Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.

All OC character belong to me :3

Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')

Let The Story Begin...

.

.

.

'BRUK' Tubuh mungil itu terhempas membentur bebatuan gua tempatnya berlatih. "Berdiri Tokito, aku tidak mau jatah cutiku (?) terbuang percuma" Ujar Muramasa. Tokito meraih pedang Hokuto yang terlempar ketika dia terbentur tadi dan melompat untuk menyerang Muramasa. 'TRANG' Dengan mudahnya Muramasa menangkis serangan Tokito.

"Hmp" Seringaian muncul diwajah manisnya yang penuh muka. "Hokuto Shichirenjuku" Teriaknya. Sabetan-sabetan pun bertubi-tubi menyayat tubuh Muramasa. 'CRANG' Sebelum serangan itu membahayakan, cepat-cepat Muramasa memotong serangan itu.

"Cukup, Tokito" Ujarnya. Tokito melompat mundur. Tubuh mungilnya memberikan nilai lebih kelincahan dan kecepatan diatas rata-rata. Badannya penuh luka namun tatapan tajam matanya tidak menunjukan rasa takut sedikitpun. "Bagus, kau bisa mulai bertugas, Tokito" Ujar Muramasa. Kedua mata Tokito berbinar dan ia pun tersenyum. Tentu ia senang, itu artinya tidak ada lagi sesi latihan menyiksa bersama lawan yang bahkan tak bisa kau gores sedikitpun padahal kau sendiri sudah babak belur.

"Te-terima kasih, oji-san" Ujar Tokito membungkukan badannya. Muramasa mengangguk seraya tersenyum lembut. Diam-diam ia pun bangga dengan keteguhan yang dipegang oleh anak ini. Manusia biasa tentu takkan tahan melewati sesi latihan intens selama dua bulan non-stop. Memang sejak awal Tokito sosok istimewa. Tak heran Chin Mei sekalipun tertarik.

Mendadak pandangan Tokito menggelap, tanpa dapat dikontrolnya, kedua kakinya goyah. Muramasa cepat-cepat menahan tubuh muridnya yang sudah tak sadarkan diri itu. Dengan lembut ia mengankat tubuh mungil itu dalam gendongannya. "Ayo kita pulang" Ujarnya pelan. Dalam diam mereka pun kembali pulang ke rumah.

.

.

.

TOKITO POV

Udara dingin memaksaku membuka mata dan mendapati rasa sakit menjalar diseluruh tubuh. Kulihat lilitan perban menghiasi hampir seluruh badanku. "Aang..." Rintihku saat kucoba menggerakan tubuh untuk menutup jendela kamar yang terbuka. "Sudah bangun?" Tanya suara lembut dari arah pintu. Kulihat Mayumi memasuki kamarku dengan membawa sebuah kotak ukuran sedang.

"Obaa-san" "Ssh jangan banyak bicara. Kau masih dalam tahap penyembuhan" Ujarnya. Aku menurut saja, lagipula gerak dikit aja sendi tangan serasa mau copot. Mayumi melepaskan seluruh perban yang melilit tubuhku lalu membalurkan salep yang entah apa fungsinya pada lukaku.

"Hei, sudah sadar, Tokito-chan?" Ujar Muramasa. Ia masuk kedalam kamar lalu menutup jendela kamarku yang terbuka. "Kau tidur dua hari. Aku sudah khawatir, loh" Tambahnya. Dua hari!? Aku saja terkejut mendengarnya.

"K-kapan aku bisa mulai bekerja?" Tanyaku seraya menahan nyeri karena salep yang dioleskan Mayumi.

"Pulihkan saja dulu kondisimu. Jangan pikirkan hal lain" Ujarnya seraya menepuk halus pucuk kepalaku. Sesuatu yang hangat serasa mengalir dari telapak tangannya keseluruh tubuhku. Sesuatu yang tak kasat mata namun aku dapat merasakannya. Perlahan rasa sakit disekujur tubuku berangsur-angsur berkurang. "Lebih baik, kan?" Tanyanya. Aku mengangguk.

"T-terima kasih, oji-san" Kataku. Muramasa tersenyum lembut.

.

.

.

"Jadi kau anak baru itu?" Tanya seorang lelaki tegap yang mengaku bernama Hiro. Aku mengangguk gugup. Yah maklum, hari pertama. Hiro menggaruk belakang kepalanya. "Sebenarnya...tiap anggota Taishiro memilih masing-masing pengawal pribadi mereka. Aku tidak tahu siapa yang membutuhkanmu, jadi maaf saja aku tidak bisa membantu" Ujarnya. Lho...lho...lho kok jadi begini? Kata Muramasa aku suruh ngomong sama orang ini.

"Ngg...kalau begitu apa anda tahu siapa yang kira-kira butuh pengawal? Aku tidak tahu harus kemana" Kataku. Hiro memasang pose berpikir.

"Kudengar Hishigi-sama belum memiliki satu pengawal pun. Coba kau tanya saja" Ujarnya. Mataku berbinar serasa menemukan oase tengah padang pasir. "Tapi..." Kata bernada kontra itu memadamkan harapanku. "Setahuku tidak ada yang betah jadi pengawal Hishigi-sama." Ujarnya.

"Hm? Memang kenapa? Apa dia menggigit?" Tanyaku heran. Hiro sontak tergelak.

"Ya gak lah. Entahlah, sih. Kami para pengawal dilarang membicarakan mereka. Mungkin perkiraanku salah. Kau coba saja" Katanya. Aku mengangguk faham. Setelah mendapat arahan singkat menuju istananya, aku pun bergegas menuju kesana. Bagaimanapun aku tidak mau membuat calon majikanku menunggu.

.

.

.

Sebuah pintu besar lain menghadang didepanku. Tak seperti pintu lainnya dimana ada dua atau lebih pengawal yang menjaga didepannya. Kali ini tak ada siapapun disana. Maka dengan bersusah payah aku pun mendorong pintu besar itu. Pintu super berat itu cuma terbuka sedikit, yah setidaknya badanku cukup untuk nyempil. Sebuah ruangan besar serba gelap terpampangdidepanku. Ditengah ruangan terdapat meja rendah dengan tirai besar tertutup dibelakangnya. Bermacam perkamen, alat tulis, buku dan tabung aneh berisi cairan mencurigakan terlihat berantakan diatasnya. Jajaran rak buku yang menjunjung sampai langit-langit berjejer rapi memenuhi setiap dinding yang berada disitu.

"Permisi" Kataku. Suaraku bergema diseluruh ruangan. Kepalaku celingak-celinguk mencari keberadaan makhluk hidup disana aku berjalan menggunakan mata batinku, berusaha membuka tirai yang tertutup. Ketika tirai dibuka dan cahaya masuk kedalam, tampaklah seberantakan apa istananya. Haah, pantas saja gak ada yang mau kerja jadi pengawalnya, siapapun yang tahan hidup ditempat seperti ini pasti penampilannya lebih parah dari gelandangan yang ada dipasar. Pikiranku segera dipenuhi oleh terkaan rupa calon majikanku, tentu dengan template lelaki jorok berwajah mesum bak om-om dan jarang mandi.

"Apa tidak ada yang mengajarimu sopan santun?" Ujar suara berat dibelakangku. Sontak aku pun berbalik dengan tangan bersiaga dipangkal pedangku. Seorang lelaki jangkung dengan dandanan serba hitam dan rambut pendek berwarna serupa dengan sedikit warna putih pada poni yang menutup sisi kanan wajahnya berdiri didepanku. Wajah tirusnya terlihat sempurna dengan mata sipit yang terlihat mengintimidasi itu. "Apa indera auditorimu tidak berfungsi?" Tanyanya lagi. Aku pun segera sadar dari kekagumanku akan makhluk Tuhan yang kuakui sangat tampan ini.

"Su-sumimasen" Kataku lalu mengingkir dari samping tirai itu dan berdiri didepan meja. Pria itu berjalan kearah sisi belakang meja dan duduk lalu asyik berkutat dengan perkamen yang berantakan dimejanya. Sepuluh menit sudah berlalu dan aku sudah pegal berdiri dari tadi dan tidak diacuhkannnya. "Hishigi-sama...?" Tanyaku hati-hati, memastikan aku berhadapan dengan orang yang tepat. Yang disebut cuma mengangkat kepalanya sedikit, memandang padaku lalu kembali tenggelam dalam perkamennya. Aku pun memutuskan langsung ke inti permasalahan.

"Ung...saya dengar, anda membutuhkan pengawal?" Tanyaku.

"Aku tidak butuh" Jawabnya dingin. Ugh, sabar Tokito.

"Tapi-tapi..." "Aku tidak butuh pengawal tidak tahu sopan santun sepertimu" Potongnya. Empat siku terbentuk disudut atas keningku.

"M-maafkan kelancangan saya, Hishigi-sama" Kataku seraya membungkukan badan. Hishigi diam tanpa ekspresi. Tampaknya dia tipe stoic bin lempeng. Ia kembali sibuk mengerjakan perkamenya. Hih, bilang gak apa apa, kek, atau apalah gitu. Agaknya aku jadi agak paham kenapa tidak ada yang betah jadi pengawalnya. "Kumohon, terimalah saya, Hishigi-sama" Kataku dengan nada memohon. Masih tidak ada jawaban. "Kan...siapa tahu ada yang mau membunuh Hishigi-sama. Mungkin aku bisa berguna" Lanjutku. Mendadak tangannya yang tengah sibuk menulis berhenti. Ia mengangkat kepalanya dan menatapku. Yeah, setidaknya aku mendapat sedikit atensinya.

"Kau pikir aku ini lemah dan tidak bisa melindungiku, begitu?" Tanyanya. Ups, dia kelihatannya sedikit tersinggung.

"Bu-bukan begitu. Ah m-maksudku" Kataku gugup. Namun tatapan tajamnya seketika membuatku mati kutu.

"Pergi" Katanya pendek. Pergi? Hell to the No! Hell No!. Aku udah nyasab parah demi sampai kesini, mana mau aku disuruh pergi gitu aja.

"Gak" Jawabku spontan. Hishigi terlihat tak suka aku membalas perkataannya. Kuberanikan membalas tatapan tajam matanya walau tulang kakiku sudah terasa lemas seperti jeli.

"Terserah" Ujarnya berdecih pelan.

END TOKITO POV

HISHIGI POV

Anak yang bodoh, apa dia sama sekali tidak diajari arti kata tidak?. Sudah berjam-jam aku menghiraukannya dan sudah berjam-jam pula dia mengekorku kemana-mana, tentunya kecuali ke toilet. Aku ingin tahu dari mana asal sikap keras kepalanya ini. Sebagai orang yang introvert, aku tidak terlalu suka kalau berada disekitar orang-orang, apalagi diikuti kemana-mana bak anak ayam mengikuti induknya begini. Aku berjalan memasuki laboratoriumku dan pemuda itu pun mengekor dibelakangku. Aku berbalik dan kami saling bertatapan selama beberapa menit.

Iris amber berserobok dengan onyx tanpa ada sepatah katapun yang terucap darinya. Aku menghela nafas, tampaknya aku akan mengalah saja. "Baiklah...baiklah" Kataku. Kurogoh saku dalam jubahku dan mengeluarkan selembar kertas lalu menyerahkan padanya. "Ini jadwalku kunjunganku. Diluar itu, enyahlah dari hadapanku" Kataku. Matanya berbinar lalu menerima kertas yang kuberikan. "Hai, Hishigi-sama" Katanya mantap. Ajaib, seketika dia langsung melesat pergi. Tau gitu, kulakukan saja dari tadi.

END HISHIGI POV

.

.

.

tbc


(a/n) Mind to RR? Review Anda semangat Saya :3