya ikut mencebik, ada yang bergetar dihatinya. Entah mengapa, ia tak tega melihat wanita ini menangis.
"Huhuhu…, oppa!" Donghae menggelengkan kepala, jemari lentiknya menyibak surai kecokelatan Hyuk Jae yang menghalangi pandang. Mengenaskan—wajah noona ini benar-benar basah karena air mata.
"Noona berhenti menangis!" Melupakan kodrat sebagai laki-laki, pria ini ikut merengek seakan merasakan hal yang serupa. Retina kekanakkannya dipenuhi embun tipis, Donghae hampir ikut menangis.
"Apa yang kau tahu tentang aku! Dia menyakitiku! Oppa melupakanku! Oppa!" Kini jemari Donghae teralih kearah pucuk kepala, memberikan gerakkan lembut dengan mengelusnya lamat-lamat. Berharap ketenangan yang diberikan dapat memperbaiki suasana hati.
"Siapa yang melupakan noona?" Hyuk Jae menangkup wajah dengan tangan, jemari Donghae yang bertengger dikepala ia tepis dengan satu hentakkan. Tak berniat menjawab pertanyaan yang diberikan, bibirnya seakan terpaku dengan kenyataan. Percuma memberitahu siapa Young Woon kepada sang anak jika laki-laki itu saja berbalik dan melupakannya.
"Apa ayahku melakukan sesuatu yang buruk padamu?" Hyuk Jae mengangguk, bahkan hatinya seperti terbelah dua. Jika saja ia tak mengingat Young Woon adalah cinta petama, bisa dipastikan dalam hitungan detik sepatu merah berkelas miliknya mendarat tepat diubun kepala Young Woon.
"Dia menyakitimu?" Anggukkan kedua diberikan, jemari yang mulanya membingkai wajah perlahan menjauh dan memperlihatkan ekspresi si pemilik. Wajah Hyuk Jae kusut—lebih kusut dari sebelumnya. Bibirnya tetap menunjukkan aktivitas yang sama—bergerak kesembarang arah sementara tangisan bahkan tak bisa dijeda.
"Dongie-ah…." Raut wajah si wanita semakin pias, kalimat pertama dari Hyuk Jae terucap samar. Donghae memberikan fokus penuh, hazelnya menatap serius wanita didepannya.
"Apa yang akan kau lakukan jika cinta pertamamu melupakanmu?" Tak ada respon, interaksi Hyuk Jae menjadi tak bertuan. Donghae menatap intens obsidian didepannya, membingkai wajah wanita itu dengan bidikkan hazel jernihnya. Jeda yang cukup kontras, lama mereka dalam suasana hening.
"…." Hening, tubuh Donghae perlahan mendekat.
"…." Hening, tatapan mereka menyatu lekat. Kedipan mata yang mengindikasikan kebingungan dari Hyuk Jae bahkan tak digubris sedikitpun. Tubuh laki-laki tampan itu semakin tak berjark, hingga….
CUP.
Bibir tipis Donghae menyatu dengan objek kenyal milik Hyuk Jae. Memagutnya sebentar, pemuda polos ini menutup mata. Sementara nyawa Hyuk Jae, nyaris menguap dari badan kasar. Ia terpekur, waktu seperti terjeda. Pagutan lembut bocah ini memberikan letupan berbeda dikepala. Gerakkan lembut Donghae sama sekali tak dibalas, baru kali ini ciuman membuatnya pasrah seperti mayat hidup.
Mendapat sedikit kesadaran, logika yang sempat memudar kembali menyengat Donghae untuk menghentikan aksi gilanya kali ini. Tubuhnya spontan mundur kebelakang, wajah kedua orang ini sama-sama merah. Ini ciuman keduanya. Dan ini pertama kalinya ia yang memulai.
"…." Hyuk Jae masih hanya memberikan kedipan mata, motoriknya terasa begitu kaku untuk memberikan respon lain. Mulut menganga tercetak jelas digaris wajah.
"Omo…." Hanya satu suara yang dapat dikeluarkan Hyuk Jae, Donghae sontak menutup wajah dengan tangan. Perasaan malu yang mendera nyaris menghentikan pacu jantung. Hyuk Jae membekap mulut, kakinya yang menekuk kini lurus sempurna. Menampilkan garis vertikal kentara, Hyuk Jae berbalik kemudian berlari pergi.
"Noona! Noona! Maafkan aku!" Donghae ikut berdiri, kakinya bergerak cepat mengejar Hyuk Jae. Jantungnya memburu oksigen, sedikit tak menyangka wanita kurus ini bisa berlari sekencang itu.
"Noona!" Tubuh Donghae semakin tertinggal jauh, jujur saja Donghae benci berlari. Dan wanita berlari seperti atlet maraton.
"Noona berhenti!" Tak ada tanggapan, gerakkan monoton tetap dilakukan.
Brak.
"Aigoo!" Tubuh Donghae hampir terpental ketanah, satu tubuh lagi seperti beradu dengan tubuhnya. Untung saja, keseimbangan masih berpihak. Donghae mendengus, ini kali kedua dalam minggu pertama ia ditabrak dua entitas yang berbeda.
"Aw…! Sakit!" Donghae meringis sakit, respon kedua ia mengangkat wajah. Sedangkan insan didepan sana menampilkan reaksi yang sama. Ia juga mengaduh nyeri pada bagian lengan. Sekalipun orang yang ditabraknya bertumbuh cukup pendek, tapi benturan keras menjadi alasan utama mengapa aksi ini berbuah ringisan dari berbagai pihak.
"Oh! OMO! Oh…! Won—Wonbin?!" Sketsa wajah orang ini seperti melupakan konflik utama yang terjadi tadi. Sang idola kini menampakkan diri dengan jarak begitu dekat. Donghae membekap mulut keras, ia tak salah mengenali. Ini memang Wonbin yang tampan itu.
"Kau benar Wonbin?! Ya ampun kau benar-benar Wonbin! Noona disini ada Wonbin!"
.
.
.
"Oh…, eonni?" Henry nyaris tersedak buah apel yang berada dalam mulutnya. Hyuk Jae tiba-tiba datang, masih menangis dan berjalan cepat kearah dirinya. Wanita ini menempelkan bokong kelantai kayu, menekuk lutut kemudian menenggelamkan wajah. Ia perlu tempat tenang untuk menangis—walaupun tempat ini bukan opsi yang tepat.
"Ya! Kau kenapa?!" Hyuk Jae menggeleng, namun isakannya malah makin mengeras. Reka adegan antara Young Woon yang melupakannya beradu dengan Donghae yang memagut lembut garis kemerahan plumnya. Intensitas gelengan kepalanya mengeras, ingatan kedua malah menjadi yang dominan dikepala. Wanita ini tiba-tiba menghentikan tangisan, mengangkat wajah lalu memberikan gerakkan spontan dengan menatap sang adik tajam.
"Ya—ya! Kau kenapa?!"
"Menurutmu normal jika jantung wanita seusiaku berdegup kencang bahkan hanya untuk ciuman bibir?"
"Hah?!" Lipatan dikening Henry tak lagi menjadi sketsa samar, berganti kali ini Henry yang menatap Hyuk Jae tajam.
"Ada seseorang yang menciummu tadi?"
Tak.
"Akh! Kenapa kau memukulku?!" Kepalan sempurna mendarat tepat dikening sang adik, Henry memekik keras. Tak terima dengan perlakuan sang kakak, denyutan sakitnya bahkan tak main-main.
Ceklek.
Suara keras dari arah pintu menginterupsi sejenak kegiatan dua kakak beradik ini. Mereka menggerakkan kepala, menyatukan fokus pada satu entitas kaku yang berdiri tegak didepan pintu. Wajahnya seperti biasa, minim ekspresi walaupun terbingkai paras cantik. Dua gadis ini mengerenyitkan kening kala satu wujud lain nampak dibelakang tubuh Kibum. Kepalanya menyembul sedikit dan bunyi sesenggukkan khas orang menangis terdengar paling dominan dalam suasana hening mereka.
"Dia siapa?" Henry membulatkan mata ketika gambaran adam menyentuh ruang retina, sementara Hyuk Jae telah mengumpat dalam hati. Orang yang ada dipikirannya kini datang lagi dan lebih buruknya dibawa oleh wanita mengerikan seperti Kibum. Hyuk Jae menatap berang kearah Kibum, sementara Kibum membalas dengan gidikkan bahu.
"Aku menemukannya dilantai masuk apartement, dia menangis kencang, saat kutanya kenapa. Dia bilang karena Hyuk Jae noona." Hyuk Jae menghela nafas, degup jantung yang tak bisa dikendalikan ditutupi dengan raut wajah mengeras. Tatapannya kini teralih canggung kearah si bocah, kemudian mengambil nafas panjang. Pria itu benar-benar membuatnya gila.
"Noona maafkan aku…, hiks…, hiks…." Objek yang bersembunyi dibalik punggung Kibum kini perlahan menampakkan diri. Kakinya bergerak-gerak kecil, posisinya begitu tak nyaman tapi ia harus mendapat maaf hari ini.
"Ck!" Setelah mendecak, satu tarikkan kasar menyentakkan tubuh Donghae. Tenaga Hyuk Jae tak main-main, tubuh kurus itu berhasil menyeret Donghae masuk kedalam kamar pribadinya. Dan setelah debaman pintu, ada helaan nafas yang menginterupsi dari Kibum. Dalam benak, Kibum tahu ada romantisme konyol diantara mereka.
"Mereka kencan? Hyuk Jae eonni dengan anak muda itu?" Kibum menggidikkan bahu, ada pemikiran yang hinggap dibenaknya.
"Kau masih ingat Young Woon?" Henry mengangguk, tentu ia masih ingat.
"Dia anak Young Woon oppa."
"MWO?!"
.
.
.
"Duduk disana…." Gerakannya sesuai intruksi, Donghae mengangguk lalu duduk dipinggiran ranjang. Kedua tangannya masih sibuk menghapus buliran bening yang meluruh. Hyuk Jae melepas nafas panjang, sejujurnya ia bingung untuk mendominasi topik kali ini. Keadaan mereka benar-benar canggung, ditambah pikirannya yang buyar. Sebuah kombinasi yang pas untuk menciptakan kondisi terburuk.
"Noona, aku minta maaf." Hyuk Jae menggeleng, menurutnya ini seri. Kemarin ia yang mencuri ciuman Donghae. Dan sekarang Donghae yang melakukannya.
"Lupakan saja, aku tidak akan marah." Donghae menggeleng, banyak hal yang ingin ia utarakan ketimbang hanya meminta maaf.
"Tapi kenapa tadi kau lari?"
"Aku hanya terlalu terkejut."
"Jadi sekarang kau tidak marah lagikan?"
"Sedikit."
"Noona…." Bibir Donghae maju beberapa centi, entah mengapa kata sedikit begitu tak mengenakkan disentuh gendang telinga. Rengekkannya makin menjadi, sesekali kakinya menendang-nendang udara.
"Hei kau pria!" Donghae menghentikkan rengekkannya, senyumnya mengembang. Ini pertama kalinya Hyuk Jae menyebutnya pria dan menelan begitu saja kata bocah.
"Jadi kau menganggapku pria?" Entah karena faktor apa, nada yang mengalun dari bibir Donghae menjadi begitu berat. Tatapannya lebih tajam dari pandangan membocah biasanya, sorotan matanya sekarang lebih intens. Hyuk Jae terpekur.
"Oh…?"
"Lee Hyuk Jae menganggapku pria?" Tubuh Donghae kini tak lagi berkutat busa empuk sisian ranjang, kakinya menopang tubuh dengan tegak. Mendekat perlahan kearah Hyuk Jae, jarak nyata yang memisahkan kini coba ditepis dengan tapakkan lamat.
"Ya—ya! Menjauh!" Hyuk Jae memberikan perlawanan dengan bergerak menjauh, tubuhnya mundur perlahan serentak dengan gerakkan Donghae. Ia menggigit bibir ketika punggung menyentuh dinding, tak ada jalan untuk kabur lagi.
"Noona menikahlah denganku!"
.
.
.
TBC.
.
.
.
Mind to review?
.
.
.
Author note:
Annyeong^^ FF ini datang lagi :D
Maaf untuk typo, alur yang buruk, diksi yang berantakan juga kesalahan lain yang mempengaruhi cerita ini. Jeongmal jeosonghamnida #bow
Terimakasih untuk responnya, dalam bentuk reads, reviews follow maupun fave, jeongmal khamsahamnida #bow
Thanks to review: Anonymouss| lyndaariezz| vynyuk| Haenia Lee| anchofishy| Lan214EunhaELF| haehyukiddo| kakapolariself| Lee Haerieun| rani . gaem . 1| nadiasflayer| Fujianchovy| MingMin| shfly9 – Kim (Yo! Ahjumma kkk xD)| HanRii03| teras fanfiction|
